بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 81
Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw. “Malam
Takdir” Paling Agung Manifestasi Sifat
Rahmāniyat Allah Swt. & Hikmah Penempatan Ayat Bismillāhir-Rahmānirrahīm di Awal Surah Al-Quran
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan
sabda Masih Mau’ud a.s.
mengenai keistimewaan Surah Al-Fatihah dari sudut-pandang lainnya, berikut ini
adalah penjelasan beliau selengkapnya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ
الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ
الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
‘Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan Pencipta dan
Pemelihara) seluruh alam. Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Pemilik Hari Pembalasan.
Hanya Engkau-lah yang kami sembah
dan hanya kepada Engkau kami memohon
pertolongan. Tuntunlah kami
kepada jalan yang lurus. Jalan
orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat, bukan jalan mereka yang
kemudian dimurkai dan bukan pula yang kemudian sesat.’
Berikut
ini beberapa hikmah dan kebenaran dalam tafsir Surah ini sebagai suatu
ilustrasi.
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang”
merupakan ayat pertama dari Surah ini dan semua Surah
lainnya di dalam Al-Quran serta disebutkan juga di beberapa tempat lain dalam
Al-Quran. Ayat ini lebih sering diulang-ulang di dalam Al-Quran dibanding
ayat-ayat lainnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi umat Muslim untuk memulai
setiap tindakan yang diharapkan akan
membawa kebaikan dengan membaca ayat
tersebut sebagai tanda pemberkatan dan permohonan akan pertolongan Tuhan. Karena itu ayat ini
dikenal luas di antara lawan dan kawan, dan di antara yang tua dan yang
muda, sehingga misalnya pun seseorang tidak
mengetahui ayat-ayat lain dari Al-Quran,
biasanya ia akan mengenal ayat ini.
Salah satu kebenaran sempurna yang dikandung
adalah tujuan ayat tersebut untuk mengajarkan kepada hamba-hamba Allah yang lemah
dan tidak menyadari, bahwa terdapat banyak sekali atribut-atribut atau Sifat
dari Tuhan yang disebut dengan nama Allah, dimana dalam istilah Al-Quran Sifat-sifat tersebut menggambarkan komprehensifitas segala hal yang sempurna, bebas dari segala cela
dan hanya digunakan atau ditujukan bagi Tuhan
Yang Maha Benar, Maha Esa, serta
Sumber semua rahmat,
dimana ada dua Sifat yang disebut
dalam ayat ini yaitu Rahmāniyat
(Pemurah) dan Rahīmiyat
(Penyayang) mensyaratkan diturunkannya firman
Tuhan serta penebaran dari Nur
dan berkat dari firman-firman tersebut.
Turunnya Wahyu Ilahi
dan Syariat Karena Sifat Rahmāniyat Allah Swt.
Turunnya Firman Suci dari Allah Swt. ke dunia untuk diketahui oleh para makhluk-Nya merupakan tuntutan
dari sifat Rahmāniyat. Sifat Rahmāniyat dimanifestasikan tanpa harus
didahului oleh tindakan siapa pun
karena merupakan karunia dan Sifat Pemurah Allah Swt.. Tuhan sudah menciptakan matahari,
bulan, air, udara dan lain-lain demi pemeliharaan
dan kelangsungan hidup makhluk-makhluk-Nya dimana semua karunia dan kemurahan hati itu berkat sifat Rāhmaniyat.
Tidak
ada seorang pun yang bisa menyatakan bahwa semua
benda-benda itu tercipta sebagai
imbalan dari tindakannya. Selain benda-benda ciptaan tersebut, Firman
Tuhan yang turun untuk perbaikan
dan pedoman bagi umat manusia juga terjadi berkat sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah).
Tidak ada satu
pun makhluk hidup yang akan bisa menyatakan bahwa Firman Suci Tuhan yang berisi kaidah-kaidah
syariat-Nya itu diwahyukan
sebagai akibat dari tindakan atau upaya atau pun sebagai imbalan
dari kesalehan dirinya. Itulah yang
menjadi sebab mengapa walaupun
kenyataannya mungkin terdapat
beribu-ribu orang-orang yang dianggap suci dan saleh yang menjalani hidupnya secara khusyuk penuh ibadah, namun nyatanya Firman Allah yang Suci dan Sempurna yang
menyampaikan perintah-perintah-Nya
kepada dunia dan memberitahukan kepada manusia tentang maksud-Nya hanya diwahyukan
pada saat dibutuhkan saja.
Dengan
sendirinya dimaklumi bahwa Firman Suci
Allah Swt.. hanya diwahyukan kepada
orang-orang yang mempunyai derajat
tinggi dalam kesucian dan kemurnian jiwanya. Hanya saja tidak
berarti bahwa setiap orang yang suci
dan saleh pasti akan mendapatkan wahyu Firman Tuhan. Turunnya wahyu tentang kaidah syariat yang benar dan tuntunan
dari Allah Yang Maha Kuasa
tergantung kepada kebutuhan pada
suatu saat.
Ketika muncul
kebutuhan akan Firman Tuhan sebagai sarana perbaikan
manusia pada suatu masa maka Allah Yang Maha Bijaksana akan mewahyukannya. Pada saat lainnya tidak
akan diturunkan Firman Tuhan yang
berisi kaidah-kaidah syariat Ilahi
meskipun pada saat itu terdapat berjuta-juta orang yang saleh dan suci.
Perbedaan Turunnya Wahyu
Syariat dengan Wahyu Percakapan Antara Allah Swt. dengan Hamba-hamba-Nya yang Suci
Memang benar
bahwa Tuhan berbicara kepada
beberapa orang-orang yang suci jiwanya,
namun hal ini pun juga terjadi ketika menurut Kebijakan Ilahi sudah saatnya dibutuhkan
adanya pembicaraan demikian. Perbedaan di antara kedua kebutuhan ialah bahwa kaidah-kaidah syariat Ilahi diwahyukan
pada saat ketika manusia karena penyelewengan
dan kesalahan telah melenceng jauh
dari jalan yang lurus, sehingga diperlukan adanya kaidah syariat baru guna membawa mereka kembali ke jalan yang benar.
Turunnya Firman demikian akan mengangkat penyakit ruhani mereka, mencerahkan kegelapan batin mereka dengan Nur yang sempurna dan membawa kesembuhan,
serta menyediakan penawar bagi
keadaan dunia yang sudah membusuk. Sedangkan yang namanya pembicaraan Tuhan dengan para wali
(aulia) tidak harus didahului persyaratan
adanya kebutuhan seperti itu. Umumnya
tujuan dari komunikasi Tuhan
demikian adalah untuk menanamkan
keteguhan di hati mereka saat dilanda
kesulitan atau guna menyampaikan kabar gembira ketika yang bersangkutan
sedang ditimpa kesedihan dan kepiluan.
Ada pun Firman Tuhan yang sempurna dan suci yang
diturunkan kepada para Nabi dan Rasul akan terjadi ketika keperluan untuk itu telah mengemuka dimana
umat manusia sedang amat membutuhkannya. Jadi penyebab utama dari turunnya Firman Tuhan adalah kebutuhan yang semestinya.
Saat malam
sepenuhnya tersaput kegelapan yang
pekat, kalian akan merasa bahwa sudah saatnya muncul bulan yang baru. Begitu juga ketika kegelapan kedurhakaan manusia
sudah meruyak di muka bumi, fikiran yang waras akan memperhitungkan bahwa kemunculan bulan keruhanian sudah mendekat. Sama juga
dengan itu ialah ketika manusia menderita kekeringan,
para bijak di antara mereka akan berfikir bahwa turunnya hujan rahmat sudah dekat.
Dalam hukum alam Tuhan juga telah mengatur adanya hujan
dalam masing-masing musim ketika makhluk-Nya memang sedang memerlukannya. Melihat hujan yang turun dalam musim-musim tersebut kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa pada saat demikian umat manusia bersangkutan
sedang berkelakuan baik, sedangkan
pada saat kekeringan adalah karena
mereka sedang bergelimang dosa.
Musim-musim
yang dimaksud adalah ketika para petani sedang membutuhkan hujan guna sarana pertumbuhan
tanaman sepanjang tahun. Begitu juga
dengan Firman Tuhan yang turunnya
bukan karena kesalehan atau ketakwaan seseorang tertentu.
Dengan kata
lain, turunnya firman tersebut bukan
karena yang bersangkutan itu memang amat
suci dan saleh, atau sedang kehausan dan kelaparan akan kebenaran.
Seperti juga telah diungkapkan dalam tulisan-tulisanku
sebelumnya, kausa utama dari pewahyuan Kitab-kitab samawi adalah kebutuhan pada saat bersangkutan ketika
kegelapan menutupi seluruh dunia dimana Allah Swt.. menurunkan Nur dari langit guna mengusir kegelapan itu. Hal seperti inilah yang diindikasikan
dalam ayat:
اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ
فِیۡ لَیۡلَۃِ الۡقَدۡرِ ۚ
‘Sesungguhnya
Kami menurunkannya pada Malam Takdir’ (Al-Qadr [97]:2).
“Malam Takdir” Terbesar Ketika Diwahyukan-Nya Al-Quran dan Merupakan Perwujudan Sifat Rahmāniyat Allah Swt.
Malam yang dimaksud ayat ini
menurut beberapa ahli tafsir adalah Malam
yang Berberkat. Namun beberapa ayat lain dalam Al-Quran mengindikasikan bahwa
kondisi kegelapan yang menyelimuti dunia juga disebut sebagai Malam Takdir berdasarkan sifat-sifatnya yang tersembunyi.
Dalam keadaan
kegelapan seperti itu adanya
manusia yang tulus, berhati teguh, saleh dan beribadah mempunyai nilai yang tinggi dalam pandangan
Tuhan. Adalah karena kegelapan
demikian itulah yang pada saat kedatangan
Rasulullah saw. telah mencapai puncaknya sehingga mensyaratkan dibutuhkan turunnya Nur Akbar.
Melihat
luasnya kegelapan seperti itu dan
karena kasih-Nya kepada para makhluk-Nya
maka Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah)
Tuhan terusik untuk menurunkan berkat samawi ke dunia. Adalah berkat kegelapan seperti itulah maka dunia jadinya menerima rahmat akbar berupa turunnya Insan Kamil (manusia sempurna) dan Penghulu semua Rasul yang tidak ada tandingannya
dan tidak akan pernah ada tandingannya, guna membimbing dunia sambil membawa sebuah Kitab cemerlang yang sampai sekarang tidak ada bandingannya.
Semua itu
menggambarkan manifestasi kesempurnaan
ruhani dari Allah Swt.. dimana ketika dunia sedang diselimuti kegelapan, Dia telah menurunkan Nur Akbar yang diberi nama Furqān sebagai pembeda di antara kebenaran
dan kedustaan serta menggambarkan kedatangan kebenaran dan terusirnya kedustaan. Kitab (Al-Quran) ini
diturunkan ketika dunia secara keruhanian telah mati dan bumi serta laut telah rusak. Dengan turunnya tersebut Kitab ini telah memenuhi tujuan yang dikemukakan Allah Swt.. dalam
ayat:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ
یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا
‘Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya.’ (Al-Hadīd [57]:18).
Yaitu karena melihat bumi
sudah dalam keadaan mati maka Tuhan menghidupkannya kembali.
Patut
diingat, bahwa turunnya Kitab Suci
Al-Quran guna menghidupkan kembali
bumi adalah berkat terusiknya Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt.. Sifat tersebut kadang-kadang mewujud secara material dan membawa hujan rahmat turun membasahi bumi yang kering
sehingga yang menderita kekeringan
dan kelaparan terselamatkan.
Sifat
tersebut kadang-kadang juga muncul secara keruhanian
dan memberkati mereka yang hampir mati karena haus dan lapar akibat
dari penyelewengan dan kedurhakaan serta kelangkaan kebenaran dan ketakwaan
yang menjadi sumber kehidupan ruhani
manusia.
Demikian
itulah Sifat Yang Maha Pemurah, sebagaimana Dia
memberikan makanan jasmani bagi
tubuh ketika diperlukan, begitu pula
berkat Rahmat-Nya yang sempurna Dia
memberikan makanan ruhani pada saat dibutuhkan. Memang benar jika dikatakan
bahwa Firman Tuhan diturunkan kepada
orang-orang terpilih yang diridhai-Nya, namun tidak berarti bahwa Kitab
samawi akan diwahyukan begitu
saja kepada siapa yang dikasihi Allah Swt..
Kitab samawi
hanya diwahyukan ketika kebutuhan untuk itu telah mencuat. Kausa utama dari turunnya wahyu-wahyu Ilahi adalah berkat sifat Rāhmaniyat Allah Yang Maha Kuasa dan bukan merupakan hasil
kinerja siapa pun. Hal ini merupakan kebenaran
akbar yang tidak disadari oleh
para lawan kita dari kelompok Brahmo
Samaj dan yang lain-lainnya.
Peran Sifat Rahīmiyat
(Maha Penyayang) Allah Swt. Sehubungan
dengan Upaya Manusia
Selanjutnya
patut dimengerti, bahwa untuk seseorang
dikatakan pantas menjadi penerima rahmat berupa wahyu Ilahi dimana kemudian yang bersangkutan
mencapai tujuan hidupnya berkat rahmat dan Nur wahyu tersebut, semua itu dimungkinkan karena bantuan Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Yang Maha Kuasa,
yang merupakan kelanjutan dari Sifat Rahmāniyat-Nya.
Dengan
demikian patut dimengerti, bahwa pengaruh
dari wahyu Ilahi yang mewujud dalam kalbu manusia itu sebenarnya bersumber
pada Sifat Rahīmiyat tersebut.
Sampai seberapa jauh seseorang berpaling
kepada Tuhan-nya dimana kalbunya menjadi dipenuhi ketulusan dan keimanan serta ia menganut kepatuhan
kepada-Nya dengan melakukan upaya-upaya
yang sepadan, maka sejauh itu juga hatinya akan dipengaruhi
dan mendapat keberkatan dari wahyu Ilahi serta memperoleh tanda sebagai orang yang diridhai Allah.
Kebenaran
kedua yang dikandung dalam: الرَّحِیۡم -- “Yang Maha Penyayang” ialah ayat pembuka Al-Fatihah ini diturunkan sebagai awal
dari Al-Quran dan tujuan pelafalannya
adalah untuk memohon pertolongan
dari Wujud Yang merangkum di dalam Diri-Nya
keseluruhan Sifat-sifat yang
sempurna, dimana salah satunya bahwa Dia itu adalah Rahmān (Maha Pemurah) yang semata-mata karena kasih-Nya yang suci akan memberikan sarana pengelolaan semua kebaikan, rahmat dan petunjuk bagi
seorang pencari kebenaran.
Sifat lainnya
bahwa Dia adalah Rahīm (Maha Penyayang)
Yang tidak akan mensia-siakan upaya
seseorang serta akan memberkatinya
dengan hasil yang baik. Tanpa bantuan kedua sifat (Rahmān
dan Rahīm) tersebut maka tidak ada rencana -- baik yang bersifat sekuler (duniawi) maupun keagamaan -- akan dapat diselesaikan dengan sempurna.
Jika direnungi maka kita akan menyadari
kalau kedua sifat ini berada dalam
keadaan operasional setiap saat guna
pencapaian semua tujuan manusia.
Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) mewujud dengan sendirinya sebelum manusia muncul
di muka bumi dan sifat ini merupakan
sumber daya bagi manusia yang tak mungkin diperolehnya dengan kekuatan sendiri. Sumber daya itu diberikan bukan karena hasil kinerja siapa pun, melainkan semata-mata merupakan rahmat Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang serta diwujudkan
dalam bentuk pengutusan Nabi-nabi,
pewahyuan Kitab-kitab samawi,
penyediaan hujan, fungsi-fungsi matahari, rembulan, udara, awan dan lain-lain, serta kemunculan manusia di muka bumi yang dilengkapi
dengan berbagai macam sifat dan kemampuan agar bisa hidup sehat sentosa dengan kenyamanan.
Semua hal seperti ini mewujud karena Sifat Rahmāniyat
Allah Swt.. Begitu pula dengan Sifat Rahīmiyat
(Maha Penyayang) yang mewujud dimana sesudah manusia yang
telah diberi segala kemampuan lalu memanfaatkannya untuk mencapai sesuatu maka Tuhan mengatur agar usahanya itu tidak akan sia-sia dan memberkatinya dengan hasil
yang baik. Adalah Sifat Rahīmiyat
itulah yang telah menyemangati upayanya.
Tujuan Penempatan Ayat
“Bismillāhi-Rahmānir- Rahīm” Sebagai Pembuka
Surah-surah Al-Quran
Tujuan dari ayat pembuka tersebut adalah agar dalam usaha mempelajari Al-Quran, perlu bagi manusia untuk memohon pertolongan dan berkat
dari sifat Rahmāniyat dan Rahīmiyat Allah Swt.. yang menguasai
seluruh Sifat yang sempurna.
Tujuan mencari
keberkatan dari Sifat Rahmāniyat ialah agar Tuhan demi Sifat Pemurah dan Penyayang-Nya
berkenan memberikan semua sarana untuk melaksanakan apa yang diperintahkan wahyu Ilahi. Sebagai contoh, pemberian hidup, keselesaan dan
kesempatan, penganugrahan fitrat, kekuatan serta penjagaan terhadap segala
sesuatu yang akan mengganggu kedamaian
dan kenyamanan, yang akan mengurangi
kekhidmatan kalbu serta diperolehnya
kemampuan yang diperlukan, semua ini
diperoleh manusia berkat Sifat Rahmāniyat.
Adapun permohonan akan keberkatan melalui Sifat Rahīmiyat
(Maha Penyayang) ialah agar Wujud Yang
Maha Sempurna itu berkenan memberkati upaya manusia dengan hasil yang baik serta memelihara hasil
kerja susah payah seseorang dari kesia-siaan
dan memberkati segala upaya dan perjuangan yang dilakukan manusia bersangkutan untuk pencapaian tujuan tersebut.
Dengan
demikian, pada awal kerja telaah Firman Ilahi, bahkan juga di awal setiap kerja akbar lainnya,
merupakan kebenaran luhur untuk memohon berkat dan pertolongan dari Sifat Rahmāniyat
dan Rahīmiyat Allah Swt.. Melalui cara ini maka manusia akan memahami realitas Ketauhidan Ilahi dan menyadari
kekurangan dirinya sendiri seperti
kebodohan, kesalahan, kekhilafan, ketidak-berdayaan dan kerendahan akhlak yang
selama ini menjadi bagian dirinya. Fikirannya selanjutnya akan menjurus kepada Keagungan dan Keluhuran dari Maha Sumber
segala rahmat. Dengan menganggap
dirinya sendiri sebagai seorang yang miskin,
papa dan tidak berarti apa-apa, manusia memohon
berkat dari Sifat Rahmāniyat dan
Rahīmiyat dari Yang Maha Kuasa.
Sifat-sifat Ilahi ini sebenarnya berada
dalam keadaan operasional setiap
saat, namun Yang Maha Bijaksana
telah menjadikannya sejak awal dunia berkembang sebagai bagian dari hukum alam, bahwa permohonan doa dan pertolongan
dari seorang manusia kepada Tuhan-nya
mempunyai andil besar dalam kesuksesan usahanya. Rahmat Ilahi akan turun kepada mereka
yang berdoa secara khusyuk guna memecahkan segala
kesulitan yang mereka hadapi dalam usaha
dan upaya mereka.
Manusia yang menganggap dirinya sebagai seorang yang lemah dan menyadari segala kekurangan pada dirinya tidak akan memulai usaha apa pun dengan fikiran
bebas dan penuh keyakinan diri,
karena kondisi kehambaan dirinya akan
memaksanya untuk memohon pertolongan Allah Yang Maha Kuasa, Yang
menjadi Maha Pengendali. Hasrat menghambakan diri tersebut selalu
terdapat di dalam kalbu mereka yang rendah hati dan menyadari kekurangan diri.
Seorang tulus yang hatinya tidak dinodai
oleh keangkuhan atau kesombongan serta menyadari kekurangan dan ketidak-berdayaan dirinya, menganggap dirinya tidak mampu mencapai keberhasilan
dalam mengerjakan segala sesuatu
dengan prakarsanya sendiri serta
merasa dirinya sama sekali tidak memiliki
kekuatan atau kekuasaan, secara naluriah akan memohonkan kekuatan samawi.
Ia menyaksikan
setiap saat Wujud Yang Maha Perkasa dalam segala Kesempurnaan dan Keagungan-Nya dan ia
menganggap bahwa keberhasilan usaha apa
pun tergantung kepada Sifat Rahmāniyat
dan Rahīmiyat Ilahi, maka sebelum ia
memulai usahanya yang tidak berharga
dan tidak ada artinya itu, ia akan memohonkan
pertolongan Ilahi dengan mengucapkan:
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
‘Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.’
Dengan segala kerendahan
hati demikian maka ia menjadi berhak
untuk memperoleh sedikit kekuasaan
dari kekuasaan Allah Swt.., sekelumit kekuatan
dari kekuatan-Nya, secercah pengetahuan dari pengetahuan milik-Nya serta keberhasilan
dalam upayanya.
Guna pembuktian semua hal ini tidak
diperlukan argumentasi logika atau filosofi karena batin setiap manusia memiliki kapasitas
untuk menyadarinya dimana pengalaman-pengalaman pribadi dari
orang-orang bijak menjadi saksi akan kebenarannya. Tidak ada yang bersifat artifisial dari seorang makhluk yang memohonkan pertolongan dari Allah Swt., bukan juga merupakan hasil pemikiran iseng-iseng atau pun sesuatu
yang tidak berharga.
Mengajarkan Pentingnya Kerendahan
Hati dan Ketidak-berdayaan Diri
Kebenaran
ini sudah ditegakkan Allah Swt.. sebagai bagian
utama yang menyangga alam, dan atas dasar kekuatan Sifat-sifat inilah maka bahtera alam ini melaju. Dia memberikan bantuan kepada mereka yang menganggap
diri mereka rendah dan hina yang
telah memohon kepada-Nya dan memulai
usaha mereka dengan nama-Nya. Jika mereka berpaling kepada Tuhan mereka dengan
segala kerendahan hati dan perhambaan maka mereka akan dibantu melalui pertolongan-Nya.
Mencari berkat
pertolongan dari nama Sang Maha Sumber Segala Rahmat Yang adalah Rahmān (Maha Pemurah) dan Rahīm (Maha Penyayang), sebelum memulai usaha apa pun yang bermanfaat,
adalah cara memperlihatkan penghormatan dan perhambaan yang dilambari dengan perasaan ketidak-berdayaan dan kepapaan.
Hal ini
menjadi langkah pertama yang
mengarah kepada pengenalan Ketauhidan
Ilahi dalam setiap tindakan
seseorang. Dengan cara ini maka seseorang
sepertinya menerapkan kerendahan hati
seorang anak kecil dimana batinnya disucikan dari keangkuhan yang memenuhi hati orang-orang sombong di dunia ini.
Kala
menyadari kelemahan dirinya serta efektivitas dari pertolongan Ilahi, ia akan memasuki lingkungan orang-orang yang memiliki pemahaman
khusus sebagai hamba-hamba Allah.
Tidak diragukan lagi bahwa setakat
manusia mengikuti jalan tersebut dan
menjadikan sebagai kewajiban bagi
dirinya untuk mematuhinya -- disamping
merasa akan dirugikan jika meninggalkannya -- maka setakat
itu juga keimanannya pada Ketauhidan Ilahi menjadi mantap, dan setakat itu juga kalbunya
akan dibersihkan dari keangkuhan dan rasa diri penting. Setakat
itu pula kegelapan kepalsuan akan
terkikis dari penampilan dirinya dan
sinar ketulusan akan memancar dari wajahnya.
Semua itu
merupakan kebenaran yang secara berangsur akan menuntun manusia ke tingkatan
dimana ia memfanakan (melarutkan) dirinya kepada Tuhan-nya kala ia menganggap bahwa
semuanya itu datang dari Allah Swt.. dan tidak ada yang berasal dari dirinya sendiri. Manakala seseorang mengikuti jalan ini maka keharuman
dari Ketauhidan Ilahi akan turun di
atas dirinya sehingga kalbu dan fikirannya menjadi harum
karenanya.
Dalam mengadaptasi kebenaran tersebut,
seorang pencari kebenaran akan
menyatakan dirinya tidak berarti apa-apa
sama sekali dan mengakui bahwa hanya
Allah Yang Maha Luhur saja Yang menjadi Sang Maha Pengendali dan Mata Air
Rahmat.
Kedua persyaratan tersebut menjadi tujuan akhir dari para pencari kebenaran dan merupakan persyaratan guna mencapai tingkatan fana (larut) dalam Wujud-Nya.
Sesungguhnya hanya mereka yang mencari
yang akan menemukan dan hanya mereka
yang memohon yang akan diberi karunia.
Kelemahan Pandangan Para Filosof Berkenaan dengan Pentingnya Doa Sebelum Melakukan Upaya
Mereka yang
pada awal dari suatu usaha hanya mengandalkan keterampilan, intelegensia atau kekuatan
serta tidak meyakini Allah Yang Maha Kuasa, sesungguhnya tidak menyadari sepenuhnya Sang Maha Perkasa Yang merangkum
pemeliharaan seluruh alam ini dalam Wujud-Nya.
Keimanan mereka itu laiknya ranting kering yang tidak lagi
mempunyai hubungan dengan batang
induknya yang hijau dan segar, sehingga juga tidak menikmati kesegaran buah dan bunganya. Kelihatannya ia seperti
memiliki hubungan dengan pohon induk, namun kedudukannya sangat rapuh dan mudah digoyang oleh angin
yang paling halus sekali pun atau diguncang
oleh seseorang.
Demikian
itulah keimanan para filosof kering yang tidak menyandarkan
diri mereka kepada Sang Pemelihara (Rabb)
Alam Semesta dan tidak mengakui ketergantungan
mereka kepada Allah sebagai Sumber segala rahmat. Mereka ini berada jauh
dari pengakuan Ketauhidan Ilahi
sejauh jarak kegelapan dari keadaan terang.
Mereka tidak
memahami bahwa merendahkan diri
mereka kepada kekuatan akbar Sang Maha Kuasa dengan mengakui ketidak-berdayaan dirinya, adalah
tingkatan terakhir perhambaan dan
menjadi titik terjauh pencapaian
pengertian Ketauhidan Ilahi. Kondisi
demikian akan memfanakan dirinya
secara total sehingga ia kehilangan ego dan prakarsa diri serta sepenuhnya beriman
pada pengendalian Tuhan secara
menyeluruh.
Jangan
kalian dengar argumentasi para filosof
tersebut yang menyatakan bahwa kita tidak
perlu lagi memohon pertolongan Ilahi
ketika memulai suatu pekerjaan,
karena katanya Tuhan sudah membekali fitrat
kita dengan kekuatan yang cukup,
sehingga dirasa berlebihan untuk memohon lagi kepada-Nya kekuatan demikian.
Memang benar
bahwa Allah Swt.. telah membekali fitrat
kita dengan kekuatan untuk melakukan beberapa tindakan, namun ini tidak
berarti bahwa kita bebas dari pengaturan Sang Pemelihara (Rabb) Alam, atau bahwa Dia telah menjauhkan Diri-Nya dari kita dan telah menarik bantuan-Nya kepada kita serta mengasingkan kita dari Rahmat-Nya
yang tanpa batas.
Apa pun yang
telah dikaruniakan kepada kita
sesungguhnya bersifat terbatas sedangkan
apa yang kita mintakan dari Wujud-Nya adalah sesuatu yang tidak ada batasnya. Lagi pula kita ini
tidak ada diberikan kekuatan untuk menyelesaikan hal-hal yang berada di luar kemampuan kita. Bila direnungi
lebih mendalam, kita akan menyadari
bahwa sesungguhnya kita tidak diberikan
kekuasaan yang bersifat sepenuhnya sempurna.
Kemampuan Manusia Sangat
Terbatas
Sebagai contoh,
kekuatan phisik kita sangat
tergantung pada kesehatan kita, dan kesehatan ini bergantung pula pada
beberapa kausa (penyebab) , baik
yang bersifat samawi atau pun duniawi, yang semuanya berada di luar jangkauan kemampuan kita.
Sesungguhnya Sang
Pemelihara (Rabb) Alam karena Sifat-Nya
sebagai Penyebab dari segala sebab atau Kausa Akbar dari segala kausa,
memahami sepenuhnya kondisi eksternal
dan internal diri kita, awal dan
akhir kita, atas dan bawah, kiri dan kanan, hati dan jiwa, serta seluruh fitrat jiwa kita, bahwa sesungguhnya hal
itu merupakan masalah yang amat rumit yang berada di luar jangkauan kemampuan akal manusia.
Tidak perlu
rasanya mendalami lebih lanjut karena apa yang sudah kami kemukakan ini cukup
untuk menolak keberatan dari para
lawan kita. Satu-satunya cara untuk
mendapatkan rahmat Sang Pemelihara
(Rabb) Alam adalah dengan menyungkurkan diri bersujud dengan segala
fitrat, kekuasaan dan kekuatan
yang kita miliki. Hal ini bukanlah suatu hal yang baru karena sudah inheren (melekat) dalam fitrat manusia sejak awalnya.
Seseorang
yang berhasrat menelusuri jalan
pengabdian akan mengikuti cara ini,
sebagaimana juga dengan orang yang mencari rahmat
Tuhan-nya, atau pun mereka yang mengharapkan pengampunan Ilahi akan mematuhi kaidah hukum abadi ini. Kaidah-kaidah ini bukanlah suatu ciptaan baru sebagaimana halnya sosok yang dipertuhan umat Kristiani, melainkan kaidah-kaidah tetap yang bersifat
abadi dan merupakan kebiasaan (sunnah)
Allah Swt. yang telah berlaku sepanjang waktu, hal mana kebenarannya nyata bagi seorang pencari kebenaran yang tulus
melalui berbagai ragam pengalaman
dirinya.
Setiap rahmat
akan mewujud dengan cara dimana Sang Wujud Yang adalah Maha Pengendali serta menjadi Kausa dari segala kausa dan Sumber dari segala
keberkatan, yang namanya dalam
istilah Al-Quran adalah Allah, mula-mula
akan memperlihatkan Sifat Rahmaniyat-Nya
dengan menciptakan segala apa yang diperlukan tanpa campur
tangan siapa pun, semata-mata karena Sifat Pemurah dan Penyayang-Nya.
Ketika Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) telah sempurna berfungsi dan manusia yang
telah dikaruniai kekuatan
menggunakannya sepenuh kemampuan
maka saatnya bagi Allah Yang Maha Agung
untuk memperlihatkan Sifat Rahīmiyat
(Maha Penyayang) dengan cara memberikan ganjaran
atas segala upaya dan ketekunan hamba-Nya dan memelihara hasil kerjanya dari segala kesia-siaan. Berkaitan dengan Sifat
yang kedua (Rahīmiyat - Maha
Penyayang) inilah dikatakan bahwa mereka
yang mencari akan menemukan, mereka yang meminta akan diberi, dan barangsiapa yang mengetuk
akan dibukakan pintu.
Ada yang
salah mengartikan dan menganggap bahwa usaha
memohon pertolongan itu tidak ada gunanya dan bahwa Sifat Rahmāniyat dan Rahīmiyat Tuhan tidak dimanifestasikan setiap saat.
Sesungguhnya Allah Yang Maha Kuasa
mendengar permohonan yang dilakukan
dengan penuh ketulusan dan membantu mereka yang memohon pertolongan-Nya secara pantas.
Kadang-kadang
yang terjadi adalah permohonan
seseorang tidak dilakukan secara tulus
dan merendahkan diri, begitu pula kondisi keruhaniannya sedang dalam keadaan
tidak seimbang, sehingga meski
bibirnya mengucapkan doa tetapi hatinya tidak sejalan atau memang hanya untuk dilihat orang lain.
Terkadang Tuhan
sudah mendengar permohonan manusia
dan mengaruniakan kepadanya apa yang
menurut Kebijakan-Nya adalah yang terbaik baginya, hanya saja seorang yang bodoh tidak mengenali rahmat
Tuhan yang tersembunyi. Karena kebodohan dan ketidak-sadarannya tersebut maka ia mengeluh dan mengabaikan
petunjuk yang diungkapkan oleh ayat:
وَ عَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ
خَیۡرٌ لَّکُمۡ ۚ وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ
‘Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal hal itu baik bagimu dan boleh jadi juga kamu menyukai sesuatu padahal hal itu buruk bagimu. Dan Allah
mengetahui dan kamu tidak mengetahui’ (Al-Baqarah
(2]:217).
Sejauh ini
sudah jelas makna dari ayat:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
‘Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang’
yang mencakup kebenaran
akbar tentang cara-cara terbaik
mencapai kemajuan keimanan dalam Ketauhidan Ilahi dan dalam pengabdian serta ketulusan, dimana semua itu tidak akan bisa ditemui dalam Kitab-kitab samawi lainnya. Jika ada
yang menganggap bahwa ada padanannya di tempat lain, silakan yang
bersangkutan mengajukannya bersama dengan
kebenaran-kebenaran lain sebagaimana
yang akan kami kemukakan berikut ini.
Menjawab
Kritikan Posisi Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm
Beberapa
lawan Islam yang berpandangan cupat
pernah mengajukan kritik atas komposisi ayat tersebut. Salah seorang
di antaranya adalah Pendeta Imaduddin yang mengemukakan pendapatnya dalam buku
karangannya Hidayatul
Muslimin. Yang
lainnya adalah Bawa Narayan Singh, seorang pengacara dari Amritsar, yang
menganggap pandangan pendeta di atas sebagai suatu yang bermutu, dan karena rasa permusuhannya lalu mengulang
isinya dalam harian miliknya Vidya Parkashak.
Kami akan menjawab
kritik mereka itu sehingga setiap
orang yang jujur akan menyadari seberapa jauh kebutaan karena fanatisme
telah mendorong para lawan kita untuk melihat apa yang sebenarnya Nur cemerlang di mata mereka terlihat
sebagai kegelapan, dan parfum yang harum tercium busuk di
hidung mereka.
Kritik mereka menyatakan bahwa urutan Rahmān dan Rahīm dalam ayat pembuka tersebut tidak tepat adanya, karena menurut mereka urutan seharusnya adalah Rahīm
dan Rahmān.
Dalam pandangan mereka, sifat Rahmān menggambarkan rahmat Ilahi yang bersifat umum dan komprehensif sedangkan Sifat Rahīm
sebagai rahmat Ilahi yang terbatas dan khusus. Menurut mereka, ketentuan komposisi mengharuskan bahwa apa
yang sifatnya terbatas harus mendahului apa yang bersifat umum dan tidak terbatas, bukan sebaliknya.
Inilah kritik yang diajukan oleh kedua orang
tersebut sambil menutup mata mereka
terhadap teks yang keagungannya telah diakui oleh semua orang
terpelajar di bidang bahasa Arab,
walaupun mereka sendiri adalah musuh-musuh
Islam dan bahkan di antara mereka juga terdapat para penyair akbar.
Para lawan Islam sangat terkagum dengan komposisi
teks ayat pembuka tersebut.
Banyak dari antara mereka itu sangat menguasai ilmu komposisi dan mereka menemukan bahwa komposisi Al-Quran berada di
luar kemampuan manusia untuk membuatnya
sehingga menganggapnya sebagai suatu mukjizat
dan atas dasar itu mereka kemudian beriman.
Adapun pendeta Kristiani tersebut rupanya tidak menyadari bahwa kefasihan suatu komposisi tidak mengharuskan apa yang lebih kecil disebutkan di depan (terlebih dulu) sebelum sesuatu
yang lebih besar, serta melupakan
bahwa ayat yang benar seharusnya
merupakan cerminan dari realitas. Dalam ayat ini dimana Rahmān mendahului Rahīm telah menjadikan ayat tersebut sebagai cermin realitas sesungguhnya. (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1,
hal. 414-435, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 28 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar