بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 5
Definisi “Tuhan”
yang Hakiki Dalam Surah Al-Ikhlash & Kalimat
Bismillāhirrahmānirrahīm
Dalam Surat Peringatan Nabi Sulaiman a.s.
kepada Ratu Saba
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai penolakan wujud-wujud yang dianggap orang-orang sebagai “washilah”
(perantaraan) antara mereka
dengan Tuhan yang hakiki, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ
نَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ
نَقُوۡلُ لِلَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا
مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ ۚ فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ قَالَ
شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾ فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ
بَیۡنَکُمۡ اِنۡ کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ لَغٰفِلِیۡنَ ﴿﴾
Dan
ingatlah hari itu ketika Kami akan mengumpulkan mereka semuanya kemudian Kami akan berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan: “Tetaplah di tempat kamu, kamu beserta sekutu-sekutumu.” Lalu Kami
memisahkan di antara mereka maka sekutu-sekutu mereka berkata: ”Sekali-kali bukanlah kami yang senantiasa kamu sembah; maka cukuplah
Allah sebagai saksi di antara kami dan kamu,
sesungguhnya kami tidak tahu-menahu mengenai penyembahan
kamu.” (Yunus [10]:29-30). Lihat
pula QS.6:23-24; QS.46:7.
Mengenai penolakan (pengingkaran) wujud-wujud yang dipersekutukan dengan Tuhan terhadap penyembahan orang-orang musyrik terhadap
mereka lihat pula QS.16:87-88; QS.28:63-65; QS.30:13-15. Selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
ہُنَالِکَ
تَبۡلُوۡا کُلُّ
نَفۡسٍ مَّاۤ اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ
وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا
کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Di sanalah tiap-tiap jiwa merasakan penderitaan akibat apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka
akan dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang haq (sebenarnya),
dan lenyaplah
dari mereka apa yang telah mereka
ada-adakan itu. (Yunus
[10]:31).
Di dunia ini manusia tidak diberi kemampuan sepenuhnya untuk memahami
dan mengetahui hakikat yang
sebenarnya mengenai segala sesuatu. Hanya nanti di akhiratlah segala hijab (tirai) akan sepenuhnya disingkapkan, dan hakikat yang sebenarnya mengenai segala sesuatu akan menjadi terang dan jelas.
Pendek kata, banyak berbagai dalil dalam Al-Quran yang mendukung kebenaran firman Allah Swt. berkenaan kesaksian
ruh manusia mengenai Tauhid Ilahi
yang telah ditanamkan Allah Swt. dalam jiwa
atau fitrat manusia (QS.7:173-175).
Hikmah Tertib Urutan Penganugerahan Pendengar, Penglihatan dan Hati
(Pengertian) & Hubungannya dengan
Sifat Rabubiyat Allah Swt.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.
mengenai kesaksian jujur orang-orang musyrik sesuai kesaksian ruhnya atau fitratnya mengenai Tauhid Ilahi (QS.7:173):
قُلۡ مَنۡ یَّرۡزُقُکُمۡ مِّنَ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ اَمَّنۡ یَّمۡلِکُ
السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ مَنۡ یُّخۡرِجُ
الۡحَیَّ مِنَ
الۡمَیِّتِ وَ یُخۡرِجُ
الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ وَ مَنۡ یُّدَبِّرُ الۡاَمۡرَ ؕ فَسَیَقُوۡلُوۡنَ اللّٰہُ ۚ
فَقُلۡ اَفَلَا تَتَّقُوۡنَ ﴿﴾ فَذٰلِکُمُ اللّٰہُ رَبُّکُمُ الۡحَقُّ ۚ فَمَا ذَا بَعۡدَ
الۡحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۚۖ فَاَنّٰی تُصۡرَفُوۡنَ ﴿﴾ کَذٰلِکَ حَقَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ عَلَی الَّذِیۡنَ فَسَقُوۡۤا اَنَّہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Siapakah
yang memberi kamu rezeki dari langit
dan bumi? Dan siapakah yang menguasai pendengaran serta penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari
yang mati, dan yang mengeluarkan
yang mati dari yang hidup? Dan siapakah
yang mengatur segala
urusan?” Mereka akan berkata: “Allah.” Maka katakanlah: ”Tidakkah kamu mau bertakwa?” Maka demikianlah Allah, Rabb (Tuhan) kamu Yang Mahabenar, karena itu tidak ada sesudah haq (kebenaran)
melainkan kesesatan, lalu bagaimanakah kamu dipalingkan dari
kebenaran?” Demikianlah telah nyata benarnya firman Rabb (Tuhan) engkau
mengenai orang-orang yang fasik
(durhaka) bahwa sesungguhnya mereka itu
tidak akan beriman. (Yunus [10]:32-34).
Dalam
ayat-ayat ini terdapat tertib yang indah
dan sangat bijaksana. Ayat ini mulai
dengan:
(1)
menyebut rezeki, yang merupakan sarana
pemeliharaan kehidupan jasmani, kemudian:
(2) dibicarakannya indera penglihatan dan pendengaran
yang merupakan alat untuk memperoleh kebijaksanaan
dan keilmuan, sesudah itu:
(3)
dibahasnya soal hidup dan mati, yang menunjuk kepada kekuatan manusia untuk bertindak, hal yang dengan sendirinya berlaku sesudah
memperoleh hikmah dan pengertian, dan paling akhir:
(4) dibicarakannya pengaturan dan pelaksanaan
urusan-urusan yang sangat diperlukan, jika orang mulai menggunakan kekuatannya untuk berbuat, sebab tadbir mengandung arti menyelenggarakan suatu perkara dengan cara tertib dan teratur, dan menjaga keseimbangan yang tepat antara berbagai perbuatan.
Pendek kata, keempat cara yang
semuanya perlu untuk mencapai tujuan
hidup manusia ini di sini disebut dengan tertibnya yang wajar, kesemuanya tersebut terangkum dalam Sifat Rabubiyat Allah Swt. yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah ayat 2: اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ
-- Segala puji hanya
bagi Allah, Rabb (Tuhan)
seluruh alam”. Ayat ini akan
dibahas setelah pembahasan ayat بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- Aku baca
dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”
Kesempurnaan Tatanan Alam
Semesta Sebagai Saksi Tauhid Ilahi
Pendek kata, sehubungan dengan ayat بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- “Aku baca
dengan nama Allah”, keberadaan dan kekuasaan Tuhan yang Dzat-Nya disebut ALLAH tidak hanya berdasarkan kesaksian
ruh (jiwa/fitrat) manusia saja, tetapi juga berdasarkan Tanda-tanda-Nya yang
terdapat di seluruh tatanan alam semesta
jasmani dan ruhani -- termasuk dalam tubuh
manusia sendiri -- yang merupakan karya
cipta-Nya, firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ
خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ
لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ
یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ
قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ
اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾
Sesungguhnya
dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta pertukaran
malam dan siang benar-benar terdapat Tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, yaitu
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil
berbaring atas rusuk mereka,
dan mereka memikirkan mengenai
penciptaan seluruh langit dan bumi
seraya berkata: رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ
سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -- “Ya Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah
Engkau menciptakan semua ini sia-sia,
Maha Suci Engkau dari
perbuatan sia-sia maka peliharalah
kami dari azab Api. رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا
لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa
yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh
Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali
tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. (Âli
‘Imran [3]:191-193).
Sehubungan
dengan ayat-ayat tersebut lihat pula
QS.2:22-23; QS.2:165;
QS.3:28; QS.10:6-7; QS.20:54-55; QS.20:50-57; QS.21:31-34;
QS.23:79-81; QS.27:61-67; QS.30:21-28; QS.41:10-13;
QS.42:30; QS.45:4-7 & lihat QS.4:104;
QS.10:13; QS. QS.39:10; QS.62:11
& lihat QS.38:28.
Demikianlah penjelasan tentang makna sebutan ALLAH
dalam kalimat Bismillāh dalam ayat pertama Surah Al-Fatihah:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang.
Definisi “Tuhan” yang Hakiki Dalam Surah Al-Ikhlash & Makna Sifat Al-Ahad
Masalah ini keberadaan
serta Ketauhidan Allah Swt.
tersebut dalam firman-Nya berikut lebih
diperjelas lagi, sehingga tidak ada celah
untuk mempertuhankan wujud-wujud lain selain Allah Swt.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ
الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ
۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang
Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang se-gala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
Kata qul
(katakan) di sini mengandung perintah
kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu
Maha Esa” (Al-Ahad). Kata Huwa
(Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama
yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan berarti
“Yang benar adalah ini,” dan
menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan
(QS.7:173) dan Dia itu Esa dan Mandiri.
Allah
adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata
itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda
atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan yang hakiki bukan nama sifat
dan bukan pula keterangan.
Ahad
adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal,
Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan
selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra
dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula
dalam Wujud-Nya (Lexicon Lane).
Sementara Ahad berarti ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya – gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka
Wāhid berarti kemandirian Tuhan
dalam Sifat-sifat-Nya. Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wāhidun akan
berarti, bahwa Tuhan – yakni Allah Swt. -- itu Wujud
Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal
serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk.
Sedangkan Allāhu Ahadun berarti
bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal dalam arti, bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda
lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti. Dia bukan mata rantai pertama suatu rangkaian mata rantai, dan bukan pula mata rantai
terakhir. وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ – Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun
tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah
menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran.
Makna Sifat Ash-Shamad
Shamad
berarti: seorang (wujud) yang menjadi tumpuan
memenuhi segala keperluan; atau yang
kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat
diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di
atasnya.
Karena Ash-Shamad merupakan salah satu sifat Tuhan, berarti: Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi
segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala
sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya; Yang akan
terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud
lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon
Lane).
Dalam ayat 1 telah
dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat اَللّٰہُ الصَّمَدُ mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan
bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan
dari Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Semua (segala sesuatu) memerlukan Dia, tetapi Dia tidak
memerlukan siapapun. Dia tidak memerlukan wujud atau zat apapun
guna menciptakan alam raya; pada
hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna
dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini telah diciptakan oleh-Nya berpasangan (berjodoh-jodoh- QS.13:4; QS.30:22; QS.36:37;
QS.51:50).
Tuhan-lah
— yakni Allah Swt. -- satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia
jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal
batas:
Sifat
Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah
disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk mengukuhkan pernyataan, bahwa Allah itu Ahad (Mahaesa, Tunggal
dan tiada tara bandingan-Nya) dan kini, dalam ayat ini sifat لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ -- “Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia
berada di atas segala keperluan).
Mengapa demikian? Sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari pikiran keliru bahwa Dia
memerlukan bantuan dari seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak
dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya
sesudah Dia mati, sebab semua wujud
yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain tunduk kepada hukum kematian. sedangkan Allah
Swt. tidak menggantikan siapapun
dan tidak akan diganti oleh siapapun.
Dia sempurna dalam semua Sifat-Nya
dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak.
Allah Swt. Tidak Memerlukan Pengganti-Nya
atau Pewaris-Nya
Ayat وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ -- “dan
tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya” ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat
yang mendahuluinya. Taruhlah bahwa Allah
itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain -- yakni Al-Ahad
dan Ash-Shamad; dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan, tetapi boleh jadi ada
wujud lain seperti Dia yang
mungkin memiliki semua sifat yang
dimiliki oleh-Nya.
Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah.
Akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas
seluruh alam raya. Tata kerja
sempurna yang melingkupi dan meliputi alam
raya pun (QS.67:1-5) menuntun kepada kesimpulan
yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu
hukum yang seragam harus tegak, dan kesatuan
serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan ke-Esa-an Sang Pencipta (QS.21:23).
Dengan demikian Surah Al-Ikhlash ini mencabut akar-akar
semua itikad kemusyrikan yang
terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama
lain – kepercayaan kepada Tuhan, dua
atau tiga atau lebih banyak, dan
kepercayaan bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan.
Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat
Yang Maha Tinggi seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan
definisi yang diberikan oleh Al-Quran.
Dengan demikian apa pun atau siapa pun
yang diangap sebagai tuhan tetapi
tidak memenuhi definisi mengenai Tuhan
yang Hakiki dalam Surah Al-Ikhlas maka dapat
dipasti bahwa itu bukan Al-Khāliq
(Tuhan Pencipta) alam semesta melainkan makhluk
(yang diciptakan) dan merupakan bagian
dari alam semesta, yang sangat tidak
layak untuk dipertuhankan.
Jadi, kembali kepada pembahasan ayat بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- “Aku baca
dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang,” menurut
Allah Swt. Nabi Sulaiman a.s. pun ketika menulis surat peringatan kepada Ratu Saba
dimulai dengan lafadz بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- “Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”
Surat Peringatan Nabi Sulaiman a.s. kepada Ratu Saba
Mengenai hal itu berikut firman-Nya mengenai dialog Nabi Sulaiman a.s. dengan
Jenderal Hud-hud yang dalam ayat-ayat sebelumnya (QS.27:21-28) telah melaporkan
hasil-kerja intelijen yang dilakukannya ke wilayah kerajaan Ratu Saba:
اِذۡہَبۡ
بِّکِتٰبِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقِہۡ اِلَیۡہِمۡ
ثُمَّ تَوَلَّ عَنۡہُمۡ فَانۡظُرۡ مَا ذَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قَالَتۡ یٰۤاَیُّہَا
الۡمَلَؤُا اِنِّیۡۤ اُلۡقِیَ
اِلَیَّ کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿ۙ﴾ اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ
مُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
“Pergilah dengan membawa suratku
ini lalu sampaikanlah kepada mereka,
kemudian berpalinglah dari mereka
lalu perhatikanlah apa jawaban mereka.”2165
Ia (Ratu Saba) berkata: “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah disam-paikan kepadaku surat yang
mulia. اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- Sesungguhnya
surat itu dari Sulaiman, dan
sesungguhnya surat itu berbunyi:
-- “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” اَلَّا تَعۡلُوۡا
عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ -- “Janganlah kamu berlaku sombong
terhadapku, dan datanglah kepadaku
dengan berserah diri.” (An-Naml
[27]:29-32).
Burung-burung tidak pernah
diketahui orang berbicara tentang kebenaran atau dusta. Ayat ini memberikan
suatu bukti lagi, bahwa Hud-hud bukan
seekor burung, melainkan seorang pembesar dalam pemerintahan Nabi
Sulaiman a.s., dengan gelar Hud-hud.
Bahkan
bila dibenarkan bahwa Nabi Daud a.s.
dan Nabi Sulaiman a.s. dapat mengerti bahasa semut atau bahasa
burung (QS.27:16-21), tetapi tidak ada sesuatu dalam Al-Quran yang menunjukkan,
bahwa Ratu Saba juga dapat mengerti
bahasa burung, namun demikian kepada Hud-hud dipercayakan menyampaikan surat
Nabi Sulaiman a.s. . kepada Ratu Saba dan mengadakan percakapan dengan beliau atas nama Nabi
Sulaiman a.s. dan sebagai wakil (duta) beliau.
Mengenai ayat اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- “Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat itu berbunyi: -- “Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”
اَلَّا تَعۡلُوۡا
عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ -- “Janganlah kamu berlaku sombong
terhadapku, dan datanglah kepadaku
dengan berserah diri.”
Beberapa ahli ketimuran pihak Kristen,
sebagaimana kebiasaan mereka, telah gagal
dalam usahanya mengingkari fakta bahwa Al-Quran
bersumber pada Allah Swt., dengan mencoba membuktikan ungkapan Bismillāh telah dipinjam
dari kitab-kitab yang terdahulu.
Kegagalan Para Kritikus Non-Muslim Mengenai Al-Quran
Wherry dalam buku “Commentary on the Quran”-nya
mengatakan, bahwa kalimat itu telah
dipinjam dari Zend-Avesta. Sale
menyatakan pandangan serupa, sedang Rodwell berpendapat, bahwa bangsa Arab
pra-Islam (sebelum sejarah Islam) meminjamnya
dari kaum Yahudi dan selanjutnya
kalimat itu dimasukkan ke dalam Al-Quran oleh Nabi Besar Muhammad saw..
Mengatakan bahwa, sebab ungkapan
atau kalimat Bismillāh
itu didapati dalam beberapa kitab suci yang terdahulu, niscaya telah dipinjam oleh Al-Quran dari salah satu
dari kitab-kitab itu adalah nyata sekali suatu kesimpulan yang lemah.
Bagaimanapun, hal itu hanya membuktikan, bahwa Al-Quran memang berasal dari sumber
yang sama seperti kitab-kitab lain
pun berasal, yakni Allah Swt..
Lagi pula, tidak ada kitab lain mempergunakan ungkapan ini dalam bentuk dan cara yang
telah dilakukan oleh Al-Quran. Begitu juga, orang-orang
Arab pra-Islam tidak pernah mempergunakan
ungkapan itu sebelum ungkapan itu diwah-yukan dalam Al-Quran.
Kebalikannya, mereka mempunyai keengganan
untuk mempergunakan sifat Ilahi Ar-Rahmān (QS.25:61), yang merupakan bagian tak
terpisahkan dari Bismillāh.
Lihat juga QS.1:1.
Surat
Nabi Sulaiman a.s. merupakan
contoh yang indah sekali tentang bagaimana maksud yang besar dan luas dapat
diringkaskan dalam beberapa perkataan singkat, sepi dari segala kata
muluk-muluk dan panjang lebar tanpa guna. Surat itu sekaligus merupakan peringatan terhadap kesia-siaan pemberontakan, yang rupa-rupanya pada
waktu itu timbul di beberapa bagian negeri itu, dan ajakan kepada Ratu Saba
untuk tunduk kepada Nabi Sulaiman
a.s. guna menghindari pertumpahan darah
yang tidak perlu, juga untuk meninggalkan kemusyrikan,
dan menerima agama yang hakiki.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 11 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar