بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 20
Pembukaan Rahasia
Gaib Allah Swt. Kepada Rasul-Nya & Cara-cara Allah Swt. Membedakan Orang-orang Beriman Hakiki dari Mereka yang Keimanannya Dusta
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. -- Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah -- mengenai empat kebenaran
akbar dalam Surah Al-Fatihah:
“Apa yang dikemukakan dalam
Surah Al-Fatihah dari sifat Rabbul ‘Ālamīn sampai Māliki Yaumiddīn adalah empat kebenaran akbar yang akan dijelaskan berikut ini. Kebenaran yang pertama ialah Allah Yang Maha Perkasa itu bersifat Rabbul ‘ālamīn, yang berarti bahwa Tuhan itu adalah Rabb dan Penguasa segala sesuatu
yang ada di alam semesta, dan bahwa
segala yang muncul, nampak, dirasakan atau disadari oleh logika, semuanya
adalah ciptaan-Nya, dan eksistensi (keberadaan) yang haqiqi hanya milik Allah Yang Maha Kuasa dan tidak kepada
apa pun selain Wujud-Nya.
Dengan kata lain, alam
semesta berikut semua isinya diciptakan oleh dan merupakan ciptaan Allah
Swt.. Tidak ada suatu apa pun di alam ini yang bukan ciptaan
Tuhan. Melalui sifat Rabubiyat-Nya yang sempurna, Allah Yang Maha Kuasa mengatur dan mengendalikan
setiap noktah yang ada di alam. Sifat Rabubiyat-Nya berfungsi sepanjang waktu.
Tidak benar pendapat yang
mengatakan bahwa setelah Dia menciptakan alam ini, lalu Dia mengundurkan diri dan menyerahkan kendalinya kepada hukum alam. Tidak
benar jika dikatakan bahwa sebagai seorang pencipta mesin maka ia lalu tidak lagi peduli setelah mesin
tersebut selesai diciptakan (dibuat).
Ciptaan dari Maha Pencipta tetap
selalu terkait dengan Wujud-Nya.
Wujud Rabbul ‘ālamīn melaksanakan sifat Rabubiyat-Nya
yang sempurna sepanjang waktu di seluruh alam semesta dan hujan rahmat Rabubiyat-Nya
itu tetap selalu dicurahkan ke seluruh alam.
Tidak pernah sekali pun
alam ini dikucilkan dari manfaat sifat rahmat-Nya. Bahkan setelah
selesai penciptaan alam semesta ini, kebutuhan akan Sumber rahmat itu akan tetap diperlukan setiap
saat seolah-olah Dia belum menciptakan apa-apa.
Sebagaimana dunia ini bergantung kepada Sifat Rabubiyat-Nya
untuk mewujud, maka dunia ini tetap
bergantung kepada Sifat itu untuk kelangsungan dan pemeliharaannya. Adalah Dia Yang menopang dunia ini setiap saat dan
setiap noktah di alam ini terpelihara dan berkembang karena Dia. Dia
melaksanakan Sifat Rabubiyat-Nya atas segala hal menurut kehendak-
Nya.
Singkat kata, kebenaran ini bermakna
bahwa segala sesuatu di alam diciptakan dan tergantung kepada Sifat Rabubiyat
Allah Swt., baik dalam kesempurnaan, kondisi maupun
masanya. Tidak ada keunggulan ruhani atau jasmani yang bisa
dicapai makhluk dari dirinya sendiri tanpa ketergantungan
pada pengaturan dari Sang Maha Pengatur.
Adalah suatu hal yang latent
(tersembunyi) dari Sifat ini dan kebenaran-kebenaran lainnya bahwa Sifat Rabbul
‘ālamīn
merupakan Sifat yang khusus hanya
bagi Diri-Nya dan tidak ada suatu apa pun yang menjadi sekutu-Nya. Ayat
pembuka dari Surah yaitu Alhamdulillāh (segala puji bagi
Allah) menjelaskan
secara tegas bahwa segala puji hanyalah bagi Allah Swt. semata.
Kebenaran akbar yang kedua
adalah Sifat Rahmān yang menempati urutan berikutnya setelah
sifat Rabbul ‘ālamīn. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa semua makhluk hidup, yang berakal maupun yang tidak, baik atau jahat,
telah dibantu dan akan selalu ditopang oleh rahmat umum Allah Yang Maha
Perkasa, dengan segala sesuatu yang
dibutuhkan bagi kehidupan dan kelanjutan spesi mereka. Semuanya itu merupakan karunia
mutlak yang tidak tergantung kepada amalan atau upaya siapa
pun.
Kebenaran akbar yang ketiga setelah Sifat Rahmān
adalah Sifat Rahīm. Hal ini berarti bahwa sesuai
kehendak-Nya maka Allah Swt. akan memberikan imbalan hasil baik atas
dasar permohonan makhluk-Nya. Dia
mengampuni dosa mereka yang bertobat. Dia menganugrahkan karunia kepada mereka yang memohon. Dia membukakan pintu kepada mereka
yang mengetuknya.
Kebenaran akbar keempat
adalah Māliki Yaumiddīn. Berarti Allah Yang Maha Kuasa
adalah Penguasa segala ganjaran yang sempurna yang bebas dari ujian
dan cobaan serta intervensi
dari segala yang merancukan, suci dari segala yang tidak bersih, bebas dari keraguan dan cacat dan merupakan manifestasi (penampakan) kekuasaan-Nya
yang akbar.
Dia tidak kekurangan kekuatan untuk memanifestasikan pengganjaran-Nya yang sempurna yang secerah siang hari. Manifestasi kebenaran akbar ini bertujuan untuk mencerahkan hal-hal berikut ini agar
menjadi jelas bagi setiap orang sebagai suatu kepastian:
Pertama, bahwa ganjaran
dan penghukuman adalah suatu hal yang pasti yang dikenakan kepada semua
makhluk oleh Sang Maha Penguasa
sebagai bagian dari kehendak-Nya. Hal ini tidak mungkin ditunjukkan di
dunia ini karena merupakan hal-hal yang tidak jelas bagi rata-rata orang yang
tidak mengerti mengapa mereka akan mengalami kemaslahatan atau kemudharatan,
kesenangan atau kesakitan.
Tidak akan ada orang yang
mendengar suara dari mana pun yang menjelaskan bahwa apa yang dialaminya
itu adalah ganjaran (balasan) dari amal perbuatannya, dan juga tidak
akan ada yang menyadari atau merasa bahwa apa yang sedang dialaminya
adalah sebagai akibat dari tindakannya.
Kedua, penampakan
itu ditujukan untuk memperlihatkan bahwa sarana duniawi itu tidak mempunyai
arti dan bahwa Sang Maha Wujud atau
Allah Swt. adalah Sumber dari semua berkat dan Penguasa dari segala
ganjaran.
Ketiga, perlu adanya
penegasan apa itu karunia yang baik dan apa yang namanya kemudharatan
besar. Keberuntungan akbar adalah keadaan kemenangan tertinggi
dimana nur, kebahagiaan, kesenangan dan keselesaan (ketentraman) merasuk di
dalam dan di luar dari tubuh dan jiwa seseorang dimana tidak ada
bagian tubuhnya yang terlewat.
Kemudharatan besar adalah siksaan
yang berasal dari akibat ketidak-patuhan, kekotoran jiwa, menjauhkan
diri dari Tuhan-nya, yang akan membakar hati dan meliputi seluruh
tubuh sehingga seluruh dirinya terasa bagai berada dalam api di
neraka.
Manifestasi seperti ini
tidak bisa dilihat di dunia karena dunia yang sempit dan picik yang terselaput
oleh segala keduniawian dan yang
kondisinya tidak sempurna, tidak akan tahan menanggung (memikul) manifestasi (penampakkan) demikian.
Dunia ini adalah ajang ujian dan cobaan dimana kesenangan
dan kesakitan yang ada hanya bersifat sementara dan tidak
sempurna. Apa pun yang dialami seseorang dalam hidupnya berada di
bawah (di balik) tabir sarana jasmani
yang menyembunyikan Wujud Sang Penguasa Pemberi ganjaran.
Dengan demikian dunia ini bukan wadah
ganjaran yang benar dan sempurna. Yang menjadi hari ganjaran yang
sempurna dan terbuka adalah dunia yang akan datang setelah dunia
sekarang ini. Dunia yang akan datang itu akan menjadi wadah manifestasi
akbar dan penampakan dari keagungan dan keindahan yang
sempurna.
Kesulitan hidup atau
kemudahan, kesenangan atau kesakitan, kesedihan atau pun kegembiraan, semua yang dialami manusia di dunia yang
sekarang tidak selalu menggambarkan atau merupakan akibat dari karunia
Ilahi atau pun kemurkaan-Nya.
Sebagai contoh, seorang
yang kaya bukanlah merupakan bukti
bahwa Tuhan berkenan atas dirinya, begitu pula kemiskinan atau kesulitan
dianggap menjadi tanda bahwa Allah
Swt. memusuhi dirinya. Bisa jadi keadaan mereka itu menjadi cobaan
agar yang kaya diuji karena kekayaannya sedangkan yang miskin dicoba
karena kemiskinannya. Semua kebenaran akbar ini dijelaskan secara rinci
di dalam Al-Quran.” (Brahin-i-Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 444-461, London, 1984).
Pembukaan Rahasia Gaib Allah Swt. kepada Rasul-Nya
Penjelasan yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. berkenaan
empat Sifat Tasybihiyyah utama
Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah
yang sangat luar-biasa tersebut
merupakan pemenuhan Sunnatullah
yang dikemukakan dalam Al-Quran, bahwa sebagaimana hanya kepada Adam (Khalifah Allah) sajalah Allah Swt.
mengajarkan rahasia al-Asmā-Nya (nama-nama-Nya -
QS.2:31-35), demikian pula hanya kepada rasul-Nya
sajalah Allah Swt. membukakan rahasia-rahasia
gaib-Nya, firman-Nya:
عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ۲﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ
یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun kecuali kepada
Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia
mengetahui bahwa sungguh mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb
(Tuhan) mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka
dan Dia membuat perhitungan mengenai
segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti diberi pengetahuan dengan sering dan
secara berlimpah-limpah mengenai rahasia
gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa
dan kejadian yang sangat penting.
Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna
membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang
dibukakan kepada seorang rasul Tuhan
dan rahasia-rahasia gaib yang
dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa
lainnya.
Perbedaan itu letaknya
pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul
Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib, yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia
yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa
dan orang-orang suci lainnya tidak
menikmati kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan istimewa Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan
oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara, firman-Nya lagi:
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی
مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی
یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ
وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ
وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا
فَلَکُمۡ اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan
orang-orang yang beriman di dalam keadaan
kamu berada di dalamnya hingga
Dia memisahkan yang buruk
dari yang baik. وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ-- Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- tetapi Allah
memilih di antara rasul-rasul-Nya
siapa yang Dia kehendaki, فَاٰمِنُوۡا
بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, وَ اِنۡ
تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ -- dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu
ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran [3]:180).
Makna ungkapan مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی
مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی
یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ -- “Allah
sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman di
dalam keadaan kamu berada di
dalamnya hingga Dia
memisahkan yang buruk dari yang baik,“
maksudnya adalah bahwa percobaan (ujian keimanan) dan kemalangan yang telah dialami kaum Muslimin hingga saat itu tidak akan
segera berakhir. Masih banyak lagi percobaan
(ujian keimanan) yang tersedia bagi mereka, dan percobaan-percobaan itu akan terus-menerus datang, hingga orang-orang beriman sejati, akan benar-benar dibedakan dari kaum munafik dan yang lemah
iman.
Sunnatullah
seperti itu berlaku dalam bidang apa
pun jika bermaksud memperoleh sesuatu yang terbaik, contohnya untuk menentukan juara pertama dalam suatu bidang perlombaan (pertandingan), para peserta
-- yang merasa dirinya atau timnya layak untuk
menjadi juara -- terlebih dulu harus melalui berbagai tingkatan: babak penyisihan, perempat final, semi final sampai akhirnya harus berhasil mencapai babak
final.
Dalam babak final inilah juara yang sebenarnya dari
para peserta perlombaan
(pertandingan) tersebut akan dihasilkan,
sehingga para peserta yang pada babak
awal masing-masing merasa dirinya (timnya) yang layak menjadi juara
perlombaan (pertandingan) harus mengakui keunggulan sang juara
tersebut. Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ الٓـمّٓ ۚ﴿﴾ اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ یُّتۡرَکُوۡۤا اَنۡ یَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَ
ہُمۡ لَا یُفۡتَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ
فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ
صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ
الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾ اَمۡ حَسِبَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ
اَنۡ یَّسۡبِقُوۡنَا ؕ سَآءَ مَا یَحۡکُمُوۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا
لِقَآءَ اللّٰہِ فَاِنَّ اَجَلَ اللّٰہِ لَاٰتٍ ؕ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ
الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. الٓـمّٓ -- Aku, Allāh Yang Maha Mengetahui.
Apakah manusia menyangka bahwa
mereka akan dibiarkan berkata: “Kami telah beriman,” dan mereka
tidak akan diuji? Dan
sungguh Kami benar-benar telah
menguji orang-orang sebelum mereka, maka pasti Allah mengetahui orang-orang
yang berkata benar dan pasti
Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Ataukah orang-orang yang berbuat
keburukan menyangka bahwa mereka
akan dapat melepaskan diri dari azab Kami? Sangat buruk apa yang mereka
putuskan! (Al-Ankabūt [29]:1-6).
Dua Macam Ilmu &
Kewajiban “Umat yang Terbaik”
‘Ilm
(ilmu) ada dua macam: (a) Ilmu
berupa pengetahuan mengenai sesuatu
sebelum sesuatu itu mengambil wujud. Ilmu
semacam itu tidak dimaksudkan di sini, sebab Allah Swt. – Tuhan
Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata -- adalah yang paling mengetahui segala yang nampak maupun yang gaib (QS.59:23). (b) Ilmu
berupa pengetahuan mengenai peristiwa
yang benar-benar terjadi. Ilmu
semacam itulah yang dimaksud di sini.
Ayat 4-5 berarti
bahwa makrifat Ilahi yang sederhana
dan bertaraf rendah akan mengambil bentuk ilmu
lahiriah (yang nyata). Atau ayat itu mengandung arti bahwa Allah Swt. akan memisahkan pendusta-pendusta dari orang-orang jujur, sebagaimana kata ‘ilm
memiliki juga pengertian membedakan
antara dua benda, terutama bila kata
itu disusul oleh kata perangkai min (dari).
Contohnya dalam QS.2:144 Allah Swt. telah menjadikan perpindahan qiblat dari Baitul-muqadas
di Yerusalem ke Baitullah di Mekkah
sebagai sarana pemisah antara orang-orang
yang beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. dari
orang-orang yang mendustakan dan menentang beliau saw., baik dari
kalangan kaum msuyrik Mekkah mau pun
dari golongan Ahli Kitab, firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ
یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ
کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ
یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ وَ اِنۡ کَانَتۡ
لَکَبِیۡرَۃً اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ
ہَدَی اللّٰہُ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan
demikianlah Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia
supaya kamu senantiasa
men-jadi penjaga manusia dan supaya Rasul
itu senantiasa menjadi penjaga kamu. وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ
کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ
یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ -- Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat melainkan supaya Kami mengetahui orang yang mengikuti Rasul dari orang yang berpaling di atas kedua tumitnya. وَ اِنۡ کَانَتۡ
لَکَبِیۡرَۃً اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ
ہَدَی اللّٰہُ -- Dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ -- Dan Allah
sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan iman kamu, اِنَّ اللّٰہَ
بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ -- sesung-guhnya Allah benar-benar Maha Pengasih, Maha Penyayang terhadap manusia.
(Al-Baqarah
[2];144).
Al-wasath
dalam ayat: وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا -- “Dan demikianlah Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia,” berarti: menempati
kedudukan di tengah; baik dan mulia dalam pangkat (Al-Aqrab-ul-Ma’arib). Kata itu dipakai di sini dalam arti
baik dan mulia. Dalam QS.3:111 pun kaum Muslimin disebut kaum terbaik.
Kaum
Muslimin diperingatkan dalam ayat لِّتَکُوۡنُوۡا
شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا -- bahwa tiap-tiap keturunan mereka harus menjaga
dan mengawasi keturunan berikutnya.
Karena mereka kaum terbaik maka
mereka berkewajiban senantiasa berjaga-jaga
agar jangan jatuh dari taraf hidup
yang tinggi seperti yang diharapkan
dari mereka, dan berusaha agar setiap keturunan
berikutnya pun mengikuti jalan yang ditempuh oleh mereka yang telah menikmati pergaulan suci dengan Nabi Besar
Muhammad saw..
Jadi Nabi Besar Muhammad
saw.. itu harus menjadi penjaga para pengikut beliau saw. yang terdekat, sedang mereka pada gilirannya harus menjadi penjaga penerus-penerus mereka dan demikian
seterusnya.
Perubahan Kibat Sebagai Sarana Pemisah (Pembeda)
Kata-kata وَ مَا جَعَلۡنَا
الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ
اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی
عَقِبَیۡہِ – “Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan
kiblat yang kepadanya
dahulu engkau berkiblat melainkan supaya
Kami mengetahui orang yang mengikuti Rasul dari orang yang berpaling di atas kedua
tumitnya” dapat pula berart,i bahwa
seperti telah ditakdirkan, kaum Muslimin
akan menjadi pemimpin umat manusia
dan dengan amal saleh mereka akan
menjadi penerima karunia-karunia istimewa
dari Allah Swt..
Dengan demikian kaum-kaum lain akan terpaksa mengambil kesimpulan bahwa
orang-orang Islam mengikuti agama
yang benar, dan dengan demikian kaum Muslimin
akan menjadi saksi atas kebenaran Islam bagi orang-orang lain,
seperti halnya Nabi Besar Muhammad saw.
telah menjadi saksi atas
kebenaran Islam bagi mereka.
Dari kata-kata وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ -- ”dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah.” itu tampak bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah mengambil Baitulmuqadas di Yerusalem sebagai kiblat beliau saw. atas perintah
Ilahi, tetapi karena Baitulmuqadas itu
dimaksudkan oleh Allah Swt. hanya
untuk menjadi kiblat sementara dan
kelak akan digantikan Ka’bah, yang
akan menjadi kiblat untuk seluruh umat manusia sepanjang masa, maka perintah bertalian dengan kiblat sementara itu tidak termasuk
dalam Al-Quran.
Hal itu menunjukkan bahwa semua perintah yang sifatnya sementara semacam itu tidak dimasukkan dalam Al-Quran,
hanya perintah-perintah yang bersifat
kekal saja yang dimasukkan di
dalamnya. Jadi, anggapan bahwa ada beberapa ayat dalam Al-Quran yang sekarang tidak berlaku lagi sama sekali tidak
berdasar (QS.2:107).
Orang-orang Arab itu sangat besar keterikatan mereka kepada Ka’bah, rumah ibadah tertua di Mekkah.
Ka’bah adalah tempat peribadatan nasional mereka yang turun temurun semenjak
zaman Nabi Ibrahim a.s. maka merupakan percobaan
berat bagi mereka ketika pada zaman permulaan Islam diperintahkan
meninggalkan Ka’bah dan digantikannya
dengan Baitulmuqadas di Yerusalem yang merupakan kiblat para Ahlulkitab (Bukhari dan Tafsir Ibnu Jarir).
Demikian pula kemudian ketika di
Medinah perubahan kiblat dari Baitulmuqadas ke Ka’bah merupakan ujian berat bagi
kaum Yahudi dan Kristen. Jadi, perubahan
itu ternyata merupakan ujian bagi
para Ahlulkitab dan kaum Muslimin, begitu pula bagi kaum musyrikin Mekkah, sebagaimana
firman-Nya: وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً
اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ
-- ”dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah.”
Demikian pula berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwa merupakan sarana untuk membedakan (memisahlan) antara orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah
Swt. dan Rasul-Nya dari orang-orang munafik serta mereka yang lemah iman
(QS.3:141).
Rasul Allah Sebagai Sarana Pemisah (Pembeda)
Jadi, kembali kepada ayat مَا
کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ -- “Allah
sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman di
dalam keadaan kamu berada di
dalamnya hingga Dia
memisahkan yang buruk dari yang baik”
(QS.3:180), bahwa orang-orang yang beriman ditakdirkan
untuk melalui kesulitan-kesulitan besar dan serba berkekurangan, dan keimanan
mereka mendapat ujian yang berat; dan
sesudah mereka keluar dari percobaan-percobaan
itu dengan berhasil, barulah kenyataan akan menjadi terbukti, bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang sejati dan tulus-ikhlas. Dengan jalan inilah mereka dipisahkan dari orang-orang
munafik, yakni palsu dalam pengakuan iman mereka.
Kemudian makna ayat selanjutnya: وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ
رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- “tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki,” ayat itu tidaklah berarti bahwa sebagian rasul-rasul terpilih dan sebagian lagi
tidak, melainkan kata-kata itu berarti bahwa dari orang-orang yang ditetapkan Allah Swt. sebagai rasul-rasul-Nya, Dia memilih
yang paling sesuai untuk zaman
tertentu yakni di zaman rasul Allah itu dibangkitkan, termasuk
di Akhir Zaman ini, karena Allah Swt.
Yang paling mengetahui siapa yang
paling layak untuk mengemban amanat kenabian tersebut guna memisahkan orang-orang pengakuan imannya benar dari yang tidak benar (palsu).
Mengapa demikian? Sebab masalah benar-tidaknya
keimanan seseorang atau
suatu golongan umat beragama
tidak dapat ditenatukan melalui suatu “lembaga fatwa” buatan manusia yang penuh dengan kelemahan serta tidak
mengetahui hal-hal yang gaib.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 28 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar