بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 23
Pengulangan “Penggulungan Langit” Selama 1000 Tahun & Akibat Buruk “Kemarau Panjang Ruhani” di Kalangan Umat Beragama
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai nubuatan kemunduran yang
dialami umat Islam selama 1000
tahun setelah mengalami masa kejayaannya
yang pertama selama 3 abad (QS.32:6)
yang diisyaratkan dalam ayat: ثُمَّ
قَبَضۡنٰہُ اِلَیۡنَا قَبۡضًا
یَّسِیۡرًا -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami
perlahan-lahan. (Al-Furqān [25]:47), sepenuhnya adalah akibat dari ketidak-bersyukuran yang dilakukan oleh umat Islam sendiri, bukan kehendak
Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ
اِلٰی رَبِّکَ کَیۡفَ مَدَّ
الظِّلَّ ۚ وَ لَوۡ شَآءَ لَجَعَلَہٗ
سَاکِنًا ۚ ثُمَّ جَعَلۡنَا الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ دَلِیۡلًا ﴿ۙ﴾ ثُمَّ
قَبَضۡنٰہُ اِلَیۡنَا قَبۡضًا
یَّسِیۡرًا ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat bagaimana Rabb (Tuhan) engkau memanjangkan
bayangan? Dan seandainya
Dia menghendaki niscaya Dia menjadikannya tetap, kemudian Kami menjadikan kedudukan matahari
sebagai petunjuk atasnya. ثُمَّ
قَبَضۡنٰہُ اِلَیۡنَا قَبۡضًا
یَّسِیۡرًا -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami perlahan-lahan. (Al-Furqān
[25]:46-47).
Penarikan Kembali “Ruh” Al-Quran Dalam Masa Seribu
Tahun
Kalau kata memanjangnya “bayangan” dalam ayat
yang sebelumnya melambangkan kekuasaan
dalam pengaruh, maka dalam ayat ثُمَّ
قَبَضۡنٰہُ اِلَیۡنَا قَبۡضًا
یَّسِیۡرًا -- “Kemudian Kami menariknya kepada Kami perlahan-lahan,” kata “menariknya” mengandung arti
kemunduran dan kebobrokan yang melanda umat Islam secara berangsur-angsur selama
1000 tahun setelah masa kejayaan yang pertama selama 3 abad, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ
اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya
dalam satu hari, yang hitungan
lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6).
Sebagaimana telah dijelaskan berulang kali,
bahwa ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba
sangat hebat, yang ditakdirkan akan
menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu
masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat). Islam mulai mundur sesudah 3
abad pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya.
Jadi, ayat یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ
مِنَ السَّمَآءِ اِلَی الۡاَرۡضِ -- “Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi” Surah
As-Sajdah ayat 6 ini identik
dengan makna ayat Surah sebelumnya: اَلَمۡ تَرَ
اِلٰی رَبِّکَ کَیۡفَ مَدَّ
الظِّلَّ ۚ وَ لَوۡ شَآءَ لَجَعَلَہٗ
سَاکِنًا ۚ ثُمَّ جَعَلۡنَا الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ دَلِیۡلًا -- Apakah
engkau tidak melihat bagaimana
Rabb (Tuhan) engkau memanjangkan bayangan? Dan seandainya Dia menghendaki niscaya Dia
menjadikannya tetap, kemudian Kami
menjadikan kedudukan matahari sebagai petunjuk atasnya”, yakni
mengisyaratkan kepada masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad.
Sedangkan ayat
ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- “kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang
kamu hitung” (QS.32:6) identik dengan makna ayat: ثُمَّ قَبَضۡنٰہُ
اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami
perlahan-lahan. (Al-Furqān [25]:47), yaitu
mengisyaratkan kepada proses masa kemunduran
yang dialami umat Islam selama 1000 tahun setelah 3 abad
masa kejayaannya yang pertama.
Pengulangan “Penggulungan
Langit”
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad
saw. sehubungan dengan Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 diriwayatkan
pernah bersabda bahwa “apabila iman terbang
ke Bintang Tsuraya maka seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke
bumi (Bukhari,
Kitab-ut-Tafsir).
Dengan kedatangan Masih
Mau’ud a.s. dalam abad
ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotan Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku.
Berikut adalah firman-Nya mengenai pengulangan “penggulungan langit”:
لَا یَحۡزُنُہُمُ
الۡفَزَعُ الۡاَکۡبَرُ وَ تَتَلَقّٰہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ ہٰذَا یَوۡمُکُمُ
الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾ یَوۡمَ نَطۡوِی السَّمَآءَ کَطَیِّ السِّجِلِّ
لِلۡکُتُبِ ؕ کَمَا
بَدَاۡنَاۤ اَوَّلَ خَلۡقٍ نُّعِیۡدُہٗ ؕ وَعۡدًا
عَلَیۡنَا ؕ اِنَّا کُنَّا
فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾
Tidak akan menyedihkan mereka kegentaran besar, dan malaikat-malaikat
akan bertemu dengan mereka seraya berkata: ہٰذَا یَوۡمُکُمُ الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ -- “Inilah hari kamu yang
telah dijanjikan kepada kamu.” یَوۡمَ نَطۡوِی السَّمَآءَ کَطَیِّ السِّجِلِّ لِلۡکُتُبِ -- Yaitu pada hari ketika langit akan Kami gulung seperti tergulungnya
lembaran-lembaran naskah tulisan.” کَمَا بَدَاۡنَاۤ اَوَّلَ خَلۡقٍ نُّعِیۡدُہٗ ؕ وَعۡدًا عَلَیۡنَا ؕ اِنَّا کُنَّا فٰعِلِیۡنَ -- Sebagaimana
Kami memulai penciptaan untuk pertama
kali dan Kami akan mengulanginya lagi, suatu
janji atas Kami, sesungguhnya hal itu
pasti akan Kami laksanakan (Al-Anbiya [21]:104-105).
“Tergulungnya langit” dapat berarti,
bahwa kemaharajaan-kemaharajaan besar
akan disapu bersih dan bangsa-bangsa
yang gagah-perkasa akan dihancurkan,
dan bangsa-bangsa lain akan naik
jenjang kekuasaan menggantikan
mereka.
Atau dapat diberi arti, bahwa dengan perantaraan Nabi Besar Muhammad
saw. suatu perubahan besar akan
terjadi dan “langit lama akan digulung” dan sebagai gantinya suatu “langit baru dan
bumi baru” akan diciptakan. Orde
lama akan mati dan sebagai
gantinya suatu orde baru dan lebih
baik akan terwujud. Dunia belum pernah menyaksikan perubahan yang begitu sempurna dalam kehidupan suatu kaum, seperti pernah disaksikan di masa Nabi Besar Muhammad saw. , firman-Nya:
وَ قَدۡ
مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ
لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ الۡجِبَالُ ﴿﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾ یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ
السَّمٰوٰتُ وَ بَرَزُوۡا لِلّٰہِ
الۡوَاحِدِ الۡقَہَّارِ ﴿﴾ وَ تَـرَی
الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی
الۡاَصۡفَادِ ﴿ۚ﴾ سَرَابِیۡلُہُمۡ
مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ
النَّارُ ﴿ۙ﴾ لِیَجۡزِیَ
اللّٰہُ کُلَّ نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾ ہٰذَا بَلٰغٌ
لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ اِلٰہٌ
وَّاحِدٌ وَّ لِیَذَّکَّرَ
اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿٪﴾
Dan sungguh mereka
telah melakukan makar mereka, tetapi ma-kar
mereka ada di sisi Allah, dan jika
sekali pun makar mereka dapat
me-mindahkan gunung-gunung. فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ
وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ -- Maka
janganlah engkau sama sekali
menyangka bahwa Allāh akan menyalahi janji-Nya
kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya
Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan. یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ
الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ
بَرَزُوۡا لِلّٰہِ الۡوَاحِدِ الۡقَہَّارِ -- Pada hari
ketika bumi ini akan digantikan dengan
bumi yang lain, dan begitu pula seluruh
langit, dan mereka akan
tampil menghadap Allah, Yang Maha
Esa, Maha Perkasa. وَ تَـرَی
الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی
الۡاَصۡفَادِ -- Dan engkau
akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat dengan rantai. سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ
تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ النَّارُ -- Baju mereka dari pelangkin (ter), dan wajah mereka akan tertutup api. لِیَجۡزِیَ
اللّٰہُ کُلَّ نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ -- Supaya Allah membalas setiap jiwa
apa yang telah diusahakannya,
اِنَّ اللّٰہَ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- sesungguhnya penghisaban Allah sangat cepat. ہٰذَا بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ -- Al-Quran ini
adalah penjelasan yang cukup bagi
manusia, dan supaya dengannya mereka
mendapat peringatan, وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا
اَنَّمَا ہُوَ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ
وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا
الۡاَلۡبَابِ -- dan supaya mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa,
dan supaya orang-orang yang berakal
memberikan perhatian. (Ibrahim [14]:47-53).
Dengan jatuhnya
Mekkah dan tegaknya Islam di
Arabia sebagai satu kekuatan dahsyat, maka seolah-olah terwujudlah satu alam semesta baru dengan langit dan bumi baru. Tertib lama telah dilenyapkan dan diganti oleh tertib baru, yang sama sekali berbeda dari yang lama.
Pengulangan Penciptaan
Merupakan Sunnatullah & Akibat Buruk Kemarau Panjang Ruhani
Ungkapan
“dan Kami akan mengulanginya
lagi” dalam Surah sebelumnya: کَمَا بَدَاۡنَاۤ اَوَّلَ خَلۡقٍ نُّعِیۡدُہٗ ؕ وَعۡدًا عَلَیۡنَا ؕ اِنَّا کُنَّا فٰعِلِیۡنَ -- ”sebagaimana Kami memulai penciptaan untuk pertama kali dan
Kami akan mengulanginya lagi, suatu
janji atas Kami, sesungguhnya hal itu
pasti akan Kami laksanakan,”
mengandung arti bahwa tertib dunia yang diwujudkan oleh Nabi
Besar Muhammad saw. akan menemui kemunduran
melalui pandangan hidup serba kebendaan pada orang-orang Muslim, yang ditimbulkan oleh kebudayaan barat -- yang
disebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai fitnah Dajjal -- yang sepi dari Tauhid
dan serba mekanis itu, firman-Nya:
اَلَمۡ
یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ
کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا
اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ
الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang
beriman, bahwa hati mereka tunduk
untuk mengingat Allah dan mengingat kebenaran
yang telah turun kepada mereka, وَ لَا یَکُوۡنُوۡا
کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak menjadi seperti
orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ -- maka zaman
kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا -- Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا
لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ
تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda
kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd
[57]:17-18).
Tetapi kemunduran Islam tersebut akan
berlaku hanya sementara saja, dan Islam akan mengalami suatu kebangkitan ruhani yang baru,
dan sekali lagi akan muncul dengan unggul, sebagaimana diisyaratkan
dalam ayat: اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا -- Ketahuilah, bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا
لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda
kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd
[57]:18), yaitu melalui pengutusan Rasul
Akhir Zaman, yakni Masih
Mau’ud a.s., firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia meme-nangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak
menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat
ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan
(Masih Mau’ud a.s.) sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama
akan menjadi kepastian.
Dua Kali Pengutusan Nabi Besar
Muhammad Saw.
Pendek kata, keadaan ratqan (menggumpal) setelah masa kejayaan Islam yang pertama selama
3 abad secara berangsur-angsur akan
melanda umat Islam dalam jangka waktu 1000 tahu
(QS.32:6), dan pencapai puncak penggumpalannya yang pekat terjadi pada
abad 14 hijriyah, lalu Sunnatullah berupa proses “the
Big Bang” (ledakan) besar atau fataq (pemecahan gumpalan – QS.21:31) kembali terjadi melalui pengutusan Rasul Akhir Zaman yang dibangkitkan dari
kalangan umat Islam dari kalangan “ākharīn
minhum”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ یُسَبِّحُ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی
الۡاَرۡضِ الۡمَلِکِ الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ فِی
الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا
مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
یُسَبِّحُ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی
الۡاَرۡضِ الۡمَلِکِ الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ -- Menyanjung kesucian Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, Yang Maha Berdaulat, Maha Suci,
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ہُوَ الَّذِیۡ
بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ -- Dia-lah
Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang
rasul dari antara
mereka, yang membacakan kepada mereka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya
mereka benar-benar berada dalam
kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar (Al-Jumu’ah
[62]:2-5).
Keempat Sifat
Ilahi: الۡمَلِکِ
الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ -- “Yang Maha Berdaulat, Maha Suci,
Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” itu bertalian dengan keempat tugas Nabi Besar Muhammad
saw. yang tercantum di dalam ayat
berikutnya.
Sesuai dengan keempat Sifat Ilahi tersebut empat macam
tugas suci Nabi Besar Muhammad saw. meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia
yang disebut dalam ayat ini: ہُوَ الَّذِیۡ
بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ -- Dia-lah Yang
telah membangkitkan di kalangan
bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah” (ayat 3).
Empat macam tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebab untuk kedatangan beliau saw. di
tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf
itu, Nabi Ibrahim a.s. -- leluhur
beliau saw. -- telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang
lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s.. beliau
mendirikan kembali dasar (pondasi) Ka’bah
(QS.2:128-130).
Pada hakikatnya tidak ada
Pembaharu (Mushlih rabbani) dapat
benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan -- dengan contoh
mulia dan quat-qudsiahnya (daya
pensuciannya) -- suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri
dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti dan kepentingan
cita-cita dan asas-asas ajaran-nya itu,
kemudian mengirimkan
pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa lain.
Didikan yang Nabi Besar
Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw. tersebut memperluas
dan mempertajam kecerdasan mereka,
dan falsafat ajaran beliau saw. menimbulkan
dalam diri mereka keyakinan iman, sedangkan contoh
mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat
ini.
Keturunan Bangsa Farsi
Makna ayat selanjutnya: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- “dan
juga akan membangkitkannya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,” bahwa ajaran Nabi Besar Muhammad saw. ditujukan bukan kepada bangsa Arab belaka -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan -- melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2;
QS.34:29); dan bukan hanya kepada orang-orang
sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan (generasi) demi keturunan
manusia yang akan datang hingga Hari
Kiamat (QS.7:35-37).
Atau ayat ini dapat
juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad
saw. akan dibangkitkan di kalangan
kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut (sahabat) semasa hidup beliau
saw.. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur,
tertuju kepada pengutusan beliau saw.
untuk kedua kali dalam wujud Masih Mau’ud a.s.. di
Akhir Zaman.
Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang
duduk-duduk bersama Rasulullah saw., ketika Surah Al-Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.:
“Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata
وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum
lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Ketika itu Salman al-Farsi (Salman asal Parsi)
sedang duduk di antara kami.
Setelah saya
berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan
beliau saw. pada Salman dan bersabda:
“Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini
pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat
ini dikenakan kepada seorang lelaki
dari keturunan Parsi. Masih
Mau’ud a.s., pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi.
Hadits Nabi saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran
kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal
di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati
akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada
kedatangan kedua kali Nabi Besar
Muhammad saw. di Akhir Zaman ini dalam wujud Masih
Mau’ud a.s..
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 31 Agustus 2015
walaupun sesungguh nya pemengang sabda raja,sabda doa,air kehidupan,juga cakra meteor dan mendapatkan restu mausia seutuh di dunia dari mahluk Allah yg suci dan seizin Allah tapi saya hanya memberi pesan"dan tanda dalam pribahasa.
BalasHapus