Jumat, 28 Agustus 2015

Kesejajaran Peristiwa "The Big Bang" (Ledakan Besar) Alam Semesta Jasmani dan Ruhani Ketika Keadaan "Ratqan" (Menggumpal) Kembali Terjadi di Kalangan Umat Beragama


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 21

  Kesejajran  Peristiwa   “The Big Bang” (Ledakan Besar)   Alam Semesta Jasmani dan   Ruhani  Ketika Keadaan Ratqan (Menggumpal)  Kembali  Terjadi di Kalangan Umat Beragama

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai  ayat مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ -- “Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya  hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik” (QS.3:180), bahwa orang-orang yang beriman ditakdirkan untuk melalui kesulitan-kesulitan besar dan serba berkekurangan, dan keimanan mereka mendapat ujian yang berat; dan sesudah mereka keluar dari percobaan-percobaan itu dengan berhasil, barulah kenyataan akan menjadi terbukti, bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang sejati dan tulus-ikhlas. Dengan jalan inilah mereka dipisahkan dari orang-orang munafik, yakni palsu dalam pengakuan iman mereka.

Rasul Allah Sebagai Sarana  Pemisah (Pembeda)

       Kemudian makna ayat selanjutnya:   وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ   -- “tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki,” ayat  itu tidaklah berarti bahwa sebagian rasul-rasul terpilih dan sebagian lagi tidak, melainkan kata-kata itu berarti bahwa dari orang-orang yang ditetapkan Allah Swt.    sebagai rasul-rasul-Nya, Dia memilih yang paling sesuai untuk zaman tertentu yakni  di zaman rasul Allah itu dibangkitkan, termasuk di Akhir Zaman ini, karena Allah Swt. Yang paling mengetahui siapa yang paling layak untuk mengemban amanat kenabian  tersebut guna memisahkan    orang-orang pengakuan imannya benar dari yang tidak benar (palsu).
        Mengapa demikian? Sebab masalah benar-tidaknya keimanan seseorang   atau  berbagai golongan  umat beragama  tidak dapat ditentukan melalui suatu “lembaga fatwa”  buatan manusia yang penuh dengan kelemahan  serta tidak mengetahui hal-hal yang gaib.
      Contohnya ketika kaum Yahudi telah berpecah-belah menjadi berbagai golongan  (firqah) yang saling bertentangan  dan saling mengkafirkan, cara Allah Swt. memisahkan  orang-orang keimanannya  kepada Allah Swt. dan  Rasul-Nya  benar dari yang dusta  yaitu dengan cara mengutus Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan menurut Allah Swt. – bagaimana pun besarnya jumlah golongan yang mendustakan beliau di kalangan orang-orang yahudi   --  mereka yang beriman kepada  Al-Masih Ibnu Maryam a.s. itulah yang keimanannya benar, walau pun jumlah mereka merupakan  golongan minoritas.
        Demikian juga sekitar 600 tahun kemudian setelah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  ketika “daratan dan lautan” telah rusak (QS.30:42-43) – termasuk di lingkungan  umat Nashrani yang kemudian telah mempertuhankan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunya (QS.5:117-119)  -- Sunnatullah cara “pemisahan yang baik dari yang buruk” melalui pengutusan rasul Allah tersebut (QS.3:180) tersebut kembali berulang, yaitu dengan cara mengutus Nabi Besar Muhammad saw. (QS.9:30-33).
       Sunnatullah tersebut  berlaku pula di Akhir Zaman ini (QS.61:10; QS.62:3-5), karena itu hanya Allah Swt. sajalah yang paling berwenang menciptakan tatanan “langit baru dan bumi baru” (QS.14:49) guna menggantikan tatanan “langit lama dan bumi lama” -- yang keadaannya   bagaikan  keadaan awal alam semesta yang “menggumpal” (ratqan  - QS.31:3; QS.30:42-43), yaitu   melalui peristiwa “the Big Bang” (Ledakan Besar) ruhani yakni “fafataqnāhumā  -- lalu Kami memisahkan keduanya)  melalui pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37; QS.61:10; QS.62:3-5), firman-Nya:
اَوَ لَمۡ  یَرَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا  اَنَّ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ  شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah orang-orang  yang kafir melihat bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu   (ratqan)  lalu Kami pisahkan keduanya (fataqnāhumā)? وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ  شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ  -- Dan Kami   jadikan segala sesuatu yang hidup dari air.  اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ -- Tidakkah  mereka   mau beriman? (Al-Anbiya [21]:31).

The Big Bang” (Ledakan Besar) Merupakan Proses Awal Penciptaan Alam Semesta Jasmani

        Sesuai dengan Sifat Rabubiyat  yang terkandung dalam  ayat Allah Swt.: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam  (Al-Fatihah [1]:2),   ayat  Surah   Al-Anbiya [21]:31  tersebut  mengisyaratkan landasan agung kepada satu kebenaran ilmiah.
      Agaknya ayat itu menunjuk kepada alam semesta, ketika masih belum mempunyai bentuk benda, dan ayat itu bermaksud menyatakan bahwa seluruh alam semesta khususnya tata surya, telah berkembang dari gumpalan (ratqan) yang belum mempunyai bentuk atau segumpal kabut.
    Kemudian selaras dengan asas yang Allah Swt.  lancarkan Dia memecahkan gumpalan zat itu -- فَفَتَقۡنٰہُمَا  (maka kami pisahkan keduanya) -- dan pecahan-pecahan yang cerai-berai menjadi kesatuan-kesatuan wujud tata-surya (“The Universe Surveyed” oleh Harold   Richards dan “The Nature of the Universe” oleh Fred Hoyle). Sesudah itu Allah Swt.  menciptakan seluruh kehidupan itu dari air.
       Ayat ini nampaknya mengandung arti bahwa seperti alam kebendaan, demikian pula alam keruhanian pun berkembang dari gumpalan yang belum mempunyai bentuk, yang terdiri dari alam pikiran yang kacau-balau dan kepercayaan-kepercayaan yang bukan-bukan.
      Sebagaimana Allah Swt.  dengan hikmah-Nya yang tidak pernah meleset dan sesuai dengan rencana agung telah memecahkan gumpalan zat itu, dan pecahan-pecahan yang bertebaran menjadi kesatuan wujud berbagai tata surya, maka persis seperti itu pula Dia mewujudkan suatu tertib ruhani yang baru dalam suatu alam yang berguling-gantang di dalam paya-paya cita-cita yang kacau-balau.
      Bila umat manusia tenggelam ke dalam kegelapan akhlak yang keruh  serta angkasa keruhanian menjadi tersaput oleh awan yang padat dan sesak, maka Allah Swt. menyebabkan munculnya suatu cahaya berupa seorang utusan Ilahi (rasul Allah) yang mengusir kegelapan ruhani yang telah menyebar luas itu, dan dari gumpalan (ratqan) yang tidak berbentuk dan tanpa kehidupan  --  yang berupa kerendahan akhlak dan ruhani  --  lahirlah suatu alam semesta ruhani yang mulai meluas dari pusatnya dan akhirnya melingkupi seluruh dunia dan menerima kehidupan  serta pengarahan dari tenaga penggerak yang berada di belakangnya.

The Big Bang” (Ledakan Besar)    di Kalangan Umat Manusia dan Umat Beragama

       Mengisyaratkan kepada adanya  persamaan itu  proses penciptaan alam  semesta jasmani dan alam semesta ruhani itu  pulalah firman-Nya berikut ini:
کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً  وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ  ۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ  الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ۚ فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ  یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Manusia dahulunya merupakan satu umat,  lalu Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan  haq supaya Dia menghakimi di antara manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan,  dan sekali-kali tidak ada yang memperselisihkan-nya  kecuali orang-orang yang diberi Alkitab itu sesudah Tanda-tanda yang nyata datang kepada mereka, karena  kedengkian di antara mereka. Lalu Allah dengan izin-Nya telah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran yang mere-ka perselisihkan itu, dan Allāh mem-beri petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus  (Al-Baqarah [2]:214).
        Sebelum kedatangan seorang nabi Allah semua orang adalah laksana satu umat (kaum), dalam arti bahwa mereka semua orang-orang kafir. Tetapi bila seorang nabi Allah muncul, mereka itu walau pun satu sama lain berbeda mereka merupakan satu barisan dalam melakukan perlawanan kepadanya.
       Ungkapan “umat manusia adalah satu umat” atau kata-kata yang serupa dipakai pada tujuh tempat dalam Al-Quran selain dalam ayat ini. Dalam  QS.10:20, QS.21:93 dan QS.23:53 ungkapan itu berarti “kesatuan nasional”, dan dalam QS.5:49; QS.16:94; QS.42:9; QS.43:34 dan dalam ayat ini berarti “mempunyai  identitas yang sama dalam pikiran.”
    “Perselisihan” yang tersebut dalam ayat ini pada dua tempat terpisah menunjukkan dua macam ketidaksepahaman yang berlain-lainan. Sebelum kedatangan seorang nabi Allah, orang-orang berselisih di antara mereka sendiri mengenai perbuatan musyrik mereka. Tetapi sesudah nabi Allah itu muncul mereka mulai berselisih mengenai dakwahnya. Nabi Allah itu tidak menimbulkan perselisihan. Sebenarnya perselisihan telah ada  hanya saja sesudah kedatangannya perselisihan itu mengambil bentuk baru.
      Sebelum seorang nabi Allah datang orang-orang meskipun berselisih  paham antara satu sama lain, nampaknya seperti satu kaum,  kemudian  sesudah nabi Allah datang mereka mulai terpisah menjadi dua blok yang sangat berbeda — orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir.
       Dipandang secara kolektif ayat ini menggambarkan lima tingkat berlainan yang telah dilalui umat manusia. Mula-mula ada kesatuan di antara manusia semuanya merupakan satu umat. Dengan bertambahnya penduduk dan meluasnya kepentingan mereka dan kian ruwetnya masalah-masalah yang dihadapi mereka, mereka mulai berselisih antara satu sama lain.
    Kemudian  Allah Swt.  membangkitkan nabi-nabi Allah dan mewahyukan kehendak-Nya guna menghakimi perselisihan  di antara mereka. Tetapi setiap wahyu-baru dijadikan sebab kekacauan dan pertikaian, terutama oleh kaum yang kepadanya Amanat Ilahi dialamatkan.

The Big Bang” (Ledakan Besar) Ruhani Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw.

       Allah Swt.   akhirnya membangkitkan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Kitab-Nya yang terakhir dan  tersempurna beserta ajaran yang universal, berseru kepada seluruh umat manusia untuk berkumpul di sekitar panjinya. Dengan demikian lingkaran telah bertemu,  dan dunia yang mulai dengan kesatuan ditakdirkan untuk berakhir dalam kesatuan.
       Jika  firman Allah Swt. dalam QS.2:214 tersebut dihubungkan dengan proses awal penciptaan alam semesta yang dimulai dari keadaan ratqan (menggumpal) maka dalam dunia agama (ruhani), yakni:
       (1) keadaan  ratqan (menggumpal)  sebelum mengenal  agama  atau nabi Allah, yaitu   murni sebagai orang-orang kafir, sebagaimana  firman-Nya:
کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً  وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ  ۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ  الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ  
Manusia dahulunya merupakan satu umat,  lalu Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan  haq supaya Dia menghakimi di antara manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan    (Al-Baqarah [2]:214).
      (2) keadaan ratqan (menggumpal) setelah  mengenal agama atau nabi Allah, yakni orang-orang kafir di kalangan umat beragama, sebagaimana lanjutan ayat tersebut:
وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ۚ
dan sekali-kali tidak ada yang memperselisihkannya  kecuali orang-orang yang diberi Alkitab itu sesudah Tanda-tanda yang nyata datang kepada mereka, karena  kedengkian di antara mereka.    (Al-Baqarah [2]:214).
         Mengisyaratkan kepada pengulangan terjadinya keadaan ratqan (menggumpal) di kalangan  umat beragama inilah  firman Allah Swt. berikut ini:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan per-buatan tangan manusia, supaya dirasakan kepada mereka akibat seba-gian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah (Ar-Rūm [30]:42-44).

Makna “Daratan” dan “Lautan

         Masalah pokok dalam ayat-ayat Surah Ar-Rūm 31-41 sebelumnya berkisar dalam menimbulkan dan meresapkan pada manusia, keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, Yang menciptakan, mengatur, dan membimbing segala kehidupan.
          Dalam ayat 42   kita diberi tahu, bahwa bila kegelapan menyelimuti muka bumi dan manusia melupakan Allah dan menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka merupakan Sunnah-Nya Allah Swt.  membangkitkan seorang nabi Allah untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat keharibaan Majikan-nya yang hakiki.
Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa a.m.s.  di dalam aliran darah manusia telah padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang kekacauan. Agaknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang........ Peradaban laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan, sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya” (“Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam”).
        Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu  Nabi Besar Muhammad saw., Guru umat manusia terbesar, muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab  syariat yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau kebanyakan keburukan  -- teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan  --  menampakkan diri telah menjadi mapan.
       Kata-kata “daratan dan lautan” dalam ayat:  ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ   -- “Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan per-buatan tangan manusia” dapat diartikan:    
      (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi;
       (b) orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau.
       Jadi, ayat ini berarti, bahwa  di masa menjelang diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Rasul Allah untuk semua umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), semua bangsa di dunia telah menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki.

Pengulangan The Big Bang” (Ledakan Besar) Ruhani di Akhir  Zaman

       Keadaan ratqan (menggumpal) dalam alam keruhanian  setelah terciptanya “langit baru dan bumi baru” melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut kembali terjadi di Akhir Zaman ini, yang diawali setelah  3 abad masa kejayaan umat Islam yang pertama, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung  (As-Sajdah [31]:6).
         Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
     Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).
      Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
      Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa iman akan terbang ke bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir Surah Al-Jumu’ah). Dengan kedatangan   Masih Mau’ud a.s.  dalam abad ke-14 sesudah Hijrah (QS.62:3-5), laju kemerosotan Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku (QS.61:10.

Pencabutan Bertahap  “Ruh” Al-Quran (agama Islam)

      Jadi, itulah isyarat-isyarat dalam Al-Quran berkenaan  terulangnya keadaan ratqan (menggumpal)  yang terjadi di kalangan umat Islam setelah mengalami masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad, demikian pula dalam firman-Nya berikut ini mengenai  masalah “ruh”:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾  وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا ﴿﴾  قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا ﴿﴾
      Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh,  katakanlah: “Ruh telah diciptakan  perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali  tidak  diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit.”  وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا --  Dan jika Kami benar-benar  menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali  apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau   kemudian engkau tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu.  اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ --  Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau,  اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا -- sesungguhnya karunia-Nya  kepada engkau sangat besar. قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ   --  Katakanlah: “Jika  ins (manusia) dan jin benar-benar berhimpun  untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini, لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا  -- mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini,  walaupun  sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:86-89).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 29 Agustus 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar