بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 6
Kalimat “Bismillāhirrahmānirrahīm”
Dalam Surat Nabi Sulaiman a.s. Kepada Ratu Saba & Makna Sifat Allah Swt. Al-Rahmān (Maha Pemurah) dan
Al-Rahīm (Maha Penyayang)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai dialog
Nabi Sulaiman a.s. dengan Jenderal Hud-hud yang dalam ayat-ayat sebelumnya
(QS.27:21-28) telah melaporkan hasil-kerja intelijen yang dilakukannya ke wilayah kerajaan Ratu Saba:
اِذۡہَبۡ
بِّکِتٰبِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقِہۡ اِلَیۡہِمۡ
ثُمَّ تَوَلَّ عَنۡہُمۡ فَانۡظُرۡ مَا ذَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قَالَتۡ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اِنِّیۡۤ
اُلۡقِیَ اِلَیَّ کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿ۙ﴾ اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ
مُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
“Pergilah dengan membawa suratku
ini lalu sampaikanlah kepada mereka,
kemudian berpalinglah dari mereka
lalu perhatikanlah apa jawaban mereka.”
Ia (Ratu Saba) berkata: “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah disam-paikan kepadaku surat yang
mulia. اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat itu berbunyi: -- “Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”
اَلَّا تَعۡلُوۡا
عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ -- “Janganlah kamu berlaku sombong
terhadapku, dan datanglah kepadaku
dengan berserah diri.” (An-Naml
[27]:29-32).
Burung-burung tidak pernah
diketahui orang berbicara tentang kebenaran atau dusta. Ayat ini memberikan
suatu bukti lagi, bahwa Hud-hud bukan
seekor burung, melainkan seorang pembesar dalam pemerintahan Nabi
Sulaiman a.s., dengan gelar Hud-hud.
Bahkan
bila dibenarkan bahwa Nabi Daud a.s.
dan Nabi Sulaiman a.s. dapat mengerti bahasa semut atau bahasa
burung (QS.27:16-21), tetapi
tidak ada sesuatu dalam Al-Quran yang
menunjukkan, bahwa Ratu Saba juga
dapat mengerti bahasa burung, namun
demikian kepada Hud-hud dipercayakan
menyampaikan surat Nabi Sulaiman a.s. .
kepada Ratu
Saba dan mengadakan percakapan
dengan beliau atas nama Nabi Sulaiman a.s. dan sebagai wakil (duta) beliau.
Mengenai ayat اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- “Sesungguhnya
surat itu dari Sulaiman, dan
sesungguhnya surat itu berbunyi:
-- “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” اَلَّا تَعۡلُوۡا
عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ -- “Janganlah kamu berlaku sombong
terhadapku, dan datanglah kepadaku
dengan berserah diri.”
Beberapa ahli ketimuran pihak Kristen,
sebagaimana kebiasaan mereka, telah gagal
dalam usahanya mengingkari fakta bahwa
Al-Quran bersumber pada Allah Swt., dengan mencoba membuktikan
ungkapan Bismillāh telah dipinjam dari kitab-kitab yang terdahulu.
Kegagalan Para Kritikus Non-Muslim Mengenai Al-Quran
Wherry dalam buku “Commentary on the Quran”-nya
mengatakan, bahwa kalimat itu telah
dipinjam dari Zend-Avesta. Sale menyatakan
pandangan serupa, sedang Rodwell berpendapat, bahwa bangsa Arab pra-Islam
(sebelum sejarah Islam) meminjamnya
dari kaum Yahudi dan selanjutnya
kalimat itu dimasukkan ke dalam Al-Quran oleh Nabi Besar Muhammad saw..
Mengatakan bahwa, sebab ungkapan
atau kalimat Bismillāh itu didapati dalam beberapa kitab suci yang terdahulu, niscaya telah dipinjam oleh Al-Quran dari salah satu dari kitab-kitab itu adalah nyata sekali suatu kesimpulan yang lemah.
Bagaimanapun, hal itu hanya membuktikan bahwa Al-Quran
memang berasal dari sumber yang sama
seperti kitab-kitab lain pun berasal,
yakni Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ
وَ اِنَّا لَہٗ
لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
Kami-lah Yang menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya (Al-Hijr [15]:10).
Lagi pula, tidak ada kitab lain mempergunakan ungkapan ini
dalam bentuk dan cara yang telah dilakukan oleh Al-Quran, yaitu: بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- “Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” Begitu
juga, orang-orang Arab pra-Islam tidak pernah mempergunakan ungkapan
itu sebelum ungkapan itu diwahyukan
dalam Al-Quran.
Kebalikannya, mereka mempunyai keengganan untuk mempergunakan sifat
Ilahi Ar-Rahmān (QS.25:61), yang merupakan bagian tak terpisahkan dari بِسۡمِ اللّٰہِ sebab bertentangan
dengan penyembahan mereka terhadap berhala-berhala mereka.
Surat Nabi Sulaiman a.s. kepada
Ratu Saba merupakan contoh
yang indah sekali tentang bagaimana maksud
yang besar dan luas dapat diringkaskan dalam beberapa perkataan singkat, sepi dari segala kata muluk-muluk dan panjang
lebar tanpa guna. Surat itu sekaligus merupakan peringatan
terhadap kesia-siaan pemberontakan,
yang rupa-rupanya pada waktu itu timbul di beberapa bagian negeri Nabi Sulaiman a.s., dan ajakan kepada Ratu
Saba untuk tunduk kepada Nabi
Sulaiman a.s. guna menghindari pertumpahan
darah yang tidak perlu, juga untuk meninggalkan kemusyrikan -- berupa
penyembahan benda-benda langit -- dan menerima agama yang hakiki.
Makna Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm
(Maha Penyayang)
Mengenai
makna Sifat Allah Swt. Al-Rahmān
(Maha Pemurah) dan Al-Rahīm (Maha Penyayang) dalam ayat بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ,
keduanya berasal dari akar kata yang
sama, Rahima, artinya: ia telah menampakkan kasih-sayang; ia ramah
dan baik; ia memaafkan, mengampuni.
Kata Rahmah
menggabungkan arti riqqah yakni kehalusan dan ihsan yaitu kebaikan, kebajikan”
(Al-Mufradat). Ar-Rahmān
dalam wazan (ukuran) fa’lan, dan Al-Rahīm dalam ukuran fa’il.
Menurut kaedah tata-bahasa Arab, makin banyak jumlah huruf ditambahkan pada akar
kata makin luas dan mendalam pula artinya (Al-Kasysyaf ‘an Ghawamidh al-Tanzil).
Ukuran fa’lan membawa arti kepenuhan dan keluasan, sedang ukuran fa’il menunjuk kepada arti ulangan dan pemberian ganjaran
dengan kemurahan hati kepada mereka
yang layak menerimanya (Al-Bahrul-
Muhith). Jadi, di mana kata Ar-Rahmān menunjukkan “kasih sayang meliputi seluruh alam”,
kata Al-Rahīm berarti “kasih
sayang yang ruang lingkupnya terbatas
tetapi ditampakkan berulang-ulang.”
Mengingat arti-arti di atas, Sifat
Al-Rahmān (Maha Pemurah)
adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang
secara cuma-cuma dan meluas
kepada semua makhluk tanpa mempertimbangkan
usaha atau amal atau beriman
mau pun kafir; sedangkan Sifat
Al-Rahīm (Maha Penyayang) adalah Dzat
Yang menampakkan kasih-sayang sebagai imbalan atas usaha atau amal
manusia -- yakni
orang-orang yang beriman dan beramal shaleh -- tetapi
menampakkannya dengan kemurahan hati
dan berulang-ulang.
Menentang Faham “Trinitas”
dan “Penebusan
Dosa”
Kata Al-Rahmān hanya dipakai untuk Allah Swt., sebab hanya Allah
Swt, sajalah yang mampu melakukannya; sedangkan Al-Rahīm – sampai batas
tertentu -- dipakai pula untuk manusia. Sifat Ar-Rahmān tidak hanya meliputi orang-orang beriman dan kafir
saja, tetapi juga seluruh makhluk, contohnya
dikemukakan dalam Surah Al-Rahmān
[55]:1-46 mengenai kesuksesan duniawi
golongan jin (penganut Kapitalisme)
dan ins (penganut Sosialisme).
Dalam Surah Ar-Rahmān Allah Swt. berulang-ulang memperingatkan umat manusia dari golongan jin dan ins yang tidak
tahu bersyukur kepada Allah Swt.
yang bersifat Ar-Rahmān (Maha
Pemurah) tersebut dengan firman-Nya berikut ini sebanyak 31 kali:
فَبِاَیِّ اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
“Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang
manakah yang kamu berdua dustakan?”
Demikian pula dalam Surah Maryam Allah Swt. berfirman mengenai golongan jin (penganut Kapitalisme) yang umumnya mempercayai “Trinitas” dan “Penebusan Dosa” (QS.18:1-9) yang tidak mensyukuri Sifat Rahmāniyyat
Allah Swt. tersebut firman-Nya:
وَ
قَالُوا اتَّخَذَ الرَّحۡمٰنُ
وَلَدًا ﴿ؕ﴾ لَقَدۡ جِئۡتُمۡ
شَیۡئًا اِدًّا ﴿ۙ﴾ تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ
تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا ﴿ۙ﴾ اَنۡ
دَعَوۡا لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدًا ﴿ۚ﴾ وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ یَّتَّخِذَ
وَلَدًا ﴿ؕ﴾ اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ
اٰتِی الرَّحۡمٰنِ عَبۡدًا ﴿ؕ﴾ لَقَدۡ
اَحۡصٰہُمۡ وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا ﴿ؕ﴾ وَ
کُلُّہُمۡ اٰتِیۡہِ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا ﴿﴾
Dan
mereka berkata: اتَّخَذَ الرَّحۡمٰنُ
وَلَدًا -- "Tuhan
Yang Maha Pemurah telah mengambil
seorang anak laki-laki." لَقَدۡ
جِئۡتُمۡ شَیۡئًا اِدًّا -- Sungguh
kamu benar-benar telah
mengucapkan sesuatu yang sangat mengerikan. تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ
وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا -- Hampir-hampir seluruh langit pecah
karenanya, bumi terbelah, dan
gunung-gunung runtuh berkeping-keping,
اَنۡ دَعَوۡا
لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدًا -- karena mereka menyatakan bagi Tuhan Yang
Maha Pemurah punya anak laki-laki. وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ
اَنۡ یَّتَّخِذَ وَلَدًا -- Padahal sekali-kali tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah, mengambil seorang anak
laki-laki. اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ
اٰتِی الرَّحۡمٰنِ عَبۡدًا -- Tidak
ada seorang pun di seluruh
langit dan bumi melainkan ia
akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba. لَقَدۡ
اَحۡصٰہُمۡ وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا
-- Sungguh Dia benar-benar mengetahui jumlah mereka dan meng-hitung mereka dengan
menyeluruh. وَ کُلُّہُمۡ اٰتِیۡہِ
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا -- Dan
setiap mereka akan datang kepada-Nya
pada Hari Kiamat sendiri-sendiri (Maryam [19]:89-96).
Celaan Paling Keras
Surah Maryam
ini berisikan pencelaan yang paling keras dan lugas terhadap 'itikad-'itikad
Kristen, terutama kepercayaan
mereka yang pokok bahwa Yesus anak Allah,
satu kepercayaan yang darinya terbit semua 'itikad
lainnya yakni “penebusan dosa” oleh kematian
terkutuk Yesus di tiang salib;
tekanan istimewa telah diberikan kepada penolakan
dan pencelaan terhadap kepercayaan dusta ini, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ
۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang
Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
Perlu
mendapat perhatian khusus bahwa sifat
Ar-Rahmān (Maha Pemurah) telah
berulang-ulang disinggung dalam Surah Maryam
tersebut — Sifat
Allah Swt. itu telah disebutkan sebanyak
16 kali, karena 'itikad Kristen yang
pokok ialah pengakuan bahwa Yesus sebagai anak Allah dan akibat-akibatnya yaitu 'itikad penebusan dosa mengandung arti penolakan terhadap sifat Ar-Rahmān (Maha
Pemurah), dan karena pokok
pembahasan utama Surah ini ialah pembantahan
terhadap ‘itikad ini maka sudah
seharusnya Sifat Allah Swt. Ar-Rahmān (Maha Pemurah) itu disebut dengan
berulang-ulang.
'Itikad penebusan dosa yang mengandung arti
bahwa Allah Swt. tidak dapat mengampuni dosa-dosa manusia, padahal Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt. menghendaki bahwa Dia dapat dan memang sering mengampuni mereka, itulah sebabnya sifat
Ar-Rahmān (Maha Pemurah) berulang
kali disebut dalam Surah Maryam ini.
Jadi, Allah Swt.
-- Tuhan Yang bersifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) itu -- tidak
memerlukan anak untuk menolong-Nya atau menggantikan-Nya, sebab Dia adalah Pemilik seluruh langit dan
bumi dan kerajaan-Nya meliputi
seluruh alam, dan juga karena semua
orang adalah hamba-Nya, dan Yesus adalah salah seorang dari antara hamba-hamba-Nya itu, yakni sebagai salah
seoerang rasul Allah yang
dibangkitkan di kalangan Bani Israil
dan diutus sebagai rasul Allah hanya
untuk Bani Israil (QS.2:88-89;
QS.3:46-50; QS.61:7).
Makna Sifat Ar-Rahīm (Maha Penyayang)
Demikianlah
penjelasan mengenai Sifat Al-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt., yang ke-Maha
Pemurah-annya meliputi seluruh makhluk-Nya, sedangkan Sifat Al-Rahīm (Maha Penyayang) terutama tertuju kepada orang-orang beriman dan beramal shaleh saja, yang ditakdirkan
akan menjadi penghuni surga, lihat
Surah Al-Rahmān [55]:47-79, dan lihat
pula QS.52:1829; QS.56:8-41.
Menurut
sabda Nabi Besar Muhammad saw. Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) umumnya
bertalian dengan kehidupan di dunia
ini, sedang sifat Ar-Rahīm (maha Penyayang) umumnya bertalian dengan kehidupan yang akan datang atau akhirat (Al-Bahrul-Muhith).
Artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah
dunia perbuatan,
sedangkan alam akhirat itu adalah
suatu alam tempat perbuatan
manusia akan diganjar dengan cara istimewa dan sepenuhnya,
maka sifat Allah Swt. Ar-Rahmān
(Maha Pemurah) menganugerahi
manusia alat dan bahan (sarana) untuk melaksanakan
pekerjaannya dalam kehidupan di dunia
ini, sedangkan sifat Allah Al-Rahīm (Maha Penyayang) mendatangkan
hasil dalam kehidupan yang akan datang (akhirat).
Berdasarkan Sifat Al-Rahmān (Maha
Pemurah), segala benda (sarana) yang kita perlukan dan atas itu kehidupan kita
bergantung adalah semata-mata karunia
Ilahi dan sudah tersedia untuk
kita, sebelum kita berbuat sesuatu
yang menyebabkan kita layak menerimanya,
atau bahkan sebelum kita dilahirkan, sedangkan Sifat Allah Swt. Al-Rahīm (Maha Penyayang) bahwa karunia
yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang akan datang (akhirat), akan dianugerahkan kepada kita
sebagai ganjaran atas keimanan
serta usaha atau amal shaleh kita, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ
مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk
mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu
sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah
yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, dan akan diberikan kepada mereka yang
serupa dengannya, dan bagi mereka di
dalamnya ada jodoh-jodoh
yang suci, dan mereka
akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah [2]:26).
Hal itu menunjukkan bahwa Al-Rahmān
itu Pemberi karunia yang mendahului
kelahiran manusia, sedangkan Al-Rahīm
itu Pemberi nikmat-nikmat yang
mengikuti amal manusia sebagai ganjarannya di akhirat.
Hikmah Penempatan Bismillāhir-Rahmānir-Rahīm di Awal Surah,
Kecuali Surah At-Taubah
Bismillāhir-Rahmānir-Rahīm adalah ayat pertama tiap-tiap
Surah Al-Quran, kecuali Al Bara’ah
(At-Taubah) -- yang sebenarnya bukan
Surah yang berdiri sendiri, melainkan lanjutan Surah Al-Anfāl. Ada suatu hadits
yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas yang maksudnya bahwa bila sesuatu Surah baru diwahyukan biasanya dimulai dengan Bismillāh,
dan tanpa Bismillāh Nabi Besar Muhammad saw. tidak mengetahui
bahwa Surah baru telah dimulai (Abu
Dawud).
Hadits ini menampakkan bahwa: (1)
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ adalah bagian Al-Quran dan bukan suatu
tambahan, (2) bahwa Surah Bara’ah (At-Taubah) bukanlah Surah yang berdiri
sendiri. Hadits tersebut menolak pula kepercayaan yang dikemukakan oleh
sementara orang bahwa بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ hanya merupakan bagian Surah Al-Fatihah saja dan bukan bagian semua
Surah Al-Quran. Selanjutnya ada riwayat,
Nabi Besar Muhammad saw. pernah bersabda bahwa ayat Bismillāh merupakan bagian semua Surah Al-Quran (Bukhari dan Ad-Daruquthni).
Ditempatkannya بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ pada permulaan tiap-tiap Surah
mempunyai arti seperti berikut: Al-Quran adalah khazanah ilmu Ilahi yang tidak dapat disentuh tanpa karunia khusus
dari Allah Swt.: لَّا یَمَسُّہٗۤ
اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ -- “Tidak
ada orang boleh menyentuhnya, kecuali orang-orang yang
disuckan” (QS.56:80).
Jadi بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ telah ditempatkan pada permulaan tiap Surah
untuk memperingatkan orang
Islam, bahwa untuk dapat masuk ke dalam khazanah ilmu Ilahi yang terkandung
dalam Al-Quran, dan untuk
mendapat faedah darinya, ia hendaknya
mendekatinya bukan saja dengan hati yang
suci, tetapi juga ia harus senantiasa mohon pertolongan Allah Swt.
Ayat بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ pun mempunyai pula tujuan penting yang lain. Ayat
tersebut adalah kunci bagi arti dan maksud tiap-tiap
Surah, karena segala persoalan mengenai urusan akhlak dan ruhani —
dengan satu atau lain cara — ada hubungannya
dengan dua Sifat Ilahi yang pokok, yaitu Rahmāniyah (Kemurahan)
dan Rahīmiyah (Kasih-sayang). Jadi tiap-tiap Surah pada hakikatnya merupakan uraian
terinci dari beberapa segi Sifat-sifat
Ilahi yang tersebut dalam ayat ini.
Kalimah Bismillāhirrahmānirrahīm Dalam Surat
Nabi Sulaiman a.s.
Sebagaimana telah dikemukakan
sebelumnya, ada tuduhan bahwa kalimah بِسۡمِ لّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ diambil dari Kitab-kitab Suci sebelum
Al-Quran. Kalau Sale mengatakan bahwa
kalimah بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ itu diambil dari Zend Avesta, maka Rodwell berpendapat bahwa orang-orang Arab sebelum Islam
mengambilnya dari orang-orang Yahudi dan kemudian dimasukkan ke dalam Al-Quran.
Kedua paham itu nyata sekali salah:
Pertama, tidak pernah didakwakan oleh orang-orang Islam bahwa بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ tersebut dalam bentuk ini atau sebangsanya tidak
dikenal sebelum Al-Quran diwahyukan. Kedua, keliru sekali mengemukakan sebagai
bukti bahwa karena بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ itu dalam bentuk yang sama atau serupa
kadang-kadang dipakai oleh orang-orang
Arab sebelum diwahyukan dalam
Al-Quran maka بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ itu tidak mungkin asalnya
dari Allah Swt..
Sebagaimana
telah dikemukakan sebelumnya bahwa Al-Quran
sendiri menegaskan, bahwa Nabi Sulaiman
a.s. memakai kalimah بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ itu dalam suratnya kepada Ratu
Saba (QS.27:31).
Apa yang didakwakan oleh orang-orang
Islam — dan dakwa tersebut
tidak pernah ada yang membantah —
yaitu bahwa di antara Kitab-kitab Suci, Al-Quran adalah yang pertama-tama
memakai بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ itu dengan caranya sendiri. Pula keliru sekali
mengatakan bahwa بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ itu sudah
lazim di antara orang-orang Arab sebelum Islam, sebab kenyataan yang sudah
diketahui bahwa orang-orang Arab merasa enggan
menggunakan kata Ar-Rahmān sebagai panggilan
untuk Allah Swt.
Makna Ayat-ayat yang Dimansukhkan
Lagi pula,
jika بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ dikenal sebelumnya maka hal itu malah mendukung kebenaran ajaran Al-Quran bahwa tidak
ada satu kaum pun yang kepadanya
tidak pernah diutus seorang Pemberi Ingat
(QS.35:25), dan juga bahwa Al-Quran itu
adalah khazanah seluruh kebenaran yang kekal dan termaktub dalam Kitab-kitab
Suci sebelumnya (QS.98:5). Al-Quran tentu menambah lebih banyak lagi dan apa pun yang diambilalihnya,
Al-Quran memperbaiki bentuk atau pemakaiannya, atau memperbaiki
kedua-duanya, sebagaimana firman-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ
اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan yakni
batalkan atau Kami biarkan terlupa,
maka Kami datangkan yang lebih baik
darinya atau yang semisalnya.
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa
sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu? (Al-Baqarah
[2]:107).
Ayah
berarti, pesan, tanda, perintah atau ayat Al-Quran (Lexicon Lane). Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari
ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan
(dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu
dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat
Al-Quran, melainkan hukum-hukum syariat
yang diwahyukan sebelum Al-Quran.
Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian mereka terhadap wahyu
baru yang menunjukkan bahwa āyah yang disebut dalam ayat ini sebagai
mansukh (batal) menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu.
Dijelaskan bahwa Kitab Suci terdahulu
mengandung dua macam perintah:
(a) yang menghendaki penghapusan karena
keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu menghendaki pembatalan;
(b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi,
atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan
kebenaran yang terlupakan, karena itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian
tertentu Kitab-kitab Suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan
pula menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt.
menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu
terdahulu, menggantikannya dengan yang baru
dan lebih baik, dan di samping itu
memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang
dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat
ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
Al-Quran telah membatalkan
semua Kitab Suci sebelumnya (QS.3:20 & 86) sebab — mengingat keadaan umat
manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat
baru yang bukan saja lebih baik
daripada semua syariat lama (QS.5:4)
dan terpelihara (QS.15:10), tetapi
ditujukan pula kepada seluruh umat
manusia dari semua zaman (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29). Ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan
tempatnya kepada ajaran yang lebih baik
dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal.
Dalam ayat ini kata nansakh
(Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik),
dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā
(yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara
waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan
orang, Dia menghidupkannya kembali
pada waktu yang lain. Diakui oleh ulama-ulama
Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa
Yahudi diangkut sebagai tawanan
ke Babil oleh Nebukadnezar (QS.2:260),
seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa
a.s.) telah hilang (Encyclopaedia Biblica).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 13 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar