Sabtu, 29 Agustus 2015

Pencabutan "Ruh" Al-Quran di Masa Kemunduran Umat Islam Selama Seribu Tahun & Munculnya Berbagai Aliran Kebatinan di Kalangan Umat Beragama


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 22

Pencabutan “Ruh” Al-Quran di Masa Kemunduran Umat Islam Selama Seribu Tahun  & Munculnya Berbagai  Aliran  Kebatinan   di Kalangan Umat Beragama

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma 

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai pengulangan  keadaan ratqan (menggumpal) dalam alam keruhanian  -- setelah terciptanya “langit baru dan bumi baru” melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.14:49-53  -- kembali terjadi di Akhir Zaman ini, yang diawali setelah  3 abad masa kejayaan umat Islam yang pertama, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung  (As-Sajdah [31]:6).
         Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
       Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).
       Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata:  ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”

Keimanan Terbang ke Bintang Tsurayya

       Dalam hadits lain – sehubungan dengan tafsir Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4  -- Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa iman akan terbang ke bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir Surah Al-Jumu’ah).
     Dengan kedatangan   Masih Mau’ud a.s.  dalam abad ke-14 sesudah Hijrah (QS.62:3-5), laju kemerosotan Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku (QS.61:10), firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ   ﴿﴾  
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai  (Ash-Shaf [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian, yang pada hakikatnya merupakan pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani di Akhir  Zaman dari kalangan “ākharīn minhum”,firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --   Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan merekaوَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksanaذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --   Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar  (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
       Penggunaan  kata وَّ  (wa) sebagai wa ataf mengisyaratkan pengulangan  peritiwa yang terjadi pada ayat selanjutnya, yakni: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --   Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka”, bahwa keadaan jahiliyah serta pengutusan Rasul Allah  yang dikemukakan secara  jelas dalam kalimat sebelumnya  di masa Nabi Besar Muhammad saw. akan kembali terjadi.
        Dengan demikian keadaan    jahiliyah  di masa menjelang pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. identik dengan keadaan ratqan (menggumpal – QS.21:31; QS.30:42-43), sedangkan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. identik  dengan peristiwa “the Big Bang” (Ledakan Besar) atau fataq (pemisahan gumpalan – QS.21:31).
          Begitu  dalam ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --  “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka,” akan terjadi keadaan ratqan (menggumpal) berupa pengulangan keadaan jahiliyah,   dan pengulangan  “the Big Bang” (Ledakan Besar) dan fataq  (pemisahan gumpalan).

Nubuatan Lenyapnya “Ruh” Al-Quran Setelah Umat Islam Mengalami Masa Kejayaan yang Pertama

         Jadi, itulah isyarat-isyarat dalam Al-Quran berkenaan  terulangnya keadaan ratqan (menggumpal)  dan fataq (pemisahan gumpalan) yang terjadi di kalangan umat Islam setelah mengalami masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad, demikian pula dalam firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai isyarat  pencabutan (penarikan) kembali “ruh” Al-Quran:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾  وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا ﴿﴾  قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh,  katakanlah: “Ruh telah diciptakan  perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali  tidak  diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit.”  وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا --  Dan jika Kami benar-benar  menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali  apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau   kemudian engkau tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu.   اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ   -- Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau,  اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا -- sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau. قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ  --   Katakanlah: “Jika  ins (manusia) dan jin benar-benar berhimpun  untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini,  لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا -- mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini,  walaupun  sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:86-89).
  Dalam masa kemunduran dan kejatuhan ruhani mereka, nampaknya orang-orang Yahudi asyik berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan ilmu klenik (occult), seperti halnya banyak ahli kebatinan modern, para pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi Hindu.
        Nampaknya di masa Nabi Besar Muhammad saw. pun beberapa orang Yahudi di Medinah telah menempuh cara-cara kebiasaan semacam itu. Itulah sebabnya mengapa ketika orang-orang musyrik Mekkah mencari bantuan orang-orang Yahudi untuk membungkam Nabi Besar Muhammad saw., mereka memberi saran supaya orang-orang musyrik Mekkah itu menanyakan kepada Nabi Besar Muhammad saw. hakikat ruh manusia.
       Dalam ayat yang sedang dibahas ini Al-Quran menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan  bahwa ruh memperoleh daya kekuatannya dari perintah Ilahi, dan apa pun yang menurut kepercayaan orang dapat diperoleh dengan perantaraan apa yang dikatakan latihan-latihan batin dan ilmu sihir, adalah semata-mata tipuan dan omong-kosong belaka. Itulah makna firman-Nya:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا
“Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh,  katakanlah: “Ruh telah diciptakan  perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali  tidak  diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit”  (QS.17:86).

Maraknya Kemunculan  Para Praktisi Kebatinan di Masa Kemunduran Islam
  
      Menurut riwayat pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat ruh manusia pertama-tama diajukan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  di kota Mekkah oleh orang-orang Quraisy dan kemudian menurut ‘Abdullah bin Mas’ud r.a.  — oleh orang-orang Yahudi di Medinah.
        Di sini ruh disebut sesuatu yang diciptakan atas perintah langsung dari  Allah Swt.. Menurut Al-Quran semua penciptaan terdiri dari dua jenis:
       (1) Kejadian permulaan yang dilaksanakan tanpa mempergunakan zat atau benda yang telah diciptakan sebelumnya.
      (2) Kejadian selanjutnya yang dilaksanakan dengan mempergunakan sarana dan benda yang telah diciptakan sebelumnya. Kejadian macam pertama termasuk jenis amr (arti harfiahnya ialah perintah), yang untuk itu lihat QS.2:118, dan yang terakhir disebut khalq (arti harfiahnya ialah menciptakan). Ruh manusia termasuk jenis penciptaan pertama. Kata ruh itu berarti wahyu Ilahi (Lexicon Lane). Letaknya kata ini di sini agaknya mendukung arti demikian.
        Ayat  وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا --  Dan jika Kami benar-benar  menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali  apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau   kemudian engkau tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. (QS.17:87)   – sesuai dengan  firman-Nya  dalam QS.32:6   -- nampaknya mengandung nubuatan bahwa akan datang suatu saat ketika ilmu yakni ruh Al-Quran akan lenyap dari bumi.
Isyarat adalam ayat tersebut sesuai dengan firman-Nya yang telah dibahas sebelum  ini:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung  (As-Sajdah [31]:6).
   Nubuatan Nabi Besar Muammad saw.  serupa itu telah diriwayatkan oleh Mardawaih, Baihaqi, dan Ibn Majah, ketika ruh dan jiwa ajaran Al-Quran akan hilang lenyap dari bumi, dan semua  orang yang dikenal sebagai ahli-ahli mistik dan para sufi yang mengakui memiliki kekuatan batin istimewa — seperti pula diakui oleh segolongan orang-orang Yahudi dahulu kala yang sifatnya serupa dengan mereka — tidak akan berhasil mengembalikan jiwa ajaran Al-Quran dengan usaha mereka bersama-sama, sebagaimana  diisuaratkan dalam  ayat selanjutnya, firman-Nya:
قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا
Katakanlah: “Jika ins (manusia) dan jin benar-benar berhimpun  untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini, walaupun  sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:89).
       Tantangan ini pertama-tama diajukan kepada mereka yang berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan klenik, supaya mereka meminta pertolongan ruh-ruh gaib, yang darinya orang-orang ahli kebatinan itu —  menurut pengakuannya sendiri — menerima ilmu ruhani.

Kiasan Matahari dan  Bayangan Benda    

        Tantangan Allah Swt. tersebut berlaku pula untuk semua orang yang menolak Al-Quran bersumber pada Tuhan (Allah Swt.) dan untuk sepanjang masa, sebab sebagaimana halnya yang  menurunkan wahyu Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw.  di masa awal kejayaan Islam adalah Allah Swt., begitu juga yang akan mengembalikan “ruh” Al-Quran setelah masa kemunduran umat Islam selama  1000 tahun pun (QS.32:6) adalah Allah Swt. pula, yakni melalui pengutusan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan, sehingga janji Allah Swt. mengenai  kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini akan terwujud (QS.61:10; QS.62:3-5), sebagaimana  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ  تَرَ  اِلٰی رَبِّکَ کَیۡفَ مَدَّ  الظِّلَّ ۚ وَ لَوۡ شَآءَ لَجَعَلَہٗ  سَاکِنًا ۚ ثُمَّ جَعَلۡنَا الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ  دَلِیۡلًا ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat  bagaimana Rabb (Tuhan) engkau memanjangkan bayangan?  Dan  seandainya Dia menghendaki niscaya  Dia menjadikannya tetap, kemudian Kami menjadikan kedudukan matahari sebagai petunjuk atasnya.  ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا   -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami  perlahan-lahan. (Al-Furqān [25]:46-47).
      Ayat  46 ini mengisyaratkan dengan bahasa kiasan kepada kebangkitan, kemajuan, dan kekuasaan Islam; dan melukiskan hakikat ini dengan menarik perhatian manusia kepada sebuah gejala alam. Yakni jika  matahari berada di belakang sebuah benda maka bayangan benda tersebut  akan memanjang. Demikian pula halnya, bila Allah Swt. berada di belakang suatu kaum, maka kekuasaan serta pengaruh mereka akan terus menerus meningkat.
Ayat 46  mengandung arti bahwa Allah Swt.   berada di belakang Islam dan karena itu bayangannya akan terus mengembang dan meluas, hingga akan mencapai ujung-ujung dunia, dan bangsa-bangsa di dunia akan mencari dan menemukan ketenteraman dan kesentausaan di bawah naungannya.
     “Matahari” dalam ayat ini dapat pula melambangkan Islam atau Nabi Besar Muhammad saw..  Kedudukan matahari menentukan besarnya (panjangnya) bayangan, itulah makna ayat: ثُمَّ جَعَلۡنَا الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ  دَلِیۡلًا  -- “kemudian Kami menjadikan kedudukan matahari sebagai petunjuk atasnya.”

Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya

      Makna ayat sebelumnya:  وَ لَوۡ شَآءَ لَجَعَلَہٗ  سَاکِنًا  -- “Dan  seandainya Dia menghendaki niscaya  Dia menjadikannya tetap,” bahwa Allah Swt. memang berkuasa membuat kejayaaan Islam  umat Islam yang pertama tersebut   bertahan lama, tetapi karena dalam kenyataannya di kalangan umat Islam  -- terutama setelah masa para Khulafatur- Rasyiddin   -- telah terjadi berbagai ketidak-bersyukuran atau kedurhakaan   maka sesuai Sunnah-Nya  Allah Swt. pun merespon ketidak-bersyukuran mereka itu dengan  berbagai akibat buruk yang telah ditetapkan-Nya  pula bagi para pelakunya,  sebagai ucapan Nabi Musa a.s. berikut ini kepada Bani Israil, firman-Nya:
وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) kamu mengumumkan: bJika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ --  tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.” (Ibrahim [14]:8).
Firman-Nya lagi:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ  اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan  Allah  benar-benar Maha Menghargai,  Maha Mengetahui  (An-Nisā [4]:148).
       Jadi,  manusia sendirilah yang berperan    memunculkan (mendatangkan)   berbagai akibat buruk  (takdir buruk) sebagai buah (hasil)  ketidak-bersyukuran  yang mereka   lakukan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, firman-Nya:
ذٰلِکَ بِمَا قَدَّمَتۡ اَیۡدِیۡکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ لَیۡسَ  بِظَلَّامٍ   لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿ۙ﴾  کَدَاۡبِ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ ۙ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ  کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ  فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ  بِذُنُوۡبِہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿﴾  ذٰلِکَ بِاَنَّ  اللّٰہَ  لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا  نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ۙ وَ اَنَّ  اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Azab itu disebabkan oleh apa yang telah didahulukan oleh tangan kamu dan  Allah sesungguhnya sekali-kali tidak zalim  terhadap hamba-hamba-Nya.  Seperti keadaan  kaum Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka kafir terhadap Tanda-tanda Allah maka Allah menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, sesungguhnya Allah MahakuatMaha keras dalam menghukum.  ذٰلِکَ بِاَنَّ  اللّٰہَ  لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا  نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ  --    Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya  Allah tidak   pernah  mengubah suatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum  hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri, dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui  (Al-Anfāl [8]:52-54). Lihat pula QS.13:13).

Memanjang dan Memendeknya “Bayangan” Kejayaan Islam

        Jadi, kembali kepada nubuatan kemunduran yang dialami umat Islam selama  1000 tahun setelah mengalami masa kejayaannya yang pertama selama 3 abad (QS.32:6) yang diisyaratkan dalam ayat: ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا   -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami  perlahan-lahan. (Al-Furqān [25]:47),  sepenuhnya adalah akibat dari ketidak-bersyukuran  yang dilakukan oleh umat Islam sendiri, bukan kehendak Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:
اَلَمۡ  تَرَ  اِلٰی رَبِّکَ کَیۡفَ مَدَّ  الظِّلَّ ۚ وَ لَوۡ شَآءَ لَجَعَلَہٗ  سَاکِنًا ۚ ثُمَّ جَعَلۡنَا الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ  دَلِیۡلًا ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat  bagaimana Rabb (Tuhan) engkau memanjangkan bayangan?  Dan  seandainya Dia menghendaki niscaya  Dia menjadikannya tetap, kemudian Kami menjadikan kedudukan matahari sebagai petunjuk atasnya.  ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا   -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami  perlahan-lahan. (Al-Furqān [25]:46-47).    
     Kalau kata  memanjangnya “bayangan” dalam ayat yang sebelumnya melambangkan kekuasaan dalam pengaruh, maka dalam ayat  ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا   -- “Kemudian Kami menariknya kepada Kami  perlahan-lahan,”  kata “menariknya” mengandung arti kemunduran dan kebobrokan yang melanda umat Islam secara berangsur-angsur selama 1000 tahun setelah masa kejayaan yang pertama selama 3 abad, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung.  (As-Sajdah [32]:6).
   Sebagaimana telah dijelaskan berulang kali, bahwa ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
      Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau saw.: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat). Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya.
        Jadi, ayat  یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ  -- “Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi”  Surah As-Sajdah ayat 6 ini identik dengan makna ayat Surah sebelumnya: اَلَمۡ  تَرَ  اِلٰی رَبِّکَ کَیۡفَ مَدَّ  الظِّلَّ ۚ وَ لَوۡ شَآءَ لَجَعَلَہٗ  سَاکِنًا ۚ ثُمَّ جَعَلۡنَا الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ  دَلِیۡلًا  --  Apakah engkau tidak melihat  bagaimana Rabb (Tuhan) engkau memanjangkan bayangan?  Dan  seandainya Dia menghendaki niscaya  Dia menjadikannya tetap, kemudian Kami menjadikan kedudukan matahari sebagai petunjuk atasnya”, yakni mengisyaratkan kepada  masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad.
        Sedangkan ayat  ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  --   “kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (QS.32:6)  identik dengan makna ayat:   ثُمَّ  قَبَضۡنٰہُ   اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا   -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami  perlahan-lahan. (Al-Furqān [25]:47), yaitu mengisyaratkan kepada proses masa kemunduran yang dialami umat Islam selama 1000 tahun setelah   3 abad masa kejayaannya yang pertama.
     Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw.  sehubungan dengan Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 diriwayatkan pernah bersabda bahwa “apabila iman  terbang ke Bintang Tsuraya maka seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir). Dengan kedatangan  Masih Mau’ud a.s.  dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotan  Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 30 Agustus 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar