بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Al-Fatihah
Bab 80
Pengembalian “Ruh” Al-Quran dari “Bintang Tsurayya” oleh Masih Mau’ud a.s.
Setelah Seribu Tahun Masa Kemunduran Umat Islam & Makna Manusia
dan Batu Sebagai “Bahan Bakar” Api Neraka
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan tantangan
Allah Swt. kepada para penentang Al-Quran untuk membuat
tandingan yang dapat menyamai kesempurnaan Al-Quran dalam segala seginya. Tuntutan
terbesar telah dibuat pada QS.17:89 yang di dalamnya orang-orang kafir diminta untuk membuat kitab seperti Al-Quran seutuhnya dengan segala sifatnya yang beraneka-ragam itu,
firman-Nya:
قُلۡ
لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا
الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Katakanlah:
“Jika ins (manusia) dan jin
benar-benar berhimpun untuk mendatangkan
yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak
akan sanggup men-datangkan yang sama seperti ini, walaupun
sebagian mereka membantu sebagian
yang lain.” (Bani Israil [17]:89).
Tantangan ini pertama-tama diajukan kepada mereka yang berkecimpung
dalam kebiasaan-kebiasaan klenik
(kebatinan) -- yang dalam ayat
sebelumnya) mereka menanyakan masalah “ruh” kepada Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.17:86), kemudian dalam ayat
87-88 diisyaratkan (dinubuatkan)
mengenai penarikan “ruh” Al-Quran
oleh Allah Swt. secara berangsur-angsur
selama 1000 tahun setelah masa kejayaan
Islam yang pertama selama 3 abad (QS.32:6)
-- supaya mereka meminta
pertolongan ruh-ruh gaib, yang
darinya orang-orang ahli kebatinan
itu yang menurut pengakuannya
sendiri menerima ilmu
ruhani.
Pencabutan “Ruh”
Al-Quran Secara Bertahap
Tantangan ini berlaku pula
untuk semua orang yang menolak Alquran bersumber pada Allah Swt. dan untuk sepanjang masa, karena itu ketika setelah mengalami masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad kemudian umat Islam
mengalami kemunduran secara bertahap
dalan berbagai bidang kehidupan
selama 1000 tahun, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ
اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur
perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari,
yang hitungan lamanya seribu tahun dari
apa yang kamu hitung (As-Sajdah
[32]:6).
Ayat
ini menunjuk kepada suatu pancaroba
sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam
dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu
masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad
pertama kehidupannya. Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Islam mulai mundur sesudah 3
abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya.
Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa
1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan
kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ -- “Kemudian perintah
itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa iman
akan terbang ke Bintang Tsurayya dan
seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari,
Kitab-ut-Tafsir Surah Jum’ah).
Dengan kedatangan Masih Mau’ud a.s. dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotannya telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku,
firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ فِی
الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا
مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul
dari antara mereka, yang membacakan
kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah
walaupun sebelumnya mereka berada
dalam ke-sesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا
یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ
مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو
الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah
[63]:3-5).
Pengembalian “Ruh”
Al-Quran oleh Masih
Mau’ud a.s.
Mengisyaratkan kepada masa kemunduran
yang melanda Islam selama 1000 tahun
itu pulalah makna firman-Nya berikut ini:
وَ
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾ وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ
بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا رَحۡمَۃً
مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ
فَضۡلَہٗ کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, قُلِ
الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ
مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ
اِلَّا قَلِیۡلًا -- katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu tidak diberi ilmu mengenai itu melainkan
sedikit. وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ -- Dan jika Kami benar-benar menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada
engkau ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا -- kemudian engkau
tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ
اِنَّ فَضۡلَہٗ کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا -- Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau,
sesungguhnya karunia-Nya kepada engkau sangat
besar (Bani Israil [17]:86-88).
Untuk lebih meyakinkan mengenai ketidak-mampuan
manusia membuat tandingan
kesempurnaan Al-Quran selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا
بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ
لِبَعۡضٍ ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Katakanlah:
“Jika ins (manusia) dan jin
benar-benar berhimpun untuk mendatangkan
yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak
akan sanggup men-datangkan yang sama seperti ini, walaupun
sebagian mereka membantu sebagian
yang lain.” (Bani Israil [17]:89).
Jadi, pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Masih
Mau’ud a.s. datang di Akhir Zaman ini bukan untuk membuat tandingan Al-Quran, melainkan
mengembalikan “ruh” Al-Quran yang telah “terbang ke bintang
Tsurayya” atau telah “yang ditarik
kembali” oleh Allah Swt. akibat berbagai
bentuk kedurhakaan yang dilakukan
oleh umat Islam setelah masa kejayaan yang pertama selama 3 abad
(QS.32:6).
Tantangan Allah Swt. Kepada Para Pencela
Al-Quran & Hakikat Perbedaan Jumlah Tandingan Surah Al-Quran
Kembali
kepada tantangan Allah Swt. kepada
para pencela Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad
saw. dalam firman-Nya:
اَمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ افۡتَرٰىہُ ؕ قُلۡ فَاۡتُوۡا بِعَشۡرِ سُوَرٍ مِّثۡلِہٖ مُفۡتَرَیٰتٍ
وَّ ادۡعُوۡا مَنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ فَاِلَّمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَکُمۡ فَاعۡلَمُوۡۤا
اَنَّمَاۤ اُنۡزِلَ بِعِلۡمِ اللّٰہِ وَ اَنۡ
لَّاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Ataukah
mereka mengatakan: افۡتَرٰىہُ -- ”Ia telah membuat-buatnya!” قُلۡ فَاۡتُوۡا
بِعَشۡرِ سُوَرٍ مِّثۡلِہٖ مُفۡتَرَیٰتٍ -- Katakanlah: “Datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat
semisal itu, وَّ ادۡعُوۡا مَنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ -- dan panggillah
siapa saja yang dapat kamu panggil selain Allah, jika kamu
sungguh orang-orang yang benar.” فَاِلَّمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَکُمۡ -- Tetapi jika mereka tidak menerima tantangan kamu فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَاۤ اُنۡزِلَ
بِعِلۡمِ اللّٰہِ وَ اَنۡ لَّاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ -- maka ketahuilah, bahwa Al-Quran itu telah diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia,
فَہَلۡ
اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ -- maka maukah kamu menjadi orang yang berserah
diri? (Hud [11]:14-15).
Dalam ayat itu orang-orang kafir telah diminta
mengemukakan buatan mereka seperti Kalamullāh. Mereka boleh mengajukannya
sebagai gubahannya sendiri, dan
menyatakannya sama atau lebih baik daripada Al-Quran. Tetapi oleh karena pada waktu tantangan itu dibuat Al-Quran
belum seluruhnya diwahyukan maka orang-orang kafir tidak diminta untuk
mendatangkan tandingan seluruh Al-Quran
pada waktu itu juga, sehingga dengan
demikian tantangan tersebut berisikan
nubuatan bahwa mereka tidak akan
mampu membuat yang serupanya,
tidak dalam bentuk yang ada pada waktu itu dan tidak pula sesudah Al-Quran
menjadi lengkap. Lagi pula tantangan
itu tidak terbatas kepada orang-orang kafir di zaman Nabi Besar
Muhammad saw. saja, tetapi
meluas kepada semua orang yang ragu-ragu dan menaruh keberatan di setiap zaman, termasuk di Akhir Zaman ini.
Alasan mengapa orang-orang kafir
dalam QS.11:14 diminta membuat hanya 10
Surah saja dan bukan seluruh
Al-Quran adalah karena persoalan dalam
ayat itu tidak bertalian dengan kesempurnaan Al-Quran seutuhnya dalam segala segi, melainkan hanya dengan
sebagian saja.
Orang-orang kafir telah menuduh bahwa beberapa bagiannya cacat. Oleh
karena itu mereka tidak diminta membuat kitab yang lengkap seperti Al-Quran
seutuhnya melainkan hanya 10 Surah sebagai ganti bagian-bagian Al-Quran yang
dianggap mereka cacat agar kebenaran dari pernyataan mereka dapat diuji.
Adapun
mengenai pemilihan jumlah khusus 10 untuk tujuan itu, baik diperhatikan di
sini, bahwa oleh karena dalam QS.17:89 Al-Quran seutuhnya didakwakan Kitab yang sempurna, maka para penentangnya diminta membuat yang serupa
seutuhnya, tetapi karena dalam QS.11:14 pokok persoalannya
ialah bagian-bagiannya yang tertentu dicela, maka mereka diminta memilih sepuluh bagian demikian yang
nampaknya kepada mereka sangat cacat
dan kemudian membuat suatu gubahan
yang seperti bagian-bagian yang dicela itu.
Dalam QS.10:39 orang-orang kafir diminta membuat yang
serupa dengan hanya satu Surah Al-Quran.
Hal itu disebabkan bahwa berlainan dengan
dua ayat tersebut di atas, tantangan
dalam ayat itu berupa dukungan pada
pengakuan Al-Quran sendiri dan bukan
sebagai bantahan terhadap suatu tuduhan dari orang-orang kafir.
Penolakan Terhadap Kesempurnaan
Al-Quran Berakibat Berkobarnya “Api Neraka” di Dunia Ini Juga
Dalam QS.10:38 Al-Quran mendakwakan memiliki 5 sifat yang menonjol. Sebagai dukungan
kepada pengakuan tersebut ayat QS.10:39 mengajukan tantangan kepada mereka yang menolak
atau meragukannya untuk membuat satu Surah saja, yang mengandung sifat-sifat itu sama sempurnanya seperti
yang ada dalam Surah ke-10, firman-Nya:
اَمۡ یَقُوۡلُوۡنَ افۡتَرٰىہُ ؕ قُلۡ فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَۃٍ مِّثۡلِہٖ وَ ادۡعُوۡا مَنِ
اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾
Ataukah
mereka mengatakan: “Ia, Rasulullah,
telah mengada-adakannya?”
Katakanlah: “Datangkanlah
sebuah surah yang semisalnya, dan panggillah siapa saja selain Allah yang dapat menolong kamu jika
kamu sungguh orang yang benar.
(Yunus
[10]:39).
Tantangan kelima ialah agar
membuat tandingan Al-Quran seperti
terkandung dalam ayat ini (QS.2:24), firman-Nya:
وَ اِنۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ
رَیۡبٍ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلٰی عَبۡدِنَا فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَۃٍ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ
۪ وَ ادۡعُوۡا شُہَدَآءَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ فَاِنۡ لَّمۡ
تَفۡعَلُوۡا وَ لَنۡ
تَفۡعَلُوۡا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ
الۡحِجَارَۃُ ۚۖ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ
﴿﴾
Dan jika kamu
dalam keraguan mengenai apa
yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَۃٍ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ -- maka buatlah
satu Surah yang semisalnya, dan panggillah
penolong-penolong kamu selain Allah jika
kamu adalah orang-orang yang benar. فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا -- Tetapi jika
kamu tidak mampu melakukannya,
dan kamu tidak akan pernah mampu
melakukannya, فَاتَّقُوا
النَّارَ الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ ۚۖ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka peliharalah diri kamu dari Api yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:24-25).
Dalam Surah ini pun seperti dalam QS.10:39 orang-orang kafir diminta mengemukakan satu Surah yang serupa sempurnanya dengan
salah satu Surah Al-Quran. Tantangan
ini didahului oleh pengakuan bahwa Al-Quran membimbing
orang-orang bertakwa ke tingkat-tingkat tertinggi kemajuan ruhani.
Orang-orang kafir diseru bahwa bila mereka ada dalam keraguan mengenai berasalnya Al-Quran dari Allah Swt. maka mereka hendaknya menampilkan satu Surah yang kiranya dapat menandinginya dalam pengaruh ruhani terhadap para pengikutnya.
Keterangan-keterangan di atas
memperlihatkan bahwa semua tantangan
yang menyeru orang-orang kafir membuat buku sebagai tandingan Al-Quran itu berbeda
sekali dan terpisah dari satu sama
lain, dan semuanya berlaku untuk sepanjang zaman, tidak ada yang melebihi atau
membatalkan yang lain.
Tetapi karena Al-Quran itu mengandung gagasan-gagasan yang mulia dan agung, maka tidak dapat tidak sudah
seharusnya dipilih kata-kata yang
sangat indah dan tepat serta gaya bahasa
yang paling murni, sebagai wahana
untuk membawakan gagasan-gagasan itu,
sebab jika tidak demikian maka pokok pembahasannya mungkin akan tetap gelap dan penuh keragu-raguan, dan keindahan
paripurna Al-Quran niscaya akan ternoda.
Jadi, dalam bentuk dan segi apa
pun orang-orang kafir telah ditantang untuk mengemukakan suatu gubahan seperti Al-Quran, tuntutan akan keindahan gaya bahasa dan kecantikan pilihan kata-katanya yang
setanding dengan Al-Quran, merupakan pula bagian tantangan itu.
Makna An- Nās
dan Jin Sebagai “Bahan Bakar” Api
Neraka & Penjelasan Masih Mau’ud a.s. Mengenai Keistimewaan Surah Al-Fatihah
Lainnya
Kata “bahan bakar” dalam ayat
selanjutnya: فَاِنۡ لَّمۡ
تَفۡعَلُوۡا وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا -- Tetapi jika
kamu tidak mampu melakukannya,
dan kamu tidak akan pernah mampu
melakukannya, فَاتَّقُوا
النَّارَ الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ ۚۖ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka peliharalah diri kamu dari Api yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir (QS.2:25) dapat diambil dalam arti kiasan dan berarti bahwa siksaan api (neraka) itu disebabkan oleh
menyembah berhala.
Jadi berhala-berhala
itu bagaikan “bahan bakar” untuk api
(neraka), karena menjadi sarana untuk
menghidupkan api (neraka), atau
“batu” berarti berhala-berhala yang
dipuja orang-orang musyrik sebagai dewa-dewa,
maksudnya ialah orang-orang musyrik
akan dihinakan dengan menyaksikan
sendiri dewa-dewa mereka dilemparkan
ke dalam api.
Kata-kata an-nās (manusia)
dan al-hijārah (batu) dapat pula dianggap menunjuk kepada dua golongan penghuni neraka; an-nās
dapat menunjuk kepada orang-orang kafir
yang masih mempunyai semacam kecintaan
kepada Allah Swt. dan al-hijārah
(batu), mereka yang di dalam hati mereka sama sekali tidak ada kecintaan kepada Allah Swt.. Orang-orang semacam itu memang tidak lebih
dari batu. Kata hijārah itu
jamak dari hajar yang berarti, batu, karang, emas, dan juga seseorang
tanpa tanding, yaitu orang besar,
pemimpin (Lexicon Lane).
Masih Mau’ud a.s. menjelaskan
keistimewaan Surah Al-Fatihah dari
sudut-pandang lainnya, beliau bersabda:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ
الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ
الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
‘Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah,
Tuhan semesta alam. Maha Pemurah, Maha Penyayang. Yang mempunyai Hari
Pembalasan. Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami
memohon pertolongan. Tuntunlah kami kepada jalan yang lurus. Jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang kemudian dimurkai dan bukan
pula yang kemudian sesat.’
Berikut
ini beberapa hikmah dan kebenaran dalam tafsir Surah ini sebagai suatu
ilustrasi.
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
“Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang”
merupakan ayat pertama dari Surah ini dan semua Surah
lainnya di dalam Al-Quran serta disebutkan juga di beberapa tempat lain dalam
Al-Quran. Ayat ini lebih sering diulang-ulang di dalam Al-Quran dibanding
ayat-ayat lainnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi umat Muslim untuk memulai
setiap tindakan yang diharapkan akan
membawa kebaikan dengan membaca ayat
tersebut sebagai tanda pemberkatan dan permohonan akan pertolongan Tuhan. Karena itu ayat ini
dikenal luas di antara lawan dan kawan, dan di antara yang tua dan yang muda,
sehingga misalnya pun seseorang tidak mengetahui ayat-ayat lain dari Al-Quran,
biasanya ia akan mengenal ayat ini.
Salah satu kebenaran sempurna yang dikandung
adalah tujuan ayat tersebut untuk mengajarkan kepada hamba-hamba Allah yang lemah dan tidak menyadari, bahwa terdapat
banyak sekali atribut-atribut atau Sifat dari Tuhan yang disebut dengan
nama Allah, dimana dalam istilah
Al-Quran Sifat-sifat tersebut
menggambarkan komprehensifitas
segala hal yang sempurna, bebas dari segala cela dan hanya digunakan atau
ditujukan bagi Tuhan Yang Maha Benar,
Maha Esa, serta Sumber semua rahmat, dimana ada dua Sifat yang disebut dalam ayat ini yaitu Rahmāniyat dan Rahīmiyat
mensyaratkan diturunkannya firman Tuhan
serta penebaran dari Nur dan berkat
dari firman-firman tersebut.” (Brahin-i-Ahmadiyah, sekarang
dicetak dalam Ruhani
Khazain, vol. 1, hal. 414, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 26
Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar