بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 21
Kesejajran Peristiwa
“The Big Bang” (Ledakan
Besar) Alam Semesta Jasmani
dan Ruhani Ketika Keadaan Ratqan (Menggumpal) Kembali Terjadi di Kalangan Umat Beragama
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai ayat مَا
کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ -- “Allah
sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman di
dalam keadaan kamu berada di
dalamnya hingga Dia
memisahkan yang buruk dari yang baik”
(QS.3:180), bahwa orang-orang yang beriman ditakdirkan
untuk melalui kesulitan-kesulitan besar dan serba berkekurangan, dan keimanan
mereka mendapat ujian yang berat; dan
sesudah mereka keluar dari percobaan-percobaan
itu dengan berhasil, barulah kenyataan akan menjadi terbukti, bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang sejati dan tulus-ikhlas. Dengan jalan inilah mereka dipisahkan dari orang-orang
munafik, yakni palsu dalam pengakuan iman mereka.
Rasul Allah Sebagai Sarana Pemisah (Pembeda)
Kemudian makna ayat selanjutnya: وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ
رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- “tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki,” ayat itu tidaklah berarti bahwa sebagian rasul-rasul terpilih dan sebagian lagi
tidak, melainkan kata-kata itu berarti bahwa dari orang-orang yang ditetapkan Allah Swt. sebagai rasul-rasul-Nya, Dia memilih
yang paling sesuai untuk zaman
tertentu yakni di zaman rasul Allah itu dibangkitkan, termasuk
di Akhir Zaman ini, karena Allah Swt.
Yang paling mengetahui siapa yang
paling layak untuk mengemban amanat kenabian tersebut guna memisahkan orang-orang pengakuan imannya benar dari yang tidak benar (palsu).
Mengapa demikian? Sebab masalah benar-tidaknya
keimanan seseorang atau berbagai golongan umat
beragama tidak dapat ditentukan
melalui suatu “lembaga fatwa” buatan manusia
yang penuh dengan kelemahan serta tidak
mengetahui hal-hal yang gaib.
Contohnya ketika kaum Yahudi telah berpecah-belah menjadi berbagai golongan (firqah) yang saling bertentangan dan saling mengkafirkan, cara Allah Swt. memisahkan orang-orang keimanannya kepada Allah
Swt. dan Rasul-Nya benar
dari yang dusta yaitu dengan cara mengutus Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan menurut Allah Swt. –
bagaimana pun besarnya jumlah golongan
yang mendustakan beliau di kalangan orang-orang yahudi -- mereka yang beriman kepada Al-Masih Ibnu Maryam a.s. itulah yang keimanannya benar, walau pun jumlah
mereka merupakan golongan minoritas.
Demikian juga sekitar 600 tahun kemudian
setelah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., ketika “daratan
dan lautan” telah rusak (QS.30:42-43)
– termasuk di lingkungan umat Nashrani yang kemudian telah mempertuhankan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunya
(QS.5:117-119) -- Sunnatullah cara “pemisahan
yang baik dari yang buruk” melalui
pengutusan rasul Allah tersebut
(QS.3:180) tersebut kembali berulang,
yaitu dengan cara mengutus Nabi Besar Muhammad saw. (QS.9:30-33).
Sunnatullah tersebut berlaku pula di Akhir Zaman ini (QS.61:10; QS.62:3-5), karena itu hanya Allah Swt.
sajalah yang paling berwenang
menciptakan tatanan “langit baru dan bumi baru” (QS.14:49) guna menggantikan
tatanan “langit lama dan bumi lama” -- yang keadaannya bagaikan
keadaan awal alam semesta yang
“menggumpal” (ratqan - QS.31:3; QS.30:42-43), yaitu melalui peristiwa “the Big Bang” (Ledakan Besar) ruhani
yakni “fafataqnāhumā -- lalu Kami
memisahkan keduanya) melalui pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37; QS.61:10;
QS.62:3-5), firman-Nya:
اَوَ
لَمۡ یَرَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا
اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah orang-orang
yang kafir melihat bahwa seluruh
langit dan bumi keduanya dahulu
suatu massa yang menyatu (ratqan) lalu Kami pisahkan keduanya (fataqnāhumā)?
وَ
جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ شَیۡءٍ
حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ -- Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air.
اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ -- Tidakkah mereka mau
beriman? (Al-Anbiya [21]:31).
“The Big Bang” (Ledakan Besar) Merupakan Proses Awal Penciptaan Alam
Semesta Jasmani
Sesuai dengan Sifat Rabubiyat yang terkandung
dalam ayat Allah Swt.: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --
Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Fatihah [1]:2), ayat Surah Al-Anbiya
[21]:31 tersebut mengisyaratkan landasan agung kepada satu kebenaran
ilmiah.
Agaknya ayat itu menunjuk kepada alam
semesta, ketika masih belum mempunyai bentuk
benda, dan ayat itu bermaksud menyatakan bahwa seluruh alam semesta khususnya tata
surya, telah berkembang dari gumpalan
(ratqan) yang belum mempunyai bentuk atau segumpal
kabut.
Kemudian selaras dengan asas
yang Allah Swt. lancarkan Dia
memecahkan gumpalan zat itu -- فَفَتَقۡنٰہُمَا (maka kami pisahkan keduanya) -- dan pecahan-pecahan yang cerai-berai menjadi kesatuan-kesatuan
wujud tata-surya (“The Universe
Surveyed” oleh Harold Richards
dan “The Nature of the Universe”
oleh Fred Hoyle). Sesudah itu Allah Swt. menciptakan seluruh kehidupan itu dari air.
Ayat ini nampaknya mengandung
arti bahwa seperti alam kebendaan,
demikian pula alam keruhanian pun
berkembang dari gumpalan yang belum
mempunyai bentuk, yang terdiri dari alam pikiran yang kacau-balau dan kepercayaan-kepercayaan
yang bukan-bukan.
Sebagaimana Allah Swt. dengan hikmah-Nya yang tidak pernah meleset dan sesuai dengan rencana agung telah memecahkan gumpalan zat itu, dan pecahan-pecahan yang bertebaran menjadi kesatuan wujud berbagai tata surya, maka persis seperti itu pula
Dia mewujudkan suatu tertib ruhani
yang baru dalam suatu alam yang berguling-gantang di dalam paya-paya
cita-cita yang kacau-balau.
Bila umat manusia tenggelam ke dalam kegelapan akhlak yang keruh serta angkasa
keruhanian menjadi tersaput oleh awan
yang padat dan sesak, maka Allah Swt. menyebabkan
munculnya suatu cahaya berupa seorang utusan Ilahi (rasul Allah) yang
mengusir kegelapan ruhani yang telah
menyebar luas itu, dan dari gumpalan (ratqan)
yang tidak berbentuk dan tanpa kehidupan -- yang berupa kerendahan akhlak dan ruhani -- lahirlah suatu alam semesta ruhani yang mulai meluas
dari pusatnya dan akhirnya melingkupi seluruh dunia dan menerima kehidupan serta pengarahan
dari tenaga penggerak yang berada di
belakangnya.
“The Big Bang” (Ledakan
Besar) di Kalangan Umat Manusia dan Umat Beragama
Mengisyaratkan kepada adanya persamaan itu proses
penciptaan alam semesta jasmani dan alam semesta
ruhani itu pulalah firman-Nya
berikut ini:
کَانَ
النَّاسُ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ
اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ ۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ
النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا
الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا
بَیۡنَہُمۡ ۚ فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ
مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ
یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ اِلٰی
صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Manusia dahulunya merupakan satu umat, lalu Allah
mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan haq
supaya Dia menghakimi di antara
manusia dalam hal-hal yang mereka
perselisihkan, dan sekali-kali tidak ada yang memperselisihkan-nya kecuali orang-orang
yang diberi Alkitab itu
sesudah Tanda-tanda yang nyata
datang kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Lalu Allah dengan izin-Nya telah memberi
petunjuk orang-orang yang beriman
kepada kebenaran yang mere-ka perselisihkan itu, dan Allāh mem-beri petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Al-Baqarah [2]:214).
Sebelum kedatangan seorang nabi Allah semua orang adalah laksana satu umat (kaum), dalam arti bahwa
mereka semua orang-orang kafir.
Tetapi bila seorang nabi Allah muncul,
mereka itu walau pun satu sama lain berbeda
mereka merupakan satu barisan dalam
melakukan perlawanan kepadanya.
Ungkapan “umat manusia adalah satu umat”
atau kata-kata yang serupa dipakai pada tujuh tempat dalam Al-Quran selain
dalam ayat ini. Dalam QS.10:20, QS.21:93
dan QS.23:53 ungkapan itu berarti “kesatuan
nasional”, dan dalam QS.5:49; QS.16:94; QS.42:9; QS.43:34 dan dalam ayat
ini berarti “mempunyai identitas yang sama dalam pikiran.”
“Perselisihan” yang tersebut dalam ayat ini pada dua tempat terpisah
menunjukkan dua macam ketidaksepahaman
yang berlain-lainan. Sebelum kedatangan seorang nabi Allah, orang-orang berselisih
di antara mereka sendiri mengenai perbuatan
musyrik mereka. Tetapi sesudah nabi
Allah itu muncul mereka mulai berselisih
mengenai dakwahnya. Nabi Allah itu
tidak menimbulkan perselisihan.
Sebenarnya perselisihan telah
ada hanya saja sesudah kedatangannya perselisihan itu mengambil bentuk baru.
Sebelum seorang nabi Allah datang orang-orang meskipun berselisih paham
antara satu sama lain, nampaknya seperti satu
kaum, kemudian sesudah nabi
Allah datang mereka mulai terpisah menjadi dua blok yang sangat berbeda — orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir.
Dipandang secara kolektif ayat
ini menggambarkan lima tingkat
berlainan yang telah dilalui umat manusia. Mula-mula ada kesatuan di antara manusia semuanya merupakan satu umat. Dengan bertambahnya penduduk
dan meluasnya kepentingan mereka dan
kian ruwetnya masalah-masalah yang
dihadapi mereka, mereka mulai berselisih
antara satu sama lain.
Kemudian Allah Swt. membangkitkan nabi-nabi Allah dan mewahyukan
kehendak-Nya guna menghakimi perselisihan di antara mereka. Tetapi setiap wahyu-baru dijadikan sebab kekacauan dan pertikaian, terutama oleh kaum
yang kepadanya Amanat Ilahi
dialamatkan.
“The Big Bang” (Ledakan
Besar) Ruhani Pengutusan Nabi Besar
Muhammad Saw.
Allah Swt. akhirnya membangkitkan Nabi Besar
Muhammad saw. dengan Kitab-Nya yang terakhir dan tersempurna
beserta ajaran yang universal, berseru
kepada seluruh umat manusia untuk
berkumpul di sekitar panjinya. Dengan
demikian lingkaran telah bertemu, dan dunia yang mulai dengan kesatuan ditakdirkan untuk berakhir dalam kesatuan.
Jika firman Allah Swt. dalam QS.2:214 tersebut
dihubungkan dengan proses awal penciptaan alam semesta yang dimulai dari
keadaan ratqan (menggumpal) maka
dalam dunia agama (ruhani), yakni:
(1) keadaan ratqan (menggumpal) sebelum mengenal agama atau nabi
Allah, yaitu murni sebagai orang-orang
kafir, sebagaimana firman-Nya:
کَانَ
النَّاسُ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ
اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ ۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ
النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ
Manusia dahulunya merupakan satu umat, lalu Allah
mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan haq
supaya Dia menghakimi di antara
manusia dalam hal-hal yang mereka
perselisihkan (Al-Baqarah
[2]:214).
(2) keadaan ratqan (menggumpal) setelah mengenal agama
atau nabi Allah, yakni orang-orang kafir di kalangan umat beragama, sebagaimana lanjutan ayat
tersebut:
وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا
جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ۚ
dan
sekali-kali tidak ada yang
memperselisihkannya kecuali orang-orang
yang diberi Alkitab itu
sesudah Tanda-tanda yang nyata
datang kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. (Al-Baqarah [2]:214).
Mengisyaratkan kepada pengulangan terjadinya keadaan ratqan (menggumpal) di kalangan umat
beragama inilah firman Allah Swt.
berikut ini:
ظَہَرَ
الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ
کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ
کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan per-buatan tangan manusia, supaya dirasakan kepada mereka akibat seba-gian perbuatan yang mereka lakukan,
supaya mereka kembali dari
kedurhakaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah
di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya
akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang
musyrik.” Maka hadapkanlah wajah
engkau kepada agama yang lurus,
sebelum datang dari Allah hari yang
tidak dapat dihindarkan, pada hari itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah (Ar-Rūm
[30]:42-44).
Makna “Daratan” dan “Lautan”
Masalah
pokok dalam ayat-ayat Surah Ar-Rūm
31-41 sebelumnya berkisar dalam menimbulkan dan meresapkan pada manusia, keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha
Perkasa, Yang menciptakan, mengatur, dan membimbing segala kehidupan.
Dalam ayat 42 kita
diberi tahu, bahwa bila kegelapan
menyelimuti muka bumi dan manusia melupakan Allah dan menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan
tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka merupakan
Sunnah-Nya Allah Swt. membangkitkan seorang nabi Allah untuk mengembalikan gembalaan
yang tersesat keharibaan Majikan-nya yang hakiki.
“Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan
agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya
semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia
sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci
yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa a.m.s. di dalam aliran darah manusia telah
padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang
kekacauan. Agaknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun
lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang........ Peradaban
laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya
telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan,
sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan
pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya” (“Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam”).
Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu Nabi Besar Muhammad saw., Guru umat manusia terbesar, muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir
diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab syariat
yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau kebanyakan
keburukan -- teristimewa yang
dikenal sebagai akar keburukan -- menampakkan diri telah menjadi mapan.
Kata-kata “daratan dan lautan”
dalam ayat: ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
-- “Kerusakan telah meluas di daratan dan
di lautan disebabkan per-buatan tangan manusia” dapat diartikan:
(a) bangsa-bangsa yang kebudayaan
dan peradabannya hanya semata-mata
berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa
yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi;
(b) orang-orang yang hidup di
benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau.
Jadi,
ayat ini berarti, bahwa di masa
menjelang diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Rasul Allah untuk semua umat
manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), semua bangsa di dunia telah
menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki.
Pengulangan “The
Big Bang” (Ledakan Besar) Ruhani di
Akhir
Zaman
Keadaan ratqan (menggumpal)
dalam alam keruhanian setelah terciptanya “langit baru dan bumi baru”
melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut kembali terjadi di Akhir Zaman ini, yang diawali
setelah 3 abad masa kejayaan umat
Islam yang pertama, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ
اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (As-Sajdah [31]:6).
Ayat ini menunjuk kepada
suatu pancaroba sangat hebat, yang
ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan
perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang
mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup,
kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Islam mulai mundur sesudah 3 abad
pertama masa keunggulan dan keme-nangan
yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran
dan kemerosotannya berlangsung dalam
masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000
tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: “Kemudian perintah
itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda bahwa iman akan
terbang ke bintang Tsuraya dan
seseorang dari keturunan Parsi akan
mengembalikannya ke bumi (Bukhari,
Kitab-ut-Tafsir Surah Al-Jumu’ah). Dengan kedatangan Masih Mau’ud a.s. dalam abad ke-14 sesudah Hijrah
(QS.62:3-5), laju kemerosotan Islam
telah terhenti dan kebangkitan Islam
kembali mulai berlaku (QS.61:10.
Pencabutan Bertahap “Ruh” Al-Quran (agama Islam)
Jadi, itulah isyarat-isyarat dalam Al-Quran berkenaan terulangnya
keadaan ratqan (menggumpal) yang terjadi di kalangan umat Islam setelah mengalami masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad, demikian pula dalam
firman-Nya berikut ini mengenai masalah
“ruh”:
وَ
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾ وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ
بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا رَحۡمَۃً
مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ
فَضۡلَہٗ کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا ﴿﴾ قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ
عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ
لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ ظَہِیۡرًا
﴿﴾
Dan mereka
bertanya kepada engkau mengenai ruh,
katakanlah: “Ruh telah diciptakan perintah
Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama
sekali tidak diberi ilmu mengenai itu melainkan
sedikit.” وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ
بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا -- Dan jika Kami
benar-benar menghendaki, niscaya Kami
mengambil kembali apa yang
telah Kami wahyukan kepada engkau kemudian engkau
tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ -- Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan)
engkau, اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا -- sesungguhnya
karunia-Nya kepada engkau sangat besar.
قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ
عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ -- Katakanlah: “Jika ins (manusia)
dan jin benar-benar berhimpun untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini,
لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ
لِبَعۡضٍ ظَہِیۡرًا -- mereka
tidak akan sanggup mendatangkan yang sama
seperti ini, walaupun
sebagian mereka membantu
sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:86-89).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 29 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar