بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 2
‘‘Kenabian
Ummati” Masih Mau’ud a.s. Merupakan Buah (Hasil) Kepatuh-taatan dan Kecintaan
Sempurna Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. &
Berbagai Nama Surah Al-Fatihah
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai
genapnya nubuatan dalam Surah Al-Fatihah, baik mengenai orang-orang
yang mendapat nikmat dari Allah Swt.
mau pun mengenai maghdhub (yang
dimurkai) dan dhallin (yang sesat).
Genapnya nubuatan dalam Surah Al-Fatihah mengenai “orang-orang yang mendapat nikmat” (ayat 6) di Akhir Zaman ini dikemukakan dalam firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada mereka
Kitab dan Hikmah walaupun
sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- Dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain dari
antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ -- Itulah
karunia Allah, Dia menganugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki.Dan
Allah mempunyai karunia yang besar (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
Ayat 3 menjelaskan bahwa tugas suci Nabi Besar Muhammad saw. meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat
ini. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau saw., sebab
untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu leluhur beliau saw., Nabi Ibrahim
a.s., telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang
lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s., beliau
mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah
(QS.2:130).
Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu
(mushlih) dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan
dengan contoh mulia dan
quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat
yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan
bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas
ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajarannya itu,
kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa
lain.
Didikan yang Nabi Besar
Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas
dan mempertajam kecerdasan mereka,
dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan
dalam diri mereka keyakinan iman, sedangkan
contoh
mulia beliau saw. menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh
ayat 3.
Ayat 4: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. Ajaran Nabi Besar Muhammad saw. ditujukan
bukan kepada bangsa Arab belaka, yang
di tengah-tengah bangsa itu beliau dibangkitkan, melainkan kepada seluruh
bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan demi keturunan
manusia yang akan datang hingga kiamat.
Atau ayat ini dapat juga
berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. akan
dibangkitkan di antara kaum Muslim yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw.. Isyarat
di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada
pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. untuk
kedua kali dalam wujud Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman.
Abu Hurairah r.a. berkata:
“Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw., ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta
keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh
kata-kata Dan Dia akan
membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan
mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
Setelah saya berulang-ulang mengajukan
pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau pada Salman
dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari
mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi Besar Muhammad saw. ini
menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan
Parsi. Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat
Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi. Hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya
menyebutkan kedatangan Al-Masih pada
saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya,
dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam
selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan
lenyap (Baihaqi).
Kedatangan Matsiil (Misal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Jadi, Al-Quran dan hadits
kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara
ruhani dalam wujud Masih Mau’ud a.s. yang juga sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا
ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ
جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya, Dan
mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan
kami lebih baik ataukah dia?"
Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada
engkau melainkan perbantahan semata.
Bahkan mereka adalah kaum yang biasa
berbantah. Ia tidak lain
melainkan seorang hamba yang telah
Kami anugerahi nikmat kepadanya, dan
Kami menjadikan dia suatu perumpamaan
bagi Bani Israil (Az-Zukhruf
[43]:58-60).
Kata shadda (yashuddu) dalam
ayat: وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ
مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ -- “Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya” berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda
(yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Al-Aqrab-ul-Mawarid).
Kedatangan Al-Masih
a.s. yang dilahirkan tanpa ayah adalah
tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan
kenabian untuk selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang
semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini, di samping
arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw. -- yaitu kaum Muslimin
— diberitahu bahwa orang lain seperti
dan merupakan sesama (mitsal) Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. akan dibangkitkan di antara mereka untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah
hilang, maka daripada bergembira atas
kabar gembira itu malah mereka
berteriak mengajukan protes dan penentangan terhadap beliau. Jadi, ayat ini dapat dianggap
mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. untuk
kedua kalinya di Akhir Zaman ini.
Penyebab dianugerahkan-Nya karunia
besar Allah Swt. berupa nikmat
kenabian tersebut karena Pendiri
Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah pengikut dan pecinta hakiki Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ
تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika
mereka berpaling maka ketahuilah sesungguh-nya Allah tidak mencintai orang-orang kafir (Ali ‘Imran [3]:3:32-33).
Ayat 32
dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw.. Selanjutnya ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul
dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya
Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan).
Buah Kepatuh-taatan Sempurna
Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. & Genapnya Nubuatan Dalam Surah Al-Fatihah
Ada pun hasil atau buah dari kecintaan sempurna kepada Nabi Besar
Muhammad saw. – yang juga sebagai pengabulan
doa dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7
berkenaan dengan orang-orang
yang Allah Swt. menganugerahkan nikmat
kepada mereka – Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
عَلِیۡمًا ﴿﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang
shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ
مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui (An-Nisa [4]:70-71).
Ayat 70 sangat penting
sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan
ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin.
Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi,
shiddiq-shiddiq,
syuhada (saksi-saksi) dan shālihin
(orang-orang saleh) — kini semuanya
dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti
Nabi Besar Muhammad saw..
Hal ini
merupakan kehormatan khusus bagi semata. Tidak ada nabi Allah lain menyamai
beliau saw. dalam perolehan nikmat
ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah
dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi
Tuhan mereka” (QS.57: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti
bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi
lainnya dapat mencapai martabat shiddiq,
syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut sejati Nabi
Besar Muhammad saw. dapat
naik ke martabat nabi Allah juga.
Kitab “Bahr-ul-Muhit”
(jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman
dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka
empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia
telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat
tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian
itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang
membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum
masih tetap dapat dicapai.” Itulah makna firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ
اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ
وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Ali
‘Imran [3]:3:32).
Genapnya Nubuatan Tentang “Maghdhūb” (Yang Dimurkai) dan “Dhāllin” (Yang Sesat)
Sedangkan makna ayat selanjutnya
mengenai “orang-orang yang berpaling”,
firman-Nya:
قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ
اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah
sesungguhnya Allah tidak mencintai
orang-orang kafir (Ali
‘Imran [3]:3:32-33).
Sehubungan dengan pernyataan Allah Swt. dalam ayat:
فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ -- “kemudian
jika mereka berpaling, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir,”
ayat ini bisa tertuju kepada 2 golongan,
yakni (1) orang-orang kafir yang menolak penda'waan Nabi Besar Muhammad saw., dan (2)
orang-orang Muslim, tetapi mereka tidak
mengikuti Sunnah Nabi Besar Muhammad
saw., sebagaimana firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی
اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ
لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ
عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا
وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ
یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ
الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum,
Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, mereka
akan bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang beriman dan keras
terhadap orang-orang kafir. Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak
takut akan celaan seorang pencela. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ -- Itulah karunia
Allah, Dia memberikannya kepada
siapa yang Dia kehendaki, وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ
عَلِیۡمٌ -- dan Allah
Maha Luas karunia-Nya, Maha
Mengetahui. Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah, Rasul-Nya
dan orang-orang beriman yang
senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah.
Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya
dan mereka yang beriman sebagai
pelindung, maka sesungguhnya jamaat
Allah pasti menang (Al-Maidah [5]:55-57).
Firman Allah Swt. tersebut menjelaskan firman-Nya sebelum ini mengenai kemunculan “kaum lain” di kalangan umat Islam, yakni: وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ --
Itulah karunia Allah, Dia
menganugerahkannya kepada siapa yang Dia
kehendaki. Dan Allah mempunyai
karunia yang besar (Al-Jumu’ah
[62]:4-5).
Pendek kata, kemunculan Rasul Akhir Zaman di kalangan umat
Islam tersebut benar-benar merupakan pengabulan
doa yang diajarkan Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7, yang juga merupakan nubuatan bahwa di kalangan umat
Islam pun akan ada yang beriman
kepada Rasul Akhir Zaman -- sehingga memenuhi nubuatan
mengenai kemunculan “orang-orang yang
mendapat nikmat Allah Swt.” -- dan ada juga yang akan menentang pendakwaan Rasul Akhir Zaman tersebut,
sehingga menggenapi nubuatan
yang terkandung dalam kata maghdhub
(orang yang dimurkai) dan dhāllin (orang yang sesat) dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah.
Surah Al-Fatihah
& Nama-nama Surah dan Artinya
Seperti diriwayatkan oleh banyak ahli ilmu
hadits, seluruh Surah ini diwahyukan di Mekkah dan sejak awal menjadi bagian
shalat orang-orang Islam. Surah ini disebut dalam ayat Al-Quran, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنٰکَ سَبۡعًا مِّنَ
الۡمَثَانِیۡ وَ الۡقُرۡاٰنَ الۡعَظِیۡمَ
“Dan sungguh
Kami benar-benar telah memberikan kepada engkau tujuh ayat yang selalu diulang-ulang dan Al-Quran yang agung” (Al-Hijr [15]:88).
Ayat itu menurut pengakuan para ahli telah diwahyukan
di Mekkah. Menurut beberapa riwayat
Surah ini diwahyukan pula untuk kedua kalinya di Medinah, tetapi waktu Surah
ini untuk pertama kali turun adalah pada masa permulaan sekali kenabian Nabi
Besar Muhammad saw..
Nama terkenal untuk Surah pendek ini ialah Fātihat-ul-Kitāb
(Surah Pembukaan Al-Kitab), diriwayatkan bersumber pada beberapa ahli ilmu
hadits yang dapat dipercaya (Tirmidzi
dan Muslim). Kemudian
nama itu disingkat menjadi Surah Al-Fātihah atau Al-Fātihah saja.
Surah ini dikenal dengan beberapa nama, dan 10 nama berikut ini lebih sah,
yaitu: (1) Al-Fātihah, (2) Al-Shalāt,
(3) Al-Hamd, (4) Umm-ul-Quran, (5) Alquran-ul-’Azhim, (6)
Al-Sab’al-Matsani, (7) Umm-ul Kitāb, (8) Al-Syifā, (9) Al-Ruqyah,
dan (10) Al-Kanz. Nama-nama ini
menerangkan betapa luasnya isi Surah ini.
Nama Fātihat-ul-Kitāb
(Surah Pembukaan Al-Kitab) berarti bahwa
karena Surah itu telah diletakkan pada permulaan maka ia merupakan kunci pembuka seluruh pokok
masalah Al-Quran.
Al-Shalāt (Shalat) berarti bahwa Al-Fātihah merupakan doa yang
lengkap lagi sempurna dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari shalat Islam
yang sudah melembaga.
Al-Hamd (Puji-pujian) berarti bahwa
Surah ini menjelaskan tujuan agung penciptaan manusia dan mengajarkan bahwa
hubungan Allah Swt. dengan manusia adalah hubungan
berdasarkan kemurahan (Rahmāniyat) dan kasih-sayang (Rahīmiyat).
Umm-ul-Qur’an (Ibu Al-Quran) berarti bahwa
Surah ini merupakan intisari seluruh Al-Quran, yang dengan ringkas mengemukakan
semua pengetahuan yang menyangkut perkembangan akhlak dan ruhani
manusia.
Alquran-ul-’Azhim (Al-Quran Agung) berarti bahwa
meski pun Surah ini terkenal sebagai Umm-ul-Kitāb dan Umm-ul-Qur’an namun
tetap merupakan bagian Kitab Suci itu dan bukan seperti anggapan salah
sementara orang bahwa ia terpisah darinya.
Al-Sab’ul Matsani (Tujuh ayat yang
seringkali diulang) berarti ketujuh ayat pendek Surah ini sungguh-sungguh
memenuhi segala keperluan ruhani manusia. Nama itu berarti pula bahwa Surah ini
harus diulang dalam tiap-tiap rakaat shalat.
Umm-ul-Kitab (Ibu Kitab) berarti bahwa doa
dalam Surah ini menjadi sebab
diwahyukannya ajaran Al-Quran.
Al-Syifā (Penyembuh) berarti bahwa Surah
ini memberi pe-ngobatan terhadap segala keraguan dan syak yang biasa timbul
dalam hati manusia.
Al-Ruqyah (Jimat atau Mantera) berarti
bahwa Surah ini bukan hanya doa untuk menghindarkan penyakit tetapi juga
memberi perlindungan terhadap syaitan dan pengikut-peng-ikutnya, dan menguatkan
hati manusia untuk melawan mereka.
Al-Kanz (Khazanah) mengandung arti bahwa
Surah ini suatu khazanah ilmu yang
tidak habis-habisnya.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 5 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar