بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 11
Hubungan
Rahmat
Ilahi dengan Rahmāniyyat dan Rahīmiyyat Allah Swt. & Kabar Gembira Bagi Orang-orang Berdosa Mengenai Rahmat Ilahi
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai kata rahmat yang
berkaitan erat dengan kata rahmān dan rahīm karena memiliki akar
kata yang sama yaitu rahm, salah satu maknanya adalah kasih-sayang, dimana rahmat
(kasih-sayang) Allah Swt. bahkan mengatasi kemurkaan-Nya
(QS.7:157), sebagaimana dikatakan para pemikul
‘Arasy Ilahi sebelum ini firman-Nya: رَبَّنَا
وَسِعۡتَ کُلَّ شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ
-- “Wahai Rabb
(Tuhan) kami, Engkau meliputi segala
sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam (Al-Mu’mīn [40]:8).
Karena itu mengenai Sifat Ar-Rahmān, Allah Swt. telah memerintahkan dalam
Al-Quran untuk menyebut Sifat-Nya selain sebutan ALLAH -- yang merupakan nama Dzat-Nya -- sebab Sifat Ar-Rahmān Allah Swt.
meliputi Sifat-sifat-Nya yang lainnya
firman-Nya:
قُلِ
ادۡعُوا اللّٰہَ اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ
ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا
تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ بَیۡنَ
ذٰلِکَ سَبِیۡلًا ﴿﴾
Katakanlah:
“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah), اَیًّامَّا
تَدۡعُوۡا فَلَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی --dengan
nama apa saja kamu berseru kepada
Dia milik-Nya semua nama yang terbaik.” Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras dan jangan
pula kamu mengucapkannya terlalu lemah tetapi carilah
jalan di antara itu. (Bani Israil [17]:111).
Hubungan Rahmat Ilahi dengan Sifat Rahmāniyyat dan Rahīmiyyat Allah Swt.
Sehubungan hubungan khusus rahmat
Ilahi dengan Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penyayang), Allah Swt.
berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai rahmat-Nya
kepada Nabi Zakaria a.s.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ کٓہٰیٰعٓصٓ ۟﴿ۚ﴾ ذِکۡرُ رَحۡمَتِ
رَبِّکَ عَبۡدَہٗ زَکَرِیَّا ۖ﴿ۚ﴾ اِذۡ نَادٰی
رَبَّہٗ نِدَآءً خَفِیًّا ﴿﴾ قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ وَہَنَ الۡعَظۡمُ مِنِّیۡ وَ
اشۡتَعَلَ الرَّاۡسُ شَیۡبًا وَّ لَمۡ
اَکُنۡۢ بِدُعَآئِکَ رَبِّ شَقِیًّا ﴿﴾ وَ اِنِّیۡ خِفۡتُ الۡمَوَالِیَ مِنۡ وَّرَآءِیۡ وَ
کَانَتِ امۡرَاَتِیۡ عَاقِرًا فَہَبۡ لِیۡ
مِنۡ لَّدُنۡکَ وَلِیًّا ۙ﴿﴾ یَّرِثُنِیۡ وَ یَرِثُ مِنۡ اٰلِ یَعۡقُوۡبَ ٭ۖ
وَ اجۡعَلۡہُ رَبِّ رَضِیًّا ﴿﴾ یٰزَکَرِیَّاۤ
اِنَّا نُبَشِّرُکَ بِغُلٰمِۣ اسۡمُہٗ یَحۡیٰی ۙ لَمۡ نَجۡعَلۡ
لَّہٗ مِنۡ قَبۡلُ
سَمِیًّا ﴿﴾ قَالَ رَبِّ اَنّٰی
یَکُوۡنُ لِیۡ غُلٰمٌ وَّ کَانَتِ امۡرَاَتِیۡ
عَاقِرًا وَّ قَدۡ
بَلَغۡتُ مِنَ الۡکِبَرِ عِتِیًّا ﴿﴾ قَالَ
کَذٰلِکَ ۚ قَالَ رَبُّکَ ہُوَ
عَلَیَّ ہَیِّنٌ وَّ قَدۡ
خَلَقۡتُکَ مِنۡ قَبۡلُ وَ لَمۡ تَکُ شَیۡئًا
﴿﴾ قَالَ رَبِّ اجۡعَلۡ
لِّیۡۤ اٰیَۃً ؕ قَالَ اٰیَتُکَ
اَلَّا تُکَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَ لَیَالٍ سَوِیًّا ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. کٓہٰیٰعٓصٓ -- Engkau Maha
Mencukupi, Maha Pemberi Petunjuk,
ya Allah, Yang Maha Mengetahui, Maha
Benar. ذِکۡرُ رَحۡمَتِ
رَبِّکَ عَبۡدَہٗ زَکَرِیَّا -- Inilah penjelasan mengenai rahmat Rabb (Tuhan) engkau kepada hamba-Nya Zakaria, ketika
ia berseru kepada Rabb-nya (Tuhan-nya), dengan seruan
yang lembut. Ia
berkata: "Ya, Rabb-ku (Tuhan-ku),
seungguhnya tulang-tulangku telah menjadi lemah,
dan kepala telah dipenuhi uban,
tetapi ya Rabb-ku (Tuhan-ku) aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau. Dan sesungguhnya aku khawatir akan kaum-keluargaku
di belakangku, sedangkan istriku
mandul, maka anugerahilah aku seorang penerus dari sisi
Engkau, yang akan menjadi pewarisku
dan pewaris keturunan Ya'qub,
dan ya Rabb-ku (Tuhan-ku), jadikanlah dia seorang yang diridhai." یٰزَکَرِیَّاۤ اِنَّا نُبَشِّرُکَ بِغُلٰمِۣ اسۡمُہٗ یَحۡیٰی ٰ -- Allah berfirman:
"Ya Zakaria, Kami
memberikan kabar gembira kepada engkau
mengenai seorang anak laki-laki namanya
Yahya. لَمۡ نَجۡعَلۡ
لَّہٗ مِنۡ قَبۡلُ
سَمِیًّا -- Kami tidak pernah menyebut seorang
pun sebelum dia dengan nama itu. Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), ba-gaimanakah akan menjadikan anak laki-laki
bagiku, padahal istriku mandul dan aku telah mencapai usia lanjut?” قَالَ
کَذٰلِکَ -- Ia, malaikat
berkata: "Demikianlah. قَالَ رَبُّکَ ہُوَ عَلَیَّ ہَیِّنٌ وَّ قَدۡ خَلَقۡتُکَ مِنۡ قَبۡلُ وَ لَمۡ تَکُ شَیۡئًا -- Rabb (Tuhan) engkau berfirman: "Itu mudah bagi-Ku, dan sungguh Aku
telah menciptakan engkau sebelum ini, padahal engkau tadinya bukanlah sesuatu apa pun.” Zakaria,
berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
jadikanlah bagiku suatu Tanda." Dia berfirman: "Tanda bagi engkau, bahwa engkau jangan bicara kepada manusia selama tiga malam berturut-turut. (Maryam
[19]:1-11).
Rahmat
Ilahi kepada Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Musa a.s.
Kemudian mengenai pengenugerahan rahmat-Nya kepada Nabi Ibrahim a.s.
Allah Swt. berfirman:
فَلَمَّا
اعۡتَزَلَہُمۡ وَ مَا یَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ۙ وَہَبۡنَا لَہٗۤ اِسۡحٰقَ
وَ یَعۡقُوۡبَ ؕ وَ کُلًّا جَعَلۡنَا
نَبِیًّا ﴿﴾ وَ وَہَبۡنَا لَہُمۡ
مِّنۡ رَّحۡمَتِنَا وَ جَعَلۡنَا لَہُمۡ
لِسَانَ صِدۡقٍ عَلِیًّا ﴿٪﴾
Maka
tatkala ia (Ibrahim) telah menjauhkan
diri dari mereka dan dari apa yang
mereka sembah selain Allah, وَہَبۡنَا لَہٗۤ اِسۡحٰقَ
وَ یَعۡقُوۡبَ -- Kami
anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya'qub dan semua Kami
jadikan nabi. وَ وَہَبۡنَا لَہُمۡ مِّنۡ رَّحۡمَتِنَا
وَ جَعَلۡنَا لَہُمۡ لِسَانَ صِدۡقٍ
عَلِیًّا -- Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian rahmat Kami, dan Kami jadikan
mereka buah tutur yang baik dan tinggi.
(Maryam [19]:50-51).
Demikian pula pengabulan permintaan
Nabi Musa a.s. kepada Allah Swt. agar
menjadikan saudaranya, Harun, sebagai
rekan kerja dalam melaksanakan
da’wah kepada Fir’aun merupakan
rahmat Ilahi, firman-Nya:
وَ اذۡکُرۡ
فِی الۡکِتٰبِ مُوۡسٰۤی ۫ اِنَّہٗ کَانَ
مُخۡلَصًا وَّ کَانَ رَسُوۡلًا نَّبِیًّا
﴿﴾ وَ نَادَیۡنٰہُ مِنۡ جَانِبِ الطُّوۡرِ
الۡاَیۡمَنِ وَ قَرَّبۡنٰہُ نَجِیًّا ﴿﴾ وَ وَہَبۡنَا لَہٗ
مِنۡ رَّحۡمَتِنَاۤ اَخَاہُ
ہٰرُوۡنَ نَبِیًّا ﴿﴾
Dan
ceriterakanlah kisah Musa di
dalam Kitab Al-Quran, sesungguhnya ia
seorang pilihan dan ia seorang rasul
serta seorang nabi. Dan
Kami memanggilnya dari sebelah
kanan gunung, dan Kami mendekatkannya
untuk munajat. وَ وَہَبۡنَا
لَہٗ مِنۡ رَّحۡمَتِنَاۤ اَخَاہُ ہٰرُوۡنَ نَبِیًّا -- Dan Kami
menganugerahkan kepadanya dari rahmat
Kami yakni saudaranya,
Harun, sebagai nabi. (Maryam [19]:52-54).
Ketika Nabi Harun a.s. tidak berhasil mencegah Bani Israil agar mereka tidak menyembah patung anak sapi buatan Samiri karena kedegilan mereka, sehingga Nabi Musa a.s. sempat bersikap keras terhadap Nabi
Harun a.s. (QS.7:149-151; QS.20:84-99), selanjutnya Nabi Musa a.s. berdoa memohon ampunan-Nya
dan rahmat-Nya kepada Allah Swt.,
firman-Nya:
وَ اتَّخَذَ
قَوۡمُ مُوۡسٰی مِنۡۢ بَعۡدِہٖ مِنۡ
حُلِیِّہِمۡ عِجۡلًا جَسَدًا لَّہٗ خُوَارٌ ؕ اَلَمۡ یَرَوۡا اَنَّہٗ لَا یُکَلِّمُہُمۡ وَ لَا یَہۡدِیۡہِمۡ
سَبِیۡلًا ۘ اِتَّخَذُوۡہُ وَ کَانُوۡا
ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا سُقِطَ فِیۡۤ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ رَاَوۡا اَنَّہُمۡ قَدۡ
ضَلُّوۡا ۙ قَالُوۡا لَئِنۡ لَّمۡ
یَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا وَ یَغۡفِرۡ لَنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ
﴿﴾ وَ لَمَّا رَجَعَ مُوۡسٰۤی اِلٰی قَوۡمِہٖ غَضۡبَانَ
اَسِفًا ۙ قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُوۡنِیۡ
مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ۚ اَعَجِلۡتُمۡ اَمۡرَ رَبِّکُمۡ ۚ وَ اَلۡقَی الۡاَلۡوَاحَ
وَ اَخَذَ بِرَاۡسِ اَخِیۡہِ یَجُرُّہٗۤ اِلَیۡہِ ؕ قَالَ ابۡنَ اُمَّ اِنَّ الۡقَوۡمَ اسۡتَضۡعَفُوۡنِیۡ وَ کَادُوۡا یَقۡتُلُوۡنَنِیۡ ۫ۖ فَلَا
تُشۡمِتۡ بِیَ الۡاَعۡدَآءَ وَ لَا تَجۡعَلۡنِیۡ مَعَ الۡقَوۡمِ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ رَبِّ اغۡفِرۡ
لِیۡ وَ لِاَخِیۡ وَ اَدۡخِلۡنَا فِیۡ رَحۡمَتِکَ ۫ۖ وَ اَنۡتَ اَرۡحَمُ
الرّٰحِمِیۡنَ ﴿ ﴾٪
Dan
sepeninggalnya kaum Musa telah membuat patung anak sapi dari barang-barang perhiasan mereka, jasad yang hanya bersuara. Apakah mereka tidak pernah memperhatikan bahwa patung itu tidak dapat berkata-kata dengan mereka dan tidak pula memberi mereka petunjuk kepada
suatu jalan? Mereka menjadikannya
sebagai sembahan dan mereka
adalah orang-orang zalim. Dan tatkala mereka menyesal serta
melihat bahwa mereka sungguh telah sesat,
قَالُوۡا لَئِنۡ لَّمۡ یَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا وَ یَغۡفِرۡ لَنَا لَنَکُوۡنَنَّ
مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ -- mereka berkata: “Seandainya Rabb (Tuhan) kami tidak benar-benar یَرۡحَمۡنَا -- mengasihani
kami, dan tidak mengampuni kami,
niscaya kami termasuk orang-orang
yang rugi.” Dan
tatkala Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih, ia berkata: “Sangat buruk
apa yang kamu kerjakan sebagai wakilku
sepeninggalku. Apakah kamu hendak
mendahului perintah Rabb (Tuhan) kamu?” وَ اَلۡقَی
الۡاَلۡوَاحَ وَ اَخَذَ بِرَاۡسِ اَخِیۡہِ یَجُرُّہٗۤ اِلَیۡہِ -- Lalu ia meletakkan lempeng-lempeng batu tulis itu dan merenggut kepala saudaranya seraya
menariknya kepadanya. قَالَ ابۡنَ اُمَّ اِنَّ الۡقَوۡمَ اسۡتَضۡعَفُوۡنِیۡ وَ کَادُوۡا یَقۡتُلُوۡنَنِیۡ -- Harun
berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini memandang aku lemah dan mereka hampir membunuhku, فَلَا تُشۡمِتۡ بِیَ
الۡاَعۡدَآءَ وَ لَا تَجۡعَلۡنِیۡ مَعَ
الۡقَوۡمِ الظّٰلِمِیۡنَ -- maka janganlah
engkau membiarkan musuh-musuhku mengejekku dan janganlah engkau menganggapku termasuk kaum yang zalim.” قَالَ رَبِّ اغۡفِرۡ
لِیۡ وَ لِاَخِیۡ وَ اَدۡخِلۡنَا فِیۡ رَحۡمَتِکَ -- Musa
berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), ampunilah aku dan juga untuk saudaraku, وَ اَدۡخِلۡنَا فِیۡ
رَحۡمَتِکَ -- dan masukkanlah
kami ke dalam rahmat Engkau, وَ اَنۡتَ اَرۡحَمُ
الرّٰحِمِیۡنَ -- karena Engkau Maha Penyayang di antara semua pe-nyayang.” (Al-A’rāf
[7]:149-152).
Kabar Gembira Bagi Orang-orang yang Berdosa Tentang Rahmat Allah Swt.
Pendek kata, rahmat Ilahi. sangat erat dengan Sifat Rahmāniyyat (Maha Pemurah) dan Rahīmiyyat
(Maha Penyayang) Allah Swt., sehingga
tidak ada alasan bagi manusia -- bagaimana pun telah berdosanya mereka -- untuk berputus-asa dari rahmat-Nya yang sangat luas
karena Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengampun
dan Maha Penyayang, sehingga tidak memerlukan “penebusan dosa” dari siapa pun, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ
یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Katakanlah:
“Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, لَا تَقۡنَطُوۡا
مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ -- janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah. اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا -- Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.
اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ -- Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Az-Zumar [39]:54).
Ayat ini memberi amanat harapan dan kabar
gembira kepada orang-orang berdosa.
Ayat ini membesarkan hati serta melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa
putus-asa, sebab putus-asa itu
terletak pada akar kebanyakan dosa
dan kegagalan-kegagalan dalam
kehidupan.
Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah Swt. (QS.6:55;
QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan
hati yang lebih besar daripada itu bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
pentingnya menindak-lanjuti taubat
yang telah dilakukan, yaitu dengan
mengikuti petunjuk
Al-Quran sebagaimana yang telah dicontohkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ
اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ
اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا
تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اتَّبِعُوۡۤا
اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً
وَّ اَنۡتُمۡ لَا
تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اَنۡ تَقُوۡلَ
نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ
لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ
اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ لَکُنۡتُ مِنَ
الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوۡ تَقُوۡلَ
حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً
فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾ بَلٰی قَدۡ جَآءَتۡکَ اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ
اسۡتَکۡبَرۡتَ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ تَرَی الَّذِیۡنَ کَذَبُوۡا عَلَی اللّٰہِ وُجُوۡہُہُمۡ
مُّسۡوَدَّۃٌ ؕ اَلَیۡسَ فِیۡ
جَہَنَّمَ مَثۡوًی
لِّلۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Dan kembalilah kepada Rabb
(Tuhan) kamu dan berserah-dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepada kamu kemudian kamu tidak akan ditolong. Dan
ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada
kamu dari Rabb (Tuhan) kamu, sebelum
datang kepadamu azab dengan tiba-tiba,
sedang kamu tidak menyadari. َنۡ تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی
مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ -- Supaya jangan ada
orang yang mengatakan: ”Wahai
sangat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah, sedangkan aku benar-benar termasuk orang-orang yang
memperolok-olok rasul-Nya.” اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ
اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ لَکُنۡتُ مِنَ
الۡمُتَّقِیۡنَ
-- Atau ia
berkata: “Seandainya saja Allah memberi petunjuk kepada-ku,
niscaya aku termasuk orang-orang yang
bertakwa.” اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ -- Atau ia berkata ketika ia melihat azab: لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ -- “Seandainya bagiku ada kesempatan kembali lagi ke dunia, maka aku
akan termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” بَلٰی قَدۡ
جَآءَتۡکَ اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ اسۡتَکۡبَرۡتَ وَ کُنۡتَ مِنَ
الۡکٰفِرِیۡنَ -- Tidak, bahkan sungguh telah datang kepada engkau Tanda-tanda-Ku,
tetapi engkau telah mendustakannya
serta berlaku sombong dan eng-kau termasuk orang-orang kafir.” (Az-Zumar [39]:55-61).
Kasih-sayang Allah Swt. Mengatasi Kemurkaan-Nya
Sementara dalam ayat sebelumnya (QS.39:54)
Allah Swt. memberikan kepada orang-orang berdosa suatu amanat harapan dan kabar gembira, sedangkan ayat
55-56 memperingatkan mereka bahwa mereka akan harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi, dalam hal ini adalah agama Islam (Al-Quran) sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:32 & 86; QS.33:22).
Kemudian ayat 57-61 Allah Swt. memperingatkan mereka bahwa banyak kesempatan diberikan kepada manusia yang berkecimpung dalam kancah
dosa untuk bertaubat dan
mengadakan perubahan dalam dirinya.
Tetapi jika penolakan kebenaran
dilakukan dengan sengaja dan dengan berulang-ulang, dan bila ia melampaui batas yang sah dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bila hari
perhitungan atas dia telah berlaku
maka pada hari itu segala keluh-kesah dan penyesalannya tidak ada gunanya lagi bagi dia.
Sehubungan dengan kabar
gembira terhadap orang-orang yang berdosa tersebut dalam
Surah lainnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذَا جَآءَکَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ
بِاٰیٰتِنَا فَقُلۡ سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ
کَتَبَ رَبُّکُمۡ عَلٰی نَفۡسِہِ الرَّحۡمَۃَ
ۙ اَنَّہٗ مَنۡ عَمِلَ
مِنۡکُمۡ سُوۡٓءًۢ ابِجَہَالَۃٍ
ثُمَّ تَابَ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ وَ
اَصۡلَحَ فَاَنَّہٗ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لِتَسۡتَبِیۡنَ سَبِیۡلُ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan apabila
datang kepada engkau orang-orang yang
beriman kepada Tanda-tanda Kami فَقُلۡ سَلٰمٌ
عَلَیۡکُمۡ -- maka katakanlah: “Selamat sejahtera atas kamu,
کَتَبَ
رَبُّکُمۡ عَلٰی نَفۡسِہِ الرَّحۡمَۃَ -- Rabb
(Tuhan) kamu telah menetapkan atas
diri-Nya memberi rahmat,
اَنَّہٗ
مَنۡ عَمِلَ مِنۡکُمۡ سُوۡٓءًۢ ابِجَہَالَۃٍ ثُمَّ تَابَ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
وَ اَصۡلَحَ فَاَنَّہٗ
غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- bahwa
sesungguhnya barangsiapa di antara kamu berbuat keburukan karena kejahilan lalu ia
bertaubat sesudah itu dan memperbaiki
diri maka sesungguhnya Dia Maha
Pengampun, Maha Penyayang.” وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لِتَسۡتَبِیۡنَ سَبِیۡلُ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Dan
demikianlah Kami berulang-ulang
menerangkan Tanda-tan-da, dan supaya
jalan orang-orang yang bersalah menjadi
jelas. (Al-An’ām [6]:55).
Dalam
Surah berikut ini dijelaskan, bahwa walau pun Allah Swt. adalah Dzuntiqam
(Penuntut balas) bagi orang-orang berdosa
(QS.3:5; QS.5:96; QS.7:135-137;
QS.14:48; QS.15:79-80; QS.30:48;
QS.39:38; QS.43:26 & 56), tetapi rahmat-Nya
(kasih-sayang-Nya) senantiasa mengatasi kemurkaan-Nya
(QS.7:157-158; QS.40:8), karena itu pintu taubat kepada-Nya senantasa
terbuka sehingga tidak ada alasan bagi
manusia untuk berputus-asa dari rahmat Allah Swt. (QS.12:84-87; QS.15:52-57; QS.18:58-60; QS.39:54).
Hanya Iblis dan Para Pengikutnya yang Putus-asa
dari Rahmat Ilahi
Hanya iblis
dan para pengikutnya sajalah yang berputus-asa dari rahmat Allah Swt. karena ia
bersikap takabbur terhadap Adam (Khalifah Allah/rasul Allah-
QS.7:12-13; QS.15:33-34; QS.38:76-77), karena itu walau pun di masa-masa awal penentangan mereka
terhadap para rasul Allah seolah-olah
akan berhasil, tetapi pada akhirnya – sesuai dengan arti kata iblis
(ablasa = putus asa) -- mereka itu benar-benar menjadi golongan mublisūn
(mublisīn -- orang-orang yang berputus-asa), karena rahmat
Allah Swt. tidak menyertai mereka
(QS.6:43-45; QS.23:72-78) melainkan menyertai
para rasul Allah dan orang-orang beriman yang bersama mereka
(QS.5:55-57; QS.14:47-48; QS.37:172-144;
QS.58:21-23), berikut firman-Nya mengenai kisah monumental “Adam, malaikat dan Iblis”:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ
فِی الۡاَرۡضِ
خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ
فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ
الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ
نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا
لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ عَلَّمَ اٰدَمَ
الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ
اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ
لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ
اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ
اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ ﴿۳۳﴾ وَ اِذۡ
قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫
وَ کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman
kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah
di bu-mi”, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan
mem-buat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal
kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan
kami senantiasa men-sucikan Engkau?”
Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama itu semuanya
kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat lalu Dia
berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku
nama-nama mereka ini jika kamu
memang benar.” Mereka
berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak
memiliki pe-ngetahuan kecuali
apa yang telah Engkau ajarkan kepada
kami, sesungguhnya Engkau
benar-benar Ma-ha Mengetahui, Mahabijaksana.”
Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka
tatkala diberitahukannya kepada mereka
nama-nama mereka itu, Dia berfirman: “Bu-kankah
telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia seluruh langit dan bumi dan mengetahui
apa pun yang kamu nyatakan dan apa
pun yang kamu sembunyikan?” وَ اِذۡ قُلۡنَا
لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ -- Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni
tunduk-patuhlah kamu kepada Adam” فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ -- lalu mereka sujud ke-cuali iblis,
اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ
کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَبٰی وَ -- ia menolak
dan takabur, dan ia
termasuk dari antara orang-orang
yang kafir. (Al-Baqarah [2]:31-35).
Kata iblis berasal dari ablasa,
yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang Allah Swt. (3) telah patah
semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia
tertahan dari mencapai harapannya.
Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan
tapi banyak kejahatan, dan disebabkan
oleh rasa putus asa akan kasih-sayang (rahmat) Allah Swt. oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 19 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar