Rabu, 19 Agustus 2015

Hubungan Ketakabburan Iblis Terhadap Adam (Khalifah Allah) dengan Itikad Sesat "Laa Nabiyya Ba'dahu" (Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya) Sebagai Penyebab Utama Pendustaan dan Penentangan Kedatangan Para Rasul Allah di Setiap Zaman


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 12

Hubungan Ketakaburan  Iblis Terhadap Adam (Khalifah Allah) dengan Itikad Sesat  Lā Nabiyya Ba’dahu (Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya) Sebagai Penyebab  Pendustaan dan  Penentangan Kedatangan  Para Rasul Allah di Setiap Zaman

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai orang-orang yang putus-asa dari rahmat Allah Swt., yang dalam Al-Quran diabadikan berupa kisah monumental “Adam, Malaikat dan Iblis”, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ ﴿۳۳﴾ وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman  kepada para  malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang  khalifah di bumi”, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa men-sucikan Engkau?” Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”   Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya kemudian Dia mengemukakan mereka itu  kepada para malaikat lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar.” Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak  memiliki  pe-ngetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”   Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah  kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu, Dia berfirman: “Bu-kankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui  rahasia seluruh langit dan bumi  dan mengetahui apa pun yang kamu nyatakan dan apa pun yang    kamu sembunyikan?”  وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ --   Dan ingatlah  ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah  yakni tunduk-patuhlah  kamu kepada  Adamفَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ -- lalu mereka sujud ke-cuali  iblis, اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَبٰی  وَ --   ia menolak dan takaburdan   ia  termasuk dari antara orang-orang yang  kafir. (Al-Baqarah [2]:31-35).
       Kata iblis   yang berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang Allah Swt. (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.

Makna Kata Iblis

       Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang (rahmat) Allah Swt.  oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.
      Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allsh Swt. sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7).
         Allah Swt.  telah murka kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam a.s.   tetapi iblis membangkang  karena menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam a.s.(QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis, perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga (pengendali) berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.
       Seperti dinyatakan di atas, iblis  sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)  kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali  luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang (rahmat) Allah Swt..  
       Bahwa iblis bukanlah syaitan — yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam a.s.  dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikat — menolak berbakti (sujud) kepada Adam a.s.   maka senantiasa Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam a.s. harus keluar (hijrah) dari “kebun” (jannah)   -- yang umumnya dimaknai “surga”  -- maka Al-Quran menyebutnya dengan nama  syaitan
       Perbedaan  penyebutan iblis dan syaitan (setan)  ini sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran, sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis   berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s.  dan merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri. Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat — mampu menaati atau menentang Allah  Swt.  (QS.7:12-13).

Iblis Berasal dari Golongan Jin

   Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran, selaras dengan ketakabburan yang diperagakannya  terhadap  Adam a.s.— yakni Khalifah Allah (QS.2:31)  --  iblis berasal dari golongan jin, firman-Nya:
وَ اِذۡ  قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ کَانَ مِنَ  الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ ؕ اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ  وَ ہُمۡ  لَکُمۡ عَدُوٌّ ؕ بِئۡسَ  لِلظّٰلِمِیۡنَ  بَدَلًا ﴿﴾  مَاۤ  اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ وَ مَا کُنۡتُ مُتَّخِذَ  الۡمُضِلِّیۡنَ  عَضُدًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یَقُوۡلُ نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ  الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّوۡبِقًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ --  "Sujudlah yakni patuhlah kepada  Adam," maka  sujudlah mereka  kecuali iblis, کَانَ مِنَ  الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ   -- ia   dari golongan jin  maka ia mendurhakai perintah Rabb-nya (Tuhan-nya). Apakah kamu hendak mengambil dia dan keturunannya sebagai sahabat-sahabat selain Aku, padahal mereka itu musuh-musuh kamu? Sangat buruk  bagi orang-orang yang zalim pertukaran itu. Aku   sekali-kali tidak membuat mereka menyaksikan penciptaan seluruh langit dan bumi,   dan tidak pula penciptaan mereka sendiri, dan Aku sama sekali tidak dapat mengambil mereka yang menyesatkan orang-orang sebagai pembantu. (Al-Kahf [18]:51-52).
   Ayat 52 ini agaknya menunjukkan, bahwa ketika itu di mana-mana umum akan ramai memperbincangkan tertib dunia baru yang akan mengumandangkan tibanya satu masa keamanan dan kerukunan yang kekal abadi di dunia, dan mereka yang mengaku-ngaku dirinya pemimpin yang menentukan haluan politik dan masyarakat akan berusaha dan mendakwakan untuk menegakkan tertib baru, tetapi mereka tidak akan berhasil dalam usaha mereka, sebab Allah Swt.  telah memperuntukkan bagi Dzat-Nya Sendiri pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan agung ini dengan sempurna, yaitu melalui pengutusan Rasul-Nya, salah satu contohnya adalah Nabi Adam a.s.,  yang pada zamannya beliau telah ditetapkan sebagai “Khalifah Allah” (QS.2:31-35), sekali pun mendapat penentangan keras dari   golongan mayoritas   yang dalam Al-Quran disebut iblis.
    Demikian juga  pada zaman pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. pun merupakan “Adam” (Khalifah Allah) pada waktu itu,  bahkan beliau saw. merupakan ”Adam” (Khalifah Allah) yang paling agung. Ada pun yang berperan sebagai iblis   bukan hanya para pemuka kaum kafir Quraisy Mekkah pimpinan Abu Jahal, tetapi juga  para pemuka golongan Ahli Kitab, terutama kaum Yahudi di Madinah.

Segolongan “Jin” dari Kalangan Ahli Kitab yang Beriman Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

 Orang-orang dari golongan Ahli Kitab inilah yang disebut jin  dalam Surah Al-Ahqaf dan Surah Al-Jin, yang secara   rahasia mereka bertemu di malam hari dengan Nabi Besar Muhammad saw. untuk mendengarkan wahyu Al-Quran, dan kemudian mereka beriman kepada beliau saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ صَرَفۡنَاۤ  اِلَیۡکَ نَفَرًا مِّنَ الۡجِنِّ یَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ۚ فَلَمَّا حَضَرُوۡہُ قَالُوۡۤا  اَنۡصِتُوۡا ۚ فَلَمَّا قُضِیَ وَلَّوۡا اِلٰی قَوۡمِہِمۡ  مُّنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ  اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا  اُنۡزِلَ مِنۡۢ  بَعۡدِ مُوۡسٰی مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ  اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾ یٰقَوۡمَنَاۤ  اَجِیۡبُوۡا دَاعِیَ اللّٰہِ  وَ اٰمِنُوۡا بِہٖ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ  مِّنۡ ذُنُوۡبِکُمۡ  وَ   یُجِرۡکُمۡ مِّنۡ عَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾  وَ مَنۡ  لَّا یُجِبۡ دَاعِیَ اللّٰہِ  فَلَیۡسَ بِمُعۡجِزٍ فِی  الۡاَرۡضِ وَ لَیۡسَ لَہٗ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءُ ؕ اُولٰٓئِکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika  Kami hadapkan kepada engkau segolongan dari jin  yang ingin mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka hadir kepadanya mereka berkata: "Diamlah dan dengarkanlah!"  Maka tatkala telah selesai mereka kembali kepada kaum mereka untuk memberi peringatan.  قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ  اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا  اُنۡزِلَ مِنۡۢ  بَعۡدِ مُوۡسٰی  -- Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya  kami telah mendengar suatu Kitab yang telah diturunkan sesudah Musa مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ  اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- menggenapi apa yang ada sebelumnya dan  memimpin kepada kebenaran serta kepada jalan yang lurus.   Hai  kaum kami, sambutlah penyeru kepada Allah dan berimanlah kepadanya, maka Dia akan mengampuni dosa-dosa kamu, dan Dia akan melindungi kamu dari azab yang pedih.  Dan barangsiapa tidak menyambut penyeru kepada Allah,  maka ia tidak dapat melemahkannya di bumi dan tidak ada baginya pelindung-pelindung selain Dia,  mereka itu dalam kesesatan yang nyata."  (Al-Ahqāf [46]:30-33).
     Golongan jin yang diisyaratkan dalam ayat ini  bukan  golongan makhluk halus yang disebut jin,  melainkan adalah orang-orang Yahudi dari Nashibin, atau seperti sumber lain mengatakan, adalah orang-orang Yahudi dari Maushal atau Ninewe, Irak. Karena takut akan penentangan dari orang-orang Mekkah, mereka menjumpai       Nabi Besar Muhammad saw.  pada waktu malam, dan setelah mereka mendengarkan pembacaan Al-Quran dan tutur Nabi Besar Muhammad saw.  mereka masuk Islam dan menyampaikan agama baru itu kepada kaum mereka yang juga dengan suka hati menerimanya (Fath-ul-Bayan, jilid ke-8). Lihat juga QS.72:2.
         Ayat selanjutnya:   قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ  اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا  اُنۡزِلَ مِنۡۢ  بَعۡدِ مُوۡسٰی  --  Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya  kami telah mendengar suatu Kitab yang telah diturunkan sesudah Musa مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ  اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ --      menggenapi apa yang ada sebelumnya dan  memimpin kepada kebenaran serta kepada jalan yang lurus,”   ayat  ini menunjukkan bahwa golongan jin yang disebut dalam ayat sebelumnya adalah orang-orang Yahudi, sebab mereka mengatakan tentang Al-Quran sebagai "Kitab yang telah diturunkan sesudah Musa."

Itikad Sesat “Lā Nabiyya Ba’dahu“ (Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya) di Zaman Nabi Yusuf a.s. dan Nabi Musa a.s.

        Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah firman Allah Swt.  dalam Surah berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ  اُوۡحِیَ  اِلَیَّ  اَنَّہُ  اسۡتَمَعَ  نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا  اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا  ۙ﴿﴾  یَّہۡدِیۡۤ  اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّہٗ  کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ  اَنۡ  لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا ۙ﴿﴾  وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا ۙ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  قُلۡ  اُوۡحِیَ  اِلَیَّ  اَنَّہُ  اسۡتَمَعَ  نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا  اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا     --  Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya  serombongan jin  mendengarkan Al-Quran, lalu  mereka berkata: “Sesungguhnya  kami telah mendengar Al-Quran yang  menakjubkan.  یَّہۡدِیۡۤ  اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا  --    Al-Quran itu memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami telah beriman kepadanya. Dan kami  tidak akan pernah menyekutukan sese-orang dengan Tuhan kami, وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا  --   dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan  Rabb (Tuhan) kami,  Dia sekali-kali tidak beristri dan tidak pula beranak,  وَّ اَنَّہٗ  کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا  --   Dan sesungguhnya  orang-orang bodoh di antara kami berkata dusta berlebihan terhadap Allah,  وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ  اَنۡ  لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا -- dan sesungguhnya  kami menyangka ins (manusia) dan jin   tidak akan pernah mengatakan perkataan  dusta terhadap Allah. وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ [--  Dan sesungguhnya  ada bebe-rapa orang dari ins (manusia)  yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin maka  menambah ke-sombongan mereka,  وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا  --    dan sesungguhnya mereka me-nyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan per-nah membangkitkan seorang rasul. (Al-Jin [72]:1-8).
     Isyarat dalam ayat-ayat ini mungkin tertuju kepada segolongan orang Yahudi dari Nashibin. Mereka bukan bangsa Arab dan karena mereka itu orang-orang asing, maka mereka disebut “jin”, yang berarti antara lain orang asing (Lexicon Lane). Peristiwa yang disebut dalam ayat ini nampaknya lain (berbeda) dari peristiwa yang disebut dalam QS.46:30-33, meskipun ayat ini dianggap oleh beberapa sumber menunjuk kepada ayat-ayat itu, sebab kata-kata yang diucapkan oleh “jin” dalam ayat ini mempunyai kemiripan dengan kata-kata yang diucapkan oleh segolongan jin yang disebut dalam QS.46:30-33. 
  Ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” itu orang-orang Kristen yang berpegang kepada Tauhid, atau orang-orang Yahudi  yang bersekutu erat dengan mereka, atau  yang karena ada di bawah pengaruh mereka, baik dalam sikap mau pun hubungan dengan paham-paham Kristen.
   Karena kata rijāl hanya dipakai mengenai manusia, ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” yang tersebut dalam ayat ini dan dalam Surah Al-Ahqāf itu adalah manusia dan bukan suatu jenis makhluk lain mana pun. Kata Arab jin di sini, dapat berarti orang-orang besar dan berpengaruh, dan ins – orang-orang rendah dan hina, yakni  orang-orang awam, yang dengan mengikuti golongan tersebut pertama (jin) dan mencari lindungan mereka itu, meningkatkan kesombongan dan keangkuhan  golongan jin tersebut.

Pewarisan Itikad Sesat “Lā Nabiyya Ba’dahu“ (Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya)

  Makna ayat: وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا  --    dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul.” Bahwa sejak zaman Nabi Yusuf a.s.  di kalangan orang-orang Yahudi tidak mempercayai lagi kedatangan rasul mana pun sesudah beliau , firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ  شَکٍّ  مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾  الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan dari apa yang dengannya dia datang kepada kamu,  حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا ؕ  -- hingga apabila ia telah mati  kamu berkata: “Allah  tidak akan pernah mengutus  seorang rasul pun sesudahnya.”  کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ  --  Demikianlah Allah menyesatkan  barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu. الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ   --   Yaitu orang-orang yang bertengkar mengenai  Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman, کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ  -- demikianlah Allāh mencap setiap  hati orang sombong lagi  sewenang-senang.  (Al-Mu’min [40]:35-36). 
   Nabi-nabi Allah telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu yang jauh silam  -- dan senantiasa akan terus datang (QS.7:35-37)   -- tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang kafir,   setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya,  dan ketika ia wafat lalu orang-orang yang beriman kepada nabi Allah itu berkata bahwa lā nabiyya ba’dahu   -- “tidak ada nabi akan datang lagi  sesudahnya” dan “pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya.”
    Dengan demikian jelaslah bahwa itikad lā nabiyya ba’dahu   -- “tidak ada nabi akan datang lagi  sesudahnya” merupakan itikad sesat yang diwariskan orang-orang sesat di setiap zaman kedatangan rasul Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37), berikut firman-Nya  berkenaan pendustaan terhadap Nabi  Nuh a.s.:
فَکَذَّبُوۡہُ  فَنَجَّیۡنٰہُ وَ مَنۡ مَّعَہٗ فِی الۡفُلۡکِ وَ جَعَلۡنٰہُمۡ خَلٰٓئِفَ وَ اَغۡرَقۡنَا الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ  عَاقِبَۃُ  الۡمُنۡذَرِیۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رُسُلًا اِلٰی قَوۡمِہِمۡ فَجَآءُوۡہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا کَذَّبُوۡا بِہٖ  مِنۡ  قَبۡلُ ؕ کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ الۡمُعۡتَدِیۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مُّوۡسٰی وَ ہٰرُوۡنَ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَا۠ئِہٖ بِاٰیٰتِنَا فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
Tetapi mereka telah mendustakannya, lalu  Kami menyelamatkan dia dan orang-orang yang besertanya dalam bahtera, dan Kami menjadikan mereka sebagai pengganti-pengganti dan Kami menenggelamkan orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka lihatlah  betapa buruk kesudahan orang-orang yang diberi peringatan. ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رُسُلًا اِلٰی قَوۡمِہِمۡ فَجَآءُوۡہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ --   Kemudian Kami mengutus sesudah dia rasul-rasul kepada kaum mereka masing-masing,  maka mereka datang dengan bukti-bukti nyata,  فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا کَذَّبُوۡا بِہٖ  مِنۡ  قَبۡلُ  -- tetapi mereka sama sekali tidak mau ber-iman kepadanya disebabkan mereka telah mendustakannya sebelum itu.   کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ الۡمُعۡتَدِیۡنَ -- Demikianlah Kami mencap  hati orang-orang yang melampaui batas. ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مُّوۡسٰی وَ ہٰرُوۡنَ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَا۠ئِہٖ بِاٰیٰتِنَا فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ  --     Kemudian sesudah mereka, Kami mengutus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan para pembesarnya dengan Tanda-tanda Kami  tetapi mereka berlaku sombong, dan mereka itu kaum yang berdosa.  (Yunus [10]:74-75).
       Ayat  فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا کَذَّبُوۡا بِہٖ  مِنۡ  قَبۡلُ  --“ tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman kepadanya disebabkan mereka telah mendustakannya sebelum itu”  sama dengan ayat 8 dalam Surah Al Jin sebelumnya: وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا  --    “dan sesungguhnya mereka me-nyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan per-nah membangkitkan seorang rasul,”  dan identik dengan itikad sesat  di kalangan umumnya  umat Islam yang kembali bergema di Akhir Zaman ini dari para penentang Rasul Akhir Zaman  yakni: lā nabiyya ba’dahu   -- “tidak ada nabi akan datang lagi  sesudahnya.

Diabadikan Dalam Surah Al-Fatihah

         Makna ayat: کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ الۡمُعۡتَدِیۡنَ -- Demikianlah Kami mencap  hati orang-orang yang melampaui batas”,  Allah Swt.  tidak semau-maunya menyegel (mencap) hati orang-orang kafir melainkan  orang-orang kafir itu sendirilah yang dengan penolakan yang degil untuk mendengarkan Kalāmullāh itu, telah memahrumkan (meluputkan) diri dari kemampuan melihat dan menerima kebenaran yang dibawa Rasul Allah. Mereka sendirilah pencipta nasibnya yang buruk itu.
      Mengenai mereka semua    -- yakni (1) orang-orang mendapat nikmat Allah, terutama   Rasul Allah  dan para pengikutnya (QS.4:70);   (2) golongan jin (Ahli Kitab) --  baik yang  beriman kepada Rasul Allah  mau pun yang menolak  beriman  sehingga mereka menjadi  golongan maghdhūb (yang dimurkai) dan dhāllīn (yang sesat) --  telah tercantum dan diabadikan dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 20 Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar