Senin, 24 Agustus 2015

Makna "Pengusiran Iblis" dari "Jannah" oleh Allah Swt. dan Hubungannya dengan Tertutupnya "Pintu-pintu Langit Ruhani" Bagi Para Penentang Rasul Allah & Pengejaran Syaitan oleh "Nyala Api yang Terang Benderang"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 16

Makna  Pengusiran  Iblis dari “Jannah” oleh Allah Swt.  dan Hubungannya dengan  Tertutupnya “Pintu-pintu Langit Ruhani” Bagi Para Penentang Rasul Allah & Pengejaran Syaitan oleh “Nyala Api yang Terang Benderang”

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna pengusiran Iblis dari “jannah” akibat ketakaburannya terhadap Adam (Khalifah Allah  – QS.2:31-35; QS.7:12-19; QS.15:33-34; QS.38:76-77),  yang kemudian dialami pula oleh  orang-orang kafir  di kalangan Bani Israil  karena  mereka  senantiasa mendustakan dan menentang para rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan mereka,  termasuk  terhadap Nabi Besar Muhammad saw., yang dibangkitkan dari kalangan Bani Isma’il  sebagaimana yang dinubuatkan  dalam Bible  (Ulangan 18:15-19 & 28:1-2; QS.46:11), firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ بِئۡسَمَا اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ  اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ  اَنۡزَلَ اللّٰہُ     بَغۡیًا اَنۡ یُّنَزِّلَ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ ۚ فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ ؕ وَ  لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ ﴿﴾
Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni  Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon kemenangan  atas orang-orang kafir, فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ  --  tetapi tatkala  datang kepada mereka  apa yang mereka  kenali itu lalu mereka kafir  kepadanya  فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ --  maka laknat Allah atas orang-orang kafir. بِئۡسَمَا اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ  اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ  اَنۡزَلَ اللّٰہُ    -- Sangat buruk hal yang  dengan itu mereka telah menjual dirinya  yakni  mereka  kafir  kepada apa yang diturunkan Allah,  بَغۡیًا اَنۡ یُّنَزِّلَ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ   -- karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya,  فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ -- lalu   mereka ditimpa kemurkaan demi kemurkaan, وَ  لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ --  dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan.  (Al-Baqarah [2]:90-91).

Diusir dari “Surga Keridhaan Ilahi

       Ayat 90  berarti bahwa orang-orang Yahudi biasa membukakan kepada orang-orang musyrik Arab kenyataan bahwa ada nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab Suci mereka tentang kedatangan seorang Nabi yang akan menyebarkan kebenaran ke seluruh dunia (Ulangan 18:18 dan 28:1-2). Tetapi ketika Nabi Allah  itu sungguh-sungguh muncul  -- yakni Nabi Besar Muhammad saw.   -- bahkan orang-orang dari antara mereka yang telah melihat Tanda-tanda dari Allah Swt.  menjadi sempurna dalam diri beliau saw.,  mereka berpaling dari beliau saw..
       Atau mungkin pula artinya bahwa sebelum diutusnya  Nabi Besar Muhammad saw orang-orang Yahudi biasa mendoa dengan khusuk kepada Allah Swt. agar Dia membangkitkan seorang nabi yang akan menyebabkan agama yang benar itu menang terhadap agama-agama palsu (“Siratun-Nabi”  oleh ibnu Hisyam, 1, 150), tetapi  ketika Nabi Allah  yang untuknya mereka terus-terus mendoa itu sungguh-sungguh datang dan keunggulan haq (kebenaran) di atas kepalsuan mulai mampak mereka menolaknya, dan sebagai akibat  penolakan tersebut itu laknat Allah Swt. menimpa  atas mereka dan mereka terus menerus  mendapat berbagai bentuk kemurkaan Ilahi:  فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ -- lalu   mereka ditimpa kemurkaan demi kemurkaan, وَ  لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ --  dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan.  (Al-Baqarah [2]:91).
         Dengan demikian jelaslah, bahwa yang dimaksud maghdhūb (orang-orang yang dimurkai) dalam ayat:  غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ    -- bukan jalan mereka  yang dimurkai” (Al-Fatihah [1]:7) adalah orang-orang kafir di kalangan Bani Israil atau  orang-orang Yahudi  -- serta orang-orang yang mengikuti kelakuan buruk mereka   -- yang senantiasa mendustakan dan menentang para Rasul Allah, yakni mereka mengikuti ketakaburan Iblis  terhadap Adam (Khalifah Allah), sehingga akibatnya sebagaimana halnya iblis  lalu diusir Allah Swt. dari “surga keridhaan-Nya” (QS.7:12-16), demikian pula  orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mengikuti kelakuan buruk mereka itu mengalami hal buruk yang sama, termasuk di Akhir Zaman ini.
         Jadi, tidak benar pendapat bahwa pengusiran yang dikukan Allah Swt. terhadap Iblis yang dikemukakan dalam berbaagi Surah Al-Quran adalah dari dalam “surga”,  yang ke dalamnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh akan memasukinya (QS.2:26), melainkan ia diusir dari “surga keridhaan Ilahi”, yang sebelum  terjadinya pendustaan dan penentangan terhadap para Rasul Allah mereka alami (rasakan), berikut firman Allah Swt. kepada iblis:
قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ ﴿﴾  قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾
Dia  berfirman:  “Apa  yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni patuh sepenuhnya ketika Aku memberi pe-rintah kepada engkau?” Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.” قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا -- Dia berfirman:  ”Jika demikian, pergilah engkau darinya, karena sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ --  karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang hina” (Al-A’rāf [7]:13-14).
    Oleh karena tidak ada kata-benda atau tempat disebut-sebut dalam ayat ini yang dapat dianggap lebih ditampilkan oleh kata pengganti hā  (nya) dalam ungkapan minhā (darinya): قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا --    Dia berfirman:  ”Jika demikian, pergilah engkau darinya,”   maka kata-pengganti itu (min) dapat diartikan menyatakan ihwal atau keadaan iblis sebelum ia menolak sujud kepada Adam a.s..

Perumpamaan Tentang Bal’am bin Baura (Bileam bin Beor)

 Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah – yakni diusir dari surge keridhaan Ilahi  -- firman Allah Swt. berikut ini: 
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri   darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat.  وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ   --  Dan seandainya  Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ  --  dan mengikuti hawa nafsunya,  فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ   -- jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan  lidahnya. ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا  --  Demikianlah misal (perumpamaan) orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ --  maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya. سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ  --  Sangat buruk misal (perumpamaan) orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sen-dirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’rāf [7]:176-178).
      Yang dimaksudkan di sini bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt.   memperlihatkan Tanda-tanda melalui seorang nabi tapi mereka menolaknya. Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18). Ayat itu telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan konon dahulunya ia seorang wali  Allah, tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran.
   Makna kalimat cenderung ke bumi dalam ayat وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ   --  Dan seandainya  Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi,”  menginginkan hal-hal yang bersifat kebendaan, pada khususnya kecintaan akan uang.

Tertutupnya “Pintu-pintu Langit

  Yalhats  dalam ayat فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ   -- jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   lidahnya,   dari lahatsa  yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya  adalah  baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama, orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban kewajiban pemberian pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.
      Merupakan Sunatullah, bahwa sebelum rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada  suatu kaum benar-benar datang,   untuk kepentingan hujah (dalil) mengenai benarnya pendakwaan rasul Allah tersebut, Allah Swt. kadang-kadang memperlihatkan  berbagai isyarat  atau tanda kepada  para pemuka kaum tersebut, baik melalui ilham atau pun rukya (kasyaf), yakni sampai batas tertentu “pintu-pintu langit ruhani”   dibukakan kepada mereka.
        Tetapi ketika mereka itu kemudian menjadi penentang yang paling depan terhadap pendakwaan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan tersebut. maka “pintu-pintu langit ruhani”  itu  menjadi tertutup rapat.   Itulah salah satu bentuk “pengusiran” atau “keterusiran” mereka dari “surga keridhaan” Allah Swt. sebagaimana yang dialami oleh iblis  (Al-A’rāf [7]:13-14), firman-Nya:
وَ لَوۡ فَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ بَابًا مِّنَ السَّمَآءِ فَظَلُّوۡا فِیۡہِ  یَعۡرُجُوۡنَ ﴿ۙ﴾  لَقَالُوۡۤا اِنَّمَا سُکِّرَتۡ اَبۡصَارُنَا بَلۡ نَحۡنُ قَوۡمٌ  مَّسۡحُوۡرُوۡنَ ﴿٪﴾ وَ لَقَدۡ جَعَلۡنَا فِی السَّمَآءِ بُرُوۡجًا وَّ زَیَّنّٰہَا  لِلنّٰظِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan seandainya Kami membukakan bagi mereka sebuah pintu  langit ruhani  dan mereka terus saja naik  melaluinya,   pasti mereka akan berkata: “Mata kami saja yang dikaburkan, bahkan kami orang-orang  yang kena sihir.”  Dan  sungguh  Kami benar-benar   telah menjadikan gugusan-gugusan bintang di langit dan Kami telah menghiasinya  untuk orang-orang yang melihat.   Dan  Kami telah memeliharanya dari gangguan setiap syaitan yang terkutuk.    اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ  -- kecuali   jika ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya maka ia dikejar kobaran nyala api yang terang-benderang    (Al-Hijr [15]:15-16).

Gejala Meteorik di Masa Pengutusan Rasul Allah  & Makna  Pengejaran Syaitan  oleh “Nyala Api yang Terang Benderang

        Yang dimaksudkan di sini bukan semata-mata keindahan pemandangan planit-planit dan bintang-bintang yang nampak di waktu malam. Tujuan agung yang dipenuhi oleh kejadian benda-benda langit itu, disebut dalam ayat-ayat berikutnya, seperti juga dalam QS.16:17 dan QS.67:6.  dan dalam menjadi sempurnanya tujuan agung itulah terletak keindahan yang sesungguhnya dari benda-benda langit itu.
         Ayat ini menunjukkan bahwa sebagaimana dalam alam kebendaan, orang-orang yang berpembawaan buruk mempunyai sedikit banyak tenaga atau pengaruh  dan dapat mendatangkan beberapa kemudaratan tertentu kepada orang-orang lain, namun mereka sama sekali tidak dapat memahrumkan (meluputkan) orang-orang dari nikmat-nikmat samawi (dari langit), seperti pengaruh yang sehat dari bintang-bintang dan sebagainya,  demikian pula dalam alam keruhanian syaitan tidak mempunyai kekuasaan atas nabi-nabi dan pengikut-pengikut mereka yang sejati (QS.15:29-43).
        Kata “syaitan” dalam ayat yang sedang dibahas ini menunjuk kepada orang-orang kafir tertentu, yang berkeinginan mencapai keakraban dengan Allah Swt. tanpa mengikuti ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi (ayat-ayat 14-16). Terhadap orang-orang semacam itu memang langit keruhanian telah dijaga dan pintu gerbangnya ditutup erat-erat.
       “Mencuri Kalam Ilahi” dapat mengandung arti perbuatan palsu orang-orang yang berlagak mengemukakan ajaran-ajaran para nabi sebagai ajaran dari mereka sendiri. Mereka itu berusaha menipu orang-orang agar mempercayai, bahwa nabi-nabi tidak membawa ajaran baru, dan bahwa mereka juga mempunyai pengetahuan yang dimiliki oleh para nabi Allah.
        Atau ayat itu dapat juga berarti, bahwa mereka mengutip suatu bagian dari ajaran dengan jalan memisahkannya dari siaq-sabaq (ujung pangkalnya) dan berusaha menyesatkan orang-orang yang sederhana pikirannya, dengan memberikan penafsiran salah tentang kata-kata itu dan mengaburkan artinya. Contohnya yang dilakukan Samiri  dengan patung anak sapinya (QS.20:84-99).
        Kata-kata, jika ada orang yang mencuri dengar  dalam ayat اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ  -- kecuali   jika ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya maka ia dikejar kobaran nyala api yang terang-benderang (Al-Hijr [15]:16) jelas menunjukkan, bahwa kata-kata langit dalam ayat 17 menggambarkan sistem keruhanian dan bukan angkasa alam jasmani, sebab mencuri Kalam Ilahi itu tidak ada sangkut pautnya dengan langit jasmani.
         Kata burūj (gugusan bintang-bintang) dalam ayat 17 menggambarkan rasul-rasul Allah secara umum, sedangkan kata-kata syihābun mubīn (kobaran nyala api yang terang benderang) dalam ayat ini atau syihābun tsāqib (kobaran nyala api yang menembus) tercantum dalam QS.37:11 dipakai untuk nabi masa ini yaitu Penghulu  para nabi  yaitu  Nabi Besar Muhammad saw..
        Pengejaran syaitan oleh syihab maksudnya, bahwa selama suatu ajaran agama berlandaskan pada wahyu Ilahi (Adz-Dzikr, ayat 10) dan memberi nur dan hidayat, para  mushlih rabbani (pembaharu-pembaharu dari Allah) juga terus-menerus muncul untuk menjaganya. Salah satu tanda kedatangan  para mushlih rabbani ke dunia adalah seringnya terjadi gejala meteorik, yaitu berjatuhannya bintang-bintang dalam jumlah besar.
      Di zaman Nabi Besar Muhammad saw.  meteor-meteor jatuh sedemikian banyaknya, sehingga kaum kafir menyangka bahwa langit dan bumi akan runtuh (Tafsir Ibnu Katsir). Dari kejadian yang luar biasa inilah Heraclius, yang agaknya mempunyai sedikit pengetahuan tentang ilmu perbintangan, menarik kesimpulan, bahwa nabi dan raja bangsa Arab pasti sudah muncul (Bukhari bab bad’al-wahy).
        Di zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  juga bintang-bintang berjatuhan dalam jumlah yang luar biasa besarnya (Al-Bihar-ul-Anwar). Gejala langit ini pernah disaksikan di masa kita ini dalam tahun 1885 di masa Mirza Ghulam Ahmad a.s. (1835-1908). Dengan demikian sejarah dan hadits kedua-duanya memberikan kesaksian, bahwa berjatuhannya meteor-meteor dalam jumlah yang luar biasa besarnya, adalah satu tanda yang pasti mengenai munculnya seorang mushlih rabbani (rasul Allah).
         Kata “syaitan” dalam QS.15:18 dapat dianggap menunjuk kepada ahli-ahli nujum dan tukang-tukang tenung. Dalam hal itu “merajam syaitan-syaitan” (QS.67:6) akan berarti bahwa manakala di dunia ini tidak ada seorang mushlih rabbani, maka ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir akan berhasil sampai batas tertentu dalam permainan kotornya dengan menipu orang-orang yang bodoh, tetapi dengan munculnya seorang mushlih rabbani, ilmu mereka yang lancung itu terbuka kedoknya dan orang-orang dengan mudah dapat membedakan antara kabar-kabar gaib dari rasul-rasul Ilahi dengan dugaan-dugaan dan terkaan-terkaan dari ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir.
     Ayat ini dapat juga diartikan, bahwa tatkala beberapa orang yang buruk pikirannya, mengambil sepotong dari wahyu Ilahi dengan menceraikannya dari susunan kalimatnya, dan berusaha menyebar-luaskannya dalam bentuk yang sudah rusak itu, maka sebuah tanda baru datang laksana sekilas cahaya yang berbinar-binar lalu menghancur-leburkan rencana-rencana buruk orang-orang yang bertingkah laku seperti syaitan itu.  firman-Nya:
اِنَّا زَیَّنَّا السَّمَآءَ  الدُّنۡیَا بِزِیۡنَۃِۣ الۡکَوَاکِبِ ۙ﴿﴾  وَ  حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ ۚ﴿﴾  لَا یَسَّمَّعُوۡنَ  اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ  کُلِّ  جَانِبٍ ٭ۖ﴿﴾  دُحُوۡرًا  وَّ  لَہُمۡ  عَذَابٌ  وَّاصِبٌ ۙ﴿﴾  اِلَّا مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ  ثَاقِبٌ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang,    dan telah memeliharanya dari setiap syaitan durhaka.  Mereka tidak dapat mendengar-dengarkan pembicaraan majlis malaikat-malaikat yang tinggi dan mereka dilempari dari segala penjuru.  Terusir dan bagi mereka ada azab yang kekal.    Kecuali barangsiapa mencuri-curi  sesuatu pembicaraan  maka ia dikejar oleh cahaya api yang cemerlang.  (Ash-Shāffāt [37]:7-11).
     Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya mengenai QS.15:15-16, ayat ini menunjuk kepada kesejajaran antara alam kebendaan dan alam keruhanian, bahwa seperti halnya cakrawala alam lahir didukung oleh adanya planit-planit dan bintang-bintang, demikian pula cakrawala alam ruhani didukung oleh adanya planit-planit dan bintang-bintang yang terdiri dari nabi-nabi dan mushlih-mushlih rabbani. Tiap-tiap wujud mereka itu berperan sebagai perhiasan bagi cakrawala alam keruhanian, sebagaimana bintang-bintang dan planit-planit di langit memperindah dan menghiasi cakrawala alam lahir ini.

Dua  Golongan Syaitan

        Syaitan-syaitan itu terdiri dari dua golongan: (a) musuh-musuh di dalam selimut jemaat kaum Muslimin sendiri, seperti orang-orang munafik, dan sebagainya. Mereka itu disebut “syaitan durhaka,” seperti tersebut dalam ayat ini, dan (b) musuh-musuh dari luar atau orang-orang kafir yang disebut sebagai “syaithanirrajim” (syaitan yang terkutuk) (QS.15:18).
  Selama Kalamullāh (firman Allah) terpelihara di langit maka Kalamullāh itu aman dan terpelihara dari gangguan pencurian dan serobotan, tetapi sesudah diturunkan kepada seorang nabi Allah maka “syaitan” atau musuh-musuh nabi-nabi Allah berusaha menyalah-sampaikan atau menyalahartikannya, dengan mengutip kata-kata nabi itu secara keliru atau dengan mengambil sebagian wahyunya dan mencampurkan banyak kepalsuan dengan wahyu itu, atau bahkan mereka mencoba mengemukakan  ajaran nabi itu sebagai ajaran mereka sendiri. Tetapi kepalsuan mereka tersingkap oleh penjelasan hakiki yang diberikan oleh sang mushlih rabbani mengenai wahyunya itu.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 24 Agustus 2015





Tidak ada komentar:

Posting Komentar