Sabtu, 08 Agustus 2015

Nubuatan Mengenai Surah Al-Fatihah Dalam Bible & Pentingnya Doa Mohon Perlindungan Allah Swt. Sebelum Membaca Al-Quran



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 3   

Nubuatan Mengenai Surah Al-Fatihah Dalam Bible & Pentingnya Doa Mohon Perlindungan Allah Swt. Sebelum membaca Al-Quran

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai  Surah Al-Fatihah  serta   nama-nama Surah dan artinya.    Seperti diriwayatkan oleh banyak ahli ilmu hadits, seluruh Surah Al-Fatihah   diwahyukan di Mekkah dan sejak awal menjadi bagian shalat orang-orang Islam. Surah ini disebut dalam ayat Al-Quran:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنٰکَ سَبۡعًا مِّنَ الۡمَثَانِیۡ وَ الۡقُرۡاٰنَ  الۡعَظِیۡمَ
 “Dan  sungguh  Kami benar-benar telah memberikan kepada engkau tujuh ayat yang selalu diulang-ulang dan Al-Quran yang agung” (Al-Hijr [15]:88).
   Menurut para ahli terkemuka seperti  Umar bin Khaththab r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Ibn Abbas r.a., dan Ibn Mas’ud r.a., kata-kata itu menunjuk kepada Surah pembukaan Al-Quran, yakni Al-Fatihah, sebab Surah itu diulang-ulangi dan dibaca dalam tiap-tiap rakaat shalat. Menurut riwayat,  Nabi Besar Muhammad saw. pernah bersabda, bahwa Assab ‘almatsani  adalah Surah pembukaan Al-Quran (Bukhari).

Surah Al-Fatihah Sebagai “Ummul-Quran” & Nama-nama Lain Surah Al-Fatihah

         Surah itu disebut juga “Induk Quran” (Ummulqur’an) dan “Surah pembukaan Al-Quran”  yaitu Surah  Al-Fatihah. Menurut Zajjaj dan Abu Hayyan, Surah pembukaan itu diberi nama Assab ‘almatsani, sebab Surah itu mengandung puji-pujian kepada Allah Swt.  Surah-surah Al-Quran lainnya yang menyusul Surah pembu-kaan itu telah disebut “Al-Quran yang agung” (Al-Quranul’azhim).
        Akan tetapi nama “Al-Quran yang agung” itu ditujukan juga kepada Surah pertama,   dan  karena merupakan bagian Kitab itu dapat pula benar-benar disebut kitab itu juga. Ada sebuah hadits  Nabi Besar Muhammad saw.  yang menyatakan bahwa Surah pembukaan Al-Quran pun disebut “Al-Quran yang agung” (Musnad Ahmad jilid 2 hlm. 448).
          Pada hakikatnya, Surah Al-Fatihah   merupakan ikhtisar seluruh Al-Quran, atau seperti pernah juga disebut, Surah itu “Al-Quran dalam bentuk kecil” karena Al-Quran itu dalam keseluruhannya diikhtisarkan dan diintisarikan di dalamnya. Karena matsani pun merupakan jamak dari matsna yang berarti puji-pujian, maka ayat ini akan berarti  bahwa Surah Al Fatihah memberikan penjelasan yang lengkap tentang Sifat-sifat Allah Swt..  Matsani juga berarti sebuah belokan pada lembah, ayat ini berarti bahwa Al-Fatihah menerangkan sepenuhnya hubungan  Allah Swt. dengan manusia. 
    Ayat 88 Surah Al-Hijr itu menurut pengakuan para ahli  telah diwahyukan di Mekkah.    Menurut beberapa riwayat Surah ini diwahyukan pula untuk kedua kalinya di Medinah, tetapi waktu Surah ini untuk pertama kali turun adalah pada masa permulaan sekali kenabian Nabi Besar Muhammad saw..
         Nama terkenal untuk Surah pendek ini ialah Fātihat-ul-Kitāb (Surah Pembukaan Al-Kitab), diriwayatkan bersumber pada beberapa ahli ilmu hadits yang dapat dipercaya (Tirmidzi dan Muslim). Kemudian nama itu disingkat menjadi Surah Al-Fātihah atau Al-Fātihah saja. Surah ini dikenal dengan beberapa nama, dan 10 nama berikut ini lebih sah, yaitu:  (1) Al-Fātihah, (2) Al-Shalāt, (3) Al-Hamd, (4) Umm-ul-Quran, (5) Alquran-ul-’Azhim, (6) Al-Sab’al-Matsani, (7) Umm-ul Kitāb, (8) Al-Syifā, (9) Al-Ruqyah, dan (10)  Al-Kanz. Nama-nama ini menerangkan betapa luasnya isi Surah ini.
        Nama Fātihat-ul-Kitāb (Surah Pembukaan Al-Kitab) berarti bahwa  karena Surah itu telah diletakkan pada permulaan  maka ia merupakan kunci pembuka seluruh pokok masalah Al-Quran:
    Al-Shalāt (Shalat) berarti bahwa Al-Fātihah merupakan doa yang lengkap lagi sempurna dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari shalat Islam yang sudah melembaga.
   Al-Hamd (Puji-pujian) berarti bahwa Surah ini menjelaskan tujuan agung penciptaan manusia dan mengajarkan bahwa hubungan  Allah Swt.   dengan manusia adalah hubungan berdasarkan kemurahan (Rahmāniyat) dan kasih-sayang (Rahīmiyat).
       Umm-ul-Qur’an (Ibu Al-Quran) berarti bahwa Surah ini merupakan intisari seluruh Al-Quran, yang dengan ringkas mengemukakan semua pengetahuan yang menyangkut perkembangan akhlak dan  ruhani  manusia. 
        Al-quran-ul-’Azhim (Al-Quran Agung) berarti bahwa meski pun Surah ini terkenal sebagai Umm-ul-Kitāb dan Umm-ul-Qur’an namun tetap merupakan bagian Kitab Suci itu dan bukan seperti anggapan salah sementara orang bahwa ia terpisah darinya.
        Al-Sab’ul Matsani (Tujuh ayat yang seringkali diulang) berarti ketujuh ayat pendek Surah ini sungguh-sungguh memenuhi segala keperluan ruhani manusia. Nama itu berarti pula bahwa Surah ini harus diulang dalam tiap-tiap rakaat shalat.
Umm-ul-Kitab (Ibu Kitab) berarti bahwa doa dalam Surah ini  menjadi sebab diwahyukannya ajaran Al-Quran.
       Al-Syifā (Penyembuh) berarti bahwa Surah ini memberi pengobatan terhadap segala keraguan dan syak yang biasa timbul dalam hati manusia.
         Al-Ruqyah (Jimat atau Mantera) berarti bahwa Surah Al-Fatihah  ini bukan hanya doa untuk menghindarkan penyakit tetapi juga memberi perlindungan terhadap syaitan dan pengikut-pengikutnya, dan menguatkan hati manusia untuk melawan mereka.
          Al-Kanz (Khazanah) mengandung arti bahwa Surah ini suatu khazanah ilmu yang tidak habis-habisnya.
 
Surah Al-Fātihah Dinubuatkan dalam Perjanjian Baru

      Tetapi nama yang terkenal Surah ini adalah Al-Fātihah. Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa nama itu juga tercantum dalam nubuatan Perjanjian Baru:
     “Maka aku tampak seorang malaikat lain yang gagah, turun dari langit .........  dan di tangannya ada sebuah Kitab Kecil yang terbuka, maka kaki kanannya  berpijak di laut, dan kaki kiri di darat” (Wahyu 10:1-2).
Kata dalam bahasa Ibrani untuk “terbuka”  adalah Fatoah, yang sama dengan kata Arab Fatihah. Kemudian lagi:
 “ ...... dan tatkala ia (malaikat) berteriak, ketujuh guruh pun membunyikan  bunyi masing-masing” (Wahyu 10:3).
Tujuh guruh” mengisyaratkan kepada tujuh ayat Surah ini.
         Para sarjana Kristen mengatakan bahwa nubuatan itu mengisyaratkan kepada kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya   -- yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58). Hal itu telah dibuktikan oleh kenyataan-kenyataan yang sebenarnya. Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s.     -- yang dalam wujudnya nubuatan tentang kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. kedua kalinya telah menjadi sempurna  -- menulis tafsir mengenai Surah ini dan menunjukkan bukti-bukti serta dalil-dalil mengenai kebenaran pendakwaan beliau  a.s. dari isi Surah ini, dan beliau a.s.  senantiasa memakainya sebagai doa yang baku.
          Masih Mau’ud a.s.  menyimpulkan dari tujuh ayat yang pendek-pendek ini  ilmu-ilmu makrifat Ilahi dan kebenaran-kebenaran kekal abadi yang tidak diketahui sebelumnya. Seolah-olah Surah Al-Fatihah ini sebuah Kitab yang dimeterai hingga khazanah itu akhirnya dibukakan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s.. Dengan demikian sempurnalah nubuatan yang terkandung dalam Wahyu 10:4, yakni:
Tatkala ketujuh guruh sudah berbunyi itu, sedang aku hendak menyuratkan, lalu aku dengar suatu suara dari langit, katanya: "Meteraikanlah barang apa yang ketujuh guruh itu sudah mengatakan dan jangan dituliskan.”
  Nubuatan itu menunjuk kepada kenyataan bahwa Fatoah atau Al-Fātihah itu untuk sementara waktu akan tetap merupakan sebuah Kitab tertutup, tetapi suatu waktu – yakni di Akhir Zaman ini  -- akan tiba ketika khazanah ilmu ruhani yang dikandungnya akan dibukakan. Hal itu  di Akhir Zaman ini telah dilaksanakan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s., yakni   Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan   terhadapnya,   Dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah.  Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil  (Az-Zukhruf [43]:58-60).

Golongan Hawari di Akhir Zaman dari Kalangan Muslim

      Sehubungan dengan nubuatan akan terjadinya persamaan sikap penentangan yang dilakukan oleh umumnya umat Islam terhadap  misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebagaimana yang dilakukan oleh  para pemuka Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam Israili a.s. maka Allah Swt. telah  memperingatkan hal tersebut kepada umat Islam dalam Al-Quran yaitu agar mereka mengikuti  para hawari Nabi Isa Ibnu Maryam Israili a.s., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ  -- jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata kepada  pengikut-pengikutnya, “مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ  -- Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  -- Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Ka-milah penolong-penolong Allah.” فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- Maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan lagi kafir,  فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi orang-orang yang menang  (Ash-Shaf [61]:15).
      Dari ketiga golongan agama di antara kaum Yahudi, yang terhadap mereka menyampaikan tablighnya – kaum Parisi, kaum Saduki, dan kaum Essenes –  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   termasuk golongan  kaum Essenes sebelum beliau diutus sebagai rasul Allah.
      Kaum Essenes adalah kaum yang sangat bertakwa, hidup jauh dari kesibukan dan keramaian dunia, dan melewatkan waktu mereka dalam berzikir dan berdoa, dan berbakti kepada sesama manusia. Dari kaum inilah berasal bagian besar dari para pengikut beliau di masa permulaan (“The Dead Sea Community,” oleh Kurt Schubert, dan “The Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Para Penolong” oleh Eusephus.
    Kata-kata penutup Surah Ash-Shaf  ini sungguh sarat dengan nubuatan. Sepanjang zaman para pengikut  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   telah menikmati kekuatan dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi. Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap merupakan kaum yang cerai-berai sehingga mendapat julukan “the Wandering Jew” (“Yahudi Pengembara”), sebagai akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Matius 23:37-39 & 24:1-2; QS.5:79-81).
     Kenyataan  yang meninpa kaum Yahudi itulah yang diabadikan oleh Allah Swt. dalam dua ayat  terakhir Surah Al-Fatihah  mengenai orang-orang yang tadinya dikaruniai nikmat-nikmat ruhani dari Allah Swt. kemudian akibat ketakabburannya menjadi golongan maghdhub (yang dimurkai) dan dhallin (orang yang sesat – QS.1:6-7).

Hubungan Surah Al-Fatihah dengan Bagian Lain Al-Quran &  Empat Sifat Utama Tasybihiyah Allah Swt.

    Surah Al-Fatihah seakan-akan merupakan pengantar kepada Al-Quran. Sesungguhnya Surah ini Al-Quran dalam bentuk miniatur, dengan demikian pembaca sejak  mulai mempelajarinya telah diperkenalkan secara garis besarnya kepada masalah-masalah yang akan dijumpainya dalam Kitab Suci itu. Diriwayatkan Nabi Besar Muhammad saw.   pernah bersabda bahwa Surah Al-Fatihah  adalah Surah Al-Quran yang terpenting (Bukhari).
        Surah ini merupakan intisari seluruh ajaran Al-Quran. Secara garis besarnya Surah ini meliputi semua masalah yang diuraikan dengan panjang lebar dalam seluruh Al-Quran. Surah ini mulai dengan uraian mengenai empat  Sifat-sifat Allah Swt.  yang pokok  serta menjadi poros beredarnya Sifat-sifat-Nya yang  lain, dan merupakan dasar bekerjanya alam semesta  serta dasar  perhubungan antara Tuhan dengan manusia.
         Keempat sifat Allah Swt.  yang pokok    tersebut yakni:  Rabb (Pencipta, Yang Memelihara dan Mengembangkan), Rahmān (Maha Pemurah), Rahīm (Maha Penyayang) dan Māliki Yaum-id-Dīn (Pemilik Hari Pembalasan),  mengandung arti bahwa sesudah menciptakan manusia  Allah Swt. menganugerahinya kemampuan-kemampuan tabi’i (alami) yang terbaik serta melengkapinya dengan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan jasmani, kemasyarakatan, akhlak, dan ruhani. Selanjutnya Dia memberikan jaminan bahwa usaha dan upaya manusia itu akan diganjar sepenuhnya. 
       Kemudian Surah itu (ayat 5) mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah  yakni menyembah Allah Swt. (QS.51:57)    serta mencapai qurb-Nya (kedekatan-Nya), dan bahwa ia senantiasa memerlukan pertolongan-Nya untuk melaksanakan tujuannya yang agung itu.
          Disebutkannya keempat Sifat Allah Swt.   tersebut diikuti oleh doa lengkap yang di dalamnya terungkap sepenuhnya segala dorongan ruh manusia. Doa  tersebut mengajarkan bahwa manusia  harus senantiasa  mencari dan memohon pertolongan Allah Swt.   supaya Dia melengkapinya dengan sarana-sarana yang diperlukan olehnya untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat (QS.2:202).
      Tetapi karena manusia cenderung memperoleh kekuatan dan semangat dari teladan baik wujud-wujud mulia dan agung dari zaman lampau yang telah mencapai tujuan hidup mereka maka ia  pun diajari untuk mendoa supaya Allah Swt. membuka pula baginya jalan-jalan kemajuan akhlak dan ruhani yang tak terbatas  (ayat 6) eperti yang telah dibukakan kepada mereka itu (QS.4:70-71).
       Akhirnya doa itu mengandung peringatan bahwa jangan-jangan sesudah ia dibimbing kepada jalan lurus ia sesat dari jalan itu, lalu kehilangan tujuannya dan menjadi asing terhadap Khāliq-nya (Pencipta-nya). Ia diajari untuk selalu mawas diri dan senantiasa mencari perlindungan   Allah Swt.    terhadap kemungkinan jadi asing terhadap-Nya serta menjadi sasaran kemurkaan-Nya (ayat 6-7).
      Itulah masalah yang dituangkan dalam beberapa ayat Al-Fatihah dan itulah masalah yang dibahas  sepenuhnya dan seluas-luasnya oleh Al-Quran, sambil menyebut contoh-contoh yang tidak terhingga banyaknya sebagai petunjuk bagi siapa yang membacanya.

Doa Sebelum Membaca Al-Quran &  Makna Kalimat Bismillāh

         Orang-orang beriman  dianjurkan agar sebelum membaca Al-Quran terlebih dulu  memohon perlindungan Allah Swt.    terhadap syaitan:
فَاِذَا  قَرَاۡتَ الۡقُرۡاٰنَ  فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ مِنَ  الشَّیۡطٰنِ  الرَّجِیۡمِ ﴿﴾
“Maka apabila engkau hendak membaca Al-Quran  maka mohonlah perlindungan  Allah dari syaitan yang terkutuk” (An-Nahl [16]:99).
       Perlindungan dan penjagaan itu berarti: (1) bahwa jangan ada kejahatan menimpa kita; (2) bahwa jangan ada kebaikan terlepas dari kita dan (3) bahwa sesudah kita mencapai kebaikan, kita tidak terjerumus kembali ke dalam kejahatan. Doa yang diperintahkan untuk itu ialah: “Aku berlindung kepada Allāh dari syaitan yang terkutuk” yang harus mendahului tiap-tiap pembacaan Al-Quran.
Bab-bab Al-Quran berjumlah 114 dan masing-masing disebut Surah. Lafaz (kata)  Surah   berarti: (1) pangkat atau kedudukan tinggi; (2) ciri atau tanda; (3) bangunan yang tinggi dan indah; (4) sesuatu yang lengkap dan sempurna (Aqrab dan Qurthubi). Bab-bab Al-Quran disebut Surah karena: (a) dengan membacanya martabat orang terangkat, dengan perantaraannya ia mencapai kemuliaan; (b) nama-nama Surah berlaku sebagai tanda pembukaan dan penutupan berbagai masalah yang dibahas dalam Al-Quran; (c) Surah-surah itu masing-masing laksana bangunan ruhani yang mulia dan (d) tiap-tiap Surah berisikan tema yang sempurna.
         Nama-nama Surah untuk pembagian demikian telah dipergunakan dalam Al-Quran sendiri (QS.2:24 dan QS.24:2). Nama ini dipakai juga dalam hadits, Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Baru saja sebuah Surah telah diwahyukan kepadaku dan bunyinya seperti berikut” (Muslim). Dari itu jelaslah, bahwa nama Surah untuk bagian-bagian Al-Quran telah biasa dipakai sejak permulaan Islam dan bukan ciptaan baru yang diadakan kemudian hari.
       Selanjutnya akan dikemukakan secara berurutan  berbagai makna serta khazanah ruhani yang terkandung dalam ayat-ayat vSurah Al-Fatihah, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. 
adalah  kata depan yang dipakai untuk menyatakan beberapa arti, dan arti yang lebih tepat di sini  dengan, maka kata majemuk Bism itu akan berarti  dengan nama. Menurut kebiasaan orang Arab kata Iqra’, atau Aqra’u, atau Naqra’u; atau Isyra’, atau Asyra’u, atau Nasyra’u, harus dianggap ada tercantum sebelum Bismillāh, suatu ungkapan dengan arti “Mulailah dengan nama Allah”, atau “Bacalah dengan nama  Allāh” atau “Aku atau kami mulai dengan nama Allāh”, atau  “Aku atau kami baca dengan nama Allāh.” Dalam terjemahan ini ucapan Bismillāh diartikan “Dengan nama Allāh” yang merupakan bentuk lebih lazim (Lane).
          Ism mengandung arti  nama atau sifat (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Di sini  lafaz (kata) ism itu dipakai dalam kedua pengertian tersebut. Lafaz ism menunjuk kepada Allah  yaitu nama Wujud (Dzat) Tuhan, dan kepada Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penya-yang), keduanya nama Sifat  Allah Swt..
 Allah adalah nama Zat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua Sifat  sempurna, dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab  lafaz Allah  tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun. Tidak ada bahasa lain yang memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain semuanya nama-penunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak, sedangkan   lafaz   Allah  tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak.
         Lafaz  Allah  adalah  ism zat (nama zat),   bukan  ism musytak, yakni  tidak diambil dari kata lain dan tidak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada  lafaz lain yang sepadan maka  lafaz  Allah  dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Al-Quran. Pandangan ini didukung oleh para alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat  lafaz    Allah   adalah nama Wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya Sendiri, Pemilik segala Sifat  sempurna, dan huruf al  tidak terpisahkan dari lafaz Allah (Lexicon Lane).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 7 Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar