بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 13
Pewarisan Buruk “Cara-cara
Mendustakan dan Mententang Rasul
Allah” di Setiap Zaman & Makna Ayat “Pemilik Hari Pembalasan”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai itikad lā nabiyya ba’dahu -- “tidak ada nabi akan datang lagi sesudahnya”, bahwa itu merupakan itikad sesat yang diwariskan para penentang rasul Allah di setiap zaman kedatangan rasul Allah yang dijanjikan
(QS.7:35-37), seakan-akan para
penentang Rasul Allah tersebut telah mewasiatkan
(mengamanatkan) cara-cara penentangan
dan penganiayaan yang sama terhadap
para Rasul Allah dan pengikut mereka
di setiap zaman -- termasuk itikad sesat
“Lā
nabiyya ba’dahu“ (tidak ada lagi nabi sesudahnya) -- firman-Nya:
کَذٰلِکَ
مَاۤ اَتَی الَّذِیۡنَ مِنۡ
قَبۡلِہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا
قَالُوۡا سَاحِرٌ اَوۡ مَجۡنُوۡنٌ ﴿ۚ﴾ اَتَوَاصَوۡا بِہٖ ۚ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ طَاغُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Demikianlah
sekali-kali tidak pernah datang kepada
orang-orang sebelum mereka seorang rasul melainkan mereka berkata: “Dia tukang sihir, atau orang gila!” اَتَوَاصَوۡا بِہٖ ۚ
بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ طَاغُوۡنَ -- Adakah mereka saling mewasiatkan mengenai
itu? Tidak, bahkan mereka itu semua kaum
pendurhaka. (Adz-Dzāriyāt [51]:53-54).
Pewarisan Cara-cara Mendustakan dan Menentang
Para Rasul Allah
Begitu menyoloknya persamaan tuduhan-tuduhan yang
dilancarkan terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan para mushlih rabbani (rasul Allah) lainnya oleh lawan-lawan mereka sepanjang masa, sehingga nampaknya orang-orang kafir dari abad tertentu
menurunkan (mewariskan) tuduhan-tuduhan itu kepada keturunan mereka, supaya terus
melancarkan lagi tuduhan-tuduhan I dusta dan keji tersebut. Beriikut ini firman-Nya berkenaan pendustaan
terhadap Nabi Nuh a.s.:
فَکَذَّبُوۡہُ فَنَجَّیۡنٰہُ وَ مَنۡ مَّعَہٗ فِی الۡفُلۡکِ
وَ جَعَلۡنٰہُمۡ خَلٰٓئِفَ وَ اَغۡرَقۡنَا الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ
فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الۡمُنۡذَرِیۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رُسُلًا اِلٰی
قَوۡمِہِمۡ فَجَآءُوۡہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا
کَذَّبُوۡا بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ
الۡمُعۡتَدِیۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ بَعَثۡنَا
مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مُّوۡسٰی وَ ہٰرُوۡنَ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَا۠ئِہٖ
بِاٰیٰتِنَا فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
Tetapi mereka telah mendustakannya, lalu Kami
menyelamatkan dia dan orang-orang
yang besertanya dalam bahtera,
dan Kami menjadikan mereka sebagai pengganti-pengganti
dan Kami menenggelamkan orang-orang
yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka lihatlah betapa buruk kesudahan orang-orang
yang diberi peringatan. ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رُسُلًا اِلٰی
قَوۡمِہِمۡ فَجَآءُوۡہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ -- Kemudian
Kami mengutus sesudah dia rasul-rasul
kepada kaum mereka masing-masing,
maka mereka datang dengan bukti-bukti nyata, فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا
کَذَّبُوۡا بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ -- tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman kepadanya disebabkan mereka telah mendustakannya sebelum itu.
کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ
الۡمُعۡتَدِیۡنَ -- Demikianlah Kami mencap hati orang-orang
yang melampaui batas. ثُمَّ بَعَثۡنَا
مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مُّوۡسٰی وَ ہٰرُوۡنَ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَا۠ئِہٖ بِاٰیٰتِنَا
فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ -- Kemudian sesudah mereka, Kami mengutus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan
para pembesarnya dengan Tanda-tanda Kami tetapi mereka
berlaku sombong, dan mereka itu kaum
yang berdosa. (Yunus [10]:74-75).
Jadi, ayat فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا
کَذَّبُوۡا بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ -- “tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman kepadanya disebabkan mereka telah mendustakannya sebelum itu”
sama dengan ayat 8 dalam Surah Al Jin sebelumnya: وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا -- “dan
sesungguhnya mereka menyangka
sebagaimana kamu juga menyangka
bahwa Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul,”
serta identik dengan itikad sesat di kalangan umumnya umat
Islam yang kembali bergema di Akhir
Zaman ini dari para penentang Rasul
Akhir Zaman yakni: lā
nabiyya ba’dahu -- “tidak ada nabi akan datang lagi sesudahnya,” yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s., firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا
ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya, dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka
adalah kaum yang biasa berbantah. (Az-Zukhruf [43]:58-59).
Shadda
(yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda
(yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Kedatangan Al-Masih
a.s. adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan
dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk
selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau
sejenis dengan yang lain (QS.6:39).
Diabadikan Dalam Surah Al-Fatihah
Ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula
berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw. — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama (misal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan dibangkitkan
di antara mereka untuk memperbaharui
mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani
mereka yang telah hilang (QS.61:10), maka dari bergembira atas kabar gembira
itu malah mereka berteriak mengajukan protes. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada nubuatan kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
untuk kedua kalinya di Akhir Zaman ini.
Makna ayat: کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ
الۡمُعۡتَدِیۡنَ -- Demikianlah Kami mencap hati orang-orang
yang melampaui batas” dalam QS.40:36
sebelum ini, Allah Swt. tidak semau-maunya menyegel (mencap) hati orang-orang kafir melainkan orang-orang
kafir itu sendirilah yang dengan penolakan
yang degil untuk mendengarkan Kalāmullāh itu, telah memahrumkan (meluputkan) diri dari kemampuan melihat dan menerima kebenaran yang dibawa Rasul Allah. Mereka sendirilah pencipta nasibnya yang buruk itu.
Mengenai mereka semua -- yakni (1) orang-orang mendapat nikmat Allah, terutama Rasul
Allah dan para pengikutnya
(QS.4:70); (2) golongan jin (Ahli Kitab) -- baik
yang beriman
kepada Rasul Allah mau pun yang menolak beriman sehingga mereka menjadi golongan maghdhūb
(yang dimurkai) dan dhāllīn (yang
sesat) -- telah tercantum dan diabadikan dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7, yang akan dibahas
selanjutnya, firman-Nya:
اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ
الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Tunjukilah
kami jalan
yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang
dimurkai dan bukan pula jalan
mereka yang sesat.”
Kembali kepada firman Allah Swt. berikut ini
yang telah dikemukakan dalam dalam Bab III, Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
وَ اِذَا جَآءَکَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ
بِاٰیٰتِنَا فَقُلۡ سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ
کَتَبَ رَبُّکُمۡ عَلٰی نَفۡسِہِ
الرَّحۡمَۃَ ۙ اَنَّہٗ مَنۡ عَمِلَ
مِنۡکُمۡ سُوۡٓءًۢ ابِجَہَالَۃٍ
ثُمَّ تَابَ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ وَ
اَصۡلَحَ فَاَنَّہٗ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لِتَسۡتَبِیۡنَ سَبِیۡلُ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan apabila
datang kepada engkau orang-orang yang
beriman kepada Tanda-tanda Kami فَقُلۡ سَلٰمٌ
عَلَیۡکُمۡ -- maka katakanlah: “Selamat sejahtera atas kamu,
کَتَبَ
رَبُّکُمۡ عَلٰی نَفۡسِہِ الرَّحۡمَۃَ -- Rabb
(Tuhan) kamu telah menetapkan atas
diri-Nya memberi rahmat,
اَنَّہٗ
مَنۡ عَمِلَ مِنۡکُمۡ سُوۡٓءًۢ ابِجَہَالَۃٍ ثُمَّ تَابَ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
وَ اَصۡلَحَ فَاَنَّہٗ
غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- bahwa
sesungguhnya barangsiapa di antara kamu berbuat keburukan karena kejahilan lalu ia
bertaubat sesudah itu dan memperbaiki
diri maka sesungguhnya Dia Maha
Pengampun, Maha Penyayang.” وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لِتَسۡتَبِیۡنَ سَبِیۡلُ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Dan
demikianlah Kami berulang-ulang
menerangkan Tanda-tan-da, dan supaya
jalan orang-orang yang bersalah
menjadi jelas. (Al-An’ām [6]:55).
Al-Asmā-ul-Husnā (Sifat-sifat Terindah) Allah Swt.
Dalam Surah berikut ini dijelaskan,
bahwa walau pun Allah Swt. adalah Dzuntiqam (Penuntut balas) bagi
orang-orang berdosa (QS.3:5; QS.5:96;
QS.7:135-137; QS.14:48;
QS.15:79-80; QS.30:48; QS.39:38;
QS.43:26 & 56), tetapi rahmat-Nya
(kasih-sayang-Nya) senantiasa mengatasi kemurkaan-Nya
(QS.7:157-158; QS.40:8), karena itu pintu taubat kepada-Nya senantiasa terbuka sehingga tidak ada alasan
bagi manusia untuk berputus-asa dari rahmat Allah Swt. (QS.12:84-87; QS.15:52-57; QS.18:58-60; QS.39:54), firman-Nya:
قُلِ
ادۡعُوا اللّٰہَ اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ
ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا
تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ بَیۡنَ
ذٰلِکَ سَبِیۡلًا ﴿﴾
Katakanlah:
“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah), اَیًّامَّا
تَدۡعُوۡا فَلَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی --dengan
nama apa saja kamu berseru kepada
Dia milik-Nya semua nama yang terbaik.” Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras dan jangan
pula kamu mengucapkannya terlalu lemah tetapi carilah
jalan di antara itu. (Bani Israil [17]:111).
Allah Swt. memiliki Sifat-sifat
sempurna (al-Asmā-ul-Husna) yang tidak terbilang jumlahnya (QS.7:181;
QS.59:25), maka seorang Muslim dalam doanya
ia hendaknya menyebut Sifat Ilahi tertentu yang mempunyai hubungan khas dengan perkara
yang untuk perkara itu ia mohon
petunjuk dan pertolongan Ilahi,
firman-Nya:
ہُوَ
اللّٰہُ الَّذِیۡ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ
الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ
الَّذِیۡ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ الۡجَبَّارُ
الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا
یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Mengetahui
yang gaib dan yang nampak, ہُوَ الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ
-- Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang. Dia-lah Allah
Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Maha Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber se-gala kedamaian, Pelimpahan
keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung.
سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah,
Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu,
Pemberi bentuk, لَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی -- milik
Dia-lah semua nama yang terindah. یُسَبِّحُ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Bertasbih kepada-Nya segala yang ada di seluruh langit dan bumi وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Al-Hasyr [59]:23-25).
Makna Ayat “Māliki
Yaumiddīn” (Pemilik Hari Pembalasan)
Setelah ayat الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ --
“Maha Pemurah, Maha
Penyayang” (Al-Fatihah [1]:4), selanjutnya Allah Swt. berfirman:مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ -- “Pemilik Hari Pembalasan” (Al-Fatihah [1]:4). Mālik
berarti: majikan atau orang yang memiliki hak atas sesuatu serta memiliki kekuasaan untuk memperlakukannya dengan sekehendaknya (Al-Aqrab-ul-Mawarid).
Yaum
berarti: waktu mutlak, hari mulai matahari terbit hingga terbenamnya; masa
sekarang (Al-Aqrab-ul-Mawarid).
Dīn berarti: pembalasan
atau ganjaran; peradilan atau perhitungan; kekuasaan atau pemerintahan;
kepatuhan; agama, dan sebagainya (Lexicon Lane).
Keempat
Sifat Allah Swt. yakni: رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- “Tuhan seluruh alam”; الرَّحۡمٰنِ -- “Maha
Pemurah”; الرَّحِیۡمِ -- “Maha Penyayang” dan مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ -- “Pemilik Hari Pembalasan”
adalah Sifat-sifat Tasybihiyyah yang
pokok. Sifat-sifat lain yang disebut
dalam Al-Asmā-ul-Husnā (Sifat-sifat terindah) Allah Swt. hanya menjelaskan dan merupakan
semacam tafsiran tentang keempat Sifat tadi, laksana empat
buah tiang di atasnya terletak ‘Arasy (Singgasana) -- yakni
Sifat-sifat Tanzihiyyah -- Allah
Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa.
Urutan keempat Sifat Tasybihiyyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah itu seperti dituturkan di atas, memberikan penjelasan
bagaimana Allah Swt. menampakkan
Sifat-sifat-Nya kepada manusia,
yakni:
(1) Sifat Rabb-ul-’ālamīn (Tuhan
seluruh alam) mengandung arti, bahwa
seiring dengan dijadikannya manusia Dia
pun menjadikan lingkungan yang diperlukan
untuk kemajuan dan perkembangan ruhaninya.
(2) Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) mulai berlaku sesudah itu, dan
dengan perantaraan itu Allah Swt. seolah-olah menyerahkan kepada manusia sarana-sarana
dan bahan-bahan yang diperlukan untuk
kemajuan akhlak dan ruhaninya.
(3) Jika manusia memakai sarana-sarana yang dianugerahkan
kepadanya itu secara tepat maka sifat
Ar-Rahīm (Maha Penyayang) mulai berlaku untuk mengganjar amalnya.
(4) Yang terakhir sekali sifat Māliki yaum-id-dīn (Pemilik Hari
Pembalasan) mempertunjukkan hasil
terakhir dan kolektif semua amal
perbuatan manusia, dengan demikian pelaksanaan pembalasan mencapai kesempurnaan.
Sungguhpun perhitungan terakhir
dan sempurna akan terjadi pada Hari
Pembalasan di akhirat tetapi proses
pembalasan itu terus berlaku bahkan
dalam kehidupan ini dunia juga, dengan perbedaan bahwa dalam kehidupan ini perbuatan manusia seringkali diadili
dan diganjar oleh orang lain — para raja,
para penguasa, dan sebagainya — oleh
karena itu senantiasa ada kemungkinan adanya kekeliruan.
Tetapi pada Hari Pembalasan,
kedaulatan Alah Swt. itu mandiri
serta mutlak, dan tindakan
pembalasan (pengganjaran) itu seluruhnya ada dalam kekuasaan-Nya. Ketika itu tidak akan terdapat kesalahan, tiada hukuman
yang tidak tepat, tiada ganjaran yang
tidak adil.
Pemakaian kata Mālik (Pemilik)
dimaksudkan pula untuk menunjuk kepada ke-nyataan bahwa Allah Swt. tidak seperti seorang hakim yang
harus menjatuhkan keputusan benar
sesuai dengan hukum yang telah
ditetapkan. Selaku Mālik (Pemilik), Dia dapat mengampuni dan menampakkan kasih-sayang-Nya
(rahmat-Nya) kapan saja dan dengan cara apa pun sekehendak-Nya.
Dengan mengambil dīn dalam arti
agama, maka kata-kata “Māliki
yaumid-dīn” (Yang memiliki waktu agama) akan berarti bahwa bila suatu agama sejati diturunkan maka
umat manusia menyaksikan suatu penjelmaan
kekuasaan dan takdir Ilahi yang
luar biasa, dan bila agama itu mundur
maka nampaknya seolah-olah seluruh
alam berjalan secara mekanis,
tanpa pengawasan atau pengaturan Sang Khāliq (Pencipta)
dan Al-Mālik (Pemilik).
Penjelasan Al-Masih Mau’ud
a.s. Mengenai Hikmah Urutan Keempat Sifat Utama Tasybihiyyah Allah Swt. Dalam Surah Al-Fatihah
Sehubungan dengan urutan
keempat Sifat utama Tasybihiyyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah tersebut Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, yakni Al-Masih
Mau’ud a.s. antara lain bersabda:
“Allah Swt. memiliki 4
Sifat utama yang dapat dianggap sebagai induk
daripada semua Sifat-sifat lainnya. Setiap jenisnya merupakan kewajiban untuk
dipahami bagi peragaan sifat
kemanusiaan kita. Keempat Sifat itu adalah Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat dari hari penghisaban.
Sifat Rabubiyat untuk
manifestasinya memerlukan ketiadaan atau keadaan yang mendekati ketiadaan
sama sekali. Semua bentuk ciptaan -- baik
yang bernyawa mau pun benda mati -- mewujud melalui Sifat tersebut.
Sifat Rahmāniyat untuk
manifestasinya (menampakannya) menuntut ketiadaan
eksistensi (keberadaan) dan pelaksanaan
fungsinya hanya berkait dengan mahluk hidup dan tidak dengan benda mati. Sifat Rahīmiyat bagi
manifestasinya (menampakkannya) mempersyaratkan ketiadaan dan tidak
eksisnya Sifat ini dari bagian penciptaan (makhluk) yang memiliki daya nalar,
karena itu hanya berkaitan dengan manusia
saja.
Adapun sifat Mālikiyat dari hari
penghisaban mensyaratkan permohonan dan kesujudan dengan merendahkan
diri agar Sifat ini bermanifestasi. Karena itu Sifat ini berkaitan dengan
kelompok manusia yang menjatuhkan diri bagaikan pengemis di hadirat Yang Maha Esa, dengan mengembangkan
jubah ketulusan mereka agar dapat menampung rahmat Ilahi, karena
mereka menyadari kekosongan tangan mereka dan hanya mengharapkan Mālikiyat Ilahi.
Keempat Sifat ini beroperasi
sepanjang masa. Sifat Rahīmiyat membawa manusia kepada persujudan (ibadah). Adapun sifat Mālikiyat menyebabkan
manusia merasa diselimuti api ketakutan dan kejerihan luar biasa
yang melahirkan rasa rendah hati yang haqiqi, karena Sifat ini
menegaskan bahwa Allah Swt. adalah Tuhan
dari pengganjaran dimana tidak ada seorang pun mempunyai hak untuk menuntut
(protes) apa pun. Pengampunan dan keselamatan
bisa diperoleh hanya karena karunia rahmat.” (Ayyamus
Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 242-243, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 21 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar