بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 12
Hubungan Ketakaburan
Iblis
Terhadap Adam (Khalifah Allah) dengan
Itikad Sesat Lā Nabiyya Ba’dahu (Tidak Ada
Lagi Nabi Sesudahnya) Sebagai Penyebab Pendustaan dan Penentangan
Kedatangan Para Rasul Allah di Setiap Zaman
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai orang-orang yang putus-asa dari rahmat Allah Swt., yang dalam Al-Quran
diabadikan berupa kisah monumental
“Adam, Malaikat dan Iblis”, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ
فِی الۡاَرۡضِ
خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ
فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ
الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ
نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا
لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ عَلَّمَ اٰدَمَ
الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ
اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ
لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ
اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ
اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ ﴿۳۳﴾ وَ اِذۡ
قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫
وَ کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman
kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah
di bumi”, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan
membuat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal
kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan
kami senantiasa men-sucikan Engkau?”
Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama itu semuanya
kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat lalu Dia
berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku
nama-nama mereka ini jika kamu
memang benar.” Mereka
berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak
memiliki pe-ngetahuan kecuali
apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami,
sesungguhnya Engkau benar-benar Maha
Mengetahui, Mahabijaksana.”
Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka
tatkala diberitahukannya kepada mereka
nama-nama mereka itu, Dia berfirman: “Bu-kankah
telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia seluruh langit dan bumi dan mengetahui
apa pun yang kamu nyatakan dan apa
pun yang kamu sembunyikan?” وَ اِذۡ قُلۡنَا
لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ -- Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni
tunduk-patuhlah kamu kepada Adam” فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ -- lalu mereka sujud ke-cuali iblis,
اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ
کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَبٰی وَ -- ia menolak
dan takabur, dan ia
termasuk dari antara orang-orang
yang kafir. (Al-Baqarah [2]:31-35).
Kata iblis yang berasal dari ablasa, yang
berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang Allah Swt. (3) telah patah
semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia
tertahan dari mencapai harapannya.
Makna Kata Iblis
Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan
tapi banyak kejahatan, dan disebabkan
oleh rasa putus asa akan kasih-sayang (rahmat) Allah Swt. oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.
Iblis
seringkali dianggap sama dengan syaitan,
tetapi dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para
malaikat, sebab ia di sini dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allsh Swt. sedangkan para malaikat dilukiskan
sebagai senantiasa “tunduk” dan
“patuh” (QS.66:7).
Allah Swt. telah murka kepada iblis karena
ia pun diperintahkan mengkhidmati
Adam a.s. tetapi iblis membangkang karena menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam a.s.(QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun
jika tiada perintah tersendiri bagi iblis, perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat
— sebagai penjaga (pengendali) berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya
mencakup juga semua wujud.
Seperti dinyatakan di atas, iblis
sesungguhnya nama sifat yang
diberikan atas dasar arti akar kata
itu (ablasa) kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari
sifat malaikat. Diberi nama demikian
karena ia mempunyai sifat-sifat buruk
seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan
dalam langkahnya dan hilang harapan
akan kasih-sayang (rahmat) Allah
Swt..
Bahwa iblis bukanlah syaitan
— yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut
kedua nama itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam a.s. dituturkan. Tetapi di mana-mana
dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran
membicarakan makhluk yang — berbeda
dari para malaikat — menolak berbakti (sujud) kepada Adam a.s. maka senantiasa Al-Quran menyebutnya
dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam
a.s. harus keluar (hijrah) dari “kebun” (jannah) -- yang umumnya dimaknai “surga”
-- maka Al-Quran menyebutnya dengan nama
syaitan.
Perbedaan penyebutan iblis
dan syaitan (setan) ini sangat besar artinya dan tetap
dipertahankan dalam Al-Quran, sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37;
QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas
memperlihatkan bahwa iblis berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s. dan merupakan salah seorang dari kaum
Nabi Adam a.s. sendiri. Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat — mampu menaati atau menentang
Allah Swt. (QS.7:12-13).
Iblis Berasal dari Golongan Jin
Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran, selaras dengan ketakabburan yang diperagakannya
terhadap Adam a.s.— yakni Khalifah
Allah (QS.2:31) -- iblis
berasal dari golongan jin,
firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ کَانَ
مِنَ الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ ؕ اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ وَ ہُمۡ
لَکُمۡ عَدُوٌّ ؕ بِئۡسَ لِلظّٰلِمِیۡنَ بَدَلًا ﴿﴾ مَاۤ اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا
خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ وَ مَا کُنۡتُ
مُتَّخِذَ الۡمُضِلِّیۡنَ عَضُدًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یَقُوۡلُ نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ
جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّوۡبِقًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ -- "Sujudlah
yakni patuhlah kepada Adam," maka sujudlah
mereka kecuali iblis, کَانَ مِنَ الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ -- ia dari golongan
jin maka ia mendurhakai perintah Rabb-nya
(Tuhan-nya). Apakah kamu hendak mengambil dia
dan keturunannya sebagai sahabat-sahabat selain Aku, padahal mereka itu musuh-musuh kamu? Sangat buruk bagi orang-orang yang zalim pertukaran itu. Aku
sekali-kali tidak membuat mereka menyaksikan penciptaan seluruh langit
dan bumi, dan tidak
pula penciptaan mereka sendiri, dan Aku
sama sekali tidak dapat mengambil mereka
yang menyesatkan orang-orang
sebagai pembantu. (Al-Kahf
[18]:51-52).
Ayat 52
ini agaknya menunjukkan, bahwa ketika itu di mana-mana umum akan ramai
memperbincangkan tertib dunia baru
yang akan mengumandangkan tibanya satu masa
keamanan dan kerukunan yang kekal abadi di dunia, dan mereka yang
mengaku-ngaku dirinya pemimpin yang
menentukan haluan politik dan masyarakat akan berusaha dan mendakwakan untuk menegakkan tertib baru, tetapi mereka tidak akan
berhasil dalam usaha mereka, sebab Allah Swt. telah memperuntukkan bagi Dzat-Nya Sendiri pelaksanaan dan
penyelesaian pekerjaan agung ini
dengan sempurna, yaitu melalui pengutusan Rasul-Nya,
salah satu contohnya adalah Nabi Adam
a.s., yang pada zamannya beliau
telah ditetapkan sebagai “Khalifah Allah”
(QS.2:31-35), sekali pun mendapat penentangan
keras dari golongan mayoritas yang
dalam Al-Quran disebut iblis.
Demikian juga
pada zaman pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. pun
merupakan “Adam” (Khalifah Allah)
pada waktu itu, bahkan beliau saw.
merupakan ”Adam” (Khalifah Allah)
yang paling agung. Ada pun yang
berperan sebagai iblis bukan hanya para pemuka kaum kafir Quraisy Mekkah pimpinan Abu Jahal, tetapi juga para
pemuka golongan Ahli Kitab, terutama
kaum Yahudi di Madinah.
Segolongan “Jin” dari Kalangan Ahli Kitab
yang Beriman Kepada Nabi Besar
Muhammad Saw.
Orang-orang
dari golongan Ahli Kitab inilah yang
disebut jin dalam Surah Al-Ahqaf dan Surah Al-Jin,
yang secara rahasia mereka bertemu di malam hari dengan Nabi Besar Muhammad
saw. untuk mendengarkan wahyu Al-Quran, dan kemudian mereka beriman kepada beliau saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ
صَرَفۡنَاۤ اِلَیۡکَ نَفَرًا مِّنَ
الۡجِنِّ یَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ۚ فَلَمَّا حَضَرُوۡہُ قَالُوۡۤا اَنۡصِتُوۡا ۚ فَلَمَّا قُضِیَ وَلَّوۡا اِلٰی
قَوۡمِہِمۡ مُّنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا
یٰقَوۡمَنَاۤ اِنَّا سَمِعۡنَا
کِتٰبًا اُنۡزِلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ
یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ اِلَی الۡحَقِّ وَ
اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾ یٰقَوۡمَنَاۤ
اَجِیۡبُوۡا دَاعِیَ اللّٰہِ وَ
اٰمِنُوۡا بِہٖ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ مِّنۡ
ذُنُوۡبِکُمۡ وَ یُجِرۡکُمۡ مِّنۡ عَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ وَ مَنۡ لَّا
یُجِبۡ دَاعِیَ اللّٰہِ فَلَیۡسَ
بِمُعۡجِزٍ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَیۡسَ لَہٗ
مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءُ ؕ اُولٰٓئِکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Kami hadapkan kepada engkau segolongan dari
jin yang ingin mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka hadir kepadanya mereka
berkata: "Diamlah dan
dengarkanlah!" Maka tatkala telah selesai mereka kembali kepada
kaum mereka untuk memberi peringatan.
قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا اُنۡزِلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی -- Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami
telah mendengar suatu Kitab yang telah
diturunkan sesudah Musa مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ
مُّسۡتَقِیۡمٍ -- menggenapi apa yang ada sebelumnya dan memimpin kepada kebenaran serta kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, sambutlah penyeru kepada Allah dan berimanlah kepadanya, maka
Dia akan mengampuni dosa-dosa kamu,
dan Dia akan melindungi kamu dari azab
yang pedih. Dan barangsiapa tidak menyambut penyeru kepada Allah, maka ia
tidak dapat melemahkannya di bumi dan tidak
ada baginya pelindung-pelindung selain Dia,
mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (Al-Ahqāf [46]:30-33).
Golongan jin
yang diisyaratkan dalam ayat ini bukan
golongan makhluk halus yang
disebut jin, melainkan adalah orang-orang Yahudi dari Nashibin, atau seperti sumber lain
mengatakan, adalah orang-orang Yahudi
dari Maushal atau Ninewe, Irak. Karena takut akan penentangan dari orang-orang
Mekkah, mereka menjumpai Nabi Besar
Muhammad saw. pada waktu malam, dan setelah mereka mendengarkan pembacaan Al-Quran dan tutur Nabi Besar
Muhammad saw. mereka masuk Islam dan menyampaikan agama baru itu kepada kaum mereka yang
juga dengan suka hati menerimanya (Fath-ul-Bayan, jilid ke-8). Lihat juga QS.72:2.
Ayat
selanjutnya: قَالُوۡا
یٰقَوۡمَنَاۤ اِنَّا سَمِعۡنَا
کِتٰبًا اُنۡزِلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی -- Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami
telah mendengar suatu Kitab yang telah
diturunkan sesudah Musa مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ
مُّسۡتَقِیۡمٍ -- menggenapi apa yang ada sebelumnya dan memimpin kepada kebenaran serta kepada jalan yang lurus,” ayat ini menunjukkan bahwa golongan jin yang disebut dalam ayat sebelumnya adalah orang-orang Yahudi, sebab mereka
mengatakan tentang Al-Quran sebagai
"Kitab yang telah diturunkan sesudah
Musa."
Itikad Sesat “Lā Nabiyya Ba’dahu“
(Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya) di Zaman Nabi Yusuf a.s. dan Nabi Musa a.s.
Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah firman Allah Swt. dalam Surah berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ اُوۡحِیَ
اِلَیَّ اَنَّہُ اسۡتَمَعَ
نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا
اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا
ۙ﴿﴾ یَّہۡدِیۡۤ
اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ اَحَدًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ
تَعٰلٰی جَدُّ رَبِّنَا مَا
اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ
کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ
اَنۡ لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ
الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ
کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ مِّنَ
الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ رَہَقًا
ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہُمۡ
ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ
اَنۡ لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا ۙ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. قُلۡ
اُوۡحِیَ اِلَیَّ اَنَّہُ
اسۡتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ
فَقَالُوۡۤا اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا
عَجَبًا -- Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya serombongan
jin mendengarkan Al-Quran,
lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan.
یَّہۡدِیۡۤ اِلَی الرُّشۡدِ
فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ اَحَدًا -- “Al-Quran itu memberi petunjuk kepada kebenaran, maka
kami telah beriman kepadanya. Dan
kami tidak akan pernah menyekutukan
sese-orang dengan Tuhan kami, وَّ اَنَّہٗ
تَعٰلٰی جَدُّ رَبِّنَا مَا
اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا -- dan
sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami, Dia sekali-kali tidak beristri dan tidak
pula beranak, وَّ اَنَّہٗ کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ
شَطَطًا
-- Dan sesungguhnya orang-orang
bodoh di antara kami berkata dusta
berlebihan terhadap Allah, وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ اَنۡ
لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا -- dan
sesungguhnya kami menyangka ins (manusia) dan jin tidak akan pernah mengatakan perkataan
dusta terhadap Allah. وَّ اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ
یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ رَہَقًا ۙ [-- Dan sesungguhnya ada
bebe-rapa orang dari ins (manusia) yang meminta
perlindungan kepada beberapa orang
dari jin maka menambah ke-sombongan mereka, وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا -- dan sesungguhnya
mereka me-nyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa Allah
tidak akan per-nah membangkitkan seorang rasul. (Al-Jin
[72]:1-8).
Isyarat dalam ayat-ayat ini mungkin tertuju
kepada segolongan orang Yahudi dari
Nashibin. Mereka bukan bangsa Arab
dan karena mereka itu orang-orang asing,
maka mereka disebut “jin”, yang
berarti antara lain orang asing (Lexicon Lane). Peristiwa yang
disebut dalam ayat ini nampaknya lain (berbeda) dari peristiwa yang disebut
dalam QS.46:30-33, meskipun ayat ini dianggap oleh beberapa sumber menunjuk
kepada ayat-ayat itu, sebab kata-kata yang diucapkan oleh “jin” dalam ayat ini mempunyai kemiripan
dengan kata-kata yang diucapkan oleh segolongan jin yang disebut dalam
QS.46:30-33.
Ayat ini menunjukkan bahwa
“serombongan jin” itu orang-orang Kristen yang berpegang
kepada Tauhid, atau orang-orang Yahudi yang bersekutu erat dengan mereka, atau yang karena ada di bawah pengaruh mereka, baik dalam sikap mau pun hubungan dengan
paham-paham Kristen.
Karena kata rijāl hanya
dipakai mengenai manusia, ayat ini
menunjukkan bahwa “serombongan jin”
yang tersebut dalam ayat ini dan dalam Surah Al-Ahqāf itu adalah manusia
dan bukan suatu jenis makhluk lain
mana pun. Kata Arab jin di sini, dapat berarti orang-orang besar dan berpengaruh, dan ins – orang-orang rendah dan hina, yakni orang-orang awam, yang dengan mengikuti golongan
tersebut pertama (jin) dan mencari lindungan mereka itu, meningkatkan kesombongan dan keangkuhan golongan jin tersebut.
Pewarisan Itikad Sesat “Lā Nabiyya Ba’dahu“
(Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya)
Makna ayat: وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا -- dan sesungguhnya
mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa Allah
tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul.” Bahwa sejak zaman Nabi Yusuf a.s. di kalangan orang-orang Yahudi tidak mempercayai
lagi kedatangan rasul mana pun
sesudah beliau , firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ شَکٍّ مِّمَّا
جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی اِذَا ہَلَکَ
قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ
بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ
اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ
﴿ۚۖ﴾ الَّذِیۡنَ
یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ اٰیٰتِ اللّٰہِ
بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh
benar-benar telah datang kepada kamu
Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti
yang nyata, tetapi kamu selalu dalam
keraguan dari apa yang dengannya dia
datang kepada kamu, حَتّٰۤی اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ
اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا ؕ -- hingga apabila
ia telah mati kamu berkata: “Allah tidak akan pernah mengutus seorang rasul pun sesudahnya.” کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ -- Demikianlah Allah menyesatkan barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu.
الَّذِیۡنَ
یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ اٰیٰتِ اللّٰہِ
بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ -- Yaitu orang-orang yang bertengkar
mengenai Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di sisi
orang-orang yang beriman,
کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ -- demikianlah Allāh
mencap setiap hati orang sombong
lagi sewenang-senang. (Al-Mu’min
[40]:35-36).
Nabi-nabi Allah telah senantiasa datang ke
dunia semenjak waktu yang jauh silam --
dan senantiasa akan terus datang (QS.7:35-37)
-- tetapi begitu busuknya
pikiran orang-orang kafir, setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya, dan ketika ia wafat lalu orang-orang yang beriman
kepada nabi Allah itu berkata bahwa lā nabiyya ba’dahu -- “tidak
ada nabi akan datang lagi sesudahnya”
dan “pintu wahyu telah tertutup untuk
selama-lamanya.”
Dengan demikian jelaslah bahwa itikad lā nabiyya ba’dahu -- “tidak
ada nabi akan datang lagi sesudahnya”
merupakan itikad sesat yang diwariskan orang-orang sesat di setiap zaman
kedatangan rasul Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37), berikut firman-Nya
berkenaan pendustaan terhadap Nabi Nuh
a.s.:
فَکَذَّبُوۡہُ فَنَجَّیۡنٰہُ وَ مَنۡ مَّعَہٗ فِی الۡفُلۡکِ
وَ جَعَلۡنٰہُمۡ خَلٰٓئِفَ وَ اَغۡرَقۡنَا الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ
فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الۡمُنۡذَرِیۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رُسُلًا اِلٰی قَوۡمِہِمۡ
فَجَآءُوۡہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا کَذَّبُوۡا
بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ
الۡمُعۡتَدِیۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ بَعَثۡنَا
مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مُّوۡسٰی وَ ہٰرُوۡنَ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَا۠ئِہٖ
بِاٰیٰتِنَا فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
Tetapi mereka telah mendustakannya, lalu Kami
menyelamatkan dia dan orang-orang
yang besertanya dalam bahtera,
dan Kami menjadikan mereka sebagai
pengganti-pengganti dan Kami
menenggelamkan orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka lihatlah betapa
buruk kesudahan orang-orang yang diberi peringatan. ثُمَّ بَعَثۡنَا
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رُسُلًا اِلٰی قَوۡمِہِمۡ فَجَآءُوۡہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ -- Kemudian Kami
mengutus sesudah dia rasul-rasul kepada kaum mereka masing-masing, maka mereka datang dengan bukti-bukti nyata, فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا
کَذَّبُوۡا بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ -- tetapi mereka sama sekali tidak mau ber-iman kepadanya disebabkan mereka telah mendustakannya sebelum itu.
کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ
الۡمُعۡتَدِیۡنَ -- Demikianlah Kami mencap hati orang-orang
yang melampaui batas. ثُمَّ بَعَثۡنَا
مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مُّوۡسٰی وَ ہٰرُوۡنَ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَا۠ئِہٖ
بِاٰیٰتِنَا فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ -- Kemudian sesudah mereka, Kami mengutus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan
para pembesarnya dengan Tanda-tanda Kami tetapi mereka
berlaku sombong, dan mereka itu kaum
yang berdosa. (Yunus [10]:74-75).
Ayat فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا
کَذَّبُوۡا بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ --“ tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman kepadanya disebabkan mereka telah mendustakannya sebelum itu”
sama dengan ayat 8 dalam Surah Al Jin sebelumnya: وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا -- “dan sesungguhnya
mereka me-nyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa Allah
tidak akan per-nah membangkitkan seorang rasul,” dan identik
dengan itikad sesat di kalangan umumnya umat
Islam yang kembali bergema di Akhir Zaman
ini dari para penentang Rasul Akhir Zaman
yakni: lā nabiyya ba’dahu -- “tidak
ada nabi akan datang lagi sesudahnya.”
Diabadikan Dalam Surah Al-Fatihah
Makna ayat: کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ
الۡمُعۡتَدِیۡنَ -- Demikianlah Kami mencap hati orang-orang
yang melampaui batas”, Allah
Swt. tidak semau-maunya menyegel (mencap) hati orang-orang kafir
melainkan orang-orang kafir itu sendirilah yang dengan penolakan yang degil
untuk mendengarkan Kalāmullāh itu, telah memahrumkan (meluputkan) diri dari kemampuan melihat dan menerima kebenaran yang dibawa Rasul Allah. Mereka sendirilah pencipta nasibnya yang buruk itu.
Mengenai mereka semua -- yakni (1) orang-orang mendapat nikmat Allah, terutama Rasul Allah dan para pengikutnya (QS.4:70); (2) golongan
jin (Ahli Kitab) --
baik yang beriman kepada Rasul Allah
mau pun yang menolak beriman sehingga mereka menjadi golongan maghdhūb
(yang dimurkai) dan dhāllīn (yang
sesat) -- telah tercantum dan diabadikan dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 20 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar