Selasa, 03 November 2015

Keajaiban Sifat-sifat Internal Surah Al-Fatihah & Nubuatan BIble Mengenai Surah Al-Fatihah dan "Pemeteraiannya" Sementara Waktu




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Al-Fatihah


Bab 82  (Tammat)

   Keajaiban Sifat-sifat Internal Surah Al-Fatihah  & Nubuatan Bible Mengenai Surah Al-Fatihah dan “Pemeteraiannya” Sementara  Waktu

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir  Bab  sebelumnya telah dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai berbagai   hikmah  dalam   Surah Al-Fatihah, yang sebelumnya  tertutup rapat  (disegel) bagi para penafsir besar Al-Quran sebelum beliau, sebagaimana nubuatan dalam Bible.
 Seperti diriwayatkan oleh banyak ahli ilmu hadits, seluruh Surah Al-Fatihah  diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. di Mekkah dan sejak awal menjadi bagian shalat orang-orang Islam.  Jadi,  pendapat yang mengatakan bahwa perintah shalat fardhu  bagi umat Islam adalah ketika terjadinya peristiwa Isra  Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.17:2) yang diwahyukan  pada tahun 11 atau 12 kenabian,  atau peristiwa mikraj (QS.53:1-19) yang diwahyukan sekitar tahun ke 5 atau ke 6 kenabian, pendapat tersebut tidak benar, sebab sejak awal kenabian pun Nabi Besar Muhammad saw. dan  para sahabat beliau saw. telah melaksanakan shalat (QS.96:1-11).
Surah  Al-Fatihah  disebut dalam ayat Al-Quran:  وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنٰکَ سَبۡعًا مِّنَ الۡمَثَانِیۡ وَ الۡقُرۡاٰنَ  الۡعَظِیۡمَ  --  Dan  sungguh   Kami benar-benar telah memberikan kepada engkau tujuh ayat yang selalu diulang-ulang dan Al-Quran yang agung” (QS.15:88). Ayat itu menurut pengakuan para ahli  telah diwahyukan di Mekkah. Menurut beberapa riwayat Surah ini diwahyukan pula untuk kedua kalinya di Medinah, tetapi waktu Surah ini untuk pertama kali turun adalah pada masa permulaan sekali kenabian beliau saw..

Nama-nama Surah dan Artinya

       Nama terkenal untuk Surah pendek ini ialah Fātihat-ul-Kitāb (Surah Pembukaan Al-Kitab), diriwayatkan bersumber pada beberapa ahli ilmu hadits yang dapat dipercaya (Tirmidzi dan Muslim). Kemudian nama itu disingkat menjadi Surah Al-Fātihah atau Al-Fātihah saja. Surah ini dikenal dengan beberapa nama, dan 10 nama berikut ini lebih sah, yaitu:  (1) Al-Fātihah, (2) Al-Shalāt, (3) Al-Hamd, (4) Umm-ul-Quran, (5) Alquran-ul-’Azhim, (6) Al-Sab’al-Matsani, (7) Umm-ul Kitāb, (8) Al-Syifā, (9) Al-Ruqyah, dan (10)  Al-Kanz. Nama-nama ini menerangkan betapa luasnya isi Surah ini:
      Fātihat-ul-Kitāb (Surah Pembukaan Al-Kitab) berarti bahwa  karena Surah itu telah diletakkan pada permulaan  maka ia merupakan kunci pembuka seluruh pokok masalah Al-Quran.
     Al-Shalāt (Shalat) berarti bahwa Al-Fātihah merupakan doa yang lengkap lagi sempurna dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari shalat Islam yang sudah melembaga.
    Al-Hamd (Puji-pujian) berarti bahwa Surah ini menjelaskan tujuan agung penciptaan manusia dan mengajarkan bahwa hubungan  Allah Swt.   dengan manusia adalah hubungan berdasarkan kemurahan (Rahmāniyat) dan kasih-sayang (Rahīmiyat).
      Umm-ul-Qur’an (Ibu Al-Quran) berarti bahwa Surah ini merupakan intisari seluruh Al-Quran, yang dengan ringkas mengemukakan semua pengetahuan yang menyangkut perkembangan akhlak dan  ruhani  manusia.
       Alquran-ul-’Azhim (Al-Quran Agung) berarti bahwa meski pun Surah ini terkenal sebagai Umm-ul-Kitāb dan Umm-ul-Qur’an namun tetap merupakan bagian Kitab Suci itu dan bukan seperti anggapan salah sementara orang bahwa ia terpisah darinya.
       Al-Sab’ul Matsani (Tujuh ayat yang seringkali diulang) berarti ketujuh ayat pendek Surah ini sungguh-sungguh memenuhi segala keperluan ruhani manusia. Nama itu berarti pula bahwa pembacaan Surah ini harus diulang dalam tiap-tiap rakaat shalat.
       Umm-ul-Kitab (Ibu Kitab) berarti bahwa doa dalam Surah ini  menjadi sebab diwahyukannya ajaran Al-Quran.
Al-Syifā (Penyembuh) berarti bahwa Surah ini memberi pengobatan terhadap segala keraguan dan syak yang biasa timbul dalam hati manusia.
Al-Ruqyah (Jimat atau Mantera) berarti bahwa Surah ini bukan hanya doa untuk menghindarkan penyakit tetapi juga memberi perlindungan terhadap syaitan dan pengikut-pengikutnya, dan menguatkan hati manusia untuk melawan mereka.
Al-Kanz (Khazanah) mengandung arti bahwa Surah ini suatu khazanah ilmu yang tidak habis-habisnya.

Al-Fātihah Dinubuatkan dalam Perjanjian Baru

      Tetapi nama yang terkenal Surah ini adalah Al-Fātihah. Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa nama itu juga tercantum dalam nubuatan Perjanjian Baru:
     Maka aku tampak seorang malaikat lain yang gagah, turun dari langit ......... dan di tangannya ada sebuah Kitab Kecil yang terbuka, maka kaki kanannya berpijak di laut, dan kaki kiri di darat” (Wahyu 10:1-2).
Kata dalam bahasa Ibrani untuk “terbuka”  adalah Fatoah, yang sama dengan kata Arab Fatihah. Kemudian lagi:
“ ...... dan tatkala ia (malaikat) berteriak, ketujuh guruh pun membunyikan                      bunyi masing-masing” (Wahyu 10:3).
“Tujuh guruh” mengisyaratkan kepada tujuh ayat Surah ini.
      Para sarjana Kristen mengatakan bahwa nubuatan itu mengisyaratkan kepada kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya. Hal itu telah dibuktikan oleh kenyataan-kenyataan yang sebenarnya. Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s.  yang dalam wujudnya nubuatan tentang kedatangan Nabi Isa a.s. kedua kalinya  -- yakni   Masih Mau’ud a.s.   --      telah menjadi sempurna, menulis tafsir mengenai Surah Al-Fatihah  ini dan menunjukkan bukti-bukti serta dalil-dalil mengenai kebenaran pendakwaan beliau  dari isi Surah ini, dan beliau senantiasa memakainya sebagai doa yang baku.
       Beliau menyimpulkan dari tujuh ayat yang pendek-pendek ini  ilmu-ilmu makrifat Ilahi dan kebenaran-kebenaran kekal abadi yang tidak diketahui sebelumnya. Seolah-olah Surah Al-Fatihah ini sebuah Kitab yang dimeterai (disegel) hingga khazanah itu akhirnya dibukakan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s.  Dengan demikian sempurnalah nubuatan yang terkandung dalam Wahyu 10:4, yakni:
      Tatkala ketujuh guruh sudah berbunyi itu, sedang aku hendak menyuratkan, lalu aku dengar suatu suara dari langit, katanya: "Meteraikanlah barang apa yang ketujuh guruh itu sudah mengatakan dan jangan dituliskan.”
Nubuatan itu menunjuk kepada kenyataan bahwa Fatoah atau Al-Fātihah itu untuk sementara waktu akan tetap merupakan sebuah “Kitab tertutup”, tetapi suatu waktu akan tiba ketika khazanah ilmu ruhani yang dikandungnya akan dibukakan. Hal itu telah dilaksanakan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s. dalam rangka mewujudkan kejayaan Islam  yang kedua kali di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai  (Ash-Shaf [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.).  sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam  yang kedua kali  di Akhir Zaman ini di atas semua agama akan menjadi kepastian, bukan dengan cara-cara paksaan dan kekerasan,  melainkan dengan dalil-dalil yang tak terbantahkan  disertai akhlak Islami yang terpuji sebagai “umat terbaik” yang dibangkitkan Allah Swt. untuk kemanfaatan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).

Karakteristik Ruhani Surah Al-Fatihah
     
      Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai karakteristik ruhani Surah Al-Fatihah:
       “Salah satu karakteristik keruhanian   Surah Al-Fatihah adalah dimana jika seseorang melafazkannya dalam shalat dengan penuh perhatian dan menegakkan ajarannya di dalam kalbunya sendiri serta beriman atas kebenarannya maka kalbunya akan mengalami pencerahan, dan kemampuan berfikir yang bersangkutan akan berkembang serta kegelapan manusiawi akan tersingkirkan sehingga ia mulai menikmati pengalaman keberkatan dari Sumber segala rahmat [Swt.].
      Ia akan merasa dikitari (diliputi)  nur keridhoan Ilahi dan maju ke tahapan terhormat dimana ia bisa berbicara dengan Tuhan-nya melalui kasyaf dan wahyu yang benar. Ia akan memasuki lingkungan mereka yang dekat kepada Tuhan dimana ia akan menikmati keajaiban ilham dan pengabulan doa, menerima bantuan Ilahi serta dibukakannya hal-hal yang tersembunyi, suatu hal yang tidak terdapat pada manusia awam.

Imbauan Kepada Para Pencari Kebenaran

     Bagi para lawan kami yang menyangkal hal ini, sesungguhnya bukti untuk itu ada dalam buku ini. Hamba yang lemah ini bersedia memuaskan para pencari kebenaran, tidak saja mereka yang melawan kami tetapi juga dari antara mereka yang hanya secara nominal saja meyakini kami, yaitu orang-orang yang hanya Muslim di kulitnya saja namun keimanannya terselaput kabut dan dirinya tanpa kehidupan ruhani.
   Dalam masa kegelapan seperti sekarang ini mereka tidak meyakini tanda-tanda samawi dan menganggap wahyu sebagai suatu hal yang mustahil yang dikatakan sebagai ilusi atau imajinasi. Mereka memiliki konsep kemajuan manusia yang sempit yang terbatas hanya pada pandangan permasalahan intelektual dan perkiraan saja. Konsep mereka tentang Allah Yang Maha Kuasa adalah sebagai Yujud yang lemah tak berdaya.
      Hamba yang lemah ini mengajukan dengan segala hormat bahwa jika mereka ini menyangkal efektivitas Al-Quran dan tetap berpegang pada kebodohan mereka, sepatutnyalah mereka itu menanggapi kesempatan yang diberikan oleh hamba yang lemah ini untuk memuaskan mereka berdasarkan pengalamannya sendiri.
   Sepatutnyalah para pencari kebenaran itu datang kepadaku dan memperhatikan dengan mata kepala sendiri karakteristik   Firman Allah yang dikemukakan di atas. Mereka akan bisa meninggalkan kegelapan dan memasuki pecerahan Nur yang benar.
       Sampai sekarang hamba yang lemah ini masih hidup, namun yang namanya kehidupan adalah suatu hal yang tidak pasti. Karena itu sebaiknya setelah mendengar pemberitahuan ini, segeralah mencari kebenaran dan hilangkan kedustaan agar jika pernyataanku ini palsu adanya maka ada alasan untuk menyangkalnya. Tetapi jika pernyataanku itu memang benar maka sepantasnya para lawan meninggalkan jalan fikiran mereka untuk segera memeluk agama Islam supaya terhindar dari dipermalukan dan dihinakan di dunia ini serta siksa dan hukuman di akhirat.
    Karena itu perhatikanlah, wahai saudara-saudaraku terkasih, para filosof, pandit-pandit, missionaris Kristen, kaum Arya, aliran kebatinan dan kaum Brahmo Samaj, aku memaklumkan secara terbuka bahwa jika ada yang meragukan karakteristik   Al-Quran sebagaimana yang telah aku kemukakan di atas dan mempunyai keraguan untuk bisa menerimanya, marilah datang kepadaku segera dimana dengan hidup dekat bersamaku untuk sementara waktu secara tulus dan tekun, kalian akan menyaksikan kebenaran pernyataanku dengan mata kalian sendiri.   Jangan sampai jika aku sudah meninggalkan dunia lalu ada yang mengatakan bahwa ia tidak pernah diundang secara terbuka dan tidak mengetahui mengenai pernyataanku itu sehingga tidak sempat melihat pembuktiannya.
      Jadi, wahai saudara-saudaraku dan para pencari kebenaran, perhatikanlah bahwa aku mengungkapkan hal ini secara terbuka dan dengan beriman kepada Allah Swt.  Yang Nur-Nya aku melihatnya siang dan malam, aku memikul  tanggungjawab bahwa bila kalian memang mencari kebenaran dengan ketulusan hati dan mau tinggal bersamaku untuk beberapa waktu dengan niat baik, akan nyata kepada kalian bahwa nilai-nilai keruhanian yang aku kemukakan di atas memang benar-benar ada di dalam Surah Al-Fatihah dan dalam Kitab Suci Al-Quran.
   Betapa berberkatnya orang yang mau mengosongkan hatinya dari kefanatikan dan permusuhan serta memiliki hasrat untuk memeluk agama Islam jika ia mau memenuhi undanganku ini guna mencapai apa yang dimaksud. Betapa malangnya orang yang tidak menghiraukan undangan terbuka ini sehingga menjadikan dirinya sebagai sasaran kutuk dan kemurkaan Allah Swt.. Sesungguhnya maut (kematian) itu sudah dekat dan akhir dari hidup ini sudah di ambang pintu. (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 626-635, London, 1984).

Keprihatinan  Luar Biasa Nabi Besar Muhammad Saw. dan Masih Mau’ud a.s.

      Kepedulian serta keprihatinan  yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. yang luar biasa tersebut pada hakikatnya merupakan pengulangan kembali  yang pernah diperagakan oleh Junjungan beliau sebelumnya, yakni Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ عَلَیۡہِ  تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾٪
Sungguh benar-benar  telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antaramu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan bagi kamu dan  terhadap orang-orang beriman  ia sangat berbelas kasih lagi penyayang.  Tetapi jika  mereka berpaling  maka katakanlah: “Cukuplah   Allah bagiku, tidak ada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya-lah aku bertawakkal, dan Dia-lah Pemilik 'Arasy yang agung  (At-Taubah [9]:128-129).
   Ayat  128  boleh dikenakan kepada orang-orang beriman  maupun kepada orang-orang kafir, tetapi terutama kepada orang-orang beriman, bagian permulaannya mengenai orang-orang kafir dan bagian terakhir mengenai orang-orang beriman.  Kepada orang-orang kafir nampaknya ayat ini mengatakan: “Rasulullah saw.  merasa sedih melihat kamu mendapat kesusahan, yaitu sekalipun kamu mendatangkan kepadanya segala macam keaniayaan dan kesusahan, namun hatinya begitu sarat dengan rasa kasih-sayang kepada umat manusia, sehingga tidak ada tindakan yang datang dari pihak kamu dapat mem-buatnya menjadi keras hati terhadap kamu dan membuat ia menginginkan keburukan bagimu. Ia begitu penuh kasih-sayang dan belas kasihan terhadap kamu, sehingga ia tidak tega hati melihat kamu menyimpang dari jalan kebenaran hingga mendatangkan kesusahan kepadamu.”
       Kepada orang-orang beriman  ayat ini berkata: “Rasulullah saw. penuh dengan kecintaan, kasih-sayang, dan rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan gembira ikut dengan kamu dalam menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi pula, seperti seorang ayah yang penuh dengan kecintaan ia memperlakukan kamu, dengan sangat murah hati dan kasih-sayang.” 
      Sabda Masih Mau’ud a.s. sebelumnya: “….Karena itu perhatikanlah, wahai saudara-saudaraku terkasih, para filosof, pandit-pandit, missionaris Kristen, kaum Arya, aliran kebatinan dan kaum Brahmo Samaj, aku memaklumkan secara terbuka bahwa jika ada yang meragukan karakteristik   Al-Quran sebagaimana yang telah aku kemukakan di atas dan mempunyai keraguan untuk bisa menerimanya, marilah datang kepadaku segera dimana dengan hidup dekat bersamaku untuk sementara waktu secara tulus dan tekun, kalian akan menyaksikan kebenaran pernyataanku dengan mata kalian sendiri.   Jangan sampai jika aku sudah meninggalkan dunia lalu ada yang mengatakan bahwa ia tidak pernah diundang secara terbuka dan tidak mengetahui mengenai pernyataanku itu sehingga tidak sempat melihat pembuktiannya.”

Kesedihan Rasul Akhir Zaman

       Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai kesedihan Rasul Akhir Zaman berikut ini mengenai sikap buruk kaum beliau yang  mendustakan kebenaran pendakwaannya:
 اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾  وَ  یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی  یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾  یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا ﴿﴾  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾

Kerajaan yang haq pada hari itu  milik Yang Maha Pemurah, dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras.   Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya  یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا -- lalu berkata: ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu.  یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا  --    “Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا  -- Sungguh  ia benar-benar te-lah melalaikanku dari mengingat ke-pada Allah sesudah ia datang kepadaku.” Dan syaitan selalu menelan-tarkan manusia.  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا --  Dan  Rasul itu berkata: “Ya  Rabb-ku (Tuhan-ku,) sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.” وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا --    Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah  Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong.  (Al-Furqān [25]:27-32).
       Makna ayat 27 dapat mengisyaratkan kepada Hari Pertempuran Badar sungguh-sungguh merupakan suatu hari yang penuh dengan kesedihan bagi orang-orang kafir Quraisy Mekkah pimpinan Abu Jahal atas kekalahan tragis dan penuh kehinaan yang menimpa mereka.
     Pada hari itulah dasar-dasar Islam diletakkan dengan teguhnya bagi tegaknya “Kerajaan  Ilahi”  di masa itu, dan kaum Quraisy Mekkah telah menyadari kehinaan dan kekalahan pahit yang mereka derita pada  Yaumul-Furqān” (Hari Pembeda – QS.8:42) tersebut, yakni “Hari Pembeda” antara yang haq (kebenaran) dan yang bathil (kepalsuan).
      Kemudian makna ayat  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا  -- “Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.” dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang.
       Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini. Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.   yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang  di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan itu.

Al-Fatihah Sebagai Rangkuman Tujuan Al-Quran

   Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai ringkasan  hikmah yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah:
    Surah Al-Fatihah secara ringkas merangkum keseluruhan isi dan tujuan dari Kitab Suci Al-Quran. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنٰکَ سَبۡعًا مِّنَ الۡمَثَانِیۡ وَ الۡقُرۡاٰنَ  الۡعَظِیۡمَ
Sesungguhnya telah Kami berikan kepada engkau tujuh ayat ang selalu diulang-ulang dan Al-Quran yang agung’ (S.15 Al-Hijr:88).
     Berarti ketujuh ayat dari Surah Al-Fatihah secara ringkas telah mencakup seluruh maksud Al-Quran, sedangkan rincian detil tujuan-tujuan agama dijelaskan dalam surah-surah lainnya. Karena itulah surah ini dianggap sebagai Ibu Kitab (Ummul Kitab) dan Surah yang Komprehensif (Al-Kanz).
     Disebut sebagai Ummul Kitab karena semua tujuan yang dipaparkan dalam Al-Quran bisa diintisarikan daripadanya dan disebut sebagai Surah yang Komprehensif karena secara ringkas mencakup semua bentuk ajaran yang terdapat di dalam Al-Quran.    Berdasarkan alasan inilah maka Hazrat Rasulullah saw. menyatakan bahwa mereka yang melafazkan Surah Al-Fatihah sama dengan membaca Al-Quran karena Surah tersebut merupakan cermin yang memantulkan isi daripada Al-Quran.
    Sebagai contoh, salah satu tujuan Al-Quran adalah mengemukakan semua puji-pujian sempurna tentang Allah yang Maha Agung dan menyatakan secara jelas kesempurnaan yang dimiliki-Nya. Hal ini secara singkat dikemukakan Surah Al-Fatihah di ayat:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ
Segala puji bagi Allah
yang berarti bahwa semua bentuk puji-pujian yang sempurna adalah bagi Allah Yang merangkum dalam Wujud-Nya semua bentuk keluhuran dimana sepatutnyalah Dia memperoleh segala jenis persembahan.
     Tujuan kedua dari  Al-Quran adalah menonjolkan Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta dan Maha Perancang alam semesta yang mendzahirkan awal dari alam semesta dimana terangkum di dalamnya pengertian bahwa semua yang ada di dalamnya merupakan hasil ciptaan-Nya. Hal ini secara ringkas dinyatakan dalam bagian dari ayat:   رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  --  ‘Rabb (Tuhan) semesta alam.’
     Tujuan ketiga dari Al-Quran adalah menegaskan tentang rahmat Tuhan yang tidak perlu diminta terlebih dahulu yang disebut juga sebagai rahmat yang bersifat umum. Hal ini termaktub dalam kata   الرَّحۡمٰنِ   --    ‘Ar-Rahmān (maha Pemurah)’
       Tujuan keempat ialah mencanangkan berkat dari Allah Swt.. yang diperoleh karena upaya permohonan dan kekhusyukan seseorang. Hal itu terangkum dalam kata:    الرَّحِیۡمِ  --      ‘Ar-Rahīm (Maha Penyayang).’
    Tujuan kelima adalah mengingatkan manusia akan adanya kehidupan setelah di dunia ini yaitu kehidupan di akhirat yang dirangkum dalam ayat:   مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ    --       Yang mempunyai Hari Pembalasan.’
        Tujuan Al-Quran yang keenam adalah untuk mengemukakan ketulusan batin, peribadatan dan pensucian kalbu dari segala hal lainnya kecuali Allah semata dan sebagai obat penawar bagi penyakit keruhanian, reformasi nilai-nilai akhlak dan penegakkan Ketauhidan Ilahi dalam peribadatan. Semua ini termaktub dalam ayat:  اِیَّاکَ نَعۡبُدُ  --    Hanya Engkau-lah yang kami sembah.’
    Tujuan yang ketujuh adalah menegaskan Allah Swt.. sebagai satu-satunya Sumber dari semua tindakan, semua kekuatan dan pengasihan, semua pertolongan dan keteguhan, kepatuhan dan kebebasan dari dosa, pencapaian segala sarana untuk berbuat baik, perbaikan kehidupan di dunia dan di akhirat serta kebutuhan akan pertolongan-Nya dalam segala hal. Tujuan ini diringkas dalam pernyataan:   اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ وَ  -- ‘Dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.’
      Tujuan kedelapan dari Al-Quran adalah mengemukakan mutiara hikmah dari jalan yang lurus dan perlunya jalan itu dicari melalui doa dan shalat. Hal tersebut diungkapkan dalam: اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ    --  Tuntunlah kami kepada jalan yang lurus.’
     Tujuan kesembilan adalah mengemukakan tentang jalan dan cara dari mereka yang telah menjadi penerima berkat dan karunia Ilahi, agar kalbu para pencari kebenaran memperoleh ketenteraman karenanya. Tujuan itu dirangkum dalam ayat:  صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ  --  Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.’
    Tujuan kesepuluh dari Al-Quran ialah menegaskan adanya orang-orang yang karena akhlak dan akidahnya telah menjadikan Tuhan tidak berkenan kepada mereka yaitu orang-orang yang tersesat mencari-cari akidah palsu atau bid’ah dengan maksud agar para pencari kebenaran berhati-hati terhadap mereka. Hal ini termaktub dalam ayat: لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ   وَ  -- ‘Bukan jalan mereka yang kemudian dimurkai dan bukan pula yang kemudian sesat.’
     Inilah sepuluh tujuan yang menjadi inti ajaran Kitab Suci Al-Quran yang menjadi akar dari segala kebenaran. Semua itu dirangkum secara ringkas di dalam Surah Al-Fatihah. (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 580-585, London, 1984).

TAMMAT

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 29 Oktober  2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar