Selasa, 18 Agustus 2015

Hubungan "Rahmat Ilahi" dengan "Rahmaaniyyat" dan "Rahiimiyyat" Allah Swt. & Kabar Gembira Bagi Orang-orang Berdosa Mengenai Rahmat Ilahi


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 11

 Hubungan  Rahmat Ilahi  dengan   Rahmāniyyat dan Rahīmiyyat Allah Swt. & Kabar Gembira Bagi Orang-orang Berdosa Mengenai Rahmat Ilahi

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai kata  rahmat  yang  berkaitan erat dengan  kata rahmān dan rahīm  karena memiliki  akar kata yang sama yaitu rahm,  salah satu maknanya adalah kasih-sayang, dimana  rahmat (kasih-sayang) Allah Swt. bahkan mengatasi kemurkaan-Nya (QS.7:157), sebagaimana dikatakan para pemikul ‘Arasy Ilahi sebelum ini firman-Nya: رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ  --  “Wahai Rabb (Tuhan) kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam (Al-Mu’mīn [40]:8).
        Karena itu mengenai Sifat Ar-Rahmān, Allah Swt.  telah memerintahkan   dalam Al-Quran untuk menyebut  Sifat-Nya selain sebutan ALLAH  -- yang merupakan nama Dzat-Nya   --  sebab Sifat Ar-Rahmān Allah Swt. meliputi Sifat-sifat-Nya yang lainnya firman-Nya:
قُلِ ادۡعُوا اللّٰہَ  اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ  الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ  بَیۡنَ  ذٰلِکَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah), اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ  الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی --dengan nama apa saja kamu berseru kepada Dia     milik-Nya semua nama yang terbaik.”   Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras  dan jangan pula kamu mengucapkannya terlalu lemah  tetapi carilah jalan di antara itu. (Bani Israil [17]:111).

Hubungan Rahmat Ilahi dengan Sifat  Rahmāniyyat dan Rahīmiyyat Allah Swt.

        Sehubungan hubungan khusus  rahmat Ilahi  dengan Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penyayang), Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai   rahmat-Nya kepada Nabi Zakaria a.s.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  ﴿﴾  کٓہٰیٰعٓصٓ ۟﴿ۚ﴾ ذِکۡرُ  رَحۡمَتِ  رَبِّکَ  عَبۡدَہٗ   زَکَرِیَّا  ۖ﴿ۚ﴾ اِذۡ  نَادٰی  رَبَّہٗ  نِدَآءً  خَفِیًّا ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ وَہَنَ الۡعَظۡمُ مِنِّیۡ وَ اشۡتَعَلَ الرَّاۡسُ شَیۡبًا وَّ لَمۡ  اَکُنۡۢ بِدُعَآئِکَ  رَبِّ  شَقِیًّا ﴿﴾  وَ اِنِّیۡ خِفۡتُ الۡمَوَالِیَ مِنۡ وَّرَآءِیۡ وَ کَانَتِ  امۡرَاَتِیۡ عَاقِرًا فَہَبۡ لِیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ  وَلِیًّا  ۙ﴿﴾  یَّرِثُنِیۡ وَ یَرِثُ مِنۡ اٰلِ یَعۡقُوۡبَ ٭ۖ وَ اجۡعَلۡہُ   رَبِّ  رَضِیًّا ﴿﴾  یٰزَکَرِیَّاۤ  اِنَّا نُبَشِّرُکَ بِغُلٰمِۣ اسۡمُہٗ یَحۡیٰی ۙ لَمۡ  نَجۡعَلۡ  لَّہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ  سَمِیًّا ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اَنّٰی یَکُوۡنُ لِیۡ غُلٰمٌ وَّ کَانَتِ امۡرَاَتِیۡ  عَاقِرًا  وَّ  قَدۡ  بَلَغۡتُ مِنَ  الۡکِبَرِ  عِتِیًّا ﴿﴾  قَالَ  کَذٰلِکَ ۚ قَالَ رَبُّکَ ہُوَ  عَلَیَّ ہَیِّنٌ  وَّ قَدۡ خَلَقۡتُکَ مِنۡ قَبۡلُ وَ لَمۡ  تَکُ شَیۡئًا ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اجۡعَلۡ  لِّیۡۤ   اٰیَۃً ؕ قَالَ اٰیَتُکَ اَلَّا تُکَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَ لَیَالٍ سَوِیًّا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  کٓہٰیٰعٓصٓ   -- Engkau Maha Mencukupi, Maha Pemberi Petunjuk, ya Allah, Yang Maha Mengetahui, Maha Benarذِکۡرُ  رَحۡمَتِ  رَبِّکَ  عَبۡدَہٗ   زَکَرِیَّا  --  Inilah penjelasan mengenai rahmat Rabb (Tuhan) engkau kepada hamba-Nya Zakaria,   ketika ia berseru kepada Rabb-nya (Tuhan-nya), dengan seruan  yang lembut.  Ia berkata: "Ya, Rabb-ku (Tuhan-ku), seungguhnya  tulang-tulangku telah menjadi lemah, dan kepala telah dipenuhi uban, tetapi ya Rabb-ku (Tuhan-ku) aku tidak pernah  kecewa dalam berdoa kepada Engkau.  Dan sesungguhnya aku khawatir akan kaum-keluargaku  di belakangku, sedangkan  istriku mandul, maka  anugerahilah aku seorang penerus  dari sisi Engkau, yang akan menjadi pewarisku dan pewaris keturunan Ya'qub, dan  ya Rabb-ku (Tuhan-ku),   jadikanlah dia seorang yang diridhai." یٰزَکَرِیَّاۤ  اِنَّا نُبَشِّرُکَ بِغُلٰمِۣ اسۡمُہٗ یَحۡیٰی ٰ -- Allah berfirman: "Ya Zakaria,  Kami memberikan kabar gembira  kepada engkau mengenai seorang anak laki-laki namanya Yahya.  لَمۡ  نَجۡعَلۡ  لَّہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ  سَمِیًّا  -- Kami tidak pernah menyebut seorang pun sebelum dia  dengan nama itu.     Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), ba-gaimanakah akan menjadikan anak laki-laki bagiku, padahal istriku  mandul dan aku telah mencapai usia lanjut?” قَالَ  کَذٰلِکَ  -- Ia, malaikat  berkata:  "Demikianlah.  قَالَ رَبُّکَ ہُوَ  عَلَیَّ ہَیِّنٌ  وَّ قَدۡ خَلَقۡتُکَ مِنۡ قَبۡلُ وَ لَمۡ  تَکُ شَیۡئًا -- Rabb (Tuhan) engkau berfirman: "Itu mudah bagi-Ku, dan sungguh Aku telah menciptakan engkau sebelum ini, padahal engkau tadinya bukanlah sesuatu apa pun.”   Zakaria, berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), jadikanlah  bagiku suatu Tanda." Dia berfirman: "Tanda bagi engkau, bahwa engkau jangan bicara kepada manusia selama  tiga malam berturut-turut.   (Maryam [19]:1-11).

Rahmat Ilahi kepada Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Musa a.s.

       Kemudian mengenai pengenugerahan rahmat-Nya kepada Nabi Ibrahim a.s. Allah Swt.  berfirman:
فَلَمَّا اعۡتَزَلَہُمۡ وَ مَا یَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ۙ وَہَبۡنَا لَہٗۤ  اِسۡحٰقَ  وَ  یَعۡقُوۡبَ ؕ وَ کُلًّا  جَعَلۡنَا  نَبِیًّا ﴿﴾  وَ وَہَبۡنَا لَہُمۡ مِّنۡ رَّحۡمَتِنَا وَ جَعَلۡنَا لَہُمۡ  لِسَانَ  صِدۡقٍ  عَلِیًّا ﴿٪﴾
Maka tatkala ia (Ibrahim) telah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allahوَہَبۡنَا لَہٗۤ  اِسۡحٰقَ  وَ  یَعۡقُوۡبَ --   Kami  anugerahkan kepada­nya Ishaq dan Ya'qub  dan semua Kami  jadikan  nabi.  وَ وَہَبۡنَا لَہُمۡ مِّنۡ رَّحۡمَتِنَا وَ جَعَلۡنَا لَہُمۡ  لِسَانَ  صِدۡقٍ  عَلِیًّا  --  Dan Kami  anugerah­kan kepada mereka sebagian rahmat Kami, dan  Kami jadikan mereka buah tutur yang baik dan tinggi.  (Maryam [19]:50-51).
        Demikian pula pengabulan permintaan Nabi Musa a.s.  kepada Allah Swt. agar menjadikan saudaranya, Harun, sebagai rekan kerja dalam  melaksanakan  da’wah kepada Fir’aun merupakan rahmat Ilahi, firman-Nya:
وَ اذۡکُرۡ فِی الۡکِتٰبِ مُوۡسٰۤی ۫ اِنَّہٗ  کَانَ مُخۡلَصًا وَّ کَانَ رَسُوۡلًا  نَّبِیًّا ﴿﴾  وَ نَادَیۡنٰہُ مِنۡ جَانِبِ الطُّوۡرِ الۡاَیۡمَنِ  وَ قَرَّبۡنٰہُ  نَجِیًّا ﴿﴾  وَ وَہَبۡنَا لَہٗ  مِنۡ رَّحۡمَتِنَاۤ  اَخَاہُ ہٰرُوۡنَ نَبِیًّا ﴿﴾  
Dan ceriterakanlah kisah Musa di dalam Kitab Al-Quran,  sesungguhnya  ia seorang pilihan dan ia seorang rasul serta  seorang nabi.  Dan Kami memanggilnya dari  sebelah kanan gunung, dan Kami mendekatkannya untuk munajat. وَ وَہَبۡنَا لَہٗ  مِنۡ رَّحۡمَتِنَاۤ  اَخَاہُ ہٰرُوۡنَ نَبِیًّا --  Dan Kami menganugerahkan kepadanya dari rahmat Kami yakni  saudaranya, Harun, sebagai nabi. (Maryam [19]:52-54).
         Ketika  Nabi Harun a.s. tidak berhasil mencegah Bani Israil     agar mereka tidak  menyembah patung anak sapi buatan Samiri karena kedegilan mereka, sehingga   Nabi Musa a.s. sempat bersikap keras terhadap  Nabi Harun a.s. (QS.7:149-151; QS.20:84-99), selanjutnya Nabi Musa a.s. berdoa  memohon ampunan-Nya dan rahmat-Nya kepada Allah Swt., firman-Nya:
وَ اتَّخَذَ قَوۡمُ  مُوۡسٰی مِنۡۢ بَعۡدِہٖ مِنۡ حُلِیِّہِمۡ عِجۡلًا جَسَدًا لَّہٗ خُوَارٌ ؕ اَلَمۡ یَرَوۡا اَنَّہٗ  لَا یُکَلِّمُہُمۡ وَ لَا یَہۡدِیۡہِمۡ سَبِیۡلًا ۘ اِتَّخَذُوۡہُ   وَ کَانُوۡا ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا سُقِطَ فِیۡۤ  اَیۡدِیۡہِمۡ وَ رَاَوۡا اَنَّہُمۡ قَدۡ ضَلُّوۡا ۙ قَالُوۡا لَئِنۡ لَّمۡ  یَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا وَ یَغۡفِرۡ لَنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا رَجَعَ مُوۡسٰۤی اِلٰی قَوۡمِہٖ غَضۡبَانَ اَسِفًا ۙ قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُوۡنِیۡ  مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ۚ اَعَجِلۡتُمۡ اَمۡرَ رَبِّکُمۡ ۚ وَ اَلۡقَی الۡاَلۡوَاحَ وَ اَخَذَ بِرَاۡسِ اَخِیۡہِ یَجُرُّہٗۤ اِلَیۡہِ ؕ قَالَ ابۡنَ اُمَّ  اِنَّ  الۡقَوۡمَ اسۡتَضۡعَفُوۡنِیۡ  وَ کَادُوۡا یَقۡتُلُوۡنَنِیۡ ۫ۖ فَلَا تُشۡمِتۡ بِیَ الۡاَعۡدَآءَ وَ لَا تَجۡعَلۡنِیۡ مَعَ  الۡقَوۡمِ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اغۡفِرۡ لِیۡ وَ لِاَخِیۡ وَ اَدۡخِلۡنَا فِیۡ رَحۡمَتِکَ ۫ۖ وَ اَنۡتَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ ﴿ ﴾٪
Dan sepeninggalnya    kaum Musa telah membuat patung anak sapi dari barang-barang perhiasan mereka, jasad  yang hanya  bersuara.  Apakah mereka tidak pernah   memperhatikan bahwa patung itu tidak dapat berkata-kata  dengan mereka dan tidak pula memberi mereka petunjuk kepada suatu jalan? Mereka menjadikannya sebagai sembahan dan mereka adalah orang-orang zalim.   Dan  tatkala mereka menyesal serta melihat bahwa mereka sungguh telah sesat,  قَالُوۡا لَئِنۡ لَّمۡ  یَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا وَ یَغۡفِرۡ لَنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ -- mereka berkata:    “Seandainya Rabb (Tuhan) kami tidak benar-benar یَرۡحَمۡنَا  --  mengasihani kami, dan tidak mengampuni kami, niscaya  kami  termasuk orang-orang yang  rugi.”   Dan tatkala Musa  kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih, ia berkata:  “Sangat  buruk  apa yang kamu kerjakan sebagai wakilku sepeninggalku. Apakah kamu hendak mendahului perintah Rabb (Tuhan) kamu?” وَ اَلۡقَی الۡاَلۡوَاحَ وَ اَخَذَ بِرَاۡسِ اَخِیۡہِ یَجُرُّہٗۤ اِلَیۡہِ  -- Lalu ia meletakkan lempeng-lempeng batu tulis itu dan merenggut kepala saudaranya seraya menariknya kepadanya. قَالَ ابۡنَ اُمَّ  اِنَّ  الۡقَوۡمَ اسۡتَضۡعَفُوۡنِیۡ  وَ کَادُوۡا یَقۡتُلُوۡنَنِیۡ --   Harun berkata: “Hai anak ibuku,  sesungguhnya kaum ini memandang aku lemah dan mereka hampir  membunuhku, فَلَا تُشۡمِتۡ بِیَ الۡاَعۡدَآءَ وَ لَا تَجۡعَلۡنِیۡ مَعَ  الۡقَوۡمِ  الظّٰلِمِیۡنَ --  maka  janganlah engkau membiarkan musuh-musuhku mengejekku dan janganlah engkau menganggapku termasuk kaum yang zalim.” قَالَ رَبِّ اغۡفِرۡ لِیۡ وَ لِاَخِیۡ وَ اَدۡخِلۡنَا فِیۡ رَحۡمَتِکَ   --  Musa berkata:  “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), ampunilah aku dan juga untuk saudaraku, وَ اَدۡخِلۡنَا فِیۡ رَحۡمَتِکَ --  dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau,  وَ اَنۡتَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ -- karena Engkau Maha Penyayang di antara semua pe-nyayang.”   (Al-A’rāf [7]:149-152).

Kabar Gembira Bagi Orang-orang yang Berdosa Tentang Rahmat Allah Swt.

     Pendek kata, rahmat Ilahi. sangat erat dengan Sifat Rahmāniyyat (Maha Pemurah) dan Rahīmiyyat  (Maha Penyayang) Allah Swt., sehingga tidak ada alasan bagi manusia  -- bagaimana pun telah berdosanya mereka  -- untuk berputus-asa dari rahmat-Nya  yang sangat luas karena Allah Swt. adalah Tuhan Yang  Maha Pengampun dan Maha Penyayang,  sehingga tidak memerlukan “penebusan dosa” dari siapa pun,  sebagaimana firman-Nya kepada  Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri  mereka sendiri,  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ  -- janganlah kamu berputus asa  dari rahmat Allah. اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا  -- Sesungguhnya Allah mengampuni semua  dosa. اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ  -- Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Az-Zumar [39]:54).
   Ayat ini memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati serta melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
    Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah  Swt. (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih besar daripada itu  bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul.  
   Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya menindak-lanjuti  taubat yang telah dilakukan, yaitu  dengan mengikuti  petunjuk Al-Quran sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اَنۡ تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ  لَکُنۡتُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً  فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾  بَلٰی قَدۡ جَآءَتۡکَ اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ اسۡتَکۡبَرۡتَ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  تَرَی الَّذِیۡنَ کَذَبُوۡا عَلَی اللّٰہِ  وُجُوۡہُہُمۡ  مُّسۡوَدَّۃٌ ؕ اَلَیۡسَ فِیۡ  جَہَنَّمَ مَثۡوًی  لِّلۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Dan kembalilah kepada  Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah  kepada-Nya sebelum azab datang kepada kamu kemudian kamu tidak akan ditolong.  Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu, sebelum datang kepadamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.   َنۡ تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ --  Supaya jangan ada orang yang mengatakan:  ”Wahai sangat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah, sedangkan aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olok rasul-Nya.”  اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ  لَکُنۡتُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ  --   Atau  ia berkata: “Seandainya saja Allah memberi petunjuk kepada-ku, niscaya aku termasuk orang-orang yang bertakwa.”  اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ --   Atau ia berkata ketika ia melihat azab: لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً  فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ  -- “Seandainya bagiku ada kesempatan kembali lagi ke dunia, maka  aku akan termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” بَلٰی قَدۡ جَآءَتۡکَ اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ اسۡتَکۡبَرۡتَ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ --  Tidak, bahkan sungguh telah datang kepada engkau Tanda-tanda-Ku, tetapi engkau telah mendustakannya serta berlaku sombong dan eng-kau termasuk  orang-orang kafir.”  (Az-Zumar [39]:55-61).

Kasih-sayang Allah Swt. Mengatasi Kemurkaan-Nya

   Sementara dalam ayat sebelumnya (QS.39:54) Allah Swt.  memberikan kepada orang-orang berdosa  suatu  amanat harapan dan kabar gembira,  sedangkan ayat 55-56  memperingatkan mereka bahwa mereka akan harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi, dalam hal ini adalah agama Islam (Al-Quran) sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32 & 86; QS.33:22).  
    Kemudian ayat 57-61 Allah Swt. memperingatkan  mereka bahwa banyak kesempatan diberikan kepada manusia yang berkecimpung dalam kancah dosa untuk bertaubat dan mengadakan perubahan dalam dirinya. Tetapi jika penolakan kebenaran dilakukan dengan sengaja dan dengan berulang-ulang, dan bila ia melampaui batas yang sah dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bila hari perhitungan atas dia telah berlaku  maka pada hari itu segala keluh-kesah dan penyesalannya tidak ada gunanya lagi bagi dia.
       Sehubungan dengan   kabar gembira  terhadap orang-orang yang berdosa tersebut dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ  اِذَا جَآءَکَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِاٰیٰتِنَا فَقُلۡ سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ  کَتَبَ رَبُّکُمۡ عَلٰی نَفۡسِہِ  الرَّحۡمَۃَ ۙ اَنَّہٗ  مَنۡ  عَمِلَ  مِنۡکُمۡ سُوۡٓءًۢ ابِجَہَالَۃٍ  ثُمَّ تَابَ مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ  وَ  اَصۡلَحَ  فَاَنَّہٗ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾   وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لِتَسۡتَبِیۡنَ سَبِیۡلُ  الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan apabila datang kepada engkau orang-orang yang beriman kepada Tanda-tanda Kami فَقُلۡ سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ    -- maka katakanlah: “Selamat sejahtera  atas kamu, کَتَبَ رَبُّکُمۡ عَلٰی نَفۡسِہِ  الرَّحۡمَۃَ  --  Rabb (Tuhan) kamu  telah  menetapkan  atas  diri-Nya memberi rahmat,   اَنَّہٗ  مَنۡ  عَمِلَ  مِنۡکُمۡ سُوۡٓءًۢ ابِجَہَالَۃٍ  ثُمَّ تَابَ مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ  وَ  اَصۡلَحَ  فَاَنَّہٗ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ  -- bahwa sesungguhnya   barangsiapa  di antara kamu berbuat keburukan karena kejahilan  lalu ia bertaubat sesudah itu dan memperbaiki diri maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لِتَسۡتَبِیۡنَ سَبِیۡلُ  الۡمُجۡرِمِیۡنَ --   Dan demikianlah Kami berulang-ulang menerangkan  Tanda-tan-da, dan supaya jalan orang-orang yang bersalah menjadi jelas.  (Al-An’ām [6]:55).
       Dalam Surah berikut ini dijelaskan, bahwa walau pun Allah Swt.  adalah Dzuntiqam (Penuntut balas) bagi orang-orang berdosa (QS.3:5; QS.5:96; QS.7:135-137;  QS.14:48; QS.15:79-80;  QS.30:48; QS.39:38; QS.43:26 & 56), tetapi rahmat-Nya (kasih-sayang-Nya) senantiasa mengatasi kemurkaan-Nya (QS.7:157-158; QS.40:8),   karena itu pintu taubat kepada-Nya senantasa terbuka sehingga  tidak ada alasan bagi manusia untuk berputus-asa dari rahmat Allah Swt. (QS.12:84-87;  QS.15:52-57;  QS.18:58-60; QS.39:54).

Hanya Iblis dan Para Pengikutnya yang Putus-asa dari Rahmat Ilahi

         Hanya iblis dan para pengikutnya sajalah yang berputus-asa dari rahmat Allah Swt.  karena ia bersikap takabbur terhadap Adam (Khalifah Allah/rasul Allah- QS.7:12-13; QS.15:33-34; QS.38:76-77), karena itu walau pun di masa-masa awal penentangan mereka terhadap para rasul Allah seolah-olah akan berhasil, tetapi pada akhirnya – sesuai dengan arti  kata iblis (ablasa = putus asa)  -- mereka itu  benar-benar menjadi   golongan mublisūn  (mublisīn  -- orang-orang yang berputus-asa),  karena  rahmat Allah Swt. tidak menyertai mereka (QS.6:43-45;  QS.23:72-78) melainkan menyertai para rasul Allah dan orang-orang beriman yang bersama mereka (QS.5:55-57; QS.14:47-48;  QS.37:172-144; QS.58:21-23), berikut firman-Nya mengenai kisah monumental “Adam, malaikat dan Iblis”:
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ ﴿۳۳﴾ وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman  kepada para  malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang  khalifah di bu-mi”, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan mem-buat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa men-sucikan Engkau?” Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”   Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya  kemudian Dia mengemukakan mereka itu  kepada para malaikat lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar.”  Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak  memiliki  pe-ngetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Ma-ha Mengetahui, Mahabijaksana.”   Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah  kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu, Dia berfirman: “Bu-kankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui  rahasia seluruh langit dan bumi  dan mengetahui apa pun yang kamu nyatakan dan apa pun yang    kamu sembunyikan?”  وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ --   Dan ingatlah  ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah  yakni tunduk-patuhlah  kamu kepada  Adamفَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ -- lalu mereka sujud ke-cuali  iblis, اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَبٰی  وَ --   ia menolak dan takaburdan   ia  termasuk dari antara orang-orang yang  kafir. (Al-Baqarah [2]:31-35).
    Kata iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang Allah Swt. (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
       Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang (rahmat) Allah Swt.  oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 19 Agustus 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar