بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 8
Sifat Rububiyyat
Allah Swt. Dalam
Ayat “AlhamdulilLāh-
Rabbil- ‘Âlamīn” (Segala Puji Bagi
Allah Rabb/Tuhan Seluruh Alam) & Hubungannya dengan “The Big Bang”
(Ledakan Besar) Awal Penciptaan Alam Semesta
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna mama “Muhammad” (orang yang terpuji) serta penolakan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengenai “Trinitas”
dan “Penebusan dosa”, sebagai contoh
mengenai arti lain kata madah, yakni pujian yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya atau pujian palsu.
Jadi,
kembali kepada makna kata hamd dalam ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Fatihah [1]:2). Dalam bahasa Arab, al itu
lebih-kurang sama artinya dengan kata “the” dalam bahasa Inggeris. Kata al
dipergunakan untuk menunjukkan keluasan
yang berarti meliputi semua segi atau
jenis sesuatu pokok, atau untuk melukiskan kesempurnaan,
yang juga suatu segi keluasan, karena meliputi semua tingkat dan derajat. Al
dipakai juga untuk menyatakan sesuatu yang telah disebut atau suatu pengertian atau konsep yang ada dalam pikiran, jadi kata alhamdu artinya “segala puji”.
Contoh Madah (Pujian yang Tidak Layak
Dalam bahasa Arab, dua kata madah
dan hamd, dipakai dalam arti pujian
atau syukur, tetapi kalau madah mungkin palsu,
sedangkan hamd senantiasa benar.
Lagi pula, madah dapat dipakai mengenai perbuatan baik yang tidak dikuasai oleh pelakunya, tetapi hamd
hanya dipakai mengenai perbuatan yang
dilakukan dengan kerelaan hati dan
dengan kemauan sendiri (Al-Mufradat).
Contoh madah
adalah penghormatan berlebihan
orang-orang yang “mempertuhankan”
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunya
(Maryam binti ‘Imran), yang ditolak
oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ
وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ
تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata
kepada manusia: اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ
اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ -- Jadikanlah aku dan ibuku sebagai
dua tuhan selain Allah?"
قَالَ
سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ
اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ -- Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak
patut bagiku mengatakan apa yang
sekali-kali bukan hakku. اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ -- Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau
mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa
yang ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, رَبَّکُمۡ اَنِ اعۡبُدُوا
اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ -- yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku
menjadi saksi atas mereka selama aku
berada di antara mereka, tetapi tatkala Engkau
telah mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi
Pengawas atas mereka, dan Engkau
adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijak-sana” (Al-Maidah
[5]:117-118).
Jadi, dalam jawaban Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. tersebut terkandung penolakan
beliau terhadap faham dusta “Trinitas”
dan “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk beliau di tiang salib yang dipercayai oleh
orang-orang yang berlebihan
(melampaui batas) dalam memuji atau menghormati beliau dan ibunya.
Allah
Swt. telah menakdirkan bahwa Rasul Allah
pembawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) bernama Muhammad
artinya “orang yang terpuji”, berasal
dari akar kata hamd, bukan madah.
Jadi, sebagaimana halnya dengan Nabi
Yahya a.s., kalau sebelum Nabi Besar Muhammad saw. dilahirkan ada pula
orang-orang lain yang menggunakan
nama Muhammad -- atau nama lain yang searti
dengan nama Muhammad -- sebabnya adalah karena nubuatan
mengenai kelahiran dan pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. telah diketahui
secara umum, bagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri (QS.2:147;
QS.6:21), sehingga mungkin saja di antara mereka ada yang menamakan anak-anak mereka dengan nama Muhammad atau nama lain
yang searti dengan nama itu, sesuai dengan harapan baik mereka.
Nama “Muhammad” Dalam Dua Kalimah
Syahadat & Makna Sifat Rububiyyat
Oleh karena itu sehubungan dengan arti kalimat Alhamd (segala puji)
dalam ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam”, penyandingan nama Muhammad dengan nama Allah dalam 2
Kalimah Syahadat -- yakni Rukun
Islam yang pertama -- sangat tepat serta penuh hikmah:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada
Tuhan kecuali Allah dan
aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah Rasul Allah”.
Dalam ayat-ayat Al-Quran sebelumnya
telah dikemukakan
kelahiran Maryam binti
Imran, kelahiran Nabi Yahya a.s. dan
kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
Dalam ayat-ayat tersebut sebutan mengenai Allah
Swt. banyak digunakan kata Rabb.
Kata kerja rabba dalam ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --
Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Fatihah [1]:2), berarti: ia
mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan
melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti:
(a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang
menciptakan);
(b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan;
(c) Wujud Yang menyempurnakan, dengan
cara setingkat demi setingkat (Al-Mufradat
dan Lexicon Lane).
Jadi, penyebutan Tuhan dengan menggunakan kata Rabb
dalam ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --
Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Fatihah [1]:2), mengisyaratkan bahwa
proses penciptaan alam semesta
beserta segala isinya – termasuk penciptaan manusia
(QS.22:6; QS.23:13-15; Qs.7:170-173; QS.32:15;
QS.46:16) – adalah melalui proses
rangkaian sebab-akibat yang berkesinambungan, sesuai dengan makna Sifat Rububiyyat Allah Swt. tersebut, -- tidak dengan cara “Kun! Fayakun” (Jadilah!
Maka terjadilah) yang disalah-tafsirkan, seperti halnya yang
dilakukan tukang sulap, yakni
terjadi seketika itu juga.
Pernyataan Al-Quran
Mengenai Peristiwa “The Big Bang”
(Ledakan Besar)
Berikut
adalah firman-Nya mengenai proses
awal penciptaan tatanan alam semesta
yang dikenal dengan istilah “the Big Bang”
(Ledakan Besar):
اَوَ
لَمۡ یَرَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا
اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ وَ جَعَلۡنَا فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ اَنۡ تَمِیۡدَ بِہِمۡ ۪ وَ جَعَلۡنَا فِیۡہَا
فِجَاجًا سُبُلًا لَّعَلَّہُمۡ یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَ جَعَلۡنَا
السَّمَآءَ سَقۡفًا مَّحۡفُوۡظًا ۚۖ وَّ ہُمۡ
عَنۡ اٰیٰتِہَا مُعۡرِضُوۡنَ ﴿﴾ وَ ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ وَ
الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ فِیۡ
فَلَکٍ یَّسۡبَحُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah orang-orang yang kafir melihat
bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu lalu Kami pisahkan keduanya? Dan Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup dari air.
Tidakkah mereka mau
beriman? Dan
telah Kami jadikan di bumi
gunung-gunung yang kokoh supaya bumi jangan bergoncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan di dalamnya jalan-jalan yang luas supaya mereka mendapat petunjuk. Dan telah
Kami jadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka
berpaling dari Tanda-tanda-Nya. Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam
dan siang serta dan matahari dan bulan, masing-masing
beredar pada garis peredarannya (Al-Anbiya [21]:31-34).
Ayat 31 ini mengisyaratkan landasan agung kepada satu kebenaran ilmiah. Agaknya ayat itu menunjuk kepada
alam semesta ketika masih belum mempunyai bentuk benda, dan ayat itu bermaksud menyatakan bahwa seluruh alam semesta
khususnya tata surya, telah berkembang dari gumpalan
(ratqan) yang belum mempunyai bentuk atau segumpal
kabut (gas/dukhan.
Kemudian selaras dengan asas yang Allah Swt. lancarkan – sesuai dengan Sifat Rububiyat-Nya -- Dia
memecahkan gumpalan zat itu فَفَتَقۡنٰہُمَا -- “lalu
Kami pisahkan keduanya” dan pecahan-pecahan yang cerai-berai secara berangsur-angsur menjadi
kesatuan-kesatuan wujud tata-surya (“The Universe Surveyed” oleh Harold Richards dan “The Nature of the Universe” oleh Fred Hoyle). Sesudah itu
Allah Swt. menciptakan
seluruh kehidupan itu dari air.
“The Big Bang” (Ledakan
Besar)
Dari segi keruhanian ayat 31 ini
nampaknya mengandung arti, bahwa seperti alam
kebendaan, demikian pula alam
keruhanian pun berkembang dari gumpalan
(Ratqan) yang belum mempunyai bentuk, yang terdiri dari alam pikiran yang kacau-balau dan kepercayaan-kepercayaan
yang bukan-bukan.
Kemudian sebagaimana Allah Swt. dengan hikmah-Nya yang tidak pernah meleset dan sesuai dengan rencana agung telah memecahkan gumpalan zat
itu, فَفَتَقۡنٰہُمَا -- “lalu Kami
pisahkan keduanya”, dan pecahan-pecahan
yang bertebaran menjadi kesatuan wujud
berbagai tata surya, maka persis seperti itu pula Dia mewujudkan
suatu tertib ruhani yang baru (QS.14:49-53)
dalam suatu alam yang berguling-gantang
di dalam paya-paya cita-cita yang kacau-balau.
Bila umat manusia tenggelam ke dalam kegelapan akhlak yang keruh serta angkasa keruhanian menjadi tersaput oleh awan yang padat dan sesak, Allāh Swt.
menyebabkan munculnya suatu cahaya berupa seorang utusan Ilahi
yang mengusir kegelapan ruhani yang
telah menyebar luas itu, dan dari gumpalan yang tidak berbentuk dan tanpa
kehidupan, yang berupa kerendahan akhlak
dan ruhani, lahirlah suatu alam semesta ruhani yang mulai meluas dari pusatnya dan akhirnya melingkupi seluruh
bumi, menerima kehidupan dan pengarahan, dari tenaga penggerak yang berada di belakangnya (QS.14:49).
Ungkapan
an tamīda bihim dalam ayat 32 berarti: (1) jangan-jangan bumi ikut goncang dengan
mereka; (2) ikut berputar dengan mereka;
(3) menjadi sumber kemanfaatan bagi mereka; mada berarti pula ia
memberikan faedah (Al-Aqrab-ul-Mawarid).
Ayat
ini pernyataan suatu kebenaran ilmu
pengetahuan yang lain lagi. Ilmu penyelidikan tanah (geologi) telah
membuktikan bahwa gunung-gunung
sampai batas tertentu melindungi bumi
terhadap gempa-gempa bumi. Pada
permulaannya bagian dalam bumi sangat panas
yang disebut magma.
Ketika — sebagai akibat panas
yang sangat itu — terbentuk gas-gas
di pusat bumi, gas-gas itu memaksa
mencari jalan keluar, dan dengan demikian menyebabkan goncangan-goncangan dan letupan-letupan
keras lalu terwujudlah kawah-kawah, yang sesudah menjadi dingin mengambil
bentuk gunung-gunung (“Marvels and
Mysteries of Science” oleh Allison Hax; dan Encyclopaedia Britannica,
pada kata “Geology”).
Ayat 32 ini pun dapat pula
berarti, bahwa gunung-gunung
merupakan bantuan besar kepada bumi dalam geraknya
yang teratur dan mantap sekeliling porosnya.
Al-Quran menyebut bumi “berputar”
lama sebelum orang mengetahui bahwa bumi tidak diam, melainkan bergerak pada porosnya dan juga mengelilingi matahari.
Ruhani Langit Berperan Sebagai “Atap” bagi Bumi
Ayat 33
Tata surya dengan matahari, bulan, planit-planit, dan
bintang-bintangnya merupakan satu sistem
yang sangat rapih dan teratur, dan telah berwujud semenjak
berjuta-juta tahun, dan tidak pernah mengalami ketidakberesan satu kali pun dan
penyimpangan sedikit pun dalam gerak benda-benda langit itu.
Benda-benda langit memberikan pengaruh
yang sangat baik terhadap bulatan bumi
dan terhadap para penghuninya. Sebagaimana sebuah atap merupakan alat pelindung dari hujan, hawa dingin, dan panas,
bagi seluruh penghuni suatu rumah, seperti itu pula langit berperan sebagai
pelindung bagi bumi yang ada di bawahnya, dan benda-benda langit memberikan
pengaruh yang berfaedah terhadap umat manusia, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ
اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمُ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ
لَعَلَّکُمۡ تَتَّقُوۡنَ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡ
جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ فِرَاشًا وَّ السَّمَآءَ بِنَآءً ۪ وَّ اَنۡزَلَ مِنَ
السَّمَآءِ
مَآءً فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا لَّکُمۡ ۚ
فَلَا تَجۡعَلُوۡا لِلّٰہِ اَنۡدَادًا وَّ اَنۡتُمۡ
تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Hai manusia, sembahlah
Rabb
(Tuhan) kamu Yang telah menciptakan kamu
dan juga orang-orang sebelummu
supaya kamu bertakwa. الَّذِیۡ جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ
فِرَاشًا وَّ السَّمَآءَ بِنَآءً -- Dia-lah Yang menjadikanbagi kamu bumi
sebagai hamparan, dan langit
sebagai bangunan, وَّ اَنۡزَلَ مِنَ
السَّمَآءِ مَآءً
فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا لَّکُمۡ -- dan
Dia menurunkan air dari awan
lalu dengan itu Dia mengeluarkan buah-buahan sebagai rezeki bagi kamu, اَنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ فَلَا تَجۡعَلُوۡا لِلّٰہِ اَنۡدَادًا وَّ -- maka janganlah kamu menjadikan
sembahan-sembahan tandingan bagi Allah padahal kamu mengetahui (Al-Baqarah
[2]:22-23).
Ayat 22
mengandung perintah Allah Swt. yang pertama dalam Al-Quran. Seperti
kata-kata itu sendiri menunjukkan, perintah
itu ditujukan kepada seluruh umat manusia
dan bukan untuk orang-orang Arab
saja, hal mana menegaskan bahwa Islam
dari awal mula mendakwakan diri sebagai agama
universal. Islam menghapuskan paham agama-nasional
dan memandang umat manusia sebagai
satu ikatan persaudaraan.
Ungkapan dalam ayat selanjutnya الَّذِیۡ جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ
فِرَاشًا وَّ السَّمَآءَ بِنَآءً -- Dia-lah Yang menjadikanbagi kamu bumi
sebagai hamparan,” mengisyaratkan bahwa persis seperti suatu bangunan atau atap merupakan sarana keselamatan
untuk mereka yang tinggal di dalam atau di bawahnya, demikian pula
bagian-bagian dari alam semesta yang jauh itu berperan sebagai sarana keselamatan
bagi planit kita (bumi).
Mereka yang telah mempelajari ilmu
perbintangan, awan, dan gejala-gejala atmosfir lainnya
mengetahui bagaimana benda-benda langit
lainnya menempuh jalan peredaran (orbit) mereka melalui ruang tanpa batas, jauh
tinggi di atas bumi di semua jurusan
memberi keamanan dan kekokohan kepada
bumi. Pula diisyaratkan di sini bahwa penyempurnaan
alam kebendaan itu tergantung dari koordinasi,
antara kekuatan-kekuatan bumi dan langit.
Penggunaan Kata Rabb Sehubungan dengan Manusia
Demikianlah hubungan makna kata rabba dalam hubungannya dengan proses hukum sebab-akibat
berkesinambungan mengenai penciptaan
tatanan alam semesta jasmani. Jika
dipakai dalam rangkaian dengan kata
lain, kata rabba itu dapat dipakai
untuk orang atau wujud selain Allah
Swt., contohnya Nabi Yusuf a.s. telah menyebut
rabb kepada raja
Mesir, yang memerintahkan orang yang pernah dipenjara bersama beliau untuk membawa keluar beliau dari dalam penjara, setelah raja itu mendengar arti mimpinya
yang diterangkan oleh Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّا
جَآءَہُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ اِلٰی
رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ
الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ
﴿﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia
kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepadanya, قَالَ ارۡجِعۡ اِلٰی رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ
النِّسۡوَۃِ الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ
اَیۡدِیَہُنَّ -- ia,
Yusuf, berkata: “Kembalilah kepada rabb
(majikan) engkau dan tanyakanlah kepadanya, bagaimana
keadaan para perempuan yang telah
mengerat tangan mereka sendiri, اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ -- sesungguhnya
Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Mengetahui rencana tipu daya mereka” (Yusuf [12]:51).
Demikian juga Fir’aun Ramses II di zaman Nabi Musa a.s. yang dengan takabbur mengatakan kepada kaumnya
bahwa dirinya adalah rabb mereka, firman-Nya:
فَکَذَّبَ
وَ عَصٰی ﴿۫ۖ﴾ ثُمَّ
اَدۡبَرَ یَسۡعٰی ﴿۫ۖ﴾ فَحَشَرَ فَنَادٰی ﴿۫ۖ﴾ فَقَالَ
اَنَا رَبُّکُمُ الۡاَعۡلٰی ﴿۫ۖ﴾ فَاَخَذَہُ
اللّٰہُ نَکَالَ الۡاٰخِرَۃِ وَ الۡاُوۡلٰی ﴿ؕ﴾ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَعِبۡرَۃً لِّمَنۡ یَّخۡشٰی ﴿ؕ٪﴾
Tetapi ia (Fir’aun)
mendustakan dan mendurhakai, kemudian ia
berpaling seraya berusaha menantang,
maka
ia menghimpunkan kaumnya dan berseru,
فَقَالَ
اَنَا رَبُّکُمُ الۡاَعۡلٰی -- Lalu
berkata: “Akulah rabb ( tuhan) kamu yang paling tinggi.” Maka Allah
menyergapnya dengan siksaan di
akhirat dan di dunia. Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar ada pelajaran bagi orang yang takut. (An-Nāzi’āt [79]:22-27).
Apabila makna penyebutan diri Fir’aun
dalam arti bahwa dirinya adalah rabb
yakni Tuhan sembahan selain Allah
Swt. maka perkataannya itu benar-benar
merupakan ketakabburan, tetapi
jika yang dimaksudkannya adalah keberhasilan dirinya memanfaatkan
secara optimal SDA (Sumber Daya Alam)
dan SDM (Sumber Daya Manusia) maka
ucapan Fir’aun tersebut tidak salah, sebab pembangunan kerajaan
– berupa pendayagunaan SDA (sumber
daya alam) dan SDM (sumber daya manusia)
-- yang dilakukan para raja atau pemimpin negara dilakukan secara bertahap sesuai dengan Sifat Rububiyyat
Allah Swt. yang dilakukan sebagaimana firman-Nya:
وَ نَادٰی
فِرۡعَوۡنُ فِیۡ قَوۡمِہٖ قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ
ہٰذِہِ الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ
مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ
یُبِیۡنُ ﴿﴾ فَلَوۡ لَاۤ اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ اَسۡوِرَۃٌ
مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ مَعَہُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ مُقۡتَرِنِیۡنَ ﴿﴾ فَاسۡتَخَفَّ قَوۡمَہٗ فَاَطَاعُوۡہُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا قَوۡمًا
فٰسِقِیۡنَ ﴿﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya
dengan berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah kamu tidak melihat? Atau tidakkah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan ia
tidak dapat menjelaskan? Mengapakah tidak dianugerahkan kepadanya gelang-gelang dari emas, atau datang bersamanya malaikat-malaikat yang berkumpul
di sekelilingnya?" Demikianlah ia (Fir’aun) memperbodoh
kaumnya lalu mereka patuh kepadanya,
sesungguhnya mereka adalah kaum durhaka. (Az-Zukhruf [43]:52-55).
Keberhasilan
Dinasti Fir’aun di Mesir membangun kerajaan Mesir tidak dilakukan secara tiba-tiba atau dalam waktu yang singkat, melainkan memakan waktu yang lama, dan proses pembangunan secara
bertahap dan berkesinambungan tersebut sesuai dengan
makna kata rabba dalam dalam ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Fatihah [1]:2).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 15 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar