Minggu, 16 Agustus 2015

Sifat Rububiyyat Aalam Ayat AlhamdulilLaahirabbil 'Aalamiin" (Segala Puji bagi Allah Rabb/Tuhan Seluruh Alam) & Hubungannya dengan Hukum Evolusi dan Kesabaran



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 9

Sifat Rububiyyat  Dalam  Ayat   “Alhamdulillāhi- Rabbil- ‘ālamīn”  (Segala Puji Bagi Allah Rabb/Tuhan Seluruh Alam)  & Hubungannya dengan Hukum Evolusi dan  Kesabaran

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna kata rabba dalam hubungannya dengan proses hukum sebab-akibat berkesinambungan   penciptaan tatanan alam semesta jasmani.  Jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata rabba itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt., contohnya Nabi Yusuf a.s. telah menyebut  rabb  kepada raja Mesir, yang memerintahkan orang yang pernah dipenjara bersama beliau   untuk membawa keluar beliau dari dalam penjara, setelah raja itu mendengar arti  mimpinya  yang diterangkan oleh Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
وَ  قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّا جَآءَہُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ  اِلٰی رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ  الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepadanya, قَالَ ارۡجِعۡ  اِلٰی رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ  الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ  -- ia, Yusuf, berkata: “Kembalilah kepada rabb (majikan) engkau dan  tanyakanlah kepadanya, bagaimana  keadaan para perempuan yang telah mengerat tangan mereka sendiri, اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ --   sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Mengetahui rencana tipu daya mereka”  (Yusuf [12]:51).

Pengakuan Takabbur  Fir’aun Sebagai Rabb  Kaumnya

      Demikian juga Fir’aun   Ramses II di zaman Nabi Musa a.s.  yang dengan takabbur mengatakan kepada kaumnya bahwa dirinya  adalah rabb mereka, firman-Nya:
فَکَذَّبَ وَ  عَصٰی ﴿۫ۖ﴾  ثُمَّ  اَدۡبَرَ  یَسۡعٰی  ﴿۫ۖ﴾ فَحَشَرَ  فَنَادٰی ﴿۫ۖ﴾  فَقَالَ  اَنَا  رَبُّکُمُ   الۡاَعۡلٰی ﴿۫ۖ﴾  فَاَخَذَہُ  اللّٰہُ  نَکَالَ الۡاٰخِرَۃِ  وَ الۡاُوۡلٰی ﴿ؕ﴾  اِنَّ  فِیۡ ذٰلِکَ لَعِبۡرَۃً  لِّمَنۡ  یَّخۡشٰی ﴿ؕ٪﴾

Tetapi ia (Fir’aun) mendustakan dan mendurhakai,   kemudian ia berpaling seraya berusaha menantang,   maka ia menghimpunkan kaumnya dan berseru,   فَقَالَ  اَنَا  رَبُّکُمُ   الۡاَعۡلٰی   -- Lalu berkata: “Akulah  rabb ( tuhan) kamu yang paling tinggi.”   Maka Allah menyergapnya dengan siksaan di akhirat dan di dunia.   Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar ada pelajaran bagi orang yang takut.  (An-Nāzi’āt [79]:22-27).
         Apabila makna penyebutan diri Fir’aun  dalam arti   bahwa dirinya  adalah rabb yakni Tuhan sembahan selain Allah Swt. maka  perkataannya itu benar-benar merupakan ketakabburan, tetapi jika  yang dimaksudkannya adalah keberhasilan dirinya  memanfaatkan secara optimal  SDA (Sumber Daya Alam) dan SDM (Sumber Daya Manusia) maka ucapan Fir’aun  tersebut tidak salah, sebab pembangunan  kerajaan – berupa pendayagunaan SDA (sumber daya alam) dan SDM  (sumber daya manusia) -- yang dilakukan para raja atau pemimpin negara  di mana pun  dan di zaman  kapan pun memang dilakukan secara bertahap sesuai dengan Sifat Rububiyyat Allah Swt.   sebagaimana  firman-Nya berikut ini:
وَ نَادٰی فِرۡعَوۡنُ فِیۡ  قَوۡمِہٖ  قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ  الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ  تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ  مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ  یُبِیۡنُ ﴿﴾  فَلَوۡ لَاۤ  اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ  اَسۡوِرَۃٌ  مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ  مَعَہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  مُقۡتَرِنِیۡنَ ﴿﴾  فَاسۡتَخَفَّ قَوۡمَہٗ  فَاَطَاعُوۡہُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا قَوۡمًا فٰسِقِیۡنَ ﴿﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya dengan berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah kamu tidak melihat?    Atau tidakkah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan ia tidak dapat menjelaskan?    Mengapakah tidak dianugerahkan kepadanya gelang-gelang dari emas, atau datang bersamanya malaikat-malaikat yang berkumpul di sekelilingnya?"  Demikianlah ia (Fir’aun) memperbodoh kaumnya lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya mereka adalah kaum durhaka. (Az-Zukhruf [43]:52-55).
   Keberhasilan Dinasti Fir’aun di Mesir membangun  kerajaan Mesir tidak dilakukan secara tiba-tiba atau dalam waktu yang singkat, melainkan memakan waktu yang lama, dan proses pembangunan  secara   bertahap dan berkesinambungan tersebut sesuai dengan makna kata rabba   dalam dalam ayat  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam  (Al-Fatihah [1]:2).
    Makna lain   ucapan Fir’aun  yang takabbur dalam ayat-ayat tersebut adalah bahwa, “Hai kaumku, tidakkah kalian melihat bahwa apa yang  dikatakan oleh Musa kepada kalian baru sekedar janji atau wacana, sedangkan aku telah membuktikan dengan keberhasilanku membangun berbagai macam pembangunan  di wilayah kerajaan Mesir ini dengan memanfaatkan keberadaan sungai Mesir.” Itulah makna lain ayat 52:.
وَ نَادٰی فِرۡعَوۡنُ فِیۡ  قَوۡمِہٖ  قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ  الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ  تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya dengan berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah kamu tidak melihat?    (Az-Zukhruf [43]:52).
    Makna lain dari ucapan Fir’aun selanjutnya mengenai Nabi Musa a.s.  وَّ لَا یَکَادُ  یُبِیۡنُ  -- “dan ia tidak dapat menjelaskan”  dalam ayat    اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ  مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ  یُبِیۡنُ   -- “Atau tidakkah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan ia tidak dapat menjelaskan?”
   Ucapan Fir’aun tersebut tidak ada hubungannya dengan anggapan bahwa  mengapa Nabi Musa a.s. tidak fasih dalam berbicara  (QS.28:34-35)  adalah karena  pada waktu beliau  masih anak-anak,  Fir’aun telah memasukkan bara api ke dalam  mulut Nabi Musa a.s..
     Hal  tersebut tidak mungkin terjadi pada diri seorang yang akan dijadikan  Allah Swt. sebagai rasul-Nya, sebab kejelasan  atau kefasihan dalam  berbicara merupakan syarat utama yang harus dimiliki  para rasul Allah.  Jadi, ucapan  Nabi Musa a.s. kepada Allah Swt. bahwa kakak beliau, Harun, lebih fasih dalam berbicara daripada beliau memiliki makna lain,
  Jadi, ucapan Fir’aun mengenai Nabi Musa a.s. tersebut hanya merupakan  penghinaan belaka, sebagaimana dikatakan oleh para penentang para rasul Allah, contohny ucapan para pemuka kaum Nabi Nuh a.s.  telah mengatakan hal yang sama  dalam ungkapan yang berbeda, firman-Nya mengenai  para pemuka kaum Nabi Nuh a.s.:
قَالُوۡا یٰنُوۡحُ قَدۡ جٰدَلۡتَنَا فَاَکۡثَرۡتَ جِدَالَنَا فَاۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَاۤ  اِنۡ  کُنۡتَ مِنَ  الصّٰدِقِیۡنَ﴿﴾
Mereka berkata:  “Hai Nuh,  sungguh engkau telah berbantah dengan kami dan memperpanjang bantahan engkau  terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang telah engkau ancamkan kepada kami, jika  engkau termasuk orang-orang yang benar.” (Hūd [11]:33).
        Sehubungan kedegilan hati kaumnya  serta ketakaburran mereka tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman mengenai pengaduan Nabi Nuh a.s.:
وَ  اِنِّیۡ کُلَّمَا دَعَوۡتُہُمۡ  لِتَغۡفِرَ لَہُمۡ جَعَلُوۡۤا  اَصَابِعَہُمۡ  فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَ اسۡتَغۡشَوۡا ثِیَابَہُمۡ وَ اَصَرُّوۡا وَ اسۡتَکۡبَرُوا اسۡتِکۡبَارًا ۚ﴿﴾
“Dan sesungguhnya setiap kali aku berseru kepada mereka agar Engkau memaafkan mereka, mereka memasukkan jari-jarinya ke dalam telinganya  dan menutupkan pakaian mereka, dan mereka gigih dalam kekafiran dan mereka sangat menyombongkan diri. (Nuh [71]:8).
     Demikian pula para pemuka kaum Midian (Madyan) pun  mengatakan ucapan penghinaan hal yang sama  dalam  ungkapan yang berbeda pula, firman-Nya:
قَالُوۡا یٰشُعَیۡبُ مَا نَفۡقَہُ کَثِیۡرًا مِّمَّا تَقُوۡلُ وَ  اِنَّا  لَنَرٰىکَ فِیۡنَا ضَعِیۡفًا ۚ وَ لَوۡ لَا رَہۡطُکَ لَرَجَمۡنٰکَ ۫ وَ مَاۤ  اَنۡتَ عَلَیۡنَا بِعَزِیۡزٍ ﴿﴾
Mereka menjawab: “Hai Syu'aib, kami sama sekali tidak mengerti banyak mengenai apa yang engkau katakan, dan  sesungguhnya kami me-lihat engkau seorang yang lemah di kalangan kami. Dan  seandainya tidak karena kaum kerabat engkau, niscaya kami telah mengusir engkau, dan engkau sama sekali bukanlah seorang yang berkedudukan atas kami”  (Hūd [11]:92).
        Jadi, kembali kepada perkataan Fir’aun mengenai Nabi  Musa a.s.: وَّ لَا یَکَادُ  یُبِیۡنُ  -- “dan ia tidak dapat menjelaskan”  dalam ayat    اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ  مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ  یُبِیۡنُ   -- “Atau tidakkah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan ia tidak dapat menjelaskan?”  Ucapan Fir’aun tersebut sama sekali bukan karena Nabi Musa a.s. bicaranya tidak fasih,   melainkan karena memang para penentang Rasul Allah telah bertekad-bulat untuk  menolak  kebenaran apa pun yang dikemukakan rasul Allah kepada mereka sekali pun ditunjang dengan penampakkan Ayat-ayat (mukjizat) dari Allah Swt., sebagimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
 اِنَّ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا سَوَآءٌ  عَلَیۡہِمۡ ءَاَنۡذَرۡتَہُمۡ  اَمۡ  لَمۡ  تُنۡذِرۡہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ خَتَمَ اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِمۡ ؕ  وَ عَلٰۤی اَبۡصَارِہِمۡ غِشَاوَۃٌ ۫ وَّ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ٪﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang  kafir  sama saja bagi mereka, apakah   engkau  memperingatkan mereka atau pun engkau tidak pernah memper-ingatkan mereka, mereka tidak akan beriman. خَتَمَ اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِمۡ ؕ  وَ عَلٰۤی اَبۡصَارِہِمۡ غِشَاوَۃٌ ۫ وَّ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ  -- Allah  telah mencap  hati mereka dan pendengaran mereka, se-dangkan pada penglihatan  mereka   ada tutupan, dan bagi mereka ada siksaan yang amat besar (Al-Baqarah [2]:7-8).

Hikmah Penyebutan Kata Sabar Mendahului Kata Shalat   & Terjadinya Mukjizat dan Karamat

     Mengingatkan kepada kenyataan makna Sifat Rububiyyat Allah Swt. dalam ayat  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam  (Al-Fatihah [1]:2)  itu pulalah, Allah Swt. telah  berfirman mengenai pentingnya bersikap sabar (kesabaran) dalam menunggu  terjadinya pengabulan doa oleh Allah Swt., firman-Nya:
وَ اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ وَ اِنَّہَا لَکَبِیۡرَۃٌ اِلَّا عَلَی الۡخٰشِعِیۡنَ  ﴿﴾
Dan  mohonlah pertolongan kepada Allah  dengan sabar  dan shalat,  dan sesungguhnya hal itu benar-benar sangat berat kecuali bagi orang-orang yang berendah diri  (Al-Baqarah [2]:46).  
Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  mohonlah pertolongan dengan sabar  dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar   (Al-Baqarah [2]:154).    QS.7:129.
       Shabr (sabar) berarti berpegang teguh kepada akal dan hukum syariat serta menjaga diri dari apa-apa yang dilarang oleh akal dan hukum serta dari menampakkan sedih, gelisah, dan ketidaksabaran. Jadi,   shabr (sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal  (Al-Mufradat).
        Ayat ini mengandung satu asas yang hebat sekali untuk mencapai keberhasilan. Pertama, seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang teguh kepada segala hal yang baik. Kedua, ia hendaknya mendoa kepada  Allah Swt.  untuk keberhasilan, sebab hanya Allah  Swt.   sajalah Sumber segala kebaikan.
        Kata shabr (sabar) mendahului kata shalat dalam ayat ini dengan maksud untuk menekankan pentingnya melaksanakan hukum Ilahi yang terkadang diremehkan karena tidak mengetahui. Lazimnya doa akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan segala sarana yang dijadikan  Allah Swt..  untuk mencapai sesuatu tujuan.
       Contohnya, walau pun Allah Swt. Maha Kuasa untuk melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya, tetapi Dia tidak akan pernah mengabulkan keinginan pasangan suami-istri yang baru  beberapa saat menikah,   kemudian tiba-tiba  hamil dan melahirkan anak, melainkan harus menunggu selama 9 atau 10 bulan (QS.7:190-192; QS.22:6; QS.23:13-15; QS.31:15; QS.46:16),  sebab untuk hal tersebut di alam semesta ini Allah Swt. telah mengaturnya dengan Sifat Rububiyyat-Nya yang sempurna, sebagaimana firman-Nya: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam  (Al-Fatihah [1]:2).
       Namun demikian, dalam rangka  menyatakan bahwa Allah Swt. tersebut  adalah benar-benar Maha Kuasa, karena itu  itu dalam rangka mendukung kebenaran para Rasul Allah atau para wali Allah, Dia   melalui  hamba-hamba-Nya yang khusus tersebut kadang-kadang menimbulkan  berbagai kejadian  luar biasa yang disebut mukjizat   dan karamah (karamat), yang   berada di luar hukum “sebab-akibat” yang secara umum  telah diberlakukan-Nya mengenai segala sesuatu.

Makna “Al-’ālamīn” (Seluruh Alam) & Makna “Segala Puji bagi Allah

        Al-’ālamīn  dalam kalimat  رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- “Rabb seluruh alam” adalah jamak dari al-’alam, berasal dari akar kata ‘ilm yang berarti “mengetahui.” Kata itu bukan saja telah dikenakan kepada semua wujud atau benda yang dengan sarana itu orang dapat mengetahui Al-Khāliq  -  Maha Pencipta (Al-Aqrabul-Mawarid), kata tersebut dikenakan bukan saja kepada segala macam wujud atau benda yang dijadikan, tetapi pula kepada golongan-golongannya secara kolektif, sehingga orang berkata ‘alamul-ins, artinya: alam manusia atau ‘alam-ul-hayawan   yakni alam binatang. Dengan demikian ayat ini membantah teori Charles Darwin yang mengatakan bahwa manusia berasal dari spesies kera.
       Kata al-’ālamīn tidak hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud berakal — manusia dan malaikat — saja, Al-Quran  pun mengenakannya kepada semua benda yang diciptakan (QS.26:24-29 dan QS.41:10). Akan tetapi tentu saja kadang-kadang kata itu dipakai dalam arti yang terbatas (QS.2:123). Di sini kata itu dipakai dalam arti yang seluas-luasnya dan mengandung arti “segala sesuatu yang ada selain Allah” yakni  benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa dan mencakup juga benda-benda langit — matahari, bulan, bintang, dan sebagainya.
      Ungkapan “Segala puji bagi Allah”  lebih luas dan lebih mendalam artinya daripada “Aku memuji Allah”, sebab manusia hanya dapat memuji Allah Swt.  menurut pengetahuannya yang terbatas,   sedangkan  anak kalimat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ  -- “Segala puji bagi Allah” meliputi bukan saja puji-pujian yang diketahui manusia bahkan juga puji-pujian  yang tidak diketahuinya. Allah Swt.   layak mendapat puji-pujian setiap waktu, terlepas dari pengetahuan atau kesadaran manusia yang tidak sempurna.
        Tambahan pula  kata al-hamd  adalah  masdar dan karena itu dapat diartikan kedua-duanya, sebagai pokok kalimat atau sebagai tujuan kalimat. Diartikan sebagai pokok, Al-hamdulillāhi berarti hanyalah Allah Swt. sajalah    Dzat Yang  berhak memberikan pujian sejati; dan jika  diartikan secara tujuan kalimat maka Alhamdulillāhi berarti bahwa segala pujian sejati dan tiap-tiap macam pujian yang sempurna hanya layak bagi Allah Swt.   
        Jadi, ayat  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam  (Al-Fatihah [1]:2).  ini menunjuk kepada hukum evolusi di dunia, artinya bahwa segala sesuatu mengalami perkembangan dan bahwa perkembangan itu terus-menerus — dan terlaksana secara bertahap.
        Rabb  adalah Wujud Yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berkembang setingkat demi setingkat. Ayat itu menjelaskan pula bahwa prinsip evolusi  tidak bertentangan dengan kepercayaan kepada Allah Swt..   Tetapi proses evolusi yang disebut di sini, tidak sama dengan teori evolusi seperti biasanya diartikan. Kata-kata itu dipergunakan dalam arti umum.

Kemajuan Berkesinambungan Dalam Surga  & Makna Mohon Maghfirah (Pengampunan) Para Penghuni Surga

        Selanjutnya  Surah Al-Fatihah ayat  2 ini menunjuk kepada kenyataan bahwa manusia dijadikan untuk kemajuan tidak terbatas, sebab ungkapan Rabb-ul-’ālamīn itu mengandung arti bahwa Allah Swt.  mengembangkan segala sesuatu dari tingkatan rendah kepada yang lebih tinggi, dan hal itu hanya mungkin jika tiap-tiap tingkatan itu diikuti oleh tingkatan lain dalam proses yang tidak ada henti-hentinya. Sunnatullah berkenaan Sifat Rububiyyat Allah Swt. tersebut  berlaku juga di alam akhirat, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan)  kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, pada hari ke-tika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ یۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya,   یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami,  sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrīm [66]:9).
     Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan pada pihak orang-orang yang beriman di surga sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami“ menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah kehidupan menganggur.
    Kebalikannya, kemajuan ruhani di surga tiada berhingga sebab bila orang-orang beriman  akan mencapai kesempurnaan  yang menjadi ciri tingkat surga tertentu, mereka tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan serentak terlihat di hadapannya ada tingkat kesempurnaan lebih tinggi dan diketahuinya bahwa tingkat yang didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa berakhir.
  Selanjutnya tampak dari makna ayat  وَ اغۡفِرۡ لَنَا  -- “dan maafkanlah kami,” bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman  akan mencapai maghfirah – penutupan kekurangan (Lexicon Lane). Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas dan memandang tiap-tiap tingkat sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu akan berdoa kepada Allah SWt. supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan.”

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 17 Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar