Selasa, 11 Agustus 2015

Kalimat "Bismillaahirrahmaanirrahiim" Dalam Surat Nabi Sulaiman a.s. Kepada Ratu Saba & Makna Sifat Allah Swt. Al-Rahmaan (Maha Pemurah) dan Ar-Rahiim (Maha Penyayang)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 6  

Kalimat “Bismillāhirrahmānirrahīm” Dalam Surat Nabi Sulaiman a.s. Kepada Ratu Saba  & Makna Sifat Allah Swt. Al-Rahmān (Maha Pemurah)  dan Al-Rahīm (Maha Penyayang)

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai  dialog Nabi Sulaiman a.s. dengan Jenderal  Hud-hud yang dalam ayat-ayat sebelumnya (QS.27:21-28) telah melaporkan hasil-kerja intelijen  yang dilakukannya ke wilayah kerajaan Ratu Saba: 
اِذۡہَبۡ بِّکِتٰبِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقِہۡ  اِلَیۡہِمۡ ثُمَّ تَوَلَّ عَنۡہُمۡ فَانۡظُرۡ  مَا ذَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قَالَتۡ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا  اِنِّیۡۤ   اُلۡقِیَ   اِلَیَّ  کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿ۙ﴾  اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Pergilah dengan membawa suratku ini lalu sampaikanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka lalu perhatikanlah apa jawaban mereka.” Ia (Ratu Saba) berkata:  “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah disam-paikan kepadaku surat yang mulia.  اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  --   Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat itu berbunyi:   --  Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”  اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ  --  “Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku dengan berserah diri.” (An-Naml [27]:29-32).
        Burung-burung tidak pernah diketahui orang berbicara tentang kebenaran atau dusta. Ayat ini memberikan suatu bukti lagi, bahwa Hud-hud bukan seekor burung, melainkan seorang pembesar dalam pemerintahan Nabi Sulaiman a.s., dengan gelar Hud-hud.
        Bahkan bila dibenarkan  bahwa Nabi Daud a.s.   dan Nabi Sulaiman a.s.  dapat mengerti bahasa semut   atau bahasa burung   (QS.27:16-21), tetapi tidak  ada sesuatu dalam Al-Quran yang menunjukkan, bahwa Ratu Saba juga dapat mengerti bahasa burung, namun demikian kepada Hud-hud dipercayakan menyampaikan surat Nabi Sulaiman a.s.kepada   Ratu Saba dan mengadakan percakapan dengan beliau atas nama Nabi Sulaiman a.s.   dan sebagai wakil (duta) beliau.
          Mengenai ayat اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  --   “Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat itu berbunyi:   --  Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”  اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ  --  “Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku dengan berserah diri.”  
      Beberapa ahli ketimuran pihak Kristen, sebagaimana kebiasaan mereka, telah gagal dalam usahanya mengingkari fakta bahwa Al-Quran bersumber pada Allah Swt., dengan mencoba membuktikan ungkapan Bismillāh telah dipinjam dari kitab-kitab yang terdahulu.

Kegagalan Para Kritikus  Non-Muslim Mengenai Al-Quran

      Wherry dalam buku “Commentary on the Quran”-nya mengatakan, bahwa kalimat itu telah dipinjam dari Zend-Avesta. Sale menyatakan pandangan serupa, sedang Rodwell berpendapat, bahwa bangsa Arab pra-Islam (sebelum sejarah Islam) meminjamnya dari kaum Yahudi dan selanjutnya kalimat itu dimasukkan ke dalam Al-Quran oleh Nabi Besar Muhammad saw..
       Mengatakan bahwa, sebab ungkapan atau kalimat Bismillāh itu didapati dalam beberapa kitab suci yang terdahulu, niscaya telah dipinjam oleh Al-Quran dari salah satu dari kitab-kitab itu adalah nyata sekali suatu kesimpulan yang lemah. Bagaimanapun, hal itu hanya membuktikan  bahwa Al-Quran memang berasal dari sumber yang sama seperti kitab-kitab lain pun berasal, yakni Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya (Al-Hijr [15]:10).
      Lagi pula, tidak ada kitab lain mempergunakan ungkapan ini dalam bentuk dan cara yang telah dilakukan oleh Al-Quran, yaitu: بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  -- “Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”    Begitu juga, orang-orang Arab pra-Islam tidak pernah mempergunakan  ungkapan itu sebelum ungkapan itu diwahyukan dalam Al-Quran.
        Kebalikannya, mereka mempunyai keengganan untuk mempergunakan sifat Ilahi Ar-Rahmān (QS.25:61), yang merupakan bagian tak terpisahkan dari بِسۡمِ اللّٰہِ     sebab   bertentangan dengan penyembahan mereka terhadap berhala-berhala mereka.  
    Surat Nabi Sulaiman a.s. kepada Ratu Saba  merupakan contoh yang indah sekali tentang bagaimana maksud yang besar dan luas dapat diringkaskan dalam beberapa perkataan singkat, sepi dari segala kata muluk-muluk dan panjang lebar tanpa guna. Surat itu sekaligus merupakan peringatan terhadap kesia-siaan pemberontakan, yang rupa-rupanya pada waktu itu timbul di beberapa bagian negeri  Nabi Sulaiman a.s., dan ajakan kepada   Ratu Saba untuk tunduk kepada Nabi Sulaiman a.s. guna menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu, juga untuk meninggalkan kemusyrikan   -- berupa penyembahan benda-benda langit  --  dan menerima agama yang hakiki.

Makna Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penyayang)

           Mengenai makna Sifat Allah Swt. Al-Rahmān (Maha Pemurah) dan Al-Rahīm (Maha Penyayang) dalam ayat  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  , keduanya berasal dari akar kata yang sama, Rahima, artinya: ia telah menampakkan kasih-sayang; ia ramah dan baik; ia memaafkan, mengampuni.
         Kata Rahmah menggabungkan arti riqqah yakni   kehalusan dan ihsan  yaitu kebaikan,   kebajikan” (Al-Mufradat). Ar-Rahmān dalam wazan (ukuran) fa’lan, dan Al-Rahīm dalam ukuran fa’il. Menurut kaedah tata-bahasa Arab, makin banyak jumlah huruf ditambahkan pada akar kata makin luas dan mendalam pula artinya (Al-Kasysyaf ‘an Ghawamidh al-Tanzil).
     Ukuran fa’lan membawa arti kepenuhan dan keluasan, sedang ukuran fa’il menunjuk kepada arti ulangan dan pemberian ganjaran dengan kemurahan hati kepada mereka yang layak menerimanya (Al-Bahrul- Muhith). Jadi, di mana kata Ar-Rahmān menunjukkan “kasih sayang meliputi seluruh alam”, kata Al-Rahīm berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya terbatas  tetapi  ditampakkan berulang-ulang.
       Mengingat arti-arti di atas, Sifat  Al-Rahmān  (Maha Pemurah) adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang secara  cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa mempertimbangkan usaha atau amal atau  beriman  mau pun kafir; sedangkan Sifat Al-Rahīm (Maha Penyayang) adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang sebagai imbalan atas usaha atau amal   manusia   -- yakni orang-orang  yang beriman dan beramal shaleh   --  tetapi menampakkannya dengan kemurahan hati dan berulang-ulang.

Menentang Faham “Trinitas”   dan “Penebusan Dosa

       Kata Al-Rahmān hanya dipakai untuk Allah Swt., sebab hanya Allah Swt, sajalah yang mampu melakukannya;   sedangkan Al-Rahīm – sampai batas tertentu   -- dipakai pula untuk manusia.  Sifat Ar-Rahmān tidak hanya meliputi orang-orang beriman  dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk, contohnya  dikemukakan dalam Surah Al-Rahmān [55]:1-46 mengenai kesuksesan duniawi golongan jin (penganut Kapitalisme) dan ins (penganut Sosialisme).
    Dalam Surah Ar-Rahmān Allah Swt. berulang-ulang memperingatkan umat manusia dari golongan jin dan ins  yang tidak tahu bersyukur kepada Allah Swt.  yang bersifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) tersebut dengan firman-Nya berikut ini sebanyak 31 kali:
فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
“Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan?”
       Demikian pula dalam Surah Maryam Allah Swt. berfirman mengenai golongan jin (penganut Kapitalisme) yang umumnya mempercayai “Trinitas” dan “Penebusan Dosa” (QS.18:1-9) yang tidak mensyukuri Sifat Rahmāniyyat Allah Swt. tersebut  firman-Nya:
وَ قَالُوا  اتَّخَذَ  الرَّحۡمٰنُ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾  لَقَدۡ  جِئۡتُمۡ  شَیۡئًا  اِدًّا ﴿ۙ﴾  تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا ﴿ۙ﴾  اَنۡ  دَعَوۡا  لِلرَّحۡمٰنِ  وَلَدًا ﴿ۚ﴾  وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ  یَّتَّخِذَ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾  اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا ﴿ؕ﴾  لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا ﴿ؕ﴾  وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا ﴿﴾
Dan mereka  berkata: اتَّخَذَ  الرَّحۡمٰنُ  وَلَدًا -- "Tuhan Yang Maha Pemurah telah meng­ambil seorang anak laki-laki." لَقَدۡ  جِئۡتُمۡ  شَیۡئًا  اِدًّا --   Sungguh  kamu benar-benar telah mengucapkan sesuatu  yang  sangat mengerikan.  تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا --   Hampir-hampir seluruh langit pecah   karenanya, bumi terbelah, dan gunung­-gunung runtuh berkeping-keping, اَنۡ  دَعَوۡا  لِلرَّحۡمٰنِ  وَلَدًا -- karena mereka menyatakan bagi Tuhan Yang Maha Pemurah punya  anak laki-laki.  وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ  یَّتَّخِذَ  وَلَدًا --  Padahal sekali-kali tidak layak bagi Tuhan Yang  Maha Pemurah, mengambil seorang anak laki-laki.  اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا --  Tidak  ada seorang pun di se­luruh  langit dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba.  لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا  -- Sungguh Dia benar-benar  mengetahui jumlah  mereka dan meng-hitung mereka dengan   menyeluruh. وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا  --  Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri  (Maryam [19]:89-96).

Celaan Paling Keras

    Surah Maryam ini berisikan pencelaan yang paling keras dan lugas terhadap 'itikad-'itikad Kristen, terutama kepercayaan mereka yang pokok bahwa Yesus anak Allah, satu kepercayaan yang darinya terbit semua 'itikad lainnya yakni “penebusan dosa” oleh kematian terkutuk Yesus di tiang salib; tekanan istimewa telah diberikan kepada penolakan dan pencelaan terhadap kepercayaan dusta ini, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: “Dia-lah Allah   Yang Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.   Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,  dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
    Perlu mendapat perhatian khusus bahwa sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) telah berulang-ulang disinggung dalam Surah Maryam   tersebut — Sifat Allah Swt.  itu telah disebutkan sebanyak 16 kali, karena 'itikad Kristen yang pokok ialah pengakuan  bahwa Yesus sebagai anak Allah dan akibat-akibatnya yaitu 'itikad penebusan dosa mengandung arti penolakan terhadap sifat Ar-Rahmān  (Maha Pemurah),  dan karena pokok pembahasan utama Surah ini ialah pembantahan terhadap ‘itikad ini maka sudah seharusnya Sifat  Allah Swt. Ar-Rahmān (Maha Pemurah) itu disebut dengan berulang-ulang.
  'Itikad penebusan dosa yang mengandung arti bahwa Allah Swt.  tidak dapat mengampuni dosa-dosa manusia, padahal Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt.  menghendaki bahwa Dia dapat dan memang sering mengampuni mereka, itulah sebabnya sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) berulang kali disebut dalam Surah Maryam  ini.
   Jadi,  Allah Swt.  --   Tuhan Yang bersifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) itu -- tidak memerlukan anak untuk menolong-Nya atau menggantikan-Nya, sebab Dia adalah Pemilik seluruh langit dan bumi dan kerajaan-Nya meliputi seluruh alam, dan juga karena semua orang adalah hamba-Nya, dan Yesus adalah salah seorang dari antara hamba-hamba-Nya itu, yakni sebagai salah seoerang rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan Bani Israil dan diutus sebagai rasul Allah hanya untuk Bani Israil (QS.2:88-89; QS.3:46-50; QS.61:7).

Makna Sifat Ar-Rahīm (Maha Penyayang)

     Demikianlah penjelasan mengenai Sifat Al-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt., yang ke-Maha Pemurah-annya meliputi seluruh makhluk-Nya,  sedangkan Sifat  Al-Rahīm  (Maha Penyayang) terutama tertuju kepada orang-orang beriman dan beramal shaleh saja,  yang ditakdirkan akan menjadi penghuni surga, lihat Surah Al-Rahmān [55]:47-79, dan lihat pula QS.52:1829; QS.56:8-41.
       Menurut sabda  Nabi Besar Muhammad saw.  Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Ar-Rahīm (maha Penyayang) umumnya bertalian dengan kehidupan yang akan datang atau akhirat (Al-Bahrul-Muhith).
      Artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah  dunia perbuatan, sedangkan alam akhirat itu adalah suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa  dan sepenuhnya,  maka sifat Allah Swt.  Ar-Rahmān (Maha Pemurah)  menganugerahi manusia alat dan bahan (sarana) untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan sifat Allah  Al-Rahīm (Maha Penyayang) mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang (akhirat).
        Berdasarkan Sifat Al-Rahmān (Maha Pemurah), segala benda (sarana) yang kita perlukan dan atas itu kehidupan kita bergantung adalah semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk kita, sebelum kita berbuat sesuatu yang menyebabkan kita layak menerimanya, atau bahkan sebelum kita dilahirkan, sedangkan Sifat Allah Swt. Al-Rahīm (Maha Penyayang) bahwa  karunia yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang akan datang  (akhirat), akan dianugerahkan kepada kita sebagai ganjaran atas keimanan serta  usaha atau amal shaleh  kita, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya  untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, dan akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci, dan mereka akan kekal di dalamnya  (Al-Baqarah [2]:26).
       Hal itu menunjukkan bahwa Al-Rahmān itu Pemberi karunia yang mendahului kelahiran manusia, sedangkan  Al-Rahīm itu Pemberi nikmat-nikmat yang mengikuti amal  manusia sebagai ganjarannya di akhirat.

Hikmah Penempatan Bismillāhir-Rahmānir-Rahīm di Awal Surah, Kecuali  Surah At-Taubah

      Bismillāhir-Rahmānir-Rahīm adalah ayat pertama tiap-tiap Surah Al-Quran, kecuali Al Bara’ah (At-Taubah)  -- yang sebenarnya bukan Surah yang berdiri sendiri, melainkan lanjutan Surah Al-Anfāl. Ada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas yang maksudnya bahwa bila sesuatu Surah baru diwahyukan  biasanya dimulai dengan Bismillāh, dan  tanpa Bismillāh   Nabi Besar Muhammad saw. tidak mengetahui bahwa Surah baru telah dimulai (Abu Dawud).
        Hadits ini menampakkan bahwa: (1)  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  adalah bagian Al-Quran dan bukan suatu tambahan, (2) bahwa Surah Bara’ah  (At-Taubah) bukanlah Surah yang berdiri sendiri. Hadits tersebut menolak pula kepercayaan yang dikemukakan oleh sementara orang bahwa  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  hanya merupakan bagian Surah Al-Fatihah saja dan bukan bagian semua Surah Al-Quran. Selanjutnya ada riwayat,  Nabi Besar Muhammad saw. pernah bersabda bahwa  ayat Bismillāh  merupakan bagian semua Surah Al-Quran (Bukhari dan Ad-Daruquthni).
      Ditempatkannya  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ pada permulaan tiap-tiap Surah mempunyai arti seperti berikut: Al-Quran adalah khazanah ilmu Ilahi yang tidak dapat disentuh tanpa karunia khusus dari Allah Swt.:  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  --  “Tidak ada orang boleh menyentuhnya, kecuali orang-orang  yang   disuckan” (QS.56:80).
      Jadi بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ   telah ditempatkan pada permulaan tiap Surah untuk memperingatkan orang Islam,  bahwa untuk dapat masuk ke dalam khazanah ilmu Ilahi yang terkandung  dalam Al-Quran, dan untuk mendapat faedah darinya, ia hendaknya mendekatinya bukan saja dengan hati yang suci, tetapi juga   ia harus  senantiasa mohon pertolongan Allah Swt.
       Ayat  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  pun mempunyai pula tujuan penting yang lain. Ayat  tersebut  adalah kunci bagi arti dan maksud tiap-tiap Surah, karena segala persoalan mengenai urusan akhlak dan ruhani — dengan satu atau lain cara — ada hubungannya  dengan dua Sifat Ilahi yang pokok, yaitu Rahmāniyah (Kemurahan) dan Rahīmiyah (Kasih-sayang). Jadi tiap-tiap Surah pada hakikatnya merupakan uraian terinci dari beberapa segi Sifat-sifat Ilahi yang tersebut dalam ayat ini.

Kalimah  Bismillāhirrahmānirrahīm Dalam Surat Nabi Sulaiman a.s.

   Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya,  ada tuduhan bahwa kalimah بِسۡمِ لّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ    diambil dari Kitab-kitab Suci sebelum Al-Quran. Kalau Sale mengatakan bahwa kalimah بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ itu diambil dari Zend Avesta, maka Rodwell berpendapat bahwa  orang-orang Arab sebelum Islam mengambilnya dari orang-orang Yahudi  dan kemudian dimasukkan ke dalam Al-Quran.
    Kedua paham itu nyata sekali salah: Pertama, tidak pernah didakwakan oleh orang-orang Islam bahwa   بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  tersebut  dalam bentuk ini atau sebangsanya tidak dikenal sebelum Al-Quran diwahyukan. Kedua, keliru sekali mengemukakan sebagai bukti bahwa karena بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  itu dalam bentuk yang sama atau serupa kadang-kadang dipakai oleh orang-orang Arab sebelum diwahyukan dalam Al-Quran maka  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ   itu tidak mungkin asalnya dari  Allah Swt..  
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa  Al-Quran sendiri menegaskan, bahwa  Nabi Sulaiman a.s. memakai kalimah بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ itu dalam suratnya kepada Ratu Saba (QS.27:31).
      Apa yang didakwakan oleh orang-orang Islam — dan  dakwa  tersebut  tidak pernah ada yang membantah  — yaitu bahwa di antara Kitab-kitab Suci, Al-Quran adalah yang pertama-tama memakai بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  itu dengan caranya sendiri. Pula keliru sekali mengatakan bahwa  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ itu sudah lazim di antara orang-orang Arab sebelum Islam, sebab kenyataan yang sudah diketahui   bahwa  orang-orang Arab    merasa enggan menggunakan kata Ar-Rahmān sebagai panggilan untuk Allah Swt.

Makna   Ayat-ayat yang Dimansukhkan

Lagi pula, jika  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  dikenal sebelumnya  maka hal itu malah mendukung kebenaran ajaran Al-Quran bahwa tidak ada satu kaum pun yang kepadanya tidak pernah diutus seorang Pemberi Ingat (QS.35:25), dan juga bahwa  Al-Quran itu adalah khazanah seluruh kebenaran yang kekal dan termaktub dalam Kitab-kitab Suci sebelumnya (QS.98:5). Al-Quran tentu menambah lebih banyak lagi dan apa pun yang diambilalihnya, Al-Quran memperbaiki bentuk atau pemakaiannya, atau memperbaiki kedua-duanya, sebagaimana firman-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ  اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Ayat  mana pun yang Kami mansukhkan   yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang semisalnya. Apakah kamu tidak  mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?  (Al-Baqarah [2]:107).
      Ayah berarti, pesan, tanda, perintah atau ayat Al-Quran (Lexicon Lane).   Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan (dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat Al-Quran, melainkan hukum-hukum syariat yang diwahyukan sebelum Al-Quran.
      Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian  mereka terhadap wahyu baru yang menunjukkan bahwa āyah yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh (batal)  menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu. Dijelaskan bahwa Kitab Suci terdahulu mengandung dua macam perintah:
      (a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu  menghendaki pembatalan;
    (b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt.  menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu terdahulu, menggantikannya dengan yang baru dan lebih baik, dan di samping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
      Al-Quran telah    membatalkan semua Kitab Suci sebelumnya (QS.3:20 & 86) sebab — mengingat keadaan umat manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama (QS.5:4) dan terpelihara (QS.15:10), tetapi ditujukan pula kepada seluruh umat manusia dari semua zaman (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29). Ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan tempatnya kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal.
Dalam ayat ini kata nansakh (Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik), dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā (yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang lain. Diakui oleh ulama-ulama Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar (QS.2:260), seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa a.s.) telah hilang (Encyclopaedia Biblica).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 13 Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar