بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 18
Tertib yang
Indah Empat Sifat Tasybihiyyah Allah Swt. Dalam Surah Al-Fatihah & Sabda Masih
Mau’ud a.s. Mengenai Khazanah Ruhani
Surah Al-Fatihah
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai sifat khusus lainnya dalam doa yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah, yaitu doa tersebut mengimbau naluri-naluri manusia yang dalam dengan cara yang wajar sekali.
Dalam fitrat manusia ada dua pendorong yang merangsangnya untuk berserah diri yaitu cinta
dan takut. Sebagian orang tergerak oleh cinta, sedangkan yang
lain terdorong oleh takut. Dorongan cinta memang lebih mulia,
tetapi mungkin ada — dan sungguh-sungguh ada — orang-orang yang hatinya tidak tergerak oleh cinta,
mereka hanya menyerah karena pengaruh takut.
Dalam Surah Al-Fātihah
kedua pendorong manusia itu telah
diimbau. Mula-mula tampil sifat-sifat
Ilahi yang membangkitkan cinta,
yaitu: رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Pencipta dan Pemelihara seluruh alam; الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ -- Maha
Pemurah dan Maha Penyayang, kemudian
segera mengikutinya sifat مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ -- Pemilik
Hari Pembalasan, yang memperingatkan
manusia bahwa bila ia tidak memperbaiki tingkah-lakunya dan tidak menyambut cinta dengan baik maka ia harus bersedia mempertanggungjawabkan amal perbuatannya
di hadapan Allah Swt.. Dengan demikian pendorong kepada takut
dipergunakan berdampingan dengan pendorong
kepada cinta.
Tetapi karena kasih-sayang Allah Swt. (rahmat-Nya) jauh mengatasi Sifat murka-Nya, maka Sifat
ini pun — yang merupakan satu-satunya Sifat
pokok yang bertujuan membangkitkan takut — tidak dibiarkan tanpa
menyebut kasih-sayang. Pada hakikatnya di sini pun kasih-sayang Allah Swt. mengatasi murka-Nya, sebab telah terkandung juga dalam Sifat Mālikiyyat ini
bahwa kita tidak akan menghadap seorang hakim melainkan menghadap Tuhan
Yang berkuasa mengampuni dan Yang hanya akan menyiksa bila siksaan itu sangat perlu sekali.
Empat Isi Pokok Surah Al-Fatihah
Pendek kata, Surah Al-Fatihah merupakan khazanah ilmu ruhani yang menakjubkan.
Surah Al-Fatihah adalah Surah pendek dengan tujuh ayat ringkas tetapi
benar-benar merupakan tambang ilmu
dan hikmah. Tepat sekali disebut “Ibu Kitab” sebab Surah Al-Fatihah
merupakan intisari dan saripati
Al-Quran. Mulai dengan nama Allah (بِسۡمِ اللّٰہِ) — Sumber pokok pancaran segala karunia, rahmat dan berkat
— Surah ini melanjutkan
penuturan keempat sifat pokok Allah
Swt. yakni:
(1)
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Rabb seluruh alam, yakni Yang menjadikan
dan memelihara seluruh alam;
(2) الرَّحۡمٰنِ ِ -- Maha
Pemurah, yaitu Yang mengadakan jaminan
untuk segala keperluan manusia,
bahkan sebelum ia dilahirkan
serta tanpa suatu usaha apa pun dari pihak manusia untuk memperolehnya;
(3)
الرَّحِیۡم -- Maha
Penyayang, yaitu Yang menetapkan hasil
sebaik mungkin amal perbuatan manusia
dan Yang mengganjarnya dengan amat
berlimpah-limpah;
(4) مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ -- Pemilik
Hari Pembalasan, Yang di hadapan-Nya manusia harus mempertanggungjawabkan amal perbuatannya, dan Yang akan
menurunkan siksaan kepada si jahat, tetapi tidak akan berlaku
terhadap makhluk-Nya semata-mata sebagai hakim, melainkan sebagai Majikannya
Yang melunakkan hukuman dengan kasih-sayang,
dan Yang sangat cenderung mengampuni,
kapan saja pengampunan akan membawa
hasil yang baik.
Itulah citra Tuhan Islam — sebagaimana dikemukakan pada
bagian awal sekali Al-Quran dalam Surah Al-Fatihah — mengenai Dzat
Yang kekuasaan serta kedaulatan-Nya
tak ada hingganya, serta kasih-sayang
dan kemurahan-Nya tiada batasnya.
Kemudian
datanglah pernyataan manusia bahwa
mengingat Tuhan-nya adalah Pemilik
semua Sifat agung dan luhur
maka ia bersedia bahkan
berhasrat menyembah Dia dan menjatuhkan
diri di hadhirat-Nya dalam pengabdian yang sempurna: اِیَّاکَ نَعۡبُدُ -- kepada Engkau kami menyembah.
Tetapi Allah Swt. mengetahui bahwa
manusia itu lemah serta mudah keliru dan tergelincir, maka Dia mendorong hamba-hamba-Nya
agar mohon pertolongan-Nya pada setiap derap langkah majunya dan setiap keperluan yang dihadapinya: اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ -- kepada Engkau kami mohon pertolongan.
Akhirnya
datanglah doa yang padat dan berjangkauan jauh, suatu doa
yang di dalamnya manusia bermohon kepada Khāliq-nya, untuk membimbingnya ke jalan yang lurus dalam segala urusan
ruhani dan duniawi, baik mengenai
keperluan-keperluannya sekarang atau pun di hari depan: اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ -- Tunjukilah kami
jalan yang lurus.
Ia mendoa kepada Allah Swt. supaya ia bukan saja dapat menghadapi
segala cobaan dan ujian dengan tabah (istiqamah), tetapi juga selaku “orang-orang terpilih” menghadapinya dengan cara yang sebaik-baiknya
dan menjadi penerima karunia dan berkat Allah Swt. yang paling banyak dan paling
besar, agar ia selama-lamanya terus melangkah maju pada jalan yang lurus, maju terus makin dekat dan lebih dekat
lagi kepada Tuhan dan Junjungan-nya, tanpa terantuk-antuk di
perjalanannya seperti telah terjadi pada banyak dari antara mereka yang hidup
di masa yang lampau: لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ -- Bukan jalan
mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat.
Itulah
pokok Surah pembukaan Al-Quran – yakni Surah Al-Fatihah -- yang
senantiasa diulangi dengan suatu bentuk atau cara lain dalam seluruh tubuh
Kitab Suci itu (Al-Quran).
Sabda Al-Masih Mau’ud a.s.
Mengenai Keempat Sifat Tasybihiyyah
Allah Swt. Dalam Surah Al-Fatihah
“Dalam Surah Al-Fatihah, Allah Yang Maha Perkasa
mengemukakan 4 dari Sifat-sifat-Nya yaitu Rabbul ‘ālamīn, Rahmān, Rahīm dan Māliki Yaumiddīn.
Urutan penyampaian Sifat-sifat itu merupakan urutan
alamiah perwujudannya. Rahmat Ilahi dimanifestasikan di dunia dalam
4 bentuk:
Sifat yang pertama
adalah Rabbul ‘ālamīn (Tuhan seluruh alam) meruapakan rahmat yang berlaku sangat
umum. Ini adalah sifat yang merupakan rahmat mutlak yang melingkupi
semua hal di langit dan di bumi tanpa membedakan mahluk hidup
dengan benda mati.
Perwujudan segala hal
dari keadaan ketiadaan yang kemudian berkembang
menuju kesempurnaannya adalah berkat
dari rahmat ini. Tidak ada yang berada di luar ruang lingkup rahmat
ini. Semua jasmani dan ruhani dimanifestasikan
(diwujudkan) oleh dan melalui rahmat ini dan semuanya berkembang
atau dikembangkan melalui rahmat tersebut.
Rahmat ini (Rabbul ‘ālamīn -- Tuhan
seluruh alam) adalah
inti kehidupan dari alam semesta. Jika rahmat ini dihentikan
sesaat saja maka alam semesta ini akan berakhir, dan jika bukan karena rahmat
ini maka tidak akan ada penciptaan. Dalam Al-Quran, sifat ini disebut sebagai Rabubiyat dan karena itu
Allah disebut Rabbul ‘ālamīn sebagaimana dikatakan:
ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ
Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu (Al-An’ām [6]:165).
Tidak ada suatu pun di alam ini yang berada di luar rangkuman sifat Rabubiyat-Nya.
Jadi sifat Rabbul ālamīn
disebutkan dalam Surah Al-Fatihah
sebagai yang pertama dari semua Sifat rahmat Allah Swt.. Sifat ini memiliki prioritas
alamiah, baik karena mewujud mendahului Sifat-sifat
yang lain dan karena bersifat yang paling
umum dalam ruang lingkupnya mengingat mencakup baik makhluk hidup
maupun benda mati.
Al-Rahmān (Maha
Pemurah)
Sifat yang kedua juga bersifat umum. Adapun
perbedaannya dengan Sifat yang
disebut sebelumnya (Rabbul ‘ālamīn -- Tuhan
seluruh alam) adalah
Sifat yang pertama mencakup keseluruhan alam semesta sedangkan Sifat yang kedua (Ar-Rahmān
- Maha Pemurah) merupakan karunia Ilahi
yang diberikan kepada mahluk hidup saja. Perhatian Ilahi terhadap
keseluruhan makhluk hidup dianggap juga sebagai rahmat yang
bersifat umum.
Sifat ini berfungsi bagi
semua makhluk hidup sejalan dengan kebutuhan mereka. Rahmat ini
mewujud bukan karena akibat atau sebagai ganjaran dari amalan
(perbuatan) mereka. Berkat rahmat ini maka semua makhluk bisa hidup,
makan, minum, terpelihara dari mara-bahaya dan terpenuhi kebutuhannya. Melalui rahmat
ini semua sarana kehidupan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup
menjadi tersedia.
Adalah akibat yang dibawa Sifat ini maka semua yang diperlukan ruhani
bagi perkembangan jasmaninya bisa
dipenuhi. Begitu juga dengan mereka yang selain perkembangan jasmani,
juga menginginkan perkembangan ruhani (atau mereka memiliki kemampuan
untuk perkembangan jenis demikian), maka firman
Tuhan akan turun menembus keabadian pada saat diperlukan. Melalui
fungsi karunia Rahmāniyat maka manusia memenuhi berjuta keinginannya.
Tersedia baginya seluruh
bumi untuk tempat tinggal, matahari dan bulan untuk penerangan, udara untuk
bernafas, air untuk diminum, segala macam pangan untuk dimakan, berjuta-juta
obat untuk penyembuhan, berbagai bentuk pakaian untuk menutup tubuh dan Kitab
Allah sebagai petunjuk.
Tidak ada seorang pun manusia yang bisa
mengakukan bahwa semua rahmat itu adalah hasil karyanya, bahwa ia dalam eksistensi
(keberadaan) sebelumnya telah melakukan suatu hal yang baik,
sehingga Tuhan menganugrahkan karunia tidak berhingga ini atas umat
manusia.
Dengan demikian jelas bahwa rahmat
yang dimanifestasikan dalam beribu-ribu bentuk tersebut adalah manifestasi kasih
Allah Swt. agar setiap makhluk hidup
bisa mencapai tujuan hidup alamiahnya masing-masing serta memenuhi kebutuhannya tanpa memerlukan upaya khusus dari dirinya.
Berkat dari rahmat Ilahi
ini memberikan semua pemenuhan kebutuhan
umat manusia dan hewan serta memberikan perlindungan agar kapasitas mereka
tidak berhenti berkembang. Eksistensi Sifat Ilahi ini ditegaskan melalui
telaah hukum alam. Tidak ada orang berakal yang akan menyangkal
bahwa matahari, bulan, bumi dan semua elemen serta segala yang dibutuhkan yang
terdapat di alam dan menjadi sumber kehidupan mahluk, nyatanya memang
dimanifestasikan melalui rahmat ini.
Sebutan mengenai rahmat yang dimanfaatkan semua makhluk yang bernafas -- tanpa
pembedaan manusia atau hewan, mukminin atau kafir, baik atau jahat -- adalah Rahmāniyat dan karenanya Allah disebut sebagai Al-Rahmān (Maha
Pemurah) dalam Surat Al-Fatihah,
setelah Sifat Rabbul ‘ālamīn.
Sifat Ilahi ini disebut di
beberapa tempat dalam Al-Quran. Sebagai contoh:
وَ
اِذَا قِیۡلَ لَہُمُ اسۡجُدُوۡا لِلرَّحۡمٰنِ قَالُوۡا وَ مَا الرَّحۡمٰنُ ٭
اَنَسۡجُدُ لِمَا تَاۡمُرُنَا وَ زَادَہُمۡ نُفُوۡرًا ﴿٪ٛ﴾ وَ مَنۡ تَابَ وَ
عَمِلَ صَالِحًا فَاِنَّہٗ یَتُوۡبُ اِلَی اللّٰہِ مَتَابًا ﴿﴾ وَ عِبَادُ
الرَّحۡمٰنِ الَّذِیۡنَ یَمۡشُوۡنَ
عَلَی الۡاَرۡضِ ہَوۡنًا وَّ اِذَا خَاطَبَہُمُ الۡجٰہِلُوۡنَ قَالُوۡا سَلٰمًا ﴿﴾
Apabila dikatakan kepada
mereka: “Bersujudlah kepada Ar-Rahmān (Tuhan Yang Maha Pemurah).” قَالُوۡا وَ
مَا الرَّحۡمٰنُ -- mereka berkata: “Dan siapakah Tuhan Yang Maha Pemurah itu? Haruskah kami bersujud kepada apapun yang engkau suruh kami?” Dan hal ini
menambah keengganan mereka. Maha Beberkatlah Dia Yang telah
menjadikan gugusan bintang di langit
dan telah menempatkan di dalamnya matahari
yang menerbitkan cahaya dan bulan
yang memantulkan cahaya. Dan Dia-lah Yang telah menjadikan malam dan siang,
masing-masing susul menyusul, untuk kemanfaatan bagi orang yang ingin mengambil
pelajaran atau mau bersyukur. وَ عِبَادُ الرَّحۡمٰنِ الَّذِیۡنَ یَمۡشُوۡنَ عَلَی الۡاَرۡضِ ہَوۡنًا وَّ اِذَا
خَاطَبَہُمُ الۡجٰہِلُوۡنَ قَالُوۡا
سَلٰمًا -- Dan hamba-hamba sejati dari Tuhan Yang Maha Pemurah ialah mereka yang berjalan di muka bumi dengan merendahkan diri, dan apabila orang
jahil menegur mereka, mereka menghindari mereka itu dengan anggun seraya mengucapkan: “Selamat sejahtera!”’ (Al-Furqān [25]:61-64).
Maksudnya, ketika
orang-orang kafir, para penyembah berhala
(pagan) dan para atheis diingatkan
untuk bersujud di hadapan Al-Rahmān (Yang Maha Pemurah), mereka merasa tidak
menyukai nama Al-Rahmān dan mereka bertanya: ‘Apa itu Rahmān?’ Jawabannya adalah, Rahmān adalah Wujud Yang Berberkat, Yang menjadi Sumber
dari segala hal yang baik, Yang telah menciptakan gugusan-gugusan bintang di
langit dan menempatkan matahari dan bulan dalam istana tersebut guna memberikan
cahaya kepada semua makhluk tanpa membedakan mereka yang beriman atau yang kafir.
Adalah Al-Rahmān yang
sama yang telah menciptakan malam dan siang bagi manusia agar para pencari kebenaran bisa menarik manfaat
dari pengaturan yang bijaksana itu dan membebaskan dirinya dari kebodohan dan
ketidak-acuhan, dengan demikian mereka yang tahu berterima kasih akan bersyukur. Penyembah sejati dari Wujud Al-Rahmān adalah
mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dimana ketika
orang-orang bodoh mencacinya, mereka menjawab dengan kata-kata “salam“
dan kasih sayang.
Dengan kata lain, mereka
membalas kekerasan dengan kelembutan
dan sebagai imbalan dari caci maki,
mereka malah mendoakan para pencaci
itu. Melalui cara itu mereka memperlihatkan sifat kasih sayang sebagaimana
Yang Maha Pemurah telah memberi berkat dalam bentuk
matahari, bulan, bumi dan segala hal bagi semua makhluk-Nya tanpa membedakan
baik atau jahat. Dalam ayat-ayat itu ditekankan bahwa kata Al-Rahmān
digunakan hanya untuk Allah Swt.
karena Kasih-Nya meliputi semua yang baik mau pun yang jahat.
Di tempat lain dikatakan:
عَذَابِیۡۤ اُصِیۡبُ
بِہٖ مَنۡ اَشَآءُ ۚ وَ رَحۡمَتِیۡ وَسِعَتۡ کُلَّ
شَیۡءٍ
Siksaan-Ku Aku timpakan kepada
siapa yang Aku kehendaki, tetapi rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.’ (Al-A’rāf [7]:157).
Begitu juga di tempat lain
dinyatakan:
مَنۡ یَّکۡلَؤُکُمۡ
بِالَّیۡلِ وَ النَّہَارِ مِنَ الرَّحۡمٰنِ ؕ بَلۡ ہُمۡ عَنۡ ذِکۡرِ
رَبِّہِمۡ مُّعۡرِضُوۡنَ ﴿﴾
Siapakah yang dapat melindungi kamu pada waktu
malam dan siang hari terhadap (kemurkaan) Tuhan
Yang Maha Pemurah? (Al-Anbiya [21]:43).
Dengan kata lain dinyatakan
bahwa baik yang ingkar atau pun yang kafir sudah diberitahu bahwa jika bukan
karena Sifat Rahmāniyat, maka mereka tidak akan terhindar dari penghukuman samawi. Adalah melalui sifat
Rahmāniyat maka Allah Swt. memberikan sela (tenggang waktu) waktu kepada para kafir dan penyembah berhala serta
tidak langsung menghukum mereka.
Di tempat lain dikemukakan:
اَوَ لَمۡ یَرَوۡا
اِلَی الطَّیۡرِ فَوۡقَہُمۡ صٰٓفّٰتٍ وَّ یَقۡبِضۡنَ ؔۘؕ مَا یُمۡسِکُہُنَّ اِلَّا الرَّحۡمٰنُ ؕ اِنَّہٗ بِکُلِّ
شَیۡءٍۭ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Tidakkah mereka melihat
burung-burung di atas mereka mengembangkan sayap mereka di waktu terbang dan
kemudian mengatupkannya ketika menyambar mangsa? Tiada yang dapat menahan
mereka selain Tuhan Yang Maha Pemurah. (Al-Mulk [67]:20).
Berarti karunia Sifat Rahmāniyat meliputi semua makhluk hidup sehingga burung yang tidak berarti pun bisa
terbang gembira dalam arus rahmat ini. Karena rahmat ini secara
alamiah datang setelah Sifat Rabbubiyat,
maka dalam Surah Al-Fatihah urutannya
pun jadi demikian.
Ar-Rahīm (Maha Penyayang)
Rahmat
atau Sifat yang ketiga merupakan rahmat yang bersifat khusus.
Perbedaan rahmat ini dengan rahmat yang bersifat umum (Rahmāniyat) adalah pada yang bersifat umum tidak ada dipersyaratkan kepada
penerimanya untuk berperilaku baik atau mencerahkan egonya dari
kegelapan ruhani, atau pun sengaja berupaya guna memperolehnya. Berkat
Allah Swt. dari rahmat yang
bersifat umum adalah berupa karunia kepada semua makhluk hidup menurut
apa yang dibutuhkannya tanpa perlu ada upaya khusus dari pihak yang bersangkutan.
Adapun
untuk rahmat yang bersifat khusus, diperlukan adanya usaha dan upaya
untuk mensucikan hati, bersujud, memperhatikan perintah Allah Swt. dan semua tindakan lainnya yang
dipersyaratkan. Hanya yang melaksanakan hal-hal tersebut yang akan memperoleh rahmat
tersebut.
Eksistensi (penampakkan)
dari Sifat ini juga ditunjukkan
melalui telaah hukum alam. Jelas bahwa mereka yang berupaya di jalan Allah dan mereka yang tidak acuh,
tidak akan bisa sama statusnya. Tanpa
diragukan, berkat khusus hanya turun bagi mereka yang berjuang di
jalan Allah, serta menjauh dari segala kegelapan dan kekacauan.
Berkat rahmat ini
maka dalam Al-Quran nama Tuhan disebut sebagai Al-Rahīm (maha
Penyayang), Karena sifat Rahīmiyat bersifat khusus dan terwujud karena
pemenuhan beberapa persyaratan
tertentu, makanya disebut setelah Sifat Rahmāniyat karena sifat Rahmāniyat dimanifestasikan sebelum Sifat Rahīmiyat muncul. Itulah sebabnya Sifat Rahīmiyat dalam Surah Al-Fatihah
disebutkan setelah Sifat Rahmāniyat. Sifat Rahīmiyat disebut di beberapa tempat dalam Al-Quran. Sebagai contoh,
dinyatakan:
وَ کَانَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَحِیۡمًا ﴿﴾
Dia Maha Penyayang terhadap
orang-orang yang beriman (Al-Ahzāb [33]:44).
Berarti Sifat Rahīmiyat (Maha
Penyayang) Allah Swt.
terbatas hanya bagi mereka yang beriman saja, sedangkan orang kafir
dan penyangkal tidak mendapat bagian.
Perlu diingatkan lagi bahwa
pemberlakuan Sifat Rahīmiyat terbatas hanya bagi orang-orang beriman saja, sedangkan
Sifat Rahmāniyat tidak terbatas. Tidak ada disebutkan
bahwa Tuhan bersifat Rahmān (Maha Pemurah) hanya untuk orang-orang beriman,
karena bagi mereka ini yang berlaku adalah Sifat Rahīm.
Di tempat lain dikemukakan:
اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya rahmat
Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan (Al-A’rāf
[7]:57).
Begitu juga dikatakan:
اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ الَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ ۙ اُولٰٓئِکَ یَرۡجُوۡنَ رَحۡمَتَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Baqarah [2]:219).
Dengan kata lain, Sifat Rahīmiyat-Nya hanya dikaruniakan kepada mereka yang berhak saja. Tidak ada seorang pun yang tidak akan menemukan-Nya jika memang mau mencari. Pencinta macam apakah ia itu jika Yang Maha Penyayang tidak
menyukainya?
Wahai Junjungan-ku, apa yang masih kurang adalah
penyakitnya,
karena Sang Maha Penyembuh selalu ada.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 26 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar