Senin, 24 Agustus 2015

"BIntang-bintang Cemerlang" Pengusir "Syaitan-syaitan" Pencuri Dengar "Suara Langit" & Kemustahilan Unta Masuk Lubang Jarum

  

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 17

Bintang-bintang Cemerlang Pengusir “Syaitan-syaitan” Pencuri Dengar  “Suara Langit”  & Tertib  yang Indah Dalam Surah Al-Fatihah  & Kemustahilan Unta Masuk Lubang Jarum 

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai   “syaitan” dalam QS.15:16, sebutan itu dapat dianggap menunjuk kepada ahli-ahli nujum dan tukang-tukang tenung. Dalam hal itu “merajam syaitan-syaitan” (QS.67:6) akan berarti bahwa manakala di dunia ini tidak ada seorang mushlih rabbani, maka ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir akan berhasil sampai batas tertentu dalam permainan kotornya dengan menipu orang-orang yang bodoh, tetapi dengan munculnya seorang mushlih rabbani  -- terutama rasul Allah --  ilmu mereka yang lancung itu terbuka kedoknya dan orang-orang dengan mudah dapat membedakan antara kabar-kabar gaib dari rasul-rasul Ilahi dengan dugaan-dugaan dan terkaan-terkaan dari ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir, firman-Nya:   اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ  -- kecuali  jika ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya maka ia dikejar kobaran nyala api yang terang-benderang    (Al-Hijr [15]:16.

Fungsi Bintang-bintang  Sebagai Penghias dan Penjaga Langit

      Ayat ini dapat juga diartikan, bahwa tatkala beberapa orang yang buruk pikirannya, mengambil sepotong dari wahyu Ilahi dengan menceraikannya dari susunan kalimatnya, dan berusaha menyebar-luaskannya dalam bentuk yang sudah rusak itu, maka sebuah tanda baru datang laksana sekilas cahaya yang berbinar-binar lalu menghancur-leburkan rencana-rencana buruk orang-orang yang bertingkah laku seperti syaitan itu.  firman-Nya:
اِنَّا زَیَّنَّا السَّمَآءَ  الدُّنۡیَا بِزِیۡنَۃِۣ الۡکَوَاکِبِ ۙ﴿﴾  وَ  حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ ۚ﴿﴾  لَا یَسَّمَّعُوۡنَ  اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ  کُلِّ  جَانِبٍ ٭ۖ﴿﴾  دُحُوۡرًا  وَّ  لَہُمۡ  عَذَابٌ  وَّاصِبٌ ۙ﴿﴾  اِلَّا مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ  ثَاقِبٌ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang,  dan telah memeliharanya dari setiap syaitan durhaka.  Mereka tidak dapat mendengar-dengarkan pembicaraan majlis malaikat-malaikat yang tinggi dan mereka dilempari dari segala penjuru.  Terusir dan bagi mereka ada azab yang kekal.    Kecuali barangsiapa mencuri-curi  sesuatu pembicaraan  maka ia dikejar oleh cahaya api yang cemerlang.  (Ash-Shāffāt [37]:7-11).
     Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya mengenai QS.15:15-16, ayat ini menunjuk kepada kesejajaran antara alam kebendaan dan alam keruhanian, bahwa seperti halnya cakrawala alam lahir didukung oleh adanya planit-planit dan bintang-bintang, demikian pula cakrawala alam ruhani didukung oleh adanya planit-planit dan bintang-bintang yang terdiri dari nabi-nabi dan mushlih-mushlih rabbani.
       Tiap-tiap wujud mereka itu berperan sebagai perhiasan bagi cakrawala alam keruhanian, sebagaimana bintang-bintang dan planit-planit di langit memperindah dan menghiasi cakrawala alam jasmani ini, firman-Nya:
وَ  عَلٰمٰتٍ ؕ وَ  بِالنَّجۡمِ  ہُمۡ  یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  اَفَمَنۡ یَّخۡلُقُ کَمَنۡ لَّا یَخۡلُقُ ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ ﴾
Dan Dia  menciptakan tanda-tanda yang lain, dan dengan bintang-bintang itu mereka dapat mengikuti petunjuk arah yang benar.  Apakah Dia Yang mencipta-kan sama dengan yang tidak menciptakan? Tidakkah kamu mau mengambil pelajaran?  (An-Nahl [16]:17).
    Ayat ini mengandung arti, bahwa sekiranya bumi ini permukaannya datar seluruhnya dan tidak ada pendakian dan penurunan, tidak ada lembah-lembah, gunung-gunung atau sungai-sungai, maka boleh dikata hampir tidak mungkin bagi manusia untuk mencari jalan dari satu tempat ke tempat lain.
        Ciri-ciri khas yang berbeda-beda pada permukaan bumi menolong manusia untuk mengetahui jalan mereka. Zaman sekarang, sempadan-sempadan (tanda-tanda batas) alami telah terbukti merupakan penolong besar untuk penerbangan. Bintang-bintang pun menolong kaum musafir kelana menemukan jalan mereka di daratan dan di lautan.
        Mengapa para para rasul Allah tersebut – terutama Nabi Besar Muhammad saw.  – disebut syihābun- mubīn (nyala yang terang benderang- QS.15:16) atau syihābun- tsāqib (nyala api yang bercahaya cemerlang – QS.37:11) yang mampu membuka berbagai kedok penipuan  atau pensalah-tafsiran atau sihir yang dilakukan para ahli nujum  seperti yang dilakukan Samiri   serta orang-orang yang sejenis di masa  pengutusan  rasul Allah yang dijanjikan  karena kepada wujud-wujud suci itulah Allah Swt. berkenan membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya, firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya baris-an pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyam-paikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
   Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti: diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting. Contohnya pemberitahuan rahasia Al-Asmā Allah Swt. kepada Adam – Khalifah Allah (QS.2:31-35), yakni rasul Allah (QS.3:180).
  Ayat-ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah  dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa  lainnya. Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah  dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib  yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
  Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.

Dua Macam Syaitan  & Syaitan  yang Terusir dari Golongan “Jin” (Ahli Kitab)  
         Syaitan-syaitan itu terdiri dari dua golongan: (a) musuh-musuh di dalam selimut jemaat kaum Muslimin sendiri, seperti orang-orang munafik, dan sebagainya. Mereka itu disebut “syaitan durhaka,” seperti tersebut dalam ayat ini, dan (b) musuh-musuh dari luar atau orang-orang kafir yang disebut sebagai “syaithanirrajim” (syaitan yang terkutuk) (QS.15:18).
         Selama Kalamullāh (firman Allah) terpelihara di langit maka Kalamullāh itu aman dan terpelihara dari gangguan pencurian dan serobotan, tetapi sesudah diturunkan kepada seorang nabi Allah maka “syaitan” atau musuh-musuh nabi-nabi Allah berusaha menyalah-sampaikan atau menyalahartikannya, dengan mengutip kata-kata nabi itu secara keliru atau dengan mengambil sebagian wahyunya dan mencampurkan banyak kepalsuan dengan wahyu itu, atau bahkan mereka mencoba mengemukakan  ajaran nabi itu sebagai ajaran mereka sendiri. Tetapi kepalsuan mereka tersingkap oleh penjelasan hakiki yang diberikan oleh sang mushlih rabbani mengenai wahyunya itu.
          Mengisyaratkan kepada keterusiran  itu pulalah ucapan  salah seorang “jin” – yakni salah seorang pemuka golongan Ahli Kitab   -- dalam Surah Al-Jin [72]:1-8) yang telah dikemukakan dalam  Bab 12,  firman-Nya:  
وَّ اَنَّا لَمَسۡنَا السَّمَآءَ  فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ  شُہُبًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّا کُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡہَا مَقَاعِدَ لِلسَّمۡعِ ؕ فَمَنۡ  یَّسۡتَمِعِ الۡاٰنَ  یَجِدۡ لَہٗ  شِہَابًا  رَّصَدًا ۙ﴿﴾
Dan sesungguhnya Kami telah berusaha menyentuh langit, namun kami mendapatkannya penuh dengan para penjaga yang kuat dan nyala api.  وَّ اَنَّا کُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡہَا مَقَاعِدَ لِلسَّمۡع -- dan sesungguhnya kami biasa menduduki beberapa tempat duduknya untuk mendengarkan. فَمَنۡ  یَّسۡتَمِعِ الۡاٰنَ  یَجِدۡ لَہٗ  شِہَابًا  رَّصَدًا -- Tetapi sekarang barangsiapa berusaha mendengarkannya niscaya ia akan mendapatkan di sana bintang menyala yang mengintai. (Al-Jin [72]:9-10).
    Ayat-ayat tersebut merupakan  lanjutan dari firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ  اُوۡحِیَ  اِلَیَّ  اَنَّہُ  اسۡتَمَعَ  نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا  اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا  ۙ﴿﴾  یَّہۡدِیۡۤ  اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّہٗ  کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ  اَنۡ  لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا ۙ﴿﴾  وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا ۙ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  قُلۡ  اُوۡحِیَ  اِلَیَّ  اَنَّہُ  اسۡتَمَعَ  نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا  اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا     --  Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya  serombongan jin  mendengarkan Al-Quran, lalu  mereka berkata: “Sesungguhnya  kami telah mendengar Al-Quran yang  menakjubkan.  یَّہۡدِیۡۤ  اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا  --    Al-Quran itu memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami telah beriman kepadanya. Dan kami  tidak akan pernah menyekutukan seseorang dengan Rabb (Tuhan) kami, وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا  --   dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan  Rabb (Tuhan) kami,  Dia sekali-kali tidak beristri dan tidak pula beranak,  وَّ اَنَّہٗ  کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا  --   Dan sesungguhnya  orang-orang bodoh di antara kami berkata dusta berlebihan terhadap Allah,  وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ  اَنۡ  لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا -- dan sesungguhnya  kami menyangka ins (manusia) dan jin   tidak akan pernah mengatakan perkataan  dusta terhadap Allah. وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ [--  Dan sesungguhnya  ada beberapa orang dari ins (manusia)  yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin maka  menambah kesombongan mereka,  وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا  --    dan sesungguhnya mereka me-nyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul. (Al-Jin [72]:1-8).

Mustahilnya Unta Masuk Lubang Jarum  & Tertib yang Indah Dalam Surah Al-Fatihah

    Jadi, kembali kepada makna  “pengusiran” Iblis dari Jannah  oleh Allah Swt. karena berlaku takabbur terhadap Adam (Khalifah Allah), maknanya adalah terusir dari surga keridhaan Ilahi  atau tertutupnya “pintu-pintu langit ruhani” yang sebelumnya terbuka  bagi mereka, firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ  کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ  اَبۡوَابُ السَّمَآءِ  وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾  لَہُمۡ مِّنۡ جَہَنَّمَ مِہَادٌ  وَّ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ غَوَاشٍ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan  takabur berpaling darinya,  لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ  اَبۡوَابُ السَّمَآءِ  وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ  --  tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit ruhani dan tidak pula mereka akan masuk surga  hingga unta masuk ke lubang jarumوَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ --   dan demikianlah Kami membalas  orang-orang  yang  berdosa.  لَہُمۡ مِّنۡ جَہَنَّمَ مِہَادٌ  وَّ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ غَوَاشٍ --   Bagi mereka ada hamparan   Jahannam sedangkan di atas mereka ada selimut Jahannam, وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ  --  dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang zalim. (Al-A’rāf [7]:41-42).
  Jamal (unta) juga dapat diartikan seutas tali, sebab tali mempunyai persamaan lebih dekat dengan benang yang dimasukkan ke dalam lobang jarum. Adalah mustahil bagi para pengingkar Tanda-tanda Ilahi masuk surga. Lihat Matius 19:24, seperti mustahilnya “unta dapat melewati lubang jarum”.
         Kembali kepada  terbukanya “langit-langit ruhani” di Akhir Zaman ini  Allah Swt. melalui Al-Masih Mau’ud a.s.  telah   pembukaan  khazanah-khazanah ruhani Al-Quran (QS.3:180; QS.72:27-29; QS.56:76-80). Surah Al-Fātihah  membuka suatu tertib indah dalam susunan kata-katanya dan kalimat-kalimatnya.
     Surah Al-Fatihah  dapat dibagi dalam dua bagian yang sama. Separuhnya yang pertama bertalian dengan  Allah Swt.   separuhnya yang kedua dengan manusia, dan tiap bagian bertalian satu sama lain dengan cara yang sangat menarik.
      Berkenaan dengan nama  Allah  — yang menunjuk kepada Dzat Yang memiliki segala Sifat mulia yang tersebut dalam bagian pertama: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ --  segala puji bagi Allah  — kita dapati kata-kata:    اِیَّاکَ نَعۡبُدُ -- hanya Engkau kami sembah dalam bagian yang kedua.
       Segera setelah  seorang 'abid (yang melakukan ibadah) ingat bahwa  Allah Swt.   bebas dari segala cacat dan kekurangan dan memiliki segala sifat sempurna, maka seruan اِیَّاکَ نَعۡبُدُ --  hanya Engkau kami sembah dengan sendirinya timbul dari hati sanubarinya. Dan sesuai dengan sifat رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --  Tuhan seluruh alam  tercantum kata-kata  اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ --   kepada Engkau kami mohon pertolongan dalam bagian kedua.
         Setelah orang Islam mengetahui bahwa  Allah Swt.   adalah  Khāliq (Pencipta) dan Pemelihara seluruh alam dan Sumber dari segala kemajuan, ia segera berlindung kepada-Nya sambil berkata  َ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ  --  kepada Engkau kami mohon pertolongan. Kemudian, sesuai dengan sifat “Ar-Rahmān” — yakni Pemberi karunia tak berbilang dan Pemberi dengan cuma-cuma segala keperluan kita — tercantum kata-kata  اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ --   Tunjukilah kami jalan yang lurus  dalam bagian kedua, sebab karunia terbesar yang tersedia bagi manusia adalah  petunjuk yang disediakan  Allah Swt. baginya dengan menurunkan wahyu dengan  perantaraan rasul-rasul-Nya (QS.42:52-54).
       Sesuai dengan sifat “Ar-Rahīm” —  yakni Pemberi ganjaran terbaik untuk amal perbuatan manusia dalam bagian pertama — kita jumpai kata-kata صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ   --   Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” dalam bagian kedua, sebab memang Ar-Rahīm-lah yang menganugerahkan nikmat-nikmat yang layak bagi hamba-hamba-Nya yang khas. Demikian pula sesuai dengan  مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ --  Pemilik Hari Pembalasan  kita dapatkan لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ --   Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat.  
   Apabila  terlintas dalam pikiran manusia bahwa ia harus memberikan pertanggungjawaban atas amal perbuatannya ia takut menemui kegagalan, maka dengan merenungkan sifat مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ  -- Pemilik Hari Pembalasan ia mulai mendoa kepada Allah Swt.  supaya ia dipelihara dari murka-Nya dan dari  tersesat  dari jalan lurus.

Mendorong Naluri Manusia Untuk “Berserah Diri” Kepada Allah Swt.

        Sifat khusus lainnya pada doa yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah  ini yaitu  doa tersebut mengimbau naluri-naluri manusia yang dalam dengan cara yang wajar sekali. Dalam fitrat manusia ada dua pendorong yang merangsangnya untuk berserah diri yaitu  cinta dan takut. Sebagian orang tergerak oleh cinta, sedangkan yang lain terdorong oleh takut. Dorongan cinta memang lebih mulia, tetapi mungkin ada — dan sungguh-sungguh ada — orang-orang yang hatinya tidak tergerak oleh cinta, mereka hanya menyerah karena pengaruh takut.
         Dalam Surah  Al-Fātihah kedua pendorong manusia itu telah diimbau. Mula-mula tampil sifat-sifat Ilahi yang membangkitkan cinta, yaitu: رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --  Pencipta dan Pemelihara seluruh alam; الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  --  Maha Pemurah dan  Maha Penyayang, kemudian segera mengikutinya sifat مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ  --  Pemilik Hari Pembalasan, yang memperingatkan manusia bahwa  bila ia tidak memperbaiki tingkah-lakunya dan tidak menyambut cinta dengan baik maka ia harus bersedia mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan  Allah Swt..    Dengan demikian pendorong kepada  takut dipergunakan berdampingan dengan pendorong kepada cinta.
       Tetapi  karena kasih-sayang  Allah Swt. (rahmat-Nya)    jauh mengatasi sifat murka-Nya, maka sifat ini pun — yang merupakan satu-satunya Sifat pokok yang bertujuan membangkitkan takut — tidak dibiarkan tanpa menyebut kasih-sayang. Pada hakikatnya di sini pun kasih-sayang  Allah Swt.   mengatasi murka-Nya, sebab telah terkandung juga dalam Sifat Mālikiyyat ini bahwa kita tidak akan menghadap seorang hakim melainkan menghadap Tuhan Yang berkuasa mengampuni dan Yang hanya akan menyiksa bila siksaan itu sangat perlu sekali.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 25 Agustus 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar