Selasa, 25 Agustus 2015

Tertib yang Indah Empat Sifat Tasybihiyyah Allah Swt. Dalam Surah Al-Fatihah & Sabda Masih Mau'ud a.s. Mengenai Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 18

Tertib yang Indah  Empat Sifat Tasybihiyyah Allah Swt. Dalam Surah Al-Fatihah & Sabda Masih Mau’ud a.s. Mengenai Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah   

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai  sifat khusus lainnya dalam doa yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah,  yaitu  doa tersebut mengimbau naluri-naluri manusia yang dalam dengan cara yang wajar sekali.
        Dalam fitrat manusia ada dua pendorong yang merangsangnya untuk berserah diri yaitu  cinta dan takut. Sebagian orang tergerak oleh cinta, sedangkan yang lain terdorong oleh takut. Dorongan cinta memang lebih mulia, tetapi mungkin ada — dan sungguh-sungguh ada — orang-orang yang hatinya tidak tergerak oleh cinta, mereka hanya menyerah karena pengaruh takut.
        Dalam Surah  Al-Fātihah kedua pendorong manusia itu telah diimbau. Mula-mula tampil sifat-sifat Ilahi yang membangkitkan cinta, yaitu: رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --  Pencipta dan Pemelihara seluruh alam; الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  --  Maha Pemurah dan  Maha Penyayang, kemudian segera mengikutinya sifat مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ  --  Pemilik Hari Pembalasan, yang memperingatkan manusia bahwa  bila ia tidak memperbaiki tingkah-lakunya dan tidak menyambut cinta dengan baik maka ia harus bersedia mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan  Allah Swt..    Dengan demikian pendorong kepada  takut dipergunakan berdampingan dengan pendorong kepada cinta.
      Tetapi  karena kasih-sayang  Allah Swt. (rahmat-Nya)    jauh mengatasi Sifat murka-Nya, maka Sifat ini pun — yang merupakan satu-satunya Sifat pokok yang bertujuan membangkitkan takut — tidak dibiarkan tanpa menyebut kasih-sayang. Pada hakikatnya di sini pun kasih-sayang  Allah Swt.   mengatasi murka-Nya, sebab telah terkandung juga dalam Sifat Mālikiyyat ini bahwa kita tidak akan menghadap seorang hakim melainkan menghadap Tuhan Yang berkuasa mengampuni dan Yang hanya akan menyiksa bila siksaan itu sangat perlu sekali.

Empat Isi Pokok Surah Al-Fatihah

     Pendek kata, Surah Al-Fatihah  merupakan khazanah ilmu ruhani yang menakjubkan. Surah  Al-Fatihah  adalah  Surah pendek dengan tujuh ayat ringkas tetapi  benar-benar merupakan tambang ilmu dan hikmah. Tepat sekali disebut “Ibu Kitab” sebab  Surah Al-Fatihah merupakan  intisari dan saripati Al-Quran. Mulai dengan nama Allah  (بِسۡمِ اللّٰہِ) — Sumber pokok pancaran segala karunia, rahmat dan berkat    —   Surah ini melanjutkan penuturan keempat sifat pokok Allah Swt.  yakni:
      (1)  رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --   Rabb  seluruh alam,    yakni Yang menjadikan dan memelihara seluruh alam;
      (2)  الرَّحۡمٰنِ ِ  --  Maha Pemurah, yaitu Yang mengadakan jaminan untuk segala keperluan manusia, bahkan sebelum ia dilahirkan serta  tanpa suatu usaha apa pun dari pihak manusia untuk memperolehnya;
       (3) الرَّحِیۡم -- Maha Penyayang, yaitu Yang menetapkan hasil sebaik mungkin amal perbuatan manusia dan Yang mengganjarnya dengan amat berlimpah-limpah;  
       (4) مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ  --  Pemilik Hari Pembalasan, Yang di hadapan-Nya manusia harus mempertanggungjawabkan amal perbuatannya, dan Yang akan menurunkan siksaan kepada si jahat, tetapi tidak akan berlaku terhadap makhluk-Nya semata-mata sebagai hakim, melainkan sebagai Majikannya  Yang melunakkan hukuman dengan kasih-sayang, dan Yang sangat cenderung mengampuni, kapan saja pengampunan akan membawa hasil yang baik.
         Itulah citra Tuhan Islam — sebagaimana dikemukakan pada bagian awal sekali Al-Quran dalam Surah Al-Fatihah  — mengenai Dzat Yang kekuasaan serta kedaulatan-Nya tak ada hingganya, serta kasih-sayang dan kemurahan-Nya tiada batasnya.
       Kemudian datanglah pernyataan manusia bahwa mengingat Tuhan-nya  adalah Pemilik semua Sifat agung dan luhur  maka ia bersedia  bahkan  berhasrat menyembah Dia dan menjatuhkan diri  di hadhirat-Nya  dalam pengabdian yang sempurna: اِیَّاکَ نَعۡبُدُ --  kepada Engkau   kami menyembah.
       Tetapi Allah Swt. mengetahui bahwa manusia itu lemah serta mudah keliru dan tergelincir, maka Dia mendorong hamba-hamba-Nya agar mohon pertolongan-Nya pada setiap derap langkah majunya dan setiap keperluan yang dihadapinya: اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ  --  kepada Engkau kami mohon pertolongan.
       Akhirnya datanglah doa  yang padat dan berjangkauan jauh, suatu doa yang di dalamnya manusia bermohon kepada Khāliq-nya, untuk membimbingnya ke jalan yang lurus dalam segala urusan ruhani dan duniawi, baik mengenai keperluan-keperluannya sekarang atau pun di hari depan: اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ --   Tunjukilah kami jalan yang lurus.  
     Ia mendoa kepada Allah Swt.  supaya ia bukan saja dapat menghadapi segala cobaan dan ujian dengan tabah (istiqamah), tetapi juga selaku “orang-orang terpilih” menghadapinya dengan cara yang sebaik-baiknya dan menjadi penerima karunia dan berkat Allah  Swt. yang paling banyak dan paling besar, agar ia selama-lamanya terus melangkah maju pada jalan yang lurus, maju terus makin dekat dan lebih dekat lagi kepada Tuhan dan Junjungan-nya, tanpa terantuk-antuk di perjalanannya seperti telah terjadi pada banyak dari antara mereka yang hidup di masa yang lampau: لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ --   Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat.
      Itulah pokok Surah pembukaan Al-Quran – yakni Surah Al-Fatihah   -- yang senantiasa diulangi dengan suatu bentuk atau cara lain dalam seluruh tubuh Kitab Suci itu (Al-Quran).

Sabda Al-Masih Mau’ud a.s. Mengenai Keempat Sifat Tasybihiyyah
Allah Swt. Dalam Surah Al-Fatihah

        “Dalam Surah Al-Fatihah, Allah Yang Maha Perkasa mengemukakan 4 dari Sifat-sifat-Nya yaitu Rabbul ‘ālamīn, Rahmān, Rahīm dan Māliki Yaumiddīn. Urutan  penyampaian Sifat-sifat itu merupakan urutan alamiah perwujudannya. Rahmat Ilahi dimanifestasikan di dunia dalam 4 bentuk:
          Sifat yang pertama adalah Rabbul ‘ālamīn  (Tuhan seluruh alam) meruapakan  rahmat yang berlaku sangat umum. Ini adalah sifat yang merupakan rahmat mutlak yang melingkupi semua hal di langit dan di bumi tanpa membedakan mahluk hidup dengan benda mati.   
         Perwujudan segala hal dari keadaan ketiadaan yang kemudian berkembang menuju kesempurnaannya  adalah berkat dari rahmat ini. Tidak ada yang berada di luar ruang lingkup rahmat ini. Semua jasmani dan ruhani dimanifestasikan  (diwujudkan) oleh dan melalui rahmat ini dan semuanya berkembang atau dikembangkan melalui rahmat tersebut.
      Rahmat ini  (Rabbul ‘ālamīn  -- Tuhan seluruh alam)  adalah inti kehidupan dari alam semesta. Jika rahmat ini dihentikan sesaat saja maka alam semesta ini akan berakhir, dan jika bukan karena rahmat ini maka tidak akan ada penciptaan. Dalam Al-Quran, sifat ini disebut sebagai Rabubiyat dan karena itu Allah disebut Rabbul ‘ālamīn sebagaimana dikatakan:
ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ
 Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu  (Al-An’ām [6]:165).
Tidak ada suatu pun di alam ini yang berada di luar rangkuman sifat Rabubiyat-Nya.
      Jadi sifat Rabbul ālamīn disebutkan dalam Surah Al-Fatihah sebagai yang pertama dari semua Sifat rahmat  Allah Swt.. Sifat ini memiliki prioritas alamiah, baik karena mewujud mendahului Sifat-sifat yang lain dan karena bersifat yang paling umum dalam ruang lingkupnya mengingat mencakup baik makhluk hidup maupun benda mati.

Al-Rahmān (Maha Pemurah)

        Sifat yang kedua juga bersifat umum. Adapun perbedaannya dengan Sifat yang disebut  sebelumnya (Rabbul ‘ālamīn  -- Tuhan seluruh alam)  adalah Sifat yang pertama mencakup keseluruhan alam semesta sedangkan Sifat yang kedua (Ar-Rahmān  - Maha Pemurah)  merupakan karunia Ilahi yang diberikan kepada mahluk hidup saja. Perhatian Ilahi terhadap keseluruhan makhluk hidup dianggap juga sebagai rahmat yang bersifat umum.
       Sifat ini berfungsi bagi semua makhluk hidup sejalan dengan kebutuhan mereka. Rahmat ini mewujud bukan karena akibat atau sebagai ganjaran dari amalan (perbuatan) mereka. Berkat rahmat ini maka semua makhluk bisa hidup, makan, minum, terpelihara dari mara-bahaya dan terpenuhi kebutuhannya. Melalui rahmat ini semua sarana kehidupan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup menjadi tersedia.
      Adalah akibat yang dibawa Sifat ini maka semua yang diperlukan ruhani bagi perkembangan jasmaninya bisa dipenuhi. Begitu juga dengan mereka yang selain perkembangan jasmani, juga menginginkan perkembangan ruhani (atau mereka memiliki kemampuan untuk perkembangan jenis demikian), maka firman Tuhan akan turun menembus keabadian pada saat diperlukan. Melalui fungsi karunia Rahmāniyat maka manusia memenuhi berjuta keinginannya.
       Tersedia baginya seluruh bumi untuk tempat tinggal, matahari dan bulan untuk penerangan, udara untuk bernafas, air untuk diminum, segala macam pangan untuk dimakan, berjuta-juta obat untuk penyembuhan, berbagai bentuk pakaian untuk menutup tubuh dan Kitab Allah sebagai petunjuk.
       Tidak ada seorang pun manusia yang bisa mengakukan bahwa semua rahmat itu adalah hasil karyanya, bahwa ia dalam eksistensi (keberadaan) sebelumnya telah melakukan suatu hal yang baik, sehingga Tuhan menganugrahkan karunia tidak berhingga ini atas umat manusia.
      Dengan demikian jelas bahwa rahmat yang dimanifestasikan dalam beribu-ribu bentuk tersebut adalah manifestasi kasih Allah Swt.  agar setiap makhluk hidup bisa mencapai tujuan hidup alamiahnya masing-masing serta memenuhi kebutuhannya  tanpa memerlukan upaya khusus dari dirinya.
       Berkat dari rahmat Ilahi ini memberikan semua pemenuhan kebutuhan umat manusia dan hewan serta memberikan perlindungan agar kapasitas mereka tidak berhenti berkembang. Eksistensi Sifat Ilahi ini ditegaskan melalui telaah hukum alam. Tidak ada orang berakal yang akan menyangkal bahwa matahari, bulan, bumi dan semua elemen serta segala yang dibutuhkan yang terdapat di alam dan menjadi sumber kehidupan mahluk, nyatanya memang dimanifestasikan melalui rahmat ini.
      Sebutan  mengenai rahmat yang dimanfaatkan semua makhluk yang bernafas -- tanpa pembedaan manusia atau hewan, mukminin atau kafir, baik atau jahat -- adalah Rahmāniyat dan karenanya Allah disebut sebagai Al-Rahmān (Maha Pemurah) dalam Surat Al-Fatihah, setelah Sifat Rabbul ‘ālamīn.
        Sifat Ilahi ini disebut di beberapa tempat dalam Al-Quran. Sebagai contoh:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمُ اسۡجُدُوۡا لِلرَّحۡمٰنِ قَالُوۡا وَ مَا الرَّحۡمٰنُ ٭ اَنَسۡجُدُ لِمَا تَاۡمُرُنَا وَ زَادَہُمۡ نُفُوۡرًا ﴿٪ٛ﴾ وَ مَنۡ تَابَ وَ عَمِلَ صَالِحًا فَاِنَّہٗ یَتُوۡبُ اِلَی اللّٰہِ مَتَابًا ﴿﴾   وَ عِبَادُ  الرَّحۡمٰنِ الَّذِیۡنَ  یَمۡشُوۡنَ عَلَی الۡاَرۡضِ ہَوۡنًا وَّ اِذَا خَاطَبَہُمُ الۡجٰہِلُوۡنَ  قَالُوۡا سَلٰمًا ﴿﴾
Apabila dikatakan kepada mereka: “Bersujudlah kepada Ar-Rahmān (Tuhan Yang Maha Pemurah).” قَالُوۡا وَ مَا الرَّحۡمٰنُ  -- mereka berkata: “Dan siapakah Tuhan Yang Maha Pemurah itu? Haruskah kami bersujud kepada apapun yang engkau suruh kami?” Dan hal ini menambah keengganan mereka. Maha Beberkatlah Dia Yang telah menjadikan gugusan bintang di langit dan telah menempatkan di dalamnya matahari yang menerbitkan cahaya dan bulan yang memantulkan cahaya. Dan Dia-lah Yang telah menjadikan malam dan siang, masing-masing susul menyusul, untuk kemanfaatan bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau mau bersyukur. وَ عِبَادُ  الرَّحۡمٰنِ الَّذِیۡنَ  یَمۡشُوۡنَ عَلَی الۡاَرۡضِ ہَوۡنًا وَّ اِذَا خَاطَبَہُمُ الۡجٰہِلُوۡنَ  قَالُوۡا سَلٰمًا --  Dan hamba-hamba sejati dari Tuhan Yang Maha Pemurah ialah mereka yang berjalan di muka bumi dengan merendahkan diri, dan apabila orang jahil menegur mereka, mereka menghindari mereka itu dengan anggun seraya mengucapkan: “Selamat sejahtera!”’ (Al-Furqān [25]:61-64).
       Maksudnya, ketika orang-orang  kafir, para penyembah berhala (pagan) dan para atheis diingatkan untuk bersujud di hadapan Al-Rahmān (Yang Maha Pemurah), mereka merasa tidak menyukai nama Al-Rahmān dan mereka bertanya: ‘Apa itu Rahmān?’   Jawabannya adalah, Rahmān adalah Wujud Yang Berberkat, Yang menjadi Sumber dari segala hal yang baik, Yang telah menciptakan gugusan-gugusan bintang di langit dan menempatkan matahari dan bulan dalam istana tersebut guna memberikan cahaya kepada semua makhluk tanpa membedakan mereka yang beriman atau yang kafir.
       Adalah Al-Rahmān yang sama yang telah menciptakan malam dan siang bagi manusia agar para pencari kebenaran bisa menarik manfaat dari pengaturan yang bijaksana itu dan membebaskan dirinya dari kebodohan dan ketidak-acuhan, dengan demikian mereka yang tahu berterima kasih akan bersyukur.  Penyembah sejati dari Wujud Al-Rahmān adalah mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dimana ketika orang-orang bodoh mencacinya, mereka menjawab dengan kata-kata “salam“ dan kasih sayang.
      Dengan kata lain, mereka membalas kekerasan dengan kelembutan dan sebagai imbalan dari caci maki, mereka malah mendoakan para pencaci itu. Melalui cara itu mereka memperlihatkan sifat kasih sayang sebagaimana Yang Maha Pemurah telah memberi berkat dalam bentuk matahari, bulan, bumi dan segala hal bagi semua makhluk-Nya tanpa membedakan baik atau jahat. Dalam ayat-ayat itu ditekankan bahwa kata Al-Rahmān digunakan hanya untuk Allah  Swt. karena Kasih-Nya meliputi semua yang baik mau pun yang jahat.
     Di tempat lain dikatakan:
عَذَابِیۡۤ  اُصِیۡبُ  بِہٖ  مَنۡ  اَشَآءُ ۚ وَ رَحۡمَتِیۡ وَسِعَتۡ کُلَّ شَیۡءٍ
Siksaan-Ku Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, tetapi rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.’ (Al-A’rāf [7]:157).
      Begitu juga di tempat lain dinyatakan:
مَنۡ یَّکۡلَؤُکُمۡ  بِالَّیۡلِ وَ النَّہَارِ مِنَ الرَّحۡمٰنِ ؕ بَلۡ ہُمۡ عَنۡ ذِکۡرِ رَبِّہِمۡ مُّعۡرِضُوۡنَ ﴿﴾
 Siapakah yang dapat melindungi kamu pada waktu malam dan siang hari terhadap (kemurkaan) Tuhan Yang Maha Pemurah? (Al-Anbiya [21]:43).
       Dengan kata lain dinyatakan bahwa baik yang ingkar atau pun yang kafir sudah diberitahu bahwa jika bukan karena Sifat Rahmāniyat, maka mereka tidak akan terhindar dari penghukuman samawi. Adalah melalui sifat Rahmāniyat maka Allah  Swt. memberikan sela (tenggang waktu) waktu kepada para kafir dan penyembah berhala  serta tidak langsung menghukum mereka.
    Di tempat lain dikemukakan:
اَوَ لَمۡ  یَرَوۡا اِلَی الطَّیۡرِ فَوۡقَہُمۡ صٰٓفّٰتٍ وَّ یَقۡبِضۡنَ ؔۘؕ مَا یُمۡسِکُہُنَّ  اِلَّا الرَّحۡمٰنُ ؕ اِنَّہٗ  بِکُلِّ  شَیۡءٍۭ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Tidakkah mereka melihat burung-burung di atas mereka mengembangkan sayap mereka di waktu terbang dan kemudian mengatupkannya ketika menyambar mangsa? Tiada yang dapat menahan mereka selain Tuhan Yang Maha Pemurah.  (Al-Mulk [67]:20).
          Berarti karunia Sifat Rahmāniyat meliputi semua makhluk hidup sehingga burung yang tidak berarti pun bisa terbang gembira dalam arus rahmat ini. Karena rahmat ini secara alamiah datang setelah Sifat  Rabbubiyat, maka dalam Surah Al-Fatihah urutannya pun jadi demikian.

Ar-Rahīm (Maha Penyayang)

          Rahmat atau Sifat yang ketiga merupakan rahmat yang bersifat khusus. Perbedaan rahmat ini dengan rahmat yang bersifat umum (Rahmāniyat) adalah pada yang bersifat umum tidak ada dipersyaratkan kepada penerimanya untuk berperilaku baik atau mencerahkan egonya dari kegelapan ruhani, atau pun sengaja berupaya guna memperolehnya. Berkat Allah Swt.  dari rahmat yang bersifat umum adalah berupa karunia kepada semua makhluk hidup menurut apa yang dibutuhkannya tanpa perlu ada upaya khusus dari pihak yang bersangkutan.
        Adapun untuk rahmat yang bersifat khusus, diperlukan adanya usaha dan upaya untuk mensucikan hati, bersujud, memperhatikan perintah Allah Swt.  dan semua tindakan lainnya yang dipersyaratkan. Hanya yang melaksanakan hal-hal tersebut yang akan memperoleh rahmat tersebut.
      Eksistensi (penampakkan) dari Sifat ini juga ditunjukkan melalui telaah hukum alam. Jelas bahwa mereka yang berupaya di jalan Allah dan mereka yang tidak acuh, tidak akan bisa sama statusnya. Tanpa diragukan, berkat khusus hanya turun bagi mereka yang berjuang di jalan Allah, serta menjauh dari segala kegelapan dan kekacauan.
      Berkat rahmat ini maka dalam Al-Quran nama Tuhan disebut sebagai Al-Rahīm (maha Penyayang), Karena sifat Rahīmiyat bersifat khusus dan terwujud karena pemenuhan beberapa persyaratan tertentu, makanya disebut setelah Sifat Rahmāniyat karena sifat Rahmāniyat dimanifestasikan sebelum Sifat Rahīmiyat muncul. Itulah sebabnya Sifat Rahīmiyat dalam Surah Al-Fatihah disebutkan setelah Sifat Rahmāniyat. Sifat Rahīmiyat disebut di beberapa tempat dalam Al-Quran. Sebagai contoh, dinyatakan:
وَ کَانَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَحِیۡمًا ﴿﴾
 Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman   (Al-Ahzāb [33]:44).
Berarti Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Swt.  terbatas hanya bagi mereka yang beriman saja, sedangkan orang kafir dan penyangkal tidak mendapat bagian.
       Perlu diingatkan lagi bahwa pemberlakuan Sifat Rahīmiyat terbatas hanya bagi  orang-orang beriman saja, sedangkan Sifat Rahmāniyat tidak terbatas. Tidak ada disebutkan bahwa Tuhan bersifat Rahmān (Maha Pemurah) hanya untuk orang-orang beriman,  karena bagi mereka ini yang berlaku adalah Sifat Rahīm.
      Di tempat lain dikemukakan:
اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan   (Al-A’rāf [7]:57).
Begitu juga dikatakan:
اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ الَّذِیۡنَ  ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ  ۙ اُولٰٓئِکَ یَرۡجُوۡنَ  رَحۡمَتَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-Baqarah [2]:219).
      Dengan kata lain, Sifat Rahīmiyat-Nya hanya dikaruniakan kepada mereka yang berhak saja. Tidak ada seorang pun yang tidak akan menemukan-Nya jika memang mau mencari. Pencinta macam apakah ia itu jika Yang Maha Penyayang  tidak menyukainya?
Wahai Junjungan-ku, apa yang masih kurang adalah penyakitnya,
karena Sang Maha Penyembuh selalu ada.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 26 Agustus 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar