بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 10
Makna ‘Arasy
(Singgasana) Ilahi & Al-Asmā-ul Husnā (Sifat-sifat Terindah) Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai kemajuan berkesinambungan dalam surga dan makna mohon maghfirah (pengampunan) para penghuni surga,
sebagaimana diisyaratkan dalam Sifat Rububiyyat
Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 2, bahwa manusia dijadikan untuk kemajuan tidak terbatas, sebab ungkapan Rabb-ul-’ālamīn
itu mengandung arti bahwa Allah Swt. mengembangkan
segala sesuatu dari tingkatan rendah
kepada yang lebih tinggi, dan hal itu
hanya mungkin jika tiap-tiap tingkatan
itu diikuti oleh tingkatan lain dalam
proses yang tidak ada henti-hentinya.
Sunnatullah berkenaan Sifat Rububiyyat Allah Swt. tersebut berlaku juga di alam akhirat, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی اللّٰہِ
تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ
وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang
beriman, bertaubatlah kepada Allah
dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh
jadi Rabb (Tuhan) kamu
akan menghapuskan dari kamu
keburukan-keburukanmu dan akan
memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan
Nabi maupun orang-orang yang beriman
besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan
mereka dan di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka
akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan)
kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya
kami, dan maafkanlah kami,
sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrīm [66]:9).
Kemajuan Ruhani Tak Terbatas Dalam Surga
Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan pada pihak orang-orang yang
beriman di surga -- sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, “Hai
Rabb
(Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya
kami“ -- menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah
kehidupan menganggur, firman-Nya:
اِنَّ
اَصۡحٰبَ الۡجَنَّۃِ الۡیَوۡمَ
فِیۡ شُغُلٍ فٰکِہُوۡنَ ﴿ۚ﴾ ہُمۡ وَ اَزۡوَاجُہُمۡ فِیۡ ظِلٰلٍ عَلَی
الۡاَرَآئِکِ مُتَّکِـُٔوۡنَ ﴿﴾ لَہُمۡ فِیۡہَا
فَاکِہَۃٌ وَّ لَہُمۡ مَّا یَدَّعُوۡنَ
﴿ۚۖ﴾ سَلٰمٌ ۟ قَوۡلًا
مِّنۡ رَّبٍّ رَّحِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya
para ahli surga pada hari itu akan
bergembira dalam kesibukan mereka. Mereka
dan istri-istri mereka berada di
tempat-tempat teduh sambil bersandar di atas dipan-dipan. Bagi mereka di dalamnya ter-sedia buah-buahan, dan bagi mereka apa pun yang mereka
minta. ”Salām” (Selamat sejahtera) adalah ucapan selamat dari Rabb (Tuhan) Yang Maha Penyayang (Yā Sīn
[36]:56-59).
Kehidupan di alam akhirat yang pada umumnya keliru diartikan itu, bukanlah kehidupan santai dan bermalas-malas, melainkan suatu kehidupan dengan kesibukan kerja terus-menerus
dan kemajuan ruhani yang senantiasa
meningkat.
Ayat 57 menjelaskan bahwa segala kegembiraan dan kebahagiaan bertambah lipat
ganda bila seseorang menikmatinya
bersama-sama dengan orang-orang yang dicintainya. Dalam ayat ini hanya
disebut istri/suami, sedangkan dalam Surah lain disebutkan pula kedua orang tua dan anak keturunan mereka, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ
یَحۡمِلُوۡنَ الۡعَرۡشَ وَ مَنۡ حَوۡلَہٗ یُسَبِّحُوۡنَ بِحَمۡدِ رَبِّہِمۡ وَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ
یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۚ
رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ
وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ۙ﴿﴾ وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ
یَوۡمَئِذٍ فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ
ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪﴿﴾
Wujud-wujud yang memikul ‘Arasy dan yang
di sekitarnya, mereka bertasbih
dengan pujian (Rabb) Tuhan mereka, dan
mereka beriman kepada-Nya dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman: رَبَّنَا وَسِعۡتَ
کُلَّ شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ
-- “Wahai Rabb (Tuhan) kami, Engkau
meliputi segala sesuatu dengan rahmat
dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat
dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam. رَبَّنَا وَ
اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ
اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ
ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ۙ
-- “Hai Rabb (Tuhan) kami, karena itu masukkanlah
mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu pun orang-orang
yang beramal saleh dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan-keturunan
mereka. Sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ
السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ
ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ
-- “Dan lindungilah mereka dari segala keburukan.
Dan barangsiapa Engkau pelihara dari
keburukan-keburukan pada hari itu
maka sungguh Engkau telah mengasihinya, dan yang demikian itu kemenangan yang besar.” (Mu’min
[40]:8-10). Lihat pula QS.13:24;
QS.52:22.
Makna ‘Arasy (Singgasana) Ilahi
Karena ‘Arasy berarti
Sifat-sifat Tanzihiyyah Ilahi yakni Sifat-sifat
yang khusus dimiliki Allah Swt. maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” akan berarti makhluk-makhluk atau orang-orang
yang dengan perantaraan mereka Sifat-sifat
Ilahi itu diwujudkan, yaitu Sifat-sifat Tasybihiyyah -- yaitu
Sifat-sifat Tuhan yang sampai
batas tertentu dimiliki dan dapat diperagakan pula oleh makhluk-Nya, contohnya
4 Sifat Ilahi dalam Surah Al-Fatihah.
'Arasy (singgasana) menggambarkan Sifat-sifat
Tanzihiyyah Allah Swt. yakni sifat-sifat yang tidak terdapat
dalam wujud lain mana pun. Keempat sifat Allah Swt. yang tersebut dalam Surah Al-Ikhlash merupakan Sifat-sifat tanzihiyyah-Nya. Sifat-sifat Ilahi ini abadi dan tidak
bisa berubah dan diwujudkan melalui Sifat-sifat Tasybihiyyah-Nya, yakni Sifat-sifat Ilahi yang juga sampai batas tertentu terdapat dan dapat dimiliki oleh wujud-wujud lainnya.
Sifat-sifat Ilahi yang dikatakan sebagai
pemikul-pemikul 'Arasy, Sifat-sifat itu adalah Rabbul-'Aalamin,
Ar-Rahmān, Ar-Rahīm, dan Māliki Yaumid-Dīn (QS.1:1-4). Bahwa ‘Arasy Ilahi
menggambarkan Sifat-sifat Tanzihiyyah
Allah Swt. nampak juga dari QS.23:117, yang menunjukkan bahwa “Tauhid Ilahi” itu sangat erat hubungannya dengan 'Arasy-Nya,
sebab hanya Sifat-sifat Tanzihiyyah itulah yang merupakan bukti yang sebenarnya mengenai Tauhid Ilahi, karena Sifat-sifat Allah Swt. lainnya dapat
dimiliki juga oleh manusia dalam derajat-derajat
yang berbeda.
Sehubungan dengan proses penciptaan alam
semesta jasmani yang dikemukakan dalam Al-Quran, kata-kata “Allah Swt. bersemayam di atas ‘Arasy/Singgasana”
yang dikemukakan dalam Al-Quran (QS.7:55; QS.10:4; QS.11:8; QS.25:60; QS.32:5; QS.41:10-13), berarti
bahwa sesudah alam semesta jasmani
terwujud, Sifat-sifat Tanzihiyyah dan Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah
Swt. mulai bekerja dan segala urusan dunia mulai diatur melalui perangkat hukum-hukum alam dan menjadi berada
dalam lingkup tata kerja yang
sempurna.
Karena hukum alam bekerja dengan perantaraan malaikat-malaikat, dan para nabi Allah merupakan wahana
yang dengan perantaraan mereka Kalamullāh
(firman Allah Swt.) disampaikan kepada umat manusia, maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” dapat berarti pula
para malaikat dan para utusan (rasul) Tuhan, dan kata-kata “mereka
yang ada di sekitarnya” dapat berarti para malaikat yang dibawahi dan membantu para malaikat yang utama dalam menyelenggarakan urusan-urusan dunia,
atau para pengikut sejati para rasul Allah yang menyampaikan dan
menyebarkan ajaran para rasul Allah.
Pentingnya Peran-serta
Orang-orang Terdekat
Kembali kepada Surah Al-Mu’min
ayat 8-10, makna ayat رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ
الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ
وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ۙ -- “Hai Rabb (Tuhan) kami, karena itu masukkanlah
mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu pun orang-orang yang beramal saleh dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan-keturunan
mereka. Sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.”
Ayat ini meletakkan suatu asas yang agung. Tidak ada pekerjaan dilaksanakan dan tidak ada kemenangan dapat dicapai oleh seseorang
di dunia ini tanpa bantuan orang
lain. Orang-orang lain masing-masing dengan sadar
atau tidak sadar telah memberikan sumbangan kepada pekerjaan itu.
Sekutu-sekutu dan pembantu-pembantu yang sadar
atau tidak sadar itu terutama ayah-bunda,
istri, dan anak-anaknya, maka anggota
keluarga yang terdekat itu pun akan diizinkan
ikut serta menikmati karunia-karunia
yang akan dianugerahkan kepada
orang-orang yang beriman atas amal-amal
shalihnya. Lihat pula QS.13:24; QS.52:22.
Pendek kata, sesuai dengan Sifat Rububiyyat Allah Swt. – yang
juga meliputi alam akhirat -- kemajuan ruhani di surga tiada berhingga, sebab bila orang-orang beriman akan
mencapai kesempurnaan yang menjadi ciri tingkat surga tertentu, mereka tidak
akan berhenti sampai di situ, melainkan serentak terlihat di hadapannya ada
tingkat kesempurnaan lebih tinggi dan
diketahuinya bahwa tingkat yang didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi maka ia akan maju
terus dan seterusnya tanpa berakhir.
Itulah makna ayat رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا -- “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami” (At-Tahrim [66]:9).
Selanjutnya tampak dari makna ayat وَ اغۡفِرۡ لَنَا -- “dan maafkanlah
kami,” bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman akan mencapai maghfirah – penutupan
kekurangan (Lexicon Lane).
Mereka akan terus-menerus berdoa
kepada Allah Swt. untuk mencapai kesempurnaan
dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas dan memandang tiap-tiap
tingkat sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu
akan berdoa kepada Allah Swt. supaya
Dia menutupi ketidaksempurnaannya
sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat
lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar,
yang secara harfiah berarti “mohon
ampunan atas segala kealpaan.”
Pengulangan Penyebutan Sifat Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm Dalam Surah Al-Fatihah
Kembali kepada pokok pembahasan mengenai
Surah Al-Fatihah, selanjutnya Allah
Swt. berfirman:
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Maha
Pemurah, Maha
Penyayang” (Al-Fatihah [1]:3).
Dalam
ungkapan Bismillāh (Surah Al-Fatihah
ayat 1) sifat Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm berlaku sebagai kunci arti seluruh Surah. Sifat-sifat itu disebut di sini secara terpisah memenuhi
satu tujuan tambahan. Sifat-sifat itu
dipakai di sini, sebagai mata rantai
antara Sifat Rabb-ul-’ālamīn dan Māliki ya-um-id-dīn.
Sehubungan Sifat Ar-Rahmān (Maha
Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penyayang) Allah Swt. berfirman dalam Surah
lain:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
ۚ﴿﴾ حٰمٓ ۚ﴿﴾ تَنۡزِیۡلٌ
مِّنَ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۚ﴿﴾ کِتٰبٌ فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا لِّقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ ۙ﴿﴾ بَشِیۡرًا وَّ نَذِیۡرًا ۚ فَاَعۡرَضَ اَکۡثَرُہُمۡ فَہُمۡ لَا یَسۡمَعُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. حٰمٓ -- Maha
Terpuji, Maha Mulia. تَنۡزِیۡلٌ مِّنَ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- Al-Quran diturunkan dari Tuhan Yang
Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sebuah Kitab yang dijelaskan Ayat-ayatnya, yang dibaca berulang-ulang dalam bahasa Arab, untuk kaum
yang mengetahui, Pemberi kabar
gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan
mereka berpaling dan mereka tidak
mendengar. (Hā Mīm – As-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:1-5).
Namun dalam Surah berikut ini sehubungan dengan diturunkan-Nya Al-Quran hanya disebut Sifat Ar-Rahmān
saja, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلرَّحۡمٰنُ ۙ﴿﴾ عَلَّمَ الۡقُرۡاٰنَ ؕ﴿﴾ خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ ۙ﴿﴾ عَلَّمَہُ الۡبَیَانَ ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلرَّحۡمٰنُ
-- Tuhan
Yang Maha Pemurah, Dia mengajarkan Al-Quran Dia menciptakan manusia, Dia mengajarnya
kejelasan bicara (Al-Rahmān [55]:1-5).
Sebabnya
antara lain karena diwahyukan-Nya Al-Quran
kepada Nabi Besar Muhammad saw. adalah
untuk seluruh umat manusia, sebagaimana misi kerasulan
Nabi Besar Muhammad saw. adalah untuk seluruh umat manusia sampai Hari
Kiamat, bukan hanya untuk umat Islam saja atau hanya untuk orang-orang
yang beriman kepada Al-Quran
saja, yakni mereka yang menyelaraskan diri dengan Sifat Rahīmiyyat Allah Swt., firman-Nya:
وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا
رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam
(Al-Anbiya [21]:108, lihat pula QS.7:159; QS.25:2; QS.34:29.
Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum
tertentu. Dengan perantaraan beliau saw. bangsa-bangsa di dunia telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu.
Al-Asmā-ul
Husna (Sifat-sifat Terindah) Allah Swt.
Kata rahmat
sangat berkaitan erat dengan kata rahmān dan rahīm karena memiliki akar
kata yang sama yaitu rahm, salah satu maknanya adalah kasih-sayang, dimana rahmat
(kasih-sayang) Allah Swt. bahkan mengatasi kemurkaan-Nya
(QS.7:157), sebagaimana dikatakan para pemikul
‘Arasy Ilahi sebelum ini firman-Nya: رَبَّنَا
وَسِعۡتَ کُلَّ شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ
-- “Wahai Rabb
(Tuhan) kami, Engkau meliputi segala
sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam (Al-Mu’mīn [40]:8).
Karena
itu Sifat Rahmān Allah Swt. telah diperintahkan Allah Swt. dalam Al-Quran
untuk menyebut Sifat-Nya selain sebutan ALLAH
-- yang merupakan nama Dzat-Nya -- sebab Sifat Ar-Rahmān Allah Swt.
meliputi Sifat-sifat-Nya yang lainnya
firman-Nya:
قُلِ
ادۡعُوا اللّٰہَ اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ
ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا
تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ بَیۡنَ ذٰلِکَ
سَبِیۡلًا ﴿﴾
Katakanlah:
“Serulah Allah atau serulah
Ar-Rahmān (Yang
Maha Pemurah), اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی --dengan
nama apa saja kamu berseru kepada
Dia milik-Nya semua nama yang
terbaik.” Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras dan jangan
pula kamu mengucapkannya terlalu lemah tetapi carilah
jalan di antara itu. (Bani Israil [17]:111). Lihat pula
Allah Swt. memiliki Sifat-sifat sempurna (al-Asmā-ul-Husna)
yang tidak terbilang jumlahnya (QS.7:181; QS.59:25), maka seorang Muslim dalam doanya ia hendaknya menyebut Sifat Ilahi tertentu yang mempunyai hubungan khas dengan perkara yang untuk perkara itu ia mohon petunjuk dan pertolongan Ilahi, firman-Nya:
ہُوَ
اللّٰہُ الَّذِیۡ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ
الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ
الَّذِیۡ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ الۡجَبَّارُ
الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ
الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ
الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ
الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dia-lah Allah,
Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Mengetahui
yang gaib dan yang nampak, ہُوَ الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ
-- Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Maha
Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber se-gala kedamaian, Pelimpahan keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk,
Maha Agung. سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha Suci Allah dari apa
yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah,
Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu,
Pemberi bentuk, لَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی -- milik
Dia-lah semua nama yang terindah. یُسَبِّحُ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Bertasbih kepada-Nya segala yang ada di seluruh langit dan bumi وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana
(Al-Hasyr [59]:23-25).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 18 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar