Minggu, 30 Agustus 2015

Pengulangan "Penggulungan Langit" Selama Seribu Tahun & Akibat Buruk "Kemarau Panjang Ruhani" di Kalangan Umat Beragama


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 23

Pengulangan “Penggulungan Langit” Selama 1000 Tahun  & Akibat Buruk “Kemarau Panjang Ruhani” di Kalangan Umat Beragama

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai nubuatan kemunduran yang dialami umat Islam selama  1000 tahun setelah mengalami masa kejayaannya yang pertama selama 3 abad (QS.32:6) yang diisyaratkan dalam ayat: ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا   -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami  perlahan-lahan. (Al-Furqān [25]:47),  sepenuhnya adalah akibat dari ketidak-bersyukuran  yang dilakukan oleh umat Islam sendiri, bukan kehendak Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:
اَلَمۡ  تَرَ  اِلٰی رَبِّکَ کَیۡفَ مَدَّ  الظِّلَّ ۚ وَ لَوۡ شَآءَ لَجَعَلَہٗ  سَاکِنًا ۚ ثُمَّ جَعَلۡنَا الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ  دَلِیۡلًا ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat  bagaimana Rabb (Tuhan) engkau memanjangkan bayangan?  Dan  seandainya Dia menghendaki niscaya  Dia menjadikannya tetap, kemudian Kami menjadikan kedudukan matahari sebagai petunjuk atasnya.  ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا   -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami  perlahan-lahan. (Al-Furqān [25]:46-47).   

Penarikan  Kembali “Ruh” Al-Quran Dalam Masa  Seribu Tahun

     Kalau kata  memanjangnya “bayangan” dalam ayat yang sebelumnya melambangkan kekuasaan dalam pengaruh, maka dalam ayat  ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا   -- “Kemudian Kami menariknya kepada Kami  perlahan-lahan,”  kata “menariknya” mengandung arti kemunduran dan kebobrokan yang melanda umat Islam secara berangsur-angsur selama 1000 tahun setelah masa kejayaan yang pertama selama 3 abad, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung.  (As-Sajdah [32]:6).
       Sebagaimana telah dijelaskan berulang kali, bahwa ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
     Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat). Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya.
        Jadi, ayat  یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ  -- “Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi”  Surah As-Sajdah ayat 6 ini identik dengan makna ayat Surah sebelumnya: اَلَمۡ  تَرَ  اِلٰی رَبِّکَ کَیۡفَ مَدَّ  الظِّلَّ ۚ وَ لَوۡ شَآءَ لَجَعَلَہٗ  سَاکِنًا ۚ ثُمَّ جَعَلۡنَا الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ  دَلِیۡلًا  --  Apakah engkau tidak melihat  bagaimana Rabb (Tuhan) engkau memanjangkan bayangan?  Dan  seandainya Dia menghendaki niscaya  Dia menjadikannya tetap, kemudian Kami menjadikan kedudukan matahari sebagai petunjuk atasnya”, yakni mengisyaratkan kepada  masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad.
        Sedangkan ayat  ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  --   “kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (QS.32:6)  identik dengan makna ayat:   ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا   -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami  perlahan-lahan. (Al-Furqān [25]:47), yaitu mengisyaratkan kepada proses masa kemunduran yang dialami umat Islam selama 1000 tahun setelah   3 abad masa kejayaannya yang pertama.

Pengulangan “Penggulungan Langit

     Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw.  sehubungan dengan Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 diriwayatkan pernah bersabda bahwa “apabila iman  terbang ke Bintang Tsuraya maka seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir).   
Dengan kedatangan  Masih Mau’ud a.s.  dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotan  Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku. Berikut adalah  firman-Nya mengenai  pengulangan “penggulungan langit”:
لَا یَحۡزُنُہُمُ الۡفَزَعُ الۡاَکۡبَرُ وَ تَتَلَقّٰہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ ہٰذَا یَوۡمُکُمُ الَّذِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾  یَوۡمَ نَطۡوِی السَّمَآءَ کَطَیِّ السِّجِلِّ لِلۡکُتُبِ ؕ کَمَا بَدَاۡنَاۤ  اَوَّلَ خَلۡقٍ نُّعِیۡدُہٗ ؕ وَعۡدًا عَلَیۡنَا ؕ اِنَّا کُنَّا فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾ 
Tidak akan menyedihkan mereka kegentaran besar,  dan  malaikat-malaikat akan bertemu dengan mereka seraya berkata:  ہٰذَا یَوۡمُکُمُ الَّذِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ  --  “Inilah hari kamu yang telah dijanjikan kepada kamu.” یَوۡمَ نَطۡوِی السَّمَآءَ کَطَیِّ السِّجِلِّ لِلۡکُتُبِ --   Yaitu pada hari ketika langit akan Kami gulung  seperti tergulungnya lembaran-lembaran naskah tulisan.”  کَمَا بَدَاۡنَاۤ  اَوَّلَ خَلۡقٍ نُّعِیۡدُہٗ ؕ وَعۡدًا عَلَیۡنَا ؕ اِنَّا کُنَّا فٰعِلِیۡنَ  --   Sebagaimana Kami  memulai penciptaan untuk pertama kali dan Kami akan mengulanginya  lagi, suatu janji atas Kami, sesungguhnya hal itu pasti akan Kami laksanakan  (Al-Anbiya [21]:104-105).
       “Tergulungnya langit” dapat berarti, bahwa kemaharajaan-kemaharajaan besar akan disapu bersih dan bangsa-bangsa yang gagah-perkasa akan dihancurkan, dan bangsa-bangsa lain akan naik jenjang kekuasaan menggantikan mereka.
        Atau dapat diberi arti, bahwa dengan perantaraan Nabi Besar Muhammad saw. suatu perubahan besar akan terjadi dan “langit lama akan digulung”  dan sebagai gantinya suatu “langit baru dan bumi baru” akan diciptakan. Orde lama akan mati dan sebagai gantinya suatu orde baru dan lebih baik akan terwujud. Dunia belum pernah menyaksikan perubahan yang begitu sempurna dalam kehidupan suatu kaum, seperti pernah disaksikan di masa  Nabi Besar  Muhammad saw. , firman-Nya:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ  الۡجِبَالُ ﴿﴾  فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾  یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ  بَرَزُوۡا  لِلّٰہِ  الۡوَاحِدِ الۡقَہَّارِ ﴿﴾ وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی  الۡاَصۡفَادِ ﴿ۚ﴾  سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ  النَّارُ ﴿ۙ﴾  لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ  کُلَّ  نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾  ہٰذَا بَلٰغٌ  لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ   وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ  وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا  الۡاَلۡبَابِ ﴿٪﴾
Dan  sungguh  mereka telah melakukan makar mereka, tetapi ma-kar mereka ada di sisi Allah,  dan  jika sekali pun  makar mereka dapat me-mindahkan gunung-gunung. فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ  --  Maka janganlah engkau sama sekali menyangka  bahwa  Allāh akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya  Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan.  یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ  بَرَزُوۡا  لِلّٰہِ  الۡوَاحِدِ الۡقَہَّارِ  --  Pada hari ketika bumi ini akan digantikan dengan bumi yang lain, dan begitu pula seluruh langit, dan mereka akan tampil menghadap Allah, Yang Maha Esa, Maha Perkasa. وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی  الۡاَصۡفَادِ  --  Dan  engkau akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat dengan rantai. سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ  النَّارُ  --   Baju mereka dari pelangkin (ter), dan wajah mereka akan tertutup  api. لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ  کُلَّ  نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ   --   Supaya Allah membalas setiap jiwa  apa yang telah diusahakannya, اِنَّ  اللّٰہَ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ  -- sesungguhnya penghisaban Allah sangat cepat. ہٰذَا بَلٰغٌ  لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ   -- Al-Quran ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya dengannya mereka mendapat peringatan,  وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ  وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا  الۡاَلۡبَابِ -- dan supaya mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, dan supaya orang-orang yang berakal memberikan perhatian. (Ibrahim [14]:47-53). 
   Dengan jatuhnya Mekkah dan tegaknya Islam di Arabia sebagai satu kekuatan dahsyat, maka seolah-olah terwujudlah satu alam semesta baru dengan langit dan bumi baru. Tertib lama telah dilenyapkan dan diganti oleh tertib baru, yang sama sekali berbeda dari yang lama.

Pengulangan Penciptaan Merupakan Sunnatullah  & Akibat Buruk Kemarau Panjang Ruhani

         Ungkapan   “dan Kami akan mengulanginya lagi”   dalam Surah sebelumnya: کَمَا بَدَاۡنَاۤ  اَوَّلَ خَلۡقٍ نُّعِیۡدُہٗ ؕ وَعۡدًا عَلَیۡنَا ؕ اِنَّا کُنَّا فٰعِلِیۡنَ  --     ”sebagaimana Kami  memulai penciptaan untuk pertama kali dan Kami akan mengulanginya  lagi, suatu janji atas Kami, sesungguhnya hal itu pasti akan Kami laksanakan,”  mengandung arti bahwa tertib dunia yang diwujudkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. akan menemui kemunduran melalui pandangan hidup serba kebendaan pada orang-orang Muslim, yang ditimbulkan oleh kebudayaan barat    -- yang disebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai fitnah Dajjal -- yang sepi dari Tauhid dan serba mekanis itu, firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka,  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ -- maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu   hati mereka menjadi keras,  وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا --  Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ  -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
Tetapi kemunduran Islam  tersebut akan berlaku hanya sementara saja, dan Islam akan  mengalami suatu kebangkitan ruhani yang baru, dan sekali lagi akan muncul dengan unggul, sebagaimana diisyaratkan dalam  ayat:   اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا --  Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ  -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:18), yaitu melalui pengutusan Rasul Akhir Zaman, yakni   Masih Mau’ud a.s., firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia meme-nangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.) sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.

Dua Kali Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw.

        Pendek  kata, keadaan ratqan (menggumpal) setelah masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad secara berangsur-angsur akan melanda umat Islam dalam jangka waktu 1000 tahu  (QS.32:6), dan pencapai puncak penggumpalannya yang pekat terjadi pada abad 14 hijriyah, lalu  Sunnatullah berupa  proses “the Big Bang” (ledakan) besar atau fataq  (pemecahan gumpalan – QS.21:31) kembali terjadi melalui pengutusan Rasul Akhir Zaman yang dibangkitkan dari kalangan umat Islam dari kalangan “ākharīn minhum”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  یُسَبِّحُ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ الۡمَلِکِ الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ ﴿﴾   ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ 
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. یُسَبِّحُ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ الۡمَلِکِ الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ --     Menyanjung kesucian  Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, Yang Maha Berdaulat, Maha Suci, Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ --  Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ --  walaupun sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --   Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan merekaوَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksanaذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --   Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar  (Al-Jumu’ah [62]:2-5).
     Keempat Sifat Ilahiالۡمَلِکِ الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ   -- “Yang Maha Berdaulat, Maha Suci, Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” itu bertalian dengan keempat tugas  Nabi Besar Muhammad saw.  yang tercantum di dalam ayat berikutnya.
    Sesuai dengan keempat Sifat Ilahi tersebut empat macam tugas suci Nabi Besar Muhammad saw.  meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat ini: ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ --  Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah” (ayat 3).
   Empat macam tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada Nabi Besar Muhammad saw.,  sebab untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu, Nabi Ibrahim a.s.   --  leluhur beliau saw.  --  telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s.. beliau mendirikan kembali dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:128-130).
   Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu (Mushlih rabbani) dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan   -- dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya)  -- suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti  dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajaran-nya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa lain.
   Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw.  tersebut  memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan falsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman,  sedangkan contoh mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat ini.

Keturunan Bangsa Farsi

    Makna ayat  selanjutnya: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --   “dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan merekaوَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,”  bahwa  ajaran  Nabi Besar Muhammad saw.  ditujukan bukan kepada bangsa Arab belaka  --  yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan  -- melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29); dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan (generasi) demi keturunan manusia yang akan datang hingga Hari Kiamat (QS.7:35-37).
     Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  akan dibangkitkan di kalangan kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut (sahabat) semasa hidup beliau saw.. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan beliau saw. untuk kedua kali dalam wujud  Masih Mau’ud a.s.. di Akhir Zaman.
   Abu Hurairah r.a.  berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.,  ketika Surah Al-Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ    -- Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Ketika itu Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
    Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau saw. pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
   Hadits Nabi Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.   Masih Mau’ud a.s., pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi. Hadits Nabi saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini  dalam wujud  Masih Mau’ud a.s..

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 31 Agustus 2015



1 komentar:

  1. walaupun sesungguh nya pemengang sabda raja,sabda doa,air kehidupan,juga cakra meteor dan mendapatkan restu mausia seutuh di dunia dari mahluk Allah yg suci dan seizin Allah tapi saya hanya memberi pesan"dan tanda dalam pribahasa.

    BalasHapus