بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 1
Pembukaan Khazanah
Ruhani Al-Quran Kepada Masih
Mau’ud a.s. dan Mushlih Mau’ud r.a.
& Genapnya Nubuatan Dalam Surah Al-Fatihah
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
S
|
ebagaimana ditulis dalam Blog-blog saya sebelumnya, bahwa sumber
materi pembahasan berbagai topik Surah
Al-Quran adalah The Holy Quran -- editor Malik Ghulam Farid. Judul lengkapnya The
Holy Quran with English Translations & Commentary, yang merupakan rangkuman dari Tafsir
Al-Quran karya Mirza
Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a., Khalifatul Masih II Jemaat Ahmadiyah, yang
lebih terkenal dengan sebutan Mushlih
Mau’ud r.a. (Al-Mushlih al-Mau’ud
r.a.),
Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a.
adalah “putra yang dijanjikan” dari Mirza
Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s. (Al-Masih-al-Mau’ud a.s), Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Mushlih Mau’ud r.a. (Al-Mushlih
al-Mau’ud). Beliau selain sebagai “putra yang dijanjikan” dari Masih Mau’ud a.s. dan sebagai Khalifatul-Masih
II, beliau pun berdasarkan rukya (pengalaman ruhani) yang dialaminya juga adalah sebagai matsiil (misal) Masih
Mau’ud a.s., sebagaimana pengakuan
beliau:
“Saya merasakan
kalimat berikut ini dimasukkan ke dalam
lidah saya: “Ana al-Masihul-Mau’udu,
Matsiiluhu wa khalifatuhu (Aku adalah Masih
Mau’ud, yang menyerupainya dan khalifahnya”.
Kalimat ini sangat ganjil keluar dari mulut saya -- jika hal ini sesuatu yang terjadi di dunia
nyata maka akan terasa sangat ganjil. Namun hal ini juga terasa begitu ganjil
bahkan di dalam kasyaf (rukya)
saya, sehingga saya hampir-hampir
terbangun oleh goncangannya -- betapa
luar-biasanya kalimat (kata-kata)
yang keluar dari mulut saya itu.”
Dengan demikian antara Masih Mau’ud a.s. dengan Mushlih Mau’ud r.a. bukan saja
memiliki hubungan secara jasmani
sebagai ayah dan anak, tetapi juga memiliki hubungan ruhani yang sangat khusus. Penjelasan Mushlih
Mau’ud r.a. tersebut sangat erat kaitannya dengan wahyu Ilahi yang diterima Masih
Mau’ud a.s. mengenai kelahiran “putra yang dijanjikan” tersebut yang diumumkan melalui Isytihar
(selebaran), yang karena kertas selebarannya berwarna hijau
sehingga dikenal sebagai “Selebaran Hijau.”
Nubuatan Kelahiran “Putra yang Dijanjikan”
Dalam Isytihar tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda
(menulis): “Nubuatan pertama bi
ilhaamillaahi Ta’aala wa i’laamihii (Dengan perantaraan ilham dan
pemberitahuan-Nya) Tuhan ‘Azza wa Jalla yang Rahiim (Maha Penyayang), Kariim
(Maha Mulia) dan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu (jalla syaanah wa ‘azza ismuhuu) Dia berfirman kepadaku lewat ilham,
“Aku anugerahkan sebuah Tanda Rahmat
kepada engkau sesuai dengan permohonan
engkau kepada-Ku. Maka telah Aku mendengar rintihan
doa engkau dan dengan kasih-sayang-Ku permohonan
doa engkau telah Aku kabulkan. Dan perjalanan engkau [perjalanan ke
Hoshiarpur dan Ludhiana] telah diberkati bagi engkau. Maka telah diberikan kepada
engkau tanda Qudrat (Kekuasaan) dan Rahmat (kasih-sayang) serta Qurbat (kecintaan, kedekatan). Tanda Fadhl (Karunia) dan Ihsaan (Kebaikan) telah dianugerahkan kepada engkau dan engkau
mendapat kunci Fath (kemenangan) dan
kunci Zhafr (kejayaan, pertolongan).
Hai Muzhaffar (orang yang berjaya)! Salaam (selamat sejahtera) atas
engkau!’ Tuhan Yang telah berfirman ini, ‘Supaya mereka yang menghendaki
kehidupan selamat dari cengkeraman
maut (kematian) dan mereka yang terbenam di dalam kubur agar keluar dari
padanya, dan supaya nampak kepada manusia kemuliaan
agama Islam dan derajat tinggi Kalam
Allah, dan supaya kebenaran tegak
bersama semua berkat-berkatnya dan
supaya kebatilan jauh sirna bersama
kesialannya. Dan supaya manusia paham bahwa Aku ini Qaadir (Maha Kuasa) Aku berbuat sesuai dengan keinginan-Ku, supaya
manusia menjadi sangat yakin bahwa Aku
ada bersama engkau. Dan supaya orang-orang yang tidak beriman kepada Wujud Tuhan dan memandang dengan
pandangan ingkar dan kedustaan terhadap Tuhan dan terhadap agama
Tuhan dan terhadap Kitab-Nya dan
terhadap Rasul Suci-Nya Muhammad Mustafa
(shallallaahu ‘alaihi wa sallam) mendapat Tanda
yang sangat terbuka (jelas, terang-benderang) dan supaya nampak jelas jalan
orang-orang berdosa.
Maka
kabar gembira bagi engkau! Seorang anak lelaki yang
bersih dan suci akan
dianugerahkan kepada engkau. Engkau akan mendapat seorang anak lelaki yang suci.
Anak itu akan lahir dari benih
keturunan engkau. Seorang anak lelaki
yang tampan dan suci akan datang sebagai tamu
engkau. Namanya Emanuel dan Bashir juga. Kepadanya diberikan ruh suci. Dia suci bersih dari dosa dan
dia adalah Nur Allah.
Penuh keberkahanlah dia yang datang
dari langit. Dia didampingi Fadhl
(karunia) yang turun bersama-sama kedatangannya. Dia memiliki syakwah (kehormatan), ‘izhmat (keagungan) dan daulat (kemakmuran, kekayaan). Dia akan
datang ke dunia dan melalui berkat-berkat Masihi
Nafs (jiwa/ruh Masih)
dan Ruhul
Haqq-nya dia akan menyembuhkan
banyak orang dari penyakit-penyakit
mereka.
Dia adalah Kalimatullaah, sebab dia telah dikirim oleh Rahmat dan Ghairat Tuhan dengan
kalimah Tamjid-Nya (pujian-Nya). Dia
akan sangat pandai dan sangat cerdas sedangkan hatinya sangat lembut,
dan dia akan dibekali penuh dengan ilmu-ilmu
pengetahuan zhahiri dan bathini,
dan dia akan merubah 3 menjadi 4.
Hari Senin! Beberkatlah hari Senin itu! Anak cemerlang, mulia dan
terhormat, ‘mazhharul awwali wal aakhiri,
(manifestasi Yang Maha Awwal dan Akhir), Mazhhar al-Haqq wal ‘Alaa-i (manifestasi Yang Maha Benar dan Maha
Tinggi), ka-annallaaha nazala minas samaa’ (seakan-akan
Allah turun dari langit). Kedatangannya sangat penuh keberkahan dan menjadi
sebab penampakan kegagahan Ilahi [jalaali Ilahi].
Cahaya
datang. Cahaya yang Tuhan telah
sirami dengan air harum keridhaan-Nya.
Akan Kami masukkan ruh Kami ke dalamnya
dan naungan Tuhan akan selalu di atas
kepalanya. Dia akan cepat sekali mengalami kemajuan
dan dia akan menjadi pembebas para
tawanan, dan dia akan masyhur
sampai ke pelosok-pelosok bumi, dan bangsa-bangsa
akan mendapat banyak berkat darinya sampai noktah (titik) jiwanya diangkat ke arah langit, maka
sempurnalah seluruh pekerjaan."
Peringatan Bagi Para Penentang
Masih Mau’ud a.s.
Demikianlah ilham (wahyu) Ilahi
berkenaan dengan kelahiran “putra yang
dijanjikan” yang kemudian dikenal dengan Mushlih Mau’ud r.a. yakni
Khalifatul Masih II, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a.. Selanjutnya Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah bersabda (menulis)
lagi:
“Allah Ta’ala Yang Maha Mulia dengan Keagungan Tanda-Nya memberikan kabar gembira kepadaku, ‘Rumah engkau
akan dipenuhi berbagai karunia dan
Aku sempurnakan nikmat-Ku atas engkau.
Engkau akan memiliki banyak anak
keturunan melalui wanita-wanita yang
diberkati, yang sebagian di antaranya akan engkau dapati di hari kemudian.
Keturunan engkau akan sangat banyak dan
Aku akan memperbanyak anak keturunan engkau dan memberkatinya; namun sebagian
di antara mereka ada yang meninggal di usia dini. Keturunan engkau akan banyak menyebarluas di
berbagai negeri, dan saudara-saudara engkau dari kakek-kakek engkau yang
menjadi penentang engkau akan terpotong,
dan berakhir dalam kondisi tidak berketurunan (abtar).
Jika mereka tidak bertobat, Tuhan akan menurunkan kepada mereka bencana demi bencana
sehingga akan menghapus jejak mereka, rumah-rumah mereka akan dipenuhi para
janda, dan azab Ilahi akan turun
mengepung keempat dinding rumah mereka. Tetapi jika mereka bertobat, maka Tuhan
pun akan menyambut mereka dengan Sifat kasih-sayang-Nya.
Tuhan akan menyebarluaskan segala keberkatan engkau ke sekeliling engkau,
dan akan memakmurkan sebuah bait (rumah) yang telah menjadi puing-puing dengan
perantaraan engkau. Lalu akan mengganti ketakutan
yang ada di dalamnya dengan berbagai keberkatan.
Anak keturunan engkau tidak akan terputus, melainkan akan terus tumbuh
berkembang hingga akhir hari (kiamat).
Tuhan akan memelihara nama baik engkau dengan penuh kemuliaan hingga ketika hari telah
berakhir (kiamat), dan akan menyampaikan da’wa
(klaim, pengakuan, pernyataan) engkau hingga ke pelosok-pelosok dunia. Aku akan mengangkat nama engkau, dan
memanggil nama engkau kepada-Ku. Akan tetapi nama engkau tidak akan pernah
terhapus dari muka bumi, dan akan terjadi demikian, bahwa mereka yang berpikir
hendak menghina engkau, berencana
hendak menggagalkan dan menghancurkan
engkau, justru mereka yang akan mati
dalam keadaan mengalami frustrasi;
nihil tanpa tercapai cita-cita mereka. Akan tetapi Tuhan akan mengaruniai engkau dengan segala keberhasilan, dan mengabulkan segala
yang engkau cita-citakan.
Aku akan menambahkan [memajukan] bagi
engkau golongan orang-orang yang menaruh kecintaan
kepada engkau dan yang senantiasa menolong
engkau, dan memberikan keberkatan
kepada diri mereka dan juga harta benda mereka. Jumlah mereka akan terus bertambah dan unggul atas golongan lain dari kaum Muslimin yang mencemburui dan
memusuhi engkau. Tuhan pun tidak akan melupakan mereka (para pengikut engkau
yang penuh kecintaan); tidak akan meremehkan mereka; melainkan justru akan
memberi ganjaran pahala sesuai dengan derajat keikhlasan masing-masing.
Engkau
bagi-Ku adalah sebagaimana (seperti) para nabi
Bani Israil. Engkau bagi-Ku adalah
seperti Tauhid-Ku. Engkau adalah dari
Diri-Ku dan Aku adalah dari diri engkau. Saat
itu akan datang bahkan sudah semakin dekat. Sungguh sudah dekat, manakala Tuhan
akan memasukkan sikap kasih-sayang
kepada engkau ke dalam kalbu para raja
dan para amir (pemimpin bangsa dan negara)
sedemikian rupa, sehingga mereka itu pun akan mencari berkat dari pakaian jubah engkau.
Wahai kalian yang menyangkal dan menentang kebenaran, jika kalian meragukan abdi-Ku ini; yakni jika kalian menyangkali segala karunia dan kebaikan yang
telah Kami anugerahkan kepada hamba Kami, cobalah kalian perlihatkan beberapa Tanda rahmat semacam itu kepada diri
kalian sendiri, jika kalian memang orang-orang yang benar, dan jika engkau
tidak mampu memperlihatkannya; sesungguhnya kalian memang tidak akan sanggup
untuk menunjukkannya, maka takutilah akan
Api [Neraka Jahannam] yang telah disediakan bagi para pembangkang, pendusta
dan pelampau batas (zalim).” (Isytihar,
20 Pebruari 1886, Majmu'ah Isytiharat jilid I, hal. 102-103, Mathbu'ah London).
Kemunculan Matsiil Para Rasul Allah di Berbagai Zaman & Tafsir
Kabir dan Tafsir Shaghir
Demikianlah nubuatan mengenai kelahiran “putra yang dijanjikan” dari Masih Mau’ud a.s., yang juga sebagai Khalifahnya yang kedua (Khalifatul Masih II), sebagai
Mushlih Mau’ud r.a. dan sebagai matsiilnya:
“Ana al-Masihul-Mau’udu, Matsiiluhu wa
khalifatuhu (Aku adalah Masih Mau’ud,
yang menyerupainya
dan khalifahnya”.
Kemunculan para matsiil (misal) seperti itu sudah lazim terjadi dalam dunia agama,
misalnya Nabi Besar Muhammad saw. merupakan matsiil
(yang seperti) Nabi Musa a.s. (Ulangan
18:18; QS.46:11); Nabi Yahya a.s. bin Nabi Zakaria a.s. adalah matsiil Nabi Elia a.s. (Nabi Ilyas a.s.
– Matius 10:7-15); Mirza Ghulam Ahmad a.s. merupakan matsiil
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58).
Selain
karya tulis dan berbagai pidato (ceramah
& khutbah) Mushlih Mau’ud r.a. yang ribuan
jumlahnya, karya tulis lainnya yang
sangat terkenal adalah dua macam Tafsir
Al-Quran, yakni (1) Tafsir Kabir sebanyak 10 jilid yang
penjelasan tafsirnya sangat terinci
sehingga memerlukan waktu penulisan yang
cukup memakan waktu dan hanya Surah-surah Al-Quran tertentu saja saja yang
sempat beliau jelaskan tafsirnya, yakni
sebanyak 10 jilid yang berjumlah 10.000 halaman; dan (2)
Tafsir Shagir merupakan tafsir
lengkap seluruh Al-Quran.
Tidak dipungkiri bahwa sumber utama dari tafsir Al-Quran karya Mushlih Mau’ud r.a. yang sangat luar
biasa tersebut adalah khazanah-khazanah
ruhani Al-Quran yang dibukakan Allah Swt. kepada Al-Masih Mau’ud a.s., yang antara lain tercantum dalam karya tulis beliau sebanyak 84 buah buku.
Penganugerahan khazanah
ruhani Al-Quran kepada Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Al-Quran, bahwa
hnya kepada Rasul Allah itulah Allah
Swt. membukakan rahasia-rahadsia gaib-Nya
(QS.3:180), firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ
اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ
یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ
اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ
بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ
عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai, maka
sesungguhnya barisan pengawal berjalan
di hadapannya dan di belakangnya,
supaya Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyampaikan
Amanat-amanat Tuhan mereka, dan
Dia meliputi semua yang ada pada mereka
dan Dia membuat perhitungan mengenai
segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi
pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan tentang
peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
Ayat ini merupakan ukuran
yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia
gaib yang dibukakan kepada seorang rasul
Allah dan rahasia-rahasia gaib
yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib -- penguasaan atas
yang gaib, maka rahasia-rahasia yang
diturunkan kepada orang-orang bertakwa
dan orang-orang suci lainnya tidak
menikmati kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan
oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak
begitu terpelihara.
Jadi, sebagaimana khazanah-khazanah ruhani Al-Quran yang
dibukakan Allah Swt. kepada Mushlih
Mau’ud r.a. – yang merupakan matsiil (misal) Masih Mau’ud a.s. -- merupakan bagian dari pembukaaan khazanah ruhani Al-Quran yang dibukakan
Allah Swt. di Akhir Zaman ini kepada Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, demikian pula keberkatan ruhani luar-biasa yang
dianugerahkan Allah Swt. kepada Al-Masih
Mau’ud a.s. pun tidak bisa dipisahkan
dari keberkatan Nabi Besar
Muhammad saw., sebagai akibat kecintaan dan kepatuh-taatan sempurna beliau a.s. kepada Nabi Besar Muhammad
saw..
Pengutusan
Kedua Kali Secara Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.
Mengapa demikian?
Sebab MIrza Ghulam Ahmad a.s. bukan saja
merupakan matsiil (misal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58),
juga merupakan perwujudan pengutusan
kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara
ruhani di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta hurufseorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
me-reka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- Dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain dari
antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ -- Itulah
karunia Allah, Dia menganugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
Ayat 3 menjelaskan bahwa tugas suci Nabi Besar Muhammad saw. meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat
ini. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau saw., sebab
untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu leluhur beliau saw., Nabi Ibrahim
a.s., telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang
lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s., beliau
mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah
(QS.2:130).
Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu
(mushlih) dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan
dengan contoh mulia dan
quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat
yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan
bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas
ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajarannya itu,
kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa
lain.
Didikan yang Nabi Besar
Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas
dan mempertajam kecerdasan mereka,
dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan
dalam diri mereka keyakinan iman, sedangkan
contoh
mulia beliau saw. menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh
ayat 3.
Ayat 4:
وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. Ajaran Nabi Besar Muhammad saw. ditujukan
bukan kepada bangsa Arab belaka, yang
di tengah-tengah bangsa itu beliau dibangkitkan, melainkan kepada seluruh
bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan demi keturunan
manusia yang akan datang hingga kiamat.
Atau ayat ini dapat juga
berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. akan
dibangkitkan di antara kaum Muslim yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw.. Isyarat
di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada
pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. untuk
kedua kali dalam wujud Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman.
Abu Hurairah r.a. berkata:
“Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw., ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta
keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh
kata-kata Dan Dia akan
membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan
mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
Setelah saya berulang-ulang mengajukan
pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau pada Salman
dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari
mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi Besar Muhammad saw. ini
menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan
Parsi. Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat
Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi. Hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya
menyebutkan kedatangan Al-Masih pada
saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya,
dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran
Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 3 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar