Minggu, 09 Agustus 2015

Berbagai Dalil Al-Quran yang Mendukung Kebenaran Kesaksian Ruh (Fitrat) Manusia Mengenai Tauhid Ilahi, Termasuk Kesaksian Fir'aun



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 4   

Berbagai Dalil   Al-Quran  yang Mendukung   Kebenaran Kesaksian Ruh (Fitrat) Manusia  Mengenai Tauhid Ilahi,  Termasuk Kesaksian  Fir’aun

 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai  Bab-bab Al-Quran yang berjumlah 114 dan masing-masing disebut Surah. Lafaz (kata)  Surah  berarti: (1) pangkat atau kedudukan tinggi; (2) ciri atau tanda; (3) bangunan yang tinggi dan indah; (4) sesuatu yang lengkap dan sempurna (Aqrab dan Qurthubi).
       Bab-bab Al-Quran disebut Surah karena: (a) dengan membacanya martabat orang terangkat, dengan perantaraannya ia mencapai kemuliaan; (b) nama-nama Surah berlaku sebagai tanda pembukaan dan penutupan berbagai masalah yang dibahas dalam Al-Quran; (c) Surah-surah itu masing-masing laksana bangunan ruhani yang mulia dan (d) tiap-tiap Surah berisikan tema yang sempurna.
        Nama-nama Surah untuk pembagian demikian telah dipergunakan dalam Al-Quran sendiri (QS.2:24 dan QS.24:2). Nama ini dipakai juga dalam hadits, Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Baru saja sebuah Surah telah diwahyukan kepadaku dan bunyinya seperti berikut” (Muslim). Dari itu jelaslah, bahwa nama Surah untuk bagian-bagian Al-Quran telah biasa dipakai sejak permulaan Islam dan bukan ciptaan baru yang diadakan kemudian hari.

Makna Sebutan ALLAH  & Kesaksian Ruh dan  Fitrat Manusia tentang Allah Swt.

      Selanjutnya akan dikemukakan secara berurutan  berbagai makna serta khazanah ruhani yang terkandung dalam ayat-ayat vSurah Al-Fatihah, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. 
         adalah  kata depan yang dipakai untuk menyatakan beberapa arti, dan arti yang lebih tepat di sini  dengan, maka kata majemuk Bism itu akan berarti  dengan nama. Menurut kebiasaan orang Arab kata Iqra’, atau Aqra’u, atau Naqra’u; atau Isyra’, atau Asyra’u, atau Nasyra’u, harus dianggap ada tercantum sebelum Bismillāh, suatu ungkapan dengan arti “Mulailah dengan nama Allah”, atau “Bacalah dengan nama  Allāh” atau “Aku atau kami mulai dengan nama Allah”, atau  “Aku atau kami baca dengan nama Allah.” Dalam terjemahan ini ucapan Bismillah diartikan “Dengan nama Allah” yang merupakan bentuk lebih lazim (Lexicon Lane).
         Ism mengandung arti  nama atau sifat (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Di sini  lafaz (kata) ism itu dipakai dalam kedua pengertian tersebut. Lafaz ism menunjuk kepada Allah  yaitu nama Wujud (Dzat) Tuhan, dan kepada Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penya-yang), keduanya nama Sifat  Allah Swt..
        Allah adalah nama Zat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua Sifat  sempurna, dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab  lafaz Allah  tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun. Tidak ada bahasa lain yang memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain semuanya nama-penunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak, sedangkan   lafaz   Allah  tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak.
        Lafaz  Allah  adalah  ism zat (nama zat),   bukan  ism musytak, yakni  tidak diambil dari kata lain dan tidak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada  lafaz lain yang sepadan maka  lafaz  Allah  dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Al-Quran.
   Pandangan ini didukung oleh para alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat  lafaz    Allah   adalah nama Wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya Sendiri, Pemilik segala Sifat  sempurna, dan huruf al  tidak terpisahkan dari lafaz Allah (Lexicon Lane).
       Allah Swt. telah menyatakan dalam Al-Quran bahwa keimanan kepada keberadaan dan kekuasaan Wujud Tuhan Pencipta seluruh alam semesta telah ditanamkan-Nya dalam setiap ruh atau fitrat manusia,  firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ  اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  bani Adam yakni   dari sulbi  keturunan  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirmanاَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan kamu?)” Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.”  اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ --  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ   --   Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka.  اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ --  Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali kepada yang haq   (Al-A’rāf [7]:1173-175).

Berbagai Makna “Kesaksian Ruh” Mengenai Tauhid Ilahi

    Ayat 173   menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam  serta mengendalikannya  (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt.; dan ungkapan “dari sulbi  bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus (QS.7:35-36). Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul baru itulah yang mendorong timbulnya  pertanyaann Ilahi: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ  --  “Bukankah  Aku Tuhan kamu?”
   Sehubungan dengan kesaksian ruh (jiwa) manusia mengenai Tauhid Ilahi  tersebut, mengenai kebenarannya dalam Surah lain  Allah Swt. berfirman ketika manusia   terkepung oleh bahaya maut, firman-Nya:  
 ہُوَ الَّذِیۡ یُسَیِّرُکُمۡ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا کُنۡتُمۡ فِی الۡفُلۡکِ ۚ وَ  جَرَیۡنَ بِہِمۡ بِرِیۡحٍ طَیِّبَۃٍ وَّ فَرِحُوۡا بِہَا جَآءَتۡہَا رِیۡحٌ عَاصِفٌ وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ ۙ دَعَوُا اللّٰہَ  مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۚ  لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّاۤ  اَنۡجٰہُمۡ  اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ ۙ مَّتَاعَ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۫ ثُمَّ  اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang memperjalankan kamu melalui daratan dan lautan,  hingga  apabila kamu telah ada di kapal-kapal, dan meluncurlah kapal-kapal itu dengan mereka berkat angin yang baik dan mereka pun bergembira karenanya  lalu datang  angin badai melandanya dan gelombang  pun  mendatangi mereka dari setiap tempat serta mereka yakin bahwa sesungguhnya mereka telah terkepung, دَعَوُا اللّٰہَ  مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ  -- mereka berseru kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dan berkata,  لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡنَ --  “Jika  Engkau   benar-benar menyelamatkan  kami dari bahaya ini, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”  فَلَمَّاۤ  اَنۡجٰہُمۡ  اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ --   Tetapi  tatkala  Dia menyelamatkan mereka itu  tiba-tiba mereka berbuat durhaka di muka bumi tanpa haq.  اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ ۙ مَّتَاعَ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۫   --  Hai manusia, sesungguhnya aki-bat   kedurhakaan kamu mengejar kesenangan hidup di dunia akan menimpa kamu,      ثُمَّ  اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ  -- kemudian kepada Kami-lah tempat kamu kembali, lalu Kami memberitahukan kepadamu mengenai  apa yang senantiasa kamu kerjakan (Yunus [10]:23-24).
     Demikian juga  ketika manusia menginginkan  sesuatu yang sangat didambakannya, misalnya keturunan,  mereka dengan tulus-ikhlas serta penuh kerendahan hati berdoa kepada Allah Swt. sebagaimana firman-Nya berikut ini:
ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَۃٍ وَّ جَعَلَ مِنۡہَا زَوۡجَہَا لِیَسۡکُنَ اِلَیۡہَا ۚ فَلَمَّا تَغَشّٰہَا حَمَلَتۡ حَمۡلًا خَفِیۡفًا فَمَرَّتۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّاۤ  اَثۡقَلَتۡ دَّعَوَا اللّٰہَ رَبَّہُمَا لَئِنۡ اٰتَیۡتَنَا صَالِحًا  لَّنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّاۤ  اٰتٰہُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَہٗ  شُرَکَآءَ فِیۡمَاۤ  اٰتٰہُمَا ۚ فَتَعٰلَی اللّٰہُ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menjadikan pasangannya  supaya ia mendapat ketenteraman  padanya, maka tatkala digaulinya ia mengandung  suatu kandungan yang ringan, lalu ia berjalan kian kemari dengan kandungan itu, فَلَمَّاۤ  اَثۡقَلَتۡ دَّعَوَا اللّٰہَ رَبَّہُمَا لَئِنۡ اٰتَیۡتَنَا صَالِحًا  لَّنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡنَ  -- maka tatkala kandungannya berat  keduanya  berdoa kepada Allah, Rabb (Tuhan)  mereka berdua: “Seandainya Engkau benar-benar  memberi kami seorang anak yang shalih yakni sempurna niscaya  kami  akan menjadi di antara orang-orang yang bersyukur.” فَلَمَّاۤ  اَثۡقَلَتۡ دَّعَوَا اللّٰہَ رَبَّہُمَا لَئِنۡ اٰتَیۡتَنَا صَالِحًا  لَّنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡنَ --   Tetapi tatkala Dia menganugerahkan kepada kedua mereka itu seorang anak  yang sehat lalu keduanya menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya berkenaan dengan apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada kedua mereka itu. فَتَعٰلَی اللّٰہُ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ  --  Mahaluhur Allah jauh di atas apa yang mereka persekutukan. (Al-A’rāf [7]:190-191).

Kesaksian Fir’aun Mengenai Tauhid Ilahi

        Bahkan Fir’aun yang dengan takabbur menganggap dirinya sebagai “tuhan yang yang tinggi” (QS.79:25), tetapi  ketika hendak tenggelam di lautan  ia mengingkari “ketuhanan palsu” dirinya,  dan  menyatakan beriman kepada Allah Swt.  -- Tuhan hakiki  -- yang dikemukakan  Nabi Musa a.s.  kepadanya,  berikut firman-Nya mengenai hal itu  kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ  مُوۡسٰی ﴿ۘ﴾  اِذۡ  نَادٰىہُ  رَبُّہٗ  بِالۡوَادِ  الۡمُقَدَّسِ طُوًی  ﴿ۚ﴾ اِذۡہَبۡ  اِلٰی فِرۡعَوۡنَ  اِنَّہٗ  طَغٰی  ﴿۫ۖ﴾ فَقُلۡ ہَلۡ  لَّکَ  اِلٰۤی  اَنۡ  تَزَکّٰی ﴿ۙ﴾  وَ  اَہۡدِیَکَ  اِلٰی  رَبِّکَ  فَتَخۡشٰی  ﴿ۚ﴾ فَاَرٰىہُ  الۡاٰیَۃَ  الۡکُبۡرٰی  ﴿۫ۖ﴾ فَکَذَّبَ وَ  عَصٰی ﴿۫ۖ﴾  ثُمَّ  اَدۡبَرَ  یَسۡعٰی  ﴿۫ۖ﴾  فَحَشَرَ  فَنَادٰی ﴿۫ۖ﴾  فَقَالَ  اَنَا  رَبُّکُمُ   الۡاَعۡلٰی ﴿۫ۖ﴾  فَاَخَذَہُ  اللّٰہُ  نَکَالَ الۡاٰخِرَۃِ  وَ الۡاُوۡلٰی ﴿ؕ﴾  اِنَّ  فِیۡ ذٰلِکَ لَعِبۡرَۃً  لِّمَنۡ  یَّخۡشٰی ﴿ؕ٪﴾
Apakah sudah sampai kepada engkau kisah Musa?   Ketika Rabb-nya (Tuhan-nya) memanggil dia  di lembah suci Thuwā,   Allah berfirman: “Pergilah engkau kepada Fir’aun  sesungguhnya ia telah melampaui batas,   maka katakanlah: “Adakah pada diri engkau keinginan untuk mensucikan diri?    Dan aku akan menunjuki engkau kepada  Rabb (Tuhan) engkau supaya engkau takut.” فَاَرٰىہُ  الۡاٰیَۃَ  الۡکُبۡرٰی    --  Maka dia (Musa)  memperlihatkan kepadanya Tanda yang besar, فَکَذَّبَ وَ  عَصٰی  --    tetapi ia (Fir’aun) mendustakan dan mendurhakai, ثُمَّ  اَدۡبَرَ  یَسۡعٰی  -- kemudian ia berpaling seraya berusaha menantang, فَحَشَرَ  فَنَادٰی --  lalu ia menghimpunkan kaumnya dan berseru,  فَقَالَ  اَنَا  رَبُّکُمُ   الۡاَعۡلٰی  --  Lalu berkata: “Akulah tuhan kamu yang paling tinggi.”  فَاَخَذَہُ  اللّٰہُ  نَکَالَ الۡاٰخِرَۃِ  وَ الۡاُوۡلٰی --   Maka Allah menyergapnya dengan siksaan di akhirat dan di dunia.  اِنَّ  فِیۡ ذٰلِکَ لَعِبۡرَۃً  لِّمَنۡ  یَّخۡشٰی  --  Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar ada pelajaran bagi orang yang takut. (An-Nāzi’āt [79]:16-27).
       Tetapi ketakabburan Fir’aun tersebut segera  berakhir  ketika    --  dengan maksud memperolok-olok Nabi Musa a.s. -- “Tuhan Hakiki” yang disembah  Nabi Musa a.s. dan Bani Israil   dicari Fir’aun  di langit (QS.28:37-43), tetapi ternyata kekuasaan Allah Swt.  “diketemukan” Fir’aun di  lautan,  ketika ia akan tenggelam bersama pasukan yang sangat dibanggakannya, firman-Nya:
وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu  Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga apabila ia menjelang tenggelam قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Yang dipercayai oleh Bani Israil,  dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ  --   ”Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau  telah mem-bangkang sebelum ini, dan  engkau  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.  فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً  --   Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi orang-orang  sesudah engkau, وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ --  dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar  le-ngah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).
          Jadi,  tindakan Allah Swt. memperlihatkan tanda kekuasaan-Nya di lautan  -- bukannya di langit sebagaimana yang  diinginkan Fir’aun --  merupakan bagian dari penghinaan Allah Swt. kepada Fir’aun yang  dengan takabbur menda’wakan diri sebagai “tuhan yang  luhur” (An-Nāzi’āt [79]:16-27).   

Penolakan  Wujud yang “Dipertuhankan” Orang-orang Musyrik

         Kata-kata قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Yang dipercayai oleh Bani Israil,  dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya” ini melukiskan kedalaman lembah kehinaan yang si congkak Fir’aun telah terjerumus ke dalamnya.
        Sangat menarik perhatian kita, bahwa hanya Al-Quran sajalah dari semua kitab keagamaan dan buku-buku sejarah, yang menceritakan kenyataan yang disinggung oleh ayat ini. Bible tak menyebutkannya dan tidak pula kitab sejarah mana pun. Tetapi dengan cara yang alangkah ajaibnya firman Allah Swt. itu telah terbukti kebenarannya. Setelah lewat lebih dari 3000 tahun, mayat Fir’aun itu telah ditemukan orang kembali dan sekarang tersimpan dalam keadaan terpelihara di museum di Kairo.
       Nampak dari mayat itu, bahwa Fir’aun itu orangnya kurus dan pendek dengan wajah yang mencerminkan kebengisan campur kebodohan. Nabi Musa a.s. dilahirkan di zaman Ramses II dan dibesarkan olehnya (Keluaran 2:2-10), tetapi pada pemerintahan putranya, ialah Merneptah (Meneptah), beliau diserahi tugas kenabian (Jewish Encyclopaedia,  jilid 9 hlm. 500 & Encyclopaedia Biblica, pada kata “Pharaoh” & pada “Egypt”).
          Demikian pula  apabila manusia  -- yakni orang-orang musyrik  -- diminta untuk berkata jujur sesuai dengan kata hatinya yang hakiki, mereka akan mengakui bahwa Tuhan yang hakiki hanyalah Allah Swt., sedangkan yang mereka persekutukan dengan Allah Swt. mereka anggap hanyalah sebagai “washilah” (perantaraan) antara dirinya dengan Tuhan yang hakiki, walau pun wujud-wujud  yang dianggap sebagai “washilah” (perantara) tersebut menolak kepercayaan mereka itu,  firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ نَقُوۡلُ لِلَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ ۚ فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ  اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾  فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اِنۡ  کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ  لَغٰفِلِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah hari itu  ketika Kami akan mengumpulkan mereka semuanya  kemudian Kami akan berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan: Tetaplah di tempat kamu, kamu beserta sekutu-sekutumu.” Lalu Kami memisahkan di antara mereka maka   sekutu-sekutu mereka berkata:  ”Sekali-kali bukanlah kami yang senantiasa kamu sembah;  maka cukuplah Allah sebagai saksi di antara kami dan kamu, sesungguhnya  kami tidak tahu-menahu  mengenai penyembahan kamu.” (Yunus [10]:29-30).  Lihat pula QS.6:23-24; QS.46:7.
        Mengenai penolakan (pengingkaran)  wujud-wujud yang dipersekutukan dengan Tuhan  terhadap penyembahan orang-orang musyrik  terhadap mereka lihat pula QS.16:87-88; QS.28:63-65; QS.30:13-15. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ  اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Di sanalah  tiap-tiap jiwa  merasakan penderitaan  akibat apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka akan dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang haq (sebenarnya), dan  lenyaplah dari mereka apa yang telah  mereka ada-adakan itu.  (Yunus [10]:31). 
       Di dunia  ini  manusia tidak diberi kemampuan sepenuhnya untuk memahami dan mengetahui hakikat yang sebenarnya mengenai segala sesuatu. Hanya nanti di akhiratlah segala hijab (tirai) akan sepenuhnya disingkapkan, dan hakikat yang sebenarnya mengenai segala sesuatu akan menjadi terang dan jelas.
    Pendek kata, banyak berbagai dalil dalam Al-Quran yang mendukung kebenaran firman Allah Swt.  berkenaan kesaksian ruh manusia mengenai Tauhid Ilahi yang telah ditanamkan Allah Swt. dalam jiwa atau fitrat manusia (QS.7:173-175).

Hikmah Tertib  Urutan Penganugerahan Pendengar, Penglihatan dan Hati (Pengertian)

      Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kesaksian jujur  orang-orang musyrik sesuai kesaksian  ruhnya atau fitratnya  mengenai Tauhid Ilahi (QS.7:173):
 قُلۡ مَنۡ یَّرۡزُقُکُمۡ مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ اَمَّنۡ یَّمۡلِکُ السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ مَنۡ یُّخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ یُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ وَ مَنۡ یُّدَبِّرُ الۡاَمۡرَ ؕ فَسَیَقُوۡلُوۡنَ اللّٰہُ ۚ فَقُلۡ  اَفَلَا  تَتَّقُوۡنَ ﴿﴾  فَذٰلِکُمُ  اللّٰہُ  رَبُّکُمُ الۡحَقُّ ۚ فَمَا ذَا بَعۡدَ الۡحَقِّ  اِلَّا الضَّلٰلُ ۚۖ فَاَنّٰی تُصۡرَفُوۡنَ ﴿﴾  کَذٰلِکَ حَقَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ عَلَی الَّذِیۡنَ فَسَقُوۡۤا  اَنَّہُمۡ  لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:  ”Siapakah yang memberi kamu rezeki dari langit dan bumi? Dan siapakah yang menguasai pendengaran serta penglihatan? Dan  siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan  siapakah yang mengatur  segala urusan?” Mereka akan berkata: “Allah.” Maka katakanlah: ”Tidakkah kamu mau  bertakwa?”   Maka demikianlah Allah, Rabb (Tuhan) kamu Yang Mahabenar, karena itu tidak ada sesudah haq (kebenaran) melainkan kesesatan, lalu bagaimanakah kamu dipalingkan dari kebenaran?”   Demikianlah telah nyata benarnya firman Rabb (Tuhan) engkau mengenai orang-orang yang fasik (durhaka) bahwa sesungguhnya mereka itu tidak akan beriman. (Yunus [10]:32-34).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 9 Agustus 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar