بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 24
Terbitnya Ath-Thāriq
(Bintang Fajar) -- yakni Al-Masih
Mau’ud a.s. – yang Ditugaskan Allah Swt. Melenyapkan "Kegelapan Malam Jahiliyyah" di Akhir Zaman
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sehubungan dengan dua kali pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. dalam QS.62:3-4 sebagai Pembaharu
(Mushlih rabbani) dapat benar-benar berhasil dalam misinya, yaitu bila ia terlebih dulu menyiapkan -- dengan contoh
mulia dan quat-qudsiahnya (daya
pensuciannya) -- suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu
mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti dan kepentingan cita-cita dan asas-asas
ajaran-nya itu, kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar
negeri untuk mendakwahkan ajaran itu
kepada bangsa lain.
Didikan yang Nabi Besar
Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw. tersebut memperluas
dan mempertajam kecerdasan mereka,
dan falsafat ajaran beliau saw. menimbulkan
dalam diri mereka keyakinan iman, sedangkan contoh
mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ -- Dia-lah Yang
telah membangkitkan di kalangan
bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah” (Al-Jumu’ah [62]: 3).
Keturunan Bangsa Farsi & Pembukaan Rahasia-rahasia
Ghaib Allah Swt.
Makna ayat selanjutnya: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- “dan
juga akan membangkitkannya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,”
(QS.62-4), bahwa ajaran
Nabi Besar Muhammad saw. ditujukan bukan kepada bangsa Arab belaka -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan -- melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2;
QS.34:29); dan bukan hanya kepada orang-orang
sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan (generasi) demi keturunan
manusia yang akan datang hingga Hari
Kiamat (QS.7:35-37).
Atau ayat ini dapat
juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad
saw. akan dibangkitkan di kalangan
kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut (sahabat) semasa hidup beliau
saw.. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur,
tertuju kepada pengutusan beliau saw.
untuk kedua kali dalam wujud Masih Mau’ud a.s.. di
Akhir Zaman.
Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang
duduk-duduk bersama Rasulullah saw., ketika Surah Al-Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.:
“Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata
وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum
lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Ketika itu Salman al-Farsi (Salman asal Parsi)
sedang duduk di antara kami.
Setelah saya
berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan
beliau saw. pada Salman dan bersabda:
“Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini
pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat
ini dikenakan kepada seorang lelaki
dari keturunan Parsi. Masih
Mau’ud a.s., pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi.
Hadits Nabi saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran
kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal
di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati
akan lenyap (Baihaqi).
Jadi, Al-Quran
dan hadits kedua-duanya sepakat
bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua
kali Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir
Zaman ini dalam wujud Masih
Mau’ud a.s.. yang kepadanya – sebagaimana dulu hanya kepada Adam (khalifah Allah – QS.2:31-35) --
Allah Swt. membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya yang dipelukan
guna mewujudkan keyaaan Islam yang kedua
kali di Akhir Zaman ini (QS.61:10), firman-Nya:
عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ۲﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ
یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun kecuali kepada
Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia
mengetahui bahwa sungguh mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb
(Tuhan) mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka
dan Dia membuat perhitungan mengenai
segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
Ath-Thāriq (Bintang Fajar) Pengusir “Malam Kegelapan jahiliyah” di Akhir
Zaman
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti diberi pengetahuan dengan sering dan
secara berlimpah-limpah mengenai rahasia
gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa
dan kejadian yang sangat penting.
Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna
membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang
dibukakan kepada seorang rasul Tuhan
dan rahasia-rahasia gaib yang
dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa
lainnya.
Perbedaan itu letaknya
pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul
Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib, yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia
yang diturunkan kepada orang-orang
bertakwa dan orang-orang suci
lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu.
Tambahan
pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan istimewa Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan
oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara, sehingga Al-Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini benar-benar merupakan syihābun- mubīn (nyala api yang bercahaya sangat cemerlang –
QS.15:19) atau syihābun- tsāqib (nyala
api yang bercahaya menembus- QS.37:-11)
atau ath-thāriq (bintang bercahaya
sangat menembus), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ وَ الطَّارِقِ ۙ﴿﴾ وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا الطَّارِقُ ۙ﴿ ﴾ النَّجۡمُ الثَّاقِبُ ۙ﴿﴾ اِنۡ کُلُّ نَفۡسٍ لَّمَّا عَلَیۡہَا حَافِظٌ ؕ﴿﴾
Aku baca
dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
وَ
السَّمَآءِ وَ الطَّارِقِ -- Demi langit
dan demi Bintang Fajar. وَ مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا الطَّارِقُ -- Dan apakah yang engkau tahu, apa Bintang Fajar itu? النَّجۡمُ
الثَّاقِبُ -- Yaitu bintang yang bercahaya sangat menembus. اِنۡ کُلُّ نَفۡسٍ لَّمَّا عَلَیۡہَا
حَافِظٌ -- Tidak ada suatu jiwa pun me-lainkan ada penjaga atas
dirinya. (Ath-Thāriq [86]:1-5).
Isyarat dalam ayat
ini dapat tertuju kepada wakil Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir
Zaman dari kalangan وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- “dan
juga akan membangkitkannya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka” (QS.62:4), yang
kedatangannya laksana Bintang Fajar
sebagai pertanda akan terbitnya fajar
kejayaan dan penyebarluasan Islam (QS.61:10), sesudah malam kegelapan ruhani yang pernah meliputi agama Islam selama 1000 tahun
sejak 3 abad masa kejayaannya yang pertama
(QS.32:6) telah terhalau.
Tetapi menurut sebagian
ahli tafsir ayat ini bertalian dengan Nabi Besar Muhammad saw. sendiri, yang muncul pada saat malam kegelapan ruhani telah meliputi seluruh alam dunia (QS.30:42-43), sedang
di negeri Arab sendiri, tempat beliau saw. menampakkan diri, telah diliputi kegelapan yang amat pekat, yakni
keadaan jahiliyah (QS.62:3).
Syaitan-syaitan Pencuri Dengar ”Suara Langit”
Makna ayat: اِنۡ کُلُّ نَفۡسٍ لَّمَّا عَلَیۡہَا حَافِظٌ -- Tidak ada suatu jiwa pun melainkan ada penjaga atas dirinya (QS.86:4),
bahwa Allah Swt. akan melindungi Bintang Fajar – wakil Nabi
Besar Muhammad saw. dan ath-Thāriq (Bintang
yang bercahaya sangat menembus, yakni Nabi Besar Muhammad saw.), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
جَعَلۡنَا فِی السَّمَآءِ بُرُوۡجًا وَّ زَیَّنّٰہَا لِلنّٰظِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ
حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ
مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menjadikan gugusan-gugusan
bintang di langit dan Kami telah menghiasinya untuk
orang-orang yang melihat. وَ حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ
رَّجِیۡمٍ -- Dan
Kami telah memeliharanya dari gangguan setiap syaitan yang terkutuk. اِلَّا مَنِ
اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ -- melainkan jika
ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya فَاَتۡبَعَہٗ
شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ -- maka ia dikejar kobaran nyala api yang terang-benderang (Al-Hijr
[15]:17-19).
Yang dimaksudkan ayat 17 bukan
semata-mata keindahan pemandangan planit-planit dan bintang-bintang yang nampak di waktu malam. Tujuan agung yang dipenuhi oleh kejadian benda-benda langit itu, disebut dalam
ayat-ayat berikutnya, seperti juga dalam QS.16:17 dan QS.67:6. dan dalam menjadi sempurnanya tujuan agung itulah terletak keindahan yang sesungguhnya dari benda-benda langit itu.
Ayat 18
menunjukkan bahwa sebagaimana dalam alam
kebendaan, orang-orang yang berpembawaan buruk mempunyai sedikit
banyak tenaga atau pengaruh, dan dapat mendatangkan
beberapa kemudaratan tertentu kepada
orang-orang lain, namun mereka sama sekali tidak dapat meluputkan orang-orang dari nikmat-nikmat samawi (dari langit), seperti pengaruh yang sehat dari bintang-bintang
dan sebagainya, demikian pula dalam alam keruhanian syaitan tidak mempunyai kekuasaan atas nabi-nabi dan pengikut-pengikut
mereka yang sejati, sebagaimana dikemukakan Allah Swt. kepada Iblis
mengenai para pengikut sejati Adam a.s. (Khalifah Allah -- QS.15:29-43; QS.17:82-66).
Kata “syaitan” dalam ayat
yang sedang dibahas ini menunjuk kepada orang-orang
kafir tertentu, yang berkeinginan mencapai keakraban dengan Allah Swt. tanpa mengikuti ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi
(ayat-ayat 14-16). Terhadap orang-orang semacam itu memang langit keruhanian telah dijaga
dan pintu gerbangnya ditutup
erat-erat.
Di kalangan mereka ada yang berpendapat bahwa
jika seseorang telah mengenal hakikat
Allah Swt. dan telah “bersatu dengan-Nya” secara Zat maka ia tidak perlu lagi menjalankan syariat, sebagaimana anggapan para
pengikut golongan “Wujudi” (Wihdatul Wujud) yang mensalah-tafsirkan ajaran Syaikh ‘Ibu
‘Arabi atau ajaran para Sufi besar
lainnya.
“Mencuri Kalam Ilahi” dapat mengandung
arti perbuatan palsu orang-orang yang
berlagak mengemukakan ajaran-ajaran
para nabi Allah sebagai ajaran dari mereka sendiri. Mereka itu
berusaha menipu orang-orang agar
mempercayai, bahwa nabi-nabi Allah tidak
membawa ajaran baru, dan bahwa mereka juga mempunyai pengetahuan yang dimiliki oleh para nabi Allah, sebagaimana
pengakuan Samiri yang berhasil mengelabui Bani Israil ketika
ditinggalkan Nabi Musa a.s. selama 40 hari
(QS.7:149-152; QS.20:84-90).
Atau ayat itu dapat juga berarti,
bahwa mereka mengutip suatu bagian
dari ajaran dengan jalan
memisahkannya dari siaq-sabaq (ujung pangkalnya) dan berusaha menyesatkan orang-orang yang sederhana
pikirannya, dengan memberikan penafsiran
salah tentang kata-kata itu dan mengaburkan
artinya, yang lazim terjadi di kalangan Bani
Israil (QS.2:41-43; QS.3:72).
Kata-kata, اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ -- “melainkan jika
ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya” jelas menunjukkan, bahwa kata-kata langit dalam ayat 17 menggambarkan sistem keruhanian dan bukan angkasa alam jasmani, sebab mencuri Kalam
Ilahi itu tidak ada sangkut pautnya dengan langit jasmani.
Kata burūj
(gugusan bintang-bintang) dalam ayat 17 menggambarkan rasul-rasul Allāh secara umum, sedangkan kata-kata syihābun
mubīn (kobaran nyala api yang terang benderang) dalam ayat ini atau syihābun
tsāqib (kobaran nyala api yang menembus) tercantum dalam QS.37:11 dipakai
untuk nabi masa ini yaitu Penghulu para nabi, Nabi Besar Muhammad saw..
“Bintang Cemerlang”
Pengejar Para Syaitan “Pencuri Dengar”
Pengejaran syaitan oleh syihāb
maksudnya, bahwa selama suatu ajaran
agama berlandaskan pada wahyu Ilahi
(Adz-dzikr, ayat 10) dan memberi nur
dan hidayat maka para mushlih rabbani (pembaharu-pembaharu
dari Allah) juga terus-menerus muncul untuk menjaganya
(QS.15:10). Salah satu tanda kedatangan para
mushlih rabbani ke dunia
adalah seringnya terjadi gejala meteorik,
yaitu berjatuhannya bintang-bintang
dalam jumlah besar.
Di zaman Nabi Besar Muhammad saw. meteor-meteor
jatuh sedemikian banyaknya, sehingga
kaum kafir menyangka bahwa langit dan
bumi akan runtuh (Tafsir Ibnu Katsir). Dari
kejadian yang luar biasa inilah Heraclius, yang agaknya mempunyai sedikit
pengetahuan tentang ilmu perbintangan,
menarik kesimpulan, bahwa nabi dan raja bangsa Arab pasti sudah muncul (Bukhari bab bad’al-wahy).
Di zaman Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. juga bintang-bintang berjatuhan dalam jumlah
yang luar biasa besarnya (Bihar-ul-Anwar).
Gejala langit ini pernah disaksikan di masa di Akhir Zaman ini dalam tahun
1885, sehubungan dengan kemunculan Mirza Ghulam Ahmad a.s. (1835-1908).
Dengan demikian sejarah dan hadits kedua-duanya memberikan
kesaksian, bahwa berjatuhannya
meteor-meteor dalam jumlah yang luar biasa besarnya, adalah satu tanda yang
pasti mengenai munculnya seorang Mushlih
rabbani.
Kata “syaitan” dalam ayat
18: وَ
حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ -- “Dan Kami
telah memeliharanya dari gangguan setiap syaitan yang terkutuk” dapat dianggap menunjuk kepada ahli-ahli nujum dan tukang-tukang tenung atau para ahli
kebatinan dan para sufi palsu. Dalam
hal itu “merajam syaitan-syaitan” (QS.67:6) akan berarti bahwa manakala
di dunia ini tidak ada seorang Mushlih
rabbani (pembaharu dari Allah Swt.)
maka ahli-ahli
nujum dan tukang-tukang sihir
akan berhasil sampai batas tertentu dalam permainan
kotornya dengan menipu
orang-orang yang bodoh, tetapi dengan munculnya seorang Mushlih rabbani ilmu mereka
yang lancung itu terbuka kedoknya,
dan orang-orang dengan mudah dapat membedakan antara kabar-kabar gaib dari rasul-rasul
Ilahi dengan dugaan-dugaan dan terkaan-terkaan dari ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir.
Ayat ini dapat juga diartikan,
bahwa tatkala beberapa orang yang buruk
pikirannya, mengambil sepotong
dari wahyu Ilahi dengan menceraikannya dari susunan kalimatnya, dan berusaha menyebar-luaskannya dalam bentuk yang sudah rusak itu, maka sebuah tanda
baru datang laksana pancaran cahaya yang berbinar-binar lalu
menghancur-leburkan rencana-rencana buruk
orang-orang yang bertingkah laku seperti syaitan
itu.
Dalam makna yang sama tetapi dikemukakan dengan penjelasan yang berbeda Allah Swt. berfirman:
اِنَّا
زَیَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡیَا
بِزِیۡنَۃِۣ الۡکَوَاکِبِ ۙ﴿﴾ وَ حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ ۚ﴿﴾ لَا یَسَّمَّعُوۡنَ
اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ کُلِّ
جَانِبٍ ٭ۖ﴿﴾ دُحُوۡرًا وَّ
لَہُمۡ عَذَابٌ وَّاصِبٌ ۙ﴿﴾ اِلَّا مَنۡ خَطِفَ
الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ ثَاقِبٌ
﴿﴾
Sesungguhnya
Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah
memeliharanya dari setiap syaitan durhaka. لَا
یَسَّمَّعُوۡنَ اِلَی الۡمَلَاِ
الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ
کُلِّ جَانِبٍ -- Mereka tidak dapat mendengar-dengarkan pembicaraan
majlis malaikat-malaikat yang tinggi
dan mereka dilempari dari segala penjuru,
دُحُوۡرًا
وَّ لَہُمۡ عَذَابٌ
وَّاصِبٌ -- terusir dan bagi mereka ada azab yang kekal. اِلَّا مَنۡ
خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ
ثَاقِبٌ -- Kecuali barangsiapa mencuri-curi sesuatu
pembicaraan maka ia dikejar oleh cahaya api yang
cemerlang. (Ash-Shāffat
[37]:7-11).
Ayat
ini pun menunjuk kepada kesejajaran
antara alam kebendaan dan alam keruhanian, bahwa seperti halnya cakrawala alam lahir didukung oleh
adanya planit-planit dan bintang-bintang, demikian pula cakrawala alam ruhani didukung oleh
adanya planit-planit dan bintang-bintang ruhani yang terdiri dari nabi-nabi dan mushlih-mushlih
rabbani. Tiap-tiap wujud mereka
itu berperan sebagai perhiasan bagi cakrawala alam keruhanian, sebagaimana
bintang-bintang dan planit-planit di langit memperindah
dan menghiasi cakrawala alam lahir ini.
Syaitan-syaitan itu terdiri dari dua golongan: (a)
musuh-musuh di dalam selimut jemaat kaum Muslimin
sendiri, seperti orang-orang munafik,
dan sebagainya. Mereka itu disebut “syaitan durhaka,” seperti tersebut
dalam ayat ini, dan (b) musuh-musuh dari luar atau orang-orang kafir yang disebut sebagai “syaithanirrajīm” (syaitan
yang terkutuk -- QS.15:18).
Selama Kalamullāh (firman Allah) terpelihara di
langit maka Kalamullāh
itu aman dan terpelihara dari gangguan pencurian
dan serobotan, tetapi sesudah
diturunkan kepada seorang nabi Allah,
maka “syaitan” atau musuh-musuh nabi-nabi
Allah berusaha menyalah-sampaikan
atau menyalahartikannya, dengan mengutip kata-kata nabi Allah itu secara keliru
atau dengan mengambil sebagian wahyunya
dan mencampurkan banyak kepalsuan
dengan wahyu itu, atau bahkan mereka
mencoba mengemukakan ajaran nabi Allah itu sebagai ajaran mereka sendiri. Tetapi kepalsuan mereka tersingkap oleh penjelasan hakiki yang diberikan oleh
sang Mushlih rabbani mengenai wahyunya itu.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 1 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar