Kamis, 06 Agustus 2015

"Kenabian Ummati" Masih Mau'ud a.s. Merupakan Buah Kepatuhtaatan dan Kecintaan Sempurna Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. & Berbagai Nama Surah Al-Fatihah



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 2   

‘‘Kenabian  Ummati”  Masih Mau’ud a.s. Merupakan Buah (Hasil) Kepatuh-taatan dan Kecintaan Sempurna Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. &   Berbagai Nama   Surah Al-Fatihah

  Oleh


Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai   genapnya nubuatan dalam Surah Al-Fatihah, baik mengenai orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah Swt. mau pun mengenai maghdhub (yang dimurkai) dan dhallin (yang sesat).
    Genapnya nubuatan  dalam Surah Al-Fatihah mengenai “orang-orang yang mendapat nikmat” (ayat 6)  di Akhir Zaman ini dikemukakan dalam firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ   --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki.Dan Allah mempunyai karunia yang besar  (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
     Ayat 3 menjelaskan bahwa tugas suci Nabi Besar Muhammad saw.  meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat ini. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau saw., sebab untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu leluhur beliau saw., Nabi Ibrahim a.s.,  telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s., beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:130).
     Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu (mushlih) dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajarannya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa lain.
     Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau  saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, sedangkan  contoh mulia beliau saw. menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat 3.
  Ayat 4:    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”.   Ajaran  Nabi Besar Muhammad saw.    ditujukan bukan kepada bangsa Arab belaka, yang di tengah-tengah bangsa itu beliau dibangkitkan, melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga kiamat.
    Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   akan dibangkitkan di antara kaum Muslim yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw.. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan  Nabi Besar Muhammad saw. untuk kedua kali dalam wujud  Masih Mau’ud a.s.  di Akhir Zaman.
   Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.,  ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata  Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.    Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
    Hadits  Nabi Besar Muhammad saw.   ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.  Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi. Hadits  Nabi Besar Muhammad saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi).

Kedatangan Matsiil (Misal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

   Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw.  secara ruhani   dalam wujud   Masih Mau’ud a.s.  yang juga sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan   terhadapnya,   Dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah.  Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil  (Az-Zukhruf [43]:58-60).
        Kata shadda (yashuddu)  dalam ayat: وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ -- “Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan   terhadapnya” berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Al-Aqrab-ul-Mawarid).
       Kedatangan Al-Masih a.s. yang dilahirkan tanpa ayah   adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw.  --    yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama (mitsal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan dibangkitkan di antara mereka untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang, maka daripada bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak  mengajukan protes dan penentangan terhadap beliau. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   untuk kedua kalinya di Akhir Zaman ini.
  Penyebab dianugerahkan-Nya karunia besar Allah Swt. berupa nikmat kenabian tersebut  karena Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah pengikut dan pecinta hakiki Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:    ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”   Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguh-nya Allah tidak mencintai orang-orang kafir  (Ali ‘Imran [3]:3:32-33).
      Ayat 32  dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw..  Selanjutnya ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan).

Buah Kepatuh-taatan Sempurna Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. & Genapnya Nubuatan Dalam Surah Al-Fatihah

       Ada pun hasil atau buah dari kecintaan sempurna kepada Nabi Besar Muhammad saw. – yang juga sebagai pengabulan doa dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7   berkenaan dengan orang-orang yang Allah Swt. menganugerahkan nikmat kepada mereka – Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا  --  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui  (An-Nisa [4]:70-71).
        Ayat 70   sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian —   nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,   syuhada (saksi-saksi)  dan   shālihin  (orang-orang saleh) — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw..
         Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi  semata. Tidak ada nabi Allah  lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka” (QS.57: 20).
         Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw.  dapat naik ke martabat nabi Allah juga.
       Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.” Itulah makna firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Katakanlah:    ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”   (Ali ‘Imran [3]:3:32).

Genapnya Nubuatan Tentang  “Maghdhūb” (Yang Dimurkai) dan “Dhāllin” (Yang Sesat)

        Sedangkan makna ayat selanjutnya mengenai  “orang-orang yang berpaling”, firman-Nya: 
قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ  ﴿﴾
Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”,  kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir  (Ali ‘Imran [3]:3:32-33).
Sehubungan dengan pernyataan Allah Swt. dalam ayat:   فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ    --  “kemudian jika mereka berpaling, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir,” ayat ini bisa tertuju kepada  2 golongan, yakni (1) orang-orang kafir yang menolak penda'waan Nabi Besar Muhammad saw., dan (2)  orang-orang  Muslim, tetapi  mereka tidak mengikuti Sunnah Nabi Besar Muhammad saw.,  sebagaimana firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu  murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, mereka akan bersikap lemah-lembut terhadap  orang-orang beriman  dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela.          ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ --  Itulah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki,  وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ --  dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah.   Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai pelindung, maka  sesungguhnya   jamaat Allah pasti menang (Al-Maidah [5]:55-57).
         Firman Allah Swt. tersebut  menjelaskan   firman-Nya sebelum ini  mengenai kemunculan “kaum lain”  di kalangan umat Islam, yakni: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ   --   Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar  (Al-Jumu’ah [62]:4-5).
         Pendek kata,  kemunculan Rasul Akhir Zaman di kalangan umat Islam tersebut benar-benar merupakan pengabulan doa yang diajarkan Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7, yang juga merupakan nubuatan bahwa di kalangan umat Islam pun akan ada yang beriman kepada Rasul Akhir Zaman  -- sehingga memenuhi  nubuatan mengenai kemunculan “orang-orang yang mendapat nikmat Allah Swt.” -- dan ada juga yang akan menentang  pendakwaan Rasul Akhir Zaman tersebut, sehingga menggenapi  nubuatan yang terkandung dalam kata maghdhub (orang yang dimurkai) dan dhāllin  (orang yang sesat) dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah.

Surah Al-Fatihah &  Nama-nama Surah dan Artinya

    Seperti diriwayatkan oleh banyak ahli ilmu hadits, seluruh Surah ini diwahyukan di Mekkah dan sejak awal menjadi bagian shalat orang-orang Islam. Surah ini disebut dalam ayat Al-Quran, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنٰکَ سَبۡعًا مِّنَ الۡمَثَانِیۡ وَ الۡقُرۡاٰنَ  الۡعَظِیۡمَ
 “Dan  sungguh  Kami benar-benar telah memberikan kepada engkau tujuh ayat yang selalu diulang-ulang dan Al-Quran yang agung” (Al-Hijr [15]:88).
 Ayat itu menurut pengakuan para ahli  telah diwahyukan di Mekkah.    Menurut beberapa riwayat Surah ini diwahyukan pula untuk kedua kalinya di Medinah, tetapi waktu Surah ini untuk pertama kali turun adalah pada masa permulaan sekali kenabian Nabi Besar Muhammad saw..
        Nama terkenal untuk Surah pendek ini ialah Fātihat-ul-Kitāb (Surah Pembukaan Al-Kitab), diriwayatkan bersumber pada beberapa ahli ilmu hadits yang dapat dipercaya (Tirmidzi dan Muslim). Kemudian nama itu disingkat menjadi Surah Al-Fātihah atau Al-Fātihah saja. Surah ini dikenal dengan beberapa nama, dan 10 nama berikut ini lebih sah, yaitu:  (1) Al-Fātihah, (2) Al-Shalāt, (3) Al-Hamd, (4) Umm-ul-Quran, (5) Alquran-ul-’Azhim, (6) Al-Sab’al-Matsani, (7) Umm-ul Kitāb, (8) Al-Syifā, (9) Al-Ruqyah, dan (10)  Al-Kanz. Nama-nama ini menerangkan betapa luasnya isi Surah ini.
       Nama Fātihat-ul-Kitāb (Surah Pembukaan Al-Kitab) berarti bahwa  karena Surah itu telah diletakkan pada permulaan  maka ia merupakan kunci pembuka seluruh pokok masalah Al-Quran.
      Al-Shalāt (Shalat) berarti bahwa Al-Fātihah merupakan doa yang lengkap lagi sempurna dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari shalat Islam yang sudah melembaga.
    Al-Hamd (Puji-pujian) berarti bahwa Surah ini menjelaskan tujuan agung penciptaan manusia dan mengajarkan bahwa hubungan  Allah Swt.   dengan manusia adalah hubungan berdasarkan kemurahan (Rahmāniyat) dan kasih-sayang (Rahīmiyat).
      Umm-ul-Qur’an (Ibu Al-Quran) berarti bahwa Surah ini merupakan intisari seluruh Al-Quran, yang dengan ringkas mengemukakan semua pengetahuan yang menyangkut perkembangan akhlak dan  ruhani  manusia. 
          Alquran-ul-’Azhim (Al-Quran Agung) berarti bahwa meski pun Surah ini terkenal sebagai Umm-ul-Kitāb dan Umm-ul-Qur’an namun tetap merupakan bagian Kitab Suci itu dan bukan seperti anggapan salah sementara orang bahwa ia terpisah darinya.
       Al-Sab’ul Matsani (Tujuh ayat yang seringkali diulang) berarti ketujuh ayat pendek Surah ini sungguh-sungguh memenuhi segala keperluan ruhani manusia. Nama itu berarti pula bahwa Surah ini harus diulang dalam tiap-tiap rakaat shalat.
        Umm-ul-Kitab (Ibu Kitab) berarti bahwa doa dalam Surah ini  menjadi sebab diwahyukannya ajaran Al-Quran.
         Al-Syifā (Penyembuh) berarti bahwa Surah ini memberi pe-ngobatan terhadap segala keraguan dan syak yang biasa timbul dalam hati manusia.
        Al-Ruqyah (Jimat atau Mantera) berarti bahwa Surah ini bukan hanya doa untuk menghindarkan penyakit tetapi juga memberi perlindungan terhadap syaitan dan pengikut-peng-ikutnya, dan menguatkan hati manusia untuk melawan mereka.
         Al-Kanz (Khazanah) mengandung arti bahwa Surah ini suatu khazanah ilmu yang tidak habis-habisnya.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 5 Agustus 2015





Tidak ada komentar:

Posting Komentar