Minggu, 20 Desember 2015

Syair-syair (Qasidah) Masih Mau'ud a.s. Mengenai Kemuliaan Nabi Besar Muhammad Saw.




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Semua berkat berasal dari Muhammad Saw.Diberkatilah Dia yang mengajar dan ia yang telah diberi pelajaran”.

NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

“Hadhrat Muhammad, Junjungan dan Penghulu kami, Semoga Allah memberi salawat dan berkat atas dirinya”

“Setelah Allah, maka aku ini mabuk dengan kecintaan terhadap Muhammad. Kalau ini disebut kekafiran, maka demi Allah aku adalah kafir yang akbar

 (Al-Masih-al-Mau’ud a.s.)

  Syair-syair (Qasidah) Masih Mau’ud a.s. Mengenai Kemuliaan Nabi Besar Muhammad  Saw.   


Bab 39


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai   kesiap-sediaan umat Islam untuk mengorbankan jiwa sekali pun demi membela kehormatan dan kesucian akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dari bebagai fitnah pihak lawan:
      Umat Muslim adalah kelompok manusia yang siap menyerahkan jiwanya untuk menjunjung tinggi kehormatan Nabi Suci mereka. Mereka lebih memilih mati daripada harus menanggung malu hanya karena pertimbangan mereka harus berdamai dan bersahabat dengan sekelompok manusia yang siang malam disibukkan dengan kegiatan menghujat Hadhrat Rasulullah Saw..
     Mereka ini selalu menyebut nama beliau dengan sebutan nista dalam buku-buku, harian dan pengumuman mereka serta menggunakan bahasa yang kotor jika membicarakan beliau. Orang-orang seperti itu tidak mempunyai itikad baik, bahkan terhadap bangsanya sendiri, karena mereka selalu menciptakan berbagai kesulitan bagi bangsanya.
     Aku mengatakan sesungguhnya bahwa masih mungkin bagi kami untuk berdamai dengan ular atau binatang liar di hutan, namun mustahil bagi kami untuk disuruh berdamai dengan orang-orang yang tidak menahan diri dari memburuk-burukkan Rasul Allah dan yang menganggap caci-maki dan memburuk-burukkan orang lain sebagai suatu bentuk kemenangan. Kemenangan haqiqi hanya datang dari langit.” (artikel dilekatkan pada Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 385-386, London, 1984).

Kesedihan Rasul Akhir Zaman

     Di dalam Al-Quran Allah Swt. berfirman mengenai kesedihan yang dialami Rasul  Allah yang kedatangannya dijanjikan di Akhir Zaman  karena menyaksikan keadaan umat Islam yang telah memperlakukan Al-Quran sebagai  sesuatu yang telah ditinggalkan, firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. (Al-Furqān [25]:32).
     Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran di Akhir Zaman ini sedemikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim.
      Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.    yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang dimaksudkan itu.
Melihat kenyataan yang sangat menyedihkan itulah Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     Pelecehan yang dialamatkan kepada agama Islam dan Hadhrat Rasulullah Saw., serangan terhadap syariah Ilahi, kemurtadan dan bid’ah yang telah menyebar luas sekarang ini tidak ada padanannya di masa lalu. Dalam jangka waktu singkat di India ini saja ada 100.000  orang yang berpindah agama menjadi Kristen dan lebih dari  6  juta buku yang diterbitkan untuk menyerang Islam.
      Mereka yang berasal dari keluarga-keluarga mulia telah kehilangan agama mereka, sedangkan mereka yang biasa menyebut dirinya sebagai keturunan Nabi Suci Saw. telah mengenakan jubah Kristiani dan sekarang malah memusuhi beliau.
      Hatiku menangis pilu karena misalnya pun orang-orang ini membunuh anak-anakku di hadapan mataku, menjagal sahabat-sahabatku serta membunuh diriku dengan cara yang paling hina sekalipun dan merampas seluruh harta bendaku, aku tidak akan lebih sakit dan hatiku tidak akan lebih pedih daripada harus mendengar caci-maki yang dilontarkan terhadap Hadhrat Rasulullah.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.V, hlm. 51-52, London, 1984).
      Perlu diketahui bahwa selain benua Afrika, sasaran gerakan Kristenisasi yang dilancarkan oleh para missionaris Kristen  adalah  Hindustan, yang ketika itu menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Inggris  yang berhasil mengalahkan kekuasaan bangsa Sikh   di  benua alit tersebut.
       Tetapi kesuksesn gerakan Kristeniasi di sana segera terhenti dengan  pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Imam Mahdi a.s. dan juga Al-Masih Mau’ud a.s.,  sehingga serangan-serangan fitnah  -- baik melalui lisan mau pun tulisan   terus menerus menimpa umat Islam  yang tak berdaya terhadap  dan kesucian Nabi Besar Muhammad saw. telah berubah arah   akibat pembelaan tak terbantahkan  yang dilakukan oleh Masih Mau’ud a.s..

Syair-syair (Al-Qasidah) Masih Mau’ud a.s. Mengenai Kemuliaan  Nabi Besar Muhammad Saw.

Wahai sumber mata air pengetahuan dan rahmat Ilahi,
Semua makhluk bagai yang haus menjurus kepada engkau.
Wahai samudra rahmat dan karunia tak berhingga,
Umat meluruk engkau berbekal wadah piala kosong.

Wahai mentari kerajaan keindahan dan rahmat,
Engkau telah mencerahkan wajah gurun dan kota.
Sebuah bangsa mendapat kehormatan memiliki engkau
Dan yang lain mendengar rembulan yang telah memukau diriku.

Berurai air mata mereka mengenang keindahan dikau,
Kepedihan perpisahan merenggut kalbu.
Hati-hati yang berdetak liar,
Dan air mata yang mengalir deras.

Wahai engkau yang bercahaya laiknya mentari dan rembulan,
Telah mencerahkan keseharian dengan  engkau
Wahai bulan purnama, tanda dari Tuhan kami yang Pemurah,
Wahai pembimbing yang paling terbimbing dan yang paling perkasa.

Wajah engkau cemerlang memukau mata,
Fitrat termulia di antara fitrat manusia.
Ia wujud pemurah, pengasih, pecinta ketakwaan,
Pengasih dan yang mengungguli para pemuda.

Kesempurnaan dan kecantikannya mengungguli semua mahluk,
Dalam keagungan dan dalam keramahannya.
Tak diragukan, Muhammad adalah makhluk terbaik,
Ia adalah yang terbaik dan penghulu pilihan.

Semua kesempurnaan mewujud dalam dirinya,
Karunia tiap zaman memuncak dalam wujudnya.
Allah saksiku bahwa Muhammad adalah khalifah-Nya,
Hanya melalui ia semata akan dicapai hadirat Ilahiah.

Ia adalah kebanggaan setiap orang saleh dan suci,
Bala tentara keruhanian menyanjung dirinya.
Ia lebih luhur dari mereka yang pernah mendekat kepada Allah,
Karena kriteria keluhuran adalah fitrat, bukannya masa.

Gerimis halus sering mengisyaratkan hujan,
Namun ada perbedaan besar di antara keduanya.
Hanya ia pemanah yang tak pernah meleset sasaran,
Ia itulah pemanah utama yang panahnya membunuh syaitan.

Ia mirip dengan taman surgawi, aku melihat buahnya,
Yang rangkaiannya telah diturunkan ke kalbuku.
Ia adalah samudra kebenaran dan bimbingan,
Penuh pesona laiknya mutiara.

Sesungguhnya Isa telah wafat namun Nabi kami tetap hidup,
Tuhan saksiku bahwa aku telah bertemu wujudnya.
Sumpahku demi Allah, aku telah menyaksikan wujudnya yang cantik,
Dengan mata kepala sendiri kala duduk di rumahku.

Nabi Suci kami tetap hidup dan aku saksinya,
Ku dapat karunia bernas berbicara dengannya.
Ku dapat kehormatan melihat wujudnya di masa mudaku,
Ia memberkatiku dengan kehadirannya dalam keadaan terjaga.

Sesungguhnya aku hidup kembali berkat rahmatnya,
Puji syukur kepada Allah, betapa ajaibnya,
betapa agung hidup yang dikaruniakannya kepadaku.

Wahai Tuhan-ku, limpahkan berkat Engkau kepada Nabi Suci,
Selama-lamanya, di dunia dan di akhirat.
Wahai Penghuluku, aku mengetuk pintu engkau laiknya orang teraniaya,
Karena umatku menyakiti diriku dengan menyebutku kafir.

Pandanglah aku dengan belas kasihan,
Wahai Junjunganku, aku adalah hamba engkau yang paling hina.
Wahai kekasihku, jiwaku, inderaku, kalbuku,
Seluruhnya penuh diresapi kasih engkau.

Wahai taman kegembiraan, tak pernah sejenak pun
Waktu berlalu tanpa mengenang engkau.
Kalbu yang dikempa kerinduan, tubuhku ingin terbang ke arah engkau,
Kalau saja aku berkuasa melakukannya.

(Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. V, hlm. 590-594, London, 1984).

Sifat-sifat Nabi Besar Muhammad Saw.

Wahai kalbuku, ingatlah Ahmad[1]
Sumber petunjuk dan pemusnah musuh.
Ia yang saleh, lembut dan pengasih
Samudra karunia dan keberkatan.

Ia cemerlang bak bulan purnama,
Terpujilah semua fitratnya.
Kelembutannya menawan nurani
Kecantikannya menawar dahaga hati.

Para penguasa menolak dirinya
Begitu tak adil, begitu angkuhnya.
Tak seorang pun menyangkal kebenaran
Jika telah mewujud sempurna.

Cobalah cari wujud sesempurna dirinya
Kalian akan kecewa berputus asa.
Tak pernah ditemui seseorang mirip dirinya
Yang telah menggugah mereka yang terlena.

Ia adalah Nur Ilahi yang menghidupkan lagi
Semua cabang pengetahuan menyegar kembali.
Ia adalah wujud pilihan yang terpilih
Pembimbing dan sumber segala berkat.

Hujan petunjuk hanyalah sebagian dari
Hujan deras belas kasihnya.
Dunia terlupa akan gerimis kecil
Saat melihat hujan dahsyat dari imam ini.

Saat ini mereka yang kejam berusaha memadamkan
Nyala api obor petunjuknya.
Lambat laun, Allah akan
Mewujudkan nurnya.

Wahai hujan yang mencurah siang dan malam
Engkau telah terpelihara dari kehancuran.
Engkau telah mengairi pepohonan di dataran rendah
Dan di dataran tinggi dengan karunia engkau.

Engkau adalah pelabuhan perlindungan
Dan setelah menemukan pelabuhan demikian,
Tak lagi kami cemas akan bahaya mengancam
Tak lagi kami takut akan keseraman sebuah pedang.

Tak ada kami takut akan lindasan waktu
Tidak juga oleh berbagai ancaman.
Di saat setiap prahara menghampiri
Kami berpaling kepada Tuhan kami.

Pada setiap pertandingan,
Antara diriku dan bala pasukan musuh,
Aku selalu muncul sebagai pemenang, dihormati
Dan menerima pertolongan Ilahi.

Puji syukur kepada Allah. Puji syukur kepada-Nya
Karena telah mengenali Pembimbing kami.
Wahai sahabat, sesungguhnya Allah
Yang telah mengkaruniakan berkat ini.

Ia adalah Malam Lailatul Qadar
Dengan segala keabadian berkatnya.

(Karamatus Sadiqin, Ruhani Khazain,  jld. VII, hlm. 7, London, 1984 hlm. 70-71).

Keimanan Nabi Besar Muhammad saw.

Kulepaskan khayalku melayang ke segala arah,
Namun tak ada keimanan bak Muhammad laiknya.
Tak ada agama yang memberikan tanda kebenaran
Sebagaimana buah yang kucecap di taman Muhammad.

Aku telah menguji Islam yang adalah Nur di atas Nur
Bangunlah, aku mengingatkan kalian akan saatnya.
Tak ada yang datang untuk mencoba,
Meski aku telah menantang lawan semua.

Kemarilah wahai umat, di sinilah kalian temui Nur Ilahi
Lihatlah, aku telah menyampaikan berita kegembiraan.
Hari ini semua sinar itu menggetarkan diri yang hina ini
Aku telah meronai hatiku dengan sinarnya pelangi.

Sejak kuterima nur dari Nur sang Nabi
Aku telah menyatukan diri dengan Yang Maha Benar.
Tak terbilang berkat dan salam bagi Mustafa Saw.
Allah saksiku dan dari Dia-lah aku menerima Nur ini.

Kalbuku abadi bersatu dengan jiwa Muhammad Saw.
Kupenuhi hatiku berlimpah dengan anggur ini.
Aku bersumpah demi wujud engkau, wahai Ahmad Saw. terkasih
Demi engkau maka kupikul semua beban ini.

Wahai Kekasih-ku, aku bersumpah demi Ke-Esa-an Engkau
Larut diriku dalam kecintaan pada Wujud Engkau.

(Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak  dalam Ruhani Khazain,  jld. V, hlm. 224-225, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan:
The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 15 Desember  2015




[1] Ahmad adalah nama lain dari Nabi Muhammad Saw. (Penerbit/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar