بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 9
Sifat Rububiyyat
Dalam
Ayat “Alhamdulillāhi-
Rabbil- ‘ālamīn” (Segala Puji Bagi
Allah Rabb/Tuhan Seluruh Alam) & Hubungannya
dengan Hukum Evolusi dan Kesabaran
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna kata rabba dalam hubungannya dengan proses
hukum sebab-akibat
berkesinambungan penciptaan tatanan
alam semesta jasmani. Jika dipakai dalam
rangkaian dengan kata lain, kata rabba itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt.,
contohnya Nabi Yusuf a.s. telah menyebut
rabb kepada raja
Mesir, yang memerintahkan orang yang pernah dipenjara bersama beliau
untuk membawa keluar beliau dari dalam penjara, setelah raja itu mendengar arti mimpinya yang diterangkan oleh Nabi Yusuf a.s.,
firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّا
جَآءَہُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ اِلٰی
رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ
الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ
﴿﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia
kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepadanya, قَالَ ارۡجِعۡ اِلٰی رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ
النِّسۡوَۃِ الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ
اَیۡدِیَہُنَّ -- ia,
Yusuf, berkata: “Kembalilah kepada rabb
(majikan) engkau dan tanyakanlah kepadanya, bagaimana
keadaan para perempuan yang telah
mengerat tangan mereka sendiri, اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ -- sesungguhnya
Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Mengetahui rencana tipu daya mereka” (Yusuf [12]:51).
Pengakuan Takabbur Fir’aun
Sebagai Rabb Kaumnya
Demikian juga Fir’aun Ramses II di zaman Nabi Musa a.s. yang dengan takabbur mengatakan kepada kaumnya bahwa dirinya adalah rabb
mereka, firman-Nya:
فَکَذَّبَ
وَ عَصٰی ﴿۫ۖ﴾ ثُمَّ
اَدۡبَرَ یَسۡعٰی ﴿۫ۖ﴾ فَحَشَرَ فَنَادٰی ﴿۫ۖ﴾ فَقَالَ
اَنَا رَبُّکُمُ الۡاَعۡلٰی ﴿۫ۖ﴾ فَاَخَذَہُ
اللّٰہُ نَکَالَ الۡاٰخِرَۃِ وَ الۡاُوۡلٰی ﴿ؕ﴾ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَعِبۡرَۃً لِّمَنۡ یَّخۡشٰی ﴿ؕ٪﴾
Tetapi ia (Fir’aun) mendustakan dan mendurhakai, kemudian ia berpaling seraya berusaha menantang, maka ia
menghimpunkan kaumnya dan berseru,
فَقَالَ
اَنَا رَبُّکُمُ الۡاَعۡلٰی -- Lalu
berkata: “Akulah rabb ( tuhan) kamu yang paling tinggi.” Maka Allah
menyergapnya dengan siksaan di
akhirat dan di dunia. Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar ada pelajaran bagi orang yang takut. (An-Nāzi’āt [79]:22-27).
Apabila makna penyebutan diri Fir’aun
dalam arti bahwa dirinya adalah rabb
yakni Tuhan sembahan selain Allah
Swt. maka perkataannya itu benar-benar
merupakan ketakabburan, tetapi
jika yang dimaksudkannya adalah keberhasilan dirinya memanfaatkan
secara optimal SDA (Sumber Daya Alam)
dan SDM (Sumber Daya Manusia) maka ucapan Fir’aun tersebut tidak salah, sebab pembangunan kerajaan
– berupa pendayagunaan SDA (sumber
daya alam) dan SDM (sumber daya manusia)
-- yang dilakukan para raja atau pemimpin negara di mana pun
dan di zaman kapan pun memang
dilakukan secara bertahap sesuai
dengan Sifat Rububiyyat Allah
Swt. sebagaimana firman-Nya berikut ini:
وَ نَادٰی
فِرۡعَوۡنُ فِیۡ قَوۡمِہٖ قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ
ہٰذِہِ الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ
مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ
یُبِیۡنُ ﴿﴾ فَلَوۡ لَاۤ اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ اَسۡوِرَۃٌ
مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ مَعَہُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ مُقۡتَرِنِیۡنَ ﴿﴾ فَاسۡتَخَفَّ قَوۡمَہٗ فَاَطَاعُوۡہُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا قَوۡمًا
فٰسِقِیۡنَ ﴿﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya
dengan berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah kamu tidak melihat? Atau tidakkah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan ia tidak dapat menjelaskan? Mengapakah tidak dianugerahkan kepadanya gelang-gelang dari emas, atau datang bersamanya malaikat-malaikat yang berkumpul
di sekelilingnya?" Demikianlah ia (Fir’aun) memperbodoh kaumnya lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya
mereka adalah kaum durhaka. (Az-Zukhruf
[43]:52-55).
Keberhasilan Dinasti Fir’aun di Mesir membangun
kerajaan Mesir tidak dilakukan secara tiba-tiba atau dalam waktu yang singkat, melainkan memakan waktu yang lama, dan proses pembangunan secara
bertahap dan berkesinambungan tersebut sesuai dengan
makna kata rabba dalam dalam ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Fatihah [1]:2).
Makna lain
ucapan Fir’aun yang takabbur
dalam ayat-ayat tersebut adalah bahwa, “Hai kaumku, tidakkah kalian melihat
bahwa apa yang dikatakan oleh Musa
kepada kalian baru sekedar janji atau
wacana, sedangkan aku telah
membuktikan dengan keberhasilanku membangun
berbagai macam pembangunan di wilayah kerajaan Mesir ini dengan
memanfaatkan keberadaan sungai Mesir.” Itulah makna lain ayat 52:.
وَ نَادٰی فِرۡعَوۡنُ فِیۡ
قَوۡمِہٖ قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ
لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ الۡاَنۡہٰرُ
تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya
dengan berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah kamu tidak melihat? (Az-Zukhruf
[43]:52).
Makna lain dari ucapan Fir’aun selanjutnya
mengenai Nabi Musa a.s. وَّ لَا یَکَادُ یُبِیۡنُ -- “dan ia tidak dapat menjelaskan” dalam ayat
اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ
مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ
یُبِیۡنُ -- “Atau
tidakkah
aku lebih baik daripada orang yang
hina ini dan ia tidak dapat
menjelaskan?”
Ucapan Fir’aun tersebut tidak ada
hubungannya dengan anggapan bahwa mengapa Nabi Musa a.s. tidak fasih dalam berbicara (QS.28:34-35) adalah karena
pada waktu beliau masih anak-anak, Fir’aun telah memasukkan bara api ke dalam mulut Nabi Musa a.s..
Hal
tersebut tidak mungkin terjadi pada diri seorang yang akan dijadikan Allah Swt. sebagai rasul-Nya, sebab kejelasan atau kefasihan
dalam berbicara merupakan syarat
utama yang harus dimiliki para rasul Allah. Jadi, ucapan
Nabi Musa a.s. kepada Allah Swt. bahwa kakak beliau, Harun, lebih fasih dalam berbicara daripada beliau memiliki makna lain,
Jadi, ucapan Fir’aun mengenai Nabi Musa
a.s. tersebut hanya merupakan penghinaan belaka, sebagaimana dikatakan
oleh para penentang para rasul Allah, contohny ucapan para pemuka
kaum Nabi Nuh a.s. telah mengatakan hal
yang sama dalam ungkapan yang berbeda, firman-Nya mengenai para pemuka kaum Nabi Nuh a.s.:
قَالُوۡا یٰنُوۡحُ قَدۡ جٰدَلۡتَنَا فَاَکۡثَرۡتَ جِدَالَنَا فَاۡتِنَا
بِمَا تَعِدُنَاۤ اِنۡ کُنۡتَ مِنَ
الصّٰدِقِیۡنَ﴿﴾
Mereka
berkata: “Hai Nuh, sungguh engkau telah berbantah dengan kami dan memperpanjang bantahan engkau
terhadap kami, maka datangkanlah
kepada kami azab yang telah engkau ancamkan kepada kami, jika engkau
termasuk orang-orang yang benar.” (Hūd [11]:33).
Sehubungan kedegilan hati kaumnya serta
ketakaburran mereka tersebut dalam
Surah lain Allah Swt. berfirman mengenai pengaduan Nabi Nuh a.s.:
وَ اِنِّیۡ کُلَّمَا دَعَوۡتُہُمۡ لِتَغۡفِرَ لَہُمۡ جَعَلُوۡۤا اَصَابِعَہُمۡ
فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَ اسۡتَغۡشَوۡا
ثِیَابَہُمۡ وَ اَصَرُّوۡا وَ اسۡتَکۡبَرُوا اسۡتِکۡبَارًا ۚ﴿﴾
“Dan sesungguhnya setiap kali aku
berseru kepada mereka agar Engkau memaafkan mereka, mereka memasukkan jari-jarinya ke dalam telinganya dan menutupkan pakaian mereka,
dan mereka gigih dalam kekafiran dan mereka sangat menyombongkan diri. (Nuh
[71]:8).
Demikian pula para pemuka kaum Midian (Madyan)
pun mengatakan ucapan penghinaan hal yang sama
dalam ungkapan yang berbeda pula,
firman-Nya:
قَالُوۡا یٰشُعَیۡبُ مَا
نَفۡقَہُ کَثِیۡرًا مِّمَّا
تَقُوۡلُ وَ اِنَّا
لَنَرٰىکَ فِیۡنَا ضَعِیۡفًا ۚ وَ لَوۡ لَا رَہۡطُکَ
لَرَجَمۡنٰکَ ۫ وَ مَاۤ اَنۡتَ عَلَیۡنَا بِعَزِیۡزٍ ﴿﴾
Mereka
menjawab: “Hai Syu'aib, kami sama sekali tidak mengerti banyak
mengenai apa yang engkau katakan, dan
sesungguhnya kami me-lihat engkau seorang yang
lemah di kalangan kami. Dan seandainya tidak karena kaum kerabat engkau,
niscaya kami telah mengusir engkau,
dan engkau sama sekali bukanlah seorang
yang berkedudukan atas kami” (Hūd
[11]:92).
Jadi, kembali kepada perkataan Fir’aun
mengenai Nabi Musa a.s.: وَّ لَا یَکَادُ یُبِیۡنُ -- “dan ia tidak dapat menjelaskan” dalam ayat
اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ
مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ
یُبِیۡنُ -- “Atau
tidakkah
aku lebih baik daripada orang yang
hina ini dan ia tidak dapat
menjelaskan?” Ucapan Fir’aun
tersebut sama sekali bukan karena Nabi Musa a.s. bicaranya tidak fasih, melainkan karena memang para penentang Rasul Allah telah bertekad-bulat untuk menolak
kebenaran apa pun yang dikemukakan rasul Allah kepada mereka sekali pun ditunjang dengan penampakkan Ayat-ayat (mukjizat) dari Allah Swt.,
sebagimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا سَوَآءٌ عَلَیۡہِمۡ
ءَاَنۡذَرۡتَہُمۡ اَمۡ لَمۡ تُنۡذِرۡہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
خَتَمَ اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِمۡ ؕ وَ عَلٰۤی اَبۡصَارِہِمۡ غِشَاوَۃٌ ۫ وَّ
لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ٪﴿﴾
Sesungguhnya
orang-orang kafir sama saja bagi mereka,
apakah engkau memperingatkan mereka atau
pun engkau tidak pernah memper-ingatkan
mereka, mereka tidak akan beriman.
خَتَمَ
اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِمۡ ؕ وَ عَلٰۤی اَبۡصَارِہِمۡ غِشَاوَۃٌ ۫ وَّ
لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ -- Allah
telah mencap hati mereka dan pendengaran mereka, se-dangkan pada
penglihatan mereka ada tutupan, dan bagi mereka ada siksaan yang amat besar (Al-Baqarah [2]:7-8).
Hikmah Penyebutan Kata Sabar Mendahului Kata Shalat
& Terjadinya Mukjizat dan Karamat
Mengingatkan kepada kenyataan makna Sifat Rububiyyat Allah Swt. dalam ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Fatihah [1]:2) itu pulalah, Allah Swt. telah berfirman mengenai pentingnya bersikap sabar (kesabaran) dalam menunggu terjadinya pengabulan doa oleh Allah Swt., firman-Nya:
وَ اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ وَ اِنَّہَا
لَکَبِیۡرَۃٌ اِلَّا عَلَی الۡخٰشِعِیۡنَ ﴿﴾
Dan
mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya hal itu benar-benar sangat berat kecuali
bagi orang-orang yang berendah diri (Al-Baqarah [2]:46).
Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ
ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, mohonlah
pertolongan dengan sabar dan shalat,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Al-Baqarah [2]:154). QS.7:129.
Shabr
(sabar) berarti berpegang teguh
kepada akal dan hukum syariat serta menjaga diri dari apa-apa yang dilarang oleh akal dan hukum serta dari
menampakkan sedih, gelisah, dan
ketidaksabaran. Jadi, shabr
(sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan
dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat
dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan
akal (Al-Mufradat).
Ayat
ini mengandung satu asas yang hebat
sekali untuk mencapai keberhasilan.
Pertama, seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang teguh kepada segala hal
yang baik. Kedua, ia hendaknya mendoa
kepada Allah Swt. untuk keberhasilan, sebab hanya Allah
Swt. sajalah Sumber segala kebaikan.
Kata shabr (sabar) mendahului kata shalat
dalam ayat ini dengan maksud untuk menekankan pentingnya melaksanakan hukum
Ilahi yang terkadang diremehkan
karena tidak mengetahui. Lazimnya doa
akan terkabul hanya bila didampingi
oleh penggunaan segala sarana yang
dijadikan Allah Swt.. untuk mencapai sesuatu tujuan.
Contohnya, walau pun Allah Swt. Maha Kuasa untuk melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya, tetapi Dia tidak akan
pernah mengabulkan keinginan pasangan suami-istri yang baru beberapa saat menikah, kemudian
tiba-tiba hamil dan melahirkan anak,
melainkan harus menunggu selama 9
atau 10 bulan (QS.7:190-192; QS.22:6;
QS.23:13-15; QS.31:15; QS.46:16), sebab
untuk hal tersebut di alam semesta
ini Allah Swt. telah mengaturnya dengan Sifat Rububiyyat-Nya yang sempurna, sebagaimana firman-Nya: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --
Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Fatihah [1]:2).
Namun demikian, dalam rangka menyatakan bahwa Allah Swt. tersebut adalah benar-benar Maha Kuasa, karena itu itu
dalam rangka mendukung kebenaran para
Rasul Allah atau para wali Allah, Dia melalui
hamba-hamba-Nya yang khusus
tersebut kadang-kadang menimbulkan
berbagai kejadian luar biasa yang disebut mukjizat
dan karamah (karamat), yang
berada di luar hukum “sebab-akibat” yang secara umum telah diberlakukan-Nya
mengenai segala sesuatu.
Makna “Al-’ālamīn” (Seluruh Alam) & Makna “Segala Puji bagi Allah”
Al-’ālamīn
dalam kalimat رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- “Rabb seluruh alam” adalah jamak dari al-’alam,
berasal dari akar kata ‘ilm yang berarti “mengetahui.” Kata itu bukan
saja telah dikenakan kepada semua wujud
atau benda yang dengan sarana itu
orang dapat mengetahui Al-Khāliq
- Maha Pencipta (Al-Aqrabul-Mawarid), kata
tersebut dikenakan bukan saja kepada segala macam wujud atau benda yang
dijadikan, tetapi pula kepada golongan-golongannya
secara kolektif, sehingga orang
berkata ‘alamul-ins, artinya: alam manusia atau ‘alam-ul-hayawan yakni alam binatang. Dengan demikian ayat ini
membantah teori Charles Darwin yang
mengatakan bahwa manusia berasal dari
spesies kera.
Kata al-’ālamīn tidak hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud
berakal — manusia dan malaikat — saja, Al-Quran pun mengenakannya kepada semua benda yang
diciptakan (QS.26:24-29 dan QS.41:10). Akan tetapi tentu saja kadang-kadang
kata itu dipakai dalam arti yang terbatas (QS.2:123). Di sini kata itu dipakai
dalam arti yang seluas-luasnya dan
mengandung arti “segala sesuatu yang ada
selain Allah” yakni benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa dan mencakup juga benda-benda langit — matahari,
bulan, bintang, dan sebagainya.
Ungkapan “Segala puji bagi Allah”
lebih luas dan lebih mendalam artinya daripada “Aku memuji Allah”,
sebab manusia hanya dapat memuji Allah
Swt. menurut pengetahuannya yang terbatas, sedangkan
anak kalimat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ -- “Segala puji bagi Allah” meliputi
bukan saja puji-pujian yang diketahui manusia bahkan juga puji-pujian yang tidak
diketahuinya. Allah Swt. layak
mendapat puji-pujian setiap waktu,
terlepas dari pengetahuan atau kesadaran manusia yang tidak sempurna.
Tambahan pula
kata al-hamd adalah masdar dan karena itu dapat diartikan
kedua-duanya, sebagai pokok kalimat atau sebagai tujuan kalimat. Diartikan
sebagai pokok, Al-hamdulillāhi berarti hanyalah Allah Swt. sajalah Dzat Yang berhak memberikan pujian sejati; dan jika diartikan secara tujuan kalimat maka Alhamdulillāhi
berarti bahwa segala pujian sejati
dan tiap-tiap macam pujian yang sempurna hanya layak bagi Allah Swt.
Jadi, ayat اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Fatihah [1]:2). ini menunjuk kepada hukum evolusi di dunia, artinya bahwa segala sesuatu mengalami perkembangan dan bahwa perkembangan itu terus-menerus — dan
terlaksana secara bertahap.
Rabb adalah Wujud Yang
membuat segala sesuatu tumbuh dan berkembang setingkat demi setingkat.
Ayat itu menjelaskan pula bahwa prinsip evolusi tidak bertentangan dengan kepercayaan kepada
Allah Swt.. Tetapi proses evolusi yang disebut di sini, tidak sama
dengan teori evolusi seperti biasanya
diartikan. Kata-kata itu dipergunakan dalam arti umum.
Kemajuan Berkesinambungan Dalam Surga & Makna Mohon Maghfirah (Pengampunan) Para Penghuni Surga
Selanjutnya Surah Al-Fatihah ayat 2 ini menunjuk kepada kenyataan bahwa manusia
dijadikan untuk kemajuan tidak
terbatas, sebab ungkapan Rabb-ul-’ālamīn itu mengandung arti bahwa Allah
Swt. mengembangkan segala sesuatu dari tingkatan rendah kepada yang lebih
tinggi, dan hal itu hanya mungkin jika tiap-tiap
tingkatan itu diikuti oleh tingkatan
lain dalam proses yang tidak ada
henti-hentinya. Sunnatullah berkenaan
Sifat Rububiyyat Allah Swt. tersebut berlaku
juga di alam akhirat, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا
ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang
beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu
akan menghapuskan dari kamu
keburukan-keburukanmu dan akan
memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, pada hari ke-tika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ یۡدِیۡہِمۡ وَ
بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan
mereka dan di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka
akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan)
kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya
kami, dan maafkanlah kami,
sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrīm [66]:9).
Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan
pada pihak orang-orang yang beriman di surga
sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya
kami“ menunjukkan bahwa kehidupan di
surga itu bukanlah kehidupan menganggur.
Kebalikannya, kemajuan ruhani di surga tiada berhingga sebab bila orang-orang beriman akan mencapai kesempurnaan yang menjadi ciri tingkat surga tertentu, mereka tidak akan berhenti sampai di situ,
melainkan serentak terlihat di hadapannya ada tingkat kesempurnaan lebih tinggi dan diketahuinya bahwa tingkat yang
didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi maka ia akan maju terus dan
seterusnya tanpa berakhir.
Selanjutnya tampak dari makna ayat وَ اغۡفِرۡ لَنَا -- “dan maafkanlah
kami,” bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman akan mencapai maghfirah – penutupan
kekurangan (Lexicon Lane).
Mereka akan terus-menerus berdoa
kepada Allah Swt. untuk
mencapai kesempurnaan dan sama sekali
tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas dan memandang
tiap-tiap tingkat sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat
lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu akan berdoa kepada Allah SWt. supaya Dia menutupi
ketidaksempurnaannya sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar,
yang secara harfiah berarti “mohon
ampunan atas segala kealpaan.”
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 17 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar