بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 22
Pencabutan “Ruh” Al-Quran di Masa Kemunduran
Umat Islam Selama Seribu Tahun &
Munculnya Berbagai Aliran Kebatinan di Kalangan Umat Beragama
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai pengulangan keadaan ratqan (menggumpal) dalam alam keruhanian -- setelah terciptanya “langit baru dan bumi baru”
melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.14:49-53 -- kembali terjadi di Akhir Zaman ini, yang diawali setelah 3 abad
masa kejayaan umat Islam yang
pertama, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ
اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (As-Sajdah [31]:6).
Ayat ini menunjuk kepada
suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh
dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan
yang mantap selama 3 abad pertama
kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup,
kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Islam mulai mundur sesudah 3 abad
pertama masa keunggulan dan keme-nangan
yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran
dan kemerosotannya berlangsung dalam
masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000
tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ
یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu
hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
Keimanan Terbang ke Bintang Tsurayya
Dalam hadits lain – sehubungan dengan tafsir
Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 -- Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda bahwa iman akan
terbang ke bintang Tsuraya dan
seseorang dari keturunan Parsi akan
mengembalikannya ke bumi (Bukhari,
Kitab-ut-Tafsir Surah Al-Jumu’ah).
Dengan kedatangan Masih Mau’ud a.s. dalam abad ke-14 sesudah Hijrah (QS.62:3-5), laju kemerosotan Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku
(QS.61:10), firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ
رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ
دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ
الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli
tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau
semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian, yang
pada hakikatnya merupakan pengutusan
kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani di Akhir Zaman dari kalangan “ākharīn minhum”,firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang
rasul dari antara
mereka, yang membacakan kepada mereka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan
yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا
یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar (Al-Jumu’ah
[62]:3-5).
Penggunaan kata وَّ
(wa) sebagai wa ataf
mengisyaratkan pengulangan peritiwa yang
terjadi pada ayat selanjutnya, yakni: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- Dan
juga akan membangkitkannya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka”, bahwa keadaan jahiliyah
serta pengutusan Rasul Allah yang dikemukakan secara jelas dalam kalimat sebelumnya di masa Nabi Besar Muhammad saw. akan kembali
terjadi.
Dengan demikian keadaan jahiliyah di masa menjelang pengutusan Nabi Besar
Muhammad saw. identik dengan keadaan ratqan
(menggumpal – QS.21:31; QS.30:42-43), sedangkan pengutusan Nabi Besar Muhammad
saw. identik dengan peristiwa “the Big Bang” (Ledakan Besar) atau fataq (pemisahan gumpalan – QS.21:31).
Begitu
dalam ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا
یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- “Dan
juga akan membangkitkannya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka,” akan terjadi keadaan ratqan (menggumpal) berupa pengulangan
keadaan jahiliyah, dan
pengulangan “the Big Bang” (Ledakan Besar) dan fataq (pemisahan gumpalan).
Nubuatan Lenyapnya “Ruh” Al-Quran Setelah Umat Islam Mengalami Masa Kejayaan yang
Pertama
Jadi, itulah isyarat-isyarat dalam Al-Quran berkenaan terulangnya
keadaan ratqan (menggumpal) dan fataq
(pemisahan gumpalan) yang terjadi di kalangan umat Islam setelah mengalami masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad, demikian pula dalam firman-Nya berikut ini kepada Nabi
Besar Muhammad saw. mengenai isyarat pencabutan
(penarikan) kembali “ruh” Al-Quran:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ
عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ
اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ
اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا
قَلِیۡلًا ﴿﴾ وَ لَئِنۡ شِئۡنَا
لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ
اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا
وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا ﴿﴾ قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ
عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ
لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ ظَہِیۡرًا
﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, katakanlah: “Ruh telah diciptakan perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu
sama sekali tidak diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit.” وَ لَئِنۡ
شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا -- Dan jika Kami
benar-benar menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau kemudian engkau
tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ -- Kecuali karena
rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, اِنَّ فَضۡلَہٗ کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا -- sesungguhnya
karunia-Nya sangat besar kepada engkau.
قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ
عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ -- Katakanlah: “Jika ins
(manusia) dan jin benar-benar berhimpun untuk mendatangkan
yang semisal Al-Quran ini, لَا
یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ ظَہِیۡرًا -- mereka
tidak akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini, walaupun
sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:86-89).
Dalam masa kemunduran dan kejatuhan ruhani
mereka, nampaknya orang-orang Yahudi
asyik berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan ilmu klenik (occult), seperti halnya banyak ahli kebatinan modern, para pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi
Hindu.
Nampaknya di masa Nabi Besar Muhammad saw. pun beberapa orang Yahudi di Medinah telah menempuh cara-cara kebiasaan semacam itu. Itulah
sebabnya mengapa ketika orang-orang
musyrik Mekkah mencari bantuan orang-orang
Yahudi untuk membungkam Nabi
Besar Muhammad saw., mereka memberi saran supaya orang-orang musyrik Mekkah itu menanyakan
kepada Nabi Besar Muhammad saw. hakikat
ruh manusia.
Dalam ayat yang sedang dibahas ini Al-Quran menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan bahwa ruh
memperoleh daya kekuatannya dari
perintah Ilahi, dan apa pun yang menurut kepercayaan
orang dapat diperoleh dengan perantaraan apa yang dikatakan latihan-latihan batin dan ilmu sihir, adalah semata-mata tipuan dan omong-kosong belaka. Itulah makna firman-Nya:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ
ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ
مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ
اِلَّا قَلِیۡلًا
“Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, katakanlah: “Ruh telah diciptakan perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu
sama sekali tidak diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit” (QS.17:86).
Maraknya Kemunculan Para Praktisi Kebatinan di Masa Kemunduran Islam
Menurut riwayat
pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat ruh
manusia pertama-tama diajukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. di kota Mekkah oleh orang-orang Quraisy
dan kemudian menurut ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. — oleh orang-orang Yahudi di Medinah.
Di sini ruh
disebut sesuatu yang diciptakan atas perintah
langsung dari Allah Swt.. Menurut
Al-Quran semua penciptaan terdiri dari dua jenis:
(1) Kejadian permulaan yang dilaksanakan tanpa
mempergunakan zat atau benda yang telah diciptakan sebelumnya.
(2) Kejadian selanjutnya yang
dilaksanakan dengan mempergunakan sarana dan benda yang telah diciptakan
sebelumnya. Kejadian macam pertama termasuk jenis amr (arti harfiahnya
ialah perintah), yang untuk itu lihat QS.2:118, dan yang terakhir disebut khalq
(arti harfiahnya ialah menciptakan). Ruh
manusia termasuk jenis penciptaan pertama. Kata ruh itu berarti wahyu Ilahi
(Lexicon Lane). Letaknya kata
ini di sini agaknya mendukung arti demikian.
Ayat وَ لَئِنۡ
شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا -- Dan jika Kami
benar-benar menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau kemudian engkau
tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. (QS.17:87) –
sesuai dengan firman-Nya dalam QS.32:6 -- nampaknya mengandung nubuatan bahwa akan datang suatu saat ketika ilmu yakni ruh Al-Quran
akan lenyap dari bumi.
Isyarat adalam ayat tersebut
sesuai dengan firman-Nya yang telah dibahas sebelum ini:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ
اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (As-Sajdah [31]:6).
Nubuatan Nabi Besar Muammad saw. serupa itu telah diriwayatkan oleh Mardawaih, Baihaqi, dan Ibn Majah,
ketika ruh dan jiwa ajaran Al-Quran akan
hilang lenyap dari bumi, dan semua orang
yang dikenal sebagai ahli-ahli mistik
dan para sufi yang mengakui memiliki kekuatan batin istimewa — seperti pula
diakui oleh segolongan orang-orang Yahudi
dahulu kala yang sifatnya serupa dengan mereka — tidak akan berhasil
mengembalikan jiwa ajaran Al-Quran dengan usaha mereka bersama-sama, sebagaimana diisuaratkan dalam ayat selanjutnya, firman-Nya:
قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ
الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ
بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ
ظَہِیۡرًا
Katakanlah:
“Jika ins (manusia) dan jin benar-benar berhimpun untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini,
mereka tidak akan sanggup mendatangkan
yang sama seperti ini, walaupun
sebagian mereka membantu sebagian
yang lain.” (Bani Israil [17]:89).
Tantangan ini pertama-tama diajukan kepada mereka yang berkecimpung
dalam kebiasaan-kebiasaan klenik,
supaya mereka meminta pertolongan ruh-ruh
gaib, yang darinya orang-orang ahli
kebatinan itu — menurut pengakuannya
sendiri — menerima ilmu ruhani.
Kiasan Matahari dan Bayangan
Benda
Tantangan Allah Swt. tersebut berlaku pula untuk semua orang yang menolak Al-Quran
bersumber pada Tuhan (Allah Swt.) dan
untuk sepanjang masa, sebab sebagaimana halnya yang menurunkan wahyu Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. di masa awal kejayaan Islam adalah Allah Swt., begitu juga yang akan
mengembalikan “ruh” Al-Quran setelah
masa kemunduran umat Islam selama 1000
tahun pun (QS.32:6) adalah Allah Swt.
pula, yakni melalui pengutusan Rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan,
sehingga janji Allah Swt.
mengenai kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini akan terwujud (QS.61:10; QS.62:3-5),
sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ
اِلٰی رَبِّکَ کَیۡفَ مَدَّ
الظِّلَّ ۚ وَ لَوۡ شَآءَ لَجَعَلَہٗ
سَاکِنًا ۚ ثُمَّ جَعَلۡنَا الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ دَلِیۡلًا ﴿ۙ﴾ ثُمَّ
قَبَضۡنٰہُ اِلَیۡنَا قَبۡضًا
یَّسِیۡرًا ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat bagaimana Rabb (Tuhan) engkau memanjangkan
bayangan? Dan seandainya
Dia menghendaki niscaya Dia menjadikannya tetap, kemudian Kami menjadikan kedudukan matahari
sebagai petunjuk atasnya. ثُمَّ
قَبَضۡنٰہُ اِلَیۡنَا قَبۡضًا
یَّسِیۡرًا -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami perlahan-lahan. (Al-Furqān
[25]:46-47).
Ayat 46 ini mengisyaratkan dengan bahasa kiasan kepada kebangkitan, kemajuan, dan kekuasaan
Islam; dan melukiskan hakikat ini dengan menarik perhatian manusia kepada
sebuah gejala alam. Yakni jika matahari
berada di belakang sebuah benda maka bayangan benda tersebut akan memanjang.
Demikian pula halnya, bila Allah Swt.
berada di belakang suatu kaum, maka kekuasaan serta pengaruh
mereka akan terus menerus meningkat.
Ayat 46 mengandung arti bahwa Allah Swt. berada di belakang Islam dan karena itu bayangannya
akan terus mengembang dan meluas, hingga akan mencapai ujung-ujung dunia, dan bangsa-bangsa di dunia akan mencari dan
menemukan ketenteraman dan kesentausaan di bawah naungannya.
“Matahari” dalam ayat ini dapat
pula melambangkan Islam atau Nabi Besar Muhammad saw.. Kedudukan matahari
menentukan besarnya (panjangnya) bayangan, itulah makna ayat: ثُمَّ جَعَلۡنَا
الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ دَلِیۡلًا -- “kemudian Kami menjadikan kedudukan matahari
sebagai petunjuk atasnya.”
Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran
kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya
Makna ayat sebelumnya: وَ لَوۡ
شَآءَ لَجَعَلَہٗ سَاکِنًا -- “Dan seandainya
Dia menghendaki niscaya Dia menjadikannya tetap,” bahwa Allah
Swt. memang berkuasa membuat kejayaaan Islam umat Islam yang pertama tersebut bertahan lama, tetapi karena dalam
kenyataannya di kalangan umat Islam -- terutama setelah masa para Khulafatur- Rasyiddin -- telah terjadi berbagai ketidak-bersyukuran atau kedurhakaan maka
sesuai Sunnah-Nya Allah Swt. pun merespon ketidak-bersyukuran mereka itu dengan berbagai akibat
buruk yang telah ditetapkan-Nya pula bagi para pelakunya, sebagai ucapan Nabi Musa a.s. berikut ini
kepada Bani Israil, firman-Nya:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکُمۡ
لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ
وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ
عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) kamu
mengumumkan: b”Jika
kamu benar-benar bersyukur niscaya akan
Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, وَ لَئِنۡ
کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ -- tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat keras.”
(Ibrahim
[14]:8).
Firman-Nya
lagi:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ
اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah benar-benar Maha Menghargai, Maha
Mengetahui (An-Nisā [4]:148).
Jadi,
manusia sendirilah yang berperan memunculkan (mendatangkan) berbagai akibat
buruk (takdir buruk) sebagai buah (hasil) ketidak-bersyukuran yang mereka
lakukan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, firman-Nya:
ذٰلِکَ بِمَا
قَدَّمَتۡ اَیۡدِیۡکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ
لَیۡسَ بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿ۙ﴾ کَدَاۡبِ اٰلِ
فِرۡعَوۡنَ ۙ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ بِذُنُوۡبِہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
قَوِیٌّ شَدِیۡدُ
الۡعِقَابِ ﴿﴾ ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ
حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ۙ وَ اَنَّ اللّٰہَ
سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Azab itu disebabkan oleh apa yang telah didahulukan oleh tangan
kamu dan Allah sesungguhnya sekali-kali tidak
zalim terhadap hamba-hamba-Nya. Seperti keadaan kaum
Fir’aun dan orang-orang sebelum
mereka. Mereka kafir terhadap
Tanda-tanda Allah maka Allah
menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha keras dalam menghukum. ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ -- Yang
demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah tidak pernah
mengubah suatu nikmat yang
telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum
hingga mereka mengubah keadaan diri
mereka sendiri, dan bahwa sesungguhnya
Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui (Al-Anfāl [8]:52-54). Lihat pula
QS.13:13).
Memanjang dan Memendeknya “Bayangan” Kejayaan Islam
Jadi,
kembali kepada nubuatan kemunduran yang dialami umat Islam selama 1000
tahun setelah mengalami masa kejayaannya
yang pertama selama 3 abad (QS.32:6)
yang diisyaratkan dalam ayat: ثُمَّ
قَبَضۡنٰہُ اِلَیۡنَا قَبۡضًا
یَّسِیۡرًا -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami
perlahan-lahan. (Al-Furqān [25]:47), sepenuhnya adalah akibat dari ketidak-bersyukuran yang dilakukan oleh umat Islam sendiri, bukan kehendak
Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ
اِلٰی رَبِّکَ کَیۡفَ مَدَّ
الظِّلَّ ۚ وَ لَوۡ شَآءَ لَجَعَلَہٗ
سَاکِنًا ۚ ثُمَّ جَعَلۡنَا الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ دَلِیۡلًا ﴿ۙ﴾ ثُمَّ
قَبَضۡنٰہُ اِلَیۡنَا قَبۡضًا
یَّسِیۡرًا ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat bagaimana Rabb (Tuhan) engkau memanjangkan
bayangan? Dan seandainya
Dia menghendaki niscaya Dia menjadikannya tetap, kemudian Kami menjadikan kedudukan matahari
sebagai petunjuk atasnya. ثُمَّ
قَبَضۡنٰہُ اِلَیۡنَا قَبۡضًا
یَّسِیۡرًا -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami perlahan-lahan. (Al-Furqān
[25]:46-47).
Kalau kata memanjangnya “bayangan” dalam ayat
yang sebelumnya melambangkan kekuasaan
dalam pengaruh, maka dalam ayat ثُمَّ
قَبَضۡنٰہُ اِلَیۡنَا قَبۡضًا
یَّسِیۡرًا -- “Kemudian Kami menariknya kepada Kami perlahan-lahan,” kata “menariknya” mengandung arti
kemunduran dan kebobrokan yang melanda umat
Islam secara berangsur-angsur selama 1000 tahun setelah masa kejayaan yang pertama selama 3 abad, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ
اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya
dalam satu hari, yang hitungan
lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6).
Sebagaimana telah dijelaskan berulang kali,
bahwa ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba
sangat hebat, yang ditakdirkan akan
menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu
masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau saw.: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat). Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan
dan kemenangan yang tiada
henti-hentinya.
Jadi, ayat یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ
مِنَ السَّمَآءِ اِلَی الۡاَرۡضِ -- “Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi” Surah
As-Sajdah ayat 6 ini identik
dengan makna ayat Surah sebelumnya: اَلَمۡ تَرَ
اِلٰی رَبِّکَ کَیۡفَ مَدَّ
الظِّلَّ ۚ وَ لَوۡ شَآءَ لَجَعَلَہٗ
سَاکِنًا ۚ ثُمَّ جَعَلۡنَا الشَّمۡسَ عَلَیۡہِ دَلِیۡلًا -- Apakah
engkau tidak melihat bagaimana
Rabb (Tuhan) engkau memanjangkan bayangan? Dan seandainya Dia menghendaki niscaya Dia
menjadikannya tetap, kemudian Kami
menjadikan kedudukan matahari sebagai petunjuk atasnya”, yakni
mengisyaratkan kepada masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad.
Sedangkan ayat ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- “kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya
dalam satu hari, yang hitungan
lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung” (QS.32:6) identik dengan makna ayat: ثُمَّ قَبَضۡنٰہُ
اِلَیۡنَا قَبۡضًا یَّسِیۡرًا -- Kemudian Kami menariknya kepada Kami
perlahan-lahan. (Al-Furqān [25]:47), yaitu
mengisyaratkan kepada proses masa kemunduran
yang dialami umat Islam selama 1000 tahun setelah 3 abad
masa kejayaannya yang pertama.
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad
saw. sehubungan dengan Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 diriwayatkan
pernah bersabda bahwa “apabila iman terbang
ke Bintang Tsuraya maka seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke
bumi (Bukhari,
Kitab-ut-Tafsir). Dengan kedatangan Masih
Mau’ud a.s. dalam abad
ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotan Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 30 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar