بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 7
Makna Ayat “Alhamdulillāhi-
Rabbil- ‘ālamīn” (Segala Puji Bagi
Allah Rabb/Tuhan Seluruh Alam) &
Pentingnya Pemberian Nama yang Baik
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai tuduhan para kritikus non-Muslim
berkenaan Al-Quran, khususnya tentang
kalimat بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ , bahwa jika بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
dikenal sebelum Al-Quran
diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw., maka hal itu malah mendukung kebenaran ajaran Al-Quran bahwa tidak
ada satu kaum pun yang kepadanya
tidak pernah diutus seorang Pemberi Ingat
(QS.35:25), dan juga bahwa Al-Quran itu
adalah khazanah seluruh kebenaran yang kekal dan termaktub dalam Kitab-kitab
Suci sebelumnya (QS.98:5).
Al-Quran tentu menambah lebih banyak lagi dan apa pun yang diambil-alihnya,
Al-Quran memperbaiki bentuk atau pemakaiannya, atau memperbaiki
kedua-duanya, sebagaimana firman-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ
اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan yakni
batalkan atau Kami biarkan terlupa,
maka Kami datangkan yang lebih baik
darinya atau yang semisalnya.
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa
sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu? (Al-Baqarah
[2]:107).
Pemansukhan (Pembatalan) Syariat
Lama dengan Syariat yang Paling
Sempurna
Ayah berarti, pesan, tanda, perintah
atau ayat Al-Quran (Lexicon Lane).
Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari
ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan
(dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu
dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat
Al-Quran, melainkan hukum-hukum syariat
yang diwahyukan sebelum Al-Quran.
Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian mereka terhadap wahyu
baru yang menunjukkan bahwa āyah yang disebut dalam ayat ini sebagai
mansukh (batal) menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu.
Dijelaskan bahwa Kitab Suci terdahulu
mengandung dua macam perintah:
(a) yang menghendaki penghapusan karena
keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu menghendaki
pembatalan;
(b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi,
atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan
kebenaran yang terlupakan, karena itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian
tertentu Kitab-kitab Suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan
pula menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt.
menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu
terdahulu, menggantikannya dengan yang baru
dan lebih baik, dan di samping itu
memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang
dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat
ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
Al-Quran telah membatalkan
semua Kitab Suci sebelumnya (QS.3:20 & 86) sebab — mengingat keadaan umat
manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat
baru yang bukan saja lebih baik
daripada semua syariat lama (QS.5:4)
dan terpelihara (QS.15:10), tetapi
ditujukan pula kepada seluruh umat
manusia dari semua zaman (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29). Ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan
tempatnya kepada ajaran yang lebih baik
dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal.
Dalam ayat ini kata nansakh
(Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik),
dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā
(yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara
waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan
orang, Dia menghidupkannya kembali
pada waktu yang lain. Diakui oleh ulama-ulama
Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa
Yahudi diangkut sebagai tawanan
ke Babil oleh Nebukadnezar (QS.2:260),
seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa
a.s.) telah hilang (Encyclopaedia
Biblica).
Makna Kalimat Alhamdulillāh
&
Perbedaan kata Hamd dengan Madah
Demikianlah penjelasan mengenai ayat
pertama Surah Al-Fatihah,
yakni بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- “Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾
Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Fatihah [1]:2).
Dalam bahasa Arab, al itu lebih-kurang
sama artinya dengan kata “the” dalam
bahasa Inggeris. Kata al dipergunakan untuk menunjukkan keluasan yang
berarti meliputi semua segi atau jenis sesuatu pokok, atau untuk melukiskan kesempurnaan, yang juga suatu segi keluasan, karena meliputi semua tingkat dan derajat. Al
dipakai juga untuk menyatakan sesuatu yang telah disebut atau suatu pengertian atau konsep yang ada dalam pikiran.
Dalam bahasa Arab dua kata madah
dan hamd, dipakai dalam arti pujian
atau syukur, tetapi kalau madah mungkin palsu,
sedangkan hamd senantiasa benar. Lagi pula, madah dapat dipakai
mengenai perbuatan baik yang tidak
dikuasai oleh pelakunya, tetapi hamd hanya dipakai mengenai perbuatan yang dilakukan dengan kerelaan hati dan dengan kemauan sendiri (Al-Mufradat). Contohnya penghormatan
berlebihan dari para penganut “Trinitas” dan “Penebusan dosa” terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan “mempertuhankannya”, yang ditolak sendiri oleh beliau
(QS.5:117-119).
Hamd mengandung pula arti:
pengaguman, penyanjungan, dan penghormatan terhadap yang dituju oleh pujian itu, dan kerendahan, kehinaan,
dan kepatuhan orang yang memberi pujian
(Lexicon Lane). Jadi hamd adalah kata yang paling tepat dipakai di
sini, untuk maksud mengutarakan kebaikan,
dan puji-pujian yang sungguh wajar
lagi layak serta sebagai sanjungan akan kemuliaan Allah Swt.. Menurut
kebiasaan, kata hamd kemudian menjadi khusus ditujukan hanya kepada Allah Swt.
Nabi Besar Muhammad saw. bersabda mengenai pentingnya pemberian nama yang baik kepada anak-keturunan
agar menjadi doa serta harapan kedua orangtuanya sesuai dengan nama baik yang diberikan tersebut. Contohnya istri Imran telah memberi nama Maryam
kepada bayi perempuan yang dilahirkannya, firman-Nya:
اِذۡ قَالَتِ امۡرَاَتُ عِمۡرٰنَ رَبِّ اِنِّیۡ
نَذَرۡتُ لَکَ مَا فِیۡ بَطۡنِیۡ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلۡ مِنِّیۡ ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ
السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ فَلَمَّا
وَضَعَتۡہَا قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ وَضَعۡتُہَاۤ
اُنۡثٰی ؕ وَ اللّٰہُ اَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ ؕ وَ لَیۡسَ الذَّکَرُ کَالۡاُنۡثٰی ۚ وَ اِنِّیۡ سَمَّیۡتُہَا
مَرۡیَمَ وَ اِنِّیۡۤ اُعِیۡذُہَا بِکَ وَ
ذُرِّیَّتَہَا مِنَ الشَّیۡطٰنِ
الرَّجِیۡمِ ﴿﴾
Ingatlah, ketika perempuan (istri) ‘Imran berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), se-sungguhnya apa yang ada dalam kandunganku
aku bebaskan sebagai nazar
bagi Engkau, maka terimalah dia dariku,
sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Maka tatkala ia yakni istri ’Imran telah melahirkannya ia berkata: “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), sesungguhnya bayi yang
kulahirkan ini seorang perempuan; dan Allah
lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, sedangkan
anak lelaki yang
diharapkannya itu tidaklah sama baiknya
seperti anak perempuan ini; وَ اِنِّیۡ سَمَّیۡتُہَا مَرۡیَمَ -- dan bahwa aku mena-mainya Maryam, وَ اِنِّیۡۤ اُعِیۡذُہَا بِکَ وَ
ذُرِّیَّتَہَا مِنَ الشَّیۡطٰنِ
الرَّجِیۡمِ -- dan sesungguhnya
aku memohon perlindungan Engkau untuknya dan keturunannya dari syaitan
yang terkutuk” (Ali ‘Imran [3]:36-37).
Anak kalimat وَ اِنِّیۡ
سَمَّیۡتُہَا مَرۡیَمَ – “dan
aku menamainya Maryam”,
mengandung doa kepada Allah Swt.
secara tidak langsung, untuk menjadikannya seorang anak perempuan yang mulia dan baik
serta shalihah, seperti nampak dari
arti kata Maryam yakni mulia
atau seorang ahli ibadah yang saleh).
Maryam
binti ‘Imran adalah ibunda
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., beliau
mungkin diberi nama yang sama dengan saudara perempuan Nabi Musa a.s. dan
Nabi Harun a.s., yang dikenal
dengan nama Miriam. Kata itu, yang
adalah kata majemuk dalam bahasa Ibrani, berarti: bintang laut; nyonya atau
perempuan
bangsawan; mulia; ahli ibadah yang saleh (Cruden’s Complete Concordance to The Old and The New
Testaments and Aphorcrypha; Al-Kasysyaf ‘an Ghawamidh al-Tanzil; dan Encyclopaedia Biblica).
Nabi Yahya a.s. atau Yohanan
(Yohanes/St. John)
Pada hakikatnya nama-nama para rasul Allah dalam Al-Quran memiliki arti
yang baik, di antaranya ada yang diberi nama oleh Allah Swt., contohnya Yahya anak
Nabi Zakaria a.s., firman-Nya:
ذِکۡرُ رَحۡمَتِ
رَبِّکَ عَبۡدَہٗ زَکَرِیَّا ۖ﴿ۚ﴾ اِذۡ نَادٰی
رَبَّہٗ نِدَآءً خَفِیًّا ﴿﴾ قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ وَہَنَ الۡعَظۡمُ مِنِّیۡ وَ
اشۡتَعَلَ الرَّاۡسُ شَیۡبًا وَّ لَمۡ
اَکُنۡۢ بِدُعَآئِکَ رَبِّ شَقِیًّا ﴿﴾ وَ اِنِّیۡ خِفۡتُ الۡمَوَالِیَ مِنۡ وَّرَآءِیۡ وَ
کَانَتِ امۡرَاَتِیۡ عَاقِرًا فَہَبۡ لِیۡ
مِنۡ لَّدُنۡکَ وَلِیًّا ۙ﴿﴾ یَّرِثُنِیۡ وَ یَرِثُ
مِنۡ اٰلِ یَعۡقُوۡبَ ٭ۖ وَ اجۡعَلۡہُ
رَبِّ رَضِیًّا ﴿﴾ یٰزَکَرِیَّاۤ
اِنَّا نُبَشِّرُکَ بِغُلٰمِۣ اسۡمُہٗ یَحۡیٰی ۙ لَمۡ نَجۡعَلۡ
لَّہٗ مِنۡ قَبۡلُ
سَمِیًّا ﴿﴾
Inilah penjelasan mengenai rahmat Rabb (Tuhan) engkau kepada hamba-Nya Zakaria, ketika
ia berseru kepada Rabb-nya (Tuhan-nya),
dengan seruan yang lembut, ia berkata: "Ya, Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya tulang-tulangku
telah menjadi lemah, dan kepala
telah dipenuhi uban, tetapi ya Rabb-ku
(Tuhan-ku) aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau. Dan
sesungguhnya aku khawatir akan
kaum-keluargaku di belakangku,
sedangkan istriku mandul, maka anugerahilah
aku seorang penerus dari sisi
Engkau, yang akan menjadi pewarisku dan pewaris keturunan Ya'qub, dan ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), jadikanlah dia seorang yang diridhai. ٰزَکَرِیَّاۤ
اِنَّا نُبَشِّرُکَ بِغُلٰمِۣ اسۡمُہٗ یَحۡیٰی
-- Allah berfirman:
"Ya Zakaria, Kami memberikan kabar gembira kepada engkau
mengenai seorang anak laki-laki namanya
Yahya. لَمۡ
نَجۡعَلۡ لَّہٗ مِنۡ
قَبۡلُ سَمِیًّا -- Kami tidak
pernah menyebut seorang pun
sebelum dia dengan nama itu. (Maryam [19]:3-8).
Samiy
dalam ayat یٰزَکَرِیَّاۤ اِنَّا نُبَشِّرُکَ
بِغُلٰمِۣ اسۡمُہٗ یَحۡیٰی -- “Allah
berfirman: "Ya Zakaria, Kami memberikan kabar gembira kepada engkau
mengenai seorang anak laki-laki namanya
Yahya.
لَمۡ
نَجۡعَلۡ لَّہٗ مِنۡ
قَبۡلُ سَمِیًّا -- Kami tidak pernah menyebut seorang pun
sebelum dia dengan
nama itu,” samiy berarti: saingan atau penantang untuk mencapai keunggulan
dalam kemuliaan atau keagungan atau keutamaan; yang serupa
atau senama; yang senama dengan orang lain (Lexicon Lane).
Jadi, ayat لَمۡ
نَجۡعَلۡ لَّہٗ مِنۡ
قَبۡلُ سَمِیًّا -- Kami tidak pernah menyebut seorang pun
sebelum dia dengan
nama itu,” tidak berarti
bahwa sebelum Nabi Yahya a.s.
bin Zakaria a.s. tidak ada orang yang senama dengan beliau. Dari Bible sendiri pun nampak, bahwa sebelum
beliau banyak orang yang bernama Yahya
(Yohanan/Yohanes/John): (1) Yohanan (Yahya) bin Kareah -- II Raja-raja
25:23; Yermia 43:4-5; (2) Yohanan
(Yahya) bin Yosia -I Tawarikh
3:15; (3) Yohanan (Yahya) bin Hakatan
- Ezra
8:12).
Orang-orang lain yg juga bernama Yohanan (Yahya): anak Elyoenai (1 Taw 3:24); cucu
Ahimaas (1 Taw 6:9-19); seorang
suku Benyamin, yg bergabung menjadi tentara Daud di Ziklag (1 Taw 12:4); seorang
suku Gad yg juga bergabung dengan Daud
(1 Taw 12:12); seorang
pimpinan dari suku Efraim (2 Taw 28:12; bh Ibrani
ialah 'Yehohanan'); seorang buangan
yg kembali pada zaman Yoyakim (Neh 12:22-23).
Kekhasan Nabi Yahya a.s. & Al-Masih
Isa Ibnu Maryam a.s.
Makna
ayat لَمۡ
نَجۡعَلۡ لَّہٗ مِنۡ
قَبۡلُ سَمِیًّا -- Kami tidak pernah menyebut seorang pun
sebelum dia dengan
nama itu,” tidak pula berarti bahwa Nabi Yahya a.s. itu tidak
tara bandingannya dalam segala segi. Nabi Yahya a.s. sendiri mengakui "Kemudian
dari aku ini akan datang kelak seorang yang lebih berkuasa dariku, maka untuk
menguraikan tali kasutnya pun, aku ini tiada berlayak" (Matius 1:7).
Ada pun yang dimaksud oleh perkataan Nabi
Yahya a.s. (Yohanan/Yohanes/St. John) tersebut adalah Nabi Besar Muhammad saw., bukan Yesus
(Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.),
sebagaimana sengaja disalah-tafsirkan,
sebab dalam peristiwa mikraj Nabi Besar Muhammad saw. bertemu secara ruhani dengan Nabi Yahya a.s. yang berada di langit
kedua bersama-sama dengan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s., karena itu tidak tepat kalau ucapan Yahya (Yohanes/St.John) dalam Matius 1:7 tersebut tertuju kepada Yesus.
Jadi, makna ayat لَمۡ
نَجۡعَلۡ لَّہٗ مِنۡ
قَبۡلُ سَمِیًّا -- Kami tidak pernah menyebut seorang pun
sebelum dia dengan
nama itu,” hanya
berarti bahwa:
(1) Nabi Yahya
a.s. tidak ada bandingan dalam suatu hal, yaitu beliaulah nabi
pertama yang datang sebagai perintis
jalan bagi seorang nabi yang
lain, yaitu Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
(2) Nabi Yahya a.s. tiada bandingan
dalam segi bahwa beliau adalah nabi pertama datang dengan kemampuan dan jiwa seorang nabi
lain yaitu Nabi Ilyas
a.s. (Nabi Ilyas a.s.), sehingga dalam Bible
pengutusan Nabi Yahya a.s. dikatakan
sebagai kedatangan kedua kali Nabi
Elia a.s. (Maleakhi 4:4-6; Matius 11:11-14), yaitu salah seorang dari tiga
orang rasul Allah yang kedatangannya ditunggu-tunggu
para pemuka agama Yahudi, yaitu: (1) Nabi
itu (nabi yang seperti Musa – Ulangan
18:18), (2) kedatangan kedua kali Nabi
Elia a.s. (Ilyas a.s.) -- Maleakhi
4:4-6; dan kedatangan Mesias (Yohanes 1:19-28).
Ada pun
mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sebelum kelahirannya Allah Swt. memberitahukan nama pribadi beliau dan juga
nama gelarnya yakni Al-Masih (Mesias/Mesiah) kepada ibunya, Maryam
binti ‘Imran, firman-Nya:
اِذۡ
قَالَتِ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یٰمَرۡیَمُ اِنَّ اللّٰہَ یُبَشِّرُکِ بِکَلِمَۃٍ مِّنۡہُ
٭ۖ اسۡمُہُ الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ وَجِیۡہًا فِی الدُّنۡیَا وَ
الۡاٰخِرَۃِ وَ مِنَ الۡمُقَرَّبِیۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ یُکَلِّمُ النَّاسَ فِی الۡمَہۡدِ وَ کَہۡلًا وَّ مِنَ
الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Ingatlah ketika para malaikat berkata: “Hai Maryam,
sesungguhnya Allah memberi engkau kabar gembira
dengan satu kalimat dari-Nya tentang kelahiran seorang anak
laki-laki namanya Al-Masih Isa Ibnu Maryam, yang dimuliakan
di dunia serta di akhirat, dan ia adalah dari antara orang-orang yang
didekatkan kepada Allah. (Ali ‘Imran [3]:46-47).
Sebutan Masih
seperti disebut di atas berarti pula “yang
diurapi”, karena kelahiran Nabi Isa a.s. tidak sebagaimana lazimnya
dan mudah dipandang tidak sah, maka
untuk melenyapkan tuduhan tersebut maka beliau disebut Al-Masih, yakni “yang telah
diurapi” dengan urapan Allah Swt.
Sendiri, sama seperti para nabi Allah semuanya telah diurapi (disucikan).
Kata ‘Isa
agaknya bentuk ubahan dari kata Ibrani Yasu’, sedangkan Yesus
adalah bentuk bahasa Yunani dari kata Yosua dan Yesua (Encyclopaedia Biblica). Ibn Maryam itu nama-keluarga Nabi Isa a.s. yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai kuniyah.
Yesus disebut Ibn Maryam mungkin karena disebabkan lahir tanpa ayah, sehingga beliau tidak dapat dikenal
kecuali dengan nama ibunya yakni Ibnu Maryam.
Makna Nama “Muhammad” (Orang
yang Terpuji) & Penolakan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. Mengenai “Trinitas”
dan “Penebusan Dosa”
Kembali kepada makna kata hamd dalam ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Segala puji
hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Fatihah [1]:2). Dalam bahasa
Arab, al itu lebih-kurang sama artinya dengan kata “the”
dalam bahasa Inggeris. Kata al dipergunakan untuk menunjukkan keluasan yang berarti meliputi semua segi atau jenis sesuatu
pokok, atau untuk melukiskan kesempurnaan,
yang juga suatu segi keluasan, karena meliputi semua tingkat dan derajat. Al
dipakai juga untuk menyatakan sesuatu yang telah disebut atau suatu pengertian atau konsep yang ada dalam pikiran, jadi kata alhamdu artinya “segala puji”.
Dalam bahasa Arab, dua kata madah
dan hamd, dipakai dalam arti pujian
atau syukur, tetapi kalau madah mungkin palsu,
sedangkan hamd senantiasa benar.
Lagi pula, madah dapat dipakai mengenai perbuatan baik yang tidak dikuasai oleh pelakunya, tetapi hamd
hanya dipakai mengenai perbuatan yang
dilakukan dengan kerelaan hati dan
dengan kemauan sendiri (Al-Mufradat).
Contoh madah
adalah penghormatan berlebihan
orang-orang yang “mempertuhankan”
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunya
(Maryam binti ‘Imran), yang ditolak
oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ
وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ
تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata
kepada manusia: اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ
اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ -- Jadikanlah aku dan ibuku sebagai
dua tuhan selain Allah?"
قَالَ
سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ
اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ -- Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak
patut bagiku mengatakan apa yang
sekali-kali bukan hakku. اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ -- Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau
mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa
yang ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, رَبَّکُمۡ اَنِ اعۡبُدُوا
اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ -- yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku
menjadi saksi atas mereka selama aku
berada di antara mereka, tetapi tatkala Engkau
telah mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi
Pengawas atas mereka, dan Engkau
adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau
Engkau mengazab mereka, maka
sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, dan kalau Engkau mengampuni
mereka, maka sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijak-sana” (Al-Maidah [5]:117-118).
Jadi, dalam jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. tersebut terkandung penolakan beliau terhadap faham dusta “Trinitas” dan “penebusan dosa” melalui kematian
terkutuk beliau di tiang salib
yang dipercayai oleh orang-orang yang berlebihan
(melampaui batas) dalam memuji atau menghormati beliau dan ibunya.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 13 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar