بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 15
Empat Macam Martabat Nikmat Ruhani Bagi Para Pengikut
Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.: Nabi.
Shiddiq, Syahid, dan Shalih & Mereka yang Diusir dari “Surga Keridhaan
Ilahi”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai “Kesaksian Ruh” Mengenai Tauhid Ilahi & Hikmah Penggunaan Kata “Kami” dan “Engkau.” Firman
Allah Swt. dalam Surah Al-A’rāf ayat 173: اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ ؕ -- ”Bukankah Aku
Rabb (Tuhan kamu?)” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- Mereka berkata: “Ya benar, kami
menjadi saksi,” menunjukkan kepada kesaksian
yang tertanam dalam ruh atau fitrat
manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam serta mengendalikannya (QS.30:31),
firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ
ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ
قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ
بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil kesaksian dari
bani Adam yakni dari sulbi keturunan mereka
serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman:
اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan kamu?)” Mereka berkata: “Ya benar, kami
menjadi saksi.” اَنۡ
تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ -- Hal itu supaya kamu
tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami
benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً
مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ -- Atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya
bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami
hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan
membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang
yang berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah
Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali
kepada yang haq (Al-A’rāf [7]:1173-175).
Atau ayat اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan kamu?)” Mereka berkata: “Ya benar, kami
menjadi saksi” itu dapat merujuk kepada kemunculan para
nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt.; dan ungkapan “dari
sulbi bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang
kepada mereka rasul Allah diutus (QS.7:35-36). Pada hakikatnya keadaan
tiap-tiap rasul baru itulah yang mendorong timbulnya
pertanyaan Ilahi: اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ -- “Bukankah
Aku Tuhan kamu?”
Makna Pemakaian Bentuk Jamak: Kami
& Makna “Jalan yang Lurus
Pemakaian bentuk jamak (kami)
dalam ayat اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah
dan hanya kepada
Engkau-lah kami mohon pertolongan” (Al-Fatihah
[1]:5), mengarahkan
perhatian kita kepada dua pokok yang
sangat penting:
(a) bahwa manusia tidak hidup seorang diri di
bumi ini, melainkan ia merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari masyarakat
di sekitarnya, karena itu ia hendaknya berusaha jangan berjalan sendiri, tetapi
harus menarik orang-orang lain juga bersama dia melangkah di jalan Allah
Swt.;
(b)
bahwa selama manusia tidak mengubah
lingkungannya kepada kebaikan ia belum aman.
Layak
dicatat pula bahwa Allah Swt. dalam
keempat ayat pertama disebut dalam
bentuk “orang ketiga”, yakni Rabbil-‘ālamīn,
Ar-Rahmān, Ar-Rahīm dan Māliki yaumid-dīn -- tetapi dalam ayat اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. (Al-Fatihah [1]:5) tiba-tiba Dia dipanggil dalam bentuk “orang
kedua” (Engkau).
Renungan
atas keempat Sifat Ilahi itu membangkitkan dalam diri manusia keinginan yang tak tertahankan untuk
dapat melihat Khāliq-nya (Pencipta-nya), begitu mendalam serta kuat hasratnya untuk mempersembahkan pengabdian sepenuh hatinya kepada-Nya,
sehingga untuk memenuhi hasrat jiwanya
itu bentuk “orang ketiga” yang dipakai pada keempat ayat permulaan telah diubah
menjadi bentuk “orang kedua” (Engkau) dalam ayat اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. (Al-Fatihah [1]:5).
Ada pun doa yang
diajarkan Allah Swt. dalam ayat selanjutnya
adalah: اِہۡدِ نَا صِّرَاطَ
الۡمُسۡتَقِیۡمَ -- “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Al-Fatihah
[1]:6). Doa ini meliputi seluruh keperluan manusia —
kebendaan dan ruhani, untuk masa ini dan masa yang akan datang. Orang
beriman berdoa agar kepadanya ditunjukkan jalan lurus — jalan terpendek. Kadang-kadang kepada manusia
diperlihatkan jalan yang benar dan lurus itu tetapi ia tidak
dibimbing kepadanya, atau jika pun dibimbing ke sana ia tidak
teguh pada jalan itu dan
tidak mengikutinya hingga akhir,
yakni tidak istiqamah (teguh)
Doa tersebut menghendaki agar orang beriman tidak merasa puas dengan hanya diperlihatkan kepadanya
suatu jalan, atau juga dengan dibimbing pada jalan itu, tetapi ia harus
senantiasa terus menerus mengikutinya
hingga mencapai tujuannya, dan inilah
makna hidayah, yang berarti menunjukkan
jalan yang lurus (QS.90:11), membimbing
ke jalan yang lurus (QS.29:70), dan membuat
orang mengikuti jalan yang lurus (QS.7:44)
(Al-Mufradat).
Pada
hakikatnya, manusia memerlukan pertolongan
Allah Swt. pada
tiap-tiap langkah dan pada setiap saat, dan sangat perlu sekali baginya
agar ia senantiasa mengajukan kepada-Nya
permohonan yang terkandung
dalam ayat ini. Oleh karena itu doa terus-menerus itu memang sangat perlu.
Selama kita mempunyai keperluan-keperluan yang belum kesampaian dan
keperluan-keperluan yang belum terpenuhi dan tujuan-tujuan yang belum tercapai
maka kita selamanya memerlukan doa.
Orang-orang yang Mendapat Nikmat Allah Swt. & Empat Macam Martabat Nikmat Ruhani
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman dalam ayat terakhir
Surah Al-Fatihah: صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ -- “Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka, لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ -- bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
Orang
beriman sejati tidak akan puas hanya
dengan dibimbing ke jalan yang lurus atau
dengan melakukan beberapa amal shalih
tertentu saja. Ia menempatkan tujuannya
jauh lebih tinggi dan berusaha mencapai kedudukan
saat Allah Swt. mulai
menganugerahkan karunia-karunia istimewa
kepada hamba-hamba-Nya.
Ia melihat kepada contoh-contoh karunia Ilahi yang dianugerahkan kepada
para hamba pilihan Ilahi di masa
silam, lalu memperoleh dorongan semangat
dari mereka. Ia bahkan tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi ia berusaha
keras dan mendoa supaya digolongkan di antara “orang-orang
yang telah mendapat nikmat” dan menjadi seorang dari antara mereka.
Orang-orang
yang telah mendapat nikmat itu telah disebut dalam QS.4:70, firman-Nya:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ
ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang
Allah memberi nikmat kepada mereka yakni:
nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui (An-Nisā [4]:70-71).
Ayat ini sangat penting sebab ia menerangkan
semua jalur kemajuan ruhani yang
terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — yakni nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,
syuhada
(saksi-saksi) dan shālihīn (orang-orang saleh) — kini semuanya dapat dicapai hanya
dengan jalan mengikuti Nabi Besar
Muhammad saw.. (QS.3:32; QS.4:70). Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw. semata.
Tidak ada nabi lain menyamai
beliau saw. dalam perolehan nikmat
ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah
dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan syuhada (saksi-saksi)
di sisi Rabb (Tuhan) mereka” (QS.57: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama
maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu,
maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw. dapat
naik ke martabat nabi juga.
Kitab “Bahr-ul-Muhit”
(jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman
dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka
empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia
telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat
tingkatan ini.”
Dan membubuhkan bahwa:
“Kenabian
itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang
membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum
masih tetap dapat dicapai.”
Doa dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah tersebut umum dan tidak untuk
sesuatu karunia tertentu. Orang
beriman bermohon kepada Allah Swt. agar
menganugerahkan karunia ruhani yang tertinggi kepadanya, dan terserah kepada
Dia untuk menganugerahkan kepadanya karunia yang dianggap-Nya pantas dan
layak bagi orang beriman itu
menerimanya.
Makna Maghdhūb (Orang-orang yang Dimurkai)
Makna permohonan
dalam kalimat لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ -- bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat,”
mengisyaratkan kepada dua macam golongan yang
melampaui batas dalam berkenaan
dengan orang yang memperoleh nikmat
kenabian, yakni (1) mereka yang menentangnya sehingga Allah Swt. memasukkan mereka
menjadi golongan orang-orang yang dimurkai
Allah Swt., padahal sebelumnya mereka itu
termasuk orang-orang yang mendapat nikmat-nikmat
ruhani dari Allah Swt., contohnya
adalah orang-orang kafir di kalangan Bani Israil yang senantiasa mendustakan
dan penentang para Rasul Allah yang dibangkitkan di
kalangan mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا
مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا
عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ
اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ
اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا
کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ
﴿﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah berikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di
belakangnya, dan Kami berikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda
yang nyata, dan juga Kami
memper-kuatnya dengan Ruhulqudus. اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا
لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ -- Maka apakah
patut setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh diri kamu kamu berlaku
takabur, فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ -- lalu sebagian kamu dustakan وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ -- dan sebagian lainnya kamu bunuh? وَ قَالُوۡا
قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ -- Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ
بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا
یُؤۡمِنُوۡنَ -- Tidak, bahkan Allah
telah mengutuk mereka karena kekafiran
mereka maka sedikit sekali apa yang mereka imani (Al-Baqarah [2]:88-89).
Jadi,
jika terhadap para rasul Allah yang
dibangkitkan dari kalangan Bani Israil pun mereka
senantiasa mengikuti ketakaburan
yang diperagakan Iblis terhadap Adam
(Khalifah Allah – QS.2:31-35; QS.7:12-19; QS.15:33-34; QS.38:76-77), apalagi
terhadap Nabi Besar Muhammad saw.,
yang dibangkitkan dari kalangan Bani
Isma’il sebagaimana yang dinubuatkan dalam Bible (Ulangan 18:15-19 & 28:1-2;
QS.46:11), firman-Nya:
وَ لَمَّا
جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ
عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ
۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ بِئۡسَمَا اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ
اَنۡفُسَہُمۡ اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ بَغۡیًا اَنۡ یُّنَزِّلَ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ
عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ ۚ فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ
عَلٰی غَضَبٍ ؕ وَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ
مُّہِیۡنٌ ﴿﴾
Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,
sedangkan sebelum itu mereka senantiasa
memohon kemenangan atas
orang-orang kafir, فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ -- tetapi tatkala
datang
kepada mereka apa yang
mereka kenali itu lalu mereka kafir kepadanya فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- maka laknat Allah atas orang-orang kafir. بِئۡسَمَا
اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ
اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ اَنۡزَلَ
اللّٰہُ -- Sangat buruk hal
yang dengan itu mereka telah menjual dirinya yakni mereka
kafir kepada apa yang diturunkan
Allah, بَغۡیًا اَنۡ
یُّنَزِّلَ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ -- karena
dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی
غَضَبٍ -- lalu
mereka ditimpa kemurkaan demi kemurkaan, وَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ -- dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan. (Al-Baqarah [2]:90-91).
Diusir dari “Surga Keridhaan Ilahi”
Ayat
90 berarti bahwa orang-orang Yahudi biasa membukakan kepada orang-orang musyrik Arab kenyataan bahwa ada nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab
Suci mereka tentang kedatangan seorang
Nabi yang akan menyebarkan kebenaran
ke seluruh dunia (Ulangan 18:18 dan 28:1-2).
Tetapi ketika Nabi Allah itu sungguh-sungguh muncul -- yakni Nabi
Besar Muhammad saw. -- bahkan
orang-orang dari antara mereka yang telah melihat
Tanda-tanda dari Allah Swt. menjadi
sempurna dalam diri beliau saw., mereka
berpaling dari beliau saw..
Atau mungkin pula artinya bahwa
sebelum diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. orang-orang Yahudi biasa mendoa dengan khusuk kepada Allah Swt.
agar Dia membangkitkan seorang nabi
yang akan menyebabkan agama yang benar
itu menang terhadap agama-agama palsu
(“Siratun-Nabi” oleh ibnu Hisyam,
1, 150), tetapi ketika Nabi Allah yang untuknya mereka terus-terus mendoa itu sungguh-sungguh datang dan keunggulan haq (kebenaran) di atas kepalsuan mulai mampak mereka menolaknya,
dan sebagai akibat penolakan tersebut itu laknat
Allah Swt. menimpa atas mereka dan
mereka terus menerus mendapat berbagai
bentuk kemurkaan Ilahi: فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ -- lalu mereka
ditimpa kemurkaan demi kemurkaan,
وَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ -- dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan. (Al-Baqarah [2]:91).
Dengan demikian jelaslah, bahwa
yang dimaksud maghdhūb (orang-orang
yang dimurkai) dalam ayat: غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ -- bukan
jalan mereka yang dimurkai” (Al-Fatihah [1]:7) adalah orang-orang kafir di kalangan Bani Israil atau orang-orang
Yahudi -- serta orang-orang yang mengikuti kelakuan buruk
mereka -- yang senantiasa mendustakan dan menentang para Rasul Allah,
yakni mereka mengikuti ketakaburan Iblis terhadap Adam
(Khalifah Allah), sehingga akibatnya sebagaimana halnya iblis lalu diusir Allah Swt. dari “surga keridhaan-Nya” (QS.7:12-16),
demikian pula orang-orang Yahudi dan orang-orang
yang mengikuti kelakuan buruk mereka
itu mengalami hal buruk yang sama,
termasuk di Akhir Zaman ini.
Jadi, tidak benar pendapat bahwa pengusiran
yang dikukan Allah Swt. terhadap Iblis
yang dikemukakan dalam berbaagi Surah Al-Quran adalah dari dalam “surga”,
yang ke dalamnya orang-orang yang
beriman dan beramal shaleh akan
memasukinya (QS.2:26), melainkan ia diusir
dari “surga keridhaan Ilahi”, yang
sebelum terjadinya pendustaan dan penentangan
terhadap para Rasul Allah mereka alami (rasakan), berikut firman Allah
Swt. kepada iblis:
قَالَ مَا
مَنَعَکَ اَلَّا تَسۡجُدَ
اِذۡ اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ
وَّ خَلَقۡتَہٗ مِنۡ
طِیۡنٍ ﴿﴾ قَالَ فَاہۡبِطۡ
مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾
Dia
berfirman: “Apa
yang telah menghalangi engkau
sehingga engkau tidak bersujud yakni
patuh sepenuhnya ketika Aku memberi
pe-rintah kepada engkau?” Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau
menciptakan dia dari tanah liat.” قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ
لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا -- Dia berfirman: ”Jika demikian, pergilah engkau darinya, karena sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, فَاخۡرُجۡ اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ -- karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang hina” (Al-A’rāf
[7]:13-14).
Oleh karena tidak ada kata-benda atau tempat disebut-sebut
dalam ayat ini yang dapat dianggap lebih ditampilkan oleh kata pengganti hā (nya) dalam ungkapan minhā (darinya): قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ
لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا -- Dia berfirman: ”Jika demikian, pergilah engkau darinya,” maka kata-pengganti
itu (minhā) dapat diartikan
menyatakan ihwal atau keadaan iblis sebelum ia menolak sujud kepada Adam a.s..
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 23 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar