Senin, 31 Agustus 2015

Terbitnya "Ath-Thaariq" (Bintang Fajar) -- yakni Masih Mau'ud a.s. -- yang Ditugaskan Allah Swt. Mengusir "Kegelapan Malam jahiliyah" di Akhir Zaman


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 24

Terbitnya Ath-Thāriq (Bintang Fajar)  -- yakni Al-Masih Mau’ud a.s. – yang Ditugaskan Allah Swt.    Melenyapkan  "Kegelapan Malam Jahiliyyah" di Akhir Zaman  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  sehubungan dengan dua kali pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dalam QS.62:3-4 sebagai Pembaharu (Mushlih rabbani) dapat benar-benar berhasil dalam misinya, yaitu  bila ia  terlebih dulu  menyiapkan   -- dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya)  -- suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti  dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajaran-nya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa lain.
    Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw.  tersebut  memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan falsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman,  sedangkan contoh mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat: ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ --  Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah” (Al-Jumu’ah [62]: 3).

Keturunan Bangsa Farsi  &  Pembukaan Rahasia-rahasia Ghaib Allah Swt.

  Makna ayat  selanjutnya: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --   “dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan merekaوَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,” (QS.62-4),  bahwa  ajaran  Nabi Besar Muhammad saw.  ditujukan bukan kepada bangsa Arab belaka  --  yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan  -- melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29); dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan (generasi) demi keturunan manusia yang akan datang hingga Hari Kiamat (QS.7:35-37).
   Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  akan dibangkitkan di kalangan kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut (sahabat) semasa hidup beliau saw.. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan beliau saw. untuk kedua kali dalam wujud  Masih Mau’ud a.s.. di Akhir Zaman.
    Abu Hurairah r.a.  berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.,  ketika Surah Al-Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ    -- Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Ketika itu Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
   Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau saw. pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
    Hadits Nabi Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.   Masih Mau’ud a.s., pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi. Hadits Nabi saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi).
    Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini  dalam wujud  Masih Mau’ud a.s.. yang kepadanya – sebagaimana dulu hanya kepada Adam (khalifah Allah – QS.2:31-35)   --  Allah Swt.  membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya yang dipelukan guna mewujudkan  keyaaan Islam yang kedua kali di Akhir  Zaman ini (QS.61:10), firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ۲﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,   supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu   (Al-Jin [72]:27-29).

Ath-Thāriq (Bintang Fajar) Pengusir “Malam Kegelapan jahiliyah” di Akhir Zaman

  Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
 Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa  lainnya.
   Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib, yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
        Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan istimewa Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa  lainnya tidak begitu terpelihara, sehingga Al-Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini benar-benar merupakan syihābun- mubīn (nyala api yang bercahaya sangat cemerlang – QS.15:19) atau  syihābun- tsāqib (nyala api yang bercahaya  menembus- QS.37:-11) atau ath-thāriq (bintang bercahaya sangat menembus), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   وَ السَّمَآءِ  وَ الطَّارِقِ ۙ﴿﴾   وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا الطَّارِقُ ۙ﴿ ﴾  النَّجۡمُ الثَّاقِبُ ۙ﴿﴾  اِنۡ کُلُّ نَفۡسٍ لَّمَّا عَلَیۡہَا حَافِظٌ ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ السَّمَآءِ  وَ الطَّارِقِ --  Demi langit dan demi Bintang Fajar. وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا الطَّارِقُ  --    Dan apakah yang engkau tahu, apa Bintang Fajar itu?  النَّجۡمُ الثَّاقِبُ --  Yaitu bintang yang bercahaya sangat menembus. اِنۡ کُلُّ نَفۡسٍ لَّمَّا عَلَیۡہَا حَافِظٌ --  Tidak ada suatu jiwa pun me-lainkan ada penjaga  atas dirinya. (Ath-Thāriq [86]:1-5).
   Isyarat dalam ayat ini dapat tertuju kepada wakil  Nabi Besar Muhammad saw.   di Akhir Zaman  dari kalangan وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --   “dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka” (QS.62:4),    yang kedatangannya laksana Bintang Fajar sebagai pertanda akan terbitnya fajar kejayaan dan penyebarluasan Islam  (QS.61:10), sesudah malam kegelapan ruhani yang pernah meliputi agama Islam selama 1000 tahun  sejak 3 abad masa kejayaannya yang pertama  (QS.32:6)  telah terhalau.
  Tetapi menurut sebagian ahli tafsir ayat ini bertalian dengan  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri, yang muncul pada saat malam kegelapan ruhani telah meliputi seluruh alam dunia (QS.30:42-43), sedang di negeri Arab sendiri, tempat  beliau saw.  menampakkan diri, telah diliputi kegelapan yang amat pekat, yakni keadaan  jahiliyah (QS.62:3).

Syaitan-syaitan Pencuri Dengar ”Suara Langit

    Makna ayat: اِنۡ کُلُّ نَفۡسٍ لَّمَّا عَلَیۡہَا حَافِظٌ --  Tidak ada suatu jiwa pun melainkan ada penjaga  atas dirinya (QS.86:4), bahwa   Allah Swt.  akan melindungi Bintang Fajarwakil Nabi Besar Muhammad saw. dan ath-Thāriq (Bintang yang bercahaya sangat menembus, yakni Nabi Besar Muhammad saw.), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَعَلۡنَا فِی السَّمَآءِ بُرُوۡجًا وَّ زَیَّنّٰہَا  لِلنّٰظِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾  
Dan  sungguh  Kami benar-benar   telah menjadikan gugusan-gugusan bintang di langit dan Kami telah menghiasinya untuk orang-orang yang melihat. وَ  حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ --  Dan  Kami telah memeliharanya dari gangguan setiap syaitan yang terkutuk. اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ --  melainkan   jika ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya  فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ -- maka ia dikejar kobaran nyala api yang terang-benderang  (Al-Hijr [15]:17-19).
    Yang dimaksudkan ayat 17   bukan semata-mata keindahan pemandangan planit-planit dan bintang-bintang yang nampak di waktu malam. Tujuan agung yang dipenuhi oleh kejadian benda-benda langit itu, disebut dalam ayat-ayat berikutnya, seperti juga dalam QS.16:17 dan QS.67:6.  dan dalam menjadi sempurnanya tujuan agung itulah terletak keindahan yang sesungguhnya dari benda-benda langit itu.
        Ayat 18  menunjukkan bahwa sebagaimana dalam alam kebendaan, orang-orang yang berpembawaan buruk mempunyai sedikit banyak tenaga atau pengaruh, dan dapat mendatangkan beberapa kemudaratan tertentu kepada orang-orang lain, namun mereka sama sekali tidak dapat  meluputkan  orang-orang dari nikmat-nikmat samawi (dari langit), seperti pengaruh yang sehat dari bintang-bintang dan sebagainya,  demikian pula dalam alam keruhanian syaitan tidak mempunyai kekuasaan atas nabi-nabi dan pengikut-pengikut mereka yang sejati, sebagaimana dikemukakan Allah Swt.  kepada Iblis mengenai para pengikut sejati Adam a.s. (Khalifah Allah  -- QS.15:29-43; QS.17:82-66).
       Kata “syaitan” dalam ayat yang sedang dibahas ini menunjuk kepada orang-orang kafir tertentu, yang berkeinginan mencapai keakraban dengan Allah Swt.  tanpa mengikuti ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi (ayat-ayat 14-16). Terhadap orang-orang semacam itu memang langit keruhanian telah dijaga dan pintu gerbangnya ditutup erat-erat.
        Di kalangan mereka ada yang berpendapat bahwa jika seseorang telah mengenal hakikat Allah Swt. dan telah “bersatu dengan-Nya” secara Zat maka  ia  tidak perlu lagi menjalankan syariat, sebagaimana anggapan para pengikut golongan “Wujudi” (Wihdatul Wujud) yang mensalah-tafsirkan ajaran Syaikh ‘Ibu ‘Arabi atau ajaran para Sufi besar lainnya.
        “Mencuri Kalam Ilahi” dapat mengandung arti perbuatan palsu orang-orang yang berlagak mengemukakan ajaran-ajaran para nabi Allah sebagai ajaran dari mereka sendiri. Mereka itu berusaha menipu orang-orang agar mempercayai, bahwa nabi-nabi Allah tidak membawa ajaran baru, dan bahwa mereka juga mempunyai pengetahuan yang dimiliki oleh para nabi Allah, sebagaimana pengakuan Samiri yang berhasil mengelabui Bani Israil ketika ditinggalkan Nabi Musa a.s. selama 40 hari  (QS.7:149-152; QS.20:84-90).
       Atau ayat itu dapat juga berarti, bahwa mereka mengutip suatu bagian dari ajaran dengan jalan memisahkannya dari siaq-sabaq (ujung pangkalnya) dan berusaha menyesatkan orang-orang yang sederhana pikirannya, dengan memberikan penafsiran salah tentang kata-kata itu dan mengaburkan artinya, yang lazim terjadi di kalangan Bani Israil (QS.2:41-43; QS.3:72).
         Kata-kata, اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ --  “melainkan   jika ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya”     jelas menunjukkan, bahwa kata-kata langit dalam ayat 17 menggambarkan sistem keruhanian dan bukan angkasa alam jasmani, sebab mencuri Kalam Ilahi itu tidak ada sangkut pautnya dengan langit jasmani.
       Kata burūj (gugusan bintang-bintang) dalam ayat 17 menggambarkan rasul-rasul Allāh secara umum, sedangkan kata-kata syihābun mubīn (kobaran nyala api yang terang benderang) dalam ayat ini atau syihābun tsāqib (kobaran nyala api yang menembus) tercantum dalam QS.37:11 dipakai untuk nabi masa ini yaitu Penghulu   para nabi, Nabi Besar Muhammad saw..

Bintang Cemerlang” Pengejar Para Syaitan  “Pencuri Dengar”

       Pengejaran syaitan oleh syihāb maksudnya, bahwa selama suatu ajaran agama berlandaskan pada wahyu Ilahi (Adz-dzikr, ayat 10) dan memberi nur dan hidayat maka para mushlih rabbani (pembaharu-pembaharu dari Allah) juga terus-menerus muncul untuk menjaganya (QS.15:10). Salah satu tanda kedatangan para  mushlih rabbani ke dunia adalah seringnya terjadi gejala meteorik, yaitu berjatuhannya bintang-bintang dalam jumlah besar.
     Di zaman  Nabi Besar Muhammad saw.  meteor-meteor jatuh sedemikian banyaknya, sehingga kaum kafir menyangka bahwa langit dan bumi akan runtuh (Tafsir Ibnu Katsir). Dari kejadian yang luar biasa inilah Heraclius, yang agaknya mempunyai sedikit pengetahuan tentang ilmu perbintangan, menarik kesimpulan, bahwa nabi dan raja bangsa Arab pasti sudah muncul (Bukhari bab bad’al-wahy).
      Di zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  juga bintang-bintang berjatuhan dalam jumlah yang luar biasa besarnya (Bihar-ul-Anwar). Gejala langit ini pernah disaksikan di masa di Akhir Zaman ini  dalam tahun 1885, sehubungan dengan kemunculan Mirza Ghulam Ahmad a.s. (1835-1908). Dengan demikian sejarah dan hadits kedua-duanya memberikan kesaksian, bahwa berjatuhannya meteor-meteor dalam jumlah yang luar biasa besarnya, adalah satu tanda yang pasti mengenai munculnya seorang Mushlih rabbani.  
      Kata “syaitan” dalam ayat 18: وَ  حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ --  “Dan  Kami telah memeliharanya dari gangguan setiap syaitan yang terkutuk” dapat dianggap menunjuk kepada ahli-ahli nujum dan tukang-tukang tenung atau para ahli kebatinan dan para sufi palsu. Dalam hal itu “merajam syaitan-syaitan” (QS.67:6) akan berarti bahwa manakala di dunia ini tidak ada seorang Mushlih rabbani  (pembaharu dari Allah Swt.) maka  ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir akan berhasil sampai batas tertentu dalam permainan kotornya dengan menipu orang-orang yang bodoh, tetapi dengan munculnya seorang Mushlih rabbani  ilmu mereka yang lancung itu terbuka kedoknya, dan orang-orang dengan mudah dapat membedakan antara kabar-kabar gaib dari rasul-rasul Ilahi dengan dugaan-dugaan dan terkaan-terkaan dari ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir.
      Ayat ini dapat juga diartikan, bahwa tatkala beberapa orang yang buruk pikirannya, mengambil sepotong dari wahyu Ilahi dengan menceraikannya dari susunan kalimatnya, dan berusaha menyebar-luaskannya dalam bentuk yang sudah rusak itu, maka sebuah tanda baru datang laksana pancaran  cahaya yang berbinar-binar lalu menghancur-leburkan rencana-rencana buruk orang-orang yang bertingkah laku seperti syaitan itu.
      Dalam makna yang sama tetapi dikemukakan dengan  penjelasan yang berbeda Allah Swt. berfirman: 
اِنَّا زَیَّنَّا السَّمَآءَ  الدُّنۡیَا بِزِیۡنَۃِۣ الۡکَوَاکِبِ ۙ﴿﴾  وَ  حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ ۚ﴿﴾  لَا یَسَّمَّعُوۡنَ  اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ  کُلِّ  جَانِبٍ ٭ۖ﴿﴾  دُحُوۡرًا  وَّ  لَہُمۡ  عَذَابٌ  وَّاصِبٌ ۙ﴿﴾ اِلَّا مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ  ثَاقِبٌ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang,  dan telah memeliharanya dari setiap syaitan durhaka.  لَا یَسَّمَّعُوۡنَ  اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ  کُلِّ  جَانِبٍ  -- Mereka tidak dapat mendengar-dengarkan pembicaraan majlis malaikat-malaikat yang tinggi dan mereka dilempari dari segala penjuru, دُحُوۡرًا  وَّ  لَہُمۡ  عَذَابٌ  وَّاصِبٌ --  terusir dan bagi mereka ada azab yang kekal. اِلَّا مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ  ثَاقِبٌ --   Kecuali barangsiapa mencuri-curi  sesuatu pembicaraan  maka ia dikejar oleh cahaya api yang cemerlang.   (Ash-Shāffat [37]:7-11).
       Ayat ini pun menunjuk kepada kesejajaran antara alam kebendaan dan alam keruhanian, bahwa seperti halnya cakrawala alam lahir didukung oleh adanya planit-planit dan bintang-bintang, demikian pula cakrawala alam ruhani didukung oleh adanya planit-planit dan bintang-bintang  ruhani  yang terdiri dari nabi-nabi dan mushlih-mushlih rabbani. Tiap-tiap wujud mereka itu berperan sebagai perhiasan bagi cakrawala alam keruhanian, sebagaimana bintang-bintang dan planit-planit di langit memperindah dan menghiasi cakrawala alam lahir ini.
        Syaitan-syaitan itu terdiri dari dua golongan: (a) musuh-musuh di dalam selimut jemaat kaum Muslimin sendiri, seperti orang-orang munafik, dan sebagainya. Mereka itu disebut “syaitan durhaka,” seperti tersebut dalam ayat ini, dan (b) musuh-musuh dari luar atau orang-orang kafir yang disebut sebagai “syaithanirrajīm” (syaitan yang terkutuk  -- QS.15:18).
        Selama Kalamullāh (firman Allah) terpelihara di langit maka  Kalamullāh itu aman dan terpelihara dari gangguan pencurian dan serobotan, tetapi sesudah diturunkan kepada seorang nabi Allah, maka “syaitan” atau musuh-musuh nabi-nabi Allah berusaha menyalah-sampaikan atau menyalahartikannya, dengan mengutip kata-kata nabi Allah itu secara keliru atau dengan mengambil sebagian wahyunya dan mencampurkan banyak kepalsuan dengan wahyu itu, atau bahkan mereka mencoba mengemukakan  ajaran nabi  Allah itu sebagai ajaran mereka sendiri. Tetapi kepalsuan mereka tersingkap oleh penjelasan hakiki yang diberikan oleh sang Mushlih rabbani mengenai wahyunya itu.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 1 September 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar