Rabu, 05 Agustus 2015

Pembukaan Khazanah Ruhani Al-Quran Kepada Masih Mau'ud a.s. dan Mushlih Mau'ud r.a. & Genapnya Nubuatan Dalam Surah Al-Fatihah



                                                                                    
                       
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 1   

Pembukaan Khazanah Ruhani Al-Quran Kepada  Masih Mau’ud a.s. dan Mushlih Mau’ud r.a. & Genapnya Nubuatan Dalam Surah Al-Fatihah

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

S
ebagaimana  ditulis dalam Blog-blog saya sebelumnya,  bahwa sumber   materi pembahasan  berbagai topik Surah Al-Quran adalah The Holy Quran   -- editor    Malik Ghulam Farid. Judul lengkapnya The Holy Quran with English Translations & Commentary, yang  merupakan rangkuman dari   Tafsir Al-Quran karya   Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a., Khalifatul Masih II Jemaat Ahmadiyah, yang lebih terkenal dengan sebutan Mushlih Mau’ud r.a.  (Al-Mushlih al-Mau’ud r.a.), 
        Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a. adalah  “putra yang dijanjikan” dari Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s.  (Al-Masih-al-Mau’ud a.s),   Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Mushlih Mau’ud r.a. (Al-Mushlih al-Mau’ud).  Beliau   selain sebagai “putra yang dijanjikan”  dari  Masih Mau’ud a.s. dan  sebagai Khalifatul-Masih II,   beliau pun berdasarkan rukya (pengalaman ruhani) yang dialaminya juga adalah sebagai matsiil (misal)  Masih Mau’ud a.s., sebagaimana pengakuan beliau:
      “Saya   merasakan  kalimat berikut ini dimasukkan ke dalam lidah saya: “Ana al-Masihul-Mau’udu, Matsiiluhu wa khalifatuhu (Aku adalah Masih Mau’ud, yang  menyerupainya dan khalifahnya”. Kalimat ini sangat ganjil keluar dari mulut saya  -- jika hal ini sesuatu yang terjadi di dunia nyata maka akan terasa sangat ganjil. Namun hal ini juga terasa begitu ganjil bahkan di dalam kasyaf (rukya)  saya,  sehingga saya hampir-hampir terbangun oleh goncangannya  -- betapa luar-biasanya kalimat (kata-kata) yang keluar dari mulut saya itu.”
       Dengan demikian antara Masih Mau’ud a.s. dengan Mushlih Mau’ud r.a. bukan saja memiliki  hubungan secara jasmani sebagai ayah dan anak, tetapi juga memiliki hubungan ruhani  yang sangat khusus.  Penjelasan Mushlih Mau’ud r.a. tersebut sangat erat kaitannya dengan wahyu Ilahi yang diterima Masih Mau’ud a.s. mengenai    kelahiran “putra yang dijanjikan” tersebut  yang diumumkan melalui  Isytihar (selebaran), yang karena kertas selebarannya berwarna  hijau sehingga dikenal sebagai “Selebaran Hijau.”

Nubuatan  Kelahiran “Putra yang Dijanjikan

       Dalam Isytihar  tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda (menulis): “Nubuatan pertama bi ilhaamillaahi Ta’aala wa i’laamihii (Dengan perantaraan ilham dan pemberitahuan-Nya) Tuhan ‘Azza wa Jalla yang Rahiim (Maha Penyayang), Kariim (Maha Mulia) dan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu (jalla syaanah wa ‘azza ismuhuu) Dia berfirman kepadaku lewat ilham, “Aku anugerahkan sebuah Tanda Rahmat kepada engkau sesuai dengan permohonan engkau kepada-Ku. Maka telah Aku mendengar rintihan doa engkau dan dengan kasih-sayang-Ku permohonan doa engkau telah Aku kabulkan. Dan perjalanan engkau [perjalanan ke Hoshiarpur dan Ludhiana] telah diberkati bagi engkau. Maka telah diberikan   kepada engkau tanda Qudrat (Kekuasaan) dan Rahmat (kasih-sayang) serta Qurbat (kecintaan, kedekatan). Tanda Fadhl (Karunia) dan Ihsaan (Kebaikan) telah dianugerahkan kepada engkau dan engkau mendapat kunci Fath (kemenangan) dan kunci Zhafr (kejayaan, pertolongan).
         Hai Muzhaffar (orang yang berjaya)! Salaam (selamat sejahtera) atas engkau!’ Tuhan Yang telah berfirman ini, ‘Supaya mereka yang menghendaki kehidupan   selamat dari cengkeraman maut (kematian) dan mereka yang terbenam di dalam kubur agar keluar dari padanya, dan supaya nampak kepada manusia kemuliaan agama Islam dan derajat tinggi Kalam Allah, dan supaya kebenaran tegak bersama semua berkat-berkatnya dan supaya kebatilan jauh sirna bersama kesialannya. Dan supaya manusia paham bahwa Aku ini Qaadir (Maha Kuasa) Aku berbuat sesuai dengan keinginan-Ku, supaya manusia menjadi sangat yakin bahwa Aku ada bersama engkau. Dan supaya orang-orang yang tidak beriman kepada Wujud Tuhan dan memandang dengan pandangan ingkar dan kedustaan terhadap Tuhan dan terhadap agama Tuhan dan terhadap Kitab-Nya dan terhadap Rasul Suci-Nya Muhammad Mustafa (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) mendapat Tanda yang sangat terbuka (jelas, terang-benderang) dan supaya nampak jelas jalan orang-orang berdosa.
         Maka kabar gembira  bagi engkau! Seorang anak lelaki yang bersih dan suci akan dianugerahkan kepada engkau. Engkau akan mendapat seorang anak lelaki yang suci. Anak itu akan lahir dari benih keturunan engkau. Seorang anak lelaki yang tampan dan suci akan datang sebagai tamu engkau. Namanya Emanuel dan Bashir juga. Kepadanya diberikan ruh suci. Dia suci bersih dari dosa dan dia adalah Nur Allah.
        Penuh keberkahanlah dia yang datang dari langit. Dia didampingi Fadhl (karunia) yang turun bersama-sama kedatangannya. Dia memiliki syakwah (kehormatan), ‘izhmat (keagungan) dan daulat (kemakmuran, kekayaan). Dia akan datang ke dunia dan melalui berkat-berkat Masihi Nafs (jiwa/ruh  Masih)  dan Ruhul Haqq-nya dia akan menyembuhkan banyak orang dari penyakit-penyakit mereka.
       Dia adalah Kalimatullaah, sebab dia telah dikirim oleh Rahmat dan Ghairat Tuhan dengan kalimah Tamjid-Nya (pujian-Nya). Dia akan sangat pandai dan sangat cerdas sedangkan hatinya sangat lembut, dan dia akan dibekali penuh dengan ilmu-ilmu pengetahuan zhahiri dan bathini, dan dia akan merubah 3 menjadi 4.
         Hari Senin! Beberkatlah hari Senin itu! Anak cemerlang, mulia dan terhormat, ‘mazhharul awwali wal aakhiri, (manifestasi Yang Maha Awwal dan Akhir), Mazhhar al-Haqq wal ‘Alaa-i (manifestasi Yang Maha Benar dan Maha Tinggi),  ka-annallaaha nazala minas samaa’ (seakan-akan Allah turun dari langit). Kedatangannya sangat penuh keberkahan dan menjadi sebab penampakan kegagahan Ilahi [jalaali Ilahi].
      Cahaya datang. Cahaya yang Tuhan telah sirami dengan air harum keridhaan-Nya. Akan Kami masukkan ruh Kami ke dalamnya dan naungan Tuhan akan selalu di atas kepalanya. Dia akan cepat sekali mengalami kemajuan dan dia akan menjadi pembebas para tawanan, dan dia akan masyhur sampai ke pelosok-pelosok bumi, dan bangsa-bangsa akan mendapat banyak berkat darinya sampai noktah (titik) jiwanya diangkat ke arah langit, maka sempurnalah seluruh pekerjaan."

Peringatan Bagi Para Penentang  Masih Mau’ud a.s.

      Demikianlah ilham (wahyu) Ilahi berkenaan dengan kelahiran “putra yang dijanjikan” yang kemudian dikenal dengan Mushlih Mau’ud r.a.  yakni Khalifatul Masih II, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a.. Selanjutnya   Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah bersabda (menulis) lagi:
        “Allah Ta’ala Yang Maha Mulia dengan Keagungan Tanda-Nya memberikan kabar gembira kepadaku, ‘Rumah engkau akan dipenuhi berbagai karunia dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas engkau. Engkau akan memiliki banyak anak keturunan melalui wanita-wanita yang diberkati, yang sebagian di antaranya akan engkau dapati di hari kemudian.
        Keturunan engkau akan sangat banyak dan Aku akan memperbanyak anak keturunan engkau dan memberkatinya; namun sebagian di antara mereka ada yang meninggal di usia dini.  Keturunan engkau akan banyak menyebarluas di berbagai negeri, dan saudara-saudara engkau dari kakek-kakek engkau yang menjadi penentang engkau akan terpotong, dan berakhir dalam kondisi tidak berketurunan (abtar).
         Jika mereka tidak bertobat, Tuhan akan menurunkan kepada mereka bencana demi bencana sehingga akan menghapus jejak mereka, rumah-rumah mereka akan dipenuhi para janda, dan azab Ilahi akan turun mengepung keempat dinding rumah mereka. Tetapi jika mereka bertobat, maka Tuhan pun akan menyambut mereka dengan Sifat kasih-sayang-Nya.
         Tuhan akan menyebarluaskan segala keberkatan engkau ke sekeliling engkau, dan akan memakmurkan sebuah bait (rumah) yang telah menjadi puing-puing dengan perantaraan engkau. Lalu akan mengganti ketakutan yang ada di dalamnya dengan berbagai keberkatan. Anak keturunan engkau tidak akan terputus, melainkan akan terus tumbuh berkembang hingga akhir hari (kiamat).
         Tuhan akan memelihara nama baik engkau dengan   penuh kemuliaan hingga ketika hari telah berakhir (kiamat), dan akan menyampaikan da’wa (klaim, pengakuan, pernyataan) engkau hingga ke pelosok-pelosok dunia. Aku akan mengangkat nama engkau, dan memanggil nama engkau kepada-Ku. Akan tetapi nama engkau tidak akan pernah terhapus dari muka bumi, dan akan terjadi demikian, bahwa mereka yang berpikir hendak menghina engkau, berencana hendak menggagalkan dan menghancurkan engkau, justru mereka yang akan mati dalam keadaan mengalami frustrasi; nihil tanpa tercapai cita-cita mereka. Akan tetapi Tuhan akan mengaruniai engkau dengan segala keberhasilan, dan mengabulkan segala yang engkau cita-citakan.
        Aku akan menambahkan [memajukan] bagi engkau golongan orang-orang yang menaruh kecintaan kepada engkau dan yang senantiasa menolong engkau, dan memberikan keberkatan kepada diri mereka dan juga harta benda mereka. Jumlah mereka akan terus bertambah dan unggul atas golongan lain dari kaum Muslimin yang mencemburui dan memusuhi engkau. Tuhan pun tidak akan melupakan mereka (para pengikut engkau yang penuh kecintaan); tidak akan meremehkan mereka; melainkan justru akan memberi ganjaran pahala sesuai dengan derajat keikhlasan masing-masing.
       Engkau bagi-Ku adalah sebagaimana (seperti) para nabi Bani Israil.  Engkau bagi-Ku adalah seperti Tauhid-Ku. Engkau adalah dari Diri-Ku dan Aku adalah dari diri engkau. Saat itu akan datang bahkan sudah semakin dekat. Sungguh sudah dekat, manakala Tuhan akan memasukkan sikap kasih-sayang kepada engkau ke dalam kalbu para raja dan para amir (pemimpin bangsa dan negara) sedemikian rupa, sehingga mereka itu pun akan mencari berkat dari pakaian jubah engkau.
        Wahai kalian yang menyangkal dan menentang kebenaran, jika kalian meragukan abdi-Ku ini; yakni jika kalian   menyangkali segala karunia dan kebaikan yang telah Kami anugerahkan kepada hamba  Kami, cobalah kalian perlihatkan beberapa Tanda rahmat semacam itu kepada diri kalian sendiri, jika kalian memang orang-orang yang benar, dan jika engkau tidak mampu memperlihatkannya; sesungguhnya kalian memang tidak akan sanggup untuk menunjukkannya, maka takutilah akan Api [Neraka Jahannam] yang telah disediakan bagi para pembangkang, pendusta dan pelampau batas (zalim).”  (Isytihar, 20 Pebruari 1886, Majmu'ah Isytiharat jilid I, hal. 102-103, Mathbu'ah London).

Kemunculan Matsiil Para Rasul Allah di Berbagai Zaman &  Tafsir Kabir dan Tafsir Shaghir

         Demikianlah nubuatan mengenai kelahiran “putra yang dijanjikan” dari  Masih Mau’ud a.s., yang juga sebagai Khalifahnya  yang kedua (Khalifatul Masih II), sebagai Mushlih Mau’ud r.a. dan sebagai matsiilnya: “Ana al-Masihul-Mau’udu, Matsiiluhu wa khalifatuhu (Aku adalah Masih Mau’ud, yang  menyerupainya dan khalifahnya”.
      Kemunculan para matsiil (misal) seperti itu sudah lazim terjadi dalam dunia agama, misalnya Nabi Besar Muhammad saw. merupakan matsiil (yang seperti) Nabi Musa a.s. (Ulangan 18:18; QS.46:11); Nabi Yahya a.s. bin Nabi Zakaria a.s. adalah matsiil Nabi Elia a.s. (Nabi Ilyas a.s. – Matius 10:7-15); Mirza Ghulam Ahmad a.s.  merupakan matsiil  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58).
         Selain karya tulis  dan berbagai pidato (ceramah & khutbah) Mushlih Mau’ud r.a.  yang  ribuan  jumlahnya, karya tulis  lainnya yang  sangat terkenal adalah   dua macam Tafsir Al-Quran, yakni (1)  Tafsir Kabir sebanyak 10 jilid yang penjelasan tafsirnya sangat terinci sehingga  memerlukan waktu penulisan yang cukup memakan waktu dan hanya Surah-surah Al-Quran tertentu saja saja yang sempat beliau jelaskan tafsirnya,  yakni sebanyak 10 jilid yang  berjumlah  10.000 halaman;  dan  (2) Tafsir Shagir merupakan  tafsir lengkap seluruh Al-Quran.   
       Tidak dipungkiri bahwa sumber utama dari tafsir Al-Quran karya Mushlih Mau’ud r.a. yang sangat luar biasa tersebut adalah khazanah-khazanah ruhani Al-Quran yang dibukakan Allah Swt. kepada Al-Masih Mau’ud a.s., yang antara lain tercantum dalam karya tulis beliau sebanyak 84 buah buku.
       Penganugerahan   khazanah ruhani Al-Quran kepada Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Al-Quran, bahwa hnya kepada Rasul Allah itulah Allah Swt. membukakan rahasia-rahadsia gaib-Nya (QS.3:180),  firman-Nya:
   عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾    
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,  supaya  Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Tuhan mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
  Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan tentang peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
 Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa  lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib   -- penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
  Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
   Jadi, sebagaimana khazanah-khazanah ruhani Al-Quran yang dibukakan Allah Swt. kepada Mushlih Mau’ud r.a.   – yang merupakan matsiil (misal) Masih Mau’ud a.s.  --  merupakan bagian dari pembukaaan khazanah ruhani Al-Quran yang dibukakan Allah Swt. di Akhir Zaman ini kepada Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, demikian pula keberkatan ruhani luar-biasa yang dianugerahkan Allah Swt. kepada Al-Masih Mau’ud a.s. pun tidak bisa dipisahkan  dari keberkatan Nabi Besar Muhammad saw., sebagai akibat  kecintaan dan kepatuh-taatan sempurna beliau a.s. kepada Nabi Besar Muhammad saw..

 Pengutusan Kedua Kali Secara Ruhani  Nabi Besar Muhammad Saw.

 Mengapa demikian? Sebab  MIrza Ghulam Ahmad a.s. bukan saja merupakan matsiil (misal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), juga merupakan perwujudan pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta hurufseorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada me-reka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ   --   Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar  (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
     Ayat 3 menjelaskan bahwa tugas suci Nabi Besar Muhammad saw.  meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat ini. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau saw., sebab untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu leluhur beliau saw., Nabi Ibrahim a.s.,  telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s., beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:130).
Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu (mushlih) dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajarannya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa lain.
   Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau  saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, sedangkan  contoh mulia beliau saw. menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat 3.
  Ayat 4:    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”.   Ajaran  Nabi Besar Muhammad saw.    ditujukan bukan kepada bangsa Arab belaka, yang di tengah-tengah bangsa itu beliau dibangkitkan, melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga kiamat.
    Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   akan dibangkitkan di antara kaum Muslim yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw.. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan  Nabi Besar Muhammad saw.   untuk kedua kali dalam wujud  Masih Mau’ud a.s.  di Akhir Zaman.
   Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.,  ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata  Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.    Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
     Hadits  Nabi Besar Muhammad saw.   ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.  Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi. Hadits  Nabi Besar Muhammad saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 3 Agustus 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar