بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 16
Makna Pengusiran Iblis
dari “Jannah” oleh Allah Swt. dan Hubungannya dengan Tertutupnya “Pintu-pintu Langit Ruhani” Bagi Para Penentang Rasul Allah & Pengejaran Syaitan oleh “Nyala Api yang Terang
Benderang”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna pengusiran
Iblis dari “jannah” akibat ketakaburannya terhadap Adam (Khalifah Allah – QS.2:31-35; QS.7:12-19; QS.15:33-34;
QS.38:76-77), yang kemudian dialami pula
oleh orang-orang
kafir di kalangan Bani Israil karena
mereka senantiasa mendustakan dan menentang para rasul Allah
yang dibangkitkan dari kalangan mereka,
termasuk terhadap Nabi Besar Muhammad saw., yang dibangkitkan
dari kalangan Bani Isma’il sebagaimana yang dinubuatkan dalam Bible
(Ulangan 18:15-19 & 28:1-2; QS.46:11), firman-Nya:
وَ لَمَّا
جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ
عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ
۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ بِئۡسَمَا اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ
اَنۡفُسَہُمۡ اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ بَغۡیًا اَنۡ یُّنَزِّلَ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ
عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ ۚ فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ
عَلٰی غَضَبٍ ؕ وَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ
مُّہِیۡنٌ ﴿﴾
Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,
sedangkan sebelum itu mereka senantiasa
memohon kemenangan atas
orang-orang kafir, فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ -- tetapi tatkala
datang
kepada mereka apa yang
mereka kenali itu lalu mereka kafir kepadanya فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- maka laknat Allah atas orang-orang kafir. بِئۡسَمَا
اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ
اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ اَنۡزَلَ
اللّٰہُ -- Sangat buruk hal
yang dengan itu mereka telah menjual dirinya yakni mereka
kafir kepada apa yang diturunkan
Allah, بَغۡیًا اَنۡ یُّنَزِّلَ
اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ -- karena
dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی
غَضَبٍ -- lalu
mereka ditimpa kemurkaan demi kemurkaan, وَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ -- dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan. (Al-Baqarah [2]:90-91).
Diusir dari “Surga Keridhaan Ilahi”
Ayat
90 berarti bahwa orang-orang Yahudi biasa membukakan kepada orang-orang musyrik Arab kenyataan bahwa ada nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab
Suci mereka tentang kedatangan seorang
Nabi yang akan menyebarkan kebenaran
ke seluruh dunia (Ulangan 18:18 dan 28:1-2).
Tetapi ketika Nabi Allah itu sungguh-sungguh muncul -- yakni Nabi
Besar Muhammad saw. -- bahkan
orang-orang dari antara mereka yang telah melihat
Tanda-tanda dari Allah Swt. menjadi
sempurna dalam diri beliau saw., mereka
berpaling dari beliau saw..
Atau mungkin pula artinya bahwa
sebelum diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. orang-orang Yahudi biasa mendoa dengan khusuk kepada Allah Swt.
agar Dia membangkitkan seorang nabi
yang akan menyebabkan agama yang benar
itu menang terhadap agama-agama palsu
(“Siratun-Nabi” oleh ibnu Hisyam,
1, 150), tetapi ketika Nabi Allah yang untuknya mereka terus-terus mendoa itu sungguh-sungguh datang dan keunggulan haq (kebenaran) di atas kepalsuan mulai mampak mereka menolaknya,
dan sebagai akibat penolakan tersebut itu laknat
Allah Swt. menimpa atas mereka dan
mereka terus menerus mendapat berbagai
bentuk kemurkaan Ilahi: فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ -- lalu mereka
ditimpa kemurkaan demi kemurkaan,
وَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ -- dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan. (Al-Baqarah [2]:91).
Dengan demikian jelaslah, bahwa
yang dimaksud maghdhūb (orang-orang
yang dimurkai) dalam ayat: غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ -- bukan
jalan mereka yang dimurkai” (Al-Fatihah [1]:7) adalah orang-orang kafir di kalangan Bani Israil atau orang-orang
Yahudi -- serta orang-orang yang mengikuti kelakuan buruk
mereka -- yang senantiasa mendustakan dan menentang para Rasul Allah,
yakni mereka mengikuti ketakaburan Iblis terhadap Adam
(Khalifah Allah), sehingga akibatnya sebagaimana halnya iblis lalu diusir Allah Swt. dari “surga keridhaan-Nya” (QS.7:12-16),
demikian pula orang-orang Yahudi dan orang-orang
yang mengikuti kelakuan buruk mereka
itu mengalami hal buruk yang sama,
termasuk di Akhir Zaman ini.
Jadi, tidak benar pendapat bahwa pengusiran
yang dikukan Allah Swt. terhadap Iblis
yang dikemukakan dalam berbaagi Surah Al-Quran adalah dari dalam “surga”,
yang ke dalamnya orang-orang yang
beriman dan beramal shaleh akan
memasukinya (QS.2:26), melainkan ia diusir
dari “surga keridhaan Ilahi”, yang
sebelum terjadinya pendustaan dan penentangan
terhadap para Rasul Allah mereka alami (rasakan), berikut firman Allah
Swt. kepada iblis:
قَالَ مَا
مَنَعَکَ اَلَّا تَسۡجُدَ
اِذۡ اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ
وَّ خَلَقۡتَہٗ مِنۡ
طِیۡنٍ ﴿﴾ قَالَ فَاہۡبِطۡ
مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾
Dia
berfirman: “Apa
yang telah menghalangi engkau
sehingga engkau tidak bersujud yakni
patuh sepenuhnya ketika Aku memberi
pe-rintah kepada engkau?” Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau
menciptakan dia dari tanah liat.” قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ
لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا -- Dia berfirman: ”Jika demikian, pergilah engkau darinya, karena sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, فَاخۡرُجۡ اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ -- karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang hina” (Al-A’rāf
[7]:13-14).
Oleh karena tidak ada kata-benda atau tempat disebut-sebut
dalam ayat ini yang dapat dianggap lebih ditampilkan oleh kata pengganti hā (nya) dalam ungkapan minhā (darinya): قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ
لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا -- Dia berfirman: ”Jika demikian, pergilah engkau darinya,” maka kata-pengganti
itu (minhā) dapat diartikan
menyatakan ihwal atau keadaan iblis sebelum ia menolak sujud kepada Adam a.s..
Perumpamaan Tentang Bal’am bin Baura (Bileam bin Beor)
Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah – yakni diusir
dari surge keridhaan Ilahi -- firman Allah Swt. berikut ini:
وَ اتۡلُ
عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ
اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا
لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ
فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ
اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ
تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا
ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ سَآءَ مَثَلَاۨ
الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا
یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan
ceritakanlah kepada mereka berita orang-orang yang telah Kami berikan
Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia
melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat.
وَ لَوۡ
شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ -- Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan
itu, akan tetapi ia cenderung ke
bumi وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ -- dan mengikuti hawa nafsunya, فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ -- maka keadaannya
seperti seekor anjing yang kehausan, اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ
اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ -- jika engkau
menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan lidahnya. ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا -- Demikianlah misal (perumpamaan) orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, فَاقۡصُصِ
الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ -- maka kisahkanlah
kisah ini supaya mereka
merenungkannya. سَآءَ
مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا
یَظۡلِمُوۡنَ -- Sangat
buruk misal (perumpamaan) orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda
Kami, dan kepada diri mereka
sen-dirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’rāf [7]:176-178).
Yang dimaksudkan di sini bukanlah seseorang
tertentu melainkan semua orang yang
kepada mereka Allah Swt. memperlihatkan
Tanda-tanda melalui seorang nabi tapi mereka menolaknya. Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain
dalam Al-Quran (seperti QS.2:18). Ayat itu telah dikenakan secara khusus kepada
seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura
yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan konon dahulunya ia seorang wali
Allah, tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia
mengakhiri hidupnya dalam kenistaan.
Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu
Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin
Salul atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin
kekafiran.
Makna kalimat
cenderung ke bumi dalam ayat وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ
اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ -- Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan
itu, akan tetapi ia cenderung ke
bumi,” menginginkan hal-hal yang bersifat
kebendaan, pada khususnya kecintaan akan uang.
Tertutupnya “Pintu-pintu Langit”
Yalhats dalam ayat فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ
یَلۡہَثۡ -- jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya
dan jika engkau membiarkannya ia tetap
menjulurkan lidahnya,” dari lahatsa yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan,
maksudnya adalah baik diminta
ataupun tidak untuk berkorban pada jalan
agama, orang semacam itu nampaknya terengah-engah
seperti seekor anjing kehausan,
seakan-akan beban kewajiban pemberian
pengorbanan yang terus menerus bertambah
membuatnya amat penat sekali.
Merupakan
Sunatullah, bahwa sebelum rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada suatu kaum benar-benar datang, untuk kepentingan hujah (dalil) mengenai benarnya pendakwaan
rasul Allah tersebut, Allah Swt. kadang-kadang
memperlihatkan berbagai isyarat
atau tanda kepada para pemuka
kaum tersebut, baik melalui ilham
atau pun rukya (kasyaf), yakni sampai
batas tertentu “pintu-pintu langit ruhani”
dibukakan
kepada mereka.
Tetapi ketika mereka itu kemudian
menjadi penentang yang paling depan
terhadap pendakwaan rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan tersebut.
maka “pintu-pintu langit ruhani” itu menjadi tertutup
rapat. Itulah salah satu bentuk “pengusiran”
atau “keterusiran” mereka dari “surga keridhaan” Allah Swt. sebagaimana
yang dialami oleh iblis (Al-A’rāf
[7]:13-14), firman-Nya:
وَ لَوۡ فَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ بَابًا مِّنَ
السَّمَآءِ فَظَلُّوۡا فِیۡہِ
یَعۡرُجُوۡنَ ﴿ۙ﴾ لَقَالُوۡۤا
اِنَّمَا سُکِّرَتۡ اَبۡصَارُنَا بَلۡ نَحۡنُ قَوۡمٌ مَّسۡحُوۡرُوۡنَ ﴿٪﴾ وَ لَقَدۡ جَعَلۡنَا فِی
السَّمَآءِ بُرُوۡجًا وَّ زَیَّنّٰہَا لِلنّٰظِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan seandainya Kami
membukakan bagi mereka sebuah pintu
langit ruhani dan mereka terus saja naik melaluinya, pasti
mereka akan berkata: “Mata kami saja
yang dikaburkan, bahkan kami
orang-orang yang kena sihir.” Dan
sungguh Kami benar-benar telah menjadikan gugusan-gugusan bintang
di langit dan Kami telah
menghiasinya untuk
orang-orang yang melihat. Dan Kami telah memeliharanya dari gangguan
setiap syaitan yang terkutuk. اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ
-- kecuali jika
ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya
maka ia dikejar kobaran nyala api
yang terang-benderang (Al-Hijr [15]:15-16).
Gejala Meteorik di Masa Pengutusan Rasul Allah & Makna
Pengejaran Syaitan oleh “Nyala
Api yang Terang Benderang”
Yang
dimaksudkan di sini bukan semata-mata keindahan
pemandangan planit-planit dan bintang-bintang yang nampak di waktu
malam. Tujuan agung yang dipenuhi
oleh kejadian benda-benda langit itu, disebut dalam ayat-ayat berikutnya,
seperti juga dalam QS.16:17 dan QS.67:6.
dan dalam menjadi sempurnanya tujuan
agung itulah terletak keindahan
yang sesungguhnya dari benda-benda langit itu.
Ayat
ini menunjukkan bahwa sebagaimana dalam alam
kebendaan, orang-orang yang berpembawaan
buruk mempunyai sedikit banyak tenaga
atau pengaruh dan dapat mendatangkan beberapa kemudaratan tertentu kepada orang-orang
lain, namun mereka sama sekali tidak dapat memahrumkan
(meluputkan) orang-orang dari nikmat-nikmat
samawi (dari langit), seperti pengaruh
yang sehat dari bintang-bintang
dan sebagainya, demikian pula dalam alam keruhanian syaitan tidak mempunyai kekuasaan atas nabi-nabi dan pengikut-pengikut
mereka yang sejati (QS.15:29-43).
Kata
“syaitan” dalam ayat yang sedang dibahas ini menunjuk kepada orang-orang kafir tertentu, yang
berkeinginan mencapai keakraban
dengan Allah Swt. tanpa
mengikuti ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi
(ayat-ayat 14-16). Terhadap orang-orang semacam itu memang langit keruhanian telah dijaga
dan pintu gerbangnya ditutup
erat-erat.
“Mencuri Kalam Ilahi” dapat mengandung arti perbuatan palsu orang-orang yang
berlagak mengemukakan ajaran-ajaran
para nabi sebagai ajaran dari mereka sendiri. Mereka itu
berusaha menipu orang-orang agar
mempercayai, bahwa nabi-nabi tidak
membawa ajaran baru, dan bahwa mereka
juga mempunyai pengetahuan yang
dimiliki oleh para nabi Allah.
Atau ayat itu dapat juga berarti, bahwa
mereka mengutip suatu bagian dari ajaran
dengan jalan memisahkannya dari siaq-sabaq
(ujung pangkalnya) dan berusaha menyesatkan
orang-orang yang sederhana pikirannya, dengan memberikan penafsiran salah tentang kata-kata itu dan mengaburkan artinya. Contohnya yang dilakukan Samiri dengan patung anak sapinya (QS.20:84-99).
Kata-kata, jika ada orang yang mencuri
dengar dalam ayat اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ
-- kecuali jika
ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya
maka ia dikejar kobaran nyala api
yang terang-benderang (Al-Hijr [15]:16) jelas menunjukkan,
bahwa kata-kata langit dalam ayat 17
menggambarkan sistem keruhanian dan
bukan angkasa alam jasmani, sebab
mencuri Kalam Ilahi itu tidak ada sangkut pautnya dengan langit jasmani.
Kata burūj
(gugusan bintang-bintang) dalam ayat 17 menggambarkan rasul-rasul Allah secara umum, sedangkan kata-kata syihābun
mubīn (kobaran nyala api yang terang benderang) dalam ayat ini atau syihābun
tsāqib (kobaran nyala api yang menembus) tercantum dalam QS.37:11 dipakai
untuk nabi masa ini yaitu Penghulu para nabi
yaitu
Nabi Besar Muhammad saw..
Pengejaran
syaitan oleh syihab maksudnya,
bahwa selama suatu ajaran agama
berlandaskan pada wahyu Ilahi (Adz-Dzikr,
ayat 10) dan memberi nur dan hidayat, para mushlih rabbani (pembaharu-pembaharu
dari Allah) juga terus-menerus muncul
untuk menjaganya. Salah satu tanda
kedatangan para mushlih rabbani ke dunia adalah seringnya terjadi gejala meteorik, yaitu berjatuhannya bintang-bintang
dalam jumlah besar.
Di
zaman Nabi Besar Muhammad saw. meteor-meteor jatuh sedemikian
banyaknya, sehingga kaum kafir
menyangka bahwa langit dan bumi akan runtuh
(Tafsir Ibnu Katsir). Dari
kejadian yang luar biasa inilah Heraclius, yang agaknya mempunyai sedikit
pengetahuan tentang ilmu perbintangan, menarik kesimpulan, bahwa nabi dan raja
bangsa Arab pasti sudah muncul (Bukhari bab bad’al-wahy).
Di
zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. juga
bintang-bintang berjatuhan dalam
jumlah yang luar biasa besarnya (Al-Bihar-ul-Anwar).
Gejala langit ini pernah disaksikan di masa kita ini dalam tahun 1885 di masa Mirza
Ghulam Ahmad a.s. (1835-1908). Dengan demikian sejarah dan hadits
kedua-duanya memberikan kesaksian, bahwa berjatuhannya meteor-meteor dalam jumlah yang luar biasa besarnya, adalah satu tanda yang pasti mengenai munculnya
seorang mushlih rabbani (rasul
Allah).
Kata
“syaitan” dalam QS.15:18 dapat dianggap menunjuk kepada ahli-ahli nujum dan tukang-tukang tenung. Dalam hal itu “merajam syaitan-syaitan”
(QS.67:6) akan berarti bahwa manakala di dunia ini tidak ada seorang mushlih rabbani, maka ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir akan berhasil sampai batas tertentu dalam permainan kotornya dengan menipu orang-orang yang bodoh, tetapi dengan munculnya seorang mushlih rabbani, ilmu mereka yang
lancung itu terbuka kedoknya dan
orang-orang dengan mudah dapat membedakan antara kabar-kabar gaib dari rasul-rasul
Ilahi dengan dugaan-dugaan dan terkaan-terkaan dari ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir.
Ayat
ini dapat juga diartikan, bahwa tatkala beberapa orang yang buruk pikirannya, mengambil sepotong
dari wahyu Ilahi dengan
menceraikannya dari susunan kalimatnya,
dan berusaha menyebar-luaskannya dalam bentuk
yang sudah rusak itu, maka sebuah tanda baru datang laksana sekilas cahaya yang berbinar-binar lalu menghancur-leburkan
rencana-rencana buruk orang-orang
yang bertingkah laku seperti syaitan
itu. firman-Nya:
اِنَّا زَیَّنَّا السَّمَآءَ
الدُّنۡیَا بِزِیۡنَۃِۣ الۡکَوَاکِبِ ۙ﴿﴾ وَ حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ ۚ﴿﴾ لَا
یَسَّمَّعُوۡنَ اِلَی الۡمَلَاِ
الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ
کُلِّ جَانِبٍ ٭ۖ﴿﴾ دُحُوۡرًا
وَّ لَہُمۡ عَذَابٌ
وَّاصِبٌ ۙ﴿﴾ اِلَّا مَنۡ خَطِفَ
الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ ثَاقِبٌ
﴿﴾
Sesungguhnya
Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah
memeliharanya dari setiap
syaitan durhaka. Mereka tidak dapat mendengar-dengarkan pembicaraan
majlis malaikat-malaikat yang tinggi
dan mereka dilempari dari segala penjuru.
Terusir
dan bagi mereka ada azab yang kekal.
Kecuali barangsiapa mencuri-curi sesuatu
pembicaraan maka ia dikejar oleh cahaya api yang cemerlang. (Ash-Shāffāt
[37]:7-11).
Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya mengenai QS.15:15-16, ayat ini menunjuk kepada kesejajaran antara alam kebendaan dan alam
keruhanian, bahwa seperti halnya cakrawala
alam lahir didukung oleh adanya planit-planit
dan bintang-bintang, demikian pula cakrawala alam ruhani didukung oleh
adanya planit-planit dan bintang-bintang yang terdiri dari nabi-nabi dan mushlih-mushlih rabbani. Tiap-tiap wujud mereka itu berperan
sebagai perhiasan bagi cakrawala alam keruhanian, sebagaimana bintang-bintang dan planit-planit di langit memperindah
dan menghiasi cakrawala alam lahir
ini.
Dua Golongan Syaitan
Syaitan-syaitan
itu terdiri dari dua golongan: (a) musuh-musuh di dalam selimut jemaat kaum Muslimin sendiri, seperti
orang-orang munafik, dan sebagainya.
Mereka itu disebut “syaitan durhaka,” seperti tersebut dalam ayat ini,
dan (b) musuh-musuh dari luar atau orang-orang
kafir yang disebut sebagai “syaithanirrajim” (syaitan yang terkutuk)
(QS.15:18).
Selama
Kalamullāh (firman Allah) terpelihara
di langit maka Kalamullāh itu aman dan terpelihara dari gangguan pencurian dan serobotan, tetapi sesudah diturunkan kepada seorang nabi Allah
maka “syaitan” atau musuh-musuh nabi-nabi
Allah berusaha menyalah-sampaikan
atau menyalahartikannya, dengan mengutip kata-kata nabi itu secara keliru atau dengan mengambil sebagian wahyunya dan mencampurkan banyak kepalsuan dengan wahyu itu, atau bahkan mereka mencoba mengemukakan ajaran
nabi itu sebagai ajaran mereka
sendiri. Tetapi kepalsuan mereka
tersingkap oleh penjelasan hakiki yang diberikan oleh sang mushlih rabbani mengenai wahyunya
itu.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 24 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar