بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 82 (Tammat)
Keajaiban Sifat-sifat Internal Surah Al-Fatihah & Nubuatan Bible Mengenai Surah Al-Fatihah dan “Pemeteraiannya” Sementara Waktu
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan
sabda Masih Mau’ud a.s.
mengenai berbagai hikmah dalam Surah
Al-Fatihah, yang sebelumnya “tertutup
rapat” (disegel) bagi para penafsir
besar Al-Quran sebelum beliau, sebagaimana nubuatan
dalam Bible.
Seperti
diriwayatkan oleh banyak ahli ilmu hadits, seluruh Surah Al-Fatihah diwahyukan
Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. di Mekkah dan sejak awal menjadi
bagian shalat orang-orang Islam. Jadi,
pendapat yang mengatakan bahwa perintah shalat fardhu bagi umat Islam adalah ketika terjadinya
peristiwa Isra Nabi Besar Muhammad saw. (QS.17:2) yang diwahyukan pada tahun 11
atau 12 kenabian, atau peristiwa mikraj (QS.53:1-19) yang diwahyukan
sekitar tahun ke 5 atau ke 6 kenabian,
pendapat tersebut tidak benar, sebab sejak awal
kenabian pun Nabi Besar Muhammad saw. dan
para sahabat beliau saw. telah melaksanakan shalat (QS.96:1-11).
Surah Al-Fatihah
disebut dalam ayat Al-Quran: وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنٰکَ سَبۡعًا مِّنَ
الۡمَثَانِیۡ وَ الۡقُرۡاٰنَ الۡعَظِیۡمَ -- “Dan
sungguh Kami benar-benar telah
memberikan kepada engkau tujuh ayat yang selalu diulang-ulang dan Al-Quran yang
agung” (QS.15:88). Ayat itu menurut pengakuan para ahli telah diwahyukan
di Mekkah. Menurut beberapa riwayat Surah ini diwahyukan pula untuk kedua kalinya di Medinah, tetapi waktu Surah
ini untuk pertama kali turun adalah pada masa permulaan sekali kenabian
beliau saw..
Nama-nama Surah dan Artinya
Nama terkenal untuk Surah pendek ini ialah Fātihat-ul-Kitāb
(Surah Pembukaan Al-Kitab), diriwayatkan bersumber pada beberapa ahli ilmu
hadits yang dapat dipercaya (Tirmidzi
dan Muslim). Kemudian
nama itu disingkat menjadi Surah Al-Fātihah atau Al-Fātihah saja.
Surah ini dikenal dengan beberapa nama, dan 10 nama berikut ini lebih sah,
yaitu: (1) Al-Fātihah, (2) Al-Shalāt,
(3) Al-Hamd, (4) Umm-ul-Quran, (5) Alquran-ul-’Azhim, (6)
Al-Sab’al-Matsani, (7) Umm-ul Kitāb, (8) Al-Syifā, (9) Al-Ruqyah,
dan (10) Al-Kanz. Nama-nama ini
menerangkan betapa luasnya isi Surah ini:
Fātihat-ul-Kitāb (Surah Pembukaan Al-Kitab)
berarti bahwa karena Surah itu telah
diletakkan pada permulaan maka ia merupakan kunci pembuka seluruh pokok
masalah Al-Quran.
Al-Shalāt (Shalat) berarti bahwa
Al-Fātihah merupakan doa yang lengkap lagi sempurna dan menjadi bagian
tidak terpisahkan dari shalat Islam
yang sudah melembaga.
Al-Hamd (Puji-pujian) berarti bahwa
Surah ini menjelaskan tujuan agung penciptaan manusia dan mengajarkan bahwa hubungan
Allah Swt. dengan
manusia adalah hubungan berdasarkan kemurahan
(Rahmāniyat) dan kasih-sayang
(Rahīmiyat).
Umm-ul-Qur’an (Ibu Al-Quran) berarti
bahwa Surah ini merupakan intisari
seluruh Al-Quran, yang dengan ringkas mengemukakan semua pengetahuan yang menyangkut perkembangan
akhlak dan ruhani manusia.
Alquran-ul-’Azhim (Al-Quran Agung)
berarti bahwa meski pun Surah ini terkenal sebagai Umm-ul-Kitāb dan Umm-ul-Qur’an
namun tetap merupakan bagian Kitab Suci itu dan bukan seperti anggapan
salah sementara orang bahwa ia terpisah darinya.
Al-Sab’ul Matsani (Tujuh ayat yang
seringkali diulang) berarti ketujuh ayat pendek Surah ini sungguh-sungguh memenuhi segala keperluan ruhani manusia. Nama itu berarti pula bahwa pembacaan Surah
ini harus diulang dalam tiap-tiap
rakaat shalat.
Umm-ul-Kitab (Ibu Kitab) berarti bahwa doa dalam Surah ini menjadi sebab diwahyukannya ajaran Al-Quran.
Al-Syifā (Penyembuh) berarti bahwa Surah
ini memberi pengobatan terhadap segala keraguan
dan syak yang biasa timbul dalam hati
manusia.
Al-Ruqyah (Jimat atau Mantera) berarti
bahwa Surah ini bukan hanya doa untuk
menghindarkan penyakit tetapi juga
memberi perlindungan terhadap syaitan dan pengikut-pengikutnya, dan menguatkan hati manusia untuk melawan mereka.
Al-Kanz (Khazanah) mengandung arti bahwa
Surah ini suatu khazanah ilmu yang
tidak habis-habisnya.
Al-Fātihah Dinubuatkan dalam Perjanjian
Baru
Tetapi nama yang terkenal Surah
ini adalah Al-Fātihah. Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa nama itu
juga tercantum dalam nubuatan Perjanjian Baru:
“Maka
aku tampak seorang malaikat lain
yang gagah, turun dari langit ......... dan di tangannya ada sebuah Kitab Kecil yang terbuka, maka kaki kanannya berpijak di
laut, dan kaki kiri di darat” (Wahyu
10:1-2).
Kata dalam bahasa Ibrani untuk
“terbuka” adalah Fatoah, yang
sama dengan kata Arab Fatihah. Kemudian lagi:
“ ...... dan tatkala ia (malaikat) berteriak, ketujuh guruh pun membunyikan bunyi masing-masing”
(Wahyu 10:3).
“Tujuh
guruh” mengisyaratkan kepada tujuh ayat
Surah ini.
Para sarjana Kristen mengatakan bahwa nubuatan itu mengisyaratkan kepada
kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya. Hal itu telah dibuktikan oleh
kenyataan-kenyataan yang sebenarnya. Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam
Ahmad a.s. yang dalam wujudnya nubuatan tentang kedatangan Nabi Isa
a.s. kedua kalinya -- yakni Masih
Mau’ud a.s. -- telah menjadi sempurna, menulis tafsir mengenai Surah Al-Fatihah ini dan menunjukkan bukti-bukti serta dalil-dalil
mengenai kebenaran pendakwaan
beliau dari isi Surah ini, dan beliau
senantiasa memakainya sebagai doa
yang baku.
Beliau menyimpulkan dari tujuh ayat yang pendek-pendek ini ilmu-ilmu
makrifat Ilahi dan kebenaran-kebenaran
kekal abadi yang tidak diketahui
sebelumnya. Seolah-olah Surah Al-Fatihah
ini sebuah Kitab yang dimeterai (disegel)
hingga khazanah itu akhirnya dibukakan
oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. Dengan
demikian sempurnalah nubuatan yang
terkandung dalam Wahyu 10:4,
yakni:
“Tatkala ketujuh guruh sudah berbunyi itu, sedang aku hendak
menyuratkan, lalu aku dengar suatu suara dari langit, katanya: "Meteraikanlah barang apa yang ketujuh guruh itu sudah mengatakan dan jangan dituliskan.”
Nubuatan itu
menunjuk kepada kenyataan bahwa Fatoah atau Al-Fātihah itu untuk sementara waktu akan tetap merupakan
sebuah “Kitab tertutup”, tetapi suatu
waktu akan tiba ketika khazanah ilmu
ruhani yang dikandungnya akan dibukakan. Hal itu telah dilaksanakan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s. dalam rangka
mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat
ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan
(Masih Mau’ud a.s.). sebab di zaman
beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam yang kedua kali di Akhir
Zaman ini di atas semua agama akan
menjadi kepastian, bukan dengan cara-cara paksaan
dan kekerasan, melainkan dengan dalil-dalil yang tak
terbantahkan disertai akhlak Islami yang terpuji sebagai “umat terbaik”
yang dibangkitkan Allah Swt. untuk
kemanfaatan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).
Karakteristik
Ruhani Surah Al-Fatihah
Lebih jauh Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan mengenai karakteristik ruhani Surah Al-Fatihah:
“Salah satu karakteristik keruhanian Surah
Al-Fatihah adalah dimana jika seseorang melafazkannya
dalam shalat dengan penuh perhatian dan menegakkan ajarannya di dalam kalbunya sendiri serta beriman atas kebenarannya maka kalbunya
akan mengalami pencerahan, dan kemampuan berfikir yang bersangkutan
akan berkembang serta kegelapan manusiawi akan tersingkirkan sehingga ia mulai
menikmati pengalaman keberkatan dari
Sumber segala rahmat [Swt.].
Ia akan merasa dikitari (diliputi) nur keridhoan Ilahi dan maju ke tahapan terhormat dimana ia bisa berbicara dengan Tuhan-nya melalui
kasyaf dan wahyu yang benar. Ia akan memasuki lingkungan mereka yang dekat kepada Tuhan dimana ia akan
menikmati keajaiban ilham dan pengabulan doa, menerima bantuan Ilahi serta dibukakannya hal-hal yang tersembunyi,
suatu hal yang tidak terdapat pada manusia awam.
Imbauan Kepada Para Pencari Kebenaran
Bagi
para lawan kami yang menyangkal hal ini, sesungguhnya bukti untuk itu ada dalam buku ini. Hamba yang lemah ini bersedia
memuaskan para pencari kebenaran,
tidak saja mereka yang melawan kami
tetapi juga dari antara mereka yang hanya
secara nominal saja meyakini
kami, yaitu orang-orang yang hanya Muslim
di kulitnya saja namun keimanannya
terselaput kabut dan dirinya tanpa kehidupan
ruhani.
Dalam masa kegelapan seperti sekarang ini mereka
tidak meyakini tanda-tanda samawi dan
menganggap wahyu sebagai suatu hal yang mustahil yang dikatakan
sebagai ilusi atau imajinasi. Mereka memiliki konsep kemajuan manusia yang sempit yang terbatas hanya pada pandangan permasalahan
intelektual dan perkiraan saja. Konsep mereka tentang Allah Yang Maha Kuasa adalah sebagai Yujud yang lemah tak berdaya.
Hamba yang lemah ini mengajukan dengan segala hormat bahwa jika mereka ini menyangkal efektivitas Al-Quran dan tetap berpegang pada kebodohan mereka, sepatutnyalah mereka
itu menanggapi kesempatan yang
diberikan oleh hamba yang lemah ini
untuk memuaskan mereka berdasarkan pengalamannya sendiri.
Sepatutnyalah
para pencari kebenaran itu datang kepadaku dan memperhatikan dengan mata kepala
sendiri karakteristik Firman Allah yang dikemukakan di atas.
Mereka akan bisa meninggalkan kegelapan
dan memasuki pecerahan Nur yang
benar.
Sampai
sekarang hamba yang lemah ini masih
hidup, namun yang namanya kehidupan adalah suatu hal yang tidak pasti. Karena
itu sebaiknya setelah mendengar pemberitahuan
ini, segeralah mencari kebenaran dan
hilangkan kedustaan agar jika pernyataanku ini palsu adanya maka ada alasan untuk menyangkalnya. Tetapi jika pernyataanku
itu memang benar maka sepantasnya para lawan meninggalkan jalan fikiran
mereka untuk segera memeluk agama
Islam supaya terhindar dari dipermalukan
dan dihinakan di dunia ini serta siksa dan hukuman di akhirat.
Karena itu perhatikanlah, wahai saudara-saudaraku terkasih,
para filosof, pandit-pandit, missionaris
Kristen, kaum Arya, aliran kebatinan dan kaum Brahmo Samaj, aku memaklumkan secara terbuka bahwa jika ada yang meragukan karakteristik Al-Quran
sebagaimana yang telah aku kemukakan di atas dan mempunyai keraguan untuk bisa menerimanya,
marilah datang kepadaku segera
dimana dengan hidup dekat bersamaku
untuk sementara waktu secara tulus
dan tekun, kalian akan menyaksikan kebenaran pernyataanku
dengan mata kalian sendiri. Jangan
sampai jika aku sudah meninggalkan dunia
lalu ada yang mengatakan bahwa ia tidak
pernah diundang secara terbuka dan tidak
mengetahui mengenai pernyataanku itu sehingga tidak sempat melihat pembuktiannya.
Jadi, wahai saudara-saudaraku dan para pencari
kebenaran, perhatikanlah bahwa aku mengungkapkan
hal ini secara terbuka dan dengan beriman kepada Allah Swt. Yang Nur-Nya aku melihatnya siang dan malam,
aku memikul tanggungjawab bahwa bila kalian memang mencari kebenaran dengan ketulusan hati dan mau tinggal bersamaku untuk beberapa waktu
dengan niat baik, akan nyata kepada
kalian bahwa nilai-nilai keruhanian
yang aku kemukakan di atas memang benar-benar
ada di dalam Surah Al-Fatihah dan dalam Kitab Suci Al-Quran.
Betapa berberkatnya orang yang mau mengosongkan hatinya
dari kefanatikan dan permusuhan serta memiliki hasrat untuk memeluk agama
Islam jika ia mau memenuhi
undanganku ini guna mencapai apa yang dimaksud.
Betapa malangnya orang yang tidak menghiraukan undangan terbuka ini
sehingga menjadikan dirinya sebagai sasaran kutuk dan kemurkaan Allah Swt.. Sesungguhnya maut (kematian) itu sudah dekat
dan akhir dari hidup ini sudah di ambang pintu. (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang
dicetak dalam Ruhani
Khazain, vol. 1, hal. 626-635, London, 1984).
Keprihatinan Luar
Biasa Nabi Besar Muhammad Saw. dan Masih Mau’ud a.s.
Kepedulian serta keprihatinan yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. yang luar biasa tersebut pada hakikatnya
merupakan pengulangan kembali yang pernah diperagakan oleh Junjungan beliau sebelumnya, yakni Nabi Besar
Muhammad saw., firman-Nya:
لَقَدۡ
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ
عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ؕ عَلَیۡہِ
تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾٪
Sungguh
benar-benar telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antaramu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan
kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan
bagi kamu dan terhadap orang-orang beriman ia sangat berbelas kasih lagi penyayang.
Tetapi jika mereka berpaling maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya-lah aku bertawakkal, dan Dia-lah Pemilik 'Arasy yang agung (At-Taubah [9]:128-129).
Ayat
128 boleh dikenakan kepada orang-orang beriman maupun kepada orang-orang kafir, tetapi terutama kepada orang-orang beriman,
bagian permulaannya mengenai orang-orang
kafir dan bagian terakhir mengenai orang-orang beriman. Kepada
orang-orang kafir nampaknya ayat ini mengatakan: “Rasulullah saw. merasa
sedih melihat kamu mendapat kesusahan, yaitu sekalipun kamu mendatangkan
kepadanya segala macam keaniayaan dan kesusahan, namun hatinya begitu sarat
dengan rasa kasih-sayang kepada umat manusia, sehingga tidak ada tindakan yang
datang dari pihak kamu dapat mem-buatnya menjadi keras hati terhadap kamu dan
membuat ia menginginkan keburukan bagimu. Ia begitu penuh kasih-sayang dan
belas kasihan terhadap kamu, sehingga ia tidak tega hati melihat kamu
menyimpang dari jalan kebenaran hingga mendatangkan kesusahan kepadamu.”
Kepada orang-orang beriman ayat ini berkata: “Rasulullah saw. penuh dengan kecintaan, kasih-sayang, dan
rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan gembira ikut dengan kamu dalam
menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi pula, seperti seorang ayah
yang penuh dengan kecintaan ia memperlakukan kamu, dengan sangat murah hati dan
kasih-sayang.”
Sabda Masih Mau’ud a.s. sebelumnya: “….Karena
itu perhatikanlah, wahai
saudara-saudaraku terkasih, para filosof,
pandit-pandit, missionaris Kristen, kaum
Arya, aliran kebatinan dan kaum Brahmo Samaj, aku memaklumkan secara terbuka bahwa jika ada yang meragukan karakteristik Al-Quran sebagaimana yang telah aku
kemukakan di atas dan mempunyai keraguan
untuk bisa menerimanya, marilah datang kepadaku segera dimana dengan hidup dekat bersamaku untuk sementara
waktu secara tulus dan tekun, kalian akan menyaksikan kebenaran pernyataanku dengan mata kalian sendiri. Jangan
sampai jika aku sudah meninggalkan dunia
lalu ada yang mengatakan bahwa ia tidak
pernah diundang secara terbuka dan tidak
mengetahui mengenai pernyataanku itu sehingga tidak sempat melihat pembuktiannya.”
Kesedihan Rasul Akhir Zaman
Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt.
berfirman mengenai kesedihan Rasul Akhir Zaman berikut ini mengenai sikap buruk kaum beliau yang mendustakan kebenaran pendakwaannya:
اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ
وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ
یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ
یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾ یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا
خَلِیۡلًا ﴿﴾ لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ
اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾ وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی
اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, dan azab pada hari
itu atas orang-orang kafir sangat keras. Dan
pada hari itu orang zalim akan
menggigit-gigit kedua tangannya یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا -- lalu berkata: ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan
Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا -- “Wahai celakalah
aku, alangkah baiknya seandainya aku
tidak menjadikan si fulan itu sahabat.
لَقَدۡ
اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ
لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- Sungguh ia
benar-benar te-lah melalaikanku dari
mengingat ke-pada Allah sesudah ia
datang kepadaku.” Dan syaitan selalu menelan-tarkan manusia. وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا -- Dan Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku,) sesungguhnya kaumku te-lah
menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.” وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ
کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami telah menjadikan musuh bagi
tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb
(Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan
Penolong. (Al-Furqān [25]:27-32).
Makna ayat 27 dapat
mengisyaratkan kepada Hari Pertempuran
Badar sungguh-sungguh merupakan suatu hari
yang penuh dengan kesedihan bagi orang-orang kafir Quraisy Mekkah
pimpinan Abu Jahal atas kekalahan tragis dan penuh kehinaan yang menimpa mereka.
Pada hari itulah dasar-dasar Islam
diletakkan dengan teguhnya bagi tegaknya “Kerajaan Ilahi”
di masa itu, dan kaum Quraisy Mekkah telah menyadari kehinaan dan kekalahan pahit yang mereka derita
pada “Yaumul-Furqān” (Hari Pembeda – QS.8:42) tersebut, yakni “Hari
Pembeda” antara yang haq (kebenaran)
dan yang bathil (kepalsuan).
Kemudian
makna ayat وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا -- “Dan Rasul itu
berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah
ditinggalkan.” dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang
menamakan diri orang-orang Muslim
tetapi telah menyampingkan Al-Quran
dan telah melemparkannya ke belakang.
Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan
dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini. Ada sebuah hadits Nabi
Besar Muhammad saw. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari
Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang di Akhir
Zaman inilah saat yang dimaksudkan itu.
Al-Fatihah Sebagai Rangkuman Tujuan Al-Quran
Selanjutnya
Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai ringkasan
hikmah yang terkandung dalam
Surah Al-Fatihah:
Surah Al-Fatihah secara ringkas merangkum
keseluruhan isi dan tujuan dari Kitab Suci Al-Quran. Hal ini diindikasikan
dalam ayat:
وَ لَقَدۡ
اٰتَیۡنٰکَ سَبۡعًا مِّنَ الۡمَثَانِیۡ وَ الۡقُرۡاٰنَ الۡعَظِیۡمَ
‘Sesungguhnya telah Kami berikan kepada engkau
tujuh ayat ang selalu diulang-ulang dan Al-Quran yang agung’ (S.15 Al-Hijr:88).
Berarti
ketujuh ayat dari Surah Al-Fatihah secara ringkas telah mencakup seluruh maksud
Al-Quran, sedangkan rincian detil tujuan-tujuan agama dijelaskan dalam
surah-surah lainnya. Karena itulah surah ini dianggap sebagai Ibu Kitab (Ummul
Kitab) dan Surah yang Komprehensif
(Al-Kanz).
Disebut
sebagai Ummul Kitab karena semua tujuan yang dipaparkan dalam Al-Quran bisa
diintisarikan daripadanya dan disebut sebagai Surah yang Komprehensif karena
secara ringkas mencakup semua bentuk ajaran yang terdapat di dalam Al-Quran. Berdasarkan alasan inilah maka Hazrat Rasulullah
saw. menyatakan bahwa mereka yang melafazkan Surah Al-Fatihah sama dengan
membaca Al-Quran karena Surah tersebut merupakan cermin yang memantulkan isi
daripada Al-Quran.
Sebagai
contoh, salah satu tujuan Al-Quran adalah mengemukakan semua puji-pujian
sempurna tentang Allah yang Maha Agung dan menyatakan secara jelas kesempurnaan
yang dimiliki-Nya. Hal ini secara singkat dikemukakan Surah Al-Fatihah di ayat:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ
‘Segala
puji bagi Allah’
yang berarti bahwa semua
bentuk puji-pujian yang sempurna
adalah bagi Allah Yang merangkum
dalam Wujud-Nya semua bentuk keluhuran dimana sepatutnyalah Dia
memperoleh segala jenis persembahan.
Tujuan kedua
dari Al-Quran adalah menonjolkan Tuhan
sebagai Sang Maha Pencipta dan Maha Perancang alam semesta yang
mendzahirkan awal dari alam semesta dimana terangkum di dalamnya pengertian
bahwa semua yang ada di dalamnya merupakan hasil
ciptaan-Nya. Hal ini secara ringkas dinyatakan dalam bagian dari ayat: رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ
-- ‘Rabb (Tuhan)
semesta alam.’
Tujuan ketiga
dari Al-Quran adalah menegaskan tentang rahmat
Tuhan yang tidak perlu diminta terlebih dahulu yang disebut juga sebagai rahmat yang bersifat umum. Hal ini termaktub dalam kata الرَّحۡمٰنِ -- ‘Ar-Rahmān (maha Pemurah)’
Tujuan
keempat ialah mencanangkan berkat
dari Allah Swt.. yang diperoleh karena upaya
permohonan dan kekhusyukan
seseorang. Hal itu terangkum dalam kata:
الرَّحِیۡمِ
-- ‘Ar-Rahīm
(Maha Penyayang).’
Tujuan kelima
adalah mengingatkan manusia akan adanya
kehidupan setelah di dunia ini yaitu kehidupan
di akhirat yang dirangkum dalam ayat:
مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ
-- ‘Yang mempunyai Hari
Pembalasan.’
Tujuan
Al-Quran yang keenam adalah untuk mengemukakan ketulusan batin, peribadatan
dan pensucian kalbu dari segala hal
lainnya kecuali Allah semata dan
sebagai obat penawar bagi penyakit keruhanian,
reformasi nilai-nilai akhlak dan penegakkan Ketauhidan Ilahi dalam
peribadatan. Semua ini termaktub dalam ayat:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ -- ‘Hanya
Engkau-lah yang kami sembah.’
Tujuan yang
ketujuh adalah menegaskan Allah Swt..
sebagai satu-satunya Sumber dari
semua tindakan, semua kekuatan dan pengasihan, semua pertolongan
dan keteguhan, kepatuhan dan kebebasan dari
dosa, pencapaian segala sarana untuk berbuat baik, perbaikan kehidupan di dunia dan di akhirat serta kebutuhan akan pertolongan-Nya dalam
segala hal. Tujuan ini diringkas dalam
pernyataan: اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ وَ -- ‘Dan
hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.’
Tujuan
kedelapan dari Al-Quran adalah mengemukakan mutiara hikmah dari jalan
yang lurus dan perlunya jalan itu
dicari melalui doa dan shalat. Hal tersebut diungkapkan dalam:
اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ -- ‘Tuntunlah
kami kepada jalan yang lurus.’
Tujuan
kesembilan adalah mengemukakan tentang jalan
dan cara dari mereka yang telah
menjadi penerima berkat dan karunia Ilahi, agar kalbu para pencari kebenaran memperoleh ketenteraman
karenanya. Tujuan itu dirangkum dalam ayat:
صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ -- ‘Jalan orang-orang yang
telah Engkau beri nikmat.’
Tujuan
kesepuluh dari Al-Quran ialah menegaskan adanya orang-orang yang karena akhlak
dan akidahnya telah menjadikan Tuhan tidak berkenan kepada mereka
yaitu orang-orang yang tersesat
mencari-cari akidah palsu atau bid’ah dengan maksud agar para pencari kebenaran berhati-hati
terhadap mereka. Hal ini termaktub dalam ayat: لَا الضَّآلِّیۡنَ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ
وَ -- ‘Bukan jalan mereka
yang kemudian dimurkai dan bukan pula yang kemudian sesat.’
Inilah
sepuluh tujuan yang menjadi inti ajaran
Kitab Suci Al-Quran yang menjadi akar
dari segala kebenaran. Semua itu
dirangkum secara ringkas di dalam Surah
Al-Fatihah. (Brahin-i-
Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 580-585, London,
1984).
TAMMAT
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 29 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar