Jumat, 14 Agustus 2015

Sifat Rububiyyat Allah Swt. dalam Ayat "AlhamdulilLaahir-Rabbil-Aalamiin" (Segala Puji bagi Allah Rabb/Tuhan Seluruh Alam & Hubungannya dengan "The BIg Bang" (Ledakan Besar) Awal Penciptaan Alam Semesta


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 8  

Sifat Rububiyyat  Allah Swt. Dalam  Ayat   “AlhamdulilLāh- Rabbil- ‘Âlamīn (Segala Puji Bagi Allah Rabb/Tuhan Seluruh Alam)   & Hubungannya dengan “The Big Bang” (Ledakan Besar)   Awal Penciptaan Alam Semesta

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna mama “Muhammad” (orang yang terpuji)  serta penolakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengenai “Trinitas” dan “Penebusan dosa”,  sebagai contoh  mengenai arti lain  kata madah, yakni pujian yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya atau pujian palsu.
       Jadi,  kembali kepada makna kata hamd  dalam ayat   اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam  (Al-Fatihah  [1]:2).   Dalam bahasa Arab, al itu lebih-kurang sama artinya dengan kata  “the” dalam bahasa Inggeris. Kata al dipergunakan untuk menunjukkan keluasan yang berarti meliputi semua segi atau jenis sesuatu pokok, atau untuk melukiskan kesempurnaan, yang juga suatu segi keluasan,   karena meliputi semua tingkat dan derajat. Al dipakai juga untuk menyatakan sesuatu yang telah disebut atau suatu pengertian atau konsep yang ada dalam pikiran, jadi kata alhamdu  artinya “segala puji”.

Contoh Madah  (Pujian yang Tidak Layak

       Dalam bahasa Arab, dua kata madah dan hamd, dipakai dalam arti pujian atau syukur, tetapi kalau madah  mungkin palsu, sedangkan hamd senantiasa benar. Lagi pula, madah dapat dipakai mengenai perbuatan baik yang tidak dikuasai oleh pelakunya, tetapi hamd hanya dipakai mengenai perbuatan yang dilakukan dengan kerelaan hati dan dengan kemauan sendiri (Al-Mufradat).
    Contoh madah  adalah penghormatan berlebihan  orang-orang yang “mempertuhankan” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunya (Maryam binti ‘Imran), yang ditolak oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia:  اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  -- Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ  -- Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan  apa yang  sekali-kali  bukan hakkuاِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ  -- Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya.    Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.  Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, رَبَّکُمۡ  اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ --  yaitu:  Beribadahlah kepada Allah,  Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.”    Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijak-sana”    (Al-Maidah [5]:117-118).
        Jadi, dalam jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut terkandung penolakan beliau terhadap faham dusta “Trinitas” dan “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk beliau di tiang salib yang dipercayai oleh orang-orang yang berlebihan (melampaui batas) dalam memuji atau menghormati beliau dan ibunya.
      Allah Swt. telah menakdirkan bahwa Rasul Allah pembawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) bernama Muhammad  artinyaorang yang terpuji”,   berasal dari akar kata hamd,  bukan madah. Jadi, sebagaimana halnya dengan Nabi Yahya a.s.,    kalau    sebelum Nabi Besar Muhammad saw.  dilahirkan  ada pula  orang-orang lain yang menggunakan  nama Muhammad -- atau nama lain  yang searti dengan nama Muhammad  --  sebabnya adalah    karena nubuatan mengenai kelahiran dan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. telah diketahui secara umum, bagaimana mereka  mengenal anak-anak mereka sendiri (QS.2:147; QS.6:21), sehingga mungkin saja di antara mereka ada yang menamakan anak-anak mereka dengan nama Muhammad atau nama lain yang searti dengan nama itu, sesuai dengan harapan baik mereka.

 Nama “Muhammad” Dalam Dua Kalimah Syahadat  & Makna Sifat Rububiyyat

       Oleh karena itu sehubungan dengan arti kalimat  Alhamd  (segala puji)  dalam ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam”,    penyandingan nama Muhammad dengan  nama Allah  dalam 2 Kalimah Syahadat   --   yakni  Rukun Islam yang  pertama   -- sangat tepat serta penuh hikmah:
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan
aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”.
       Dalam ayat-ayat Al-Quran sebelumnya telah   dikemukakan    kelahiran  Maryam binti Imran,  kelahiran Nabi Yahya a.s. dan kelahiran  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Dalam ayat-ayat tersebut sebutan  mengenai Allah Swt.   banyak digunakan kata Rabb.  
        Kata kerja rabba dalam ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam  (Al-Fatihah [1]:2), berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti:
      (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan);
      (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan;
   (c) Wujud Yang menyempurnakan, dengan cara setingkat demi setingkat (Al-Mufradat dan Lexicon Lane).
         Jadi, penyebutan Tuhan dengan menggunakan kata Rabb  dalam ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam  (Al-Fatihah [1]:2), mengisyaratkan bahwa proses penciptaan alam semesta beserta segala isinya – termasuk penciptaan manusia (QS.22:6; QS.23:13-15; Qs.7:170-173; QS.32:15;  QS.46:16) – adalah melalui proses rangkaian sebab-akibat  yang berkesinambungan, sesuai dengan  makna Sifat Rububiyyat Allah Swt. tersebut,  -- tidak dengan cara “Kun! Fayakun” (Jadilah! Maka terjadilah)  yang disalah-tafsirkan, seperti halnya yang dilakukan  tukang sulap, yakni terjadi seketika itu juga.

Pernyataan Al-Quran  Mengenai Peristiwa “The Big Bang” (Ledakan Besar)

        Berikut  adalah  firman-Nya mengenai proses awal penciptaan tatanan alam semesta yang dikenal dengan istilah “the Big Bang” (Ledakan Besar):
اَوَ لَمۡ  یَرَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا  اَنَّ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ  شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾  وَ جَعَلۡنَا فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ اَنۡ  تَمِیۡدَ بِہِمۡ ۪ وَ جَعَلۡنَا فِیۡہَا فِجَاجًا سُبُلًا   لَّعَلَّہُمۡ  یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  وَ  جَعَلۡنَا السَّمَآءَ سَقۡفًا مَّحۡفُوۡظًا ۚۖ وَّ ہُمۡ  عَنۡ  اٰیٰتِہَا مُعۡرِضُوۡنَ ﴿﴾  وَ ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ وَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ فِیۡ  فَلَکٍ یَّسۡبَحُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah orang-orang  yang kafir melihat bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu  lalu Kami pisahkan keduanya? Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Tidakkah  mereka   mau beriman?    Dan  telah Kami jadikan di bumi gunung-gunung yang kokoh supaya bumi jangan bergoncang  bersama mereka, dan telah Kami jadikan di dalamnya jalan-jalan yang luas supaya mereka mendapat petunjuk. Dan  telah Kami jadikan langit sebagai atap yang terpelihara,  namun mereka berpaling dari Tanda-tanda-Nya.    Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang serta dan matahari dan bulan,  masing-masing beredar pada garis peredarannya  (Al-Anbiya [21]:31-34).
      Ayat 31 ini mengisyaratkan landasan agung kepada satu kebenaran ilmiah. Agaknya ayat itu menunjuk kepada alam semesta  ketika masih belum mempunyai bentuk benda, dan ayat itu bermaksud menyatakan bahwa seluruh alam semesta khususnya tata surya, telah berkembang dari gumpalan (ratqan) yang belum mempunyai bentuk atau segumpal kabut (gas/dukhan.
        Kemudian selaras dengan asas yang Allah Swt.  lancarkan – sesuai dengan Sifat Rububiyat-Nya  --  Dia memecahkan gumpalan zat itu فَفَتَقۡنٰہُمَا  --  “lalu Kami pisahkan keduanya” dan pecahan-pecahan yang cerai-berai secara berangsur-angsur menjadi kesatuan-kesatuan wujud tata-surya (“The Universe Surveyed” oleh Harold   Richards dan “The Nature of the Universe” oleh Fred Hoyle). Sesudah itu Allah Swt.  menciptakan seluruh kehidupan itu dari air.

The Big Bang” (Ledakan Besar)

       Dari segi keruhanian ayat 31 ini nampaknya mengandung arti, bahwa seperti alam kebendaan, demikian pula alam keruhanian pun berkembang dari gumpalan (Ratqan) yang belum mempunyai bentuk, yang terdiri dari alam pikiran yang kacau-balau dan kepercayaan-kepercayaan yang bukan-bukan.
        Kemudian sebagaimana Allah Swt.  dengan hikmah-Nya yang tidak pernah meleset dan sesuai dengan rencana agung telah memecahkan gumpalan zat itu, فَفَتَقۡنٰہُمَا  --  “lalu Kami pisahkan keduanya”, dan pecahan-pecahan yang bertebaran menjadi kesatuan wujud berbagai tata surya, maka persis seperti itu pula Dia mewujudkan suatu tertib ruhani yang baru (QS.14:49-53) dalam suatu alam yang berguling-gantang di dalam paya-paya cita-cita yang kacau-balau.
      Bila umat manusia tenggelam ke dalam kegelapan akhlak yang keruh  serta angkasa keruhanian menjadi tersaput oleh awan yang padat dan sesak, Allāh Swt. menyebabkan munculnya suatu cahaya berupa seorang utusan Ilahi yang mengusir kegelapan ruhani yang telah menyebar luas itu, dan dari gumpalan yang tidak berbentuk dan tanpa kehidupan, yang berupa kerendahan akhlak dan ruhani, lahirlah suatu alam semesta ruhani yang mulai meluas dari pusatnya dan akhirnya melingkupi seluruh bumi, menerima kehidupan dan pengarahan, dari tenaga penggerak yang berada di belakangnya (QS.14:49).
      Ungkapan an tamīda bihim dalam ayat 32 berarti:  (1) jangan-jangan bumi ikut goncang dengan mereka; (2)  ikut berputar dengan mereka; (3) menjadi sumber kemanfaatan bagi mereka; mada berarti pula ia memberikan faedah (Al-Aqrab-ul-Mawarid).
      Ayat ini pernyataan suatu kebenaran ilmu pengetahuan yang lain lagi. Ilmu penyelidikan tanah (geologi) telah membuktikan bahwa gunung-gunung sampai batas tertentu melindungi bumi terhadap gempa-gempa bumi. Pada permulaannya bagian dalam bumi sangat panas  yang disebut magma.
  Ketika — sebagai akibat panas yang sangat itu — terbentuk gas-gas di pusat bumi, gas-gas itu memaksa mencari jalan keluar, dan dengan demikian menyebabkan goncangan-goncangan dan letupan-letupan keras lalu terwujudlah kawah-kawah, yang sesudah menjadi dingin mengambil bentuk gunung-gunung (“Marvels and Mysteries of Science” oleh Allison Hax; dan Encyclopaedia Britannica, pada kata “Geology”).
       Ayat 32 ini pun  dapat pula berarti, bahwa gunung-gunung merupakan bantuan besar kepada bumi dalam geraknya yang teratur dan mantap sekeliling porosnya. Al-Quran menyebut bumi “berputar” lama sebelum orang mengetahui bahwa bumi tidak diam, melainkan bergerak pada porosnya dan juga mengelilingi matahari.

Ruhani   Langit Berperan Sebagai “Atap” bagi Bumi

      Ayat 33  Tata surya   dengan matahari, bulan, planit-planit, dan bintang-bintangnya merupakan satu sistem yang sangat rapih dan teratur, dan telah berwujud semenjak berjuta-juta tahun, dan tidak pernah mengalami ketidakberesan satu kali pun dan penyimpangan sedikit pun dalam gerak benda-benda langit itu.
        Benda-benda langit memberikan pengaruh yang sangat baik terhadap bulatan bumi dan terhadap para penghuninya. Sebagaimana sebuah atap merupakan alat pelindung dari hujan, hawa dingin, dan panas, bagi seluruh penghuni suatu rumah, seperti itu pula langit berperan sebagai pelindung bagi bumi yang ada di bawahnya, dan benda-benda langit memberikan pengaruh yang berfaedah terhadap umat manusia, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمُ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَتَّقُوۡنَ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡ جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ فِرَاشًا وَّ السَّمَآءَ بِنَآءً ۪ وَّ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً  فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا لَّکُمۡ ۚ فَلَا تَجۡعَلُوۡا لِلّٰہِ اَنۡدَادًا وَّ اَنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Hai manusia,  sembahlah  Rabb (Tuhan) kamu Yang telah menciptakan kamu dan juga orang-orang sebelummu supaya kamu bertakwaالَّذِیۡ جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ فِرَاشًا وَّ السَّمَآءَ بِنَآءً  --  Dia-lah  Yang menjadikanbagi kamu bumi  sebagai hamparan,  dan langit sebagai  bangunan, وَّ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً  فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا لَّکُمۡ   --  dan  Dia menurunkan air dari awan lalu  dengan itu Dia mengeluarkan buah-buahan sebagai rezeki bagi kamu, اَنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ فَلَا تَجۡعَلُوۡا لِلّٰہِ اَنۡدَادًا وَّ -- maka janganlah kamu menjadikan sembahan-sembahan tandingan  bagi Allah padahal kamu mengetahui (Al-Baqarah [2]:22-23).
      Ayat 22   mengandung perintah  Allah Swt.  yang pertama dalam Al-Quran. Seperti kata-kata itu sendiri menunjukkan, perintah itu ditujukan kepada seluruh umat manusia dan bukan untuk orang-orang Arab saja, hal mana menegaskan bahwa Islam dari awal mula mendakwakan diri sebagai agama universal. Islam menghapuskan paham agama-nasional dan memandang umat manusia sebagai satu ikatan persaudaraan.
         Ungkapan dalam ayat selanjutnya  الَّذِیۡ جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ فِرَاشًا وَّ السَّمَآءَ بِنَآءً  --  Dia-lah Yang menjadikanbagi kamu bumi  sebagai hamparan,”  mengisyaratkan bahwa persis seperti suatu bangunan atau atap merupakan sarana keselamatan untuk mereka yang tinggal di dalam atau di bawahnya, demikian pula bagian-bagian dari alam semesta yang jauh itu berperan sebagai sarana  keselamatan bagi planit kita (bumi).
       Mereka yang telah mempelajari ilmu perbintangan, awan, dan gejala-gejala atmosfir lainnya mengetahui bagaimana benda-benda langit lainnya  menempuh jalan peredaran (orbit) mereka melalui ruang tanpa batas, jauh tinggi di atas bumi di semua jurusan memberi keamanan dan kekokohan kepada bumi. Pula diisyaratkan di sini bahwa penyempurnaan alam kebendaan itu tergantung dari koordinasi, antara kekuatan-kekuatan bumi dan langit.

Penggunaan Kata Rabb  Sehubungan dengan Manusia

      Demikianlah hubungan makna kata rabba  dalam hubungannya dengan proses hukum sebab-akibat berkesinambungan  mengenai penciptaan tatanan alam semesta jasmani.  Jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata rabba itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt., contohnya Nabi Yusuf a.s. telah menyebut  rabb  kepada raja Mesir, yang memerintahkan orang yang pernah dipenjara bersama beliau   untuk membawa keluar beliau dari dalam penjara, setelah raja itu mendengar arti  mimpinya  yang diterangkan oleh Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
وَ  قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّا جَآءَہُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ  اِلٰی رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ  الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepadanya, قَالَ ارۡجِعۡ  اِلٰی رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ  الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ  -- ia, Yusuf, berkata: “Kembalilah kepada rabb (majikan) engkau dan  tanyakanlah kepadanya, bagaimana  keadaan para perempuan yang telah mengerat tangan mereka sendiri, اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ --       sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Mengetahui rencana tipu daya mereka”  (Yusuf [12]:51).
         Demikian juga Fir’aun   Ramses II di zaman Nabi Musa a.s.  yang dengan takabbur mengatakan kepada kaumnya bahwa dirinya  adalah rabb mereka, firman-Nya:
فَکَذَّبَ وَ  عَصٰی ﴿۫ۖ﴾  ثُمَّ  اَدۡبَرَ  یَسۡعٰی  ﴿۫ۖ﴾ فَحَشَرَ  فَنَادٰی ﴿۫ۖ﴾  فَقَالَ  اَنَا  رَبُّکُمُ   الۡاَعۡلٰی ﴿۫ۖ﴾  فَاَخَذَہُ  اللّٰہُ  نَکَالَ الۡاٰخِرَۃِ  وَ الۡاُوۡلٰی ﴿ؕ﴾  اِنَّ  فِیۡ ذٰلِکَ لَعِبۡرَۃً  لِّمَنۡ  یَّخۡشٰی ﴿ؕ٪﴾

Tetapi ia (Fir’aun) mendustakan dan mendurhakai,   kemudian ia berpaling seraya berusaha menantang,   maka ia menghimpunkan kaumnya dan berseru,   فَقَالَ  اَنَا  رَبُّکُمُ   الۡاَعۡلٰی   -- Lalu berkata: “Akulah  rabb ( tuhan) kamu yang paling tinggi.”   Maka Allah menyergapnya dengan siksaan di akhirat dan di dunia.   Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar ada pelajaran bagi orang yang takut.  (An-Nāzi’āt [79]:22-27).
         Apabila makna penyebutan diri Fir’aun  dalam arti   bahwa dirinya  adalah rabb yakni Tuhan sembahan selain Allah Swt. maka  perkataannya itu benar-benar merupakan ketakabburan, tetapi jika  yang dimaksudkannya adalah keberhasilan dirinya  memanfaatkan secara optimal  SDA (Sumber Daya Alam) dan SDM (Sumber Daya Manusia) maka   ucapan Fir’aun  tersebut tidak salah, sebab pembangunan  kerajaan – berupa pendayagunaan SDA (sumber daya alam) dan SDM  (sumber daya manusia) -- yang dilakukan para raja atau pemimpin negara  dilakukan secara bertahap sesuai dengan Sifat Rububiyyat Allah Swt. yang dilakukan sebagaimana  firman-Nya:
وَ نَادٰی فِرۡعَوۡنُ فِیۡ  قَوۡمِہٖ  قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ  الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ  تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ  مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ  یُبِیۡنُ ﴿﴾  فَلَوۡ لَاۤ  اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ  اَسۡوِرَۃٌ  مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ  مَعَہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  مُقۡتَرِنِیۡنَ ﴿﴾  فَاسۡتَخَفَّ قَوۡمَہٗ  فَاَطَاعُوۡہُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا قَوۡمًا فٰسِقِیۡنَ ﴿﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya dengan berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah kamu tidak melihat?    Atau tidakkah aku lebih baik daripada orang yang hina ini  dan ia tidak dapat menjelaskan?    Mengapakah tidak dianugerahkan kepadanya gelang-gelang dari emas, atau datang bersamanya malaikat-malaikat yang berkumpul di sekelilingnya?"  Demikianlah ia (Fir’aun) memperbodoh kaumnya lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya mereka adalah kaum durhaka. (Az-Zukhruf [43]:52-55).
     Keberhasilan Dinasti Fir’aun di Mesir membangun  kerajaan Mesir tidak dilakukan secara tiba-tiba atau dalam waktu yang singkat, melainkan memakan waktu yang lama, dan proses pembangunan  secara   bertahap dan berkesinambungan tersebut sesuai dengan makna kata rabba   dalam dalam ayat  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam  (Al-Fatihah [1]:2).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 15 Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar