بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 14
Sepuluh Tujuan
Surah Al-Fatihah & Hikmah Mengapa Agama (Syariat) Disebut ShibghatalLāh
(Celupan Allah/Pewarna Allah)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai penjelasan Al-Masih Mau’ud a.s. tentang
hikmah urutan keempat Sifat utama Tasybihiyyah
Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah, yaitu:
(1) Sifat Rabb-ul-’ālamīn (Tuhan
seluruh alam) mengandung arti, bahwa
seiring dengan dijadikannya manusia Dia
pun menjadikan lingkungan yang diperlukan
untuk kemajuan dan perkembangan ruhaninya.
(2) Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) mulai berlaku sesudah itu, dan
dengan perantaraan itu Allah Swt. seolah-olah menyerahkan kepada manusia sarana-sarana
dan bahan-bahan yang diperlukan untuk
kemajuan akhlak dan ruhaninya.
(3) Jika manusia memakai sarana-sarana yang dianugerahkan
kepadanya itu secara tepat maka sifat
Ar-Rahīm (Maha Penyayang) mulai berlaku untuk mengganjar amalnya.
(4) Yang terakhir sekali sifat Māliki yaum-id-dīn (Pemilik Hari
Pembalasan) mempertunjukkan hasil
terakhir dan kolektif semua amal
perbuatan manusia, dengan demikian pelaksanaan pembalasan mencapai kesempurnaan.
Sehubungan
dengan urutan keempat Sifat utama Tasybihiyyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah tersebut Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, yakni Al-Masih
Mau’ud a.s. antara lain bersabda:
“Allah Swt. memiliki 4
Sifat utama yang dapat dianggap sebagai induk
semua Sifat-sifat
lainnya. Setiap jenisnya merupakan kewajiban untuk dipahami bagi peragaan sifat kemanusiaan kita.
Keempat Sifat itu adalah Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat dari hari
penghisaban.
Sifat Rabubiyat untuk
manifestasinya memerlukan ketiadaan atau keadaan yang mendekati ketiadaan
sama sekali. Semua bentuk ciptaan -- baik yang bernyawa mau pun benda mati -- mewujud melalui Sifat tersebut.
Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) untuk
manifestasinya (menampakannya) menuntut ketiadaan
eksistensi (keberadaan) dan
pelaksanaan fungsinya hanya berkait dengan mahluk hidup dan tidak dengan
benda mati.
Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) bagi
manifestasinya (menampakkannya) mempersyaratkan ketiadaan dan tidak
eksisnya Sifat ini dari bagian
penciptaan (makhluk) yang memiliki daya nalar, karena itu Sifat ini hanya berkaitan dengan manusia saja.
Adapun
sifat Mālikiyat dari hari
penghisaban mensyaratkan permohonan dan kesujudan dengan merendahkan
diri agar Sifat ini
bermanifestasi. Karena itu Sifat ini
berkaitan dengan kelompok manusia yang menjatuhkan
diri bagaikan pengemis di hadirat Yang Maha Esa, dengan mengembangkan jubah ketulusan mereka
agar dapat menampung rahmat Ilahi, karena mereka menyadari kekosongan
tangan mereka dan hanya mengharapkan Mālikiyat Ilahi.
Keempat Sifat
ini beroperasi sepanjang masa. Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) membawa manusia kepada persujudan (ibadah). Adapun sifat Mālikiyat (Kepemilikan Mutlak) menyebabkan
manusia merasa diselimuti api ketakutan dan kejerihan luar biasa
yang melahirkan rasa rendah hati yang haqiqi, karena Sifat ini menegaskan bahwa Allah Swt. adalah Tuhan dari pengganjaran dimana tidak ada seorang pun
mempunyai hak untuk menuntut
(protes) apa pun. Pengampunan
dan keselamatan bisa diperoleh hanya
karena karunia rahmat.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 14, hlm. 242-243, London, 1984).
Al-Fatihah Sebagai Rangkuman 10 Tujuan Al-Quran
Dalam buku beliau yang lain Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah menjelaskan mengenai 10 tujuan yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah:
“Surah Al-Fatihah
secara ringkas merangkum keseluruhan isi
dan tujuan Kitab Suci Al-Quran. Hal ini diindikasikan
dalam ayat:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنٰکَ سَبۡعًا مِّنَ الۡمَثَانِیۡ وَ الۡقُرۡاٰنَ الۡعَظِیۡمَ ﴿﴾
“Sungguh Kami
benar-benar telah memberikan kepada engkau tujuh ayat yang selalu diulang-ulang
dan Al-Quran yang agung’ (Al-Hijr [15]:88).
Berarti ketujuh ayat dari Surah Al-Fatihah secara ringkas telah mencakup seluruh maksud Al-Quran, sedangkan rincian detil tujuan-tujuan agama dijelaskan dalam Surah-surah lainnya. Karena itulah surah ini dianggap sebagai Ibu Kitab (Ummul Kitab) dan Surah yang komprehensif (Al-Kanz).
Disebut sebagai Ummul Kitab karena semua tujuan
yang dipaparkan dalam Al-Quran bisa diintisarikan
darinya dan disebut sebagai Surah yang komprehensif (Al-Kanz) karena secara ringkas mencakup semua bentuk ajaran yang terdapat di dalam Al-Quran. Berdasarkan
alasan inilah maka Hadhrat Rasulullah saw. menyatakan bahwa mereka yang
melafazkan Surah Al-Fatihah sama
dengan membaca Al-Quran karena Surah
tersebut merupakan cermin yang
memantulkan isi Al-Quran.
Sebagai contoh, salah satu tujuan Al-Quran adalah mengemukakan
semua puji-pujian sempurna tentang Allah Yang Maha Agung dan menyatakan secara jelas kesempurnaan yang
dimiliki-Nya. Hal ini secara singkat dikemukakan Surah Al-Fatihah di ayat: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ -- “Segala puji bagi Allah” yang berarti bahwa semua bentuk puji-pujian yang sempurna adalah bagi Allah, yang merangkum dalam Wujud-Nya semua bentuk keluhuran dimana sepatutnyalah Dia
memperoleh segala jenis persembahan.
Tujuan kedua Al-Quran adalah menonjolkan Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta dan Maha
Perancang alam semesta yang menzahirkan awal dari alam semesta dimana
terangkum di dalamnya pengertian bahwa semua yang ada di dalamnya merupakan hasil ciptaan-Nya. Hal ini secara
ringkas dinyatakan dalam bagian dari ayat:
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- “Rabb (Tuhan) seluruh alam.”
Tujuan ketiga Al-Quran adalah menegaskan tentang rahmat Tuhan yang tidak perlu diminta terlebih dahulu yang disebut juga sebagai rahmat yang bersifat umum. Hal ini termaktub dalam kata: الرَّحۡمٰنِ
-- “Ar-Rahmān.”
Tujuan keempat Al-Quran ialah
mencanangkan berkat dari Allah Swt. yang
diperoleh karena upaya permohonan dan
kekhusyukan seseorang. Hal itu
terangkum dalam kata: الرَّحِیۡمِ
-- “Ar-Rahīm.”
Tujuan kelima Al-Quran adalah
mengingatkan manusia akan adanya kehidupan
setelah di dunia ini yaitu kehidupan
di akhirat yang dirangkum dalam ayat: مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ -- “Pemilik Hari Pembalasan.”
Tujuan Al-Quran keenam adalah untuk mengemukakan ketulusan
batin, peribadatan dan pensucian kalbu dari segala hal lainnya kecuali Allah
semata, dan sebagai obat penawar bagi penyakit keruhanian, reformasi
nilai-nilai akhlak dan penegakkan Ketauhidan
Ilahi dalam peribadatan. Semua ini termaktub dalam ayat: اِیَّاکَ نَعۡبُدُ -- “Hanya Engkau-lah yang kami
sembah.”
Tujuan yang ketujuh Al-Quran adalah
menegaskan Allah Swt. sebagai satu-satunya Sumber dari semua tindakan, semua kekuatan dan pengasihan, semua pertolongan
dan keteguhan, kepatuhan dan kebebasan dari dosa, pencapaian segala sarana
untuk berbuat baik, perbaikan kehidupan di dunia dan di akhirat serta kebutuhan
akan pertolongan-Nya dalam segala
hal. Tujuan ini diringkas dalam pernyataan: اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ وَ -- “dan hanya kepada Engkau
kami memohon pertolongan.”
Tujuan kedelapan Al-Quran adalah mengemukakan mutiara hikmah
dari jalan yang lurus dan perlunya jalan itu dicari melalui doa dan shalat. Hal tersebut diungkapkan dalam: اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ -- “Tuntunlah
kami kepada jalan yang lurus.”
Tujuan kesembilan Al-Quran adalah mengemukakan tentang jalan dan cara dari mereka yang telah menjadi penerima berkat dan karunia
Ilahi, agar kalbu para pencari kebenaran memperoleh ketenteraman karenanya. Tujuan itu
dirangkum dalam ayat: صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِم
-- “Jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.”
Tujuan kesepuluh Al-Quran ialah
menegaskan adanya orang-orang yang karena akhlak
dan akidahnya [yang buruk] telah
menjadikan Tuhan tidak berkenan
kepada mereka, yaitu orang-orang yang tersesat
mencari-cari akidah palsu atau bid’ah, dengan maksud agar para pencari kebenaran berhati-hati terhadap
mereka. Hal ini termaktub dalam ayat: لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ -- “Bukan
jalan mereka yang kemudian dimurkai dan bukan pula yang kemudian sesat.”
Inilah sepuluh tujuan yang menjadi inti
ajaran Kitab Suci Al-Quran yang menjadi
akar dari segala kebenaran. Semua itu dirangkum secara ringkas di dalam Surah Al-Fatihah.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 580-585,
London, 1984).
Arti Ibadah dan Shibghah
Setelah
mengemukakan 4 Sifat utama Tasybihiyyah-Nya,
selanjutnya Allah Swt. berfirman: اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah
dan hanya kepada
Engkau-lah kami mohon pertolongan. (Al-Fatihah
[1]:5).
‘Ibadah
berarti: merendahkan diri, penyerahan diri, ketaatan, dan berbakti sepenuhnya.
‘Ibadah mengandung pula arti iman
kepada Tauhid Ilahi, dan pernyataan iman itu dengan perbuatan. Kata itu berarti pula penerimaan kesan atau cap dari
sesuatu. Dalam arti ini maka ‘ibadah akan berarti: menerima kesan atau cap dari Sifat-sifat Ilahi
dan meresapkan serta mencerminkan Sifat-sifat
itu dalam dirinya sendiri.
Nabi
Besar Muhammad saw. telah bersabda mengenai tujuan melakukan ibadah kepada Allah Swt., yakni: Takhallaqu bi-akhlaqillāh - “kalian hendaknya berakhlak dengan akhlak Allah”,
yakni melalui pelaksanaan syariat. Itulah sebabnya Allah Swt. telah menyebut agama (syariat) dengan sebutan sibghah,
firman-Nya:
صِبۡغَۃَ اللّٰہِ ۚ وَ مَنۡ
اَحۡسَنُ مِنَ اللّٰہِ صِبۡغَۃً ۫ وَّ نَحۡنُ لَہٗ عٰبِدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Kami menganut agama Allah, dan siapakah yang lebih baik daripada Allāh dalam mengajarkan
agama, dan kepada-Nya kami beribadah.”
(Al-Baqarah [2]:139).
Shibghah berarti: celup
atau warna; macam atau ragam atau sifat sesuatu; agama; peraturan hukum;
pembaptisan. Shibghatallāh berarti: agama Allah; sifat yang
dianugerahkan Allah Swt. kepada
manusia (Al-Aqrab-ul- Mawarid).
Agama itu disebut demikian karena
agama mewarnai manusia seperti celup atau warna mewarnai sesuatu.
Shibghah dipakai di sini sebagai
pelengkap kata kerja yang mahzuf (tidak disebut karena telah diketahui).
Menurut tata bahasa Arab, kadang-kadang bila ada satu kehendak keras untuk
membujuk seseorang melakukan sesuatu pekerjaan tertentu, maka kata kerjanya
ditinggalkan dan hanya tujuannya saja yang disebut. Maka kata-kata seperti na’khudzu
(kami telah mengambil) atau nattabi’u (kami telah mengikuti) dapat
dianggap sudah diketahui dan anak kalimat itu akan berarti “Kami telah menerima atau kami telah menganut
agama sebagaimana Tuhan menghendaki supaya kami menerima atau mengikutinya.”
Berbagai Khasiat Shalat
Salah satu shibghah (warna) atau “pengaruh” atau “khasiat”
yang telah ditetapkan Allah Swt. pada shalat
adalah dapat membuat di pelaku shalat yang benar akan terhindar dari berbagai bentuk keburukan akhlak dan ruhani, berikut firman-Nya kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
اُتۡلُ مَاۤ
اُوۡحِیَ اِلَیۡکَ مِنَ
الۡکِتٰبِ وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ ؕ اِنَّ الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ
اَکۡبَرُ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ ﴿﴾
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Quran itu,
dan dirikanlah shalat الۡمُنۡکَرِ اِنَّ الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ
الۡفَحۡشَآءِ وَ -- sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran. Dan mengingat
Allah benar-benar pekerjaan yang lebih besar, dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al-Ankabūt [29]:46).
Tiga
hal telah disebut dalam ayat ini, yaitu, menablighkan
dan membacakan Al-Quran, mendirikan shalat, dan dzikir Ilahi. Tujuan ketiga hal itu ialah menyelamatkan manusia dari cengkeraman
dosa dan membantu manusia untuk bangkit
dan membuat kemajuan dalam akhlak dan keruhanian.
Keimanan yang hidup kepada Dzat Yang Mahaluhur – Yakni Allah Swt. – adalah asas
pokok bagi semua agama yang diwahyukan, sebab keimanan inilah yang dapat memegang peranan sebagai suatu hambatan
yang kuat lagi ampuh terhadap kecenderungan-kecenderungan dan perbuatan-perbuatan buruk manusia.
Itulah sebabnya mengapa Al-Quran
berulang kali kembali kepada masalah adanya
Tuhan, dan membicarakan kekuasaan,
keagungan, dan kecintaan-Nya yang besar kepada umat manusia, lalu memberi tekanan keras pada kepentingan dzikir Ilahi dalam bentuk shalat secara Islam, yang jika dikerjakan
dengan memenuhi segala syarat yang diperlukan, maka kebersihan pikiran dan perbuatan,
merupakan hasilnya yang pasti.
Dalam Surah berikut ini Allah
Swt. telah menyebut shalat dengan hasanat (kebaikan), firman-Nya:
وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ طَرَفَیِ النَّہَارِ وَ
زُلَفًا مِّنَ الَّیۡلِ ؕ اِنَّ
الۡحَسَنٰتِ یُذۡہِبۡنَ السَّیِّاٰتِ ؕ ذٰلِکَ ذِکۡرٰی
لِلذّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Dan
dirikanlah shalat pada kedua ujung
siang dan pada beberapa bagian malam.
Sesungguhnya kebaikan-kebaikan
menghapuskan keburukan-keburukan. Itu adalah suatu peringatan bagi orang-orang yang mengingat. (Hud [11]:115).
Sehubungan dengan penyebutan agama dengan shibgah (celupan/warna) itulah maka dalam firman-Nya berikut ini
Allah Swt. telah menyebut sebagai perbuatan
riya (pamer) kepada orang-orang beragama dan
melaksanakan ritual ibadah, tetapi tidak memberikan pewarnaan dengan akhlak
yang baik kepada para pelakunya,
antara lain berupa kepedulian terhadap sesama
yang nasibnya kurang beruntung,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ اَرَءَیۡتَ الَّذِیۡ یُکَذِّبُ
بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ الۡیَتِیۡمَ ۙ﴿﴾ وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ﴿﴾ فَوَیۡلٌ
لِّلۡمُصَلِّیۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ ہُمۡ
یُرَآءُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ یَمۡنَعُوۡنَ
الۡمَاعُوۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
اَرَءَیۡتَ الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ -- Apakah
engkau melihat orang yang mendustakan agama? Mereka itulah orang yang meng-usir anak yatim, dan tidak
menganjurkan memberi makan orang miskin. فَوَیۡلٌ
لِّلۡمُصَلِّیۡنَ -- Maka celakalah
bagi orang-orang yang shalat, الَّذِیۡنَ ہُمۡ
عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ -- orang-orang
yang lalai dari shalatnya, الَّذِیۡنَ
ہُمۡ یُرَآءُوۡنَ
-- yaitu orang-orang yang berbuat pamer. وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ -- Dan
mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil kepada orang-orang miskin. (Al-Mā’ūn [107]:1-8).
Perbuatan Munafik
Sungguh amat buruk dia yang tidak percaya kepada pembalasan Ilahi, atau, yang tidak
percaya kepada dīn (agama) – sumber
dan dasar semua akhlak. Ayat 3 dan ayat berikutnya membicarakan dua macam penyakit masyarakat yang sangat berbahaya, dan bila tidak mengadakan
penjagaan seksama terhadap kedua penyakit
itu dapat dipastikan akan mendatangkan kemunduran
dan perpecahan total di dalam
masyarakat.
Kegagalan memelihara anak-anak yatim dengan cara sebaik-baiknya membunuh jiwa pengorbanan di dalam suatu bangsa;
dan mengabaikan orang-orang miskin dan
fakir akan menjauhkan satu bagian
masyarakat yang berguna dari segala prakarsa
dan kemauan memperbaiki nasib mereka.
Shalat merupakan tugas dan kewajiban yang
harus kita laksanakan karena Allah Swt., tetapi shalat orang-orang
munafik yang tidak menunaikan kewajiban
terhadap sesama makhluk Allah itu,
tidak lebih daripada sebuah jasad
tanpa ruh, atau kulit tanpa isi. Orang-orang
munafik seperti itu hanya memperagakan perbuatan-perbuatan baik
dan sedekah sekedarnya tetapi tidak
mengandung jiwa.
Almā’ūn
dalam ayat وَ یَمۡنَعُوۡنَ
الۡمَاعُوۡنَ -- “Dan
mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil kepada orang-orang miskin,” berarti:
barang-barang kecil; perabot rumah tangga biasa; seperti, kapak, panci masak,
dan sebagainya; suatu tindak kebaikan; sesuatu yang berguna; zakat (Al-Aqrab-ul-Mawarid).
Demikianlah beberapa makna dan tujuan baik yang harus
dicapai dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Swtَ yakni اِیَّاکَ نَعۡبُدُ -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah”
-- sehingga Allah Swt. telah menamakan agama
(syariat) dengan sebutan shibgah (celupan/pewarna), firman-Nya:
اُتۡلُ مَاۤ
اُوۡحِیَ اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ
وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ ؕ اِنَّ الصَّلٰوۃَ
تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ
اَکۡبَرُ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ ﴿﴾
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Quran itu,
dan dirikanlah shalat الۡمُنۡکَرِ اِنَّ الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ
الۡفَحۡشَآءِ وَ -- sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran. Dan mengingat
Allah benar-benar pekerjaan yang lebih besar, dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al-Ankabūt [29]:46).
Hikmah Keinginan Beribadah Mendahului Keinginan Minta Pertolongan
Kata-kata
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah” telah
ditempatkan sebelum kata-kata اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ -- “hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”, untuk
menunjukkan bahwa sesudah orang mengetahui kebesaran
Sifat-sifat Allah Swt. maka dorongan pertama yang timbul dalam hatinya ialah beribadah
kepada-Nya.
Pikiran untuk mohon pertolongan Allah Swt. datang
sesudah adanya dorongan untuk beribadah. Orang ingin beribadah kepada Allah Swt. tetapi ia menyadari bahwa untuk berbuat demikian ia memerlukan pertolongan-Nya, sebab memang Allah Swt. telah menanamkan keimanan kepada Tauhid
Ilahi dalam jiwa (fitrat) umat manusia, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ
ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ
قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ
بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil kesaksian dari
bani Adam yakni dari sulbi keturunan mereka
serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman:
اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan kamu?)” Mereka berkata: “Ya benar, kami
menjadi saksi.” اَنۡ
تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ -- Hal itu supaya kamu
tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami
benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً
مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ -- Atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya
bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami
hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan
membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang
yang berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah
Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali
kepada yang haq (Al-A’rāf [7]:1173-175).
“Kesaksian Ruh” Mengenai
Tauhid Ilahi & Hikmah Penggunaan Kata “Kami” dan “Engkau”
Ayat 173
menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat
manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam serta mengendalikannya (QS.30:31). Atau
ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan
menuju Allah Swt.; dan ungkapan “dari sulbi bani Adam” maksudnya umat
dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus
(QS.7:35-36). Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul baru itulah yang
mendorong timbulnya pertanyaan Ilahi: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ -- “Bukankah Aku Tuhan kamu?”
Pemakaian
bentuk jamak (kami) dalam ayat اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah
dan hanya kepada
Engkau-lah kami mohon pertolongan” (Al-Fatihah
[1]:5), mengarahkan
perhatian kita kepada dua pokok yang
sangat penting:
(a) bahwa manusia tidak hidup seorang diri di
bumi ini, melainkan ia merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari masyarakat
di sekitarnya, karena itu ia hendaknya berusaha jangan berjalan sendiri, tetapi
harus menarik orang-orang lain juga bersama dia melangkah di jalan Allah
Swt.;
(b)
bahwa selama manusia tidak mengubah
lingkungannya kepada kebaikan ia belum aman.
Layak
dicatat pula bahwa Allah Swt. dalam
keempat ayat pertama disebut dalam
bentuk “orang ketiga”, yakni Rabbil-‘alamin,
Ar-Rahman, Ar-Rahim dan Māliki yaumid-dīn -- tetapi dalam ayat اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. (Al-Fatihah [1]:5) tiba-tiba Dia dipanggil dalam bentuk “orang
kedua” (Engkau).
Renungan
atas keempat Sifat Ilahi itu membangkitkan dalam diri manusia keinginan yang tak tertahankan untuk
dapat melihat Khāliq-nya (Pencipta-nya), begitu mendalam serta kuat hasratnya untuk mempersembahkan pengabdian sepenuh hatinya kepada-Nya,
sehingga untuk memenuhi hasrat jiwanya
itu bentuk “orang ketiga” yang dipakai pada keempat ayat permulaan telah diubah
menjadi bentuk “orang kedua” (Engkau) dalam ayat اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. (Al-Fatihah [1]:5).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 22 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar