بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 17
Bintang-bintang
Cemerlang Pengusir “Syaitan-syaitan”
Pencuri Dengar “Suara Langit” &
Tertib yang Indah Dalam Surah Al-Fatihah & Kemustahilan Unta Masuk Lubang Jarum
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai “syaitan”
dalam QS.15:16, sebutan itu dapat dianggap menunjuk kepada ahli-ahli nujum dan tukang-tukang
tenung. Dalam hal itu “merajam syaitan-syaitan” (QS.67:6) akan
berarti bahwa manakala di dunia ini tidak ada seorang mushlih rabbani, maka ahli-ahli
nujum dan tukang-tukang sihir
akan berhasil sampai batas tertentu dalam permainan
kotornya dengan menipu
orang-orang yang bodoh, tetapi dengan
munculnya seorang mushlih rabbani -- terutama rasul Allah -- ilmu mereka
yang lancung itu terbuka kedoknya dan
orang-orang dengan mudah dapat membedakan
antara kabar-kabar gaib dari rasul-rasul Ilahi dengan dugaan-dugaan dan terkaan-terkaan dari ahli-ahli
nujum dan tukang-tukang sihir,
firman-Nya: اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ
-- kecuali jika ada orang yang mencuri dengar wahyu
Ilahi dan memutarbalikkannya maka ia dikejar kobaran nyala api yang terang-benderang (Al-Hijr [15]:16.
Fungsi Bintang-bintang Sebagai Penghias dan Penjaga Langit
Ayat
ini dapat juga diartikan, bahwa tatkala beberapa orang yang buruk pikirannya, mengambil sepotong
dari wahyu Ilahi dengan
menceraikannya dari susunan kalimatnya,
dan berusaha menyebar-luaskannya dalam bentuk
yang sudah rusak itu, maka sebuah tanda baru datang laksana sekilas cahaya yang berbinar-binar lalu menghancur-leburkan
rencana-rencana buruk orang-orang
yang bertingkah laku seperti syaitan
itu. firman-Nya:
اِنَّا
زَیَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡیَا
بِزِیۡنَۃِۣ الۡکَوَاکِبِ ۙ﴿﴾ وَ حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ ۚ﴿﴾ لَا یَسَّمَّعُوۡنَ
اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ کُلِّ
جَانِبٍ ٭ۖ﴿﴾ دُحُوۡرًا وَّ
لَہُمۡ عَذَابٌ وَّاصِبٌ ۙ﴿﴾ اِلَّا مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ
شِہَابٌ ثَاقِبٌ ﴿﴾
Sesungguhnya
Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah
memeliharanya dari setiap
syaitan durhaka. Mereka tidak dapat mendengar-dengarkan pembicaraan
majlis malaikat-malaikat yang tinggi
dan mereka dilempari dari segala penjuru.
Terusir
dan bagi mereka ada azab yang kekal.
Kecuali barangsiapa mencuri-curi sesuatu
pembicaraan maka ia dikejar oleh cahaya api yang cemerlang. (Ash-Shāffāt
[37]:7-11).
Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya mengenai QS.15:15-16, ayat ini menunjuk kepada kesejajaran antara alam kebendaan dan alam
keruhanian, bahwa seperti halnya cakrawala
alam lahir didukung oleh adanya planit-planit
dan bintang-bintang, demikian pula cakrawala alam ruhani didukung oleh
adanya planit-planit dan bintang-bintang yang terdiri dari nabi-nabi dan mushlih-mushlih rabbani.
Tiap-tiap wujud mereka itu berperan sebagai perhiasan bagi cakrawala alam
keruhanian, sebagaimana bintang-bintang
dan planit-planit di langit memperindah dan menghiasi cakrawala alam jasmani
ini, firman-Nya:
وَ عَلٰمٰتٍ ؕ وَ بِالنَّجۡمِ
ہُمۡ یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ اَفَمَنۡ یَّخۡلُقُ کَمَنۡ لَّا یَخۡلُقُ ؕ اَفَلَا
تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ ﴾
Dan Dia menciptakan tanda-tanda yang lain, dan dengan bintang-bintang itu mereka dapat mengikuti petunjuk arah
yang benar. Apakah Dia Yang mencipta-kan sama dengan
yang tidak menciptakan? Tidakkah
kamu mau mengambil pelajaran?
(An-Nahl [16]:17).
Ayat
ini mengandung arti, bahwa sekiranya bumi ini permukaannya datar seluruhnya dan
tidak ada pendakian dan penurunan, tidak ada lembah-lembah, gunung-gunung atau
sungai-sungai, maka boleh dikata hampir tidak mungkin bagi manusia untuk
mencari jalan dari satu tempat ke tempat lain.
Ciri-ciri khas yang berbeda-beda
pada permukaan bumi menolong manusia untuk mengetahui jalan mereka. Zaman
sekarang, sempadan-sempadan (tanda-tanda batas) alami telah terbukti merupakan
penolong besar untuk penerbangan. Bintang-bintang pun menolong kaum musafir kelana menemukan jalan mereka di daratan dan di lautan.
Mengapa
para para rasul Allah tersebut –
terutama Nabi Besar Muhammad saw. – disebut syihābun-
mubīn (nyala yang terang benderang- QS.15:16) atau syihābun- tsāqib (nyala api yang bercahaya cemerlang – QS.37:11)
yang mampu membuka berbagai kedok penipuan atau pensalah-tafsiran
atau sihir yang dilakukan para ahli nujum seperti yang dilakukan Samiri serta orang-orang yang sejenis di masa pengutusan
rasul Allah yang dijanjikan karena kepada wujud-wujud suci itulah Allah Swt. berkenan membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya, firman-Nya:
عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ
یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ
اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ
بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ
عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka
sesungguhnya baris-an pengawal berjalan
di hadapannya dan di belakangnya,
supaya Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyam-paikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan
Dia meliputi semua yang ada pada mereka
dan Dia membuat perhitungan mengenai
segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti: diberi
pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan
mengenai peristiwa dan kejadian yang
sangat penting. Contohnya pemberitahuan
rahasia Al-Asmā Allah Swt. kepada Adam – Khalifah Allah (QS.2:31-35),
yakni rasul Allah (QS.3:180).
Ayat-ayat
ini merupakan ukuran yang tiada tara
bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib
yang dibukakan kepada seorang rasul Allah
dan rahasia-rahasia
gaib yang dibukakan kepada orang-orang
bertakwa lainnya. Perbedaan itu
letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul
Allah dianugerahi izhhar ‘ala
al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia
yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa
dan orang-orang suci lainnya tidak
menikmati kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan
oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak
begitu terpelihara.
Dua Macam Syaitan & Syaitan yang Terusir
dari Golongan “Jin” (Ahli Kitab)
Syaitan-syaitan itu terdiri dari dua golongan:
(a) musuh-musuh di dalam selimut jemaat kaum Muslimin sendiri, seperti orang-orang munafik, dan sebagainya. Mereka itu disebut “syaitan durhaka,”
seperti tersebut dalam ayat ini, dan (b) musuh-musuh dari luar atau orang-orang kafir yang disebut sebagai “syaithanirrajim”
(syaitan yang terkutuk) (QS.15:18).
Selama Kalamullāh (firman Allah) terpelihara di langit maka Kalamullāh itu aman dan terpelihara dari gangguan pencurian dan serobotan,
tetapi sesudah diturunkan kepada seorang nabi
Allah maka “syaitan” atau musuh-musuh
nabi-nabi Allah berusaha menyalah-sampaikan atau menyalahartikannya, dengan mengutip kata-kata nabi itu secara keliru atau dengan mengambil sebagian wahyunya dan mencampurkan banyak kepalsuan dengan wahyu itu, atau bahkan mereka mencoba mengemukakan ajaran
nabi itu sebagai ajaran mereka
sendiri. Tetapi kepalsuan mereka
tersingkap oleh penjelasan hakiki yang diberikan oleh sang mushlih rabbani mengenai wahyunya
itu.
Mengisyaratkan kepada keterusiran itu pulalah ucapan
salah seorang “jin” – yakni
salah seorang pemuka golongan Ahli Kitab -- dalam Surah Al-Jin [72]:1-8) yang telah dikemukakan dalam Bab 12, firman-Nya:
وَّ اَنَّا
لَمَسۡنَا السَّمَآءَ فَوَجَدۡنٰہَا
مُلِئَتۡ حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ شُہُبًا
ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّا کُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡہَا مَقَاعِدَ
لِلسَّمۡعِ ؕ فَمَنۡ یَّسۡتَمِعِ
الۡاٰنَ یَجِدۡ لَہٗ شِہَابًا
رَّصَدًا ۙ﴿﴾
Dan sesungguhnya Kami telah
berusaha menyentuh langit, namun kami
mendapatkannya penuh dengan para penjaga yang kuat dan nyala api. وَّ اَنَّا کُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡہَا مَقَاعِدَ لِلسَّمۡع -- dan sesungguhnya kami
biasa menduduki beberapa tempat duduknya untuk mendengarkan. فَمَنۡ یَّسۡتَمِعِ الۡاٰنَ یَجِدۡ لَہٗ
شِہَابًا رَّصَدًا -- Tetapi sekarang barangsiapa berusaha mendengarkannya
niscaya ia akan mendapatkan di sana
bintang menyala yang mengintai.
(Al-Jin
[72]:9-10).
Ayat-ayat tersebut merupakan lanjutan dari firman-Nya berikut ini kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ اُوۡحِیَ
اِلَیَّ اَنَّہُ اسۡتَمَعَ
نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا
اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا
ۙ﴿﴾ یَّہۡدِیۡۤ
اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ اَحَدًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ
تَعٰلٰی جَدُّ رَبِّنَا مَا
اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ
کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ
اَنۡ لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ
الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ
کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ مِّنَ
الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ رَہَقًا
ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہُمۡ
ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ
اَنۡ لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا ۙ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. قُلۡ
اُوۡحِیَ اِلَیَّ اَنَّہُ
اسۡتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ
فَقَالُوۡۤا اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا
عَجَبًا -- Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya serombongan
jin mendengarkan Al-Quran,
lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan.
یَّہۡدِیۡۤ اِلَی الرُّشۡدِ
فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ اَحَدًا -- “Al-Quran itu memberi petunjuk kepada kebenaran, maka
kami telah beriman kepadanya. Dan
kami tidak akan pernah menyekutukan seseorang dengan Rabb (Tuhan) kami, وَّ اَنَّہٗ تَعٰلٰی جَدُّ
رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا -- dan
sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami, Dia sekali-kali tidak beristri dan tidak
pula beranak, وَّ اَنَّہٗ کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ
شَطَطًا
-- Dan sesungguhnya orang-orang
bodoh di antara kami berkata dusta
berlebihan terhadap Allah, وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ اَنۡ
لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا -- dan
sesungguhnya kami menyangka ins (manusia) dan jin tidak akan pernah
mengatakan perkataan dusta terhadap Allah. وَّ اَنَّہٗ
کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ مِّنَ
الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ رَہَقًا ۙ [-- Dan
sesungguhnya ada beberapa orang dari ins (manusia) yang meminta
perlindungan kepada beberapa orang
dari jin maka menambah kesombongan mereka, وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا -- dan
sesungguhnya mereka me-nyangka
sebagaimana kamu juga menyangka
bahwa Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul. (Al-Jin
[72]:1-8).
Mustahilnya Unta Masuk Lubang
Jarum & Tertib yang Indah Dalam Surah Al-Fatihah
Jadi, kembali kepada makna
“pengusiran” Iblis dari Jannah oleh Allah Swt. karena berlaku takabbur
terhadap Adam (Khalifah Allah), maknanya adalah terusir dari surga
keridhaan Ilahi atau tertutupnya “pintu-pintu
langit ruhani” yang sebelumnya terbuka bagi mereka, firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ
اَبۡوَابُ السَّمَآءِ وَ لَا
یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ
کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ لَہُمۡ مِّنۡ جَہَنَّمَ مِہَادٌ وَّ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ غَوَاشٍ ؕ وَ کَذٰلِکَ
نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, لَا تُفَتَّحُ
لَہُمۡ اَبۡوَابُ السَّمَآءِ وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ
الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ -- tidak akan dibukakan bagi mereka
pintu-pintu langit ruhani dan tidak
pula mereka akan masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum, وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang
berdosa. لَہُمۡ مِّنۡ
جَہَنَّمَ مِہَادٌ وَّ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ
غَوَاشٍ -- Bagi mereka ada hamparan Jahannam
sedangkan di atas mereka ada selimut
Jahannam, وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی
الظّٰلِمِیۡنَ -- dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang zalim. (Al-A’rāf
[7]:41-42).
Jamal (unta) juga dapat diartikan seutas tali, sebab tali
mempunyai persamaan lebih dekat dengan benang
yang dimasukkan ke dalam lobang jarum.
Adalah mustahil bagi para pengingkar Tanda-tanda Ilahi masuk surga. Lihat Matius 19:24,
seperti mustahilnya “unta dapat melewati
lubang jarum”.
Kembali kepada
terbukanya “langit-langit ruhani”
di Akhir Zaman ini Allah Swt. melalui Al-Masih Mau’ud a.s. telah pembukaan
khazanah-khazanah ruhani Al-Quran
(QS.3:180; QS.72:27-29; QS.56:76-80). Surah Al-Fātihah
membuka suatu tertib indah dalam susunan kata-katanya dan kalimat-kalimatnya.
Surah Al-Fatihah dapat dibagi dalam dua bagian yang sama.
Separuhnya yang pertama bertalian dengan Allah Swt. separuhnya
yang kedua dengan manusia, dan tiap bagian bertalian satu sama lain dengan cara
yang sangat menarik.
Berkenaan
dengan nama Allah — yang menunjuk kepada Dzat Yang memiliki segala Sifat
mulia yang tersebut dalam bagian pertama: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ --
segala puji bagi Allah — kita dapati kata-kata: اِیَّاکَ نَعۡبُدُ -- hanya
Engkau kami sembah dalam bagian yang kedua.
Segera setelah seorang 'abid (yang melakukan ibadah)
ingat bahwa Allah Swt. bebas dari segala cacat dan kekurangan dan memiliki segala sifat sempurna, maka seruan اِیَّاکَ نَعۡبُدُ -- hanya Engkau kami sembah dengan
sendirinya timbul dari hati sanubarinya. Dan sesuai dengan sifat رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Tuhan seluruh alam tercantum kata-kata اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ -- kepada Engkau
kami mohon pertolongan dalam bagian kedua.
Setelah
orang Islam mengetahui bahwa Allah Swt. adalah Khāliq (Pencipta) dan Pemelihara seluruh alam dan Sumber dari segala kemajuan, ia segera
berlindung kepada-Nya sambil berkata َ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ -- kepada Engkau kami mohon pertolongan. Kemudian,
sesuai dengan sifat “Ar-Rahmān” — yakni Pemberi karunia tak berbilang dan Pemberi dengan cuma-cuma segala keperluan kita —
tercantum kata-kata اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ -- Tunjukilah kami
jalan yang lurus dalam bagian kedua,
sebab karunia terbesar yang tersedia
bagi manusia adalah petunjuk yang
disediakan Allah Swt. baginya
dengan menurunkan wahyu dengan
perantaraan rasul-rasul-Nya
(QS.42:52-54).
Sesuai
dengan sifat “Ar-Rahīm” — yakni
Pemberi ganjaran terbaik untuk amal
perbuatan manusia dalam bagian pertama — kita jumpai kata-kata صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ -- Jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” dalam bagian kedua, sebab memang
Ar-Rahīm-lah yang menganugerahkan nikmat-nikmat yang layak bagi hamba-hamba-Nya yang khas. Demikian pula sesuai dengan مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ --
Pemilik Hari Pembalasan kita dapatkan لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ -- Bukan jalan
mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat.
Apabila
terlintas dalam pikiran manusia bahwa ia harus memberikan pertanggungjawaban atas amal perbuatannya ia takut menemui
kegagalan, maka dengan merenungkan sifat مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ -- Pemilik Hari Pembalasan ia mulai mendoa kepada Allah Swt. supaya ia dipelihara dari murka-Nya dan dari tersesat dari jalan
lurus.
Mendorong Naluri Manusia Untuk “Berserah
Diri” Kepada Allah Swt.
Sifat
khusus lainnya pada doa yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah ini yaitu doa
tersebut mengimbau naluri-naluri manusia yang dalam dengan cara
yang wajar sekali. Dalam fitrat
manusia ada dua pendorong yang merangsangnya untuk berserah diri yaitu cinta
dan takut. Sebagian orang tergerak oleh cinta, sedangkan yang
lain terdorong oleh takut. Dorongan cinta memang lebih mulia,
tetapi mungkin ada — dan sungguh-sungguh ada — orang-orang yang hatinya tidak
tergerak oleh cinta, mereka hanya menyerah karena pengaruh takut.
Dalam
Surah Al-Fātihah kedua pendorong
manusia itu telah diimbau. Mula-mula tampil sifat-sifat
Ilahi yang membangkitkan cinta,
yaitu: رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Pencipta dan Pemelihara seluruh alam; الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ -- Maha
Pemurah dan Maha Penyayang, kemudian
segera mengikutinya sifat مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ -- Pemilik
Hari Pembalasan, yang memperingatkan
manusia bahwa bila ia tidak memperbaiki tingkah-lakunya dan
tidak menyambut cinta dengan baik maka ia harus bersedia mempertanggungjawabkan amal perbuatannya
di hadapan Allah Swt.. Dengan
demikian pendorong kepada takut dipergunakan berdampingan dengan pendorong kepada cinta.
Tetapi karena kasih-sayang Allah Swt. (rahmat-Nya) jauh
mengatasi sifat murka-Nya, maka sifat ini pun — yang merupakan
satu-satunya Sifat pokok yang
bertujuan membangkitkan takut — tidak dibiarkan tanpa menyebut kasih-sayang.
Pada hakikatnya di sini pun kasih-sayang Allah Swt. mengatasi
murka-Nya, sebab telah terkandung
juga dalam Sifat Mālikiyyat ini bahwa kita tidak akan menghadap seorang hakim melainkan
menghadap Tuhan Yang berkuasa mengampuni dan Yang hanya akan menyiksa bila siksaan itu sangat perlu
sekali.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 25 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar