Kamis, 27 Agustus 2015

Pembukaan "Rahasia Gaib" Allah Swt. Kepada Rasul-Nya & Cara-cara Allah Swt. Membedakan Orang-orang Beriman Hakiki dari Mereka yang Keimanannya Dusta


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 20

Pembukaan Rahasia Gaib Allah Swt. Kepada Rasul-Nya  & Cara-cara Allah Swt. Membedakan Orang-orang        Beriman Hakiki dari  Mereka  yang   Keimanannya Dusta

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan   sabda Masih Mau’ud a.s.   -- Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah  --  mengenai empat kebenaran akbar dalam Surah Al-Fatihah:
      “Apa yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah dari sifat Rabbul ‘Ālamīn sampai Māliki Yaumiddīn adalah empat kebenaran akbar yang akan dijelaskan berikut ini. Kebenaran yang pertama ialah Allah Yang Maha Perkasa itu bersifat Rabbul ‘ālamīn,  yang berarti bahwa Tuhan itu adalah Rabb dan Penguasa segala sesuatu yang ada di alam semesta,  dan bahwa segala yang muncul, nampak, dirasakan atau disadari oleh logika, semuanya adalah ciptaan-Nya, dan eksistensi  (keberadaan) yang haqiqi hanya milik Allah Yang Maha Kuasa dan tidak kepada apa pun selain Wujud-Nya.
      Dengan kata lain, alam semesta berikut semua isinya diciptakan oleh dan merupakan ciptaan  Allah  Swt.. Tidak ada suatu apa pun di alam ini yang bukan ciptaan Tuhan. Melalui sifat Rabubiyat-Nya yang sempurna, Allah Yang Maha Kuasa mengatur dan mengendalikan setiap noktah yang ada di alam. Sifat Rabubiyat-Nya berfungsi sepanjang waktu.
       Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa setelah Dia menciptakan alam ini, lalu Dia mengundurkan diri dan menyerahkan kendalinya kepada hukum alam. Tidak benar jika dikatakan bahwa sebagai seorang pencipta mesin maka  ia lalu tidak lagi peduli setelah mesin tersebut selesai diciptakan (dibuat).
        Ciptaan dari Maha Pencipta tetap selalu terkait dengan Wujud-Nya. Wujud Rabbul ‘ālamīn melaksanakan sifat Rabubiyat-Nya yang sempurna sepanjang waktu di seluruh alam semesta dan hujan rahmat Rabubiyat-Nya itu tetap selalu dicurahkan ke seluruh alam.
       Tidak pernah sekali pun alam ini dikucilkan dari manfaat sifat rahmat-Nya. Bahkan setelah selesai penciptaan alam semesta ini, kebutuhan akan Sumber rahmat itu akan tetap diperlukan setiap saat seolah-olah Dia belum menciptakan apa-apa.
          Sebagaimana dunia ini bergantung kepada Sifat Rabubiyat-Nya untuk mewujud, maka dunia ini tetap bergantung kepada Sifat itu untuk kelangsungan dan pemeliharaannya. Adalah Dia Yang menopang dunia ini setiap saat dan setiap noktah di alam ini terpelihara dan berkembang karena Dia. Dia melaksanakan Sifat Rabubiyat-Nya atas segala hal menurut kehendak- Nya. 
        Singkat kata, kebenaran ini bermakna bahwa segala sesuatu di alam diciptakan dan tergantung kepada Sifat Rabubiyat Allah  Swt.,  baik dalam kesempurnaan, kondisi maupun masanya. Tidak ada keunggulan ruhani atau jasmani yang bisa dicapai makhluk dari dirinya sendiri tanpa ketergantungan pada pengaturan dari Sang Maha Pengatur.
      Adalah suatu hal yang latent (tersembunyi) dari Sifat ini dan kebenaran-kebenaran lainnya bahwa Sifat Rabbul ‘ālamīn merupakan  Sifat yang khusus hanya bagi Diri-Nya dan tidak ada suatu apa pun yang menjadi sekutu-Nya. Ayat pembuka dari Surah yaitu Alhamdulillāh   (segala puji bagi Allah)  menjelaskan secara tegas bahwa segala puji hanyalah bagi Allah  Swt. semata.
      Kebenaran akbar yang kedua adalah Sifat Rahmān yang menempati urutan berikutnya setelah sifat Rabbul ‘ālamīn. Sudah dijelaskan  sebelumnya bahwa semua makhluk hidup, yang berakal maupun yang tidak, baik atau jahat, telah dibantu dan akan selalu ditopang oleh rahmat umum Allah Yang Maha Perkasa,  dengan segala sesuatu yang dibutuhkan bagi kehidupan dan kelanjutan spesi mereka. Semuanya itu merupakan karunia mutlak yang tidak tergantung kepada amalan atau upaya siapa pun.
      Kebenaran akbar yang ketiga setelah Sifat Rahmān adalah Sifat Rahīm. Hal ini berarti bahwa sesuai kehendak-Nya maka Allah Swt. akan memberikan imbalan hasil baik atas dasar permohonan makhluk-Nya. Dia mengampuni dosa mereka yang bertobat. Dia menganugrahkan karunia kepada mereka yang  memohon. Dia membukakan pintu kepada mereka yang mengetuknya.
      Kebenaran akbar keempat adalah Māliki Yaumiddīn. Berarti Allah Yang Maha Kuasa adalah Penguasa segala ganjaran yang sempurna yang bebas dari ujian dan  cobaan serta intervensi dari segala yang merancukan, suci dari segala yang tidak bersih, bebas dari keraguan dan cacat dan merupakan manifestasi (penampakan) kekuasaan-Nya yang akbar.
        Dia tidak kekurangan kekuatan untuk memanifestasikan pengganjaran-Nya yang sempurna  yang secerah siang hari. Manifestasi kebenaran akbar ini bertujuan untuk mencerahkan hal-hal berikut ini agar menjadi jelas bagi setiap orang sebagai suatu kepastian:
        Pertama, bahwa ganjaran dan penghukuman adalah suatu hal yang pasti yang dikenakan kepada semua makhluk oleh Sang Maha Penguasa sebagai bagian dari kehendak-Nya. Hal ini tidak mungkin ditunjukkan di dunia ini karena merupakan hal-hal yang tidak jelas bagi rata-rata orang yang tidak mengerti mengapa mereka akan mengalami kemaslahatan atau kemudharatan, kesenangan atau kesakitan
         Tidak akan ada orang yang mendengar suara dari mana pun yang menjelaskan bahwa apa yang dialaminya itu adalah ganjaran (balasan) dari amal perbuatannya, dan juga tidak akan ada yang menyadari atau merasa bahwa apa yang sedang dialaminya adalah sebagai akibat dari tindakannya.
       Kedua, penampakan itu ditujukan untuk memperlihatkan bahwa sarana duniawi itu tidak mempunyai arti dan bahwa Sang Maha Wujud atau Allah Swt.  adalah Sumber dari semua berkat dan Penguasa dari segala ganjaran.
       Ketiga, perlu adanya penegasan apa itu karunia yang baik dan apa yang namanya kemudharatan besar. Keberuntungan akbar adalah keadaan kemenangan tertinggi dimana nur, kebahagiaan, kesenangan dan keselesaan (ketentraman) merasuk di dalam dan di luar dari tubuh dan jiwa seseorang dimana tidak ada bagian tubuhnya yang terlewat.
         Kemudharatan besar adalah siksaan yang berasal dari akibat ketidak-patuhan, kekotoran jiwa, menjauhkan diri dari Tuhan-nya, yang akan membakar hati dan meliputi seluruh tubuh sehingga seluruh dirinya terasa bagai berada dalam api di neraka.
       Manifestasi seperti ini tidak bisa dilihat di dunia karena dunia yang sempit dan picik yang terselaput oleh segala keduniawian dan yang kondisinya tidak sempurna, tidak akan tahan menanggung (memikul) manifestasi (penampakkan) demikian. Dunia ini adalah ajang ujian dan cobaan dimana kesenangan dan kesakitan yang ada hanya bersifat sementara dan tidak sempurna. Apa pun yang dialami seseorang dalam hidupnya berada di bawah  (di balik) tabir sarana jasmani yang menyembunyikan Wujud  Sang Penguasa Pemberi ganjaran.
         Dengan demikian dunia ini bukan wadah ganjaran yang benar dan sempurna. Yang menjadi hari ganjaran yang sempurna dan terbuka adalah dunia yang akan datang setelah dunia sekarang ini. Dunia yang akan datang itu akan menjadi wadah manifestasi akbar dan penampakan dari keagungan dan keindahan yang sempurna.
       Kesulitan hidup atau kemudahan, kesenangan atau kesakitan, kesedihan atau pun kegembiraan,  semua yang dialami manusia di dunia yang sekarang tidak selalu menggambarkan atau merupakan akibat dari karunia Ilahi atau pun kemurkaan-Nya.
       Sebagai contoh, seorang yang kaya bukanlah merupakan bukti bahwa Tuhan berkenan atas dirinya, begitu pula kemiskinan atau kesulitan dianggap menjadi tanda bahwa Allah  Swt. memusuhi dirinya. Bisa jadi keadaan mereka itu menjadi cobaan agar yang kaya diuji karena kekayaannya sedangkan yang miskin dicoba karena kemiskinannya. Semua kebenaran akbar ini dijelaskan secara rinci di dalam Al-Quran.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 444-461, London, 1984).

Pembukaan Rahasia Gaib Allah Swt. kepada Rasul-Nya

        Penjelasan  yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. berkenaan   empat Sifat Tasybihiyyah utama Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah yang sangat luar-biasa tersebut  merupakan pemenuhan Sunnatullah yang dikemukakan dalam Al-Quran, bahwa sebagaimana hanya kepada Adam (Khalifah Allah) sajalah Allah Swt. mengajarkan rahasia al-Asmā-Nya (nama-nama-Nya - QS.2:31-35), demikian pula hanya kepada rasul-Nya sajalah Allah Swt. membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya, firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ۲﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,   supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu   (Al-Jin [72]:27-29).
  Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
 Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa  lainnya.
   Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib, yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
  Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan istimewa Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa  lainnya tidak begitu terpelihara, firman-Nya lagi:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya  hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik.   وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ-- Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ  --  tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ   --  karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ --  dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran [3]:180).
         Makna ungkapan مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ -- “Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya  hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik,“ maksudnya adalah  bahwa percobaan (ujian keimanan) dan kemalangan yang telah dialami kaum Muslimin hingga saat itu tidak akan segera berakhir. Masih banyak lagi percobaan (ujian keimanan) yang tersedia bagi mereka, dan percobaan-percobaan itu akan terus-menerus datang, hingga orang-orang beriman  sejati, akan benar-benar dibedakan dari kaum munafik dan yang lemah iman.
        Sunnatullah seperti itu berlaku dalam bidang apa pun jika bermaksud memperoleh sesuatu yang terbaik,  contohnya untuk menentukan juara pertama   dalam suatu bidang perlombaan (pertandingan), para peserta   -- yang merasa dirinya atau timnya  layak untuk  menjadi juara  --    terlebih dulu harus melalui berbagai tingkatan:  babak penyisihan, perempat final, semi final  sampai akhirnya harus berhasil  mencapai babak final.
         Dalam babak final inilah juara  yang sebenarnya dari para peserta perlombaan (pertandingan) tersebut akan dihasilkan, sehingga   para peserta yang pada babak awal  masing-masing merasa dirinya (timnya) yang layak menjadi  juara perlombaan (pertandingan) harus mengakui keunggulan sang juara tersebut. Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  الٓـمّٓ ۚ﴿﴾  اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ یُّتۡرَکُوۡۤا اَنۡ یَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَ ہُمۡ  لَا یُفۡتَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ  الۡکٰذِبِیۡنَ  ﴿﴾  اَمۡ حَسِبَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ اَنۡ  یَّسۡبِقُوۡنَا ؕ سَآءَ  مَا یَحۡکُمُوۡنَ  ﴿﴾ مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ  فَاِنَّ  اَجَلَ اللّٰہِ  لَاٰتٍ ؕ وَ ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  الٓـمّٓ  --   Aku, Allāh Yang Maha Mengetahui.   Apakah manusia menyangka  bahwa mereka akan dibiarkan berkata: “Kami telah beriman,” dan  mereka tidak akan diuji?   Dan  sungguh Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka pasti Allah mengetahui  orang-orang yang berkata benar dan pasti Dia  mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang berbuat keburukan menyangka bahwa mereka akan dapat melepaskan diri dari azab Kami? Sangat buruk  apa yang mereka putuskan!  (Al-Ankabūt [29]:1-6).

Dua Macam Ilmu  &   Kewajiban “Umat yang Terbaik

  ‘Ilm (ilmu) ada dua macam: (a) Ilmu berupa pengetahuan mengenai sesuatu sebelum sesuatu itu mengambil wujud. Ilmu semacam itu tidak dimaksudkan di sini, sebab Allah Swt.    – Tuhan  Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata   -- adalah yang paling mengetahui segala yang nampak maupun yang gaib (QS.59:23). (b) Ilmu berupa pengetahuan mengenai peristiwa yang benar-benar terjadi. Ilmu semacam itulah yang dimaksud di sini.
   Ayat  4-5  berarti bahwa makrifat Ilahi yang sederhana dan bertaraf rendah akan mengambil bentuk ilmu lahiriah (yang nyata). Atau ayat itu mengandung arti  bahwa Allah Swt. akan memisahkan pendusta-pendusta dari orang-orang jujur, sebagaimana kata ‘ilm memiliki juga pengertian membedakan antara dua benda, terutama bila kata itu disusul oleh kata perangkai min (dari).
    Contohnya dalam  QS.2:144  Allah Swt. telah menjadikan perpindahan qiblat dari Baitul-muqadas di Yerusalem ke Baitullah di Mekkah sebagai  sarana  pemisah  antara orang-orang yang beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. dari orang-orang yang mendustakan dan menentang beliau saw., baik dari kalangan kaum msuyrik Mekkah mau pun dari golongan Ahli Kitab, firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ  اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً  اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ  ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan demikianlah  Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia supaya kamu senantiasa men-jadi penjaga manusia dan supaya Rasul itu senantiasa menjadi penjaga  kamu. وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ  اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ -- Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan  kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat melainkan supaya Kami mengetahui orang yang mengikuti Rasul dari orang yang berpaling di atas kedua tumitnya. وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً  اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ     --  Dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ  -- Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan iman kamu, اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ --  sesung-guhnya Allah benar-benar Maha Pengasih, Maha Penyayang terhadap manusia. (Al-Baqarah [2];144).
        Al-wasath dalam ayat: وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا  -- “Dan demikianlah  Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia,” berarti: menempati kedudukan di tengah; baik dan mulia dalam pangkat (Al-Aqrab-ul-Ma’arib). Kata itu dipakai di sini dalam arti baik dan mulia. Dalam QS.3:111 pun kaum Muslimin disebut kaum terbaik.
        Kaum Muslimin diperingatkan  dalam ayat لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا  --   bahwa tiap-tiap keturunan mereka harus menjaga dan mengawasi keturunan berikutnya. Karena mereka kaum terbaik maka mereka berkewajiban senantiasa berjaga-jaga agar jangan jatuh dari taraf hidup yang tinggi seperti yang diharapkan dari mereka, dan berusaha agar setiap keturunan berikutnya pun mengikuti jalan yang ditempuh oleh mereka yang telah menikmati pergaulan suci dengan Nabi Besar Muhammad saw..   
       Jadi  Nabi Besar Muhammad saw..     itu harus menjadi penjaga para pengikut beliau saw. yang terdekat, sedang mereka pada gilirannya harus menjadi penjaga penerus-penerus mereka dan demikian seterusnya.

Perubahan  Kibat Sebagai Sarana Pemisah (Pembeda)

       Kata-kata وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ  اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ –  “Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan  kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat melainkan supaya Kami mengetahui orang yang mengikuti Rasul dari orang yang berpaling di atas kedua tumitnya”  dapat pula berart,i bahwa seperti  telah ditakdirkan, kaum Muslimin akan menjadi pemimpin umat manusia dan dengan amal saleh mereka akan menjadi penerima karunia-karunia istimewa dari Allah Swt..
        Dengan demikian kaum-kaum lain akan terpaksa mengambil kesimpulan  bahwa orang-orang Islam mengikuti agama yang benar, dan dengan demikian kaum Muslimin akan menjadi saksi atas kebenaran Islam bagi orang-orang lain, seperti halnya Nabi Besar Muhammad saw.   telah menjadi saksi atas kebenaran Islam bagi mereka.
       Dari kata-kata  وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً  اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ     --    ”dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah.”  itu tampak bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  telah mengambil Baitulmuqadas di Yerusalem sebagai kiblat beliau saw. atas perintah Ilahi, tetapi karena Baitulmuqadas itu dimaksudkan oleh Allah Swt.    hanya untuk menjadi kiblat sementara dan kelak akan digantikan Ka’bah, yang akan menjadi kiblat untuk seluruh umat manusia sepanjang masa, maka perintah bertalian dengan kiblat sementara itu tidak termasuk dalam Al-Quran.
         Hal itu menunjukkan bahwa semua perintah yang sifatnya sementara semacam itu tidak dimasukkan dalam Al-Quran, hanya perintah-perintah yang bersifat kekal saja yang dimasukkan di dalamnya. Jadi, anggapan bahwa ada beberapa ayat dalam Al-Quran yang sekarang tidak berlaku lagi sama sekali tidak berdasar  (QS.2:107).
       Orang-orang Arab itu sangat besar keterikatan mereka kepada Ka’bah, rumah ibadah tertua di Mekkah. Ka’bah adalah tempat peribadatan nasional mereka yang turun temurun semenjak zaman Nabi Ibrahim a.s. maka merupakan percobaan berat bagi mereka ketika pada zaman permulaan Islam diperintahkan meninggalkan Ka’bah dan digantikannya dengan Baitulmuqadas di Yerusalem yang merupakan kiblat para Ahlulkitab (Bukhari dan Tafsir Ibnu Jarir).
        Demikian pula kemudian ketika di Medinah perubahan kiblat dari Baitulmuqadas ke Ka’bah merupakan ujian berat bagi kaum Yahudi dan Kristen. Jadi, perubahan itu ternyata merupakan ujian bagi para Ahlulkitab dan kaum Muslimin, begitu pula bagi kaum musyrikin Mekkah, sebagaimana firman-Nya: وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً  اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ     --    ”dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah.”   
    Demikian pula berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa  merupakan sarana untuk membedakan (memisahlan) antara orang-orang  yang benar-benar  beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya dari orang-orang munafik serta mereka yang lemah iman   (QS.3:141).

Rasul Allah Sebagai Sarana  Pemisah (Pembeda)

    Jadi, kembali kepada  ayat مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ -- “Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya  hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik” (QS.3:180), bahwa orang-orang yang beriman ditakdirkan untuk melalui kesulitan-kesulitan besar dan serba berkekurangan, dan keimanan mereka mendapat ujian yang berat; dan sesudah mereka keluar dari percobaan-percobaan itu dengan berhasil, barulah kenyataan akan menjadi terbukti, bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang sejati dan tulus-ikhlas. Dengan jalan inilah mereka dipisahkan dari orang-orang munafik, yakni palsu dalam pengakuan iman mereka.
         Kemudian makna ayat selanjutnya:   وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ   -- “tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki,” ayat  itu tidaklah berarti bahwa sebagian rasul-rasul terpilih dan sebagian lagi tidak, melainkan kata-kata itu berarti bahwa dari orang-orang yang ditetapkan Allah Swt.    sebagai rasul-rasul-Nya, Dia memilih yang paling sesuai untuk zaman tertentu yakni  di zaman rasul Allah itu dibangkitkan, termasuk di Akhir Zaman ini, karena Allah Swt. Yang paling mengetahui siapa yang paling layak untuk mengemban amanat kenabian  tersebut guna memisahkan    orang-orang pengakuan imannya benar dari yang tidak benar (palsu).
       Mengapa demikian? Sebab masalah benar-tidaknya keimanan seseorang   atau suatu golongan  umat beragama  tidak dapat ditenatukan melalui suatu “lembaga fatwa”  buatan manusia yang penuh dengan kelemahan  serta tidak mengetahui hal-hal yang gaib.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 28 Agustus 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar