Kamis, 20 Agustus 2015

Pewarisan Buruk "Cara-cara Mendustakan dan Menentang Rasul Allah" di Setiap Zaman & Makna Ayat "Pemilik Hari Pembalasan"



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 13

Pewarisan Buruk  “Cara-cara Mendustakan  dan Mententang  Rasul Allah”  di Setiap Zaman &   Makna Ayat “Pemilik Hari Pembalasan

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai itikad lā nabiyya ba’dahu   -- “tidak ada nabi akan datang lagi  sesudahnya”,  bahwa  itu merupakan itikad sesat yang diwariskan  para penentang rasul Allah di setiap zaman kedatangan rasul Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37), seakan-akan   para penentang Rasul Allah tersebut telah mewasiatkan (mengamanatkan) cara-cara penentangan dan penganiayaan yang sama terhadap para Rasul Allah dan pengikut mereka di setiap zaman  -- termasuk itikad sesat Lā nabiyya ba’dahu“ (tidak ada lagi nabi sesudahnya)  --  firman-Nya:
کَذٰلِکَ مَاۤ  اَتَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا  قَالُوۡا  سَاحِرٌ  اَوۡ مَجۡنُوۡنٌ ﴿ۚ﴾  اَتَوَاصَوۡا بِہٖ ۚ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ طَاغُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Demikianlah sekali-kali tidak pernah datang kepada orang-orang sebelum mereka seorang rasul melainkan mereka berkata: “Dia tukang sihir, atau orang gila!” اَتَوَاصَوۡا بِہٖ ۚ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ طَاغُوۡنَ  --   Adakah mereka saling mewasiatkan mengenai itu? Tidak, bahkan mereka itu semua kaum pendurhaka. (Adz-Dzāriyāt [51]:53-54).

Pewarisan Cara-cara Mendustakan dan Menentang Para Rasul Allah

    Begitu menyoloknya persamaan tuduhan-tuduhan yang dilancarkan terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan para mushlih rabbani (rasul Allah) lainnya oleh lawan-lawan mereka sepanjang masa, sehingga nampaknya orang-orang kafir dari abad tertentu menurunkan (mewariskan)  tuduhan-tuduhan itu kepada keturunan mereka, supaya terus melancarkan lagi tuduhan-tuduhan I dusta dan keji  tersebut. Beriikut ini firman-Nya  berkenaan pendustaan terhadap Nabi  Nuh a.s.:
فَکَذَّبُوۡہُ  فَنَجَّیۡنٰہُ وَ مَنۡ مَّعَہٗ فِی الۡفُلۡکِ وَ جَعَلۡنٰہُمۡ خَلٰٓئِفَ وَ اَغۡرَقۡنَا الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ  عَاقِبَۃُ  الۡمُنۡذَرِیۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رُسُلًا اِلٰی قَوۡمِہِمۡ فَجَآءُوۡہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا کَذَّبُوۡا بِہٖ  مِنۡ  قَبۡلُ ؕ کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ الۡمُعۡتَدِیۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مُّوۡسٰی وَ ہٰرُوۡنَ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَا۠ئِہٖ بِاٰیٰتِنَا فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
Tetapi mereka telah mendustakannya, lalu  Kami menyelamatkan dia dan orang-orang yang besertanya dalam bahtera, dan Kami menjadikan mereka sebagai pengganti-pengganti dan Kami menenggelamkan orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka lihatlah  betapa buruk kesudahan orang-orang yang diberi peringatan. ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رُسُلًا اِلٰی قَوۡمِہِمۡ فَجَآءُوۡہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ --   Kemudian Kami mengutus sesudah dia rasul-rasul kepada kaum mereka masing-masing,  maka mereka datang dengan bukti-bukti nyata,  فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا کَذَّبُوۡا بِہٖ  مِنۡ  قَبۡلُ  -- tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman kepadanya disebabkan mereka telah mendustakannya sebelum itu.   کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ الۡمُعۡتَدِیۡنَ -- Demikianlah Kami mencap  hati orang-orang yang melampaui batas. ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مُّوۡسٰی وَ ہٰرُوۡنَ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَا۠ئِہٖ بِاٰیٰتِنَا فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ  --     Kemudian sesudah mereka, Kami mengutus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan para pembesarnya dengan Tanda-tanda Kami  tetapi mereka berlaku sombong, dan mereka itu kaum yang berdosa.  (Yunus [10]:74-75).
          Jadi, ayat  فَمَا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡا بِمَا کَذَّبُوۡا بِہٖ  مِنۡ  قَبۡلُ  -- “tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman kepadanya disebabkan mereka telah mendustakannya sebelum itu”    sama dengan ayat 8 dalam Surah Al Jin sebelumnya: وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا  --    “dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul,”  serta  identik dengan itikad sesat  di kalangan umumnya  umat Islam yang kembali bergema di Akhir Zaman ini dari para penentang Rasul Akhir Zaman  yakni: lā nabiyya ba’dahu   -- “tidak ada nabi akan datang lagi  sesudahnya,” yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s., firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan   terhadapnya,  dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah.  (Az-Zukhruf [43]:58-59).
       Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Kedatangan Al-Masih a.s.  adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39).

Diabadikan Dalam Surah Al-Fatihah

        Ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw.  — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama (misal) Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s.  akan dibangkitkan di antara mereka untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang (QS.61:10), maka dari bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak  mengajukan protes. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada nubuatan kedatangan Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s. untuk kedua kalinya di Akhir Zaman ini.
         Makna ayat: کَذٰلِکَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِ الۡمُعۡتَدِیۡنَ -- Demikianlah Kami mencap  hati orang-orang yang melampaui batas”  dalam QS.40:36 sebelum ini,  Allah Swt.  tidak semau-maunya menyegel (mencap) hati orang-orang kafir melainkan  orang-orang kafir itu sendirilah yang dengan penolakan yang degil untuk mendengarkan Kalāmullāh itu, telah memahrumkan (meluputkan) diri dari kemampuan melihat dan menerima kebenaran yang dibawa Rasul Allah. Mereka sendirilah pencipta nasibnya yang buruk itu.
      Mengenai mereka semua    -- yakni (1) orang-orang mendapat nikmat Allah, terutama   Rasul Allah  dan para pengikutnya (QS.4:70);   (2) golongan jin (Ahli Kitab)   --  baik yang  beriman kepada Rasul Allah  mau pun yang menolak  beriman  sehingga mereka menjadi  golongan maghdhūb (yang dimurkai) dan dhāllīn (yang sesat) --  telah tercantum dan diabadikan dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7, yang akan dibahas selanjutnya, firman-Nya:
اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾  صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Tunjukilah kami   jalan yang lurus,  yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,  bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka  yang sesat.”
          Kembali kepada  firman Allah Swt.  berikut ini   yang telah dikemukakan  dalam    dalam Bab III,   Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ  اِذَا جَآءَکَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِاٰیٰتِنَا فَقُلۡ سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ  کَتَبَ رَبُّکُمۡ عَلٰی نَفۡسِہِ  الرَّحۡمَۃَ ۙ اَنَّہٗ  مَنۡ  عَمِلَ  مِنۡکُمۡ سُوۡٓءًۢ ابِجَہَالَۃٍ  ثُمَّ تَابَ مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ  وَ  اَصۡلَحَ  فَاَنَّہٗ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾   وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لِتَسۡتَبِیۡنَ سَبِیۡلُ  الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan apabila datang kepada engkau orang-orang yang beriman kepada Tanda-tanda Kami فَقُلۡ سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ    -- maka katakanlah: “Selamat sejahtera  atas kamu, کَتَبَ رَبُّکُمۡ عَلٰی نَفۡسِہِ  الرَّحۡمَۃَ  --  Rabb (Tuhan) kamu  telah  menetapkan  atas  diri-Nya memberi rahmat,   اَنَّہٗ  مَنۡ  عَمِلَ  مِنۡکُمۡ سُوۡٓءًۢ ابِجَہَالَۃٍ  ثُمَّ تَابَ مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ  وَ  اَصۡلَحَ  فَاَنَّہٗ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ  -- bahwa sesungguhnya   barangsiapa  di antara kamu berbuat keburukan karena kejahilan  lalu ia bertaubat sesudah itu dan memperbaiki diri maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لِتَسۡتَبِیۡنَ سَبِیۡلُ  الۡمُجۡرِمِیۡنَ --   Dan demikianlah Kami berulang-ulang menerangkan  Tanda-tan-da, dan supaya jalan orang-orang yang bersalah menjadi jelas.  (Al-An’ām [6]:55).

Al-Asmā-ul-Husnā  (Sifat-sifat Terindah) Allah Swt.

      Dalam Surah berikut ini dijelaskan, bahwa walau pun Allah Swt.  adalah Dzuntiqam (Penuntut balas) bagi orang-orang berdosa (QS.3:5; QS.5:96; QS.7:135-137;  QS.14:48; QS.15:79-80;  QS.30:48; QS.39:38; QS.43:26 & 56), tetapi rahmat-Nya (kasih-sayang-Nya) senantiasa mengatasi kemurkaan-Nya (QS.7:157-158; QS.40:8),   karena itu pintu taubat kepada-Nya senantiasa terbuka sehingga  tidak ada alasan bagi manusia untuk berputus-asa dari rahmat Allah Swt. (QS.12:84-87;  QS.15:52-57;  QS.18:58-60; QS.39:54), firman-Nya:
قُلِ ادۡعُوا اللّٰہَ  اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ  الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ  بَیۡنَ  ذٰلِکَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah), اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ  الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی --dengan nama apa saja kamu berseru kepada Dia     milik-Nya semua nama yang terbaik.”   Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras  dan jangan pula kamu mengucapkannya terlalu lemah  tetapi carilah jalan di antara itu. (Bani Israil [17]:111).
          Allah Swt.  memiliki Sifat-sifat  sempurna (al-Asmā-ul-Husna) yang tidak terbilang jumlahnya (QS.7:181; QS.59:25), maka seorang Muslim dalam doanya  ia hendaknya menyebut Sifat Ilahi tertentu yang mempunyai hubungan khas dengan perkara  yang untuk perkara itu ia mohon petunjuk dan pertolongan Ilahi, firman-Nya:
ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ  الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ  الۡجَبَّارُ  الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ  الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan kecuali Dia,  Mengetahui yang gaib dan yang nampak, ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ   -- Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Dia-lah Allah Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Maha Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber se-gala kedamaian, Pelimpahan keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung.  سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha Suci Allah  dari apa yang mereka persekutukan.  Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi bentukلَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی --   milik Dia-lah semua nama yang terindah. یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ   --  Bertasbih  kepada-Nya segala yang ada di seluruh langit dan bumi وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ   -- dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (Al-Hasyr [59]:23-25).

Makna Ayat  “Māliki Yaumiddīn” (Pemilik Hari Pembalasan)

        Setelah ayat     الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ   --  “Maha Pemurah,  Maha Penyayang” (Al-Fatihah [1]:4), selanjutnya Allah Swt. berfirman:مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ   -- “Pemilik Hari   Pembalasan”  (Al-Fatihah [1]:4). Mālik berarti: majikan  atau orang yang memiliki hak atas sesuatu serta memiliki kekuasaan  untuk memperlakukannya dengan sekehendaknya (Al-Aqrab-ul-Mawarid). 
       Yaum berarti: waktu mutlak, hari mulai matahari terbit hingga terbenamnya; masa sekarang (Al-Aqrab-ul-Mawarid).    Dīn berarti: pembalasan atau ganjaran; peradilan atau perhitungan; kekuasaan atau pemerintahan; kepatuhan; agama, dan sebagainya  (Lexicon Lane).
         Keempat Sifat Allah Swt.  yakni:  رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --  “Tuhan seluruh alam”;  الرَّحۡمٰنِ  -- “Maha Pemurah”; الرَّحِیۡمِ  --  “Maha Penyayang” dan  مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ   --  “Pemilik Hari Pembalasan” adalah Sifat-sifat Tasybihiyyah yang pokok. Sifat-sifat lain yang disebut dalam Al-Asmā-ul-Husnā  (Sifat-sifat terindah) Allah Swt. hanya menjelaskan dan merupakan semacam tafsiran tentang keempat Sifat tadi,  laksana empat buah tiang di atasnya terletak ‘Arasy (Singgasana) -- yakni Sifat-sifat Tanzihiyyah   --  Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa.      
          Urutan keempat Sifat Tasybihiyyah Allah Swt.  dalam Surah Al-Fatihah itu seperti dituturkan di atas, memberikan penjelasan bagaimana Allah Swt.  menampakkan Sifat-sifat-Nya kepada manusia, yakni:
        (1) Sifat Rabb-ul-’ālamīn (Tuhan seluruh  alam) mengandung arti, bahwa seiring dengan dijadikannya manusia  Dia pun  menjadikan lingkungan yang diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan ruhaninya.
    (2) Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) mulai berlaku sesudah itu, dan dengan perantaraan itu  Allah Swt.   seolah-olah menyerahkan kepada manusia sarana-sarana dan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan akhlak dan ruhaninya.    
    (3) Jika manusia memakai  sarana-sarana yang dianugerahkan kepadanya itu secara tepat maka sifat Ar-Rahīm (Maha Penyayang) mulai berlaku untuk mengganjar amalnya.
   (4) Yang terakhir sekali sifat Māliki yaum-id-dīn (Pemilik Hari Pembalasan) mempertunjukkan hasil terakhir dan kolektif  semua amal perbuatan manusia, dengan demikian pelaksanaan pembalasan mencapai kesempurnaan.
   Sungguhpun perhitungan terakhir dan sempurna akan terjadi pada Hari Pembalasan di  akhirat  tetapi proses pembalasan itu terus berlaku  bahkan dalam kehidupan ini dunia juga, dengan perbedaan bahwa dalam kehidupan ini perbuatan manusia seringkali diadili dan diganjar oleh orang lain — para raja, para penguasa, dan sebagainya — oleh karena itu  senantiasa ada kemungkinan adanya kekeliruan.
       Tetapi pada Hari Pembalasan, kedaulatan Alah Swt. itu mandiri serta  mutlak, dan tindakan pembalasan (pengganjaran) itu seluruhnya ada dalam kekuasaan-Nya. Ketika itu tidak akan terdapat kesalahan, tiada hukuman yang tidak tepat, tiada ganjaran yang tidak adil.
       Pemakaian kata Mālik (Pemilik) dimaksudkan pula untuk menunjuk kepada ke-nyataan bahwa  Allah Swt.  tidak seperti seorang hakim yang harus menjatuhkan keputusan benar sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan. Selaku Mālik (Pemilik), Dia dapat mengampuni dan menampakkan kasih-sayang-Nya (rahmat-Nya) kapan saja dan dengan cara apa pun sekehendak-Nya.
        Dengan mengambil dīn dalam arti  agama,  maka kata-kata “Māliki yaumid-dīn”  (Yang memiliki  waktu agama) akan berarti bahwa  bila suatu agama sejati diturunkan maka  umat manusia menyaksikan suatu penjelmaan kekuasaan dan takdir Ilahi yang luar biasa, dan bila agama itu mundur  maka nampaknya seolah-olah seluruh alam berjalan secara mekanis, tanpa pengawasan atau pengaturan Sang Khāliq (Pencipta) dan Al-Mālik (Pemilik).

Penjelasan Al-Masih Mau’ud a.s. Mengenai Hikmah Urutan  Keempat Sifat Utama Tasybihiyyah  Allah Swt.  Dalam Surah Al-Fatihah

       Sehubungan dengan urutan  keempat Sifat utama Tasybihiyyah  Allah Swt.  dalam Surah Al-Fatihah tersebut Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, yakni Al-Masih Mau’ud a.s.   antara lain bersabda:
        “Allah Swt.  memiliki 4 Sifat utama yang dapat dianggap sebagai induk daripada semua Sifat-sifat lainnya.  Setiap jenisnya merupakan kewajiban untuk dipahami bagi  peragaan sifat kemanusiaan kita. Keempat Sifat itu adalah Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Mālikiyat dari hari penghisaban. Sifat Rabubiyat untuk manifestasinya memerlukan ketiadaan atau keadaan yang mendekati ketiadaan sama sekali.  Semua bentuk ciptaan -- baik yang bernyawa mau pun benda mati -- mewujud melalui Sifat tersebut.
       Sifat Rahmāniyat untuk manifestasinya  (menampakannya) menuntut ketiadaan eksistensi  (keberadaan) dan pelaksanaan fungsinya hanya berkait dengan mahluk hidup dan tidak dengan benda mati. Sifat Rahīmiyat bagi manifestasinya (menampakkannya) mempersyaratkan ketiadaan dan tidak eksisnya Sifat ini dari bagian penciptaan (makhluk) yang memiliki daya nalar,   karena itu hanya berkaitan dengan manusia saja.
      Adapun sifat Mālikiyat dari hari penghisaban mensyaratkan permohonan dan kesujudan dengan merendahkan diri agar Sifat ini bermanifestasi. Karena itu Sifat ini berkaitan dengan kelompok manusia yang menjatuhkan diri bagaikan pengemis di hadirat Yang Maha Esa, dengan mengembangkan jubah ketulusan mereka agar dapat menampung rahmat Ilahi, karena mereka menyadari kekosongan tangan mereka dan hanya mengharapkan Mālikiyat Ilahi.
      Keempat Sifat ini beroperasi sepanjang masa. Sifat Rahīmiyat membawa manusia kepada persujudan (ibadah). Adapun sifat Mālikiyat menyebabkan manusia merasa diselimuti api ketakutan dan kejerihan luar biasa yang melahirkan rasa rendah hati yang haqiqi, karena Sifat ini menegaskan bahwa Allah  Swt. adalah Tuhan dari pengganjaran dimana tidak ada seorang pun mempunyai hak untuk menuntut  (protes) apa pun. Pengampunan dan keselamatan bisa diperoleh hanya karena karunia rahmat.”  (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 242-243, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 21 Agustus 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar