بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 4
Berbagai Dalil
Al-Quran yang Mendukung Kebenaran Kesaksian
Ruh (Fitrat) Manusia Mengenai Tauhid Ilahi, Termasuk Kesaksian Fir’aun
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai
Bab-bab Al-Quran yang berjumlah 114 dan masing-masing disebut Surah.
Lafaz (kata) Surah berarti: (1) pangkat atau kedudukan tinggi;
(2) ciri atau tanda; (3) bangunan yang tinggi dan indah; (4) sesuatu yang
lengkap dan sempurna (Aqrab dan Qurthubi).
Bab-bab Al-Quran disebut Surah
karena: (a) dengan membacanya martabat orang terangkat, dengan perantaraannya
ia mencapai kemuliaan; (b) nama-nama Surah berlaku sebagai tanda
pembukaan dan penutupan berbagai masalah yang dibahas dalam Al-Quran; (c)
Surah-surah itu masing-masing laksana bangunan ruhani yang mulia dan (d)
tiap-tiap Surah berisikan tema yang sempurna.
Nama-nama Surah untuk pembagian
demikian telah dipergunakan dalam Al-Quran sendiri (QS.2:24 dan QS.24:2). Nama
ini dipakai juga dalam hadits, Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Baru saja sebuah Surah telah diwahyukan kepadaku dan bunyinya seperti berikut”
(Muslim). Dari itu jelaslah,
bahwa nama Surah untuk bagian-bagian Al-Quran telah biasa dipakai sejak permulaan
Islam dan bukan ciptaan baru yang diadakan kemudian hari.
Makna Sebutan ALLAH & Kesaksian Ruh dan Fitrat Manusia tentang Allah Swt.
Selanjutnya akan dikemukakan
secara berurutan berbagai makna serta khazanah ruhani yang terkandung dalam ayat-ayat vSurah Al-Fatihah,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang.
Bā adalah kata depan yang
dipakai untuk menyatakan beberapa arti, dan arti yang lebih tepat di sini dengan, maka kata majemuk Bism
itu akan berarti dengan nama.
Menurut kebiasaan orang Arab kata Iqra’, atau Aqra’u, atau Naqra’u;
atau Isyra’, atau Asyra’u, atau Nasyra’u, harus
dianggap ada tercantum sebelum Bismillāh, suatu ungkapan dengan arti “Mulailah
dengan nama Allah”, atau “Bacalah dengan nama Allāh” atau “Aku atau kami mulai
dengan nama Allah”, atau “Aku
atau kami baca dengan nama Allah.” Dalam terjemahan ini ucapan Bismillah
diartikan “Dengan nama Allah” yang merupakan bentuk lebih lazim (Lexicon Lane).
Ism mengandung arti nama atau sifat (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Di sini lafaz (kata) ism itu dipakai dalam
kedua pengertian tersebut. Lafaz ism menunjuk kepada Allah yaitu nama Wujud (Dzat) Tuhan, dan
kepada Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penya-yang),
keduanya nama Sifat Allah Swt..
Allah adalah nama Zat Maha
Agung, Pemilik Tunggal semua Sifat sempurna, dan sama sekali bebas dari segala
kekurangan. Dalam bahasa Arab lafaz Allah
tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun. Tidak ada bahasa lain yang memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat
Yang Maha Agung itu. Nama-nama
yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain semuanya nama-penunjuk-sifat atau
nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak,
sedangkan lafaz Allah tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak.
Lafaz Allah adalah ism
zat (nama zat), bukan ism musytak, yakni tidak diambil dari kata lain dan tidak pernah
dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada lafaz lain yang sepadan maka lafaz Allah dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat
Al-Quran.
Pandangan ini didukung oleh para
alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat lafaz
Allah adalah nama Wujud
bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya
Sendiri, Pemilik segala Sifat sempurna, dan huruf al tidak terpisahkan dari lafaz Allah (Lexicon Lane).
Allah Swt. telah menyatakan dalam
Al-Quran bahwa keimanan kepada keberadaan dan kekuasaan Wujud Tuhan Pencipta seluruh alam
semesta telah ditanamkan-Nya dalam setiap
ruh atau fitrat manusia, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ
ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ
قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾
وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil kesaksian dari
bani Adam yakni dari sulbi keturunan mereka
serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman:
اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- ”Bukankah Aku Rabb
(Tuhan kamu?)” Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.”
اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ
-- Hal itu supaya kamu tidak berkata
pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami benar-benar lengah
dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً
مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ --
Atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya bapak-bapak
kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah
keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ
-- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah
dikerjakan oleh orang-orang yang berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda
itu dan supaya mereka kembali kepada yang haq
(Al-A’rāf [7]:1173-175).
Berbagai Makna “Kesaksian
Ruh” Mengenai Tauhid Ilahi
Ayat 173 menunjukkan kepada kesaksian yang
tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi
yang telah menciptakan seluruh alam
serta mengendalikannya
(QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah
yang menunjuki jalan menuju Allah Swt.; dan ungkapan “dari
sulbi bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang
kepada mereka rasul Allah diutus (QS.7:35-36). Pada hakikatnya keadaan
tiap-tiap rasul baru itulah yang mendorong timbulnya pertanyaann
Ilahi: اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ -- “Bukankah
Aku Tuhan kamu?”
Sehubungan
dengan kesaksian ruh (jiwa) manusia mengenai Tauhid
Ilahi tersebut, mengenai
kebenarannya dalam Surah lain Allah Swt.
berfirman ketika manusia terkepung
oleh bahaya maut, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ یُسَیِّرُکُمۡ فِی الۡبَرِّ وَ
الۡبَحۡرِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا کُنۡتُمۡ فِی الۡفُلۡکِ ۚ وَ جَرَیۡنَ بِہِمۡ بِرِیۡحٍ طَیِّبَۃٍ وَّ فَرِحُوۡا بِہَا جَآءَتۡہَا رِیۡحٌ عَاصِفٌ وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ ۙ دَعَوُا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۚ لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّاۤ اَنۡجٰہُمۡ اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ ۙ مَّتَاعَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۫ ثُمَّ اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang memperjalankan kamu melalui daratan dan
lautan, hingga apabila kamu telah ada
di kapal-kapal, dan meluncurlah kapal-kapal itu dengan mereka berkat
angin yang baik dan mereka pun bergembira karenanya lalu datang
angin badai melandanya dan gelombang pun mendatangi mereka
dari setiap tempat serta mereka yakin bahwa sesungguhnya mereka telah
terkepung, دَعَوُا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ -- mereka berseru kepada Allah
dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dan berkata, لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الشّٰکِرِیۡنَ -- “Jika Engkau
benar-benar menyelamatkan kami dari bahaya ini, niscaya kami
akan termasuk orang-orang yang bersyukur.” فَلَمَّاۤ اَنۡجٰہُمۡ اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ -- Tetapi
tatkala Dia menyelamatkan mereka itu
tiba-tiba mereka berbuat durhaka di muka bumi tanpa haq. اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ ۙ مَّتَاعَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۫ --
Hai manusia, sesungguhnya aki-bat kedurhakaan
kamu mengejar kesenangan hidup di dunia akan menimpa kamu,
ثُمَّ اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ -- kemudian kepada Kami-lah
tempat kamu kembali, lalu Kami memberitahukan kepadamu
mengenai apa yang senantiasa kamu kerjakan (Yunus
[10]:23-24).
Demikian juga
ketika manusia menginginkan sesuatu yang sangat didambakannya, misalnya keturunan,
mereka dengan tulus-ikhlas serta penuh kerendahan
hati berdoa kepada Allah Swt. sebagaimana firman-Nya
berikut ini:
ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَۃٍ وَّ جَعَلَ
مِنۡہَا زَوۡجَہَا لِیَسۡکُنَ اِلَیۡہَا ۚ فَلَمَّا
تَغَشّٰہَا حَمَلَتۡ
حَمۡلًا خَفِیۡفًا
فَمَرَّتۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّاۤ اَثۡقَلَتۡ دَّعَوَا اللّٰہَ
رَبَّہُمَا لَئِنۡ
اٰتَیۡتَنَا
صَالِحًا لَّنَکُوۡنَنَّ مِنَ
الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّاۤ اٰتٰہُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَہٗ شُرَکَآءَ فِیۡمَاۤ اٰتٰہُمَا ۚ فَتَعٰلَی اللّٰہُ
عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang
telah menciptakan kamu dari satu jiwa
dan darinya Dia menjadikan pasangannya
supaya ia mendapat ketenteraman padanya, maka tatkala digaulinya ia mengandung
suatu kandungan yang ringan,
lalu ia berjalan kian kemari dengan kandungan
itu, فَلَمَّاۤ اَثۡقَلَتۡ دَّعَوَا اللّٰہَ رَبَّہُمَا لَئِنۡ اٰتَیۡتَنَا صَالِحًا
لَّنَکُوۡنَنَّ
مِنَ الشّٰکِرِیۡنَ -- maka
tatkala kandungannya berat
keduanya berdoa kepada Allah,
Rabb (Tuhan) mereka berdua: “Seandainya Engkau benar-benar memberi kami seorang anak yang shalih yakni
sempurna niscaya kami
akan menjadi di antara orang-orang yang bersyukur.” فَلَمَّاۤ اَثۡقَلَتۡ دَّعَوَا اللّٰہَ رَبَّہُمَا لَئِنۡ اٰتَیۡتَنَا صَالِحًا
لَّنَکُوۡنَنَّ
مِنَ الشّٰکِرِیۡنَ -- Tetapi tatkala
Dia menganugerahkan kepada kedua mereka itu seorang anak yang sehat lalu keduanya menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya
berkenaan dengan apa yang telah dianugerahkan-Nya
kepada kedua mereka itu. فَتَعٰلَی اللّٰہُ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Mahaluhur
Allah jauh di atas apa yang
mereka persekutukan. (Al-A’rāf [7]:190-191).
Kesaksian Fir’aun Mengenai Tauhid Ilahi
Bahkan Fir’aun
yang dengan takabbur menganggap
dirinya sebagai “tuhan yang yang tinggi”
(QS.79:25), tetapi ketika hendak tenggelam di lautan ia mengingkari “ketuhanan palsu” dirinya, dan
menyatakan beriman kepada Allah Swt. -- Tuhan
hakiki -- yang dikemukakan Nabi Musa a.s. kepadanya, berikut firman-Nya mengenai hal itu kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
ہَلۡ اَتٰىکَ حَدِیۡثُ مُوۡسٰی ﴿ۘ﴾ اِذۡ نَادٰىہُ
رَبُّہٗ بِالۡوَادِ الۡمُقَدَّسِ طُوًی ﴿ۚ﴾ اِذۡہَبۡ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ اِنَّہٗ
طَغٰی
﴿۫ۖ﴾ فَقُلۡ ہَلۡ لَّکَ
اِلٰۤی اَنۡ تَزَکّٰی ﴿ۙ﴾ وَ اَہۡدِیَکَ
اِلٰی رَبِّکَ فَتَخۡشٰی ﴿ۚ﴾ فَاَرٰىہُ الۡاٰیَۃَ
الۡکُبۡرٰی
﴿۫ۖ﴾ فَکَذَّبَ وَ عَصٰی ﴿۫ۖ﴾ ثُمَّ اَدۡبَرَ یَسۡعٰی ﴿۫ۖ﴾ فَحَشَرَ فَنَادٰی ﴿۫ۖ﴾ فَقَالَ اَنَا رَبُّکُمُ الۡاَعۡلٰی ﴿۫ۖ﴾ فَاَخَذَہُ اللّٰہُ
نَکَالَ الۡاٰخِرَۃِ وَ الۡاُوۡلٰی
﴿ؕ﴾ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَعِبۡرَۃً لِّمَنۡ یَّخۡشٰی ﴿ؕ٪﴾
Apakah
sudah sampai kepada engkau kisah Musa?
Ketika Rabb-nya
(Tuhan-nya) memanggil dia di lembah suci Thuwā, Allah berfirman: “Pergilah engkau kepada Fir’aun sesungguhnya ia telah melampaui batas, maka katakanlah: “Adakah pada diri engkau keinginan untuk mensucikan diri? Dan aku akan menunjuki engkau kepada Rabb
(Tuhan) engkau supaya engkau takut.” فَاَرٰىہُ الۡاٰیَۃَ
الۡکُبۡرٰی -- Maka dia (Musa) memperlihatkan
kepadanya Tanda yang besar, فَکَذَّبَ وَ عَصٰی -- tetapi ia
(Fir’aun) mendustakan dan mendurhakai,
ثُمَّ اَدۡبَرَ یَسۡعٰی -- kemudian ia berpaling
seraya berusaha menantang, فَحَشَرَ فَنَادٰی -- lalu ia menghimpunkan kaumnya dan
berseru, فَقَالَ اَنَا رَبُّکُمُ الۡاَعۡلٰی -- Lalu berkata: “Akulah tuhan kamu yang paling tinggi.” فَاَخَذَہُ اللّٰہُ
نَکَالَ الۡاٰخِرَۃِ وَ الۡاُوۡلٰی -- Maka Allah
menyergapnya dengan siksaan di
akhirat dan di dunia. اِنَّ
فِیۡ ذٰلِکَ لَعِبۡرَۃً لِّمَنۡ یَّخۡشٰی -- Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar ada
pelajaran bagi orang yang takut. (An-Nāzi’āt [79]:16-27).
Tetapi ketakabburan Fir’aun tersebut segera berakhir ketika -- dengan maksud
memperolok-olok Nabi Musa a.s. -- “Tuhan Hakiki” yang disembah Nabi Musa a.s. dan
Bani Israil dicari Fir’aun di langit
(QS.28:37-43), tetapi ternyata kekuasaan Allah
Swt. “diketemukan” Fir’aun di lautan,
ketika ia akan tenggelam bersama pasukan
yang sangat dibanggakannya, firman-Nya:
وَ جٰوَزۡنَا
بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ
فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ
بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ
اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ
مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾
فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ
کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ اٰیٰتِنَا لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Kami
telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu Fir’aun
dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya,
sehingga apabila ia menjelang tenggelam
قَالَ
اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- ia
berkata: “Aku percaya, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku
termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ
عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- ”Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau telah mem-bangkang
sebelum ini, dan engkau
termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً -- Maka pada
hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya badan
engkau, supaya engkau menjadi suatu
Tanda bagi orang-orang sesudah engkau, وَ اِنَّ کَثِیۡرًا
مِّنَ النَّاسِ عَنۡ اٰیٰتِنَا لَغٰفِلُوۡنَ -- dan sesungguhnya
kebanyakan dari manusia benar-benar
le-ngah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).
Jadi,
tindakan Allah Swt. memperlihatkan tanda
kekuasaan-Nya di lautan -- bukannya di langit sebagaimana yang
diinginkan Fir’aun -- merupakan bagian dari penghinaan Allah Swt. kepada Fir’aun
yang dengan takabbur menda’wakan diri sebagai “tuhan yang luhur” (An-Nāzi’āt
[79]:16-27).
Penolakan Wujud
yang “Dipertuhankan” Orang-orang Musyrik
Kata-kata قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku
termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya” ini melukiskan
kedalaman lembah kehinaan yang si
congkak Fir’aun telah terjerumus ke
dalamnya.
Sangat
menarik perhatian kita, bahwa hanya Al-Quran sajalah dari semua kitab keagamaan
dan buku-buku sejarah, yang menceritakan kenyataan yang disinggung oleh ayat
ini. Bible tak menyebutkannya dan
tidak pula kitab sejarah mana pun. Tetapi dengan cara yang alangkah ajaibnya
firman Allah Swt. itu
telah terbukti kebenarannya. Setelah lewat lebih dari 3000 tahun, mayat Fir’aun
itu telah ditemukan orang kembali dan sekarang tersimpan dalam keadaan
terpelihara di museum di Kairo.
Nampak dari mayat itu, bahwa Fir’aun itu orangnya kurus dan pendek
dengan wajah yang mencerminkan kebengisan
campur kebodohan. Nabi Musa a.s.
dilahirkan di zaman Ramses II dan dibesarkan olehnya (Keluaran 2:2-10),
tetapi pada pemerintahan putranya, ialah Merneptah (Meneptah), beliau diserahi
tugas kenabian (Jewish Encyclopaedia,
jilid 9 hlm. 500 & Encyclopaedia Biblica,
pada kata “Pharaoh” & pada “Egypt”).
Demikian pula
apabila manusia -- yakni orang-orang musyrik -- diminta untuk berkata jujur sesuai dengan kata
hatinya yang hakiki, mereka akan mengakui bahwa Tuhan yang hakiki hanyalah Allah
Swt., sedangkan yang mereka persekutukan
dengan Allah Swt. mereka anggap hanyalah sebagai “washilah” (perantaraan)
antara dirinya dengan Tuhan yang hakiki, walau pun wujud-wujud yang dianggap sebagai “washilah” (perantara) tersebut menolak
kepercayaan mereka itu, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ
نَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ
نَقُوۡلُ لِلَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا
مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ ۚ فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ قَالَ
شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾ فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ
بَیۡنَکُمۡ اِنۡ کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ لَغٰفِلِیۡنَ ﴿﴾
Dan
ingatlah hari itu ketika Kami akan mengumpulkan mereka semuanya kemudian Kami akan berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan: “Tetaplah di tempat kamu, kamu beserta sekutu-sekutumu.” Lalu Kami
memisahkan di antara mereka maka sekutu-sekutu mereka berkata: ”Sekali-kali bukanlah kami yang senantiasa kamu sembah; maka cukuplah
Allah sebagai saksi di antara kami dan kamu,
sesungguhnya kami tidak tahu-menahu mengenai penyembahan
kamu.” (Yunus [10]:29-30). Lihat
pula QS.6:23-24; QS.46:7.
Mengenai
penolakan (pengingkaran) wujud-wujud
yang dipersekutukan dengan Tuhan
terhadap penyembahan orang-orang
musyrik terhadap mereka lihat pula QS.16:87-88;
QS.28:63-65; QS.30:13-15. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
ہُنَالِکَ
تَبۡلُوۡا کُلُّ
نَفۡسٍ مَّاۤ اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ
وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا
کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Di sanalah tiap-tiap jiwa merasakan penderitaan akibat apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka
akan dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang haq (sebenarnya),
dan lenyaplah
dari mereka apa yang telah mereka
ada-adakan itu. (Yunus
[10]:31).
Di dunia ini manusia tidak diberi kemampuan sepenuhnya untuk memahami
dan mengetahui hakikat yang
sebenarnya mengenai segala sesuatu. Hanya nanti di akhiratlah segala hijab (tirai) akan sepenuhnya disingkapkan, dan hakikat yang sebenarnya mengenai segala sesuatu akan menjadi terang dan jelas.
Pendek kata, banyak berbagai dalil dalam Al-Quran yang mendukung kebenaran firman Allah Swt. berkenaan kesaksian
ruh manusia mengenai Tauhid Ilahi
yang telah ditanamkan Allah Swt. dalam jiwa
atau fitrat manusia (QS.7:173-175).
Hikmah Tertib Urutan
Penganugerahan Pendengar, Penglihatan dan Hati (Pengertian)
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kesaksian
jujur orang-orang musyrik sesuai kesaksian ruhnya atau fitratnya mengenai Tauhid
Ilahi (QS.7:173):
قُلۡ مَنۡ یَّرۡزُقُکُمۡ مِّنَ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ اَمَّنۡ یَّمۡلِکُ
السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ مَنۡ یُّخۡرِجُ
الۡحَیَّ مِنَ
الۡمَیِّتِ وَ یُخۡرِجُ
الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ وَ مَنۡ یُّدَبِّرُ الۡاَمۡرَ ؕ فَسَیَقُوۡلُوۡنَ اللّٰہُ ۚ فَقُلۡ اَفَلَا تَتَّقُوۡنَ ﴿﴾ فَذٰلِکُمُ اللّٰہُ رَبُّکُمُ الۡحَقُّ ۚ فَمَا ذَا بَعۡدَ
الۡحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۚۖ فَاَنّٰی تُصۡرَفُوۡنَ ﴿﴾ کَذٰلِکَ
حَقَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ عَلَی الَّذِیۡنَ فَسَقُوۡۤا اَنَّہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Siapakah
yang memberi kamu rezeki dari langit
dan bumi? Dan siapakah yang menguasai pendengaran serta penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari
yang mati, dan yang mengeluarkan
yang mati dari yang hidup? Dan siapakah
yang mengatur segala
urusan?” Mereka akan berkata: “Allah.” Maka katakanlah: ”Tidakkah kamu mau bertakwa?”
Maka demikianlah Allah, Rabb (Tuhan) kamu Yang Mahabenar, karena itu tidak ada sesudah haq (kebenaran)
melainkan kesesatan, lalu bagaimanakah kamu dipalingkan dari kebenaran?”
Demikianlah telah nyata benarnya firman Rabb (Tuhan) engkau
mengenai orang-orang yang fasik (durhaka)
bahwa sesungguhnya mereka itu tidak akan
beriman. (Yunus [10]:32-34).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 9 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar