Senin, 10 Agustus 2015

Definisi "Tuhan" yang Hakiki Dalam Surah Al-Ikhlash & Kalimat "Bismillaahirrahmaanirrahiim" Dalam Surat Peringatan Nabi Sulaiman s.s. kepada Ratu Saba



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 5  

Definisi “Tuhan” yang Hakiki Dalam Surah Al-Ikhlash &   Kalimat  Bismillāhirrahmānirrahīm Dalam Surat Peringatan Nabi Sulaiman a.s. kepada Ratu Saba  

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai penolakan  wujud-wujud yang   dianggap orang-orang   sebagai “washilah” (perantaraan) antara  mereka dengan Tuhan yang hakiki,   firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ نَقُوۡلُ لِلَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ ۚ فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ  اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾  فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اِنۡ  کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ  لَغٰفِلِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan mengumpulkan mereka semuanya  kemudian Kami akan berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan:  “Tetaplah di tempat kamu, kamu beserta sekutu-sekutumu.” Lalu Kami memisahkan di antara mereka maka   sekutu-sekutu mereka berkata:  ”Sekali-kali bukanlah kami yang senantiasa kamu sembah;  maka cukuplah Allah sebagai saksi di antara kami dan kamu, sesungguhnya  kami tidak tahu-menahu  mengenai penyembahan kamu.” (Yunus [10]:29-30).  Lihat pula QS.6:23-24; QS.46:7.
        Mengenai penolakan (pengingkaran)  wujud-wujud yang dipersekutukan dengan Tuhan  terhadap penyembahan orang-orang musyrik  terhadap mereka lihat pula QS.16:87-88; QS.28:63-65; QS.30:13-15. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ  اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Di sanalah  tiap-tiap jiwa  merasakan penderitaan  akibat apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka akan dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang haq (sebenarnya), dan  lenyaplah dari mereka apa yang telah  mereka ada-adakan itu.  (Yunus [10]:31). 
        Di dunia  ini  manusia tidak diberi kemampuan sepenuhnya untuk memahami dan mengetahui hakikat yang sebenarnya mengenai segala sesuatu. Hanya nanti di akhiratlah segala hijab (tirai) akan sepenuhnya disingkapkan, dan hakikat yang sebenarnya mengenai segala sesuatu akan menjadi terang dan jelas.
    Pendek kata, banyak berbagai dalil dalam Al-Quran yang mendukung kebenaran firman Allah Swt.  berkenaan kesaksian ruh manusia mengenai Tauhid Ilahi yang telah ditanamkan Allah Swt. dalam jiwa atau fitrat manusia (QS.7:173-175).

Hikmah Tertib  Urutan Penganugerahan Pendengar, Penglihatan dan Hati (Pengertian)  & Hubungannya dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt.

        Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kesaksian jujur  orang-orang musyrik sesuai kesaksian  ruhnya atau fitratnya  mengenai Tauhid Ilahi (QS.7:173):
 قُلۡ مَنۡ یَّرۡزُقُکُمۡ مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ اَمَّنۡ یَّمۡلِکُ السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ مَنۡ یُّخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ یُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ وَ مَنۡ یُّدَبِّرُ الۡاَمۡرَ ؕ فَسَیَقُوۡلُوۡنَ اللّٰہُ ۚ فَقُلۡ  اَفَلَا  تَتَّقُوۡنَ ﴿﴾  فَذٰلِکُمُ  اللّٰہُ  رَبُّکُمُ الۡحَقُّ ۚ فَمَا ذَا بَعۡدَ الۡحَقِّ  اِلَّا الضَّلٰلُ ۚۖ فَاَنّٰی تُصۡرَفُوۡنَ ﴿﴾  کَذٰلِکَ حَقَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ عَلَی الَّذِیۡنَ فَسَقُوۡۤا  اَنَّہُمۡ  لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:  ”Siapakah yang memberi kamu rezeki dari langit dan bumi? Dan siapakah yang menguasai pendengaran serta penglihatan? Dan  siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan  siapakah yang mengatur  segala urusan?” Mereka akan berkata: “Allah.” Maka katakanlah: ”Tidakkah kamu mau  bertakwa?”   Maka demikianlah Allah, Rabb (Tuhan) kamu Yang Mahabenar, karena itu tidak ada sesudah haq (kebenaran) melainkan kesesatan, lalu bagaimanakah kamu dipalingkan dari kebenaran?”   Demikianlah telah nyata benarnya firman Rabb (Tuhan) engkau mengenai orang-orang yang fasik (durhaka) bahwa sesungguhnya mereka itu tidak akan beriman. (Yunus [10]:32-34).
       Dalam ayat-ayat ini terdapat tertib yang indah dan sangat bijaksana. Ayat ini mulai dengan:
      (1)  menyebut rezeki, yang merupakan sarana pemeliharaan kehidupan jasmani,  kemudian:
      (2) dibicarakannya indera penglihatan dan pendengaran yang merupakan alat untuk memperoleh kebijaksanaan dan keilmuan, sesudah itu:
      (3) dibahasnya soal hidup dan mati, yang menunjuk kepada kekuatan manusia untuk bertindak, hal  yang dengan sendirinya berlaku sesudah memperoleh hikmah dan pengertian, dan paling akhir:
      (4) dibicarakannya pengaturan dan pelaksanaan urusan-urusan yang sangat diperlukan, jika orang mulai menggunakan kekuatannya untuk berbuat, sebab tadbir mengandung arti menyelenggarakan suatu perkara dengan cara tertib dan teratur, dan menjaga keseimbangan yang tepat antara berbagai perbuatan.  
      Pendek kata, keempat cara yang semuanya perlu untuk mencapai tujuan hidup manusia ini di sini disebut dengan tertibnya yang wajar, kesemuanya tersebut terangkum dalam Sifat Rabubiyat Allah Swt.   yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah ayat 2:   اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ  --    Segala  puji hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam”. Ayat ini akan dibahas  setelah pembahasan ayat  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ     -- Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” 

Kesempurnaan Tatanan Alam Semesta  Sebagai Saksi Tauhid Ilahi

      Pendek kata, sehubungan dengan ayat    بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ     -- “Aku baca dengan nama Allah”,  keberadaan dan kekuasaan  Tuhan yang Dzat-Nya disebut ALLAH   tidak hanya berdasarkan  kesaksian ruh (jiwa/fitrat) manusia saja,  tetapi juga berdasarkan Tanda-tanda-Nya  yang terdapat di seluruh tatanan alam semesta jasmani  dan ruhani -- termasuk dalam tubuh manusia sendiri  -- yang  merupakan karya cipta-Nya,  firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta  pertukaran malam dan siang benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,  yaitu orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  seraya berkataرَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ --  “Ya Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api. رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ --  Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. (Âli ‘Imran [3]:191-193).
        Sehubungan dengan ayat-ayat tersebut lihat pula  QS.2:22-23; QS.2:165;  QS.3:28;  QS.10:6-7;  QS.20:54-55; QS.20:50-57; QS.21:31-34; QS.23:79-81;  QS.27:61-67; QS.30:21-28; QS.41:10-13; QS.42:30; QS.45:4-7  & lihat  QS.4:104;  QS.10:13; QS. QS.39:10; QS.62:11  &  lihat QS.38:28.
      Demikianlah  penjelasan tentang makna sebutan ALLAH  dalam  kalimat Bismillāh dalam ayat pertama Surah Al-Fatihah:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. 

Definisi “Tuhan” yang Hakiki  Dalam Surah Al-Ikhlash  & Makna  Sifat Al-Ahad

        Masalah ini  keberadaan serta Ketauhidan Allah Swt. tersebut   dalam firman-Nya berikut lebih diperjelas lagi, sehingga tidak ada celah untuk mempertuhankan wujud-wujud lain selain Allah Swt.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: “Dia-lah Allah   Yang Maha Esa.     Allah, adalah Tuhan Yang se-gala sesuatu bergantung pada-Nya.   Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,  dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
     Kata qul (katakan) di sini mengandung perintah kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu Maha Esa” (Al-Ahad). Kata   Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan berarti  “Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan  (QS.7:173) dan Dia itu Esa dan Mandiri.
    Allah adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan yang hakiki bukan nama sifat dan bukan pula keterangan.  
    Ahad adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam Wujud-Nya (Lexicon Lane).
    Sementara Ahad berarti ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya – gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Wāhid berarti kemandirian Tuhan dalam Sifat-sifat-Nya. Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wāhidun akan berarti, bahwa Tuhan – yakni Allah Swt.  -- itu Wujud Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk.
    Sedangkan Allāhu Ahadun berarti bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal dalam arti, bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti. Dia bukan mata rantai pertama suatu rangkaian mata rantai, dan bukan pula mata rantai terakhir.  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ – Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran.

Makna Sifat Ash-Shamad

    Shamad berarti: seorang (wujud) yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
    Karena Ash-Shamad  merupakan salah satu sifat Tuhan, berarti:  Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya; Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
    Dalam ayat 1   telah dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ     mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan dari Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya.
   Semua (segala sesuatu) memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun. Dia tidak memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan bahwa segala sesuatu  di alam semesta ini telah diciptakan oleh-Nya berpasangan (berjodoh-jodoh- QS.13:4; QS.30:22; QS.36:37; QS.51:50).  
    Tuhan-lah   — yakni Allah Swt.   -- satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas:
   Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk mengukuhkan pernyataan, bahwa Allah itu Ahad (Mahaesa, Tunggal dan tiada tara bandingan-Nya) dan kini, dalam ayat ini sifat لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   -- “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala keperluan).
    Mengapa demikian? Sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari pikiran keliru bahwa  Dia memerlukan bantuan dari seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Dia mati, sebab semua wujud yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain  tunduk kepada hukum kematian. sedangkan Allah Swt. tidak menggantikan siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua Sifat-Nya dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak.

Allah Swt. Tidak Memerlukan  Pengganti-Nya atau Pewaris-Nya

    Ayat  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ  --   “dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya”   ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya. Taruhlah bahwa Allah itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain   -- yakni Al-Ahad dan Ash-Shamad;  dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
    Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah. Akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya. Tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun (QS.67:1-5) menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak,  dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan ke-Esa-an Sang Pencipta (QS.21:23).
   Dengan demikian Surah Al-Ikhlash ini mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain – kepercayaan kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak, dan kepercayaan  bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan.
    Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan definisi yang diberikan oleh Al-Quran.
    Dengan demikian apa pun atau siapa pun yang diangap sebagai tuhan tetapi tidak memenuhi definisi  mengenai Tuhan yang Hakiki   dalam Surah Al-Ikhlas  maka dapat dipasti bahwa itu bukan Al-Khāliq (Tuhan Pencipta) alam semesta melainkan makhluk (yang diciptakan) dan merupakan bagian dari alam semesta, yang sangat tidak layak untuk dipertuhankan.
    Jadi, kembali kepada pembahasan ayat  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  -- “Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang,”  menurut Allah Swt. Nabi Sulaiman a.s. pun ketika menulis surat peringatan kepada Ratu Saba dimulai dengan lafadz  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  -- “Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” 

Surat Peringatan Nabi Sulaiman a.s. kepada Ratu Saba

    Mengenai  hal itu berikut firman-Nya mengenai dialog Nabi Sulaiman a.s. dengan Jenderal  Hud-hud yang dalam ayat-ayat sebelumnya (QS.27:21-28) telah melaporkan hasil-kerja intelijen  yang dilakukannya ke wilayah kerajaan Ratu Saba:  
اِذۡہَبۡ بِّکِتٰبِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقِہۡ  اِلَیۡہِمۡ ثُمَّ تَوَلَّ عَنۡہُمۡ فَانۡظُرۡ  مَا ذَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قَالَتۡ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا  اِنِّیۡۤ   اُلۡقِیَ   اِلَیَّ  کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿ۙ﴾  اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Pergilah dengan membawa suratku ini lalu sampaikanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka lalu perhatikanlah apa jawaban mereka.”2165 Ia (Ratu Saba) berkata:  “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah disam-paikan kepadaku surat yang mulia.  اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  -- Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat itu berbunyi:   -- “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”  اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ  -- “Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku dengan berserah diri.” (An-Naml [27]:29-32).
       Burung-burung tidak pernah diketahui orang berbicara tentang kebenaran atau dusta. Ayat ini memberikan suatu bukti lagi, bahwa Hud-hud bukan seekor burung, melainkan seorang pembesar dalam pemerintahan Nabi Sulaiman a.s., dengan gelar Hud-hud.
      Bahkan bila dibenarkan  bahwa Nabi Daud a.s.   dan Nabi Sulaiman a.s.  dapat mengerti bahasa semut   atau bahasa burung   (QS.27:16-21), tetapi tidak  ada sesuatu dalam Al-Quran yang menunjukkan, bahwa Ratu Saba juga dapat mengerti bahasa burung, namun demikian kepada Hud-hud dipercayakan menyampaikan surat Nabi Sulaiman a.s.kepada   Ratu Saba dan mengadakan percakapan dengan beliau atas nama Nabi Sulaiman a.s.   dan sebagai wakil (duta) beliau.
        Mengenai ayat اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  --   “Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat itu berbunyi:   --  Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.”  اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ  --  “Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku dengan berserah diri.”  
       Beberapa ahli ketimuran pihak Kristen, sebagaimana kebiasaan mereka, telah gagal dalam usahanya mengingkari fakta bahwa Al-Quran bersumber pada Allah Swt., dengan mencoba membuktikan ungkapan Bismillāh telah dipinjam dari kitab-kitab yang terdahulu.

Kegagalan Para Kritikus  Non-Muslim Mengenai Al-Quran

      Wherry dalam buku “Commentary on the Quran”-nya mengatakan, bahwa kalimat itu telah dipinjam dari Zend-Avesta. Sale menyatakan pandangan serupa, sedang Rodwell berpendapat, bahwa bangsa Arab pra-Islam (sebelum sejarah Islam) meminjamnya dari kaum Yahudi dan selanjutnya kalimat itu dimasukkan ke dalam Al-Quran oleh Nabi Besar Muhammad saw..
      Mengatakan bahwa, sebab ungkapan atau kalimat Bismillāh itu didapati dalam beberapa kitab suci yang terdahulu, niscaya telah dipinjam oleh Al-Quran dari salah satu dari kitab-kitab itu adalah nyata sekali suatu kesimpulan yang lemah. Bagaimanapun, hal itu hanya membuktikan, bahwa Al-Quran memang berasal dari sumber yang sama seperti kitab-kitab lain pun berasal, yakni Allah Swt..
      Lagi pula, tidak ada kitab lain mempergunakan ungkapan ini dalam bentuk dan cara yang telah dilakukan oleh Al-Quran. Begitu juga, orang-orang Arab pra-Islam tidak pernah mempergunakan  ungkapan itu sebelum ungkapan itu diwah-yukan dalam Al-Quran. Kebalikannya, mereka mempunyai keengganan untuk mempergunakan sifat Ilahi Ar-Rahmān (QS.25:61), yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Bismillāh. Lihat juga QS.1:1.
       Surat Nabi Sulaiman a.s.  merupakan contoh yang indah sekali tentang bagaimana maksud yang besar dan luas dapat diringkaskan dalam beberapa perkataan singkat, sepi dari segala kata muluk-muluk dan panjang lebar tanpa guna. Surat itu sekaligus merupakan peringatan terhadap kesia-siaan pemberontakan, yang rupa-rupanya pada waktu itu timbul di beberapa bagian negeri itu, dan ajakan kepada   Ratu Saba untuk tunduk kepada Nabi Sulaiman a.s. guna menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu, juga untuk meninggalkan kemusyrikan, dan menerima agama yang hakiki.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 11  Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar