Rabu, 12 Agustus 2015

Makna Ayat "Alhamdulillaahi-Rabbil-'aalamiin" (Segala Puji Bagi Allah Rabb/Tuhan Seluruh Alam & Pentingnya Pemberian Nama yang Baik


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 7  

Makna Ayat  “Alhamdulillāhi- Rabbil- ‘ālamīn”  (Segala Puji Bagi Allah Rabb/Tuhan Seluruh Alam)  & Pentingnya Pemberian Nama yang Baik

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai tuduhan para kritikus non-Muslim berkenaan Al-Quran, khususnya tentang  kalimat بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ , bahwa  jika  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  dikenal sebelum Al-Quran diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw., maka hal itu malah mendukung kebenaran ajaran Al-Quran bahwa tidak ada satu kaum pun yang kepadanya tidak pernah diutus seorang Pemberi Ingat (QS.35:25), dan juga bahwa  Al-Quran itu adalah khazanah seluruh kebenaran yang kekal dan termaktub dalam Kitab-kitab Suci sebelumnya (QS.98:5).
         Al-Quran tentu menambah lebih banyak lagi dan apa pun yang diambil-alihnya, Al-Quran memperbaiki bentuk atau pemakaiannya, atau memperbaiki kedua-duanya, sebagaimana firman-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ  اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Ayat  mana pun yang Kami mansukhkan   yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang semisalnya. Apakah kamu tidak  mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?  (Al-Baqarah [2]:107).

Pemansukhan (Pembatalan) Syariat Lama dengan Syariat yang Paling Sempurna

      Ayah berarti, pesan, tanda, perintah atau ayat Al-Quran (Lexicon Lane).   Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan (dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat Al-Quran, melainkan hukum-hukum syariat yang diwahyukan sebelum Al-Quran.
      Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian  mereka terhadap wahyu baru yang menunjukkan bahwa āyah yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh (batal)  menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu. Dijelaskan bahwa Kitab Suci terdahulu mengandung dua macam perintah:
       (a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu  menghendaki pembatalan;
    (b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt.  menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu terdahulu, menggantikannya dengan yang baru dan lebih baik, dan di samping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
         Al-Quran telah    membatalkan semua Kitab Suci sebelumnya (QS.3:20 & 86) sebab — mengingat keadaan umat manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama (QS.5:4) dan terpelihara (QS.15:10), tetapi ditujukan pula kepada seluruh umat manusia dari semua zaman (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29). Ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan tempatnya kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal.
         Dalam ayat ini kata nansakh (Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik), dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā (yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang lain. Diakui oleh ulama-ulama Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar (QS.2:260), seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa a.s.) telah hilang (Encyclopaedia Biblica). 

Makna Kalimat Alhamdulillāh  &  Perbedaan kata Hamd dengan Madah

          Demikianlah penjelasan mengenai  ayat  pertama Surah Al-Fatihah, yakni  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ   -- “Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾
Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam  (Al-Fatihah  [1]:2).
       Dalam bahasa Arab, al itu lebih-kurang sama artinya dengan kata  “the” dalam bahasa Inggeris. Kata al dipergunakan untuk menunjukkan keluasan yang berarti meliputi semua segi atau jenis sesuatu pokok, atau untuk melukiskan kesempurnaan, yang juga suatu segi keluasan,   karena meliputi semua tingkat dan derajat. Al dipakai juga untuk menyatakan sesuatu yang telah disebut atau suatu pengertian atau konsep yang ada dalam pikiran.
       Dalam bahasa Arab dua kata madah dan hamd, dipakai dalam arti pujian atau syukur, tetapi kalau madah  mungkin palsu, sedangkan hamd senantiasa benar. Lagi pula, madah dapat dipakai mengenai perbuatan baik yang tidak dikuasai oleh pelakunya, tetapi hamd hanya dipakai mengenai perbuatan yang dilakukan dengan kerelaan hati dan dengan kemauan sendiri (Al-Mufradat). Contohnya penghormatan  berlebihan dari para penganut “Trinitas” dan “Penebusan dosa” terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan “mempertuhankannya”, yang ditolak sendiri oleh beliau (QS.5:117-119).
        Hamd mengandung pula arti: pengaguman, penyanjungan, dan penghormatan terhadap yang dituju oleh pujian itu, dan kerendahan, kehinaan, dan kepatuhan orang yang memberi pujian (Lexicon Lane). Jadi hamd  adalah kata yang paling tepat dipakai di sini, untuk maksud mengutarakan kebaikan, dan puji-pujian yang sungguh wajar lagi layak serta  sebagai sanjungan akan kemuliaan Allah Swt..   Menurut kebiasaan, kata hamd kemudian menjadi khusus ditujukan hanya kepada  Allah Swt.
       Nabi Besar Muhammad saw.  bersabda mengenai pentingnya pemberian nama yang baik kepada  anak-keturunan agar menjadi doa serta harapan kedua orangtuanya  sesuai dengan nama baik yang diberikan  tersebut. Contohnya istri Imran telah memberi nama Maryam  kepada bayi perempuan yang dilahirkannya, firman-Nya:
اِذۡ  قَالَتِ امۡرَاَتُ عِمۡرٰنَ رَبِّ اِنِّیۡ نَذَرۡتُ لَکَ مَا فِیۡ بَطۡنِیۡ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلۡ مِنِّیۡ ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾  فَلَمَّا وَضَعَتۡہَا قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ وَضَعۡتُہَاۤ  اُنۡثٰی ؕ وَ اللّٰہُ اَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ ؕ وَ لَیۡسَ الذَّکَرُ  کَالۡاُنۡثٰی ۚ وَ اِنِّیۡ سَمَّیۡتُہَا مَرۡیَمَ وَ اِنِّیۡۤ  اُعِیۡذُہَا بِکَ وَ ذُرِّیَّتَہَا مِنَ الشَّیۡطٰنِ  الرَّجِیۡمِ ﴿﴾
Ingatlah, ketika perempuan (istri) ‘Imran  berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), se-sungguhnya apa yang ada dalam kandunganku   aku bebaskan sebagai nazar bagi Engkau,  maka terimalah dia dariku, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”   Maka tatkala ia yakni istri ’Imran telah melahirkannya ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya bayi yang kulahirkan ini seorang perempuan;  dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu,  sedangkan  anak lelaki yang diharapkannya itu tidaklah sama baiknya seperti anak perempuan ini;  وَ اِنِّیۡ سَمَّیۡتُہَا مَرۡیَمَ --  dan bahwa aku mena-mainya Maryamوَ اِنِّیۡۤ  اُعِیۡذُہَا بِکَ وَ ذُرِّیَّتَہَا مِنَ الشَّیۡطٰنِ  الرَّجِیۡمِ  --   dan sesungguhnya aku memohon perlindungan Engkau untuknya dan keturunannya dari syaitan yang terkutuk   (Ali ‘Imran [3]:36-37).
         Anak kalimat  وَ اِنِّیۡ سَمَّیۡتُہَا مَرۡیَمَ – “dan  aku menamainya Maryam”, mengandung doa kepada Allah Swt. secara tidak langsung, untuk menjadikannya seorang anak perempuan yang mulia dan baik serta shalihah, seperti nampak dari arti kata Maryam  yakni   mulia atau seorang ahli ibadah yang saleh).
        Maryam binti ‘Imran  adalah  ibunda Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  beliau mungkin diberi nama yang sama dengan saudara perempuan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.,   yang dikenal dengan nama Miriam. Kata itu, yang adalah kata majemuk dalam bahasa Ibrani, berarti: bintang laut; nyonya atau perempuan  bangsawan; mulia; ahli ibadah yang saleh (Cruden’s  Complete Concordance to The Old and The New Testaments and Aphorcrypha; Al-Kasysyaf  ‘an Ghawamidh al-Tanzil; dan Encyclopaedia Biblica).

Nabi Yahya a.s.  atau Yohanan (Yohanes/St. John)

      Pada hakikatnya nama-nama para rasul Allah dalam Al-Quran memiliki arti yang baik, di antaranya ada  yang diberi nama oleh Allah Swt., contohnya    Yahya     anak Nabi Zakaria a.s., firman-Nya:
ذِکۡرُ  رَحۡمَتِ  رَبِّکَ  عَبۡدَہٗ   زَکَرِیَّا  ۖ﴿ۚ﴾ اِذۡ  نَادٰی  رَبَّہٗ  نِدَآءً  خَفِیًّا ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ وَہَنَ الۡعَظۡمُ مِنِّیۡ وَ اشۡتَعَلَ الرَّاۡسُ شَیۡبًا وَّ لَمۡ  اَکُنۡۢ بِدُعَآئِکَ  رَبِّ  شَقِیًّا ﴿﴾  وَ اِنِّیۡ خِفۡتُ الۡمَوَالِیَ مِنۡ وَّرَآءِیۡ وَ کَانَتِ  امۡرَاَتِیۡ عَاقِرًا فَہَبۡ لِیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ  وَلِیًّا  ۙ﴿﴾ یَّرِثُنِیۡ وَ یَرِثُ مِنۡ اٰلِ یَعۡقُوۡبَ ٭ۖ وَ اجۡعَلۡہُ   رَبِّ  رَضِیًّا ﴿﴾  یٰزَکَرِیَّاۤ  اِنَّا نُبَشِّرُکَ بِغُلٰمِۣ اسۡمُہٗ یَحۡیٰی ۙ لَمۡ  نَجۡعَلۡ  لَّہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ  سَمِیًّا ﴿﴾
Inilah penjelasan mengenai rahmat Rabb (Tuhan) engkau kepada hamba-Nya Zakaria,  ketika ia berseru kepada Rabb-nya (Tuhan-nya), dengan seruan  yang lembut,  ia berkata: "Ya, Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya  tulang-tulangku telah menjadi lemah, dan kepala telah dipenuhi uban, tetapi ya Rabb-ku (Tuhan-ku) aku tidak pernah  kecewa dalam berdoa kepada Engkau. Dan sesungguhnya aku khawatir akan kaum-keluargaku  di belakangku, sedangkan  istriku mandul, maka  anugerahilah aku seorang penerus dari sisi Engkau, yang  akan menjadi pewarisku dan pewaris keturunan Ya'qub, dan  ya Rabb-ku (Tuhan-ku),  jadikanlah dia seorang yang diridhai. ٰزَکَرِیَّاۤ  اِنَّا نُبَشِّرُکَ بِغُلٰمِۣ اسۡمُہٗ یَحۡیٰی  --  Allah berfirman: "Ya Zakaria,  Kami memberikan kabar gembira  kepada engkau mengenai seorang anak laki-laki namanya Yahyaلَمۡ  نَجۡعَلۡ  لَّہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ  سَمِیًّا --  Kami tidak pernah menyebut seorang pun sebelum dia  dengan nama itu.  (Maryam [19]:3-8).
  Samiy dalam ayat یٰزَکَرِیَّاۤ  اِنَّا نُبَشِّرُکَ بِغُلٰمِۣ اسۡمُہٗ یَحۡیٰی  -- “Allah berfirman: "Ya Zakaria,  Kami memberikan kabar gembira  kepada engkau mengenai seorang anak laki-laki namanya Yahya.          لَمۡ  نَجۡعَلۡ  لَّہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ  سَمِیًّا -- Kami tidak pernah menyebut seorang pun sebelum dia  dengan nama itu,” samiy berarti: saingan atau penantang untuk mencapai keunggulan dalam kemuliaan atau keagungan atau keutamaan; yang serupa atau senama; yang senama dengan orang lain (Lexicon Lane).
   Jadi, ayat            لَمۡ  نَجۡعَلۡ  لَّہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ  سَمِیًّا -- Kami tidak pernah menyebut seorang pun sebelum dia  dengan nama itu,”    tidak berarti  bahwa sebelum Nabi Yahya a.s. bin Zakaria a.s.   tidak ada orang yang senama dengan beliau. Dari Bible sendiri pun nampak, bahwa sebelum beliau banyak orang yang bernama Yahya   (Yohanan/Yohanes/John): (1) Yohanan (Yahya) bin Kareah  -- II Raja-raja 25:23; Yermia 43:4-5; (2) Yohanan (Yahya) bin Yosia -I Tawarikh 3:15; (3) Yohanan (Yahya) bin Hakatan -  Ezra 8:12).
   Orang-orang lain yg juga bernama Yohanan (Yahya):   anak Elyoenai (1 Taw 3:24); cucu Ahimaas (1 Taw 6:9-19); seorang suku Benyamin, yg bergabung menjadi tentara Daud di Ziklag (1 Taw 12:4); seorang suku Gad yg juga bergabung dengan Daud (1 Taw 12:12); seorang pimpinan dari suku Efraim (2 Taw 28:12; bh Ibrani ialah 'Yehohanan'); seorang buangan yg kembali pada zaman Yoyakim (Neh 12:22-23).

Kekhasan Nabi Yahya a.s. &  Al-Masih Isa Ibnu Maryam a.s.

   Makna ayat        لَمۡ  نَجۡعَلۡ  لَّہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ  سَمِیًّا -- Kami tidak pernah menyebut seorang pun sebelum dia  dengan nama itu,”  tidak pula berarti bahwa  Nabi Yahya a.s.   itu tidak tara bandingannya dalam segala segi. Nabi Yahya a.s. sendiri mengakui  "Kemudian dari aku ini akan datang kelak seorang yang lebih berkuasa dariku, maka untuk menguraikan tali kasutnya pun, aku ini tiada berlayak" (Matius 1:7).
    Ada pun yang dimaksud oleh perkataan Nabi Yahya a.s. (Yohanan/Yohanes/St. John) tersebut adalah Nabi Besar Muhammad saw., bukan Yesus  (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.), sebagaimana sengaja disalah-tafsirkan, sebab dalam peristiwa mikraj  Nabi Besar Muhammad saw. bertemu secara ruhani dengan Nabi Yahya a.s. yang berada di langit kedua bersama-sama dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., karena itu tidak tepat kalau ucapan Yahya (Yohanes/St.John) dalam Matius 1:7 tersebut tertuju kepada Yesus.
   Jadi, makna ayat        لَمۡ  نَجۡعَلۡ  لَّہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ  سَمِیًّا -- Kami tidak pernah menyebut seorang pun sebelum dia  dengan nama itu,”   hanya berarti bahwa:
(1) Nabi Yahya a.s.  tidak ada bandingan dalam suatu hal, yaitu  beliaulah nabi pertama yang datang sebagai perintis jalan bagi seorang nabi yang lain, yaitu Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s..
 (2) Nabi Yahya a.s.  tiada bandingan dalam segi  bahwa beliau adalah nabi pertama datang dengan kemampuan dan jiwa seorang nabi lain  yaitu  Nabi Ilyas a.s. (Nabi Ilyas a.s.), sehingga dalam Bible pengutusan Nabi Yahya a.s. dikatakan sebagai kedatangan kedua kali Nabi Elia a.s.  (Maleakhi 4:4-6; Matius  11:11-14), yaitu salah seorang  dari tiga orang rasul Allah yang kedatangannya ditunggu-tunggu para pemuka agama Yahudi, yaitu: (1) Nabi itu (nabi yang seperti MusaUlangan 18:18), (2)  kedatangan kedua kali   Nabi Elia a.s. (Ilyas a.s.)   --  Maleakhi 4:4-6; dan kedatangan  Mesias (Yohanes 1:19-28).
    Ada pun   mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  sebelum kelahirannya Allah Swt.    memberitahukan nama pribadi beliau  dan juga   nama gelarnya   yakni Al-Masih (Mesias/Mesiah) kepada ibunya, Maryam binti ‘Imran, firman-Nya:
اِذۡ قَالَتِ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یٰمَرۡیَمُ اِنَّ اللّٰہَ یُبَشِّرُکِ بِکَلِمَۃٍ مِّنۡہُ ٭ۖ اسۡمُہُ الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ وَجِیۡہًا فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ  وَ مِنَ الۡمُقَرَّبِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ یُکَلِّمُ النَّاسَ فِی الۡمَہۡدِ وَ کَہۡلًا  وَّ مِنَ  الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Ingatlah ketika para malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya  Allah memberi engkau kabar gembira dengan  satu kalimat  dari-Nya tentang kelahiran seorang anak laki-laki namanya Al-Masih  Isa Ibnu Maryam,  yang dimuliakan di dunia serta di akhirat, dan ia adalah dari antara orang-orang yang didekatkan kepada Allah.  (Ali ‘Imran [3]:46-47).
       Sebutan Masih seperti disebut di atas berarti pula “yang diurapi”, karena kelahiran Nabi Isa a.s. tidak sebagaimana lazimnya dan mudah dipandang tidak sah, maka untuk melenyapkan tuduhan  tersebut maka  beliau disebut Al-Masih, yakni  “yang telah diurapi” dengan urapan Allah Swt.  Sendiri, sama seperti para nabi Allah semuanya telah diurapi (disucikan).
          Kata ‘Isa agaknya bentuk ubahan dari kata Ibrani Yasu’, sedangkan Yesus adalah bentuk bahasa Yunani dari kata Yosua dan Yesua (Encyclopaedia Biblica).   Ibn Maryam itu nama-keluarga Nabi Isa a.s. yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai kuniyah. Yesus disebut Ibn Maryam mungkin karena disebabkan lahir tanpa ayah, sehingga beliau tidak dapat dikenal kecuali dengan nama ibunya yakni Ibnu Maryam.

Makna Nama “Muhammad” (Orang yang Terpuji) &  Penolakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mengenai “Trinitas” dan “Penebusan Dosa”  

        Kembali kepada makna kata hamd  dalam ayat   اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Segala puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam  (Al-Fatihah  [1]:2).   Dalam bahasa Arab, al itu lebih-kurang sama artinya dengan kata  “the” dalam bahasa Inggeris. Kata al dipergunakan untuk menunjukkan keluasan yang berarti meliputi semua segi atau jenis sesuatu pokok, atau untuk melukiskan kesempurnaan, yang juga suatu segi keluasan,   karena meliputi semua tingkat dan derajat. Al dipakai juga untuk menyatakan sesuatu yang telah disebut atau suatu pengertian atau konsep yang ada dalam pikiran, jadi kata alhamdu  artinya “segala puji”.
        Dalam bahasa Arab, dua kata madah dan hamd, dipakai dalam arti pujian atau syukur, tetapi kalau madah  mungkin palsu, sedangkan hamd senantiasa benar. Lagi pula, madah dapat dipakai mengenai perbuatan baik yang tidak dikuasai oleh pelakunya, tetapi hamd hanya dipakai mengenai perbuatan yang dilakukan dengan kerelaan hati dan dengan kemauan sendiri (Al-Mufradat).
    Contoh madah  adalah penghormatan berlebihan  orang-orang yang “mempertuhankan” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunya (Maryam binti ‘Imran), yang ditolak oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia:  اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  -- Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ  -- Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan  apa yang  sekali-kali  bukan hakkuاِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ  -- Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya.    Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.  Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, رَبَّکُمۡ  اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ --  yaitu:  Beribadahlah kepada Allah,  Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.”    Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.   Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijak-sana”    (Al-Maidah [5]:117-118).
        Jadi, dalam jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut terkandung penolakan beliau terhadap faham dusta “Trinitas” dan “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk beliau di tiang salib yang dipercayai oleh orang-orang yang berlebihan (melampaui batas) dalam memuji atau menghormati beliau dan ibunya.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 13 Agustus 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar