Minggu, 23 Agustus 2015

Empat Macam Martabat "Nikmat Ruhani" Bagi Para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.: Nabi, Shiddiq, Syahid; Shalih & Mereka yang Diusir dari "Surga Keridhaan Ilahi"



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 15

Empat Macam Martabat Nikmat Ruhani Bagi Para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.: Nabi. Shiddiq, Syahid, dan Shalih &  Mereka yang Diusir dari “Surga Keridhaan Ilahi
   

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai Kesaksian Ruh” Mengenai Tauhid Ilahi  & Hikmah Penggunaan Kata “Kami” dan “Engkau.Firman Allah Swt. dalam Surah Al-A’rāf ayat  173: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ   --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan kamu?)” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا --  Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi,”      menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam ruh atau fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam  serta mengendalikannya  (QS.30:31), firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ  اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  bani Adam yakni   dari sulbi  keturunan  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirmanاَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan kamu?)” Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.”  اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ --  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ   --   Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka.  اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ --  Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali kepada yang haq   (Al-A’rāf [7]:1173-175).
         Atau ayat اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan kamu?)” Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi   itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt.; dan ungkapan “dari sulbi  bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus (QS.7:35-36). Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul baru itulah yang mendorong timbulnya  pertanyaan  Ilahi: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ  --  “Bukankah  Aku Tuhan kamu?”

Makna Pemakaian Bentuk Jamak: Kami  & Makna “Jalan yang Lurus

        Pemakaian bentuk jamak (kami) dalam ayat  اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ   -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan” (Al-Fatihah [1]:5),    mengarahkan perhatian kita kepada dua pokok yang sangat penting:
        (a) bahwa manusia tidak hidup seorang diri di bumi ini, melainkan ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat di sekitarnya, karena itu ia hendaknya berusaha jangan berjalan sendiri, tetapi harus menarik orang-orang lain juga bersama dia melangkah di jalan Allah Swt.;
        (b) bahwa selama manusia tidak mengubah lingkungannya  kepada kebaikan ia belum aman.
        Layak dicatat pula bahwa  Allah Swt.  dalam keempat ayat pertama disebut dalam  bentuk “orang ketiga”, yakni  Rabbil-‘ālamīn, Ar-Rahmān, Ar-Rahīm dan Māliki yaumid-dīn  -- tetapi dalam ayat  اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ   -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. (Al-Fatihah [1]:5)    tiba-tiba Dia dipanggil dalam bentuk “orang kedua” (Engkau).
       Renungan atas keempat Sifat Ilahi itu  membangkitkan dalam diri manusia keinginan yang tak tertahankan untuk dapat melihat Khāliq-nya (Pencipta-nya),  begitu mendalam serta kuat hasratnya untuk mempersembahkan pengabdian sepenuh hatinya kepada-Nya, sehingga untuk memenuhi hasrat jiwanya itu bentuk “orang ketiga” yang dipakai pada keempat ayat permulaan telah diubah menjadi bentuk “orang kedua” (Engkau) dalam ayat  اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ   -- “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. (Al-Fatihah [1]:5).
     Ada pun doa yang diajarkan Allah Swt. dalam ayat selanjutnya  adalah:   اِہۡدِ نَا صِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ     -- “Tunjukilah kami   jalan yang lurus” (Al-Fatihah [1]:6).   Doa ini meliputi seluruh keperluan manusia — kebendaan dan ruhani, untuk masa ini dan masa yang akan datang. Orang beriman  berdoa agar kepadanya ditunjukkan jalan lurus — jalan terpendek. Kadang-kadang kepada manusia diperlihatkan jalan yang benar dan lurus itu  tetapi ia tidak dibimbing  kepadanya,  atau jika pun dibimbing ke sana  ia tidak  teguh pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir, yakni tidak istiqamah (teguh)
       Doa tersebut menghendaki agar orang beriman tidak merasa puas dengan hanya diperlihatkan kepadanya suatu jalan, atau juga dengan dibimbing pada jalan itu, tetapi ia harus senantiasa terus menerus mengikutinya hingga mencapai tujuannya, dan inilah makna hidayah, yang berarti menunjukkan jalan yang lurus (QS.90:11), membimbing ke jalan yang lurus (QS.29:70), dan membuat orang mengikuti jalan yang lurus (QS.7:44)  (Al-Mufradat).
       Pada hakikatnya, manusia memerlukan pertolongan  Allah Swt.    pada tiap-tiap langkah dan pada setiap saat, dan sangat perlu sekali baginya agar ia senantiasa mengajukan kepada-Nya  permohonan yang terkandung dalam ayat ini. Oleh karena itu doa terus-menerus itu memang sangat perlu. Selama kita mempunyai keperluan-keperluan yang belum kesampaian dan keperluan-keperluan yang belum terpenuhi dan tujuan-tujuan yang belum tercapai maka kita selamanya memerlukan doa.

Orang-orang yang Mendapat Nikmat Allah Swt. &  Empat Macam Martabat  Nikmat Ruhani

       Selanjutnya Allah Swt. berfirman dalam  ayat terakhir Surah  Al-Fatihah:   صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ   -- “Yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ  -- bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. 
        Orang beriman  sejati tidak akan puas hanya dengan dibimbing ke jalan yang lurus atau dengan melakukan beberapa amal shalih tertentu saja. Ia menempatkan tujuannya jauh lebih tinggi dan berusaha mencapai kedudukan saat Allah Swt.   mulai menganugerahkan karunia-karunia istimewa kepada hamba-hamba-Nya.
         Ia melihat kepada contoh-contoh karunia Ilahi yang dianugerahkan kepada para hamba pilihan Ilahi di masa silam, lalu memperoleh dorongan semangat dari mereka. Ia bahkan tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi ia berusaha keras dan mendoa supaya digolongkan di antara “orang-orang yang telah mendapat nikmat” dan menjadi seorang dari antara mereka.
        Orang-orang yang telah mendapat nikmat itu telah disebut dalam QS.4:70, firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui  (An-Nisā [4]:70-71).
        Ayat ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — yakni   nabi-nabi,  shiddiq-shiddiq,  syuhada (saksi-saksi) dan  shālihīn (orang-orang saleh) — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw.. (QS.3:32; QS.4:70). Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi  Nabi Besar Muhammad saw.     semata.
      Tidak ada nabi lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan syuhada (saksi-saksi) di sisi Rabb (Tuhan) mereka” (QS.57: 20).
       Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi juga.
         Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” 
Dan membubuhkan bahwa: 
Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”
        Doa dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah tersebut umum dan tidak untuk sesuatu karunia tertentu. Orang beriman  bermohon kepada    Allah Swt.      agar menganugerahkan karunia ruhani yang tertinggi kepadanya, dan terserah kepada Dia  untuk menganugerahkan kepadanya karunia yang dianggap-Nya pantas dan layak bagi orang beriman itu menerimanya.

Makna Maghdhūb (Orang-orang yang Dimurkai)

         Makna  permohonan  dalam  kalimat  لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ  -- bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat,” mengisyaratkan kepada dua macam golongan yang  melampaui batas dalam  berkenaan dengan  orang yang memperoleh nikmat kenabian, yakni (1) mereka yang menentangnya sehingga Allah Swt. memasukkan mereka menjadi  golongan  orang-orang  yang dimurkai Allah Swt., padahal sebelumnya mereka itu  termasuk orang-orang yang mendapat nikmat-nikmat ruhani  dari Allah Swt., contohnya adalah orang-orang  kafir di kalangan Bani Israil yang senantiasa mendustakan dan penentang para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah  berikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di belakangnya,  dan   Kami  berikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga Kami memper-kuatnya dengan Ruhulqudusاَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ --   Maka apakah patut setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh diri kamu  kamu berlaku takabur, فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ   --  lalu  sebagian kamu dustakan وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ  -- dan sebagian lainnya kamu bunuh? وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ  --    Dan mereka berkata:  Hati kami tertutup.” بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ  --  Tidak,  bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka  maka sedikit sekali apa yang mereka imani  (Al-Baqarah [2]:88-89).
         Jadi, jika terhadap para rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan Bani Israil  pun mereka   senantiasa mengikuti ketakaburan yang diperagakan Iblis  terhadap Adam (Khalifah Allah – QS.2:31-35; QS.7:12-19; QS.15:33-34; QS.38:76-77), apalagi terhadap Nabi Besar Muhammad saw., yang dibangkitkan dari kalangan Bani Isma’il sebagaimana yang dinubuatkan  dalam Bible  (Ulangan 18:15-19 & 28:1-2; QS.46:11), firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ بِئۡسَمَا اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ  اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ  اَنۡزَلَ اللّٰہُ     بَغۡیًا اَنۡ یُّنَزِّلَ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ ۚ فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ ؕ وَ  لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ ﴿﴾
Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni  Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon kemenangan  atas orang-orang kafir, فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ  --  tetapi tatkala  datang kepada mereka  apa yang mereka  kenali itu lalu mereka kafir  kepadanya  فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ --  maka laknat Allah atas orang-orang kafir. بِئۡسَمَا اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ  اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ  اَنۡزَلَ اللّٰہُ    -- Sangat buruk hal yang  dengan itu mereka telah menjual dirinya  yakni  mereka  kafir  kepada apa yang diturunkan Allah,  بَغۡیًا اَنۡ یُّنَزِّلَ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ   -- karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya,  فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ -- lalu   mereka ditimpa kemurkaan demi kemurkaan, وَ  لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ --  dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan.  (Al-Baqarah [2]:90-91).

Diusir dari “Surga Keridhaan Ilahi

      Ayat 90  berarti bahwa orang-orang Yahudi biasa membukakan kepada orang-orang musyrik Arab kenyataan bahwa ada nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab Suci mereka tentang kedatangan seorang Nabi yang akan menyebarkan kebenaran ke seluruh dunia (Ulangan 18:18 dan 28:1-2). Tetapi ketika Nabi Allah  itu sungguh-sungguh muncul  -- yakni Nabi Besar Muhammad saw.   -- bahkan orang-orang dari antara mereka yang telah melihat Tanda-tanda dari Allah Swt.  menjadi sempurna dalam diri beliau saw.,  mereka berpaling dari beliau saw..
      Atau mungkin pula artinya bahwa sebelum diutusnya  Nabi Besar Muhammad saw orang-orang Yahudi biasa mendoa dengan khusuk kepada Allah Swt. agar Dia membangkitkan seorang nabi yang akan menyebabkan agama yang benar itu menang terhadap agama-agama palsu (“Siratun-Nabi”  oleh ibnu Hisyam, 1, 150), tetapi  ketika Nabi Allah  yang untuknya mereka terus-terus mendoa itu sungguh-sungguh datang dan keunggulan haq (kebenaran) di atas kepalsuan mulai mampak mereka menolaknya, dan sebagai akibat  penolakan tersebut itu laknat Allah Swt. menimpa  atas mereka dan mereka terus menerus  mendapat berbagai bentuk kemurkaan Ilahi:  فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ -- lalu   mereka ditimpa kemurkaan demi kemurkaan, وَ  لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ --  dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan.  (Al-Baqarah [2]:91).
        Dengan demikian jelaslah, bahwa yang dimaksud maghdhūb (orang-orang yang dimurkai) dalam ayat:  غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ    -- bukan jalan mereka  yang dimurkai” (Al-Fatihah [1]:7) adalah orang-orang kafir di kalangan Bani Israil atau  orang-orang Yahudi  -- serta orang-orang yang mengikuti kelakuan buruk mereka   -- yang senantiasa mendustakan dan menentang para Rasul Allah, yakni mereka mengikuti ketakaburan Iblis  terhadap Adam (Khalifah Allah), sehingga akibatnya sebagaimana halnya iblis  lalu diusir Allah Swt. dari “surga keridhaan-Nya” (QS.7:12-16), demikian pula  orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mengikuti kelakuan buruk mereka itu mengalami hal buruk yang sama, termasuk di Akhir Zaman ini.
        Jadi, tidak benar pendapat bahwa pengusiran yang dikukan Allah Swt. terhadap Iblis yang dikemukakan dalam berbaagi Surah Al-Quran adalah dari dalam “surga”,  yang ke dalamnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh akan memasukinya (QS.2:26), melainkan ia diusir dari “surga keridhaan Ilahi”, yang sebelum  terjadinya pendustaan dan penentangan terhadap para Rasul Allah mereka alami (rasakan), berikut firman Allah Swt. kepada iblis:
قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ ﴿﴾  قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾
Dia  berfirman:  “Apa  yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni patuh sepenuhnya ketika Aku memberi pe-rintah kepada engkau?” Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.” قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا -- Dia berfirman:  ”Jika demikian, pergilah engkau darinya, karena sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ --  karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang hina” (Al-A’rāf [7]:13-14).
    Oleh karena tidak ada kata-benda atau tempat disebut-sebut dalam ayat ini yang dapat dianggap lebih ditampilkan oleh kata pengganti hā  (nya) dalam ungkapan minhā (darinya): قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا --    Dia berfirman:  ”Jika demikian, pergilah engkau darinya,”   maka kata-pengganti itu (min) dapat diartikan menyatakan ihwal atau keadaan iblis sebelum ia menolak sujud kepada Adam a.s..

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***

Pajajaran Anyar, 23  Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar