بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 19
Sabda Masih
Mau’ud a.s. Mengenai Makna Sifat Mālikiyyat Allah Swt. & Empat
Kebenaran Akbar Dalam Surah Al-Fatihah
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai 3 macam Sifat Allah Swt., yaitu Rabubiyyat, Rahmāniyyat dan Rahīmiyyat. Sifat Allah Swt. Ar-Rahīm (Maha Penyayang) -- yaitu rahmat
yang ketiga -- merupakan rahmat yang bersifat khusus.
Perbedaan rahmat
ini dengan rahmat yang bersifat umum (Rahmāniyat) adalah pada rahmat yang bersifat
umum tidak ada dipersyaratkan kepada penerimanya untuk berperilaku baik
atau mencerahkan egonya dari kegelapan
ruhani, atau pun sengaja berupaya guna memperolehnya. Berkat
Allah Swt. dari rahmat yang
bersifat umum (Rahmāniyyat) adalah berupa karunia kepada semua makhluk hidup
menurut apa yang dibutuhkannya tanpa perlu ada upaya khusus dari pihak
yang bersangkutan.
Adapun
untuk rahmat yang bersifat khusus – yakni Ar-Rahīm (Maha Penyayang) --
diperlukan adanya usaha dan upaya
untuk mensucikan hati, bersujud, memperhatikan perintah Allah Swt. dan semua tindakan lainnya yang
dipersyaratkan. Hanya yang melaksanakan hal-hal tersebut yang akan memperoleh rahmat
tersebut.
Eksistensi (penampakkan)
dari Sifat ini juga ditunjukkan
melalui telaah hukum alam. Jelas
bahwa mereka yang berupaya di jalan
Allah dan mereka yang tidak acuh, tidak akan bisa sama statusnya. Tanpa
diragukan, berkat khusus hanya turun bagi mereka yang berjuang di
jalan Allah, serta menjauh
dari segala kegelapan dan kekacauan.
Berkat rahmat ini
maka dalam Al-Quran nama Tuhan (Allah
Swt.) disebut sebagai Al-Rahīm (Maha Penyayang). Karena sifat Rahīmiyat bersifat khusus dan terwujud
karena pemenuhan beberapa persyaratan
tertentu, makanya disebut setelah Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah), karena sifat Rahmāniyat dimanifestasikan sebelum Sifat Rahīmiyat muncul. Itulah sebabnya Sifat Rahīmiyat dalam Surah Al-Fatihah
disebutkan setelah Sifat Rahmāniyat. Sifat Rahīmiyat disebut di beberapa tempat dalam Al-Quran. Sebagai contoh,
dinyatakan:
وَ کَانَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَحِیۡمًا ﴿﴾
“Dia
Maha Penyayang
terhadap orang-orang yang beriman”
(Al-Ahzāb
[33]:44).
Berarti Sifat Rahīmiyat (Maha
Penyayang) Allah Swt.
terbatas hanya bagi mereka
yang beriman saja, sedangkan orang kafir dan penyangkal tidak mendapat bagian.
Perlu diingatkan lagi bahwa pemberlakuan Sifat
Rahīmiyat terbatas hanya bagi orang-orang
beriman saja, sedangkan Sifat Rahmāniyat tidak terbatas. Tidak ada disebutkan
bahwa Tuhan bersifat Rahmān (Maha
Pemurah) hanya untuk orang-orang beriman, karena bagi mereka ini yang berlaku adalah
Sifat Rahīm.
Di tempat lain dikemukakan:
اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya rahmat
Allah itu dekat kepada orang-orang
yang berbuat ihsan (Al-A’rāf
[7]:57).
Begitu juga dikatakan:
اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ الَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ ۙ اُولٰٓئِکَ یَرۡجُوۡنَ رَحۡمَتَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah,
mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Baqarah [2]:219).
Dengan kata lain, Sifat Rahīmiyat-Nya hanya dikaruniakan kepada mereka yang berhak saja. Tidak ada seorang pun yang tidak akan menemukan-Nya jika memang mau mencari. Pencinta macam apakah ia itu jika Yang Maha Penyayang tidak
menyukainya?
Wahai Junjungan-ku, apa yang masih kurang adalah
penyakitnya,
karena Sang Maha Penyembuh selalu ada.
Māliki Yaumid-Dīn (Pemilik Hari Pembalasan)
Rahmat
yang keempat bersifat sangat
khusus, dan rahmat ini tidak bisa dicapai semata-mata dengan upaya dan usaha
saja. Syarat pertama dari manifestasi (penampakkan) Sifat ini adalah dihancurkannya
terlebih dahulu dunia ini, dimana kekuasaan Allah Swt. dalam keagungan-Nya
yang sempurna akan mewujud “telanjang”
tanpa intrusi (gangguan/halangan) sarana apa pun. Rahmat terakhir
ini mewujud setelah rahmat-rahmat lainnya berakhir.
Rahmat
ini berbeda dengan sifat rahmat lainnya dalam kesempurnaannya karena
bersifat terbuka, jelas, nyata, tanpa ada yang ditutupi atau pun ada
kekurangan. Tidak ada apa pun yang bisa diragukan mengenai pengenaan rahmat
ini, begitu juga dengan realitas, kesucian dan kesempurnaan sifat rahmat
tersebut.
Kemurahan dan pengganjaran
yang dilakukan Tuhan Yang Maha Abadi, Pengarunia segala berkat, akan muncul terang seperti siang hari
dimana si penerima berkat akan mengetahui dan merasakan secara pasti karunia dan kegembiraan serta perhatian
yang dilimpahkan-Nya, dan bahwa ia menerima ganjaran tersebut sebagai imbalan
dari perilakunya yang benar
dan sempurna. Karunia yang
diterimanya bersifat amat jelas dan agung tanpa ada ujian atau cobaan
lagi yang harus ditempuhnya.
Agar
bisa menjadi penerima berkat yang lengkap
dan sempurna serta abadi demikian, diperlukan adanya transportasi
yang bersangkutan dari dunia yang
cacat, sempit, guram dan fana ini, karena rahmat
tersebut merupakan pengalaman manifestasi
akbar (penampakan besar) dimana keindahan
Sang Maha Penyayang (Al-Rahīm) akan terlihat secara jelas dan dialami secara pasti tanpa ada
tahap-tahapan manifestasi (penampakkan)
dan pemastian serta tidak ada tabir sarana material yang
menghalanginya.
Segenap rincian dari pemahaman (makrifat) yang lengkap harus mewujud
dengan kekuatan penuh. Manifestasi
(penampakan) itu harus demikian jernih
dan pasti, sehingga Allah Sendiri
yang nantinya akan menyatakan bahwa mereka itu terbebas dari ujian atau cobaan
apa pun. Manifestasi tersebut akan membawa kegembiraan tinggi
yang sempurna bagi hati, jiwa serta semua indera jasmani dan ruhani
pada tingkatnya yang paling tinggi,
yang tidak mungkin bisa lebih baik lagi.
Dunia yang tidak sempurna pada intinya, berkabut
dalam penampilannya, fana (tidak
kekal) dalam wujudnya serta sempit
dalam ruang lingkupnya, tidak akan mampu menampung manifestasi
(penampakkan) akbar demikian dimana cahaya
yang suci dan karunia yang abadi serta nur sempurna yang kekal
menjadi bagian darinya. Untuk manifestasi demikian itu dibutuhkan dunia
(alam) lain yang sepenuhnya bebas dari kegelapan oleh sarana
material serta harus berwujud manifestasi sempurna dari kekuasaan Tuhan
Yang Maha Kuasa.
Dinikmati Secara Terbatas di Dunia
Rahmat yang amat
khusus ini sampai suatu tingkat tertentu dinikmati dalam kehidupan sekarang oleh mereka yang memiliki kepribadian
sempurna yang melangkah di jalan kebenaran, dengan sepenuhnya bergantung
kepada Allah Swt. dengan meninggalkan nafsu
dan keinginan dirinya sendiri. Mereka sudah mengalami kematian sebelum
kematian yang sebenarnya.
Meskipun mereka hidup di dunia ini tetapi hatinya bermukim
di dunia (alam) lain. Sebagaimana mereka mengunci hati mereka
dari kehidupan jasmani dunia ini serta meninggalkan kebiasaan
kemanusiaan dan menjauh dari segala hal yang tidak berasal dari
Allah Swt., maka sebenarnya mereka mengikuti jalan
yang tidak biasa sehingga Tuhan
pun akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama (yang khusus).
Dengan cara yang
luar biasa Dia akan memanifestasikan
(menampakan) bagi mereka nur yang hanya bisa dilihat manusia lainnya
setelah kematian mereka. Mereka ini mengalami rahmat yang
bersifat sangat khusus itu sampai suatu tingkat tertentu di dalam
kehidupan sekarang. Rahmat ini bersifat sangat khusus dan menjadi
pamungkas dari semua rahmat lainnya.
Barangsiapa yang berhasil
mencapainya berarti telah berhasil memperoleh keberuntungan yang paling
besar dan akan menikmati kesejahteraan abadi yang menjadi sumber
dari semua kegembiraan. Barangsiapa
yang dikucilkan dari rahmat ini berarti telah dikutuk selamanya
masuk neraka. Menurut Sifat-Nya ini maka Allah Yang Maha Perkasa menyebut diri-Nya dalam Al-Quran sebagai Māliki Yaumiddīn
(Pemilik hari pembalasan).
Ganjaran yang dikemukakan
dalam hal ini adalah ganjaran yang sempurna sebagaimana rinciannya
diuraikan dalam Al-Quran. Ganjaran sempurna
itu tidak bisa dimanifestasikan tanpa manifestasi (penampakan) Kedaulatan yang sempurna.
Hal ini diungkapkan antara lain dalam ayat Al-Quran:
لِمَنِ الۡمُلۡکُ الۡیَوۡمَ ؕ لِلّٰہِ الۡوَاحِدِ الۡقَہَّارِ ﴿﴾
Kepunyaan siapakah Kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah, Yang Maha Esa dan Yang Maha
Unggul. (Al-Mu’min
[40]:17).
Berarti pada hari itu Sifat
Mālikiyyat Allah Swt. akan memanifestasikan wujudnya tanpa
intervensi (campur-tangan) dari sarana jasmaniah lainnya, dan
manusia akan menyaksikan dan merasakannya secara penuh bahwa
apa pun selain kekuatan dan kekuasaan Allah Swt. tidak ada sama sekali.
Pada saat itu semua kesenangan dan kegembiraan
serta ganjaran dan penghukuman akan muncul secara nyata datang dari Tuhan,
tanpa ada tabir yang menghalangi dan
tak ada lagi ruang bagi keraguan.
Pada saat itu, mereka yang telah melepaskan
dirinya dari kehidupan duniawi demi Tuhan-nya akan menemukan diri mereka berada dalam keadaan kebahagiaan
sempurna yang meliputi seluruh jiwa dan raga mereka, baik
bagian luar atau pun dalam wujud mereka,
sehingga tidak ada satu noktah pun dari diri mereka yang tidak
menikmati karunia akbar tersebut.
Sifat Māliki Yaumiddīn juga mengindikasikan bahwa pada Hari
itu semua perasaan senang dan susah, kenyamanan atau kesakitan,
apa pun yang dirasakan oleh manusia,
akan datang secara langsung dari Allah Yang Maha Kuasa dan Dia itulah Penguasa dari segala kondisi. Dengan
kata lain, pertemuan dengan Wujud-Nya
akan menjadi kebahagiaan abadi, atau penjauhan dari Diri-Nya
menjadi kesialan abadi.
Mereka yang beriman kepada-Nya dan
menganut Ketauhidan-Nya serta mewarnai hati mereka dengan kecintaan
murni terhadap Wujud-Nya, akan mengalami dan menerima Nur
Rahmat-Nya secara jelas dan terbuka. Adapun mereka yang tidak beriman
dan tidak mengenal kecintaan kepada Allah Swt. akan kehilangan kegembiraan serta
keselesaan (ketentraman) ini dan karena
itu akan mengalami siksaan yang amat pedih.
Sesuai dengan Hukum Alam & Empat Kebenaran
Akbar
Dengan demikian bisa
dimengerti mengapa Sifat Rahmān diberikan
prioritas sebelum sifat Rahīm, karena memang sudah seharusnya demikian
urutannya. Jika seseorang menelaah hukum
alam maka Sifat Ilahi yang
pertama dikenalinya adalah Rabubiyat, lalu disusul Rahmāniyat dan Rahīmiyat sampai akhirnya kepada sifat Mālikiyat. Pengaturan yang sempurna mengharuskan bahwa urutan yang ada dalam hukum
alam adalah yang juga dikemukakan dalam Kitab
yang diwahyukan. Membalikkan urutan alamiah demikian berarti
memutarbalikkan hukum alam.
Untuk pengaturan yang
sempurna diperlukan agar urutan
demikian sejalan dengan hukum alam, mana yang dahulu harus didahulukan.
Demikian itulah yang dikemukakan dalam ayat-ayat Surah Al-Fatihah tersebut dimana urutan
alamiah sangat diperhatikan.
Ayat-ayat tersebut
mengikuti urutan yang oleh seorang yang memiliki wawasan akan melihatnya ada berwujud di dalam alam semesta.
Tidakkah sepantasnya urutan dari karunia Ilahi sebagaimana muncul di
alam, begitu juga digambarkan dalam Kitab Allah. Mereka yang mengingkari urutan alamiah yang sempurna itu sama
saja dengan seorang buta yang kehilangan baik penglihatan mau pun
juga wawasannya (pengetahuannya).
Apa yang dikemukakan dalam
Surah Al-Fatihah dari sifat Rabbul ‘Ālamīn sampai Māliki Yaumiddīn adalah empat kebenaran
akbar yang akan dijelaskan berikut
ini:
Kebenaran akbar yang pertama ialah Allah Yang Maha Perkasa itu bersifat Rabbul ‘ālamīn, yang berarti bahwa Tuhan itu adalah Rabb dan Penguasa segala sesuatu
yang ada di alam semesta, dan bahwa
segala yang muncul, nampak, dirasakan atau disadari oleh logika, semuanya
adalah ciptaan-Nya, dan eksistensi (keberadaan) yang haqiqi hanya milik Allah Yang Maha Kuasa dan tidak kepada apa pun selain Wujud-Nya.
Dengan kata lain, alam semesta berikut semua
isinya diciptakan oleh dan merupakan ciptaan Allah
Swt.. Tidak ada suatu apa pun di alam ini yang bukan ciptaan
Tuhan. Melalui sifat Rabubiyat-Nya yang sempurna, Allah Yang Maha Kuasa mengatur dan mengendalikan
setiap noktah yang ada di alam. Sifat Rabubiyat-Nya berfungsi sepanjang waktu.
Tidak benar pendapat yang
mengatakan bahwa setelah Dia menciptakan
alam ini, lalu Dia mengundurkan diri
dan menyerahkan kendalinya kepada hukum alam. Tidak benar jika dikatakan
bahwa sebagai seorang pencipta mesin
maka ia lalu tidak lagi peduli setelah
mesin tersebut selesai diciptakan (dibuat).
Ciptaan dari Maha Pencipta tetap selalu
terkait dengan Wujud-Nya. Wujud Rabbul
‘ālamīn melaksanakan sifat Rabubiyat-Nya yang sempurna sepanjang waktu di
seluruh alam semesta dan hujan rahmat Rabubiyat-Nya itu tetap selalu
dicurahkan ke seluruh alam.
Tidak pernah sekali pun
alam ini dikucilkan dari manfaat sifat rahmat-Nya. Bahkan setelah
selesai penciptaan alam semesta ini, kebutuhan akan Sumber rahmat itu akan tetap diperlukan setiap
saat seolah-olah Dia belum menciptakan apa-apa.
Sebagaimana dunia ini bergantung kepada Sifat Rabubiyat-Nya
untuk mewujud, maka dunia ini tetap
bergantung kepada Sifat itu untuk kelangsungan dan pemeliharaannya. Adalah Dia Yang menopang dunia ini setiap saat dan setiap noktah di alam ini terpelihara dan berkembang karena Dia.
Dia melaksanakan Sifat Rabubiyat-Nya atas segala hal menurut kehendak-Nya.
Singkat kata, kebenaran ini bermakna
bahwa segala sesuatu di alam diciptakan dan tergantung kepada Sifat Rabubiyat
Allah Swt., baik dalam kesempurnaan, kondisi maupun
masanya. Tidak ada keunggulan ruhani atau jasmani yang bisa
dicapai makhluk dari dirinya sendiri tanpa ketergantungan pada pengaturan
dari Sang Maha Pengatur.
Adalah suatu hal yang latent
(tersembunyi) dari Sifat ini dan
kebenaran-kebenaran lainnya bahwa sifat Rabbul ‘ālamīn
merupakan Sifat yang khusus hanya
bagi Diri-Nya dan tidak ada suatu apa pun yang menjadi sekutu-Nya. Ayat
pembuka dari Surah yaitu Alhamdulillāh (segala puji bagi
Allah) menjelaskan
secara tegas bahwa segala puji hanyalah bagi Allah Swt. semata.
Kebenaran akbar yang kedua adalah Sifat Rahmān yang
menempati urutan berikutnya setelah sifat Rabbul ‘ālamīn. Sudah
dijelaskan sebelumnya bahwa semua
makhluk hidup, yang berakal maupun yang tidak, baik atau jahat, telah dibantu
dan akan selalu ditopang oleh rahmat umum Allah Yang Maha Perkasa, dengan segala sesuatu yang dibutuhkan bagi
kehidupan dan kelanjutan spesi mereka. Semuanya itu merupakan karunia mutlak
yang tidak tergantung kepada amalan atau upaya siapa pun.
Kebenaran akbar yang ketiga setelah Sifat Rahmān
adalah Sifat Rahīm. Hal ini berarti bahwa sesuai
kehendak-Nya maka Allah Swt. akan memberikan imbalan hasil baik atas
dasar permohonan makhluk-Nya. Dia
mengampuni dosa mereka yang bertobat. Dia menganugrahkan karunia kepada mereka yang memohon. Dia membukakan pintu kepada mereka
yang mengetuknya.
Kebenaran akbar keempat adalah Māliki Yaumiddīn. Berarti Allah Yang Maha Kuasa
adalah Penguasa segala ganjaran yang
sempurna yang bebas dari ujian dan
cobaan serta intervensi dari segala yang merancukan, suci
dari segala yang tidak bersih, bebas dari keraguan dan cacat dan merupakan manifestasi
(penampakan) kekuasaan-Nya yang akbar.
Dia tidak kekurangan kekuatan untuk memanifestasikan pengganjaran-Nya yang sempurna, yang
secerah siang hari. Manifestasi kebenaran
akbar ini bertujuan untuk mencerahkan
hal-hal berikut ini agar menjadi jelas bagi setiap orang sebagai suatu
kepastian:
Pertama, bahwa ganjaran dan penghukuman adalah suatu
hal yang pasti yang dikenakan kepada semua makhluk oleh Sang Maha Penguasa sebagai bagian dari kehendak-Nya. Hal ini
tidak mungkin ditunjukkan di dunia ini karena merupakan hal-hal yang tidak
jelas bagi rata-rata orang yang tidak mengerti mengapa mereka akan mengalami kemaslahatan atau kemudharatan, kesenangan
atau kesakitan.
Tidak akan ada orang yang
mendengar suara dari mana pun yang menjelaskan bahwa apa yang dialaminya
itu adalah ganjaran (balasan) dari amal perbuatannya, dan juga tidak
akan ada yang menyadari atau merasa bahwa apa yang sedang dialaminya
adalah sebagai akibat dari tindakannya.
Kedua, bahwa penampakan itu ditujukan untuk memperlihatkan
bahwa sarana duniawi itu tidak mempunyai arti dan bahwa Sang Maha Wujud atau Allah Swt. adalah Sumber dari semua berkat dan Penguasa
dari segala ganjaran.
Ketiga, perlu adanya penegasan apa itu karunia yang baik dan
apa yang namanya kemudharatan besar. Keberuntungan akbar adalah
keadaan kemenangan tertinggi dimana nur, kebahagiaan, kesenangan dan
keselesaan (ketentraman) merasuk di dalam dan di luar dari tubuh dan jiwa
seseorang dimana tidak ada bagian tubuhnya yang terlewat. Kemudharatan besar adalah siksaan
yang berasal dari akibat ketidak-patuhan, kekotoran jiwa, menjauhkan
diri dari Tuhan-nya, yang akan membakar hati dan meliputi seluruh
tubuh sehingga seluruh dirinya terasa bagai berada dalam api di
neraka.
Manifestasi seperti ini tidak bisa dilihat di dunia karena dunia yang sempit dan picik yang
terselaput oleh segala keduniawian
dan yang kondisinya tidak sempurna,
tidak akan tahan menanggung (memikul) manifestasi
(penampakkan) demikian. Dunia ini adalah ajang ujian dan cobaan
dimana kesenangan dan kesakitan yang ada hanya bersifat sementara
dan tidak sempurna. Apa pun yang dialami seseorang dalam hidupnya berada
di bawah (di balik) tabir sarana
jasmani yang menyembunyikan Wujud
Sang Penguasa Pemberi ganjaran.
Dengan demikian dunia ini bukan wadah ganjaran yang benar dan sempurna. Yang
menjadi hari ganjaran yang sempurna dan terbuka adalah dunia yang
akan datang setelah dunia sekarang ini. Dunia yang akan datang itu akan menjadi wadah manifestasi akbar dan penampakan
dari keagungan dan keindahan yang sempurna.
Kesulitan hidup atau
kemudahan, kesenangan atau kesakitan, kesedihan atau pun kegembiraan, semua yang dialami manusia di dunia yang
sekarang tidak selalu menggambarkan
atau merupakan akibat dari karunia Ilahi atau pun kemurkaan-Nya.
Sebagai contoh, seorang yang
kaya bukanlah merupakan bukti bahwa Tuhan
berkenan atas dirinya, begitu pula kemiskinan atau kesulitan
dianggap menjadi tanda bahwa Allah
Swt. memusuhi dirinya. Bisa jadi keadaan mereka itu menjadi cobaan
agar yang kaya diuji karena kekayaannya
sedangkan yang miskin dicoba karena kemiskinannya.
Semua kebenaran akbar ini dijelaskan secara rinci di dalam Al-Quran.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. 14, hlm. 444-461, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 27 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar