Senin, 17 Agustus 2015

Makna 'Arasy (Singgasana) Ilahi & Al-Asmaa-ul-Husnaa (Sifat-sifat Terindah) Allah Swt.



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 10

Makna ‘Arasy (Singgasana) Ilahi & Al-Asmā-ul Husnā  (Sifat-sifat Terindah) Allah Swt.     

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai kemajuan berkesinambungan dalam surga dan makna mohon maghfirah (pengampunan) para penghuni surga, sebagaimana  diisyaratkan dalam  Sifat Rububiyyat Allah Swt. dalam   Surah Al-Fatihah ayat  2, bahwa manusia dijadikan untuk kemajuan tidak terbatas, sebab ungkapan Rabb-ul-’ālamīn itu mengandung arti bahwa Allah Swt.  mengembangkan segala sesuatu dari tingkatan rendah kepada yang lebih tinggi, dan hal itu hanya mungkin jika tiap-tiap tingkatan itu diikuti oleh tingkatan lain dalam proses yang tidak ada henti-hentinya. Sunnatullah berkenaan Sifat Rububiyyat Allah Swt. tersebut  berlaku juga di alam akhirat, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan)  kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya,   یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami,  sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrīm [66]:9).

Kemajuan Ruhani Tak Terbatas  Dalam Surga

     Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan pada pihak orang-orang yang beriman di surga  -- sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami“   -- menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah kehidupan menganggur, firman-Nya:
 اِنَّ  اَصۡحٰبَ الۡجَنَّۃِ  الۡیَوۡمَ فِیۡ  شُغُلٍ فٰکِہُوۡنَ ﴿ۚ﴾  ہُمۡ وَ اَزۡوَاجُہُمۡ فِیۡ ظِلٰلٍ عَلَی الۡاَرَآئِکِ مُتَّکِـُٔوۡنَ ﴿﴾  لَہُمۡ فِیۡہَا فَاکِہَۃٌ  وَّ لَہُمۡ مَّا یَدَّعُوۡنَ ﴿ۚۖ﴾  سَلٰمٌ ۟ قَوۡلًا  مِّنۡ  رَّبٍّ  رَّحِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya para ahli surga pada hari itu akan bergembira dalam kesibukan mereka.  Mereka dan istri-istri mereka berada di tempat-tempat teduh   sambil bersandar di atas dipan-dipan.  Bagi mereka di dalamnya ter-sedia buah-buahan, dan bagi mereka  apa pun yang mereka minta.   ”Salām” (Selamat sejahtera) adalah  ucapan selamat dari Rabb (Tuhan) Yang Maha Penyayang  (Yā Sīn [36]:56-59).
       Kehidupan di alam akhirat yang pada umumnya keliru diartikan itu, bukanlah kehidupan santai dan bermalas-malas, melainkan suatu kehidupan dengan kesibukan kerja terus-menerus dan kemajuan ruhani yang senantiasa meningkat.
       Ayat 57 menjelaskan bahwa segala kegembiraan dan kebahagiaan bertambah lipat ganda bila seseorang menikmatinya bersama-sama dengan orang-orang yang dicintainya. Dalam ayat ini hanya disebut istri/suami, sedangkan dalam Surah lain disebutkan pula kedua orang tua dan anak keturunan mereka, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ یَحۡمِلُوۡنَ الۡعَرۡشَ وَ مَنۡ حَوۡلَہٗ یُسَبِّحُوۡنَ بِحَمۡدِ  رَبِّہِمۡ وَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۚ رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾  رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ۙ﴿﴾  وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ  فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪﴿﴾
Wujud-wujud  yang memikul ‘Arasy  dan yang di sekitarnya, mereka bertasbih dengan pujian (Rabb) Tuhan mereka, dan mereka beriman kepada-Nya dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman: رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ  --  “Wahai Rabb (Tuhan) kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam. رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ۙ  --  “Hai Rabb (Tuhan) kami, karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu pun orang-orang yang beramal saleh  dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan-keturunan mereka. Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ  فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ  --     “Dan lindungilah mereka dari segala keburukan.  Dan barangsiapa Engkau pelihara dari keburukan-keburukan pada hari itu  maka sungguh  Engkau telah mengasihinya, dan yang demikian itu  kemenangan yang besar.” (Mu’min [40]:8-10). Lihat pula QS.13:24;  QS.52:22.

Makna ‘Arasy (Singgasana) Ilahi
 
         Karena ‘Arasy berarti Sifat-sifat Tanzihiyyah  Ilahi  yakni Sifat-sifat yang khusus dimiliki Allah Swt. maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” akan berarti makhluk-makhluk atau orang-orang yang dengan perantaraan mereka Sifat-sifat Ilahi itu diwujudkan, yaitu Sifat-sifat Tasybihiyyah   -- yaitu  Sifat-sifat Tuhan yang sampai batas tertentu dimiliki dan dapat diperagakan pula oleh makhluk-Nya,   contohnya 4 Sifat Ilahi dalam Surah Al-Fatihah.
  'Arasy (singgasana) menggambarkan Sifat-sifat Tanzihiyyah  Allah Swt.     yakni sifat-sifat yang tidak terdapat dalam wujud lain mana pun. Keempat sifat Allah  Swt.  yang tersebut dalam Surah Al-Ikhlash merupakan Sifat-sifat tanzihiyyah-Nya. Sifat-sifat Ilahi ini abadi dan tidak bisa berubah dan diwujudkan melalui Sifat-sifat Tasybihiyyah-Nya, yakni Sifat-sifat Ilahi  yang juga  sampai batas tertentu terdapat  dan dapat dimiliki oleh  wujud-wujud lainnya.
   Sifat-sifat Ilahi yang dikatakan sebagai pemikul-pemikul 'Arasy, Sifat-sifat itu adalah Rabbul-'Aalamin, Ar-Rahmān, Ar-Rahīm, dan Māliki Yaumid-Dīn  (QS.1:1-4). Bahwa ‘Arasy  Ilahi menggambarkan Sifat-sifat Tanzihiyyah  Allah Swt. nampak  juga dari QS.23:117,  yang menunjukkan bahwa “Tauhid Ilahi” itu sangat erat hubungannya dengan 'Arasy-Nya, sebab hanya Sifat-sifat Tanzihiyyah itulah yang merupakan bukti yang sebenarnya mengenai Tauhid Ilahi, karena Sifat-sifat   Allah Swt. lainnya dapat dimiliki juga oleh manusia dalam derajat-derajat yang berbeda.
        Sehubungan dengan proses penciptaan alam semesta jasmani yang dikemukakan dalam Al-Quran, kata-kata  “Allah Swt. bersemayam di atas ‘Arasy/Singgasana”  yang dikemukakan dalam  Al-Quran (QS.7:55; QS.10:4;  QS.11:8; QS.25:60; QS.32:5; QS.41:10-13), berarti bahwa sesudah alam semesta jasmani terwujud, Sifat-sifat Tanzihiyyah dan Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt. mulai bekerja dan segala urusan dunia mulai diatur melalui perangkat hukum-hukum alam dan menjadi berada dalam lingkup tata kerja yang sempurna.
         Karena hukum alam bekerja dengan perantaraan malaikat-malaikat, dan para nabi Allah  merupakan wahana yang dengan perantaraan mereka Kalamullāh (firman Allah Swt.) disampaikan kepada umat manusia, maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” dapat berarti pula para malaikat dan para utusan (rasul) Tuhan, dan kata-kata “mereka yang ada di sekitarnya” dapat berarti para malaikat yang dibawahi dan membantu para malaikat yang utama dalam menyelenggarakan urusan-urusan dunia, atau para pengikut sejati para rasul Allah yang menyampaikan dan menyebarkan ajaran para rasul Allah.

Pentingnya Peran-serta Orang-orang  Terdekat

  Kembali kepada  Surah Al-Mu’min ayat 8-10,  makna  ayat رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ۙ  --  “Hai Rabb (Tuhan) kami, karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu pun  orang-orang yang beramal saleh  dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka  dan keturunan-keturunan mereka. Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”            
     Ayat ini meletakkan suatu asas yang agung. Tidak ada pekerjaan dilaksanakan dan tidak ada kemenangan dapat dicapai oleh seseorang di dunia ini tanpa bantuan orang lain. Orang-orang lain masing-masing dengan sadar atau tidak sadar telah memberikan sumbangan kepada pekerjaan itu.
   Sekutu-sekutu dan pembantu-pembantu yang sadar atau tidak sadar itu terutama ayah-bunda, istri, dan anak-anaknya, maka anggota keluarga yang terdekat itu pun akan diizinkan ikut serta menikmati karunia-karunia yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman  atas amal-amal shalihnya. Lihat pula QS.13:24; QS.52:22.
    Pendek kata, sesuai dengan Sifat Rububiyyat Allah Swt.   – yang   juga meliputi alam akhirat   --   kemajuan ruhani di surga tiada berhingga, sebab bila orang-orang beriman  akan mencapai kesempurnaan  yang menjadi ciri tingkat surga tertentu, mereka tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan serentak terlihat di hadapannya ada tingkat kesempurnaan lebih tinggi dan diketahuinya bahwa tingkat yang didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa berakhir. Itulah makna ayat  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا  -- “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami” (At-Tahrim [66]:9).
  Selanjutnya tampak dari makna ayat  وَ اغۡفِرۡ لَنَا  -- “dan maafkanlah kami,” bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman  akan mencapai maghfirah – penutupan kekurangan (Lexicon Lane). Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas dan memandang tiap-tiap tingkat sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu akan berdoa kepada Allah Swt. supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan.”

Pengulangan Penyebutan Sifat Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm  Dalam Surah Al-Fatihah

    Kembali kepada pokok pembahasan mengenai Surah Al-Fatihah, selanjutnya Allah Swt. berfirman:
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
   “Maha Pemurah,  Maha Penyayang” (Al-Fatihah [1]:3). 
  Dalam ungkapan Bismillāh (Surah Al-Fatihah ayat 1) sifat Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm berlaku sebagai kunci arti seluruh Surah. Sifat-sifat itu disebut di sini secara terpisah memenuhi satu tujuan tambahan. Sifat-sifat itu dipakai di sini, sebagai mata rantai antara Sifat Rabb-ul-’ālamīn dan Māliki ya-um-id-dīn.
         Sehubungan Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penyayang) Allah Swt. berfirman dalam Surah lain:

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۚ﴿﴾ حٰمٓ ۚ﴿﴾  تَنۡزِیۡلٌ  مِّنَ  الرَّحۡمٰنِ  الرَّحِیۡمِ ۚ﴿﴾   کِتٰبٌ فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ  قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ۙ﴿﴾  بَشِیۡرًا وَّ نَذِیۡرًا ۚ فَاَعۡرَضَ  اَکۡثَرُہُمۡ فَہُمۡ  لَا یَسۡمَعُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  حٰمٓ   --   Maha Terpuji, Maha Mulia. تَنۡزِیۡلٌ  مِّنَ  الرَّحۡمٰنِ  الرَّحِیۡمِ  --    Al-Quran diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Sebuah Kitab yang  dijelaskan Ayat-ayatnya, yang dibaca berulang-ulang dalam bahasa Arab, untuk  kaum yang mengetahui, Pemberi kabar gembira  dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling dan mereka tidak mendengar. (Hā MīmAs-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:1-5).
       Namun dalam Surah berikut ini  sehubungan dengan diturunkan-Nya Al-Quran hanya disebut Sifat  Ar-Rahmān  saja, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  اَلرَّحۡمٰنُ ۙ﴿﴾   عَلَّمَ  الۡقُرۡاٰنَ ؕ﴿﴾   خَلَقَ  الۡاِنۡسَانَ ۙ﴿﴾  عَلَّمَہُ  الۡبَیَانَ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلرَّحۡمٰنُ  --    Tuhan Yang Maha Pemurah,     Dia mengajarkan Al-Quran  Dia menciptakan manusia,     Dia mengajarnya kejelasan bicara (Al-Rahmān [55]:1-5).
   Sebabnya antara lain karena diwahyukan-Nya Al-Quran kepada  Nabi Besar Muhammad saw. adalah untuk seluruh umat manusia, sebagaimana  misi kerasulan Nabi Besar Muhammad saw. adalah untuk seluruh umat manusia sampai Hari Kiamat, bukan hanya untuk umat Islam saja atau hanya untuk orang-orang  yang beriman kepada Al-Quran saja, yakni mereka yang menyelaraskan  diri dengan Sifat Rahīmiyyat Allah Swt.,    firman-Nya:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam  (Al-Anbiya [21]:108, lihat pula  QS.7:159; QS.25:2; QS.34:29. 
   Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu. Dengan perantaraan beliau saw. bangsa-bangsa di dunia telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu.

Al-Asmā-ul Husna (Sifat-sifat Terindah) Allah Swt.

   Kata  rahmat sangat berkaitan erat dengan  kata rahmān dan rahīm  karena memiliki  akar kata yang sama yaitu rahm,  salah satu maknanya adalah kasih-sayang, dimana  rahmat (kasih-sayang) Allah Swt. bahkan mengatasi kemurkaan-Nya (QS.7:157), sebagaimana dikatakan para pemikul ‘Arasy Ilahi sebelum ini firman-Nya: رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ  -- “Wahai Rabb (Tuhan) kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam (Al-Mu’mīn [40]:8).
         Karena itu Sifat Rahmān Allah Swt.  telah diperintahkan Allah Swt. dalam Al-Quran untuk menyebut  Sifat-Nya selain sebutan ALLAH  -- yang merupakan nama Dzat-Nya   --  sebab Sifat Ar-Rahmān Allah Swt. meliputi Sifat-sifat-Nya yang lainnya firman-Nya:
قُلِ ادۡعُوا اللّٰہَ  اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ  الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ  بَیۡنَ  ذٰلِکَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah), اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ  الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی --dengan nama apa saja kamu berseru kepada Dia     milik-Nya semua nama yang terbaik.”   Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras  dan jangan pula kamu mengucapkannya terlalu lemah  tetapi carilah jalan di antara itu. (Bani Israil [17]:111). Lihat pula 
       Allah Swt.  memiliki Sifat-sifat  sempurna (al-Asmā-ul-Husna) yang tidak terbilang jumlahnya (QS.7:181; QS.59:25), maka seorang Muslim dalam doanya  ia hendaknya menyebut Sifat Ilahi tertentu yang mempunyai hubungan khas dengan perkara  yang untuk perkara itu ia mohon petunjuk dan pertolongan Ilahi, firman-Nya:
ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ  الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ  الۡجَبَّارُ  الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ  الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan kecuali Dia,  Mengetahui yang gaib dan yang nampak, ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ   -- Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Dia-lah Allah Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Maha Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber se-gala kedamaian, Pelimpahan keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung.  سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha Suci Allah  dari apa yang mereka persekutukan.  Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi bentukلَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی --   milik Dia-lah semua nama yang terindah. یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ   --  Bertasbih  kepada-Nya segala yang ada di seluruh langit dan bumi وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ   -- dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (Al-Hasyr [59]:23-25).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 18 Agustus 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar