بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 3
Nubuatan Mengenai Surah Al-Fatihah Dalam Bible & Pentingnya Doa Mohon
Perlindungan Allah Swt. Sebelum membaca Al-Quran
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai Surah Al-Fatihah serta nama-nama
Surah dan artinya. Seperti
diriwayatkan oleh banyak ahli ilmu hadits, seluruh Surah Al-Fatihah diwahyukan di
Mekkah dan sejak awal menjadi bagian shalat
orang-orang Islam. Surah ini disebut dalam ayat Al-Quran:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنٰکَ سَبۡعًا مِّنَ
الۡمَثَانِیۡ وَ الۡقُرۡاٰنَ الۡعَظِیۡمَ
“Dan
sungguh Kami benar-benar telah
memberikan kepada engkau tujuh ayat yang selalu diulang-ulang dan Al-Quran yang
agung” (Al-Hijr [15]:88).
Menurut para ahli terkemuka seperti Umar bin Khaththab r.a., Ali bin Abi Thalib
r.a., Ibn Abbas r.a., dan Ibn Mas’ud r.a., kata-kata itu menunjuk kepada Surah
pembukaan Al-Quran, yakni Al-Fatihah,
sebab Surah itu diulang-ulangi dan dibaca dalam tiap-tiap rakaat shalat.
Menurut riwayat, Nabi Besar Muhammad
saw. pernah bersabda, bahwa Assab ‘almatsani adalah Surah pembukaan Al-Quran (Bukhari).
Surah Al-Fatihah Sebagai
“Ummul-Quran” & Nama-nama Lain
Surah Al-Fatihah
Surah itu disebut juga “Induk Quran” (Ummulqur’an) dan “Surah pembukaan Al-Quran” yaitu Surah Al-Fatihah.
Menurut Zajjaj dan Abu Hayyan, Surah pembukaan itu diberi nama Assab
‘almatsani, sebab Surah itu mengandung puji-pujian kepada Allah Swt. Surah-surah Al-Quran lainnya yang menyusul
Surah pembu-kaan itu telah disebut “Al-Quran yang agung” (Al-Quranul’azhim).
Akan tetapi nama “Al-Quran yang
agung” itu ditujukan juga kepada Surah pertama,
dan karena merupakan bagian Kitab itu dapat pula
benar-benar disebut kitab itu juga.
Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad
saw. yang menyatakan bahwa Surah pembukaan Al-Quran pun disebut
“Al-Quran yang agung” (Musnad
Ahmad
jilid 2 hlm. 448).
Pada hakikatnya, Surah Al-Fatihah merupakan ikhtisar
seluruh Al-Quran, atau seperti pernah juga disebut, Surah itu “Al-Quran dalam bentuk kecil” karena Al-Quran itu dalam keseluruhannya diikhtisarkan dan diintisarikan di dalamnya. Karena matsani pun merupakan
jamak dari matsna yang berarti puji-pujian,
maka ayat ini akan berarti bahwa Surah Al Fatihah memberikan penjelasan yang
lengkap tentang Sifat-sifat Allah Swt..
Matsani juga berarti sebuah
belokan pada lembah, ayat ini berarti bahwa Al-Fatihah
menerangkan sepenuhnya hubungan Allah Swt. dengan manusia.
Ayat 88
Surah Al-Hijr itu menurut pengakuan
para ahli telah diwahyukan di Mekkah. Menurut beberapa riwayat Surah ini
diwahyukan pula untuk kedua kalinya di Medinah,
tetapi waktu Surah ini untuk pertama kali turun adalah pada masa permulaan
sekali kenabian Nabi Besar Muhammad saw..
Nama terkenal untuk Surah pendek ini ialah Fātihat-ul-Kitāb
(Surah Pembukaan Al-Kitab), diriwayatkan bersumber pada beberapa ahli ilmu
hadits yang dapat dipercaya (Tirmidzi
dan Muslim). Kemudian
nama itu disingkat menjadi Surah Al-Fātihah atau Al-Fātihah saja.
Surah ini dikenal dengan beberapa nama, dan 10 nama berikut ini lebih sah,
yaitu: (1) Al-Fātihah, (2) Al-Shalāt,
(3) Al-Hamd, (4) Umm-ul-Quran, (5) Alquran-ul-’Azhim, (6)
Al-Sab’al-Matsani, (7) Umm-ul Kitāb, (8) Al-Syifā, (9) Al-Ruqyah,
dan (10) Al-Kanz. Nama-nama ini
menerangkan betapa luasnya isi Surah ini.
Nama Fātihat-ul-Kitāb
(Surah Pembukaan Al-Kitab) berarti bahwa
karena Surah itu telah diletakkan pada permulaan maka ia merupakan kunci pembuka seluruh pokok
masalah Al-Quran:
Al-Shalāt (Shalat) berarti bahwa Al-Fātihah merupakan doa yang
lengkap lagi sempurna dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari shalat Islam
yang sudah melembaga.
Al-Hamd (Puji-pujian) berarti bahwa
Surah ini menjelaskan tujuan agung penciptaan manusia dan mengajarkan bahwa
hubungan Allah Swt. dengan manusia adalah hubungan berdasarkan
kemurahan (Rahmāniyat) dan kasih-sayang (Rahīmiyat).
Umm-ul-Qur’an (Ibu Al-Quran) berarti bahwa
Surah ini merupakan intisari seluruh Al-Quran, yang dengan ringkas mengemukakan
semua pengetahuan yang menyangkut perkembangan akhlak dan ruhani
manusia.
Al-quran-ul-’Azhim (Al-Quran Agung) berarti bahwa
meski pun Surah ini terkenal sebagai Umm-ul-Kitāb dan Umm-ul-Qur’an namun
tetap merupakan bagian Kitab Suci itu dan bukan seperti anggapan salah
sementara orang bahwa ia terpisah darinya.
Al-Sab’ul Matsani (Tujuh ayat yang
seringkali diulang) berarti ketujuh ayat pendek Surah ini sungguh-sungguh
memenuhi segala keperluan ruhani manusia. Nama itu berarti pula bahwa Surah ini
harus diulang dalam tiap-tiap rakaat shalat.
Umm-ul-Kitab (Ibu Kitab) berarti bahwa doa
dalam Surah ini menjadi sebab
diwahyukannya ajaran Al-Quran.
Al-Syifā (Penyembuh) berarti bahwa Surah
ini memberi pengobatan terhadap segala keraguan
dan syak yang biasa timbul dalam hati
manusia.
Al-Ruqyah (Jimat atau Mantera) berarti
bahwa Surah Al-Fatihah ini bukan hanya doa untuk menghindarkan penyakit
tetapi juga memberi perlindungan
terhadap syaitan dan pengikut-pengikutnya, dan menguatkan hati manusia untuk melawan mereka.
Al-Kanz (Khazanah) mengandung arti bahwa
Surah ini suatu khazanah ilmu yang
tidak habis-habisnya.
Surah Al-Fātihah Dinubuatkan dalam Perjanjian
Baru
Tetapi nama yang terkenal Surah
ini adalah Al-Fātihah. Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa nama itu
juga tercantum dalam nubuatan Perjanjian Baru:
“Maka
aku tampak seorang malaikat lain yang gagah, turun dari langit ......... dan di
tangannya ada sebuah Kitab Kecil yang terbuka, maka kaki kanannya berpijak di laut, dan kaki kiri di darat” (Wahyu
10:1-2).
Kata dalam bahasa Ibrani untuk
“terbuka” adalah Fatoah, yang
sama dengan kata Arab Fatihah. Kemudian lagi:
“ ...... dan
tatkala ia (malaikat) berteriak, ketujuh guruh pun membunyikan bunyi masing-masing” (Wahyu 10:3).
“Tujuh guruh” mengisyaratkan kepada tujuh ayat Surah ini.
Para sarjana Kristen mengatakan
bahwa nubuatan itu mengisyaratkan kepada kedatangan
Yesus Kristus kedua kalinya --
yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58). Hal itu telah dibuktikan oleh kenyataan-kenyataan yang sebenarnya.
Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam
Ahmad a.s. -- yang dalam wujudnya nubuatan tentang kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. kedua kalinya telah menjadi sempurna -- menulis tafsir mengenai Surah ini dan menunjukkan bukti-bukti serta dalil-dalil
mengenai kebenaran pendakwaan
beliau a.s. dari isi Surah ini, dan
beliau a.s. senantiasa memakainya
sebagai doa yang baku.
Masih Mau’ud a.s. menyimpulkan dari tujuh ayat yang pendek-pendek ini
ilmu-ilmu makrifat Ilahi dan kebenaran-kebenaran kekal abadi yang
tidak diketahui sebelumnya. Seolah-olah Surah Al-Fatihah ini sebuah Kitab
yang dimeterai hingga khazanah itu akhirnya dibukakan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s.. Dengan demikian
sempurnalah nubuatan yang terkandung
dalam Wahyu 10:4, yakni:
“Tatkala ketujuh guruh sudah berbunyi itu,
sedang aku hendak menyuratkan, lalu aku dengar suatu suara dari langit,
katanya: "Meteraikanlah barang apa yang ketujuh guruh itu sudah mengatakan
dan jangan dituliskan.”
Nubuatan itu menunjuk kepada kenyataan bahwa Fatoah
atau Al-Fātihah itu untuk sementara waktu akan tetap merupakan sebuah Kitab tertutup, tetapi suatu waktu –
yakni di Akhir Zaman ini -- akan tiba ketika khazanah ilmu ruhani yang dikandungnya akan dibukakan. Hal itu di Akhir
Zaman ini telah dilaksanakan oleh Mirza
Ghulam Ahmad a.s., yakni Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
firman-Nya:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا
ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ
جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya, Dan
mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan
kami lebih baik ataukah dia?"
Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada
engkau melainkan perbantahan semata.
Bahkan mereka adalah kaum yang biasa
berbantah. Ia tidak lain
melainkan seorang hamba yang telah
Kami anugerahi nikmat kepadanya, dan
Kami menjadikan dia suatu perumpamaan
bagi Bani Israil (Az-Zukhruf
[43]:58-60).
Golongan Hawari di Akhir Zaman dari Kalangan Muslim
Sehubungan dengan nubuatan akan terjadinya persamaan
sikap penentangan yang dilakukan oleh umumnya umat Islam terhadap misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebagaimana yang dilakukan oleh para pemuka
Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam Israili
a.s. maka Allah Swt. telah memperingatkan hal tersebut kepada umat
Islam dalam Al-Quran yaitu agar mereka mengikuti para hawari
Nabi Isa Ibnu Maryam Israili a.s., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ
اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ
مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ
قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ
اللّٰہِ فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ وَ
کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا عَلٰی
عَدُوِّہِمۡ فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا
اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ -- jadilah
kamu penolong-penolong Allah
sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata
kepada pengikut-pengikutnya, “مَنۡ اَنۡصَارِیۡۤ
اِلَی اللّٰہِ -- Siapakah penolong-penolongku
di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ
نَحۡنُ اَنۡصَارُ اللّٰہِ -- Pengikut-pengikut
yang setia itu berkata: “Ka-milah
penolong-penolong Allah.”
فَاٰمَنَتۡ
طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- Maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا عَلٰی
عَدُوِّہِمۡ فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ -- kemudian Kami
membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka
menjadi orang-orang yang menang (Ash-Shaf [61]:15).
Dari ketiga golongan agama di antara kaum Yahudi, yang terhadap mereka menyampaikan
tablighnya – kaum Parisi, kaum Saduki, dan kaum Essenes – Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. termasuk golongan kaum Essenes
sebelum beliau diutus sebagai rasul Allah.
Kaum Essenes adalah kaum yang sangat bertakwa, hidup jauh dari kesibukan
dan keramaian dunia, dan melewatkan waktu mereka dalam berzikir dan berdoa, dan
berbakti kepada sesama manusia. Dari kaum inilah berasal bagian besar dari para
pengikut beliau di masa permulaan (“The
Dead Sea Community,” oleh Kurt Schubert, dan “The Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Para Penolong” oleh Eusephus.
Kata-kata penutup Surah Ash-Shaf ini sungguh sarat
dengan nubuatan. Sepanjang zaman para
pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah
menikmati kekuatan dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi. Mereka telah menegakkan dan
memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap
merupakan kaum yang cerai-berai
sehingga mendapat julukan “the Wandering
Jew” (“Yahudi Pengembara”), sebagai akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Matius
23:37-39 & 24:1-2; QS.5:79-81).
Kenyataan yang meninpa kaum Yahudi itulah yang diabadikan oleh Allah Swt. dalam dua ayat
terakhir Surah Al-Fatihah mengenai
orang-orang yang tadinya dikaruniai nikmat-nikmat
ruhani dari Allah Swt. kemudian akibat ketakabburannya
menjadi golongan maghdhub (yang
dimurkai) dan dhallin (orang yang
sesat – QS.1:6-7).
Hubungan Surah Al-Fatihah dengan Bagian Lain Al-Quran
& Empat Sifat Utama Tasybihiyah Allah Swt.
Surah Al-Fatihah
seakan-akan merupakan pengantar
kepada Al-Quran. Sesungguhnya Surah ini Al-Quran
dalam bentuk miniatur, dengan
demikian pembaca sejak mulai
mempelajarinya telah diperkenalkan secara garis
besarnya kepada masalah-masalah yang akan dijumpainya dalam Kitab Suci itu.
Diriwayatkan Nabi Besar Muhammad saw. pernah bersabda bahwa Surah Al-Fatihah
adalah Surah Al-Quran yang terpenting (Bukhari).
Surah ini merupakan intisari seluruh ajaran Al-Quran. Secara
garis besarnya Surah ini meliputi semua masalah yang diuraikan dengan panjang
lebar dalam seluruh Al-Quran. Surah ini mulai dengan uraian mengenai empat Sifat-sifat
Allah Swt. yang pokok serta menjadi poros beredarnya Sifat-sifat-Nya
yang lain, dan merupakan dasar bekerjanya alam semesta serta dasar
perhubungan antara Tuhan
dengan manusia.
Keempat sifat Allah Swt. yang pokok tersebut yakni: Rabb (Pencipta, Yang Memelihara dan
Mengembangkan), Rahmān (Maha Pemurah), Rahīm (Maha Penyayang) dan
Māliki Yaum-id-Dīn (Pemilik Hari Pembalasan), mengandung arti bahwa sesudah menciptakan
manusia Allah Swt. menganugerahinya
kemampuan-kemampuan tabi’i (alami) yang terbaik serta melengkapinya
dengan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan jasmani, kemasyarakatan,
akhlak, dan ruhani. Selanjutnya Dia memberikan jaminan bahwa usaha dan upaya
manusia itu akan diganjar sepenuhnya.
Kemudian Surah itu (ayat 5) mengatakan
bahwa manusia diciptakan untuk beribadah yakni menyembah
Allah Swt. (QS.51:57) serta
mencapai qurb-Nya (kedekatan-Nya), dan bahwa ia senantiasa memerlukan pertolongan-Nya untuk melaksanakan tujuannya yang agung itu.
Disebutkannya keempat Sifat Allah
Swt. tersebut diikuti oleh doa lengkap yang di dalamnya terungkap
sepenuhnya segala dorongan ruh
manusia. Doa tersebut mengajarkan bahwa manusia harus senantiasa mencari
dan memohon pertolongan Allah Swt. supaya
Dia melengkapinya dengan sarana-sarana yang diperlukan olehnya
untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat
(QS.2:202).
Tetapi karena manusia cenderung
memperoleh kekuatan dan semangat dari teladan baik wujud-wujud mulia dan agung dari zaman lampau yang
telah mencapai tujuan hidup mereka
maka ia pun diajari untuk mendoa supaya Allah Swt. membuka pula baginya jalan-jalan kemajuan akhlak dan ruhani yang tak terbatas (ayat 6) eperti yang telah dibukakan kepada
mereka itu (QS.4:70-71).
Akhirnya doa itu mengandung peringatan bahwa jangan-jangan sesudah
ia dibimbing kepada jalan lurus ia sesat
dari jalan itu, lalu kehilangan tujuannya dan menjadi asing terhadap Khāliq-nya
(Pencipta-nya). Ia diajari untuk selalu mawas
diri dan senantiasa mencari perlindungan Allah
Swt. terhadap kemungkinan jadi asing terhadap-Nya serta menjadi sasaran
kemurkaan-Nya (ayat 6-7).
Itulah masalah yang dituangkan
dalam beberapa ayat Al-Fatihah dan
itulah masalah yang dibahas sepenuhnya
dan seluas-luasnya oleh Al-Quran, sambil menyebut contoh-contoh yang tidak
terhingga banyaknya sebagai petunjuk
bagi siapa yang membacanya.
Doa Sebelum Membaca Al-Quran &
Makna Kalimat Bismillāh
Orang-orang
beriman dianjurkan agar sebelum membaca
Al-Quran terlebih dulu memohon perlindungan Allah Swt. terhadap syaitan:
فَاِذَا قَرَاۡتَ
الۡقُرۡاٰنَ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ مِنَ الشَّیۡطٰنِ الرَّجِیۡمِ ﴿﴾
“Maka apabila engkau hendak membaca Al-Quran maka mohonlah
perlindungan Allah dari syaitan yang
terkutuk” (An-Nahl [16]:99).
Perlindungan dan penjagaan itu berarti: (1) bahwa jangan ada kejahatan menimpa kita;
(2) bahwa jangan ada kebaikan terlepas dari kita dan (3) bahwa sesudah kita
mencapai kebaikan, kita tidak terjerumus kembali ke dalam kejahatan. Doa yang
diperintahkan untuk itu ialah: “Aku berlindung kepada Allāh dari syaitan
yang terkutuk” yang harus mendahului tiap-tiap pembacaan Al-Quran.
Bab-bab Al-Quran berjumlah 114
dan masing-masing disebut Surah. Lafaz (kata) Surah
berarti: (1) pangkat atau kedudukan tinggi; (2) ciri atau tanda; (3)
bangunan yang tinggi dan indah; (4) sesuatu yang lengkap dan sempurna (Aqrab
dan Qurthubi). Bab-bab Al-Quran disebut Surah karena: (a) dengan
membacanya martabat orang terangkat, dengan perantaraannya ia mencapai
kemuliaan; (b) nama-nama Surah berlaku sebagai tanda pembukaan dan
penutupan berbagai masalah yang dibahas dalam Al-Quran; (c) Surah-surah itu
masing-masing laksana bangunan ruhani yang mulia dan (d) tiap-tiap Surah
berisikan tema yang sempurna.
Nama-nama Surah untuk pembagian
demikian telah dipergunakan dalam Al-Quran sendiri (QS.2:24 dan QS.24:2). Nama
ini dipakai juga dalam hadits, Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Baru saja
sebuah Surah telah diwahyukan kepadaku dan bunyinya seperti berikut” (Muslim). Dari itu jelaslah,
bahwa nama Surah untuk bagian-bagian Al-Quran telah biasa dipakai sejak permulaan Islam dan bukan ciptaan baru yang diadakan kemudian
hari.
Selanjutnya akan dikemukakan
secara berurutan berbagai makna serta
khazanah ruhani yang terkandung dalam ayat-ayat vSurah Al-Fatihah, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang.
Bā adalah kata depan yang
dipakai untuk menyatakan beberapa arti, dan arti yang lebih tepat di sini dengan, maka kata majemuk Bism
itu akan berarti dengan nama.
Menurut kebiasaan orang Arab kata Iqra’, atau Aqra’u, atau Naqra’u;
atau Isyra’, atau Asyra’u, atau Nasyra’u, harus
dianggap ada tercantum sebelum Bismillāh, suatu ungkapan dengan arti “Mulailah
dengan nama Allah”, atau “Bacalah dengan nama Allāh” atau “Aku atau kami mulai
dengan nama Allāh”, atau “Aku
atau kami baca dengan nama Allāh.” Dalam terjemahan ini ucapan Bismillāh
diartikan “Dengan nama Allāh” yang merupakan bentuk lebih lazim (Lane).
Ism mengandung arti nama atau sifat (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Di sini lafaz (kata) ism itu dipakai dalam
kedua pengertian tersebut. Lafaz ism menunjuk kepada Allah yaitu nama Wujud (Dzat) Tuhan, dan
kepada Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penya-yang),
keduanya nama Sifat Allah Swt..
Allah adalah nama Zat Maha
Agung, Pemilik Tunggal semua Sifat sempurna, dan sama sekali bebas dari segala
kekurangan. Dalam bahasa Arab lafaz Allah
tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun. Tidak ada bahasa lain yang memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat
Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain
semuanya nama-penunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan
seringkali dipakai dalam bentuk jamak, sedangkan lafaz
Allah tidak pernah dipakai
dalam bentuk jamak.
Lafaz Allah adalah ism
zat (nama zat), bukan ism musytak, yakni tidak diambil dari kata lain dan tidak pernah
dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada lafaz lain yang sepadan maka lafaz Allah dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat
Al-Quran. Pandangan ini didukung oleh para alim bahasa Arab terkemuka. Menurut
pendapat yang paling tepat lafaz Allah adalah nama Wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya
Sendiri, Pemilik segala Sifat sempurna, dan huruf al tidak terpisahkan dari lafaz Allah (Lexicon Lane).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 7 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar